Media Belajar Wayang Kardus P3 SDN
Media Belajar Wayang Kardus P3 SDN
Oleh:
2024
LEMBAR PENGESAHAN
Penulis
Guru Siswa
Mengesahkan
DIYAH AYU S
MULJONO, S.Pd., M.Pd
NIP. 19680526 200501 1
002
IDENTITAS SEKOLAH
Kelurahan : Sukosari
Kecamatan : Kartoharjo
Kota : Madiun
Email : [email protected]
NPSN : 20534110
Kami panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan bimbingan dan petunjuk, sehingga penulis dapat menyelesaikan Best
Practise Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila yang berjudul Melayang
Kaca Sukma Untuk Meningkatkatkan Karakter P3 Peserta Didik SDN Sukosari
Madiun.
Penulisan ini merupakan salah satu syarat dalam mengikuti Lomba Best
Practise Penguatan Karakter Profil Pelajar Pancasila yang diselenggarakan oleh
Dinas Pendidikan Kota Madiun. Selama penyusunan Best Practise Penguatan
Karakter Profil Pelajar Pancasila ini tentunya penyusun mendapat banyak bantuan
dari berbagai pihak yang telah mendukung dan membimbing kami.
Penuli
DAFTAR ISI
1. Media Pembelajaran.............................................................................................................8
2. Media dongeng wayang kardus dan kain perca.................................................................9
3. Peningkatan Karakter.........................................................................................................10
4. Hasil penelitian yang relevan..............................................................................................14
1. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Salah satu hakekat pendidikan adalah proses yang mengarahkan
anak pada keadaan yang semakin berkembang. Melalui pendidikan
diharapkan anak dapat mempunyai pengetahuan, menguasai keterampilan,
dan memiliki sikap tertentu dalam menyiapkan diri anak agar dapat masuk
dalam anggota kelompok masyarakat yang merupakan kehidupan yang
sebenarnya yang harus dialami oleh anak.
Sekolah merupakan tempat anak memperoleh pendidikan dan
pengajaran yang mengarahkan mereka untuk mampu menghadapi
kehidupan yang sebenarnya kelak ketika mereka dewasa. Setiap sekolah
harus mampu menerapkan konsep dan strategi belajar mengajar pada semua
mata pelajaran, melalui berbagai macam pendekatan dan model
pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi masing-
masing sekolah agar meningkatkan literasi, motivasi dan prestasi siswa
terhadap seluruh mata pelajaran.
SDN Sukosari merupakan salah satu sekolah inklusi di kota
Madiun yang menerapkan sistem pengajaran berdiferensiasi dengan
menggabungkan anak berkebutuhan khusus dengan anak reguler. Separuh
atau seluruh waktu belajar siswa berkebutuhan khusus bersamaan dengan
siswa reguler dalam satu ruangan kelas. Sekolah memberi kebebasan dan
mendukung semua siswa demikian juga anak berkebutuhan khusus. Setiap
anak mempunyai kebutuhan belajar yang berbeda sesuai dengan
karakteristiknya sehingga kesempatan untuk berkembang optimal sesuai
dengan potensi yang dimilikinya. Guru dapat berkreasi dengan melakukan
modifikasi minimal dari sisi konten, proses dan penilaian berupa produk
yang dihasilkan dan praktik baik yang dapat meningkatkan karakter peserta
didik khususnya siswa inklusi.
Permasalahan yang terjadi pada SDN Sukosari adalah rendahnya
literasi dan karakter P3 (Profil pelajar Pancasila ) peserta didik sesuai
dengan rapor pendidikan 2023. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan
oleh guru, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor
pendukung dan penghambat. Adapun faktor pendukung meliputi
kebijakan pemerintah, kebijakan sekolah, sarana dan prasarana, kompetensi
guru, dan adanya keterlibatan publik terhadap peningkatan budaya literasi
siswa. Sedangkan faktor penghambat: minat baca siswa yang kurang,
kelengkapan buku bacaan yang terbatas, pembiasaan berliterasi belum
maksimal , siswa belum berani / percaya diri bebicara atau bercerita di
depan umum, penggunaan HP berlebihan untuk game dan pembiasaan
peningkatan karakter masih minim.. Untuk itu sekolah memerlukan praktik
baik ( Best Practise ) dalam meningkatkan literasi dan karakter peserta
didik.
