Jurnal Elementaria Edukasia
p-ISSN 2615-4625
Volume 6, No. 2, Juni 2023, 736-746
e-ISSN 2655-0857
DOI: 10.31949/jee.v6i2.5142
Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran PAI dan
Budi Pekerti Berbasis Merdeka Belajar
Yulian Rizky Nurhantara 1*, Ratnasari Dyah Utami 2
1 Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia
2 Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia
ABSTRACT
Education is an effort to mature students, both mentally and in thinking. Through the learning process,
students are directed, guided, fostered, explored, and develop their potential to reach maturity. Therefore, this
study aims to see how implementing the Pancasila Student Profile in PAI and Moral learning is based on the
“Merdeka Belajar”. This research uses qualitative and descriptive approaches. The data collection techniques
used are interviews, observation, and documentation. Test the validity of the data using source triangulation
techniques and method triangulation. Data analysis techniques in this study use data reduction, data
presentation and conclusion drawing. The results of the research carried out, namely in the application of the
Pancasila Student Profile at SD Negeri 03 Bejen Karanganyar, have been maximized because all indicators of
the Pancasila Student Profile are met, even though the Global Diversity indicator is obtained through learning
Civic Education (Civics) and through the habit of singing the Indonesian national anthem every morning before
starting learning. Implementing the Pancasila Student Profile as a manifestation of character education
requires all parties, from school principals, teachers, and parents to help.
Keywords: Pancasila Student Profile, PAI Learning, Moral learning, Merdeka Belajar
ABSTRAK
Pendidikan sejatinya suatu upaya untuk mendewasakan peserta didik, baik dewasa secara mental
maupun dalam berfikirnya. Melalui proses pembelajaran, peserta didik diarahkan, dibimbing,
dibina, bahkan dieksplor serta dikembangkan potensi dirinya sebagai upaya mencapai kedewasaan.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana implementasi Profil Pelajar
Pancasila dalam pembelajaran PAI dan Budi Pekerti yang ada berbasis kurikulum merdeka.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan teknik
trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan
reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang dilakukan yaitu
dalam penerapan Profil Pelajar Pancasila di SD Negeri 03 Bejen Karanganyar sudah maksimal karena
semua indikator Profil Pelajar Pancasila terpenuhi walaupun indikator Berkebhinekaan Global
didapat melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaaraan (PKn) dan melalui pembiasaan
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia setiap pagi sebelum memulai pembelajaran. Implementasi
Profil Pelajar Pancasila sebagai wujud dalam pendidikan karakter dibutuhkan peranan dari semua
pihak baik dari kepala sekolah, guru, maupun orang tua untuk melakukan pendampingan.
Kata Kunci: Profil Pelajar Pancasila, PAI, Budi Pekerti, Merdeka Belajar
Pendahuluan
Pendidikan adalah suatu upaya untuk mendewasakan peserta didik secara mental
maupun dalam proses berfikirnya (Fachri, 2014). Pendidikan merupakan sebuah usaha secara
sadar dan terencana untuk mewujudkan proses pembelajaran peserta didik yang aktif dalam
mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Sisdiknas, 2003). Melalui proses pembelajaran, anak
sebagai peserta didik dapat diarahkan, dibimbing, dibina, bahkan dieksplor pengetahuan serta
736
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
dikembangkan potensi dirinya sebagai upaya mencapai kedewasaan. Cita-cita pendidikan
nasional bangsa Indonesia yaitu dapat mengembangkan pengetahuan dan membentuk watak
atau karakter bangsa. Oleh karena itu, proses pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan
kapasitas belajar saja namun utamanya adalah pembentukan karakter peserta didik.
Karakter adalah watak yang mendasari setiap individu untuk dapat diandalkan dalam
memberikan tanggapan secara baik, sopan maupun etis (Mery et al., 2022). Karakter juga dapat
dikatakan sebagai sikap, pola pikir dan nilai kesopanan yang menjadi identitas seseorang
dalam berpikir dan berperilaku (Soraya, 2020). Keberhasilan proses belajar peserta didik tidak
hanya diukur dari pengetahuan dan kompetensi teknis (hard skill), namun juga tergantung
pada keahlian yang dimiliki diri sendiri dan orang lain (soft skill) serta mutu karakter peserta
didik (Kahfi, 2022). Pendidikan tidak hanya fokus mengembangkan pribadi yang lebih baik
namun juga dapat belajar memahami lingkungannya (Musyadad et al., 2022). Sehingga dapat
dikatakan bahwa pendidikan karakter merupakan dasar yang sangat penting dalam proses
pendidikan (Irawati et al., 2022). Menurut Arifudin et al. (2020) tujuan pendidikan karakter
tidak sebatas menyampaikan ilmu tetapi juga berkaitan dengan pembentukan karakter peserta
didik menjadi lebih baik, mempunyai kemampuan atau bakat yang mumpuni, lebih sopan
dalam berbicara dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pemikiran-
pemikiran tersebut, perlu adanya tindakan nyata dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila
yang berfokus pada pendidikan karakter peserta didik.
Dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik
Indonesia Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Dalam Rangka
Pemulihan Pembelajaran, Kurikulum merdeka dilaksanakan sebagai penyempurna program
pemulihan pendidikan. Kurikulum merdeka yaitu pembelajaran dengan sistem kemandirian
berpikir. Dalam penerapan pembelajaran, guru dan siswa diberi kebebasan untuk berinovasi
dalam mewujudkan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan dan mandiri. Selain itu,
implementasi kurikulum merdeka bertujuan untuk mewujudkan karakter siswa yang beriman
kepada Tuhan serta dengan menjaga nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
Dalam program penyempurnaan pendidikan karakter Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menerapkan profil pelajar Pancasila
sebagai visi dan misi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Profil pelajar Pancasila
merupakan pemikiran secara umum tentang pelajar yang mampu mengamalkan nilai-nilai
Pancasila dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Kahfi, 2022). Adanya program
profil pelajar Pancasila diharapkan dapat terwujud peserta didik yang berakhlak mulia,
mampu bersaing secara nasional dan global, serta mampu bekerja sama mencurahkan ide-ide
kreaktif untuk dikembangkan. Profil pelajar Pancasila yang terdapat dalam Permendikbud
Nomor 22 Tahun 2020 bahwa kurikulum merdeka memuat P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila) yang meliputi enam indikator yaitu: 1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, dan berakhlak mulia; 2. Berkebhinekaan global; 3. Bergotong royong; 4. Mandiri; 5.
Bernalar kritis; 6. Kreatif. Keenam karakter ini menjadi tugas guru penggerak dalam
memberikan keteladanan (Uktolseja et al., 2022).
737
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
Gambar 1. Indikator Profil Pelajar Pancasila
Sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter yang harus dilahirkan satuan
pendidikan adalah individu pembelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global
dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila (Anita Lie, 2020). Profil Pelajar Pancasila tidak
dapat dipisahkan dari tujuan utama yaitu pembentukan akhlak dan budi pekerti yang
sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral bukan hanya sekedar memenuhi otak
peserta didik-peserta didik dengan ilmu pengetahuan tetapi tujuannya mendidik akhlak
dengan memperhatikan segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek
serta mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat.
Budi Pekerti dalam KBK (kurikulum berbasis Kompetensi) isinya menjelaskan tentang
nilai-nilai perilaku individu yang pengukurannya berdasarkan kebaikan dan keburukan
melalui norma-norma agama, tata krama, hukum, sopan santun, adat istiadat seta budaya
masyarakat. Identifikasi budi pekerti melalui perilaku positif yang harapannya dapat
terwujud dalam pikiran, perkataan, perasaan, perbuatan, kepribadian dan sikap peserta didik
(Indrasutanto, 2008). Adapun program sekolah memimiliki pendidikan budi pekerti dengan
tujuan kolaborasi watak peserta didik dengan menghayati keyakinan dan nilai-nilai
masyarakat, hal itu dalam hidupnya dapat dijadikan kekuatan moral lewat disiplin, kerjasama,
kejujuran dan dapat dipercaya khususnya pada ranah afektif dengan tidak meninggalkan
kognitif dan psikomotorik. Sebab budi pekerti bukan hanya sekedar kebiasaan melaksanaakan
nilai-nilai hidup manusia akan tetapi sungguh-sungguh dilaksanakan berdasarkan kesadaran
dan pemahaman diri agar menjadi baik. Budi pekerti dihasilkan lewat proses doktrinisasi dari
sesuatu yang di pahami, membutuhkan waktu sehingga dalam kehiduan manusia terbentuk
budi pekerti yang baik.
Implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai usaha untuk
mempersiapkan peserta didik dalam memahami, menghayati, meyakini, serta mengamalkan
agama islam lewat aktivitas latihan, pengajaran, dan bimbingan dengan mengindahkan
ketentuan menghargai agama lain ketika berhubungan antar umat beragama sehingga tercipta
kerukunan dalam masyarakat sebagai upaya perwujudan persatuan nasional (Pahrudin,
2017). Dalam penerapan kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam (PAI) memuat tambahan
pendidikan mengenai budi pekerti. Peserta didik diberikan pendidikan mengamalkan ajaran
islam yang memuat aspek yaitu aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan, selanjutnya
diimplementasikan melalui mata pelajaran di seluruh jenjang pendidikan (Syu’aib, 2019).
738
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
Sehingga Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan salah satu wujud usaha
untuk membentuk peserta didik dapat belajar, terdorong belajar, butuh belajar, mau belajar,
dan terus menerus untuk tertarik mendalami agama Islam. Selain itu, peserta didik juga
mampu memahami ajaran agama Islam sebagai ilmu yang memiliki implikasi terhadap
perubahan sikap individu di aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2016) memiliki persamaan yaitu sama-
sama melakukan penelitian tentang implementasi pendidikan karakter melalui Pendidikan
Agama Islam (PAI). Perbedaannya yaitu penelitian tersebut mengambil sampel pendidik
sedangkan penelitian yang saya lakukan berfokus pada peserta didik. Membangun karakter
peserta didik diimplementasikan dengan memberikan contoh langsung, menasihati,
memasukkan ke instruksional memproses, mengingatkan, dan memberikan hukuman atau
punishment. Tujuan dari pembentukan karakter tersebut yaitu untuk melatih peserta didik
agar tertib, patuh, disiplin terhadap pertauran yang berlaku serta memiliki rasa takut
melakukan kesalahan. Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang
dilakukan oleh Fahrudin et al., (2019) yang membahas mengenai implementasi kurikulum
2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti dalam menanamkan akhlakul karimah siswa.
Dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran PAI dan Budi
Pekerti yang berbasis karakter dapat melalui pendekatan pembiasaan dan keteladaan,
pembinaan keakraban, penanaman akhlakul karimah.
Merdeka belajar adalah sebuah penyesuaian kebijakan sistem Pendidikan nasional untuk
mengembalikan esensi undang-undang dengan memberikan kemerdekaan sekolah yang
menginterpretasi kompetensi dasar kurikulum menjadi penilaian (Sherly et al., 2020).
Perubahan Pendidikan melalui kebijakan merdeka belajar merupakan salah satu langkah
untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Kebijakan merdeka belajar
selain untuk menguasai literasi baru juga dapat digunakan dalam perwujudan Pendidikan
karakter (Marlena, 2022). Guru juga memiliki peran penting dalam perumusan tujuan
pembelajaran untuk mencapai tujuan Profil Pelajar Pancasila sebagai wujud pendidikan
karakter (Seno et al., 2022). Platform Merdeka Mengajar (PMM) memiliki peran signifikan
dalam penerapan kebijakan kurikulum merdeka untuk membentuk dan mewujudkan sikap
pelajar Pancasila. Implementasi Profil Pelajar Pancasila dengan bantuan Platform Merdeka
Mengajar (PMM) diaplikasikan dalam penanaman pendidikan karakter keseharian (Susilawati
et al., 2021).
Berdasarkan pernyataan dan hasil penelitian tersebut, lembaga pendidikan memiliki
tanggung jawab dalam membentuk dan menguatkan karakter peserta didik. Seorang pendidik
memiliki peran penting sebagai teladan yang baik. Dengan terbentuknya program
Kemendikbud mengenai Program Pelajar Pancasila, maka sebagai pendidik harus melakukan
tindakan nyata khususnya dalam pendidikan karakter. Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui bagaimana “Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran PAI dan
Budi Pekerti yang berbasis Merdeka Belajar”. Selain itu, peneletian ini berperan penting
sebagai bahan evaluasi dan perbaikan program pembelajaran sehingga tujuan pendidikan
dalam penerapan kurikulum merdeka dapat terwujud dengan baik.
739
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
Metode Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Menurut Sutama (2019)
dan Sharma (2013) penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada gambaran
secara rinci mengenai semua kegiatan penelitian dan dikutip secara langsung menggunakan
deskripsi situasi, peristiwa, interaksi dan perilaku yang diamati. Data yang dihimpun dengan
pengamatan seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang detail disertai dengan catatan-
catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatan-catatan.
Objek penelitian ini adalah SD Negeri 03 Bejen Karanganyar. Sedangkan subjek yang diambil
yaitu guru-guru SD Negeri 03 Bejen Karanganyar.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi.
