Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
KONSTRUKSI MASKULINITAS PADA KOMIK MANGA
INDONESIA DI WEBTOON
Arief Ruslan1*
1)Universitas
Budi Luhur, Jakarta
Diterima: 30 November 2020 / Disetujui: 19 Desember 2020
ABSTRACT
Manga provides a space for creation, imagination, and the expectations of female writers and
readers in expressing the concept of masculinity about the imaginary of men. In the Webtoon application,
manga comics have high popularity from various countries, one of which is Indonesia. A popular
Indonesian comic entitled “Pasutri Gaje”, constructs masculine idealism through visual narrative, so that
the imaginary messages about men characters are presented in new and popular forms. This study uses
discourse analysis with surveillance and uncovering the texts that are present in the comics. The findings
in this study are that the visualization of masculine of men characters is more on the concept of kawaii-
nism (sweet) and bihosen (beautiful men) as male postural idealism. It is through examination of the text
that important premises become strange desires and sensuality which can be explored. The term "beautiful
man" is described in a visually focused, large panel, with a chorus, building on the sensuality of the manga
masculine man. While the imaginary masculinity as the hope of female writers and readers is expressed
through very gentle attitudes and traits, this builds collectivity about masculine interpretations in manga.
Keywords: kawaii, beautiful man, manga, social imaginary, comic
ABSTRAK
Manga memberikan ruang kreasi, imajinasi serta harapan para penulis serta pembaca wanita dalam
menuangkan konsep maskulinitas tentang posisi imajiner pria. Dalam aplikasi Webtoon, komik manga
mempunyai popularitas yang cukup tinggi dari berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia. Komik
populer Indonesia yang berjudul Pasutri Gaje, mengkontruksi idealisme maskulintas melalui visual naratif,
sehingga pesan imajiner tokoh pria dihadirkan dengan bentuk-bentuk yang baru dan populer. Studi ini
menggunakan analisis wacana dengan memeriksa serta membongkar melalui teks-teks yang hadir dalam
komik. Temuan dalam studi ini yakni, visualisasi tokoh pria maskulin lebih mendekati pada konsep kawaii-
nisme (cantik) dan bihosen (pria cantik) sebagai idelisme postur pria. Melalui pemeriksaan terhadap teks
memperlihatkan premis-premis penting yang menjadi hasrat aneh dan sensualitas dapat dieksplorasi. Istilah
"pria cantik" digambarkan melalui visual yang terfokus, dengan panel besar, berdiorama, membangun
sensualitas pada pria maskulin manga. Sedangkan imajiner maskulinitas sebagai harapan penulis serta
pembaca wanita tertuang melalui sikap dan sifat yang sangat lembut, hal ini membangun kolektifitas
tentang interpretasi maskulin dalam manga.
Kata Kunci: kawaii, pria cantik, manga, imajiner sosial, komik
PENDAHULUAN (Galbraith, 2011). Pada sebahagian besar
Manga memungkinkan para budaya, komik menargetkan untuk para
pembaca memasuki arena imajiner ketika pembaca pria. Dalam kasus manga yang
visual dan narasi bisa menjadi sangat dipelopori oleh negara Jepang, terlihat lebih
menggemaskan. Beberapa manga berbeda, karena bentuk genre ini secara
dimaksudkan untuk mengganggu atau bergenerasi sebagai gaya hidup untuk
membangkitkan perasaan kita, sementara pembaca wanita. Hal tersebut memberikan
orang lain mungkin membangkitkan dengan fakta bahwa manga mewakili industri
kuat respon emosional terhadap cerita
______________________
*email: [Link]@[Link]
Jurnal Titik Imaji | 60
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
budaya terbesar yang dibuat Jepang untuk penulis manga Indonesia mempunyai
penulis serta pembaca para wanita. peringkat dengan jumlah pembaca serta
Khusus untuk partisipan wanita pengikut yang mengagumkan. Komik
dalam produksi dan konsumsi komik manga Pasutri Gaje (PG) sangat dikenal
yang memulai aktivitasnya setelah komik- kepopularitasannya, hal tersebut dapat
komik manga booming, seringkali terjadi terlihat dalam rentang waktu 2 bulan
