TATALAKSANA JALAN
NAFAS PADA DEWASA
Kuliah Anestesi Dasar dan Gawat Darurat
Anatomi
Saluran Nafas Atas
● Hidung dan rongga hidung
● Mulut
● Faring
● Nasofaring (koana orofaring)
● Orofaring (nasofaring tepi atas
epiglottis)
● Laringofaring (laring tulang rawan
tiroid)
● Laring : terdiri dari 9 tulang rawan,
terdapat pita suara
● Trakea
Struktur laring
Persarafan
Hidung
● N. olfaktori (CN I)
● N. trigeminus (CN V1 dan
V2)
Mulut
● N. trigeminus (CN V3)
● N. glossopharyngeal (CN IX)
● N. facial (CN VII)
Faring
● N. glossopharyngeal (CN IX)
Laring
● N. Vagus (CN X)
● N. laryngeal
Efek cedera saraf laring pada suara
Saraf Efek terhadap suara
Saraf laring superior
Unilateral Efek minimal
Bilateral Suara serak, suara lelah
Saraf laring berulang
Unilateral Suara serak
Bilateral
• Akut Stridor, gangguan pernafasan
• Kronik Suara hilang (afonia)
Saraf vagus
Unilateral Suara serak
Bilateral Suara hilang (afonia)
Penilaian Jalan Nafas
● Pembukaan mulut : jarak gigi seri 3 cm atau lebih
● Uji gigitan bibir atas : untuk memperkirakan rentang sendi
temporomandibular
● Klasifikasi Mallampati
● Jarak tiroid : jarak antara dagu ke cekungan tiroid superior harus >3
jari
● Lingkar leher : jika >27 inci, menunjukkan kesulitan dalam melihat
pembukaan glotis Klasifikasi
Mallampati
Tatalaksana Jalan Nafas Rutin
Tatalaksana jalan nafas rutin yang berhubungan dengan
anestesi umum:
● Penilaian jalan nafas ● Intubasi (sesuai indikasi)
● Pemeriksaan persiapan dan ● Konfirmasi penempatan
alat endotracheal tube
● Posisi pasien ● Tatalaksana intraoperasi dan
● Preoksigenasi penyelesaian masalah
● Bag and mask ventilation ● Ekstubasi
(BMV)
Peralatan
1. Sumber oksigen 7. Oksimetri dan deteksi CO2
2. BMV 8. Plester
3. Laringoskop (langsung/video) 9. Monitor tekanan darah dan
& Stetoskop EKG
4. ETT dengan ukuran berbeda 10. Akses IV
5. Alat jalan nafas lainnya (selain
endotracheal tube, seperti oral
dan nasal airway)
6. Suction
Pemberian dengan Alat Bantu Sederahana
Oropharyngeal Airway (OPA) Nasopharyngeal Airway (NPA)
Desain dan Teknik masker
Lubang
Kait ● Tepi masker berkontur dan dapat
penahan
menyesuaikan segala bentuk
wajah
● Lubang masker akan dihubungkan
dengan mesin anestesi
● Sungkup transparan memudahkan
untuk observasi gas yang
dikeluarkan dan melihat adanya
Badan Tepi muntahan
● Kait penahan dapat dipasang tali
pengikat kepala
Desain dan Teknik masker
Posisi Preoksigenasi
• Jika dicurigai adanya patologi • Jika memungkinkan,
tulang leher, kepala harus preoksigenasi menggunakan
masker oksigen diperlukan saat
dijaga dalam posisi netral
tatalaksana jalan nafas
• Stabilisasi leher harus • Oksigen diberikan beberapa
dipertahankan selama menit sebelum dilakukan induksi
manajemen jalan napas anestesi
• Kapasitas sisa fungsional,
Cadangan oksigen pasien,
dibersihkan dari gas nitrogen
Bag and Mask Ventilation
(BMV)
● Merupakan tahap pertama dalam tatalaksana jalan nafas
● Mencegah terjadinya inflasi lambung dan mengurangi potensi
aspirasi isi lambung pada pasien yang tidak berpuasa atau pasien
yang menunda pengosongan lambung
● Dalam situasi darurat, BMV dilakukan sebelum intubasi, karena
terdapat risiko aspirasi
Alat Jalan Nafas
Supraglotis
• Digunakan pada pasien bernafas spontan selama anestesi
• Sebagai pilihan alternatif jika BMV dan intubasi endotracheal
gagal
• Efek samping : nyeri tenggorokan, cedera saraf lingual,
hipoglosus, dan laring berulang.
