0% found this document useful (0 votes)
16 views31 pages

Peran Kiai dalam Pernikahan Sirri

bab 2

Uploaded by

Rafika R P
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
16 views31 pages

Peran Kiai dalam Pernikahan Sirri

bab 2

Uploaded by

Rafika R P
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

BAB II

TINJAUAN UMUM PERAN KIAI

SEBAGAI WALI NIKAH DALAM PERNIKAHAN SIRRI

A. Perkawinan

1. Pengertian Perkawinan

Dalam kamus bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata

“kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan

jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh.1 Perkawinan

disebut juga dengan “pernikahan” yang berasal dari kata “nikah” yang

menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan dan

digunakan untuk arti bersetubuh (wathi). Kata “nikah” sendiri

dipergunakan untuk arti persetubuhan (coitus), juga untuk arti akad

nikah.2

Nikah menurut bahasa: al-jam’u dan al-adhamu yang artinya

kumpul. Makna nikah (zawaj) bisa diartikan dengan aqdu al-tazwij yang

artinya akad nikah. Juga bisa diartikan (wath’u al-zaujah) bermakna

menyetubuhi isrti. Definisi yang hampir sama dengan di atas juga

dikemukakan oleh Rahmat Hakim, bahwa kata nikah berasal dari bahasa

Arab “Nikahun” yang merupakan masdar atau asal kata dari kata kerja

(fil’madhi) “Nakaha”, sinonimnya “tazawwaja” kemudian

1
Dep Dikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), [Link]-3,
edisi ke-2, hlm. 456.
2
Abd. Rahman Ghazaly. Fiqih Munakahah, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 7.

1
2

diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai perkawinan. Kata nikah

sering juga dipergunakan sebab telah masuk dalam bahasa Indonesia.3

Beberapa pendapat penulis juga terkadang menyebut pernikahan

dengan kata perkawinan. Istilah “kawin” digunakan secara umum, untuk

tumbuhan, hewan, dan manusia dan menunjukkan proses generatif secara

alami. Berbeda dengan itu, nikah hanya digunakan pada manusia kerena

mengandung keabsahan secara hukum nasional, adat istiadat, dan

terutama menurut Agama. Makna nikah adalah akad atau ikatan, karena

dalam suatu proses pernikahan terdapat ijab (peryataan penyerahan dari

pihak perempuan) dan kabul (pernyataan penerimaan dari pihak lelaki).

Selain itu, nikah bisa juga diartikan sebagai bersetubuh.4

Adapun menurut syara’ nikah adalah akad serah terima antara

laki-laki dan perempuan dengan tujuan untuk saling memuaskan satu

sama lainnya dan untuk membentuk sebuah bahtera rumah tangga yang

sakinah serta masyarakat yang sejahtera. Para ahli fiqih berkata, zawaja

atau nikah adalah akad yang secara keseluruhan di dalamnya

mengandung kata, nikah atau tazwij. Hal ini sesuai dengan pengertian

perkawinan menurut Zakiyah Darajat dan kawan-kawan bahwasannya

perkawinan adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan

3
H.M.A, Tihami, dkk. Fiqih Munakahah Kajian Fiqh Lengkap. (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2009), hlm. 6
4
Ibid., hlm. 6.
3

hubungan kelamin dengan lafaz nikah atau tazwij atau yang semakna

keduanya.5

Dari keseluruhan pengertian diatas tampaknya dibuat hanya

melihat dari segi kebolehan hukum dalam hubungan antara seorang laki-

laki dan seorang wanita yang semula dilarang menjadi dibolehkan.

Padahal setiap perbuatan hukum itu mempunyai tujuan dan akibat

ataupun pengaruhnaya. Hal-hal inilah yang menjadikan perhatian

manusia pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti terjadinya

perceraian, kurang adanya keseimbangan antara suami istri, sehingga

memerlukan penegasan arti perkawinan, bukan saja dari segi kebolehan

hubungan seksual tetapi juga dari segi tujuan dan akibat hukumnya.

Jadi perkawinan mengandung aspek akibat hukum,

melangsungkan perkawinan ialah saling mendapat hak dan kewajiban

serta bertujuan mengadakan hubungan pergaulan yang dilandasi tolong

menolong. Kerena perkawinan termasuk pelaksanaan agama, maka di

dalamnya terkandung adanya tujuan/maksud mengharap keridloan Allah.

2. Dasar Hukum Perkawinan

Dasar hukum dianjurkannya perkawinan dalam agama Islam terdapat

dalam firman Allah Swt dan hadis-hadis Nabi Muḥammad Saw.

a. Berdasarkan firman Allah Swt:

‫َوَاْنِكُح وا اَاْلَياٰمى ِمْنُكْم َوالّٰصِلِح ْيَن ِمْن ِع َباِدُكْم َوِاَم ۤإِىُك ْۗم ِاْن‬

‫هٖ َوالّٰلُه َواِسٌع َعِلْيٌم‬


ۗ ‫َّيُكْوُنْوا ُفَقَر ۤاَء ُيْغِنِهُم الّٰلُه ِمْن َفْضِل‬
5
Zakiyah Darajat dkk. Ilmu Fikih. Jakarta: Departemen Agama RI, 1985 jilid II, hlm. 48.
4

Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara

kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba

sahayamu yang laki-laki dan hamba sahayamu yang perempuan. Jika

merasa miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-

Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha

Mengetahui.” (QS. Al-Nur [24]: 32).6

‫َوِاْن ِخ ْفُتْم َااَّل ُتْقِس ُطْوا ِفى اْلَيٰتٰمى َفاْنِكُح ْوا َما َطاَب َلُكْم‬

‫ِّمَن الِّنَس ۤاِء َمْثٰنى َوُثٰلَث َوُر ٰب َۚع َفِاْن ِخ ْفُتْم َااَّل َتْعِدُلْوا َفَواِح َدًة‬

‫َاْو َما َمَلَكْت َاْيَماُنُك ْۗم ٰذِلَك َاْدٰٓنى َااَّل َتُعْوُلْو ۗا‬

Artinya: “Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap

(hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya),

maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga

atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil,

maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.

Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

(QS. AlNisa’ [4]: 3).7

6
Departemen Agama RI, “Al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan & Tajwid Warna”.
(Bandung: Cordoba, 2018), hlm. 354.
7
Departemen Agama Ri, “Al-Qur’an Hafalan Mudah… hlm. 77
5

b. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW

‫ {ِاْلَتِمُس وا الِّر ْز َق‬: ‫َوَقاَل َعَلْيِه الَّصاَل ُة َوالَّس اَل ُم‬

} ‫ِبالِّنَكاِح‬

Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Carilah

rezeki dengan menikah.” (HR Ad-Dailami).8

، ‫َيا َمْعَش َر الَّش َباِب َمِن اْس َتَطاَع ِمْنُكُم اْلَباَءَة َفْلَيَتَز َّوْج‬
‫َأ‬ ‫َأ‬
‫ َوَمْن َلْم َيْس َتِطْع‬، ‫ َو ْح َصُن ِلْلَفْر ِج‬،‫َفِإَّنُه َغُّض ِلْلَبَصِر‬

‫َفَعَلْيِه ِبالَّصْوِم َفِإَّنُه َلُه وجاٌء‬

Artinya: "Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang

sudah mampu menanggung nafkah, hendaknya dia menikah. Karena

menikah lebih mampu menundukkan pandangan dan menjaga

kemaluan. Sementara siapa saja yang tidak mampu, maka hendaknya

ia berpuasa. Karena puasa bisa menjadi tameng syahwat baginya".

(HR Bukhari & Muslim)9

3. Hukum Perkawinan

Hukum Islam mengenal lima kategori hukum yang lazim dikenal

dengan sebutan al-ahkam al-khamsah (hukum yang lima) yakni: wajib

8
Imam Ahmad bin Hambal, Al-Musnad, (Beirut: Daar Al-Fikr, 1991), Juz 9, h. 516

9
Ibid., hlm. 520
6

(harus), sunnah atau mustahab atau tathawwu’ (anjuran atau dorongan,

atau sebaiknya dilakukan), ibahah atau mubah (kebolehan), karahah atau

makruh (kurang atau tidak disukai, sebaiknya ditinggalkan) dan haram

(larangan keras).10

Adapun pengertian dari kelima hukum tersebut adalah sebagai

berikut:

a. Wajib

Wajib yaitu perkawinan yang harus dilakukan oleh seseorang yang

memiliki kemampuan untuk menikah (berumah tangga) serta

memiliki nafsu biologis (nafsu syahwat) dan khawatir benar dirinya

akan melakukan zina manakala tidak melakukan perkawinan.

Keharusan perkawinan ini didasarkan atas alasan bahwa

mempertahankan kehormatan diri dari kemungkinan berbuat zina

adalah wajib.11

b. Sunnah

Perkawinan menjadi sunnah bila dilakukan seseorang dipandang dari

dipandang dari faktor pertumbuhan jasmaninya sudah wajar dan

cenderung untuk kawin. Ia sudah punya kemampuan membiayai

hidup sendiri. Baginya melakukan perkawinan sunnah, bila dia kawin

menerima pahala, kalau tidak atau belum kawin, dia tidak berdosa.12

10
Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia, (Jakarta: Rajawali Pers,
2004), hlm. 91.
11
Ibid., hlm. 92.

12
Armaidi Tanjung, Free Sex No Nikah Yes, (Jakarta: Amzah, 2007), hlm. 141
7

c. Ibahah atau mubah (kebolehan)

Ibahah atau mubah yaitu perkawinan yang dilakukan tanpa ada

faktor-faktor yang mendorong (memaksa) atau yang

menghalanghalangi. Perkawinan ibahah inilah yang umum terjadi di

tengah-tengah masyarakat luas, dan oleh kebanyakan ulama

dinyatakan sebagai hukum dasar atau hukum asal dari nikah.13

d. Makruh

Perkawinan dikatakan makruh jika seseorang dilihat dari sudut

pertumbuhan jasmani sudah pantas untuk kawin. Namun, ia belum

ada kesanggupan untuk membiayai kehidupan keluarga setelah

kawin. Dikhawatirkan perkawinannya akan membawa sengsara bagi

istri dan anaknya. Orang seperti ini baginya makruh melangsungkan

perkawinan. Bila tidak kawin dengan pertimbangan, tidak berdosa.

Asal selalu berupaya agar tidak terjerumus berbuat dosa.14

e. Haram

Perkawinan berubah menjadi haram jika perkawinan tersebut

bertujuan tidak baik menganiaya pasangan. Misalnya, seorang laki-

laki hendak mengawini seorang perempuan dengan tujuan

menganiaya atau memperolok-olokan istri (perempuan). Maka haram

bagi laki-laki itu nikah dengan perempuan tersebut. Perkawinan

13
Muhammad Amin Sauna, Hukum Keluarga…, hlm. 93.

14
Armaidi Tanjung, Free Sex…, hlm. 142.
8

dengan muhrim, perempuan muslim dikawinkan dengan laki-laki

nonmuslim, juga haram, begitu pula larangan untuk poliandri.15

4. Rukun dan Syarat Sah Perkawinan

Rukun adalah sesuatu yang adanya menjadi syarat sahnya

perbuatan hukum dan merupakan bagian dari perbuatan hukum tersebut.

Rukun perkawinan berarti dari perbuatan hukum tersebut. Rukun

perkawinan berarti sesuatu yang menjadi bagian perkawinan yang

menjadi syarat sahnya perkawinan.

Rukun perkawinan ini masing-masing ulama berbeda pendapat.

