Salter-Harris Fracture Management in Children
Salter-Harris Fracture Management in Children
pada Anak
Yobbi Arissaputra
Keadaan khusus fraktur dan dislokasi
pada anak
1. Fraktur lebih sering
2. Periosteum lebih kuat dan lebih aktif
3. Penyembuhan fraktur lebih cepat
4. Masalah khusus dalam diagnosis
5. Perbaikan spontan pada sisa deformitas
6. Komplikasi yang berbeda
7. Perbedaan pada metode tatalaksana
8. Ligamen robek dan dislokasi kurang sering
9. Toleransi yang lebih sedikit pada pendarahan
hebat
1. Fraktur lebih sering
• Insidensi fraktur pada anak lebih tinggi
disebabkan oleh tulang yang lebih tipis dan lebih
ceroboh
• Fraktur seperti hairline fracture, buckle fracture
dan greenstick fracture bukan cedera yang serius
• Fraktur intra-articular dan fraktur lapisan epifisial
merupakan cedera yang sangat serius
• Pada anak yang belum bisa berjalan, dugaan
kekerasan pada anak harap dipertimbangkan
2. Periosteum yang lebih aktif dan
lebih kuat
• Periosteum yang lebih kuat pada anak lebih
jarang robek pada saat fraktur
• Menyebabkan sering terdapat periosteum
intak yang dapat digunakan pada reduksi
tertutup
• Periosteum lebih osteogenik pada anak
dibandingkan orang dewasa
3. Penyembuhan fraktur lebih cepat
• Variasi kecepatan penyembuhan tulang paling
dipengaruhi oleh usia, terutama pada masa
anak – anak, dibandingkan jaringan yang lain.
• Karena berhubungan dengan aktifitas
osteogenik periosteum dan endosteum
• Proses ini cenderung menurun seiring dengan
peningkatan usia anak dan relatif konstan
pada dewasa muda sampai tua
• Contoh: potongan fraktur femur saat lahir
dapat menyambung kembali dalam 3 minggu.
Pada usia 8 tahun akan menyambung dalam 8
minggu.
• Keadaan gagal menyambung pada fraktur
anak cukup jarang, kecuali pada operasi
terbuka terjadi kerusakan pada suplai darah ke
fragmen fraktur atau terjadi komplikasi berupa
infeksi
Masalah Khusus Dalam diagnosis
• Variasi gambaran radiografik pada epifisis,
baik keadaan sebelum ataupun sesudah
perkembangan osifikasi sentral sekunder
dapat membingungkan.
• Gambaran radiografik pada lempeng epifisial
juga dapat menyulitkan bagi yang tidak
berpengalaman dan sering dianggap sebagai
garis fraktur
• Masalah ini dapat diatasi dengan
membandingkan bagian yang mengalami
fraktur dengan bagian yang sehat
Perbaikan Spontan pada Sisa
Deformitas
• Pada dewasa, deformitas pada fraktur
malunited dapat menjadi permanen
• Namun pada anak, sisa deformitas cenderung
membaik secara spontan karena extensive
remodeling atau pertumbuhan lempeng
epifisial
• Perbaikan ini dapat terjadi tergantung pada
usia anak dan tipe deformitas
Angulasi
• Sisa angulasi dekat lempeng epifisis dapat
membaik secara spontan dengan
pertumbuhan selanjutnya asalkan bidang
deformitas sama dengan bidang pergerakan
pada sendi terdekat
• Angulasi pada sepertiga bagian tulang panjang
yang jauh dari lempeng epifisial tidak dapat
membaik secara komplit secara spontan.
Incomplete Apposition
• Aposisi inkomplit fragmen fraktur atau
bayonet aposisi pada anak, kontur fraktur
dapat membaik secara pesat pada proses
remodeling
Shortening
• Fraktur tulang panjang pada anak
menyebabkan gangguan pada arteri
menyebabkan peningkatan aliran darah ke
epifisial. Keadaan ini menyebabkan percepaan
pertumbuhan secara longitudinal sementara
(1 tahun sejak terjadi fraktur)
Rotasi
Deformitas rotasi biasanya tidak membaik
secara spontan
Perbedaan pada Komplikasi
• Gangguan pertumbuhan pada cedera
lempeng epifisis
• Osteomyelotis sekunder cenderung lebih luas
dan dapat merusak lempeng epifisial
• Kompartemen sindrom pada anak lebih
umum.
Perbedaan pada Metode Tatalaksana
• Fraktur tulang panjang pada anak dapat
sebaiknya ditangani dengan reduksi tertutup,
baik dengan manipulasi atau traksi kontinu
• Intra-articular displaced, fraktur kolum
femoris dan cedera pada lempeng epifisial
membutuhkan penanganan reduksi terbuka
dan fiksasi internal
Robek pada Ligamen dan Dislokasi
Kurang Sering
• Ligamen anak lebih kuat dan elastis, juga
berhubungan dengan lempeng epifisial. Traksi
kuat yang mendadaklebih menghasilkan
separasi pada lempeng epifisis dibandingkan
robeknya ligamen
Toleransi yang Lebih Sedikit pada
Pendarahan Hebat
• Jumlah volume darah pada anak lebih sedikit
dibandingkan orang dewasa
• Perkiraan volume darah pada anak 75
ml/kgBB
Fraktur Khusus pada Anak
Fraktur yang Melibatkan lempeng Epifiseal
• Fraktur lempeng epifiseal memiliki masalah
khusus pada diagnosis dan tatalaksana, juga
memiliki kemungkinan komplikasi berupa
gangguan pertumbuhan lokal dan
perkembangan deformitas tulang.