Selain berstatus sekolah inklusi , SDN Sukosari merupakan salah
satu sekolah Adiwiyata Provinsi dimana peserta didik dan semua warga
sekolah diwajibkan memiliki karakter peduli terhadap lingkungan.
Penumbuhan karakter tersebut dilaksanakan dalam kegiatan
intrakurikurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler dan budaya sekolah. Namun
kondisi nyata yang terjadi pada warga sekolah belum ideal untuk
meningkatkan karakter peduli terhadap lingkungan sekolah. Masih sering
ditemukan sebagian besar siswa menbuang sampah sembarangan dan belum
memanfaatkan barang bekas menjadi barang yang bernilai.
Lomba Best Practice Penguatan karakter Profil Pelajar Pancasila
yang diadakan Dinas Pendidikan Kota Madiun sangat sesuai dengan
diberlakukannya Kurikulum Merdeka di SDN Sukosari Kecamatan
Kartoharjo Kota Madiun. Kurikulum operasional yang digunakan di SDN
Sukosari dikembangkan dan dikelola oleh satuan pendidikan dengan
mengacu kepada Struktur Kurikulum untuk tercapainya Profil Pelajar
Pancasila dengan menyelaraskan karakteristik dan kebutuhan peserta didik,
2
satuan pendidikan dan daerah.
Pendidikan karakter melalui budaya sekolah di SDN Sukosari
bertujuan untuk membentuk karakter/kepribadian peserta didik yang sesuai
Profil Pelajar Pancasila melalui suasana kehidupan sekolah tempat peserta
didik berinteraksi yang mengajarkan nilai-nilai etika untuk membentuk
kepribadian yang terwujud dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkah
laku yang baik. Budaya Sekolah tersebut meliputi kegiatan rutin, kegiatan
spontan, keteladanan, dan pengkondisian. Salah satu contoh kegiatan rutin
yang ada di sekolah adalah pembiasaan DOKAR HASAGI (Dongeng
karakter Hari Selasa Pagi).
Menurut pengamatan penulis bahwa kondisi peserta didik dan
lingkungan belum bisa dikatakan ideal untuk mencapai profil pelajar
Pancasila. Maka dari itu penulis memberikan solusi atau praktik baik untuk
meningkatkan karakter peserta didik menjadi Karakter Profil Pelajar
Pancasila.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk
mengadakan terobosan baru berupa best practice dengan judul “Melayang
Kaca Tikar Sukma “ ( Media Belajar Wayang Kardus dan Kain Perca
Tingkatkan Karakter Profil Pelajar Pancasila SDN Sukosari Madiun ). Hal
ini dilaksanakan untuk meningkatkan literasi dan Karakter P3 Peserta Didik
SDN Sukosari Kota Madiun dengan media belajar baru menggunakan
media wayang kardus dan kain perca .
a. Visi Sekolah
Mewujudkan peserta didik berkarakter Pancasila, berprestasi dan
berwawasan lingkungan.
b. Misi Sekolah
Berdasarkan visi yang telah dirumuskan, untuk mewujudkannya
diperlukan suatu misi berupa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.
Adapun Misi yang dirumuskan berdasar visi adalah sebagai berikut:
1) Membuat media belajar yang menarik dan menyenangkan yang
mampu memotivasi peserta didik untuk selalu belajar dan
3
menemukan makna pembelajaran.
2) Mengembangkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan YME dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong
royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.
4
3) Mengembangkan dan memfasilitasi peningkatan prestasi didik sesuai
minat dan bakatnya melalui proses pendampingan dan kerja sama
dengan berbagai pihak.
4) menumbuhkan peserta didik yang memiliki jiwa peduli dan cinta
terhadap lingkungan.
c. Tujuan Sekolah :
1) Tujuan Jangka Pendek (1 Tahun ke depan)
a) Mengoptimalkan sarana prasana sekolah untuk menunjang
rancangan pembelajaran yang memotivasi keinginan selalu
belajar.
b) Menyelenggarakan sistem penilaian dengan sistem digitalisasi
c) Membentuk peserta didik yang taat dan tepat waktu
melaksanakan ibadah.
d) Meningkatkan simpati dan empati peserta didik dalam
kepedulian sosial.
e) Merancang pembelajaran yang bangga akan potensi daerah.
f) Menerapkan pondasi gotong royong dalam kegiatan kelas
hingga sekolah.
g) Melaksanakan program dan pembelajaran HOTS untuk
memperkuat bernalar kritis dan kreativitas.
h) Melaksanakan pembelajaran untuk mengasah kemampuan
literasi dan numerasi.
i) Mempertahankan prestasi yang sudah tercapai sebelumnya.