kecenderungan untuk menganggap manga semejak diterbitkan tahun 2016 silam
sebagai bentuk budaya baru mereka ini dapat mempunyai 99.999+ pengikut, dan pada
menciptakan identitas dan ide mereka tahun 2020 melejit hingga mencapai 23 juta
sendiri (Sugawa & Shimada, 2019). Penulis- pengikut2. Dengan mempunyai total sekitar
penulis serta perancang gambar wanita 176 episode dan season (babak) ke empat
mengekspresikan diri mereka melalui komik dapat diasumsikan sebagai manga yang laris
manga, di sana memberikan potensi yang manis dan mempunyai peminat yang luar
lebih besar dan fitur yang lebih mungkin biasa. Profil yang ditampilkan pada laman
untuk komik manga dieksplorasi dan karya manga tersebut menerangkan bahwa,
diperiksa dalam kaitannya dengan sang pengarang cerita bernama Annisa
perempuan yang sejauh ini belum pernah Nisfihani sebagai seorang comic artist dan
dianggap sebagai peserta utama dalam dunia freelance illustrator. Sejak debut tahun
komik (Ogi, 2019). Gaya manga telah 2010, beberapa karyanya berfokus pada
memengaruhi identitas wanita di Asia, salah cerita romance comedy shoujo/josei.
satu penelitian melihat para wanita Asia Komik PG sangat berorientasi
"menggunakan" produk budaya populer tentang sifat, sikap, serta tampilan seorang
Jepang seperti manga, anime, dan video pria yang menjadi panutan bukan hanya
game melalui cosplay dalam kaitannya keluarganya, bahkan disekitarnya. Narasi
dengan kehidupan, identitas, dan bagaimana dikontruksi melalui visual naratif yang
mereka bernegosiasi dengan masalah gender gamblang tanpa bentuk-bentuk abstrak,
tersebut (Sugawa & Shimada 2019). sehingga dapat dan mudah dicerna
Di Indonesia, manga dan anime pembacanya. Fantasi dan bentuk karakter
sangat populer. Pada survey pada tahun imaginer bermain peran yang penting pada
2017, menunjukan 76,45% masyarakat komik PG ini. Sebagai olahan kreatifitas
sangat suka dan menikmati manga, dan 50% penulis, PG tanpa sadar menyuguhkan cerita
menggunakan sumber komik online, serta tentang seorang “pria” yang maskulin dan
29,54% mereka membaca komik manga menjadi harapan serta idola tersendiri untuk
setiap hari1. Komik online dapat fikatakan kaum wanita. Ekpresi dalam kreatifitas gaya
sebagai suatu bentuk yang trendi bagi para manga anak perempuan ini berdampak
peminat komik, dengan kemudahan dan signifikan, antara lain representasi mereka
murahnya internet, pilihan aplikasi juga terhadap menggambarkan stereotype pria
tersedia sangat banyak. Webtoon menjadi secara visual dan naratif.
salah satu aplikasi yang sangat populer Penelitian tentang maskulinitas
sabagai tempat penampung para penulis bukan hal yang baru, bahwa konsep
manga. Aplikasi besutan Line ini hegemonik maskulinitas, dirumuskan dua
menghadirkan penulis-penulis cerita dari dekade lalu, memiliki pertimbangan yang
berbagai negara seperti Jepang, Korea, sangat mempengaruhi pemikiran terkini
China, bahkan dari negara Indonesia-pun tentang laki-laki, jenis kelamin, dan hierarki
juga ikut andil. sosial (Connel, 2005). Konsep hegemoni
Genre romatisme terpajang sebagai maskulinitas pertama kali diusulkan dalam
paling populer pada aplikasi Webtoon. laporan dari suatu lapangan studi tentang
1 2
[Link] [Link]
nesian-very-love-with-manga-and-anime-why/ ri-gaje/list?title_no=790 akses pada 10-10-2020
Jurnal Titik Imaji | 61
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
ketidaksetaraan sosial di sekolah-sekolah Dengan demikian penelitian ini mencoba
menengah Australia di sebuah diskusi memetakan serta memeriksa hegemonik
konseptual terkait pembuatan maskulinitas maskulinitas dalam visual naratif yang
dan pengalaman tubuh laki-laki (Kessler et dikonstruksi sang pengarang. Tujuan dalam
al. 1982). Model hegemonik yang penelitian ini mencoba mengungkapkan
dilegitimasi secara sosial maskulinitas juga “keinginan” komikus wanita dalam
berperan dalam keluarga. Misalnya, bentuk mengkonstruksi idelisme imaginer seorang
strategi gender laki-laki bernegosiasi seputar pria maskulin dalam bentuk visual naratif
pekerjaan rumah tangga dan "giliran kedua" yang dihadirkan melalui manga.