Anatomi, Histology dan Fisiologi
• Daerah terlemah pada
lempeng epifiseal adalah
zona kalsifikasi tulang
rawan
• Suplai darah pada
lempeng epifisial masuk
melalui permukaan
epifisial
Diagnosis pada cedera lempeng
epifisial
• Curiga fraktur lempeng epifisial pada anak
memiliki (tanda bengkak dan kaku) gejala
cedera pada ujung tulang panjang, dislokasi
traumatik atau cedera ligamen
• Diagnosis pasti tergantung pemeriksaan
radiografi, apabila kesulitan dalam
membedakan garis fraktur dengan lempeng
epifisis lakukan juga foto pada bagian lain
yang tidak cedera
Klasifikasi Salter-Harris pada Cedera
lempeng Epifisis
Tipe 1
• Terpisahnya seluruh bagian epifisis tanpa
fraktur yang melewati tulang
• Sering terjadi pada bayi baru lahir atau balita
• Dapat dilakukan reduksi tertutup karena
biasanya periosteal intak
• Prognosis baik apabila suplai darah ke epifisis
intak
Tipe 2
• Tipe paling umum, garis fraktur berjalan
sepanjang sebagian lempeng epifiseal
kemudian menembus metafiseal sehingga
menghasilkan fragmen metafiseal berbentuk
segitiga
• Sering terjadi pada anak – anak yang lebih tua
yang memiliki lempeng epifiseal tipis
• Reduksi tertutup mudah dilakukan karena
periosteal biasanya intak dan fragmen
metafiseal mencegah overreduksi
• Prognosis pertumbuhan baik apabila suplai
darah pada epifisis intak
Tipe 3
• Merupakan fraktur intra artikular, memanjang
dari permukaan sendi sampai ke zona epifiseal
menuju bagian periferal mengikuti garis
lempeng epifiseal
• Reduksi terbuka dan fiksasi interna diperlukan
untuk memperbaiki permukaan sendi
• Prognosis baik apabila suplai darah ke bagian
epifisial yang terpisah tidak terganggu
Tipe 4
• Fraktur intra artikular, memanjang dari
permukaan sendi menuju epifiseal,
menembus pllat epifiseal menuju metafisis
• Reduksi terbuka dan fiksasi internal diperlukan
untuk mengembalikan permukaan sendi untuk
mendapatkan aposisi yang baik pada lempeng
epifiseal
• Prognosis buruk kecuali dilakukan reduksi
secara sempurna
Tipe 5
• Didapat dari tekanan pada satu area epifiseal,
biasanya pada daerah lutut atau ankle
• Jarang terjadi sehingga diagnosis sulit
• Selama 3 minggu tidak boleh diberikan beban
untuk mencegah kompresi pada lempeng
epifiseal
• Prognosis buruk karena terhentinya
pertumbuhan tidak bisa dihindari
Penyembuhan pada Cedera lempeng Epifiseal
• Pada fraktur tipe 1, 2 dan 3 osifikasi tulang
rawan hanya terganggu sementara.
• 2 – 3 minggu setelah epifisis diganti, osifikasi
tulang rawan berlanjut. lempeng epifiseal dan
metafisis sudah tersambung
• Fraktur tipe ini (1,2 dan 3) hanya
membutuhkan waktu penyembuhan setengah
dari waktu yang dibutuhkan pada daerah di
lokasi yang sama namun melibatkan metafisis
• Cedera tipe 4 sembuh seperti proses
penyembuhan fraktur lain melalui cancellous
bone
• Cedera tipe 5 biasanya sembuh dengan bony
bridge melewati lempeng epifiseal
Prognosis Terkait Gangguan Pertumbuhan
Dibagi berdasarkan:
• Tipe cedera
• Usia anak Semakin muda gangguan
pertumbuhan semakin serius
• Suplai darah ke epifisis
• Metode reduksi Reduksi terbuka yang kurang
baik dapat menyebabkan menghancurkan
lempeng epifiseal dan gangguan pertumbuhan
• Cedera terbuka atau tertutup Meningkatnya
resiko infeksi pada cedera terbuka
• Kecepatan dan kekuatan pada cedera
Birth Fractures
• Pada persalinan sulit sperti bayi besar,
presentasi bokong dan terjadi anoxia
diperlukan ekstraksi cepat yang dapat
menyebabkan fraktur atau terpisahnya epifisis
• Fraktur multipel pada kelahiran dapat berupa
patologis seperti pada osteogenesis
imperfekta
• Pada fraktur humerus atau femur biasanya
obstetrisian dapat merasakan dan mendengar
tulang yang patah. Epifisis yang terpisah dari
metafisis kemungkinan tidak terasa dan tidak
terdengar oleh obstetrisian.
Fraktur pada kelahiran spesifik
Klavikula
• Klavikula yang ramping pada bayi baru lahir
paling rawan terhadap fraktur selama persalinan.