Esophageal-Tracheal Tube
(Combitube) ● Dapat memberikan ventilasi yang
adekuat sebanding ET
● Memiliki 2 balon terpisah yang harus
dipompa
● Dapat dimasukkan tanpa
menggunakan alat melalui mulut,
hingga dua cincin hitam pada poros
terletak di antara gigi atas dan bawah
● Tabung yang lebih pendek dan bening
dapat digunakan untuk dekompresi
lambung.
● Combitube memasuki trakea, ventilasi
melalui tabung bening akan
mengarahkan gas ke trakea
King Laryngeal Tube
● Termasuk cara paling aman, namun
tidak sulit dimasukkan seperti ET
● Dapat dimasukkan tanpa bantuan
laringoskop
● Terdiri dari balon kecil di esofagus dan
balon lebih besar di hipofaring
(laringofaring)
● Terdapat lubang di balon esofageal
dekompresi lambung
● Jika ventilasi sulit, Tarik sedikit
tubenya sampai kondisi membaik.
Laryngeal Mask Airway
● LMA melindungi sebagian laring dari
sekresi faring (tidak melindungi
regurgitasi lambung), dan harus tetap
di tempatnya sampai pasien
mendapatkan kembali refleks saluran
napas.
● Alternatif ventilasi melalui masker
atau TT
● Indikasi : ventilasi manual tidak
adekuat, henti nafas, henti jantung
● Kontraindikasi: Obstuksi faring, hamil,
Penyakit jalan nafas restriktif
Ukuran LMA
Ukuran Ukuran pasien Berat (Kg) Volume
masker manset (mL)
1 Bayi <6,5 2-4
2 Anak 6,5-20 Hingga 10
2,5 Anak 20-30 Hingga 15
3 Dewasa kecil >30 Hingga 20
4 Dewasa biasa <70 Hingga 30
5 Dewasa lebih >70 Hingga 30
besar
INTUBASI
ENDOTRACHEAL
digunakan untuk melakukan anestesi umum dan
memfasilitasi manajemen ventilator pada pasien sakit
kritis.
Tracheal Tube
● Secara teknis paling sulit, namun
termasuk cara paling aman
● Membutuhkan laringoskop
● Dilakukan dalam waktu <30 detik
● Terdapat 2 cuff:
○ Tekanan tinggi
○ Tekanan rendah
Laringoskop
● Laringoskop adalah instrumen untuk
memeriksa laring dan memfasilitasi
intubasi trakea.
● Pegangannya berisi baterai untuk
menyalakan bohlam di ujung bilah,
atau, sebagai alternatif, untuk
memberi daya pada bundel serat optik
yang ada di ujung bilah.
Variasi bilah laringoskop
Laringoskop video / Indirek
● Keuntungan minimal pada pasien dengan saluran nafas tanpa komplikasi
● Sangat membantu sebagai panduan pelatihan karena dapat melihat glottis
pada layer video
● Umumnya dapat meningkatkan visualisasi struktur laing pada saluran nafas
yang sulit, namun tidak selalu intubasinya berhasil
Bronkoskop Fiberoptik Fleksibel
● Memfasilitasi visualisasi laring pada kasus : tulang leher tidak stabil, rentang
gerak TMJ yang terbatas, kelainan saluran nafas kongenital
● Terbuat dari serat kaca berlapis yang mengirimkan cahaya dan gambar
melalui refleksi internal
Teknik Laringoskop Direk
dan Indiek & Intubasi
Indikasi intubasi
Prosedur intubasi merupakan prosedur yang tidak bebas risiko dan tidak
semua pasien anestesi umum memerlukan intubasi. TT umumnya
dipasang untuk melindungi akses jalan nafas. Indikasi intubasi sebagai
berikut:
● Memiliki risiko aspirasi
● Menjalani prosedur pembedahan di area badan atau kepala dan
leher
]
Persiapan Laringoskop Direk
Mencakup pemeriksaan peralatan dan posisi
pasien
● Tracheal tube harus diperiksa dengan
menggembungkan cuff dengan jarum
suntik 10 mL
● Pastikan katup dan cuff berfungsi dengan
baik
● Jika menggunakan stylet, maka stylet
haus dimasukkan ke dalam TT
● Pastikan bilah sudah terpasang dengan
bohlam yang menyala
● Pastikan suction atau alat penghisap
berfungsi dengan baik
● Posisikan pasien dengan benar Posisi
Posisi Pasien
Intubasi Orotracheal
● Laringoskop dipegang di tangan kiri. Dengan
mulut pasien terbuka, dimasukkan ke sisi kanan
orofaring dengan hati-hati
● Lidah disapu ke kiri dan naik ke dasar faring
● TT diambil dengan tangan kanan, dan ujungnya
dimasukkan melalui pita suara yang abduksi
● Manuver "mundur, ke atas, ke kanan, tekanan"
(BURP) yang diterapkan secara eksternal
menggerakkan glotis yang berada di anterior ke
posterior untuk memfasilitasi visualisasi glotis.
