0% found this document useful (0 votes)
46 views6 pages

Peranan Etika Bisnis Dalam Menghadapi Global Warming Di Era Globalisasi

This document discusses the role of business ethics in addressing global warming in the era of globalization. It mentions that deforestation is one of the causes of global warming as forests store large amounts of carbon. In the era of globalization, companies' market shares and production levels have increased, exacerbating global warming. Business ethics have an important role to play in reducing environmental pollution by considering sustainability and the global environment in business activities. The document analyzes how business can apply ethics related to globalization by preserving the environment, conducting environmental impact assessments, and complying with ISO standards to balance economic and environmental responsibilities.

Uploaded by

Mida Mida
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
46 views6 pages

Peranan Etika Bisnis Dalam Menghadapi Global Warming Di Era Globalisasi

This document discusses the role of business ethics in addressing global warming in the era of globalization. It mentions that deforestation is one of the causes of global warming as forests store large amounts of carbon. In the era of globalization, companies' market shares and production levels have increased, exacerbating global warming. Business ethics have an important role to play in reducing environmental pollution by considering sustainability and the global environment in business activities. The document analyzes how business can apply ethics related to globalization by preserving the environment, conducting environmental impact assessments, and complying with ISO standards to balance economic and environmental responsibilities.

Uploaded by

Mida Mida
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

PERANAN ETIKA BISNIS DALAM MENGHADAPI GLOBAL WARMING DI ERA

GLOBALISASI

Khristarini Mariana
Magister Management / Marketing, [email protected], Universitas Katolik Widya Mandala

ABSTRACT
In 2018, Indonesia was faced with the issue of banning CPO imports by European Union countries. This
prohibition is related to deforestation as one of the causes of global warming. The role of forests is to
store large carbon reserves. Forests are also able to absorb excess carbon dioxide in the air and convert
it into oxygen through the process of photosynthesis which can store more than two hundred billion tons
of carbon. So that deforestation has a very big effect on climate change related to carbon in the air and
on peat soil. If peatlands lose the trees on them, they will release the stored carbon into the air. In this
era of globalization, every company can enlarge its market share so that production of goods also
increases, this is one of the causes of global warming that is happening at this time. In this globalization
era, the role of business ethics is needed so that it can reduce environmental pollution which can
exacerbate global warming.Sustainability is a desire for entrepreneurs in running their business in the
era of globalization. Companies are faced with business ethics by thinking about the environment
globally. This paper aims to assess the application of business ethics which is closely related to
Globalization, that every business activity must preserve the environment, have concern for the
environment, by implementing an environmental impact assessment, because the law requires an
environmental impact assessment (Environmental Impact Assessment) with ISO 14020 standards and
ISO14024. The assessment uses a qualitative approach and examines the application of the ISO 14020
and ISO 14024 submission processes.
Keywords: Global Warming, globalization, business ethics.

Abstrak
Tahun 2018, Indonesia di hadapkan dengan issue mengenai pelarangan import CPO oleh negara Uni
eropa. Pelarangan ini terkait dengan deforetasi hutan sebagai salah satu penyebab terjadinya
pemanasan global. Peran hutan berperan untuk menyimpan cadangan-cadangan karbon secara besar.
Hutan juga mampu menyerap karbon dioksida berlebih yang ada di udara dan mengkonversinya
menjadi oksigen melalui proses fotosintesis yang dapat menyimpan karbon lebih dari dua ratus miliar
ton. Sehingga deforestasi berpengaruh sangat besar terhadap perubahan iklim yang berkaitan dengan
karbon-karbon yang ada di udara dan pada tanah gambut. Apabila lahan gambut kehilangan
pohon di atasnya maka akan melepaskan karbon yang tersimpan ke udara. Di era globalisasi ini
setiap perusahaan dapat memperbesar pangsa pasarnya sehingga produksi barang juga meningkat, hal
ini menjadi salah satu sebab global warming yang terjadi saat ini. Di masa globalisasi ini di
perlukan peranan etika bisnis sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang dapat
memperparah global warming. Sustainability menjadi keinginan bagi pengusaha dalam mejalankan
usahanya di era globalisasi. Perusahaan di hadapakan dengan etika bisnis dengan memikirkan
mengenai lingkungan secara global. Makalah ini bertujuan untuk menilai penerapan etika Bisnis
yang terkait erat dengan Globalisasi, bahwa setiap kegiatan bisnis harus melestarikan lingkungan,
memiliki kepedulian terhadap lingkungan, dengan menerapkan penilaian dampak lingkungan, karena
undang-undang memerlukan penilaian dampak lingkungan (Environment Impact Assessment) dengan
standar ISO14020 dan ISO14024. Penilaian menggunakan pendekatan kualitatif dan memeriksa
penerapan Proses pengajuan ISO 14020 dan ISO14024.
Kata Kunci: Global Warming, globalisasi, Etika bisnis.