• Bayi cenderung tidak bergerak pada bagian yang
terkena pada minggu pertama
• Fraktur dapat menyambung dengan cepat (10
hari)
• Diperlukan tatalaksana berupa pemakaian sling
Humerus
• Humerus rawan fraktur pada kelahiran dengan
persalinan sulit
• Fraktur komplit biasanya diikuti dengan cedera
nervus radialis
• Fraktur pada bayi terlihat terkulai dan dapat
dikonfirmasi secara radiografi
• Tatalaksana berupa perban sampai dada selama 2
minggu
• Deformitas angularis membaik seiring
pertumbuhan
• Deformitas rotasional bersifat permanen
Femur
• Terjadi pada persalinan dengan presentasi
bokong
• Deformitas secara klinis dan pemeriksaan
radiologis membuktikan diagnosis fraktur
• Terpisahnya epifisis femoral bagian distal
biasanya sulit untuk dikenali sampai terjadi
pembesaran pada lutut karena pembentukan
tulang baru
Tulang belakang
Cedera pada tulang belakang saat kelahiran
jarang terjadi, namun apabila terjadi dapat
menyebabkan paraplegia komplit.
Fraktur dan Dislokasi Spesifik
Tangan
• Selain cedera pada falang distal, fraktur
tangan pada anak lebih jarang dibandingkan
orang dewasa.
• Cedera hiperfleksi pada sendi interfalang
dapat menghasilkan fraktur terpisah melalui
lempeng epifisial
• Jari perlu di imobilisasi dengan sendi bagian
distal selama 3 minggu
• Fraktur falang harus direduksi secara baik
untuk mencegah deformitas angularis
• Deformitas rotasional akibat terpisahnya
bagian proksimal pla epifisial harus diperbaiki
karena dapat menyebabkan kerusakan serius
pada fungsi tangan
• Fraktur intra articular pada sendi jari
diperlukan reduksi terbuka dan fiksasi interna
dengan kawat kirschner untuk mengembalikan
permukaan sendi
• Dislokasi metacarpofalangeal pada ibu jari
sering terjadi akibat cedera hiperekstensi
• Reduksi tertutup sulit dilakukan sehingga
diperlukan reduksi terbuka dan diikuti dengan
imobilisasi sendi selama 3 minggu.
• Fraktur pada leher metacarpal kelima seringa
terjadi pada perkelahian
• Respon yang baik terhadap reduksi tertutup
kemudian di imobilisasi selama 4 minggu
dengan fleksi pada jari secara moderat
Pergelangan Tangan dan Lengan Bawah
Epifisis Radial Distal
• Fraktur epifisis tipe 2 pada radius bagian distal
adalah cedera lempeng epifisial yang paling
sering terjadi
• Fraktur ini terjadi akibat dari hiperekstensi paksa
dan cedera supinasi
• Dapat di reduksi dengan kombinasi fleksi dan
pronasi
• Reduksi fraktur separasi sebaiknya dilakukan
imobilisasi dengan lengan bawah posisi pronasi
selama 3 minggu.
Sepertiga distal radius dan ulna
Fraktur inkomplit
• Buckle type fraktur paling sering
• Penanganan berupa proteksi selama 3 minggu
• Greenstick fracture pada bagian metafisis
distal memerlukan reduksi tertutup apabila
angulasinya signifikan
Fraktur Komplit
• Displaced fracture pada metafiseal radius dan
ulna distal sering terjadi pada anak
• Sulit di reduksi kecuali periosteal intak
• Pada fraktur radius saja, reduksi lebih efektif
dilakukan pada posisi pronasi
• Pada fraktur radius dan ulna, reduksi lebih
efektif dilakukan pada posisi netral pada
lengan bawah
Sepertiga tengah radius dan ulna
• Fraktur greenstick dapat direduksi dengan
manipulasi tertutup
• Displaced fracture tidak stabil dan sulit
direduksi
• Angulasi dan rotasi pada fraktur harus
diperbaiki
• Fraktur tak stabil pada kedua tulang lengan
bawah harus diperiksa secara radiologik setiap
minggu selama 4 minggu untuk mendeteksi
deteriotasi pada posisi fragmen
Sepertiga Proksimal Radius dan Ulna
• Kombinasi fraktur ulna dengan dislokasi sendi
radiohumeral (Monteggia) merupakan cedera
serius, karena bagian yang mengalami dislokasi
sering tidak terdeteksi dan tidak tertangani
• Reduksi tertutup dilakukan dengan cara
memperbaiki angulasi ulnar dan memperbaiki
hubungan caput radius denga capitellum
• Imobilisasi dengan gips diperlukan selama 6
minggu untuk memastikan penyambungan
fraktur
Siku dan Lengan Atas
• Pulled elbow sering terjadi pada anak usia
prasekolah akibat tarikan mendadak secara
longitudinal sehingga sering terjadi cedera
minor
• Gejala klinis berupa anak menangis dan
menolak untuk menggunakan tangan yang
cedera
• Diagnosis ditegakan dengan gejala klinis dan
keterbatasan-dan-sakit pada supinasi lengan
bawah
• Tatalaksana berupa supinasi pada lengan
bawah dengan siku di fleksikan
• Pemasangan armsling selama 2 minggu
• Edukasi keluarga
Epifisis radial proksimal
• Fraktur separasi bagian epifisis radial bagian
proksimal disebabkan oleh kompresi dan