Wawancara dilakukan kepada Kepala SD Negeri 03 Bejen Karanganyar siswa dan guru-guru
untuk mengkonfirmasi pelaksanaan Profil Pelajar Pancasila yang telah dilaksanakan.
Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi Profil Pelajar Pancasila
dalam pembentukan karakter peserta didik. Observasi dilakukan dengan meninjau dan
mengamati secara langsung akhlak siswa di dalam kelas maupun diluar kelas. Teknik
pengumpulan data menggunakan dokumentasi bertujuan untuk memperkuat hasil atau
temuan penelitain yang terdapat di lapangan. Peneliti menggunakan teknik trianggulasi
sumber dan trianggulasi metode untuk menguji keabsahan data. Dalam analisis data,
penelitian ini menggunakan teknik yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan (Sutama, 2019).
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SD Negeri 03 Bejen mendapatkan hasil
bahwa Pendidikan karakter peserta didik sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila dimulai dari
implementasi indikator Profil Pelajar Pancasila dalam kegiatan belajar mengajar dan kegiatan
pendukungnya. Guru PAI dan Budi Pekerti di SD Negeri 03 Bejen mengakui bahwa
perencanaan pembelajaran merupakan faktor penting untuk mencapai keberhasilan belajar.
Rencana pembelajaran yang terstruktur dan sistematis akan berdampak pada pembelajaran
yang kondusif, efektif, dan efesian. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan bahwa SD
Negeri 03 Bejen merencanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
mengacu pada visi dan misi, tujuan dan target belajar serta melakukan riset di kelas. Pemilihan
metode dan strategi pembelajaran disesuaikan dengan kesepakatan antara guru dengan
peserta didik. Terdapat dua tahapan dalam merencanakan pembelajaran pendidikan agama
islam dan budi pekerti berbasis merdeka, yaitu; membentuk tim khusus untuk mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam dan menyusun alur tujuan pembelajaran. Pernyataan tersebut
diperkuat dengan hasil wawancara kepala SD Negeri 03 Bejen yang mendapat hasil bahwa
guru PAI korwil karanganyar memiliki tim untuk Menyusun rencana setiap jenjang yang
diajarkan terhadap proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sebagai
langkah dalam mewujudkan pendidikan karakter. Selain itu, tim juga memperkuat aktivitas
social culture sehingga mampu membentuk peserta didik memiliki sikap yang baik di sekolah
maupun di rumah.
Guru dalam menyusun alur tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi
Pekerti mengacu pada kurikulum sekolah. Pada umumnya pelajaran Pendidikan Agama Islam
740
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
dan Budi Pekerti adalah pelajaran yang mengajarkan doktrin agama dan nilai akhlak yang
disampaikan lewat ceramah dan pembiasaan. Akan tetapi pembelajaran Pendidikan Agama
Islam di sekolah tersebut, guru mengemas pembelajaran sesuai dengan gaya belajar peserta
didik, sehingga peserta didik tidak hanya mengetahui doktrin, mengahafal materi agama serta
mampu merancang pembelajaran, memiliki keinginan untuk belajar, dan mengaplikasikan
pada kehidupan sehari-hari. Namun pada akhirnya, pembelajaran Pendidikan Agama Islam
dan Budi Pekerti menjadi menyenangkan dan jauh dari kejenuhan peserta didik yang
berdampak pada kemalasan untuk belajar dan mendengarkan ceramah guru. Selain itu,
peneliti juga mendapatkan hasil wawancara bahwa guru bukan sekedar mengajar dan
bertanya mengenai materi yang sudah dipelajari. Akan tetapi memberikan stimulus kepada
siswa sebelum memulai pembelajaran serta memberi kesempatan pada peserta didik untuk
menentukan metode, strategi dan media pembelajaran. Kemudian dalam kegiatan inti
pembelajaran, siswa melakukan rangkaian aktivitas belajar dan guru hanya menjadi fasilitator
namun tetap mengawasi proses pembelajaran guru di kelas. Hasil wawancara dengan guru
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yaitu setiap awal pembelajaran Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti, guru-guru memulai dengan berdoa, sholat dhuha, mengaji dan
mengapresiasi dengan memberikan pertanyaan yang menghubungkan antara materi
sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. Selain itu, guru juga memberikan
pengetahuan kepada murid bahwa materi tersebut dapat di impelementasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran yang diterapkan guru PAI dan Budi Pekerti pada materi mengenal huruf
hijaiyah dan perilaku sederhana Nabi dan Rasul di Kelas 1 menerapkan pembelajaran student
active learning. Strategi yang digunakan pada materi mengenal huruf hijaiyah dan perilaku
sederhana Nabi dan Rasul yaitu Masha (Memorizing, Articulation, and Sharing). Penggunaan
strategi ini bertujuan agar mereka mendapatkan pemahaman sama dari berbagai konteks dan
konten yang berbeda. Hasil observasi di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan kegiatan
inti pembelajaran materi mengenal huruf hijaiyah dan perilaku sederhana Nabi dan Rasul
sebagai yaitu: pertama, menentukan dan memberi pemahaman tujuan materi mengenal huruf
hijaiyah dan perilaku sederhana Nabi dan Rasul supaya peserta didik paham akan materi yang
dipelajari. Kedua, guru memberi pertanyaan “apa hidup sederahana?”. Ketiga, Guru
menggunakan strategi MASHA (Memorizing, Articulation, and Sharing), karena setiap
peserta didik memiliki gaya belajar yang beragam. Ketiga Memorizing (mengingat) materi
untuk peserta didik yang gaya belajarnya visual, peserta didik dengan melihat materi yang
ada di buku saja bisa paham. Sedangkan untuk peserta didik yang gaya belajarnya auditori,
peserta didik dengan mendengarkan penjelasan dari guru saja bisa memahami materi.