1. PENDAHULUAN
Global warming adalah suatu bentuk ketidakseimbangan ekosistem di bumi akibat terjadinya proses
peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di bumi. Global warming merupakan suatu proses
yang ditandai dengan naiknya suhu atmosfer , laut, dan daratan. Sekedar info , Suhu rata- rata global pada
permukaan Bumi telah melonjak 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) dalam seratus tahun terakhir. Beberapa
penyebab global warming salah satunya adalah Karbon dioksida atau cO2 yang dihasilkan oleh kegiatan
di bumi ini seperti pernafasan dan hasil pembakaran bahan bakar menyelubungi bumi. Karena kadarnya

30
JURNAL JUKIM Vol 2 No. 1 Januari 2023 | P-ISSN: 2829-0488E-ISSN: 2829-0518, Halaman 30-35
sudah berlebihan maka CO2 seolah seperti kaca yang menutup permukaan bumi. Dengan adanya
globalisasi membuat pangsa pasar semakin besar sehingga membuat kegiatan produksi meningkat,
meningkatnya kegiatan produksi membuat beberapa perusahaan mengabaikan masalah lingkungan hidup.

Issue ini menjadi sangat besar terutama untuk perusahaan yang akan melakukan export ke negara maju,
negara maju sangat memperhatikan mengenai masalah lingkungan ini sehingga mereka mempunyai
persyaratan khusus untuk perusahaan yang akan melakukan export ke negara maju. Etika bisnis mengenai
green industry sudah semestinya di hidupkan dan digalakkan dalam lingkungan para pelaku bisnis dan
perusahaan-perusahaan, dengan tujuan untuk menanamkan perilaku pada perusahaan supaya tidak hanya
memiliki tanggung jawab ekonomi saja dalam menjalankan operasional kesehariannya kepada para
shareholders yaitu berupaya untuk mendapatkan laba serta keuntungan yang sebesar-besarnya,
memperoleh kenaikan harga saham dan berbagai tanggung jawab ekonomi lainnya. Dengan adanya
kesadaran mengenai pentingnya lingkungan maka pangsa pasar yang akan di raih akan semakin besar,
dengan semakin besar pangsa pasar maka semakin besar keuntungan yang akan di raih.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan aku dan/atau memanfaatkan
sumber daya industri sehingga menghasilkan barang ang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih
tinggi, termasuk jasa industri. (Permen No.51/M IND/PER/6/2015 pasal 1 ayat 2). Tujuan pembangunan
industri nasional jangka panjang tertuang dalam Perpres No.28 Tahun 2008 tentang kebijakan Industri
Nasional menyatakan membangun industri dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Menurut
Kementerian Perindustrian dan Direktur Eksekutif PPBN, Marshal (2012) Green industry / industri hijau
adalah sebuah istilah yang dikenal melalui International Conference on Green Industry in Asia di
Manila, Filipina tahun 2009, atas kerjasama antara United Nations Industrial Development
Organization (UNIDO), United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific
(UNESCAP), United Nations Environment Programme (UNEP), International Labour
Organization (ILO), dan dihadiri 22 negara termasuk Indonesia. Salah satu output dari pertemuan
tersebut adalah dokumen Manila Declaration on Green Industry in Asia. Dokumen ini merupakan
komitmen bersama negara-negara di Asia dalam upaya penanganan masalah lingkungan hidup melalui
efisiensi penggunaan sumber daya dan pengurangan emisi gas karbon utamanya disektor industri.
Efisiensi sumber daya dapat dilakukan dengan menerapkan 3R (reduce, reuse, dan recycle) yang
merupakan inti dari cleaner production. Rendah karbon dapat dicapai dengan menerapkan CO2 emission
reduction yang sejalan dengan Clean Development Mechanism (CDM); effisiensi energi dan diversifikasi
dalam rangka mendapatkan energi terbarukan (Dewayana 2013). Saat ini negara-negara maju telah
berhasil secara luas mengelola isu-isu tentang green environment tersebut dan mentransformasikan
penerapan-penerapan standarisasi pencapaian green environment tersebut menjadi peningkatan daya saing
mereka di dunia internasional, baik dari sisi lingkungan, energi dan produk (Lin dan Ho, 2010)

Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis,
yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat.
Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang
berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat (sumarsid dan
Widi 2020,). Salah satu tanggung jawab perusahaan adalah

Tanggung jawab ini berkaitan dengan menjaga kelestarian lingkungan, misal dengan mencegah adanya
polusi disekitar tempat usaha. Perusahaan dapat melakukan pencegahan polusi dengan mendaur ulang
plastik serta melakukan pembatasan jumlah karbondioksida sebagai akibat dari proses produksi.

