Ad Art Dyk
Ad Art Dyk
PEMBUKAAN
Bahwa selama ini di Mahkamah Agung Republik Indonesia dan 4 (empat)
lingkungan Peradilan seluruh Indonesia terdapat berbagai Organisasi dan
Perkumpulan Wanita yang masing-masing mempunyai program dan
menjalankan Organisasi serta programnya secara sendiri-sendiri.
Bahwa di Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tanggal 18 Februari 2002
dengan Surat Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor
KMA/07/SK/II/2002 telah terbentuk Organisasi Wanita dengan nama
Dharmayukti Karini MARI, yaitu Organisasi Wanita yang mempunyai kegiatan
sosial di luar kedinasan bagi segenap unsur kewanitaan di Mahkamah Agung
Republik Indonesia.
Bahwa 4 (empat) lingkungan Peradilan di seluruh Indonesia sampai saat ini
belum ada organisasi wanita yang terintegrasi dan terpadu. Organisasi wanita
yang ada, mempunyai program dan kegiatan sendiri-sendiri baik di Peradilan
Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Militer.
Bahwa dalam rangka lebih mengefektifkan dan mendayagunakan berbagai
macam Organisasi dan Perkumpulan tersebut serta dalam rangka menyongsong
terselenggaranya pelaksanaan Kekuasaan Kehakiman oleh 4 (empat) lingkungan
Peradilan di bawah Mahkamah Agung Republik Indonesia (satu atap) dan untuk
menunjang tugas kedinasan maka kami ibu-ibu dari Mahkamah Agung Republik
Indonesia dan 4 (empat) lingkungan Peradilan se Indonesia merasa terpanggil
dan memandang perlu untuk membentuk 1 (satu) Organisasi bersama agar
terjalin keterpaduan dalam langkah dan gerak kegiatan serta untuk menumbuh
kembangkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan.
Bahwa atas dasar pemikiran tersebut diperlukan adanya 1 (satu) wadah
organisasi yang dapat mempererat rasa kekeluargaan tersebut dan dengan ini
disusunlah Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga sebagai berikut :
BAB II
VISI DAN MISI
Pasal 2
(1) Visi : Terwujudnya satu Organisasi yang dapat mempersatukan ibu-ibu di
Mahkamah Agung dan seluruh Badan Peradilan di Indonesia.
(2) Misi :
a) Menjalin keterpaduan dalam langkah dan gerak kegiatan.
b) Menumbuhkembangkan rasa kebersamaan dan mempererat rasa
persatuan dan kesatuan.
c) Meningkatkan kesadaran berorganisasi bagi seluruh anggota.
BAB III
AZAS DAN TUJUAN
Pasal 3
(1) DHARMAYUKTI KARINI berazaskan Pancasila
(2) Dharmayukti Karini bertujuan :
a) Memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan Keluarga Besar Badan-badan
Peradilan.
b) Meningkatkan kualitas sumber daya anggota beserta keluarga.
c) Meningkatkan kesejahteraan anggota beserta keluarga.
Pasal 5
Hak dan kewajiban anggota Dharmayukti Karini diatur lebih lanjut dalam Anggaran
Rumah Tangga Dharmayukti Karini.
BAB VI
POKOK-POKOK ORGANISASI
Pasal 7
Pusat, Daerah, Cabang
(1) Wilayah Kekuasaan Pusat meliputi seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia
yang dipimpin oleh Pengurus Pusat yang berkedudukan di Ibu Kota Negara
Republik Indonesia.
(2) Wilayah Kekuasaan Daerah meliputi Wilayah Provinsi yang dipimpin oleh
Pengurus Daerah yang berkedudukan di Ibu Kota Provinsi.
(3) Pada Mahkamah Agung status kepengurusan setingkat dengan Pengurus
Daerah.
(4) Wilayah Kekuasaan Cabang meliputi Wilayah Kabupaten/Kota yang dipimpin
oleh Pengurus Cabang dan berkedudukan di Ibu Kota Kabupaten/Kota.
(5) Pada Pengadilan Tingkat Banding status kepengurusannya setingkat dengan
Pengurus Cabang.
(6) Untuk memudahkan komunikasi antar Pengurus Daerah, dibentuk Koordinator
Wilayah.
(7) Untuk memudahkan komunikasi antar pengurus Cabang, dibentuk Koordinator
Cabang.