abduksi paksa sendi siku
• Merupakan cedera lempeng epifiseal tipe 2
• Tatalaksana berupa reduksi tertutup dengan
mendorong kearah atas dan medial dengan
posisi siku ekstensi dan adduksi
• Fiksasi internal tidak diperlukan
Dislokasi Siku
• Dislokasi posterior sendi siku disebabkan
jatuh dengan posisisiku fleksi dimana bagian
distal humerus mengarah ke anterior dan
bagian proksimal radial dan ulna mengarah ke
posterior
• Tatalaksana berupa reduksi tertutup dengan
fleksi pada siku dan traksi pada lengan atas,
kemudian imobilisasi dengan plaster cast
selama 2 minggu
Epicondilus medial
• Avulsi epicondilus medial disebabkan oleh
traksi paksa yang mendadak pada ligamen
medial. Biasa terjadi bersamaan dengan
dislokasi posterior pada siku (tipe pertama)
• Dapat juga terjadi pada abduksi berat pada
siku yang ekstensi tanpa diikuti dengan
dislokasi sendi, dapat terlihat pembengkakan
nyeri pada daerah tersebut (tipe kedua)
• Tatalaksana pada avulsi tipe kedua adalah
imobilisasi siku dalam keadaan fleksi selama 3
minggu
Condylus lateral
• Fraktur condylus lateral humerus pada anak
cukup umum
• Berupa fraktur lempeng epifiseal tipe 4
• Penanganan awal berupa imobilisasi lengan
dengan plaster cast
• 2 minggu kemudian lakuka pemeriksaan
radiografi displasi fragment ORIF
Fraktur supracondylar pada humerus
• Displasi fraktur supracondylar pada humerus
merupakan yang paling serius dan paling
sering
• Angka kejadian malunion dengan sisa
deformitas tingi dan risiko kompartemen
sindrom
• Terjadi pada cedera hiperekstensi atau jatuh
dengan siku fleksi
• Diagnosis ditegakkan dengan deformitas pada
daerah siku yang membengkak dan kaku
karena pendarahan interna
• Gambaran radiologik menunjukan fragmen
yang salah tempat namun tidak menunjukan
kerusakan pada jaringan lunak
• Tatalaksana berupa imobilisasi dalam keadaan
fleksi siku selama 3 minggu, kebanyakan
fraktur supracondylar ditangani secara reduksi
tertutup yang memungkinkan karena
periosteal intak
• Traksi pada lengan atas mengembalikan
fragmen menjadi sejajar, setelah dilakukan
perbaikan pada deformitas rotasional dan
displacement medial atau lateral kemudian
lakukan fleksi pada siku
Batang Humerus
• Jarang terjadi pada anak
• Biasa terjadi di bagian tengah
• Ditangani dengan cara pemakaian sling dan
thoracobrachial bandage selama 6 minggu
Bahu
Epifisis Humeral Proksimal
• Fraktur separasi epifisis humeral tipe 2 pada
anak memiliki fragmen metafisial yang besar
• Apabila displacement sedikit, reduksi tidak
diperlukan
• Pada fragement dengan displacement yang
besar, reduksi tertutup sulit dilakukan
• Meskipun tanpa reduksi yang sempurna
perbaikan deformitas pada tahap remodeling
cukup memuaskan
Clavicula
• Fraktur klavikula pada anak biasanya bukan
masalah yang serius karena dapat
menyambung kembali dengan cepat
• Fraktur greenstick hanya perlu dipasang sling
untuk mencegah cedera lebih lanjut selama 3
minggu
• Fraktur diplaced pada anak biasanya tidak
memerlukan reduksi figure eight bandage
Tulang Belakang
• Kolumna spinalis anak lebih fleksibel sehingga
kurang rentan terhadap fraktur atau dislokasi
• Dapat terjadi cedera korda spinalis tanpa
kelainan radiografik
Tulang servikal
Rotatory Subluxation of the Atlantoaxial Joint
• Keadaan dimana sendi atlantoaxial mengalami
rotasi mendadak dan melebihi batas normal
dan terkunci pada posisi rotatory subluxation
• Sering terjadi pada anak yang memiliki riwayat
infeksi tenggorokan karena inflamasi sekunder
menyebabkan melunaknya ligamen pada
tulang servikal
• Diagnosis ditegakkan berdasarkan deformitas
akut dan nyeri pada leher yang persisten
karena spasme otot. Anak biasanya
memegang lehernya atau berbaring
• Pemeriksaan radiografik sulit untuk diinterp
retasikan proyeksi dengan mulut terbuka
menunjukan asimetris persisten pada sendi
atlantoaxial
Tatalaksana
• meskipun subluksasi dapat dikurangi dengan
manipulasi pada leher, terdapat sedikit
resikodisplacement yang lebih jauh bahkan
cedera pada medula spinal.
• Penanganan teraman adalah dengan traksi
kontinu menggunakan head halter
Anterior Subluksasi pada Sendi Atlantoaxial
• Subluksasi atlas dan axis disebabkan oleh
jatuh dengan posisi mengenai bagian atas
kepala
• Reduksi harus dilakukan karena dapat
membahayakan bagi korda spinalis
• Reduksi dilakukan dengan traksi kontinu
menggunakan halo
Subluksasi Tingkat Lain pada Tulang Servikal
• Setelah terjadi cedera leher pada anak, harus
dilakukan pemeriksaan radiografi.