Menurut Imam Syafi‟i rukun perkawinan yaitu adanya calon mempelai

laki-laki dan perempuan, wali, dua orang saksi, sighat akad nikah. Imam

Malik menyebutkan rukun perkawinan antara lain; wali dari pihak

perempuan, mahar, calon mempelai laki-laki dan perempuan, sighat akad

nikah. Imam Hanbali menyebut rukun perkawinan yakni adanya calon

mempelai laki-laki dan perempuan, wali, ijab dan qabul. Sedangkan

menurut Imam Hanafi rukun perkawinan hanya ijab dan qabul.16

Seperti diungkapkan diawal bahwa masalah rukun dan syarat

perkawinan, para ulama masih terjadi perbedaan pendapat. Undang-

Undang Perkawinan dan KHI sebagai bentuk legislasi hukum

perkawinan yang materi hukumnya lebih dominan diambil dari hukum

15
Ibid.

16
Asep Aulia Ulfan & Destri Budi Nugraheni, Analisis Yuridis Peluang Pencatatan
Perkawinan Sebagai Rukun Dalam Perkawinan Islam, Jurnal Penelitian Hukum, Vol 1, No 1,
2014, hlm. 29.
9

Islam nampak kesulitan menempatkan posisi rukun dan syarat

perkawinan. UU No.1 Tahun 1974 lebih memilih menggunakan syarat-

syarat perkawinan daripada rukun-rukun. Terdapat dalam pasal 6 sampai

12 sebagai berikut:17

1) Perkawinan harus berdasarkan persetujuan kedua mempelai.

2) Berumur 21 tahun, bagi yang berumur dibawah 21 tahun harus

mendapatkan izin kedua orang tuanya. Jika kedua orang tuanya

tidak mampu atau sudah meninggal, boleh diwakilkan oleh

walinya, orang yang memelihara atau keluarga yang yang

mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan yang lurus

keatas. Jika kedua orang tuanya dan keluarganya tidak mampu,

boleh diwakili pengadilan setempat.

3) Pria dan wanita yang ingin melangsungkan perkawinan minimal

berusia 19 tahun sesuai UU No.16 Tahun 2019 revisi atas UU

No.1 Tahun 1974 pasal 7. Apabila terpaksa melakukan pernikahan

dibawah umur 19 tahun, boleh meminta izin dispensasi nikah

pada Pengadilan Agama.

4) Perkawinannya dilarang antara dua orang, seperti hubungan

mahram, hubungan semenda, hubungan saudara sepersusuan.

Untuk suami yang mau menikah lebih dari satu istri, dilarang

menikahi saudara istri, bibi atau kemenakan dari istri.

17
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Syarat-Syarat Perkawinan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 4-7).
10

5) Dilarang perkawinan seseorang yang masih terikat perkawinan

dengan orang lain, kecuali mendapatkan izin dari pengadilan

sesuai prosedur dan persyaratan yang sudah ditentukan dalam

pasal 3 dan 4.

6) Dan bagi wanita tidak berada dalam masa iddah.

Dalam KHI rukun dan syarat perkawinan tidak jauh berbeda

dengan fikih konvensional. Perbedaannya hanya pada pembatasan usia

perkawinan yang dalam KHI ketentuannya mengikuti Undang-Undang

Perkawinan dan lebih lengkap.18 Pembatasan perkawinan ini ditetapkan

KHI, karena dalam syariat Islam dan fikih konvensional tidak dibahas

sama sekali. Sehingga KHI bebas mencantumkannya berdasarkan ijtihad,

karena dengan dibatasinya usia perkawinan dinilai lebih maslahat.

KHI sebagaimana fikih konvensional lebih memilih kata rukun

yang diikuti dengan syarat yang terdapat dalam pasal 14 sampai sampai

dengan 29. Dan menetapkan rukun nikah sama seperti pendapat jumhur

ulama terdapat dalam pasal 14, ada lima yaitu: calon suami, calon istri,

wali nikah, dua orang saksi, ijab dan kabul. 19 Sedangkan rukun yang

diikuti syarat-syarat perkawinan penjabarannya terdapat pada pasal 15

sampai dengan pasal 29, yang ringkasannya sebagai berikut:

1) Syarat calon mempelai

a) Harus berumur 19 tahun sesuai dengan UU No.16 Tahun 2019

18
Malthuf Siroj, Pembaharuan Hukum Islam Di Indonesia: Telaah Kompilasi Hukum
Islam, (Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2017), hlm. 189
19
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: CV Akademika, 1995),
hlm. 116-117.
11

b) Bagi calon yang belum berumur 21 tahun harus mendapatkan izin

sebagaimana diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3) dan (5) UU No.1

Tahun 1974.

c) Berdasarkan persetujuan kedua calon mempelai wanita, dapat

berupa pernyataan tegas dan nyata dengan tulisan, lisan atau isyarat

tapi dapat juga berupa diam dalam artian tidak ada penolakan yang

tegas.