● Manset TT harus terletak di trakea bagian atas,
tetapi di luar laring.
● Laringoskop ditarik Kembali dengan hati-hati
untuk menghindari kerusakan gigi
● Auskultasi di bagian dada dan epigastrium
Intubasi Intubasi Fiberoptik
Nasotracheal Fleksibel
● Intubasi nasotracheal mirip dengan Ideal pada kondisi:
● Pembukaan mulut kecil
intubasi oral kecuali TT dimasukkan
● Meminimalkan pergerakan tulang
melalui hidung dan nasofaring ke
leher pada trauma atau artritis
dalam orofaring sebelum
reumatoid
laringoskopi.
● Obstruksi saluran napas bagian atas,
● Obat tetes hidung Phenylephrine
seperti angioedema atau massa
(0,5% atau 0,25%) vasokonstriksi dan
tumor
mengecilkan selaput lendir. Jika
● Kelainan bentuk wajah, trauma wajah
pasien bangun, salep anestesi lokal
(untuk lubang hidung), semprotan
(untuk orofaring), dan blok saraf juga
dapat digunakan.
Teknik Pembedahan Jalan Nafas -
Krikotiroitomi
● Dipertimbangkan apabila intubasi gagal padahal jalan nafas masih tersumbat
dan pada pasien yang tidak dapat diberikan nafas buatan dari atas
(mulut/hidung).
● Krikotiroitomi jalur darurat untuk oksigenasi.
● Hanya dapat dipertahankan dalam 10 menit karena tidak dapat membuang
C02.
Permasalahan Selama Intubasi
● Saturasi oksigen menurun
● Adanya thrombus pada paru
● Emboli udara vena
● Hipoventilasi
● Meningkatny produksi CO2
● Penyumbatan akibat ET yang terlipat tekanan saluran nafas
meningkat
● Menurunnya tekanan saluran nafas
Teknik ekstubasi
● Dilakukan Ketika pasien masih terbius atau sudah sadar
● Ekstubasi selama anestesi ringan sangat dihindari karena berisiko terjadi
laringospasme
● Perbedaan anestesi dalam dan ringan dilihat dari respon pasien:
○ Jika menahan nafas atau batuk anestesi ringan
○ Jika tidak berespon anestesi dalam
● Ekstubasi pada pasien sadar ditandai dengan batuk
● ET ditarik dengan satu gerakan halus, masker dipasang untuk mengalirkan
oksigen.
● Pengiriman oksigen dengan masker wajah dipertahankan selama periode
transportasi ke area perawatan pasca anestesi.
Komplikasi
Selama laringoskopi dan intubasi
● Malposisi : intubasi esofageal, intubasi bronchial
● Trauma saluran nafas : nyeri tenggorokan, laserasi bibir, lidah, atau mukosa
● Refleks fisiologis : hipoksia, hiperkarbia, hipertensi
● Malfungsi tube
Saat menggunakan tube
● Malposisi : intubasi bronchial, posisi cuff laryngeal
● Trauma saluran nafas : ulserasi dan inflamasi mukosa
● Malfungsi tube : sumbatan
Setelah ekstubasi
● Trauma saluran nafas : edema dan stenosis, suara serak, aspirasi
● Laringospasme
● Edema paru tekanan negatif
TERIMA KASIH