Produk ramah lingkungan dinilai bukan dari produk jadinya tetapi di nilai dari proses pemilihan bahan
baku, proses produksi sampai dengan kemasan sampai di konsumen. Hal ini memberikan gambaran
bahwa pemahaman tentang produk ramah lingkungan pada dasarnya mengacu secara keseluruhan dari
produk tersebut yaitu dari proses awal sampai akhir pasca konsumsi dan semua yang melekat pada produk
tersebut (Suntornpithug dan Indiana, 2017). Sektor industri merupakan salah satu sektor yang penting
dalam perekonomian nasional. Sektor industri masih memberikan kontribusi terbesar pada struktur
produk domestik bruto (PDB) nasional sepanjang triwulan II tahun 2020 dengan mencapai 19,87 persen.
Mewujudkan indrustri yang ramah lingkungan perlu di dukung dari semua pihak, pemerintah di harapkan
memberikan aturan-aturan yang mendukung adanya industri yang ramah lingkungan. Aturan-aturan ini di

31
JURNAL JUKIM Vol 2 No. 1 Januari 2023 | P-ISSN: 2829-0488E-ISSN: 2829-0518, Halaman 30-35
perukan untuk mendukung standarisasi sehingga tidak ada ketimpangan dari sisi biaya yang di keluarkan
oleh perusahaan, seperti contohnya pelarangan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar boiler.
Penggunaan energi alternatif saat ini semakin di galakkan untuk dapat mengurangi ketergantungan akan
bahan bakar fosil, beberapa alternatif yang bisa di pergunakan oleh sector industrial untuk mendapatkan
energy adalah penggunaan solar panel demi mendapatkan energi dari matahari, penggunaan bahan bakar
bio yang berasal dari flora dan fauna seperti pengolahan biji jarak dan biogas yang dihasilkan oleh
kotoran hewan ataupun penggunaan briket yang terbuat dari sekam padi. Dukungan juga harus di
dapatkan dari pengusaha, ini di karenakan investasi yang harus di tanamkan oleh pengusaha untuk
mendukung perubahan ini akan cukup besar. Menumbuhkan kesadaran diri manusia akan pentingnya
kelestarian lingkungan hidup adalah pekerjaan yang sulit dan berat, namun harus terus diupayakan.
Memberikan pengetahuan kesadaran akan lingkungan tidak hanya di lakukan di dalam duniat kerja tetapi
salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan memberikan pengarahan dan pembelajaran akan
pentingnya kelestarian hidup sejak dini lewat lingkungan pembelajaran, baik di rumah, di sekolah
maupun di masyarakat luas sejak dini sehingga terjadi persamaan persepsi dalam membangun lingkungan
berkelanjutan.

3. METODOLOGI PENELITIAN
Bahasan dalam jurnal ini menggunakan metode kajian kepustakaan (library research), dimana semua
kajian didasarkan pada pendapat-pendapat ahli tentang green product, etika bisnis dan penerapannya
dalam suatu perusahaan di Indonesia. Penelitian pustaka (library research) merupakan penelitian yang
objeknya dicari dengan berbagai informasi pustaka seperti buku, jurnal ilmiah, majalah, koran, dan
dokumen. (Sari, 2020) Penelitian ini berbeda dengan penelitian lainnya yang mengharuskan melakukan
observasi atau wawancara dalam perolehan data. Penulisan Journal ini bertujuan untuk mengetahui
perkembangan green industry sebagai bagian dari tanggung jawab etika bisnis dalam mengurangi issue
Global warming di era globalisasi

4. HASIL DAN PEMBAHASAN


Pencemaran udara yang menyebabkan kualitas udara memburuk sendiri menurut PP nomor 41 tahun
1999 adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara
ambien oleh kegiatan manusia. Dampaknya mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.