Kemudian untuk yang gaya belajarnya kinesterik, peserta didik butuh penjelasan materi
dengan gerakan yang dilakukan oleh guru. Keempat, Articulation (artikulasi) yaitu peserta
didik di dorong untuk berani menjelaskan ulang mengenai materi yang telah dipahami dan
dipraktekkan dengan gerakan. Kelima, Sharing (berbagi) pemahaman dengan teman.
Kegiatan ini dilakukan untuk mengingat materi yang telah dipahami. Saling berbagi ilmu
dengan teman-teman dapat meningkatkan rasa saling berbagi dan peduli terhadap orang lain.
Kegiatan lain yang dilakukan yaitu membentuk kelompok kerja. Selain itu, peserta didik dapat
saling bertukar pikiran dan melakukan gotong royong dalam membahas dan menyelesaikan
741
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
suatu permasalahan. Dalam hal ini, peserta didik juga dapat meneladani sikap Rasulullah
SAW yang menekankan pentingnya berbagi ilmu.
Guru PAI dan Budi Pekerti memakai media pembelajaran pada materi mengenal huruf
hijaiyah adalah media yang telah disepakati bersama yaitu papan hijaiyah. Sebagaimana
dikemukakan Guru Pendidian Agama Islam dan Budi Pekerti yaitu dalam proses
pembelajaran guru menggunakan media pembelajaran seperti papan huruf hijaiyah untuk
menunjang siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Hasil observasi di kelas 1
pembelajaran PAI dan budi pekerti menunjukkan bahwa guru menggunakan media
pembelajaran. Hal yang terpenting adalah agar informasi yang ingin disampaikan atau
mempermudah penyampaian pesan maka harus melakukan penataan elemen yang baik.
Selanjutnya, kreatifitas menjadi sebuah keharusan bagi guru dalam menyampaikan suatu
materi pembelajaran agar dapat menggunakan media dari barang yang sudah ada. Pada
kegiatan penutup, Guru merefleksi kembali mengenai materi mari hidup sederhana dan
ikhlas, hal ini dilakukan agar peserta didik mengingat dan memahami kembali materi dan
tujuan pembelajaran tersebut, dan kembali mengingatkan bahwa materi yang sudah dipelajari
dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Kemudian memberikan penugasan berupa lembar
kerja siswa yang ada di buku ajar, penugasan tersebut digunakan untuk penilaian harian.
Hasil Observasi kegiatan penutup pada materi mengenal huruf hijaiyah dan perilaku
sederhana Nabi dan Rasul yaitu; pertama, guru melakukan refleksi dan umpan balik terhadap
materi pembelajaran serta peserta didik diberikan kesempatan bertanya apabila belum paham
akan materi tersebut. Kedua, guru memperaktekkan prilaku hidup sederhana di depan peserta
didik-peserta didik, apabila materi yang telah dipelajari di terapkan dalam kegiatan sehari-
hari maka akan menebar manfaat di masyarakat. Ketiga peserta didik di berikan penugasaan
berupa lembar kerja siswa.
Pembahasan
Implementasi Profil Pelajar Pancasila dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam
dan Budi Pekerti di SD Negeri 03 Bejen Karanganyar dapat dilihat melalui tabel berikut.