d) Bagi kedua calon mempelai tidak terdapat halangan perkawinan.20

2) Syarat wali nikah

a) Laki-laki

b) Muslim

c) Aqil

d) Baligh

e) Wali nasab atau wali hakim.21

3) Syarat saksi nikah

a) Terdiri dua orang saksi

b) Laki-laki muslim

c) Adil

d) Aqil baligh

e) Tidak terganggu ingatan

f) Tidak tuna rungu atau tuli

20
Kompilasi Hukum Islam, Pasal 15-18 Tentang Calon Mempelai
21

Kompilasi Hukum Islam, Pasal 19-23 Tentang Wali Nikah


12

g) Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah

serta menandatangani akta nikah22

4) Syarat akad nikah

a) Ijab dan kabul harus jelas, beruntun dan tidak berselang waktu

b) Akad nikah dilakukan walinya atau diwakilkan

c) Kabul dilakukan mempelai pria secara langsung, boleh juga

diwakilkan kepada pria lain yang diberi kuasa secara tegas dan

tertulis. Tetapi jika calon mempelai wanita dan walinya merasa

keberatan atas calon mempelai pria diwakilkan, maka perkawinan

tidak boleh dilangsungkan.23

B. Wali Dalam Perkawinan

1. Pengertian Wali

Kata “wali” berasal dari bahasa Arab, yaitu al-waliy muannatsnya

adalah al-waliyah dan bentuk jamaknya adalah alawliya’ berasal dari

kata walayali- walyan dan walayatan yang berarti mencintai, teman

dekat, sahabat, sekutu, pengikut, pengasuh dan orang yang mengurus

perkara. Adapun yang dimaksud perwalian dalam terminologi para

fuqaha sebagaimana dirumuskan oleh Wahbah AzZuhaili ialah kekuasaan

atas otoritas (yang dimiliki) seseorang untuk secara langsung melakukan

suatu tindakan sendiri tanpa harus bergantung (terikat) atas seizin orang

lain.24
22
Kompilasi Hukum Islam, Pasal 24-26, Tentang Saksi Nikah
23

Kompilasi Hukum Islam, Pasal 27-29 Tentang Akad Nikah


24
Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 2005), hlm. 134-135
13

Dalam perkawinan, wali adalah seseorang yang bertindak atas

nama mempelai perempuan dalam suatu akad nikah. 25 Akad nikah

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak laki-laki yang dilakukan oleh

mempelai laki-laki itu sendiri dan pihak perempuan yang dilakukan oleh

walinya.

Atas dasar penjelasan mengenai wali yang telah disebutkan

diatas, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang paling berhak menjadi

wali bagi kepentingan anak ialah ayah. Hal ini karena ayah adalah orang

terdekat yang selama ini mengasuh dan membiayai anak-anaknya. Jika

ayah tidak ada, maka hak perwalian digantikan oleh keluarga dekat

lainnya dari pihak ayah.

2. Dasar Hukum Wali Nikah

Dasar hukum wali nikah diantaranya terdapat dalam ayat

AlQur‟an surat Al-Baqarah ayat 232, sebagai berikut:

‫َوِاَذا َطَّلْقُتُم الِّنَس ۤاَء َفَبَلْغَن َاَج َلُهَّن َفاَل َتْعُضُلْوُهَّن َاْن‬

‫َّيْنِكْح َن َاْز َواَج ُهَّن ِاَذا َتَر اَضْوا َبْيَنُهْم ِباْلَمْعُرْو ِۗف ٰذِلَك ُيْوَعُظ‬

‫ِبهٖ َمْن َكاَن ِمْنُكْم ُيْؤِمُن ِبالّٰلِه َواْلَيْوِم اٰاْلِخ ِۗر ٰذِلُكْم َاْز ٰكى‬

‫َلُكْم َوَاْطَه ُۗر َوالّٰلُه َيْعَلُم َوَاْنُتْم اَل َتْعَلُمْوَن‬

Artinya: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa

iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin

25
Prof. Dr. Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Prenada
Media Grup, 2009), hlm. 69
14

lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan diantara

mereka dengan cara yang ma'ruf”. Itulah yang dinasehatkan kepada

orang-orang yang beriman diantara kamu kepada Allah dan hari akhir.

Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah Maha Mengetahui, sedang

kamu tidak mengetahui.”( Q S. Al-Baqarah: 232)26

Dalam Kompilasi Hukum Islam, wali nikah merupakan rukun

dari perkawinan. Sebagaimana tercantumkan dalam pasal 19: “wali nikah

dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon

mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya”.

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 juga mensyaratkan

perkawinan menggunakan wali nikah. Sesuai dengan pasal 6 ayat 2:

”Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur

21 (dua puluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua”. Selain

itu dalam pasal 26 ayat (1) dinyatakan: “Perkawinan yang dilangsungkan

di muka Pegawai Pencatat Nikah yang tidak berwenang, wali nikah yang

tidak sah, atau yang dilangsungkan tanpa dihadiri oleh 2 (dua) orang

saksi dapat dimintakan pembatalannya oleh para keluarga dalam garis

keturunan lurus ke atas dari suami, isteri jaksa, dan suami atau isteri”.

Jadi dari bunyi pasal di atas mengisyaratkan dengan jelas bahwa

perkawinan yang tidak diikuti wali, maka perkawinannya batal atau dapat

dibatalkan.

26
Departemen Agama Ri, “Al-Qur’an Hafalan Mudah… hlm. 37.
15

3. Kedudukan Wali Nikah dalam Perkawinan

Para ulama sepakat mendudukkan wali sebagai rukun dan syarat

dalam akad perkawinan terhadap mempelai baik laki-laki atau perempuan

yang masih kecil. Hal ini dikarenakan mempelai yang masih kecil tidak

dapat melakukan akad dengan sendirinya dan oleh karenanya akad tersebut

dilakukan oleh walinya. Namun terhadap perempuan yang telah dewasa

baik ia sudah janda atau masih perawan, para ulama berbeda pendapat.

Perbedaan pendapat tersebut dapat dirinci sebagai berikut:27

a. Ulama Hanafiyah, Ulama Syi’ah Imamiyah berpendapat bahwa untuk

perkawinan anak kecil baik sehat akal atau tidak sehat akal

diwajibkan adanya wali yang akan mengakadkan perkawinannya.

Sedangkan wanita yang sudah dewasa dan sehat akalnya dapat

melangsungkan sendiri akad perkawinannya tanpa adanya wali.

b. Ulama Syafi’iyah dan ulama Hanabilah berpendapat bahwa setiap

akad perkawinan dilakukan oleh wali, baik perempuan itu dewasa

atau masih kecil, janda atau masih perawan, sehat akalnya atau tidak

sehat. Tidak ada hak sama sekali bagi perempuan untuk

mengakadkan perkawinannya.

c. Ulama Dzahiriyah berpendapat bahwa untuk perempuan yang masih

kecil atau tidak sehat akal diwajibkan adanya wali, sedangkan untuk

perempuan yang sudah dewasa yang diwajibkan adalah izin wali

untuk melangsungkan perkawinan.