dalam keluarga AS yang diteliti oleh
Hochschild (1989).
Pemeriksaan hegemonik METODE PENELITIAN
maskulinitas pada awalnya sering Penelitian ini memeriksa tentang
menunjukan “kemampuan” seorang pria dan komik manga yang berjudul Pasutri Gaje
bentuk-bentuk tubuhnya. Messner (1992) yang dikreasikan oleh Annisa Nisfihani pada
misalnya, memeriksa tentang maskulinitas aplikasi Webtoon. Fokus peneliti mengambil
profesional atlet, di mana penggunaan karakter Abdimas yang dihadirkan melalui
"tubuh sebagai senjata" dan kerusakan cerita tersebut untuk membongkar wacana
jangka panjang tubuh pria tersebut diamati yang dihadirkan. Barker (2005)
dan diteliti. Konstruksi maskulinitas dalam mengungkapkan, bahwa identitas
konteks kemampuan (Gerschick & Miller, merupakan konstruksi diskursif, produk
1994), tubuh pekerja dari laki-laki kelas wacana-wacana, atau cara-cara tertentu
pekerja (Donaldson, 1991), kesehatan dan dalam berbicara tentang dunia. Sebagai
penyakit laki-laki (Sabo & Gordon, 1995), konstruksi diskursif, tutur dan pertulisan
dan anak laki-laki sebagai korban kekerasan dapat dikenal dan memperkenalkan jati
interpersonal (Messerschmidt, 2000) adalah dirinya, singktanya, identitas diciptakan
beberapa tema dalam penelitian sehingga terbentuk dari representasi melalui
menunjukkan bagaimana tubuh dipengaruhi bahasa (teks). Metode yang digunakan yakni
oleh proses sosial. Diskusi teoritis memiliki kualitatif sebagai unit interpretivisme
mengeksplorasi relevansi "sosiologi baru (Mulyana, 2018); penelitian ini diperiksa
tubuh" dengan konstruksi kejantanan menggunakan analisis tekstual sebagai
(Connell 1995). usaha untuk mengungkap makna pada teks-
Pada kasus komik, penelitian teks yang hadir dalam masyarakat (Berger,
tentang hegemonik maskulinitas juga 2010). Analisis teks visualisasi tokoh utama
menjadi penemuan yang menarik. Beberapa menggunakan pendekatan semisosis Barthes
penelitian pada kasus ini juga (1967) untuk memahami gaya visual sebagai
memperlihatkan konsensus seorang wanita bentuk idealisme penokohan. Sedangkan
mengkontruksi visual naratif seorang pria. pemeriksaan struktur narasi yang dihadirkan
pada penelitian Nagaike (2019), melihat akan menghubungkan konteks dalam
visual naratif dengan mempertimbangkan Imajiner sosial sebagai praktik kolektif dan
keadaan sosiokultural yang memungkinkan pemahaman bersama yang memungkinkan
penulis manga Jepang untuk mengolah rasa legitimasi secara luas Taylor (2004).