• Peningkatan mobilitas pada servikal anak
dapat menyebabkan gambaran subluksasi,
biasanya pada C2 dan C3
• Paling baik di reduksi menggunakan traksi halo
selama 8 minggu.
Tulang Torakal
• Fraktur tulang torakal jarang terjadi pada anak
• Apabila terjadi fraktur tulang torakal harus
dicurigai fraktur patologis
• Fraktur kompresi pada tulang belakang dapat
terjadi akibat jatuh yang parah
• Prognosis baik, tidak perlu dilakukan reduksi
Tulang Lumbal
• Tulang lumbal sebagian besar bersifat mobile
• Untuk menghasilkan fraktur atau dislokasi di
bagian ini diperlukan riwayat trauma yang keras
• Chance fracture hancurnya corpus vertebra
dan pedikelnya karena fleksi yag akut
• Tatalaksana dengan reduksi tertutup dan
imobilisasi selama 8 minggu
• Terdapat ketidakstabilan pada tulang belakang
arthrodesis dan spinal instrumentation
Kaki
Fraktur Metatarsal
• Fraktur tunggal metatarsal jarang terjadi pada anak.
Umumnya terjadi fraktur pada beberapa metatarsal
karena cedera akibat tertimpa benda berat
• Realignment penting namun elevasi lebih penting
untuk meminimalisir pembengkakan jaringan lunak
• Pemakaian perban dan gips merupakan tidak
diindikasikan karena dapat terdapat cedera vaskuler
dengan resiko iskemia dan sindroma kompartemen
• Anak tidak boleh memberikan beban pada lokasi
fraktur selama 3 minggu kemudian harus dipasang gips
selama 3 minggu lagi
Fraktur Avulsi pada Basis metatarsal kelima
• Pada anak yang lebih tua, inversi mendadak
dapat menyebabkan avulsi pada insersi tulang
pada tendon perineous brevis ke basis
metatarsal kelima
• Nyeri lokal dan perbandingan dengan kaki
yang lain membantu dalam menilai cedera.
• Dilakukan pemasangan gips dengan posisi
eversi dan membutuhkan 4 minggu untuk
penyembuhan
Fraktur tulang calcis
• Biasanya resisten terhadap fraktur. Dapat
terjadi apabila jatuh dari ketingian tertentu
dan mendarat menggunakan tumit
• Pola fraktur dapat dilihat paling baik
menggunakan CT scan
• Tatalaksana bed rest dengan kaki dielevasi
selama beberapa hari, boleh menggunakan
tongkat untuk menghindari beban lebih pada
bagian cedera suntuk beberapa minggu
Pergelangan Kaki dan Kaki
• Pada anak – anak, fraktur disekitar
pergelangan kaki melibatkan plat epifisial dan
harus dipikirkan kemungkinan dengan tipe-
tipe cedera plat epifiseal.
Cedera tipe 1 Epifisis Fibular Distal
• Robekan pada epifisis fibular distal dapat
disebabkan oleh inversi mendadak pada
pergelangan kaki.
• Apabila epifisis segera dikembalikan ke posisi
semula, anak hanya akan merasakan keseleo dan
pada pemeriksaan radiografik hasilnya akan
negatif.
• Nyeri lokal pada bagian plat epifiseal adalah
indikasi untuk mendapatkan gambaran stress
raiografi yang akan menunjukkan gambaran
ketidakstabilan sendi dikarenakan adanya
separasi dari epifisis.
Cedera tipe 2 epifisis tibial distal
• Cedera plat epifiseal tipe 2 berat pada bagian
pergelangan kaki dapat direduksi secara
tertutup
• Reduksi dipertahankan dengan memasang
gips, dan penyumbuhan membutuhkan waktu
sekitar 3 minggu dengan prognosis yang baik
Cedera tipe 3 epifisis tibial distal
• Pada anak yang lebih tua, cedera berat pada
pergelangan kaki dapat menyebabkan fraktur
pada bagian anterolateal pada epifisis tibial
distal
• Cedera dapat dideteksi dengan gambaran
radiografi lateral. Karena frakturnya adalah
fraktur intra artikular. Perlu dilakukan ORIF
untuk mendapatkan perbaikan sempurna
pada permukaan sendi.
Cedera tipe 4 epifisis tibial distal
• Inveri berat pada pergelangan kaki dapat
menyebabkan fraktur intra artikular tipe 4
melalui bagian medial epifisis tibial distal.
• Garis frakturnya melewati plat epifiseal dan
memanjang menuju epifisis.
• Fraktur ini memerlukan ORIF untuk
mendapatkan aposisi sempurna pada fragmen
fraktur, karena perbedaan tingkat pada
permukaan fraktur dapat menyebabkan
gangguan pertumbuhan.
Cedera tipe 5 epifisis tibial distal
• Angulasi berat pada pergelangan kaki dapat
menghasilkan tekanan kompresi yang berat terhadap
epifisis tibial distal dan plat epifiseal, sehingga
menghasilkan cedera plat epifiseal tipe 5.
• Prognosis terhadap pertumbuhan selanjutnya sangat
jelek.
• Ketika curiga cedera tipe 5, anak harus menghindari
menopang beban pada pergelangan kaki setidaknya 3
minggu untuk mencegah kompresi lanjut pada plat
epifiseal
• Apabila komplikasi muncul, harus ditangani dengan
mengeksisi bagian tulang yang melewati plat epifiseal.