2) Tujuan Jangka Menengah (2-3 tahun ke depan)
a) Merancang pembelajaran yang sesuai dengan tingkat
perbedaan kemampuan kognitif peserta didik mengarahkan
pada keterampilan dan kecakapan hidup sesuai bakat dan
minatnya.
b) Sekolah mampu melaksanakan penilaian secara akuntabel dan
valid dengan sistem digitalisasi.
5
c) Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menghafal
surat-surat pendek.
d) Membudayakan gerakan kebersihan sebagian daripada iman.
e) Meningkatkan kecintaan dan kebanggan terhadap potensi
daerah.
f) Melakukan kerjasama dengan stakeholder daerah atau
Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan untuk
merancang program pembelajaran/kegiatan sekolah.
g) Menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang optimal
dalam mengembangkan prestasi sesuai bakat dan minta dan
potensi peserta didik.
3) Tujuan Jangka Panjang (4 tahun ke depan)
a) Menghasilkan lulusan yang memiliki mental pembelajar
sepanjang hayat.
b) Membentuk peserta didik yang berakhlak mulia dan selalu
peduli sosial dalam toleransi beragama.
c) Menjalin kerjasama dengan pihak luar (sanggar, perguruan
tinggi, dan dunia usaha dan industri) untuk mendukung
kegiatan sekolah yang telah terprogramkan.
d) Membudayakan lingkungan belajar dan karakter inovatif cepat
tanggap di lingkungan sekolah.
e) Membangun budaya dan kultur sekolah yang kompetitif yang
positif.
f) Menyediakan fasilitas untuk mengembangkan kreativitas,
inovasi dan minat bakat peserta didik.
6
2. Profil Budaya Karakter Sekolah
Budaya sekolah merupakan segala aktifitas, kebiasaan, adat
istiadat, dan kepercayaan yang sudah menjadi bagian penting dari sebuah
sekolah. Pendidikan karakter berarti merupakan sebuah upaya yang
dilakukan melalui sebuah proses pendidikan untuk menjadikan manusia
memiliki nilai moral dan etika sehingga manusia tersebut bisa hidup sesuai
dengan standar moral dan etika yang berlaku di masyarakat. maka dapat
disimpulkan bahwa pendidikan karakter berbasis budaya sekolah adalah
proses internalisasi karakter melalui pembiasaan yang didasarkan pada
budaya yang ada di sekolah.
SDN Sukosari sebagai sekolah inklusi di Kota Madiun bertekad
membentuk karakter semua siswanya berpijak pada karakter Profil pelajar
Pancasila. Semua program kegiatan sekolah diarahkan pada perkembangan
karakter siswa sesuai dengan keberadaan dan kondisi masing-masing.
Dalam menerapkan strategi pembelajarannya, sekolah mengemas
semenarik mungkin dengan kegiatan-kegiatan yang berfokus pada
kebutuhan siswa, baik siswa berkebutuhan khusus maupun siswa reguler..
Guru dapat berkreasi dengan melakukan modifikasi model, metode atau
media pembelajaran dari sisi konten, proses dan produk .
Adapun budaya sekolah atau pembiasaan yang sudah kami adakan
di SDN Sukosari antara lain, Dokar Hasagi (Dongeng Karakter Hari Selasa
Pagi), Saku Sagurid (Satu Buku Satu Minggu Satu Murid), Buletin Sukma
Berkibar (SDN Sukosari Madiun Berliterasi dan Berkreasi lewat Kabar-
kabar), Tutik Gemilang Sukma (Kartu Tematik Gemar Membilang
Sukosari Madiun) .Melengkapi best practise yang sudah ada , penulis
mengadakan terobosan baru menerapkan Best Practice yang bernuansa
lierasi gaya hidup peduli lingkungan dengan cara memanfaatkan barang-
barang bekas ( kardus dan kain perca ) sebagai media pembelajaran.