idenya tentang "maskulinitas lembut" pada
komik Fudanshi. Miller (2005) juga meneliti HASIL DAN PEMBAHASAN
cara-cara di mana banyak pria Jepang Proses signifikasi yang secara
melihat kawaii (imut) sebagai gambaran tradisional disebut sebagai denotasi ini
ideal wanita Jepang tentang pria. mengacu kepada penggunaan bahasa degan
Dengan populernya manga arti yang sesuai dengan apa yang terucap
Indonesia PG, memberikan wacana diskursif Barthes (1967). Ideologi ada selama
tentang sebuah keluarga bahagia dari latar kebudayaan ada, sehingga jika berbicara
belakang seorang pria melalui cerita. tentang konotasi, maka berbicara juga
Jurnal Titik Imaji | 62
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
tentang suatu ekspresi budaya. Kebudayaan ramping. Konstruksi karakter lokal
mewujudkan dirinya dalam teks-teks, setidaknya menjadi bagian utama dalam
dengan demikian, ideologi pun mewujudkan cerita ini. Bekerja di institusi pemerintahan,
dirinya melalui pelbagai kode yang masuk yakni Pegawai Negeri Sipil (PNS)
ke dalam teks dalam bentuk penanda- dihadirkan melalui perangkat-perangkat
penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut teks. Beberapa adegan dalam cerita juga
pandang (point of view), dan sebagainya. mengahadirkan budaya lokal melalui baju
Praktik komunikasi memproduksi barcorak batik. Yang menjadi poin utama,
realitas dihasilkan secara termediasi, dan visualisasi Abdimas ini diksontruksikan
wacana ditampilkan baik dalam bentuk text pada bentuk pose yang dapat dikatakan
(tulisan atau gambar), talk (lisan dan “muda”, lucu, atau kawaii dalam kossa kata
percakapan), act (tindakan dan gerakan), Jepang dalam dunia manga.
maupun dalam artefact (bangunan dan tata Kawaii sangat populer khususnya
letak). Bentuk-bentuk yang dihadirkan akan pada komik-komik manga, setidaknya
selalu membangun tanda-tanda yang dalam beberapa komik Jepang, keimutan
merupakan alat utama dalam proses tokoh menjadi landasan penting intepretasi
konstruksi realitas. Berger, Peter dan karakter sebagai pilihan kaum perempuan.
Luckman (dalam Hamad, 2010. Hal: 49-55), Istilah kawaii atau keimutan karakter selalu
mengatakan proses konstruksi realitas ditampilkan dalam beberapa bentuk visual
dimulai ketika seorang kustruktor atau penggambaran cerita (biasanya karakter
melakukan obyektifikasi terhadap suatu yang lugu dan sedikit bodoh), terlebih lagi
kenyataan, yakni melakukan persepsi istilah tersebut merujuk kepada wanita yang
terhadap suatu objek. Representasi untuk cantik, lucu, dan lugu dalam komik Jepang.
berkomunikasi serta kemampuan Pada komik PG, “imut” saling berhubungan
mereproduksi gambar untuk distribusi citra dengan maskulinitas, hal ini disebut
tidak terlepas oleh penghadiran visual. transisional gender. Seperti yang
Selain itu juga elemen visual merupakan disampaikan Miller (2005), bahwa transisi
pendekatan dalam kemampuan yang kawaii sudah bertajuk kepada maskulinitas
dipelajari untuk menafsirkan pesan visual seorang pria dalam visual naratif. Pada
yang akurat dan bahkan membuat pesan- gambar yang hadir menampilkan sistematika
pesan tersebut (Messaris, 1994). karakterisitik maskulinitas yang meluas.
Visualisasi tokoh Abdimas dalam Hegemonik kejantanan tidak ditampilkan
PG digambarkan seorang pria yang tinggi, melalui otot, melainkan melalui sifat-
semampai, tidak terlalu gemuk ataupun sifatnya seperti keluguan, keharmonisan,
kurus, lebih tepatnya mungkin bertubuh dan sesualitas.
Gambar 1. Visualisasi karakter tokoh pria“Mas” pada beberapa episode komik Pasutri gaje
Sumber: Webtoon, 2020
Pada gambar yang peneliti ambil memperlihatkan Abdimas atau “mas”
dari beberapa episode PG di Webtoon sebagai nama panggilan, dengan beberapa
Jurnal Titik Imaji | 63
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
morphologi bentuk visual. Morphologi tokoh pria maskulin bercampur dengan
visual menampilkan perubahan-perubahan karakter “manis” mengubah karakter lebih
gambar untuk mencerminkan kondisi dan kepada heteroseksual. Visual heteroseksual
lingkungan diri serta sosial. Pada kasus karakter dicerminkan sebagai “maskulinitas
tokoh Abdimas, morphologi ini menunjukan yang lembut”, sedikit feminim, bahkan
seorang pria menjadi tokoh yang diidam- diadopsi sebagai transeksual (Nagaike,
idamkan. Keluguan ditampilkan dalam 2019); atau kkominam yang
bentuk gambar yang berseri-seri dan menggambarkan bihosen (laki-laki cantik)
menghibur, gaya romantis dihadirkan wajah andorgini (feminim) dalam sebagai visual
yang memesona, serta sensualitas melalui heteroseksual komik Korea (Jung, 2012).