Tabel 1. hasil dari implementasi Profil Pelajar Pancasila
No Profil Pelajar Pancasila Implementasi di Sekolah
1 Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Pembiasaan berdoa, sholat dhuha, dan
YME dan berakhlak mulia mengaji setiap pagi sebelum
pembelajaran dimulai
2 Gotong royong Menyelesaikan tugas kelompok
3 Kemandirian Pembelajaran menerapkan student active
learning
4 Berpikir kritis Bertanya dan menjawab pertanyaan
dengan kritis
5 Kreatif Penggunaan media papan hijaiyah
6 Berkebhinekaan Global Implementasi Berkebhinekaan Global
digali lebih dalam melalui pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
742
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
Berdasarkan hasil yang telah dipaparkan, peneliti menemukan empat indikator dalam
implementasi Profil Pelajar Pancasila sebagai wujud dari pendidikan karakter di SD Negeri 03
Bejen Karanganyar yaitu yang pertama beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan berakhlak
mulia. Dalam hal ini, implementasi Pendidikan karakter sebagai wujud beriman kepada
Tuhan YME yaitu melalui pembiasaan pembelajaran yang diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari seperti contoh pembiasaan berdoa, sholat dhuha, dan mengaji setiap pagi sebelum
pembelajaran dimulai. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Handika &
Darmiyati (2022) bahwa penerapan kurikulum yang membangun karakter beriman dapat
disesuaikan dengan fitrah manusia sebagai makluk yang memiliki keyakinan kepada Tuhan.
Selain bertaqwa kepada Tuhan, Pendidikan karakter juga menekankan peserta didik terhadap
pendidikan psikis. Seperti contoh Pendidikan akhlak terhadap pribadi, sesame manusia, alam
dan negara. Sehingga ciri dari Profil Pelajar Pancasila yang pertama adalah hal terpenting
untuk diterapkan karena sehebat-hebatnya manusia apabila tidak menerapkan sikap beriman
kepada Tuhan maka tidak berguna (Kahfi, 2022).
Kedua, gotong royong merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama untuk
mewujudkan pekerjaan menjadi cepat, mudah dan ringan. Sikap saling peduli dan berbagi
merupakan upaya penting dalam gotong royong. Sikap tersebut dilandasi dengan adanya siat
adil, hormat, bertanggung jawab dan murah hati. Dalam implementasi Profil Pelajar Pancasila
ini, peserta didik melakukan pembiasaan untuk berbagi ilmu dengan teman-temannya.
Kegiatan tersebut berupa kerja kelompok yang dapat melatih peserta didik saling bertukar
pikiran dalam menyelesaikan permasalahan atau tugas yang diberikan oleh guru. Selain itu,
pembiasaan sikap gotong royong dapat mewujudkan sikap yang akrif dalam memajukan
demokrasi di Indonesia. Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai saling peduli dan gotong
royong menjadi peran penting dalam pendidikan karakter yang nantinya akan diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari (Tamara, 2016). Kemampuan gotong royong dalam penerapan
Profil Pelajar Pancasila secara sadar menyadari bahwa keberhasilan tidak dapat tercapai tanpa
adanya bantuan atau peran dari orang lain (Irawati et al., 2022).
Ketiga, kemandirian yang merupakan kesadaran diri terhadap tanggung jawab atas
proses belajarnya. Peserta didik selalu menerapkan pembelajaran student active learning.
Dalam hal ini, peserta didik diberi kebebasan untuk mengeksplor pemahamannya khususnya
dalam belajar huruf hijaiyah, cerita Nabi dan Rosul. Kemandirian belajar diartikan sebagai
sebuah proses belajar yang didorong oleh kesadaran diri. Hasil tersebut sama seperti
penelitian yang dilakukan oleh Mulyadi & Syahid (2020) yang menyatakan bahwa
kemandirian dibentuk tidak mendadak tetapi melalui proses yang dilakukan dengan
pembiasaan dari masa kanak-kanak. Terwujudnya sikap mandiri dapat memotivasi diri
sendiri untuk berprestasi dan melakukan sesuatu yang baik sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki.
Keempat, berpikir kritis yang merupakan sikap peserta didik yang mampu merangkai
keterkaitan informasi dengan berbagai informasi yang didapat, menganalisis, mengevaluasi,
dan menyimpulkan. Peserta didik yang memiliki sikap kritis ketika akan mengolah informasi
yang didapat sebelum menganalisis data. Kemampuan berpikir kritis peserta didik ketika
menyelesaikan suatu masalah dapat dilakukan secara sistematis, logis dan analisis.