Fraktur Tibia
• Sebagian besar fraktur batang tibia pada anak tidak
mengalami diplasi, hal ini disebabkan oleh periosteal
yang kuat.
• Oleh karena itu reduksi tertutup relatif stabil dan
adekuat untuk menangani fraktur tibia yang tidak
displasi
• Reduksi tertutup pada fraktur batang tibial harus
memperbaiki deformitas angulatori dan rotasional.
• Reduksi ini dipertahankan dengan pemasangan long leg
cast dengan lutut di fleksikan untuk mengontrol rotasi
dan mencegah pemberian beban pada kaki
• Setelah 4 minggu pemasangan gips fraktur
biasanya sudah sembuh dan diperlukan 4 minggu
tambahan menggunakan long leg walking cast.
• Perbaikan alignment penting ketika fraktur terjadi
dibagian metafisis proksimal tibia
• Flap atau interposed pes anserinus dan
periosteum pada bagian fraktur dapat
mengganggu keakurasian reduksi, oleh karena itu
flap nya harus diambil dengan pembedahan
untuk mencegah malunion dan gangguan
pertumbuhan.
• Anak harus menghindari menopang beban
pada tibia sampai frakturnya menyatu.
• Fraktur dengan displasi pada sepertiga
proksimal pada tibia dan fibula berpotensi
serius karena resiko cedera pada arteri tibal
anterior dan posterior yang berada di batas
atas membrana interossea dan dapat
menyebabkan kompartmen sindrom.
Lutut dan Paha
Cedera lutut paling signifikan pada anak
melibatkan plat epifiseal atau epifisis pada
bagian proksimal tibia atau distal femur.
Fraktur avulsi pada tulang tibial anterior
• Karena Anterior cruciate ligament berinsersio
pada tulang tibia anterior dan ligamen anak
lebih kuat dibandingkan epifisis sehingga pada
anak dapat terjadi fraktur avulsi pada tulang
tibial anterior.
• Dapat terjadi hemarthrosis
• Fraktur melebar kearah medial dan lateral
menuju artikular kartilago, harus dilakukan
reduksi.
• Apabila avulsi tibianya hanya terangkat sedikit
atau terangkat kedepan dan tergantung ke
belakang, biasanya dapat dikembalikan
dengan melakukan ekstensi pada sendi lutut,
kemudian diimobilisasi menggunakan cylinder
cast dalam keadaan ekstensi komplit selama 4
minggu
• Apabila tulang tibia anteriornya tidak dapat
direduksi karena terjebak di meniskus ORIF
atau ARIF
Cedera tipe 2 pada epifisis tibial proksimal
• Penyambung antara epifisis dan metafisis
tibial proksimal relatif kuat karena konturnya
yang ireguler.
• Hiperekstensi berat pada lutut dapat
menyebabkan fraktur separasi tipe 2 pada
epifisis tibial proksimal disertai resiko cedera
arteri popliteal
Cedera tipe 2 epifisis femoral distal
• Epifisis femoral distal lebih sering terpisah dari
bagian metafisisnya dibandingkan epifisis
tibial proksimal
• Cedera hiperekstensi dapat menyebabkan
fraktur separasi tipe 2 pada epifisis
• Metafisis bagian femur merobek periosteum
posterior dan mengarah ke arah posterior
menju jaringan lunak di fossa popliteal dimaa
dapat terjadi cedera arteri popliteal dan
nervus popliteal medial atau lateral
• Pemeriksaan klinis menunjukan
pembengkakan pada lutut karena
hemarthrosis dan pada gambaran radiologis
terlihat displasi epifisis
• Reduksi agak sulit, anak harus tidur terlentang
lalu sedikit memfleksikan lutut. Setelah itu
epifisis dapat didorong kembali keposisi
normal. Kemudian reduksi dipertahankan
dengan mengkombinasi long leg cast dengan
fleksi sedikit selama 3 minggu
• Prognosis pertumbuhan selanjutnya baik
kecuali disebabkan oleh tekanan mekanisme
tinggi seperti kecelakaan mobil atau jatuh dari
ketinggian.