Adapun judul praktik baik/best practice tersebut adalah Melayang Kaca
Tikar Sukma (Media Belajar Wayang Kardus dan Kain Perca Tingkatkan
Karakter P3 siswa SDN Sukosari Madiun ). Diharapkan melalui Best
Practice ini, karakter profil pelajar Pancasila dan Literasi pada peserta
didik dapat meningkat.
7
3. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dipaparkan yaitu bagaimana
Melayang Kaca Tikar Sukma dapat meningkatkan karakter P3 dan literasi
peserta didik SDN Sukosari Madiun?
4. Pemecahan Masalah
Alternatif solusi yang ditawarkan dalam praktik baik/best practice
ini adalah dengan mengadakan media belajar baru yaitu media wayang
kardus dan kain perca. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan literasi dan
karakter peserta didik di SDN Sukosari Kota Madiun yang sesuai dengan
Profil Pelajar Pancasila. Best Practise Sekolah yang berjudul “ Melayang
Kaca Tikar Sukma ”. adalah baru, belum ada yang membuat sama dengan
karya ini. Best Practise ini berfokus pada bagaimana cara meningkatkan
kemampuan berliterasi dan karakter P3 pada siswa. Keunggulan karya ini
adalah mengajak siswa berliterasi dengan nuansa peduli lingkungan sekitar
dalam memanfaatkan daur ulang sampah khusunya kardus bekas dan kain
perca menjadi sebuah media pembelajaran.
8
BAB II
Landasan teori
Media Pembelajaran
9
● Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan mengajar bagi guru.
10
Penggunaan media dongeng panggung wayang kardus diperlukan
untuk membantu memperjelas dan memberikan pemahaman terhadap isi
cerita yang disampaikan oleh guru. wayang kardus yang digunakan pada
media dongeng panggung wayang kardus adalah hasil kreativitas guru
menggunakan canva yang dicetak dan di tempel pada kardus.
Menurut Musfiroh (2005), tedapat macam-macam bentuk cerita
yaitu; cerita lisan, tulis, dan gerak atau akting. Setiap bentuk cerita memiliki
konsekuensi atau tuntutan yang berbeda dan perbedaan konsekuensi ini akan
berpengaruh pada kriteria keberhasilan pada setiap cerita. Musfiroh (2005)
juga turut menjelaskan bahwasannya cerita banyak memberikan manfaat
bagi anak- anak. Beberapa manfaat dari cerita yang dapat diperoleh anak
melalui cerita sebagi media pembelajaran, antara lain: Dapat mengasah
imajinasi anak-anak yang dapat dimunculkan melalui pengenalan hal baru
sehingga otak anak akan lebih produktif dalam memproses informasi yang
diterimanya. Bagi seorang anak, pengenalan sesuatu yang baru bagai
pengenalan terhadap angin yang akan mampu membawannya pada
pemikiran tentang bagaimana layang-layang dan peswat terbang. Imajiansi
anak juga dapat muncul melaui tema dan jalan cerita yang bervariasi.
Pesan-pesan cerita yang kental akan penanaman kedisiplinan,
kepekaan, saling menghormati dan asih banyak lagi yang dapat diselipkan
melalui para tokoh yang ada pada cerita. Penanaman moral melaui cerita
dianggap efektif dikarenakan cara ini berjalan secara alami tanpa anak
merasa digurui.
Peningkatan Karakter
Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin
“Charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan,
budi pekerti, kepribadian atau akhlak. Sedangkan secara istilah, karakter
diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia
mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupanya
sendiri
11
Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Definisi dari “The
stamp of individually or group impressed by nature education or habit”.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,
dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan,
dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama,
budaya, dan adat istiadat. (Manasikana & Anggraeni, 2018, p. 102)
Dalam istilah modern, ditekankan pada perbedaan dan
individualitas yang cenderung menyamakan istilah “karakter” dengan
“personalitas”. Personalitas atau kepribadian dapat dipahami sebagai
organisasi dinamis pada individu di mana sistem psikofisikal menentukan
penyesuaian unik terhadap lingkungannya. Kepribadian juga merupakan
tingkah laku yang bisa kita lihat sebagai hasil dari kondisi individu dan
struktur situasi psikologis. Intinya, pola tingkah laku dan perbuatan pada
cara seseorang dalam merespon situasi yang menunjukkan konsistensi
tertentu, biasanya kita pahami sebagai karakter dan kepribadiannya.
Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas
tiap individu, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan
negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat
membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari
keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku
manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-
norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat itiadat, dan estetika
Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan
moral karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan benar atau
salah, akan tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan.
12
tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan sehingga anak memiliki
kesadaran dan pemahaman yang tinggi serta kepedulian dan komitmen
untuk menetapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.(Harun, 2013, p.
303)
Karakter dapat terbentuk di antaranya pada lingkungan sekolah
sehingga siswa akan mempunyai karakter yang jauh lebih baik.
kepribadian peduli terhadap ekologis bisa ditumbuhkan melalui kurikulum
sekolah atau kegiatan-kegiatan yang telah dirancang sekolah. (Jannah et
al., 2022, p. 4)
Menurut Umala dalam Nuzulia, Sukamto, dan Purnomo (2019)
penanaman Pendidikan karakter memerlukan waktu dan proses
pembiasaan berkelanjutan dan didukung pembudayaan yang bisa diberikan
oleh lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun media massa.
Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan kepada siswa dan guru
diketahui bahwa penerapan perilaku peduli lingkungan hidup ini tidak
hanya diberlakukan disekolah, namun juga diluar lingkungan sekolah
dengan cara merawat kebersihan diri anak, kebersihan lingkungan sekitar
tempat tinggal, dan membiasakan diri untuk selalu menempatkan sampah
di tempat yang telah disediakan. Bisa dikatakan penerapan sifat peduli
terhadap lingkungan ini secara bertahap dam konsisten agar menjadi
budaya bagi siswa untuk mencintai lingkungan hidup.
Peningkatan karakter peduli terhadap lingkunga mula-mula diawali
dengan sosialisasi kepada warga sekolah khususnya siswa melalui
bimbingan yang dilakukan oleh guru-guru mata pelajaran agar memasukan
berbagai penerapan kegiatan peduli lingkungan hidup baik itu dalam hal
teoritis ataupun prakteknya di dalam penyusun sebuah modul yang menjadi
simbol bahwa sudah menerapkan rasa cinta kepada lingkungan yang sehat
demi kehidupan bersama baik untuk sekarang maupun yang akan datang.
Penanaman karakter seperti ini sangatlah penting bagi siswa.
13
P3 (Profil Pelajar Pancasila)
Profil pelajar Pancasila dirancang untuk menjawab satu pertanyaan
besar, yakni peserta didik dengan profil (kompetensi) seperti apa yang
ingin dihasilkan oleh sistem pendidikan Indonesia.
Dalam konteks tersebut, profil pelajar Pancasila memiliki rumusan
kompetensi yang melengkapi fokus di dalam pencapaian Standar
Kompetensi Lulusan di setiap jenjang satuan pendidikan dalam hal
penanaman karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Kompetensi profil pelajar Pancasila memperhatikan faktor internal
yang berkaitan dengan jati diri, ideologi, dan cita-cita bangsa Indonesia,
serta faktor eksternal yang berkaitan dengan konteks kehidupan dan
tantangan bangsa Indonesia di abad ke-21 yang sedang menghadapi masa
revolusi industri 4.0.
Profil pelajar Pancasila memiliki beragam kompetensi yang
dirumuskan menjadi enam dimensi kunci. Keenamnya saling berkaitan dan
menguatkan sehingga upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila yang
utuh membutuhkan berkembangnya seluruh dimensi tersebut secara
bersamaan. Keenam dimensi tersebut adalah:
1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak
mulia.
2) Berkebinekaan global.
3) Bergotong-royong.
4) Mandiri.
5) Bernalar kritis.
6) Kreatif.
Dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa profil pelajar
Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap
dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga
dunia
14
Profil Pelajar Pancasila adalah kapabilitas, atau karakter dan
kompetensi yang perlu dimiliki oleh pelajar-pelajar Indonesia Abad 21.
Karakter dan kompetensi adalah dua hal yang berbeda namun saling
menopang. Keduanya sangat penting untuk dimiliki oleh setiap pelajar
Indonesia. Stephen Covey, dalam (Hasbi, 2021) mengatakan, “character is
what we are, competence is what we can do” (karakter adalah tentang siapa
kita, dan kompetensi adalah apa yang dapat kita lakukan). Kompetensi
dipahami sebagai kemampuan atau keterampilan baik secara kognitif,
afektif, maupun perilaku, untuk melakukan sesuatu yang dianggap penting.