Gambar 1. Emisi Gas Rumah Kaca

32
JURNAL JUKIM Vol 2 No. 1 Januari 2023 | P-ISSN: 2829-0488E-ISSN: 2829-0518, Halaman 30-35
Dampak pencemaran udara ini sendiri berdampak kepada lingkungan, tidak hanya terjadi di sekitar tetapi
juga terjadi berimbas kepada lingkungan global dan berefek kepada perubahan iklim dan pemanasan
global. Permasalahan pemanasan global ini merupakan persoalan yang sudah lama terjadi dan
mempunyai dampak yang sangat negative dan sangat luas bagi kehidupan. Salah satu dampak pemanasan
global adalah mencairnya es di kutub, dengan mencairnya es ini mengakibatkan naiknya permukaan
laut imbas naiknya permukaan air laut berefek kepada banyaknya daratan yang terkena bencana banjir.
Dari table di atas di dapatkan informasi mengenai peningkatan gas rumah kaca dari tahun ketahun, hal
ini menyebabkan lingkungan yang semakin parah semua ini di iringi dengan perkembangan permintaan
yang di lakukan oleh manusia untuk pemenuhan kebutuhan.
Indonesia pun melakukan upaya-upaya mitigasi. Indonesia melakukan upaya mitigas pada beberapa
sektor, yaitu :

1. Kehutanan
Kegiatan deforestasi (pengalih fungsian lahan hutan menjadi bentuk penggunaan lahan lainnya) dan
adanya perusakan hutan dalam skala luas, berpengaruh sangat besar baik secara langsung maupun dak
langsung terhadap peningkatan emisi GRK. Untuk mengatasi persoalan deforestasi ada beberapa kegiatan
yang dapat mendukung mitigasi adalah kegiatan yang berhubungan dengan penambahan stok karbon
dengan cara penanaman. Berbagai kegiatan penanaman telah dilakukan di Indonesia, antara lain melalui
pembangunanHutan Rakyat (HR), Hutan Kemasyarakatan (HKm), dan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Kegiatan- kegiatan tersebut mampu meningkatkan kapasitas lahan untuk menyerap dan menyimpan emisi
terutama di luar kawasan hutan atau di kawasan hutan yang berstatus lahan kritis.

2. Pertanian
Beberapa kegiatan dalam sector pertanian yang berpotensi menjadi sumber emisi antara lain adalah:
berasal dari pembakaran, pelepasan gas N2O dari kegiatan pemupukan, dan CO2 dari proses respirasi
tanaman dan dekomposisi (pelapukan). Program-program aksi mitigasi di sektor pertanian antara sebagai
berikut:
a. Penerapan Teknologi Budidaya Tanaman, Contoh : Program SLPTT, SRI, Varietas padi
rendah emisi)
b. Pemanfaatan pupuk organik dan biopestisida contoh : UPPO ( Unit Pengolahan Pupuk Organik)
c. Pemanfaatan kotoran/urin ternak dan limbah pertanian untuk biogas contoh : program
BATAMAS (Biogas Asal Ternak Bersama Masyarakat)
d. Penggunaan varietas padi rendah emisi gas CH4
e. Penggunaan limbah pertanian untuk bioenergi dan kompos.
f. Pengembangan pupuk organik untuk peningkatan simpanan karbon dalam tanah
g. Pengembangan teknologi biogas dan pakan untuk mengurangi emisi GRK dari ternak
3. Industri
Emisi GRK dari proses produksi adalah emisi yang dihasilkan dari reaksi kimia atau secara fisik
menghasilkan zat sisa yang diklasifikasikan sebagai emisi GRK. Dalam upaya mitigasi perubahan
iklim, pada sektor industri, Kementerian Perindustrian meminta pelaku industri untuk melaksanakan
alih teknologi yang efisien. Salah satunya adalah teknologi Regenerative Burner Combustion System
(RBCS), yaitu teknologi yang digunakan pada tungku pemanasan ulang dengan fungsi memanfaatkan
kembali gas buang yang masih mengandung energi cukup besar sehingga mampu menghemat energi di
industri. Dengan teknologi tersebut, konsumsi bahan bakar basis gas dapat dihemat sekitar 30 persen.
Teknologi RBCS telah dimanfaatkan oleh industri besi dan baja di Indonesia. Pada tahun 2006, alih
teknologi ini diaplikasikan oleh PT. Gunung Garuda.
4. Energi
Emisi CO2 sektor energi dapat berasal dari penggunaan bahan bakar fosil, seperti: batubara, minyak
bumi dan gas bumi, serta dari industri semen. Aksi mitigasi sektor energy dapat dilakukan melalui
berbagai cara, antara lain penghematan energi atau konservasi energi, diversifikasi energi. Konservasi
atau penghematan energi dapat dilaksanakan melalui peningkatan efisiensi peralatan, penggunaan
peralatan yang lebih efisien serta melaksanakan manajemen energi. Diversifikasi energi atau
penggantian bahan bakar dengan jenis energi lain, bertujuan untuk mengurangi pengunaan bahan bakar

