0% found this document useful (0 votes)
276 views4 pages

Automatic Stop Order (ASO)

Automatic stop order
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
276 views4 pages

Automatic Stop Order (ASO)

Automatic stop order
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Automatic Stop Order (ASO)

Pengertian Automatic Stop Order


Automatic Stop Order (ASO) merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh farmasis
untuk menghentikan pengobatan pasien dengan alasan tertentu ketika pasien berada di rumah
sakit dan lama pemakaiannya ditentukan oleh Tim Farmasi dan Terapi Rumah Sakit. Automatic
Stop Order (ASO) diterapkan pada obat-obat kategori tertentu yang dianggap sebagai obat
yang kuat atau potent dan obat-obat yang memerlukan review regular (Gunawan, 2015).

Ada beberapa tujuan dilakukannya automatic stop order pada obat di rumah sakit diantaranya:

1. Meninjau kembali kondisi klinis pasien yang respon terhadap terapi obat.
2. Menilai respon terapi berdasarkan data laboratorium, mikrobiologi dan hasil diagnosa.
3. Meninjau kembali apakah diperlukan penggantian, penghentian atau penggunaan kembali
obat.
4. Menjamin keamanan dan penggunaan obat yang rasional dalam bentuk pencegahan obat
dalam waktu yang panjang.

Keuntungan Automatic Stop Order adalah untuk melindungi pasien dari efek samping
potensial obat dan peresepan yang tidak tepat; dan untuk meningkatkan keselamatan pasien
(ASHP, 2009). Semua obat yang dipesan harus dilengkapi dengan Automatic Stop Order yang
diberlakukan pada beberapa kondisi, misalnya pasien akan menjalani pembedahan atau
dipindahkan ke bagian bangsal lain di dalam rumah sakit tersebut, atau dipindahkan ke fasilitas
kesehatan lain atau pasien diperbolehkan pulang. Jika pasien dipindahkan ke fasilitas
kesehatan lain, dokter membuat daftar ringkasan obat pasien yang dihentikan. Kemudian
ringkasan tersebut dikirimkan ke fasilitas kesehatan yang dituju. Apabila pasien
diperbolehkan pulang ke rumah, dokter memberikan resep langsung kepada pasien.
Pemesanan obat juga akan otomatis dihentikan ketika pasien :

a) Dipindahkan ke atau dari ruang intensif (ICU, ICCU, HCU)


b) Dipindahkan ke atau dari pelayanan medis lain (misalkan dari departemen Bedah ke
Penyakit dalam)
c) Dikirim ke ruang operasi.

Apoteker akan mengingatkan dokter dan perawat jika mendapati suatu pengobatan yang
hampir mencapai batas pemberian yang aman. Pengobatan akan dilanjutkan setelah dinyatakan
secara tertulis oleh dokter yang bersangkutan. Identifikasi dan komunikasi terkait automatic
stop order akan disampaikan 48 jam sebelum lama terapi habis. Apoteker akan
mengirim peringatan tentang automatic stop order yang akan dilakukan. Peringatan akan
ditandai dengan stiker, chart, atau catatan progress. Kalimat yang digunakan adalah
“Berdasarkan kebijakan stop order, pemesanan obat berikut akan berakhir pada (meliputi
tanggal dan waktu)”. Komunikasi tersebut ditempatkan pada bagian pemesanan obat di rekam
medis (Gunawan, 2016).

Penggolongan Obat Automatic Stop Order


Obat akan otomatisberhenti kecuali diperbaharui dengan, atau secara khusus
memerintahkan untuk jangka waktu yang berbeda, sesuai dengan persetujuan. Salah satu rumah
sakit menyimpulkan bahwa terdapat empat obat yang memerlukan kebijakan Automatic Stop
Order (ASO) contohnya ketorolac injeksi digunakan selama 5 hari untuk mencegah
perdarahan gastrointestinal (ISMP, 2000). Penggunaan Ketorolac injeksi 30 mg/ml untuk nyeri
sedang sampai berat untuk pasien yang tidak dapat menggunakan analgetik secara
oral, pemberian maksimal 2 hari (FORNAS, 2013). DEMEROL (meperidin) 4 hari untuk
mencegah akumulasi normeperidin; agen paralitik 48 jam untuk mencegah efek buruk pada
konduksi saraf yang dapat menyebabkan kelumpuhan atau masalah yang berkepanjangan yang
menyapih pasien dari ventilator; dan antibiotik 7 hari (ISMP, 2000).
Adapun penggolongan obat yang masuk ke dalam Automatic Stop Order (ASO) adalah
sebagai berikut :
Katagori Obat Auto-Stop
Antimikroba 3 hari*
Narkotika dan obat-obat kontrol (kecuali 7 hari
fenobarbital,metadone dan
buprenorphine/naloxone (Suboxone))
Antiinfeksi (topikal dan sistemik) kecuali 7 hari
antiretrovirus, obat-obat TB dan
ketoconazole shampoo
Larutan inhalasi melalui nebuliser 7 hari
Sediaan mata kecuali untuk 7 hari
glaukoma/lubrikan
Ketorolak parenteral 5 hari
*7 hari berhenti otomatis untuk L/BMT dan Medical Day Care Unit
Penggunaan antibiotik oleh pasien harus memperhatikan waktu, frekuensi, lama pemberian
sesuai rejimen terapi dan memperhatikan kondisi pasien. Pada proses penggunaan antibiotik,
Apoteker dapat berperan pada penghentian otomatis penggunaan antibiotik (automatic stop
order ). Penghentian otomatis pemberian antibiotik dilakukan bila penggunaan sudah sesuai
dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Selanjutnya apoteker perlu melakukan konfirmasi
dengan dokter yang merawat pasien untuk rencana terapi berikutnya (Anonim, 2011).
REFERENSI

Gunawan Atma. 2015. Kebijakan Pengelolaan Obat di RSSA.

Institute for Safe Medication Practice. ISMP List Of High-Alert Medications in


Community/Ambulatory [Link]. posted on Januari 30, 2011

Institute for Safe Medication Practice. ISMP List Of High-Alert Medications in Acute Care
[Link]. posted on June 2014IWK Health Centre. Automatic Stop Order / Medication
Reorders/ Order Review & Medication Updates/ Order Expiry / Hold Orders.

Ministry of Health. General Administration of Pharmaceutical Care.

Nursing Home. Types of Medication Orders. Pdf.

Health, PEI. 2013. Provincial Drugs And Therapeutics Committee. Automatic Stop Order.
Charlottetown, Canada.

ISMP, 2000. Acute Care: Let's put a stop to problem-prone automatic stop order policies
,[Link]

WHO, 1985. Policy Perspectives on Medicines: Promoting Rational Use of Medicines ,


[Link]

You might also like