(Irawati et al., 2022, p. 6)
Profil pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang
dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu
peserta didik melalui budaya satuan pendidikan, pembelajaran
intrakurikuler, projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan
ekstrakurikuler.
15
B. Pelaksanaan Budaya Karakter
1. Ide Dasar
Hari berikutnya penulis mencari alat dan bahan yang dibutuhkan untuk
membuat media dongeng panggung wayang kardus, diantaranya:
Alat Bahan
● Gunting ● Kardus bekas
● Cutter
● Panggung dongeng
● Lem Tembak
● Kain Perca
● Isolasi
● Jarum ● Gambar/foto karakter di
● Benang
Medsos/internet
● Laptop/Chromebook
Media ini akan digunakan oleh guru untuk menambah pembiasaan Selasa
pagi dan P5. Pada dasarnya pembelajaran intra dan kokurikuler dapat juga
menggunakan media dongeng panggung wayang kardus kepada siswa.
Siswa didampingi guru membuat wayang tersebut dan memainkan peran
16
pada tokoh dongeng dalam cerita secara bergiliran antar kelas 1 sampai 6.
Guru membimbing siswa dan memberikan pemahaman mendalam tentang
tokoh dalam cerita, sifat dari tokoh yang diperankan serta pesan moral
yang terdapat dalam cerita. Ide cerita dan tokoh-tokohnya bisa juga dicari
dari sumber internet atau medsos. Siswa mencari gambar tokoh cerita
untuk di download dan diprint , kemudian ditempel pada kardus dan
digunting sesuai polanya sehingga menjadi sebuah tokoh wayang.
2. Rancangan Karya Inovasi Pembelajaran
Dalam proses perencanaan penulis mengidentifikasi permasalahan yang
ada di lapangan kemudian dianalisis sehingga terciptalah karya inovasi
dalam pembelajaran. Adapun proses karya inovasi pembelajaran ini
tahapanya sebagai berikut:
1. Mengidentifiksi dan menganalisis propblem pembelajaran
2. Mencari ide atau gagasan yang mendasar
3. Menyiapkan alat dan bahan yang sesuai
4. Membuat konsep dari ide
5. Proses berinovasi
6. Finishing, sebuah akhir dari proses kegiatan memperhatikan karya
inovasi
3. Proses penemuan
Dalam proses penemuan, peneliti merancang dan menyusun sendiri karya inovasi
dongeng panggung wayang kardus dan kain perca yang kemudian
dirangkai dan di design secara sederhana dengan menggunakan alat dan
bahan sesuai dengan yang dibutuhkan untuk pembuatan mediadan dibuat
dengan sedemikian rupa agar anak tertarik untuk belajar dengan
menggunakan dongeng panggung wayang kardus.
Penulis mendesain wayang tersebut membutuhkan waktu sekitar 2 hari.
Adapun alat dan bahan yang digunakan diantaranya kardus bekas, kain
perca yang tidak terpakai, kayu, gunting, lem kertas dan
laptop/chromebook.
17
4. Aplikasi Praktis dalam Pembelajaran di Kelas
A. PENDAHULUAN ( 5 menit)
● Guru memberikan salam.
● Guru mengondisikan kelas sebelum Pembelajaran dibuka dengan
berdoa bersama dipimpin KM.
● Guru memonitoring kehadiran siswa.
● Guru melakukan apersepsi dengan menanyakan pembelajaran
sebelumnya Apa yang kalian pelajari pada pelajaran sebelumnya?
● Guru Menyampaikan tema dan tujuan pembelajaran yang akan di
capai dan Guru menyampaikan bahwa hari ini mereka akan belajar
tentang Pekerjaan orang Tuaku . Communication
B. INTI ( 75 menit )
18
● Siswa menemukan unsur cerita dan menuliskannya kedalam kertas
berwarna yang telah disediakan oleh guru.
● Siswa kemudian mendiskusikan hasilnya dengan teman satu
bangkunya.
Data Processing ( Pengolahan Data )
● Siswa dibimbing guru diskusi, berjalan berkeliling untuk
memastikan bahwa setiap siswa berpartisipasi aktif
● Siswa yang berpendapat diberikan penguatkan oleh guru dengan
jawaban-jawaban yang sesuai cerita.
Verification ( Pembuktian)
● Siswa dan guru membuat wayang kardus/kain perca dan
menampilkan dongeng sesuai ide cerita yang sudah disepakati bersama.