27
Ibid., hlm. 74.
16

Undang-Undang Nomor 1 tahunn 1974 tentang Perkawinan

menjelaskan dalam pasal 2, perkawinan adalah sah apabila dilakukan

menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Dari

uraian tersebut , dapat dilihat bahwa wali tidak ada dijelaskan secara

detail di dalam Undang-undang tersebut. Namun secara tersirat Undang-

Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan mengisyaratkan,

bahwa wali nikah disesuaikan dengan aturan hukum agama. Hal itu

sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan

pasal 2 “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum

masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”.28

Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 19 yang menyatakan bahwa

wali dalam suatu akad perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi

oleh calon mempelai perempuan yang bertindak untuk menikahkannya.

Apabila ketentuan ini tidak dapat dipenuhi maka perkawinan tersebut

dianggap tidak sah karena cacat hukum dalam pelaksanaannya.

4. Syarat-Syarat Wali Nikah

Permasalahan wali dalam suatu akad perkawinan merupakan

permasalahan yang serius karena wali adalah orang yang akan

bertanggung jawab atas sah atau tidaknya suatu akad perkawinan yang

telah dilangsungkan. Oleh karena itu para fuqaha telah memberikan

syarat-syarat bagi para wali, sebagai berikut:

28
Muhammad Sibawaih, Rasfiudin,”Analisis Undang-Undang Perkawinan Nomor 1
Tahun 1974 Dalam Penetapan Wali”, Jurnal Cerdas Hukum, Vol.1 Nomor 1, 2022, hlm. 17.
17

a. Beragama Islam. Tidak sah orang yang tidak beragama Islam menjadi

wali untuk orang Islam.29

b. Telah dewasa dan berakal sehat dalam arti anak kecil dan orang gila

tidak berhak menjadi wali.

c. Laki-laki, tidak boleh perempuan menjadi wali.30

d. Merdeka, artinya tidak dalam pengampuan atau mahjur alaih. Karena

orang yang berada dibawah pengampuan tidak dapat berbuat hukum

dengan sendirinya.

e. Adil, artinya orang yang menjadi wali tidak pernah terlibat dengan

dosa besar dan tidak sering terlibat dengan dosa kecil, serta tetap

memelihara sopan santun.

f. Tidak sedang melakukan ihram.

Dalam pasal 20 ayat 1 Kompilasi Hukum Islam, disebutkan

bahwa: “Yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang

memenuhi syarat hukum Islam yakni muslim, aqil dan baligh.”

Dalam undang-undang No. 1 th. 1974 pasal 6 ayat 3 dan 4,

dijelaskan bahwa seorang wali harus masih hidup dan sekaligus mampu

menyatakan kehendaknya. Apabila orang tuanya sudah meninggal atau

tidak mampu menyatakan kehendak maka izin diperoleh dari wali orang

yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam

29
Prof. Dr. Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Prenada
Media Grup, 2009), hlm. 77
30
Ibid., hlm. 77
18

garis lurus ke atas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan

menyatakan kehendaknya.

5. Macam-macam Wali Nikah

Pasal 20 ayat 2 KHI menyebutkan bahwa nikah terdiri dari dua

yaitu wali nasab dan wali hakim.

a. Wali Nasab

Wali nasab adalah wali yang mempunyai hubungan

kekeluargaan dengan perempuan yang akan kawin.31 Jumhur ulama

yang terdiri dari Syafi’iyah, Hanabilah, Dzahiriyah, dan Syi’ah

Imamiyah membagi wali nasab menjadi dua kelompok, yaitu:32

1) Wali dekat atau wali qarib, yaitu ayah dan kalau tidak ada ayah

pindah kepada kakek.

2) Wali jauh atau wali ab’ad yaitu wali dalam garis kerabat selain

dari ayah dan kakek, juga selain dari anak dan cucu, karena anak

menurut jumhur ulama tidak boleh menjadi wali terhadap ibunya

dari segi dia adalah anak. Bila anak berkedudukan sebagai wali

hakim, dia boleh mengawinkan ibunya sebagai wali hakim.

Kompilasi Hukum Islam pasal 22 yaitu apabila wali nikah yang

paling berhak, urutannya tidak memenuhi syarat sebagai wali nikah, atau

karena wali nikah itu menderita tunawicara, tunarungu atau sudah udzur,

maka hak menjadi wali bergeser kepada wali nikah yang lain menurut

31
Muhammad Thalib, Perkawinan Menurut Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), hlm. 9

32
Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab, (Jakarta: Lentera Basritama, 1999),
hlm.50
19

derajat berikutnya. Urutan wali nikah secara rinci sebagai berikut: 1)

ayah kandung; 2) kakek (dari garis ayah dan seterusnya ke atas dalam

garis laki-laki); 3) saudara laki-laki kandung; 4) saudara laki-laki seayah;

5) anak laki-laki saudara laki-laki sekandung; 6) anak laki-laki saudara

laki-laki seayah; 7) anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki

sekandung; 8) anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki seayah;

9) saudara laki-laki ayah sekandung; 10) saudara laki-laki ayah seayah;

11) anak laki-laki paman sekandung; 12) anak laki-laki paman seayah;