33
JURNAL JUKIM Vol 2 No. 1 Januari 2023 | P-ISSN: 2829-0488E-ISSN: 2829-0518, Halaman 30-35
yang mempunyai kandungan karbon tinggi dengan jenis energi yang mempunyai kandungan karbon
rendah atau tanpa kandungan karbon antara lain melalui :
a. Substitusi Energi yaitu upaya untuk mengganti energi yang ada dengan jenis energi lain yang
lebih murah, mudah secara teknis dan tanpa mengurangi kinerja alat. Sebagai contoh dalam
pembangkitan listrik maka penggantian minyak solar pada PLTD dengan biofuel atau mikro
hidro.
b. Penggunaan Teknologi Rendah Karbon Pemanfaatan teknologi rendah karbon sebagai
pengganti PLT Bahan Bakar Fosil secara drastis akan dapat mengurangi pelepasan gas rumah
kaca (CO2) ke atmosfir. Teknologi yang termasuk dalam kategori ini antara lain
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), PLTS, PLTMH (Mikrohidro),
Beberapa cara mengatasi perubahan iklim secara global telah di lakukan, pembicaraan antar
perwakilan negara menghasilkan beberapa perjanjian antara lain :
REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation, role of conservation,
sustainable management of forest and enhancement of forest carbon stocks in developing
countries)

merupakan upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, peran konservasi,
pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan stok carbon hutan dengan menggunakan pendekatan
nasional dan implementasi di sub nasional. Hutan Indonesia memegang peran strategis dalam
mitigasi dan adaptasi
perubahan iklim sehingga menjadikan Indonesia sangat berkepentingan dengan REDD+. Indonesia
merupakan salah satu negara REDD+ yang telah aktif berperan dalam negosiasi terkait hutan dan
REDD+. Kegiatan REDD+ merupakan aksi yang dapat diukur atau hasilnya dinyatakan sebagai
pengurangan atau penghindaran emisi/peningkatan stok karbon. Di kembangkan sejak 2005 dan berjalan
sampai dengan saat ini.
4.1 Perjanjian Paris
Perjanjian Paris merupakan kesepakatan global yang monumental untuk menghadapi perubahan
iklim. Komitmen negara-negara dinyatakan melalui Nationally Determined Contribution (NDC) untuk
periode 2020-2030, ditambah aksi pra-2020.

Gambar 2. Isi perjanjian Paris

34
JURNAL JUKIM Vol 2 No. 1 Januari 2023 | P-ISSN: 2829-0488E-ISSN: 2829-0518, Halaman 30-35
5. KESIMPULAN DAN SARAN

Para pelaku bisnis diharapkan lebih mensosialisasikan mengenai konsep green product kepada
masyarakat, dengan lebih memperkenalkan dan mendorong pengembangan produk produk yang ramah
lingkungan sehingga tidak hanya stakeholders’ yang mengerti dan menyadari manfaat etika bisnis
berkonsep green ini

Memberikan sosialisasi terhadap masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam sehingga
mengurangi permasalahan global warming

Beradaptasi, adaptasi dipahami sebagai tindakan menyesuikan diri untuk mengantisipasi pengaruh buruk
iklim nyata. Dengan cara membangun strategi antisipasi dan memanfaatkan peluang- peluang yang
menguntungkan. Tujuannya adalah meringankan dampak buruk perubahan iklim.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Handoko, Forry. Green Industrial System (Pendekatan baru dalam meningkatkan daya saing), 2020
[2] Radmiarti, Judiatin Kusumah, Green Product Segabai Penerapan Etika Bisnis Pada Perusahaan
Produsen Cat, Jakarta, 2020
[3] Suntornpithug, N., dan Indiana, S.K. 2017. Green Marketing: Millennials’ Perceptions Of
Environmentally Friendly Consumer Packaged Goods Products. Proceedings Of Iserd
International Conference, Taipei, Taiwan, 26th-27th June
[4] Lin, C.Y., Ho,Y.H, (ʹͲͳͲ); ”Determinants of Green Practice Adoption for Logistics Companies in
China”, Journal of Business Ethics, 98:67-85.
[5] Sumarsid SE,MM dan Widi Winarso SE,MM ; Pengantar bisnis , 2020 :16
[6] https://lindungihutan.com/blog/pengertian-deforestasi-penyebab-dan-dampak/
[7] http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php
[8] https://www.kemenperin.go.id/

35

You might also like