Cedera tipe 4 epifisis
femoral distal
• Cedera tipe ini jarang
terjadi
• Cedera tipe 4 ini fraktur
yang menembus plat
epifiseal sehingga
prognosis pertumbuhan
selanjutnya buruk
kecuali reduksinya
sempurna
Dislokasi traumatik patella
• Pada anak yang lebih tua, sebagian besar
wanita dengan genu valgum dan ligamentous
laxity dapat mengalami lateral dislokasi pada
patella karena abduksi dan rotasi external
pada lutut
• Pasien akan mengalami nyeri hebat sehinggal
lututnya “menyerah” dan akhirnya terjatuh
Diagnosis
• Pemeriksaan fisik menunjukan
pembengkakkan pada lutut karena gross
hemathrosis, patella dapat dirasakan berada
di bagian lateral lutut, kadang bisa kembali
sendiri
• Pemeriksaan radiologik menggunakan
proyeksi tangensial superoinferior untuk
mendeteksi fraktur osteokondral pada tepi
medial patella atau bibir lateral patellar goove
Tatalaksana
• Apabila tidak ada fraktur osteokondral dislokasi
patella harus di reduksi secara tertutup dengan
lutut posisi ekstensi kemudian diimobilisasi
menggunakan cylinder cast dari pergelangan kaki
sampai inguinal
• Apabila ada fraktur osteokondral maka harus
dilakukan operasi terbuka dengan mengambil
fragmen dan memperbaiki jaringan lunak yang
robek
• Setelah periode imobilisasi latihan pada
quadricep penting untuk mencegah kekambuhan
Komplikasi
• Dislokasi berulang pada patella merupakan
komplikasi yang merepotkan
• Setiap dislokasi tulang rawan artikularnya
mengalami cedera kembali dan dapat
berkembang menjadi chondromalasia dan
degenerative arthritis
• Dislokasi berulang adalah indikasi operasi
rekonstruktif
Internal dearangements of the knee
• Robeknya meniscus pada anak bersifat jarang
• Dapat terjadi pada anak karena cedera
olahraga
Fraktur batang femoral
• Umum pada anak
• Biasanya mengenai sepertiga tengah femur
• Fraktur bisa transversal, oblique, spiral bahkan
kominutif tergantung mekanisme cederanya
• Meskipun terdapat displacement yang
signifikan, selama periosteal tetap utuh dapat
membantu dalam proses penyembuhan
fraktur
Diagnosis
• Pada pemeriksaan fisik terlihat jelas
deformitas
• Karena frakturnya sangat tidak stabil
pembidaian sementara diperlukan utuk
mengurangi nyeri yang tidak perlu
Tatalaksana
Usia 0-5 tahun
• Traksi awal selama beberapa hari diikuti dengan
spica cast dari pinggang sampai lutut dengan
sedikit fleksi
• Pada anak usia 2 tahun dilakukan traksi overhead
sementara (bryants)
• Pada anak usia 2-5 tahun dilakukan traksi pada
alat gerak terkaitdengan Thomas split dan rangka
dimiringkan
• Setelah itu anak boleh dipulangkan dengan
pemakaian spica cast
Usia 5-10 tahun
• Setelah dilakukan traksi , pada fraktur dapat
dilakukan reduksi tertutup diikuti dengan
perawatan hip spica atau pemasangan flexible
intranedullary nails. Cara alternatif adalah
fiksasi skleteal eksterna
Usia diatas 10 tahun
• Setelah dilakukan traksi kulit
dilakukan pemasangan paku
intermedular yang kaku
• Paku dipasang dibagian distal
dan proksimal dari lokasi
fraktur
• Paku ini membuat pasien
dapat menopang beban secara
utuh
• Metode alternatif adalah ORIF
Pertumbuhan berlebih sementara pada fraktur
femur
• Pertumbuhan berlebih sementara selalu
timbul setelah fraktur batang femoral
• Rata-rata pertumbuhan adalah 1cm dan
permanen
• Kareanya harus sengaja dilakukan aposisi
bayonet dengan penumpukan 1cm
Komplikasi
• Komplikasi paling serius adalah Volkmanns
ischemia (sindroma kompartmen) pada nervus
dan otot karena spasme arteri dan edema
kompartmen pada jaringan lunak
• Manifestasi klinisnya adalah nyeri, pucat,
bengkak, pulselessness, parethesia dan
paralysis
• Tidak boleh diberikan analgesik karena nyeri
sebagai penanda tanda-tanda iskemik
• Ketika curiga volkmanns iskemik, semua
perban harus dilepas, traksi kulit harus diganti
dengan traksi rangka melalui metafisis distal
femur serta lutut dan panggul di fleksikan
• Apabila sirkulasi tidak membaik, eksplorasi
arteri harus dilakukan
Fraktur regio subtrochanter femur
• Ketika fraktur femur berada di bagian distal
trochanter yaitu subtrochanter otot yang
berinsersio di bagian fragmen proksimal, yaitu
iliopsoas dan gluteus, akan menarik ke posisi
fleksi, eksternal rotasi dan abduksi
• Untuk memperbaikinya traksi kontinus
smentara dilakukan untuk mengembalikan
fragmen distal agar sejajar dengan fragmen
proksimal
Panggul dan Pelvis
Fraktur kolum femoris
• Kolum femoris pada anak sangan kuat
sehingga bersifat jarang namun sangat serius
• Kombinasi dari cedera berat dangangguan
perdarahan ke kaput femoris menyebabkan
avaskular nekrosis
• Tidak bisa ditatalaksana secara adekuat
dengan reduksi tertutup dan traksi kontinu
Tatalaksana
• Diplasi fraktur kolum femoris adalah indikasi
absolut untuk reduksi tertutup
dikombinasikan dengan fiksasi internal
• Untuk mencegah anak menopang beban berat
perlu diberikan hip spica sampai fraktur