Pasal 9
(1) Pengurus Daerah terdiri dari :
a) 1 (satu) Orang Ketua.
b) 2 (dua) Orang Wakil Ketua atau 4 (empat) Orang Wakil Ketua.
c) 1 (satu) Orang Sekretaris.
d) 2 (dua) Orang Wakil Sekretaris.
e) 1 (satu) Orang Bendahara.
f) 1 (satu) Orang Wakil Bendahara.
g) Beberapa Bidang.
h) Beberapa Koordinator Cabang.
(2) Ketua dan para Wakil Ketua Mahkamah Agung adalah Pelindung Dharmayukti
Karini Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Pasal 11
(1) Kedudukan Koordinator Wilayah, ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
a) Korwil I : berkedudukan di Dharmayukti Karini Provinsi Sumatera Utara.
b) Korwil II : berkedudukan di Dharmayukti Karini Mahkamah Agung RI.
c) Korwil III : berkedudukan di Dharmayukti Karini Provinsi DKI Jakarta.
d) Korwil IV : berkedudukan di Dharmayukti Karini Provinsi Jawa Timur.
e) Korwil V : berkedudukan di Dharmayukti Karini Provinsi Kalimantan
Selatan
f) Korwil VI : berkedudukan di Dharmayukti Karini Provinsi Sulawesi
Selatan
g) Korwil VII : berkedudukan di Dharmayukti Karini Provinsi Papua.
(2) Kedudukan Koordinator Cabang, ditentukan oleh Pengurus Daerah.
Pasal 13
(1) Musyawarah Nasional adalah Kekuasaan Tertinggi dalam Organisasi
Dharmayukti Karini.
(2) Musyawarah Nasional diselenggarakan 3 (tiga) tahun sekali oleh Pengurus
Pusat.
(3) Dalam keadaan yang mendesak atas permintaan dan persetujuan lebih dari
separuh jumlah Pengurus Daerah, Pengurus Pusat dapat mengadakan
Musyawarah Nasional Luar Biasa (MUNASLUB).
(4) Musyawarah Nasional adalah sah jika dihadiri oleh utusan-utusan Daerah yang
mewakili sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah daerah.
Pasal 14
(1) Musyawarah Daerah diselenggarakan tiap 3 (tiga) tahun sekali.
(2) Musyawarah Daerah diikuti oleh seluruh Pengurus Daerah dan utusan-utusan
dari setiap Cabang.
(3) Musyawarah Daerah sah apabila diikuti sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga)
dari jumlah Cabang.
Pasal 15
(1) Musyawarah Cabang diadakan setiap 3 (tiga) tahun sekali.
(2) Musyawarah Cabang diikuti oleh seluruh Anggota Cabang.
(3) Musyawarah Cabang sah apabila diikuti sekurang-kurangnya setengah tambah
satu dari jumlah seluruh Anggota Cabang.
BAB X
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal 17
Anggaran Dasar dapat diubah atas dasar musyawarah dan mufakat atau apabila tidak
dapat dicapai mufakat, keputusan ditentukan dengan suara terbanyak dalam suatu
Musyawarah Nasional yang dihadiri secara sah oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua
pertiga) dari jumlah Daerah.
BAB XI
PEMBUBARAN
Pasal 18
(1) Dharmayukti Karini hanya dapat dibubarkan dengan Putusan Musyawarah
Nasional yang khusus diadakan untuk itu atas dasar musyawarah dan mufakat
atau apabila tidak mencapai mufakat, keputusan ditentukan berdasarkan suara
terbanyak yang dihadiri sekurang-kurangnya ¾ (tiga perempat) dari jumlah
Daerah dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 (dua pertiga) dari jumlah
yang hadir setelah berkonsultasi dengan Pelindung.
(2) Musyawarah Nasional memutuskan tentang penggunaan kekayaan
Dharmayukti Karini karena pembubaran berdasarkan Ayat (1).
BAB I
KEANGGOTAAN
Pasal 1
Seseorang dapat diterima menjadi Anggota Kehormatan berdasarkan Keputusan
Musyawarah nasional atas usul dari Pengurus Cabang, Pengurus Daerah atau
Pengurus Pusat.
Penerimaan sebagai Anggota Kehormatan segera diberitahukan kepada yang
bersangkutan oleh Pengurus Pusat dengan tembusan kepada Pengurus Daerah atau
Pengurus Cabang yang mengusulkannya.
Pasal 2
Setiap Anggota berhak :
(1) Memperoleh perlakuan yang sama dari organisasi.