Implementasi profil pelajar Pancasila alam materi PAI dan Budi Pekerti dilakukan di sekolah
dengan memberikan pertanyaan yang menarik rasa ingin tau sehingga ketika mendapat
743
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
informasi yang didapat tidak secara langsung diterima namun harus melalui pemikiran
panjang. Seperti contoh anak menanyakan perbedaan cara membaca huruf “kha” dan “kho”
yang benar.
Kelima, kreatif yaitu kemampuan peserta didik dalam mengembangkan sesuatu yang
orisinil, bermakna dan berdampak (Direktorat Sekolah Dasar, 2020). Implementasi Pendidikan
karakter dalam mewujudkan peserta didik yang kreatif pada penelitian ini menerapkan
kebebasan dalam mencari ilmu seperti penggunaan papan hijaiyah. Hal ini relevan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Istiningsih & Dharma (2021) dalam konteks implementasi
kurikulum 2013 yang menekankan kegiatan yang menarik dan kreatif sekaligus menjadi
tujuan Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan pengembangan kreativitas dilakukan untuk
mewujudkan pelajar yang mampu mengembangkan potensi diri serta mampu menghadapi
tantangan dimasa depan.
Keenam, Berkebinekaan Global yang sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yaitu
Bhineka Tunggal Ika. Wujud dari sebuah implementasi Berkebinekaan Global di sekolah yaitu
pembiasaan sebelum memulai pembelajaran menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Selain
itu, toleransi dalam beragama dan berbudaya sangat penting dalam membangun suatu
Negara. Namun, penerapan implementasi berkebinekaan tunggal dapat digali lebih dalam
melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sehingga jarang ditemukan dalam
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Kesimpulan
Simpulan pada penelitian ini mendapatkan hasil bahwa Profil Pelajar Pancasila
merupakan cita-cita dari Pendidikan Nasional. Profil Pelajar Pancasila merupakan sikap
pelajar Indonesia yang mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari. Adanya program profil pelajar Pancasila diharapkan dapat terwujud peserta didik yang
berakhlak mulia, mampu bersaing secara nasional dan global, serta mampu bekerja sama
mencurahkan ide-ide kreaktif untuk dikembangkan. Guru mempunyai peran penting dalam
penerapan Profil Pelajar Pancasila sebagai wujud dalam pendidikan karakter. Profil pelajar
Pancasila yang terdapat dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 bahwa kurikulum
merdeka memuat P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang meliputi enam indikator
yaitu: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; 2)
Berkebhinekaan global; 3) Bergotong royong; 4) Mandiri; 5) Bernalar kritis; dan 6) Kreatif.
Dalam penerapan Profil Pelajar Pancasila di SD Negeri 03 Bejen Karanganyar sudah maksimal
karena semua indikator Profil Pelajar Pancasila terpenuhi walaupun indikator Berkebhinekaan
Global didapat melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaaraan (PKn) dan melalui
pembiasaan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia setiap pagi sebelum memulai
pembelajaran. Implementasi Profil Pelajar Pancasila sebagai wujud dalam pendidikan
karakter dibutuhkan peranan dari semua pihak baik dari kepala sekolah, guru, maupun orang
tua untuk melakukan pendampingan.
Daftar Pustaka
Anita Lie, dkk. (2020). Mendidik Generasi Milenial Cerdas Berkarakter. Sleman: Yogyakarta : PT
Kanisius.
Arifudin, O., Sofyan, Y., Sadarman, B., & Tanjung, R. (2020). Peranan Konseling Dosen Wali
744
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta. Jurnal
Bimbingan Dan Konseling Islam, 10(2), 237–242.
https://doi.org/10.29080/jbki.2020.10.2.237-242
Direktorat Sekolah Dasar. (2020). Strategic Plan of the Ministry of Education and Culture for the
Year 2020-2024. Jakarta.
Fachri, M. (2014). Urgensi Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter Bangsa.
At-Turas, 1(1), 131–168.
Fahrudin, Asari, H., & Halimah, S. (2019). Implementasi Kurikulum 2013 Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti dalam Menanamkan Akhlakul Karimah Siswa. Journal of
Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699. Retrieved from
http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/eduriligia/article/view/1072
Handika, D. F., & Darmiyati, A. (2022). Refleksi Pendidikan Karakter Islam dalam Insan
Kamil di Mts 4 Karawang. Jurnal Education and Development, 10(1), 379–385.
Indrasutanto, T. (2008). Life Skill -Kurikulum-Berbasis-Kompetensi-Dan-Pendid-a5Cc5Eb3. (23), 1–
29.