13) saudara laki-laki kakek seayah; 14) anak laki-laki saudara laki-laki

kakek sekandung; 15) anak laki-laki saudara laki-laki kakek seayah.33

b. Wali Hakim

Dalam Pasal 1 huruf (b) Kompilasi Hukum Islam, disebutkan

bahwa; “Wali hakim ialah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri

Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan

kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah”. Begitu juga dalam

pasal 23 ayat 1 yang menjelaskan, “wali hakim baru dapat bertindak

sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin

menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau ghaib

atau adhol atau enggan”.34

Di Indonesia, Wali Hakim, adalah Kepala Kantor Urusan

Agama Kecamatan yang ditunjuk oleh Menteri Agama untuk

33
Kompilasi Hukum Islam, Pasal 22 Tentang Wali Nikah
34
Abdullah, Abdul Gani. Pengantar Kompilasi hukum Islam dalam tata hukum
Indonesia. Gema Insani, 1994, hlm. 77-78
20

bertindak sebagai wali nikah bagi calon mempelai wanita yang tidak

mempunyai wali. Hal ini berdasarkan Pasal 1 ayat 2 Peraturan

Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2005 Tentang

Wali Hakim.35

Adapun perpindahan dari wai nasab kepada wali hakim

sebagai berikut: a) wali aqrab atau wali ab’ad tidak ada sama sekali;

b) wali aqrab ada tetapi akan menjadi calon mempelai pria, sedang

wali aqrab yang sederajat (sama-sama anak paman) sudah tidak ada;

c) wali aqrab ada tetapi sedang ihram; d) wali aqrab ada tetapi tidak

diketahui tempat tinggalnya (mafqud); e) wali aqrab ada tetapi

menderita sakit pitam; f) wali aqrab ada tetapi menajalani hukuman

yang tidak dapat dijumpai; g) wali aqrab ada tetapi bepergian jauh

sejauh perjalanan yang membolehkan sholat qashar; h) wali aqrab ada

tetapi menolak untuk mengawinkan (adhal); i) calon mempelai

wanita menderita sakit gila, sedang wali mujbirnya (ayah atau

kakeknya) sudah tidak ada lagi.36

c. Wali Muhakkam

Secara bahasa, wali muhakkam merupakan kata majemuk

yang terdiri dari dua kata, yaitu wali dan muhakkam. Kata wali satu

akar dengan kata wilayah yang berarti mengatur dan menguasai.

Kata muhakkam berasal dari kata hakkama-yuhakkimu-tahkiman,

35
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2005 Tentang Wali
Hakim.
36
Moh Rifa’I, Ilmu Fiqh Islam Lengkap (Semarang: Karya Toha Putra, 1978), hlm.68
21

yang memiliki arti mengangkat seseorang menjadi hakim dan

menyerahkan persoalan hukum kepadanya. Dalam pernikahan wali

muhakkam ini merupakan seorang yang dianggap mampu dan

memiliki keilmuan agama yang baik, biasanya seorang kiai.37

Wali muhakkkam adalah seseorang yang diangkat oleh calon

suami istri untuk menjadi wali dalam akad nikah mereka. Orang

yang bisa diangkat sebagai wali muhakkam adalah orang yang

memiliki ilmu agama yang luas, berwibawa, islam, adil dan laki-

laki.38

Adapun tata-ta cara pengangkatan (cara tahkim) yaitu calon

suami mengucapkan tahkim kepada seseorang yang ingin diangkat

menjadi wali pernikahanya dengan kalimat “Saya angkat bapak atau

saudara untuk menikahkan saya dengan si (calon istri) dengan mahar

… dan putusan bapak/ saudara saya terima.” Setelah itu calon istri

mengucapkan hal yang sama. Kemudian calon hakim menjawab

“saya terima tahkim ini.39

d. Wali Adhal

Secara bahasa adhal berarti menyempitkan atau menghalangi.

Wali adhal adalah wali yang menghalangi wanita aqil baligh

dibawah perwaliannya untuk menikah dengan laki-laki sekufu

37
A. Zuhdi Mudlor, Memahami Hukum Perkawinan, Nikah,Talaq, Cerai dan Rujuk.
(Bandung: al-Bayan, 1994), hlm. 63.

38
Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta: Bumu Bayan, 1999), Cet-2, hlm.
25.
39
Tihami, dkk, Fiqih Munakahat, Jakarta: PT Raja (Grafindo Persada, 2013), hlm, 98.
22

pilihanya, dimana antara keduanya sudah ada keinginan untuk

menikah. Alasan penolakan wali bertentangan dengan syariat, karena

wali berhak untuk menolak jika alasanya sesuai dengan syariat.40

Adapun yang dimaksud dengan ijbar (mujbir) adalah hak

seorang ayah (ke atas) untuk menikahkan anak gadisnya tanpa

persetujuan yang bersangkutan, dengan syarat-syarat tertentu. Syarat

tersebut adalah sebagai berikut:

a) Tidak ada rasa permusuhan antara wali dengan perempuan

menjadi wilayat (calon pengantin wanita).

b) Calon suaminya sekufu dengan calon istri, atau yang lebih tinggi.

c) Calon suaminya sanggup membayar mahar pada saat

dilangsungkan akad nikah.

Wali dinyatakan adhal apabila:

a) Adanya penolakan (keengganan)wali

untukmenikahkan calonmempelai perempuan.

b) Telah ada permintaan atau permohonan dari calon

mempelai perempuan agar dirinya dinikahkan dengan

calon mempelai laki-laki.

c) Kafa’ah antara calon mempelai laki-laki dan calon

mempelai Perempuan.

40

Syailendra Sabdo, “Wali Adhal Dalam Pernikahan (Penyebab dan Penyelesaiannya


Dalam Perspektif Hukum Islam)”, Jurnal Dirasat Islamiyah, Vol. 8 Nomor 1, 2020, hlm. 155.
23

d) Adanya perasaan saling menyayangi atau mencintai di

antara masing-masing calon mempelai.