(2) Memberikan pendapat, usul dan saran.
(3) Mengusulkan dan diusulkan, serta memilih dan dipilih sebagai Pengurus.
(4) Setiap Anggota mempunyai suara yang sama dalam Musyawarah Cabang dan
dapat dipilih untuk menduduki suatu jawaban dalam rangka Pengurus Cabang.
Pasal 3
Setiap Anggota berkewajiban :
(1) Mentaati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta seluruh
ketentuan-ketentuan Organisasi dan keputusan-keputusan Musyawarah
Nasional.
(2) Membantu Pengurus melaksanakan tugas Organisasi.
(3) Memperjuangkan kepentingan Organisasi.
(4) Mencegah setiap usaha/tindakan yang merugikan kepentingan Organisasi.
(5) Membayar Iuran.
Pasal 4
Pasal 5
Keanggotaan Dharmayukti Karini berakhir apabila :
(1) Anggota meninggal dunia.
(2) Suami atau yang bersangkutan memasuki masa Purnabakti.
(3) Yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat atau tidak dengan hormat
dari jabatannya.
Pasal 6
Anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa berkewajiban membayar iuran dengan
rincian :
(1) Golongan I dan II Rp. 500,-
(2) Golongan III Non Jabatan Rp. 1.000,-
(3) Eselon V Rp. 1.500,-
(4) Eselon IV dan III Rp. 2.500,-
BAB II
MUSYAWARAH NASIONAL, DAERAH DAN CABANG
Pasal 7
(1) Pengurus Pusat menentukan jumlah utusan dalam Musyawarah Nasional untuk
tiap-tiap Daerah didasarkan atas pertimbangan jumlah anggotanya.
Pasal 8
(1) Dalam Musyawarah Nasional Ketua Umum membentuk Tim Formatur dengan
anggota berjumlah sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang, untuk menyusun
Personalia Pengurus Pusat.
(2) Ketua Umum sekaligus sebagai Ketua tim Formatur.
Pasal 9
(1) Musyawarah Daerah memilih Ketua yang sekaligus menjadi Ketua Tim
Formatur.
(2) Musyawarah Daerah memilih anggota Tim Formatur sebanyak-banyaknya 5
(lima) orang untuk menyusun Personalia Pengurus Daerah.
(3) Tata Tertib Musyawarah Daerah dan Tata Cara Pemilihan Pengurus Daerah
ditetapkan menurut ketentuan masing-masing Daerah.
BAB III
WEWENANG DAN KEWAJIBAN PELINDUNG
Pasal 12
Pelindung bertugas untuk melindungi, membina dan memberi nasehat kepada para
Pengurus/Anggota Dharmayukti Karini untuk mencapai tujuan Organisasi
sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Dasar.
BAB V
LAMBANG
Pasal 14
(1) Lambang Dharmayukti Karini berbentuk :
a) Oval (bulat telur), mempunyai 2 (dua) garis lingkar berwarna hijau dan
berlatar dasar kuning.
b) Bertuliskan melengkung DHARMAYUKTI pada bagian atas dan KARINI pada
bagian bawah, berwarna hijau.
c) Ditengahnya terdapat lingkaran berwarna hijau disisipi melingkar oleh 1
(satu) garis pinggir berwarna kuning, didalamnya terdapat setangkai bunga
teratai mekar dan 2 (dua) kuncup bunga teratai serta 2 (dua) daun teratai,
yang berdiri tegak di atas 4 (empat) riak air yang bergelombang.
(2) Lambang Dharmayukti Karini menggambarkan :
a) Bunga teratai :
Merupakan symbol/lambang kesucian dimanapun berada tetap indah
dan menarik.
Dari bunga sampai akar memiliki berbagai khasiat.
Teratai tumbuh subur di air, terutama yang terkena cahaya matahari.
Anggota Dharmayukti Karini dimanapun dan dalam situasi apapun
harus menjadi teladan/panutan bagi masyarakat sekitarnya.
b) Lima Batang Teratai : menggambarkan Dasar Negara Republik Indonesia,
Pancasila sebagai Azas Organisasi.
BAB VI
PERATURAN PERALIHAN
Pasal 15
Hal-hal yang belum ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga akan ditetapkan oleh
Pengurus Pusat.
BAB VII
PENUTUP
Pasal 16
Anggaran Rumah Tangga mulai berlaku sejak ditetapkan.