20
kelas semakin hidup dan pembiasaan berliterasi setiap hari Selasa
semakin bervariasi. ( lihat dokumentasi pada lampiran )
21
2) Untuk Pendidik
a. Memberi ruang dan waktu untuk peserta didik mengembangkan
kompetensi, kreatifitas dan memperkuat karakter Profil Pelajar
Pancasila.
b. Merencanakan proses pembelajaran projek profil dengan tujuan
akhir yang jelas.
c. Mengembangkan kompetensi sebagai pendidik yang terbuka untuk
berkolaborasi dengan pendidik dari mata pelajaran lain untuk
memperkaya hasil pembelajaran.
Guru dan tendik dapat menggunakan media tersebut dalam
pembelajaran di dalam mapun di luar kelas. Guru sudah rutin
berkolaborasi dengan siswa dalam menentukan ide cerita dan
membuat tokoh wayang sesuai dengan giliran tugasnya. Setiap
cerita yang ditampilkan selalu diarahkan untuk menanamkan
karakter Profil Pelajar Pancasila pada siswa.
3) Untuk Satuan Pendidikan
a. Menjadi acuan bagi satuan pendidikan sebagai sebuah ekosistem
yang terbuka untuk semua warga sekolah dalam berkreatifitas dan
berinovasi.
b. Menjadikan satuan pendidikan sebagai organisasi pembelajaran
yang berkontribusi kepada lingkungan dan komunitas di sekitarnya.
Satuan pendidikan dapat menggunakan media tersebut sebagai
sarana berbagi praktek baik kepada semua warga sekolah, antar
sekolah dan masyarakat sekitarnya.
4) Hasil peningkatan Literasi dan Karakter berdasarkan Rapor Pendidikan
Berdasarkan hasil Rapor Pendidikan SDN Sukosari dari tahun 2023 ke tahun
2024 , didapatkan adanya peningkatan lierasi dan karaker yang sangat
signifikan. Untuk lierasi tahun 2023 dari 83,33 menjadi 100 pada tahun 2024
naik 16,67, sedangkan untuk karakter tahun 2023 dari 56,63 menjadi 59,21
pada tahun 2024, naik 2,58. (lihat poster Raport Pendidikan pada
lampiran)
22
BAB III
PENUTUP
1. Simpulan
Berdasarkan pada best practice Penguatan Karakter Profil Pelajar
Pancasila dengan judul MELAYANG KACA TIKAR SUKMA, dapat
disampaikan beberapa kesimpulan :
a. Melayang Kaca Tikar SUKMA dapat meningkatkan literasi dan
karakter P3 pada siswa SDN Sukosari
b. P5 dapat dilaksanakan sesuai dengan karakter siswa pada setiap fasenya
dengan lancar dan terarah.
2. Tindak Lanjut
Sebagai tindak lanjut dari Best Practice ini, sekolah menetapkan
Melayang Kaca Tikar SUKMA menjadi Best Practice terbaru SDN
Sukosari. Semua warga sekolah wajib melaksanakannya sebagai
pembiasaan berliterasi dengan gaya hidup peduli lingkungan sesuai visi
dan misi sekolah.
23
DAFTAR PUSTAKA
Azteria, V., Kusumaningtiar, D. A., Irfandi, A., Veronika, E., & Nitami, M.
(2021). Aktualisasi Diet Limbah (Sampah) Padat. Jurnal Abdidas, 2(4),
Article 4. https://doi.org/10.31004/abdidas.v2i4.342
Irawati, D., Iqbal, A. M., Hasanah, A., & Arifin, B. S. (2022). Profil pelajar
Pancasila sebagai upaya mewujudkan karakter bangsa. Edumaspul: Jurnal
Pendidikan, 6(1), 1224-1238.
Jannah, F., Fahlevi, R., Sari, R., Radiansyah, R., Zefri, M., Akbar, D. R., Shofa,
G. Z., & Luthfia, G. A. (2022). MENINGKATKAN KARAKTER PEDULI
LINGKUNGAN MELALUI PROGRAM ADIWIYATA PADA SISWA
SEKOLAH DASAR. Jurnal Geografika (Geografi Lingkungan Lahan
Basah), 3(1), 1. https://doi.org/10.20527/jgp.v3i1.5096
24
25