e) Alasan penolakan atau keengganan wali tersebut

bertentangan dengan syara’.Apabila seorang wanita

meminta kepada walinya untuk dinikahkan dengan laki-

laki sekufu namun wali aqrabnya menolak sebanyak satu

kali atau dua kali maka yang menikahkannya adalah

hakim. Dan apabila penolakan tersebut terjadi sampai

tiga kali makawali aqrab tersebut menjadi fasik,

maka pada saat demikian hak wali berpindah kepada

wali ab’ad. Penolakan wali tersebut harus telah stubut

pada hakim Dimana hakim telah memanggil wali dan

calon suami untuk dinikahkan namun walinya tidak

menurutinya.41

C. Perkawinan Sirri

1. Pengertian Perkawinan Sirri

Perkawinan tidak tercatat ini sama halnya dengan perkawinan di

bawah tangan dan perkawinan ‘urfi, yaitu praktik perkawinan yang

rukun-rukun maupun syarat-syarat perkawinannya sudah terpenuhi, akan

tetapi tidak mendaftarkannya pada Pejabat Pencatat Nikah, sebagaimana

41
Haniah,”Kedudukan Wali Adhal Dalam Menikahkan Anaknya”, Jurnal Al-Mizan, Vol 7
Nomor , 2020, hlm 24-25.
24

diatur dan di tentukan oleh UU No.1 Tahun 1974.42 Di Indonesia secara

sosiologis masyarakat sering menyebutnya sebagai nikah sirri. Meskipun

jika ditelusuri secara mendalam penggunaan istilah nikah sirri kurang

tepat, karena kalau merujuk pada historis penggunaan istilah nikah sirri

pada masa Umar bin Khattab digunakan untuk perkawinan yang tidak

memenuhi ketentuan rukun dan syarat dalam perkawinan.43

Dalam Islam agar pernikahan itu bisa sah, maka harus memenuhi

rukun-rukun dan syarat-syarat perkawinan. Keabsahan perkawinan tidak

tercatat ini sesuai dengan fatwa MUI No. 10 Tahun 2008 yang

memutuskan dua poin. Pertama, perkawinan tidak tercatat hukumnya sah,

asalkan tidak menimbulkan mudarat. Kedua, pernikahan harus dicatatkan

secara resmi di KUA sebagai langkah preventif untuk menolak dampak

negatif (saad addzari’ah). Fatwa MUI tersebut terlihat sangat jelas

menghukumi perkawinan tidak tercatat sah, asalkan tidak menimbulkan

mudarat. Dan pencatatan perkawinan hanya sebagai langkah preventif

saja, supaya perkawinan tidak tercatat tidak menimbulkan kemudaratan

dikemudian hari.

Lebih jelasnya pendapat Jaad al-Haq Ali Jaad al-Haq yang

membagi ketentuan perkawinan kepada dua kategori. Pertama, peraturan

syara’: yakni yang berhak memutuskan sah tidaknya perkawinan di

dasarkan pada ketetapan syariat Islam yang telah dirumuskan ulama.


42
Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan
Agama Dan Zakat Menurut Hukum Islam., (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hlm. 41.
43
Abd. Rasid, Perkawinan Tidak Tercatat Perspektif teori Sistem Hukum Lawrence M.
friedman (Studi di Desa Saobi Kecamatan Kangayan Kabupaten Sumenep), Tesis UIN Maulana
Malik Ibrahim, 2020, hlm. 39.
25

Kedua, peraturan bersifat tawsiqy yaitu sebuah peraturan tambahan yang

diciptakan untuk menertibkan perkawinan dengan cara dicatatkan,

supaya perkawinan umat Islam tidak liar.44

Rukun dan syarat perkawinan dalam UUP dan KHI bisa

dirangkum dan diklasifikasikan menjadi dua bagian yakni syarat

materiil dan syarat formil. Pertama, persyaratan materiil yang

menyangkut pihak-pihak yang terkait dengan perkawinan atau terkait

dengan pribadi seseorang yang wajib diperhatikan dalam

melaksanakan perkawinan. Syarat meteriil ini ada lima: (1)

perkawinan harus berdasarkan persetujuan kedua calon mempelai. (2)

bagi kedua calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun

harus mendapatkan izin kedua orang tuanya. (3) masing-masing

kedua calon mempelai harus berusia 19 tahun sesuai dengan UU

No.16 Tahun 2019 revisi atas UU No.1 Tahun 1974. Kecuali ada

dispensasi yang diberikan oleh pengadilan atau pencatat yang

ditunjuk untuk itu. (4) kedua belah pihak tidak terikat dengan

perkawinan, kecuali agamanya mengizinkan poligami. (5) bagi

perempuan yang akan menikah kedua kalinya atau seterusnya, harus

menunggu masa iddah selesai. Masa iddah perempuan yang putus

perkawinannya karena perceraian 90 hari. Bagi perempuan yang

dicerai hamil, maka iddahnya sampai melahirkan. Sedangkan

perempuan yang ditinggal mati suaminya, masa iddahnya 140 hari.


44
Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer; Analisis
Yurisprudensi Dengan Pendekatan Ushuliyah, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010),
hlm. 33-36
26

Kedua, persyaratan formil yang terkait dengan prosedur yang

harus dipenuhi, baik sebelum maupun pada saat perkawinan

berlangsung: (1) laporan perkawinan, (2) pengumuman perkawinan,

(3) pencegahan perkawinan, (4) pelangsungan perkawinan.45

Setelah memperhatikan rukun dan syarat perkawinan dalam

UUP dan KHI, masalah pencatatan tidak tercantum. Sehingga bisa

kita tarik kesimpulannya bahwa perkawinan tidak tercatat hukumnya

sah. Hal ini sesuai juga dengan bunyi UU No.1 Tahun 1974 pasal 2

ayat (1) Dan KHI pasal 4 yang menyerahkan keabsahan perkawinan

pada otoritas agama, kepercayaan dan hukum Islam. Sedangkan

posisi pencatatan hanya sebagai syarat administratif saja, bukan

sebagai rukun atau syarat yang bisa menentukan sah atau tidaknya

perkawinan.