Irawati, D., Iqbal, A. M., Hasanah, A., & Arifin, B. S. (2022). Profil Pelajar Pancasila Sebagai
Upaya Mewujudkan Karakter Bangsa. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 1224–1238.
https://doi.org/10.33487/edumaspul.v6i1.3622
Istiningsih, G., & Dharma, D. S. A. (2021). Integrasi Nilai Karakter Diponegoro Dalam
Pembelajaran Untuk Membentuk Profil Pelajar Pancasila Di Sekolah Dasar. Jurnal
Kebudayaan, 16, 25–42.
Kahfi, A. (2022). Implementasi Profil Pelajar Pancasila dan Implikasinya terhadap Karakter
Siswa di Sekolah. DIRASAH: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Dasar Islam, 5 (2), 138-151.
Kurniawan, M. (2016). Implementasi Pendidikan Karakter Disiplin Dalam Pendidikan
Agama Islam di SMA Negeri 1 Batusangkar. Jurnal Al-Fikrah, 4 (2), 148–160.
Marlena. (2022). Persiapan pendidik non sekolah penggerak dalam menghadapi era merdeka
belajar (studi kasus di SDN 140 Se-luma). Jurnal Pendidikan Tematik, 3(3), 13–18.
Mery, M., Martono, M., Halidjah, S., & Hartoyo, A. (2022). Sinergi Peserta Didik dalam
Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jurnal Basicedu, 6(5), 7840–7849.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3617
Mulyadi, M., & Syahid, A. (2020). Faktor Pembentuk dari Kemandirian Belajar Siswa. Al-Liqo:
Jurnal Pendidikan Islam, 5(02), 197–214. https://doi.org/10.46963/alliqo.v5i02.246
Musyadad, V. F., Hanaflah, Tanjung, R., & Arifudin, O. (2022). Supervisi Akademik untuk
Meningkatkan Motivasi Kerja Guru dalam Membuat Perangkat Pembelajaran. JIIP
(Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan), 5, 1936–1941.
Pahrudin, A. (2017). Strategi Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam di Madrasah. In
Banjarbaru: Grafika Wangi Kalimantan (Vol. 2).
Seno, U., & dkk. (2022). Implementation of Local Wisdom Based Learning in Realizing
Pancasila Student Profiles in Elementary Schools. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 6(4), 652–
660. https://doi.org/10.23887/jisd.v6i4.56041
Sharma, S. (2013). Qualitative Approaches in Mathematics Education Research: Challenges
and Possible Solutions. Education Journal, 2(2), 50–57.
https://doi.org/10.11648/j.edu.20130202.14
Sherly, Dharma, E., & Sihombing, B. H. (2020). Merdeka Belajar di Era Pendidikan 4.0.
745
Nurhantara, Utami Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dalam Pembelajaran
Merdeka Belajar: Kajian Literatur, 184–187.
Sisdiknas. (2003). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Teundang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pub. L. No.
Bab Ii, Pasal 3, 1 (2003). 1–21.
Soraya, S. Z. (2020). Pendidikan Karakter Untuk Membangun Peradaban Bangsa. Southeast
Asian Journal of Islamic Education Management, 1, 74–81.
https://doi.org/10.51200/uji.v12i.3291
Susilawati, E., Sarifudin, S., & Muslim, S. (2021). Internalisasi Nilai Pancasila Dalam
Pembelajaran Melalui Penerapan Profil Pelajar Pancasila Berbantuan Platform Merdeka
Mengajar. Jurnal Teknodik, 25, 155–167. https://doi.org/10.32550/teknodik.v25i2.897
Sutama. (2019). Metode Penelitian Pendidikan Kualitatif, Kuantitatif, Mix Method, R&D.
Kartasura: Jasmine.
Syu’aib, K. (2019). Kurikulum Dalam Pendidikan Islam. Ittihad Jurnal Kopertais Wilayah XI
Kalimantan, 15(28), 68–74.
Tamara, R. M. (2016). Peranan Lingkungan Sosial Terhadap Pembentukan Sikap Peduli
Lingkungan Peserta Didik Di Sma Negeri Kabupaten Cianjur. Jurnal Geografi Gea, 16(1),
44. https://doi.org/10.17509/gea.v16i1.3467
Uktolseja, N. F., Nisa, A. F., Arafik, M., & Wiarsih, N. (2022). Penanaman Nilai-Nilai Profil
Pelajar Pancasila melalui Pembelajaran Tematik Berbasis Project Based Learning Di
Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 151–158.
746