menyatu secara klinis biasanya perlu 3 bulan
Komplikasi
• Apabia fiksasi internal tidak dilakukan atau
tidak adekuat maka akan non union dan
deformitas coxa vara
• Ketika kaput femoris kehilangan suplai darah
akan menyebabkan post traumatic avasular
necrosis
Cedera tipe 1 epifisis femoral proximal
• Jarang terjadi namun memiliki resiko avascular
nekrosis kaput femoris dan menyebabkan
penutupan prematur pada plat epifiseal
• Tatalaksana adalah internal skeletal fiksasi
dengan pemasangan wire
Traumatic dislocation of the hip
• Sendi panggul paling rentan untuk terjadi
dislokasi ketika posisi fleksi dan adduksi. Pada
posisi ini tekanan di tansmisikan ke sepanjang
batang femur dan menyebabkan kaput
femoris mengalami dislokasi posterior
Diagnosis
• Deformitas klinis
Fleksi, adduksi dan
internal rotasi
• Traumatic anterior
jarang tapi apabila
terjadi abduksi, ektra
rotasi dan ekstensi
Tatalaksana
• Kapsul yang robek dan struktur yang menyempit
membahayakan suplai darah
• Harus di reduksi segera untuk mencegah avascular
necrosis pada kaput femoris
• Pada anak dreduksi dibawah 8 jam , insidensi avascular
necrosis relatif rendah
• Reduksi tertutup dilakukan dengan cara fleksi paha dan
memberikan tekanan pada kaput femoris dari
belakang
• Setelah reduksi lakukan hip spica cast dengan posisi
ekstensi, abduksi dan ekternal rotasi
• Imobilisasi selama 6 minggu untuk penyembuhan
kapsul
Komplikasi
• Cedera nervus sciatic
• Post traumatic avascular necrosis
• Degenerative arthritis
• Interposisi jaringan lunak
Pelvis
• Pelvis anak lebih fleksibel, fraktur pada anak
jarang
• Aspek penting bukan fraktur pelvisnya
melainkan komplikasi lain seperti Pendarahan
internal dari pembuluh darah yang robek dan
ekstravasasi urin karena ruptur buli – buli atau
uretra
Diagnosis
• Pemeriksaan fisik menunjukan pembengkakan
dan nyeri serta bisa terdapat deformitas
panggul
• Proyeksi radiografi menggunakan
– Proyeksi anteroposterior
– Proyeksi tangensial
– Proyeksi masuk kearah cincin pelvis dengan sudut
60 derajat
Tatalaksana
• Fraktur dengan displasi dapat merobek
pembuluh darah menyebabkan pendarahan
hebat
• Anak dapat kehilangan 60% cairan
menyebabkan shock hemoragik
• Sambil mengatasi shock masukkan kateter
urin untuk menginvestigasi cedera pada buli-
buli atau uretra
• Karena pelvis adalah tulang tipe cancellous
fraktur pelvis dapat menyatu dengan cepat
Fraktur stabil pada pelvis
• Fraktur yang tidak melewati cincin pelvis,
tidak mengganggu stabilitas pelvis dalam
menopang beban oleh karena itu tidak
diperlukan reduksi
• Pada anak, tarikan keras dan mendadak pada
hamstring dapat menyebabkan robeknya
hamstring dari origonya yaitu apofisis ischial.
Penyembuhannya baik namun dapat
menyisakan jaringan fibrosa
• Fraktur terisolasi pada ilium dengan sedikit
signifikan biasanya cukup menghindari
menopang beban sampai neyri hilang dalam
beberapa minggu
• Straddle injury dapat menyebabkan fraktur
pada inferior pubic rami tapi yang lebih
penting dapat menghasilkan ruptur uretra
Fraktur tidak stabil pada
pelvis
• Separasi komplit dari
simfisis pubis dan
terbukanya cincin
pelvis paling baik
direduksi dengan
internal rotasi kedua
panggul
• Reduksi dipertahankan
dengan hip spica cast
• Kompresi lateral pada
pelvis menghasilkan
fraktur “bucket
handle” dimana
setengah dari pelvis
mengarah kedepan
dan kedalam
• Pada anak fraktur ini
dapat ditangani
dengan ekternal rotasi
ektremitas bawah dan
reduksi dipertahankan
menggunakan hip
spica cast
• Fraktur tidak stabil dimana satu setengah dari
pelvis mengarah proksimal harus dilakukan
traksi rangka kontinu dibagian femur untuk
mendapatkan dan mempetahankan reduksi
• Tatalaksana alternatif pada fraktur tidak stabil
di pelvis yang melibatkan acetabulum adalah
fiksasi eksternal skletal dan ORIF dengan plate
Kekeran Pada Anak
• Kekerasan pada anak cenderung berulang dan
kadang mengasilkan multipel cedera
muskuloskeletal
• Fraktur pada anak dibawah 3 tahun sangat
tidak umum 25% dari fraktur pada usia ini
adalah akibat kekerasan pada anak
Diagnosis
• Korban tidak akan dibawa ke dokter sesegera
mungkin
• Riwayat cedera dari orang tua sering
meragukan dan menyesatkan
• Pemeriksaan fisik didapatkan memar multipel
dengan stadium resolusi yang bervariasi
• Wajah anak biasanya sedih
• Pemeriksaan radiografi dan scintigraphic pada
keadaan ini harus luas dan meliputi tengkorak,
dada dan keempat ektremitas
• Fraktur tengkorak, multipel fraktur iga, fraktur
metafisial yang mendekati plat epifiseal,
separasi epifiseal dan periosteal new bone
formation adalah karakteristik cedera skeletal,
diikuti dengan proses penyembuhan yang
bervariasi
Tatalaksana
• Korban harus dibawa kerumah sakit untuk
investigasi komplit
• Dokter yang mencurigai kekerasan pada anak
punya hak untuk melaporkan kecurigaan