2. Akibat Hukum Perkawinan Sirri

Perkawinan di bawah tangan atau sirri yang tidak dicatatkan

mempunyai pengaruh besar secara yuridis tentang pengakuan hukum

terhadap perkawinan tersebut. Perkawinan dibawah tangan dianggap

masuk ke dalam kekerasan dalam rumah tanga. Perkawinan ini membawa

implikasi yang luas terhadap anak-anak yang dilahirkan, hak dan

kewajiban istri, perceraian dan masalah kewarisan, karena tidak adanya

45
Nur Yasin, Hukum Perkawinan Islam Sasak, (Malang: UIN-Malang Press, 2008), hlm.
65-66
27

fenomena pergeseran keabsahan pernikahan diatas. 46 Berikut beberapa

akibat perkawinan yang tidak dicatatkan:

a. Akibat terhadap istri

Perkawinan sirri berdampak bagi istri baik secara hukum

maupun sosial. Secara hukum istri tidak dianggap sebagai istri

sah, tidak berhat atas nafkah dan warisan dari suami jika ia

meninggal dunia dan tidak berhak mendapatkan harta gono gini

jika terjadi perpisahan, karena secara hukum perkawinan

tersebut dianggap tidak pernah terjadi. Secara sosial, istri akan

sulit untuk bersosialisasi karena perkawinan sirri yang tinggal

serumah dengan laki-laki tanpa ikatan perkawinan dianggap

menjadi istri simpanan.47

b. Terhadap anak

Sementara terhadap anak, tidak sahnya perkawinan sirri

menurut hukum negara memiliki dampak negatif bagi status

anak dianggap sebagai anak tidak sah. Konsekuensinya, anak

hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu.

Didalam akta kelahiran statusnya dianggap sebagai anak luar

kawin dan tidak tercantumnya nama ayah akan berdampak

pada psikologis bagi anak dan ibunya. Ketidakjelasan status

46
Siti Kasiyati, Buku Daras Hukum Keluarga dan Kejahatan Domestik, (Surakarta:
Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, 2019), hlm. 68.

47
Fitria Olivia, “Akibat Hukum Terhadap Anak Hasil Perkawinan Siri Pasca Putusan
Mahkamah Konstitusi”, Lex Jurnalica, Volume 11, No 2, 2014, hlm. 133.
28

hukum ini mengakibatkan hubungan antara ayah dan anak tidak

kuat, sehingga bisa saja ayahnya menyangkal bahwa anak

tersebut bukan anak kandungnya. Pada intinya merugikan, anak

tidak berhak atas biaya kehidupan, pendidikan, nafkah, dan

warisan.48

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: CV Akademika,

1995.

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: CV Akademika,

1995

Cahyani, Tinuk, Dwi., Hukum Perkawinan, Malang: UMM Press, 2020.

Darajat, Zakiyah, dkk. Ilmu Fikih. Jakarta: Departemen Agama RI, 1985.

Departemen Agama Ri, “Al-Qur’an Hafalan Mudah Terjemahan & Tajwid

Warna, Bandung: Cordoba, 2018.


48
Ibid., hlm 133-134.
29

Departemen Dikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,

[Link]-3, edisi ke-2, 1994.

Dr. Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Bogor: Pustaka Imam

Asy-Syafi’I, 2004.

Effendi, Satria., Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer; Analisis

Yurisprudensi Dengan Pendekatan Ushuliyah, Jakarta: Kencana Prenada

Media Group, 2010.

Fitria Olivia, Akibat Hukum Terhadap Anak Hasil Perkawinan Siri Pasca Putusan

Mahkamah Konstitusi, Lex Jurnalica, Volume 11, No 2, 2014.

Ghazaly, Abd, Rahman. Fiqih Munakahah, Jakarta: Kencana, 2006.

H.M.A, Tihami, dkk. Fiqih Munakahah Kajian Fiqh Lengkap. Jakarta: PT. Raja

Grafindo Persada, 2009.

Hasan, M. Ali., Pedoman Hidup Berumah Tangga dalam Islam, Jakarta: Prenada

Media, 2003.

Ibnu Hajar Al-Asqolani, Fathu Al-Bary, Mesir: Mustafa Al-Baby Al-Halaby, Juz

11, 1959.

Imam Ahmad bin Hambal, Al-Musnad, Beirut: Daar Al-Fikr, Juz 9, 1991.

Kasiyati, Siti, Buku Daras Hukum Keluarga dan Kejahatan Domestik, Surakarta:

Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, 2019.


30

Mathlub, Abdul, Majid, Mahmud., Panduan Hukum Keluarga Sakinah, Solo: Era

Intermedia, 2005.

Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab, Jakarta: Lentera Basritama,

1999.

Muhammad Thalib, Perkawinan Menurut Islam, Surabaya: Al-Ikhlas, 1993.

Naim, Abdul, Haris., Fiqh Munakahat, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri

Kudus, Kudus, 2008.

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2005 Tentang

Wali Hakim

Ramulyo, Idris., Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara

Peradilan Agama Dan Zakat Menurut Hukum Islam., Jakarta: Sinar

Grafika, 2004.

Rasid, Abd., Perkawinan Tidak Tercatat Perspektif teori Sistem Hukum Lawrence

M. friedman (Studi di Desa Saobi Kecamatan Kangayan Kabupaten

Sumenep), Tesis UIN Maulana Malik Ibrahim, 2020.

Saebani, Beni Ahmad. Fiqh Munakahat 1. Bandung: CV Pustaka Setia, 2013.

Siroj, Maltuf., Pembaharuan Hukum Islam Di Indonesia: Telaah Kompilasi

Hukum Islam, Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2017.


31

Suma, M. Amin., Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam Jakarta: PT Raja

Grafindo Persada, 2005.

Suma, M. Amin., Hukum Keluarga Islam di Dunia, Jakarta: Rajawali Pers, 2004.

Syarifuddin, Amir., Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia Jakarta: Prenada

Media Grup, 2009.

Tanjung, Armaidi., Free Sex No Nikah Yes, Jakarta: Amzah, 2007.

Ulfan, A. A., dan Destri Budi Nugraheni, Analisis Yuridis Peluang Pencatatan

Perkawinan Sebagai Rukun Dalam Perkawinan Islam, Jurnal Penelitian

Hukum, Vol 1, No 1, 2014.

Yasin, Nur., Hukum Perkawinan Islam Sasak, Malang: UIN-Malang Press, 2008.

You might also like