gaya bahasa tubuh yang menggemaskan. Kawaii-nisme dan sindrom
Panel visual dihadirkan dengan bentuk kkominam dilihat sebagai idealis
berukuran besar seringkali dihadirkan maskulinitas pria sebagai idola bukan hanya
seperti diorama, dengan fokus pada pose pada Jepang dan Korea, melainkan juga
karakter seolah-olah mereka adalah model hadir di Indonesia. Populernya Korean Pop
dalam fotografi focus shoot kepada artis (Kpop) ditunjukan hegemonik maskulinitas
untuk konten periklanan. Representasi pria- itu dihadirkan. Para artis pria baik dalam
kawaii yang didefinisikan cantik seakan- film hingga musik populer (boyband)
akan menjadi satu kesatuan dengan menyajikan karakteristik seorang pria
maskulinitas sebagai imajinasi dan harapan berwajah halus, putih, berpipi tirus,
bahkan idola bagi para wanita. berbadan ramping, dengan mata yang
Ketampanan tokoh pun tidak berbinar-binar membuat gaduh seorang
terlepas dalam bagian definitif hegemonik penggemar untuk berteriak bahkan memuja-
maskulinitas. Adegan-adegan gambar muja. Tubuh heteroseksual pada pria-kawaii
seringkali ditampilkan dalam bentuk menjadi objek fantasi yang erotis. Hal
memukau, besar, dengan panel-panel komik tersebut membuka ruang fantasi di mana ada
yang utuh (lebih fokus dan condong kepada potensi bagian organisasi pada tubuh
karakter tersebut). Subteks (penghubung) dipolitisasi hasrat dan keinginan (Buckley
menunjang orientasi seksualitas tubuh, 1991).
misalnya, salah satu adegan menceritakan Tentang sandingan tokoh Korea
ketika tokoh “Ade” dan “Mas” sedang dalam simbolis karakter bukan sekedar
duduk berdua disebuah kantin kantor terjadi asumsi. Komentar yang diberikan oleh
sebuah dialog sebagai berikut: pembaca menekankan kemiripan karakter
tokoh Abdimas dengan tokoh idolanya.
Anonim1: Tuh! Manis banget kan cowok Seperti yang dituliskan pada kolom
yang di sana! Seragamnya PNS komentar oleh seseorang pembaca “ya
loh! (merujuk ke tokoh “Mas”). Allah, ngeliat adimas berasa ngeliat Lee
Anonim2: Eh iya! Jarang-jarang loh! Jongsuk, (akun: akucantiktidak? 2016)”.
Anonim1: Aaah sayang banget udah punya Kemiripan seorang tokoh dengan visual
istri! Galak pula! Istrinya gaje! pada Abdimas setidaknya membangun
minat seorang pembaca PG menjadi lebih
Representasi maskulinitas pada mendukung karya komik manga ini.
subteks yang dihadirkan sepertinya menjadi Pembentukan sensualitas pada
lebih meluas, bahwa “manis” lebih menjadi tokoh pria manga dihadirkan pada keelokan
dominan ditimbang “tampan” atau tubuh tokoh yang kurus, tetapi memberikan
“ganteng”. Interpretasi “manis” biasanya selera hasrat dengan bertelanjang dada,
diaplikasikan kepada seorang perempuan bahkan hanya pada bagian-bagian saja yang
yang mendekati kepada kecantikan atau terbuka. Orbaugh (2017) mengungkapkan,
keindahan, dan seringkali digunakan untuk aktivitas seksual eksplisit dengan bisho-nen
anak-anak. visualisai tokoh yang hadir pada (pria muda yang cantik) terlihat cantik
manga PG sepertinya menggambarkan dengan setengah bertelanjang dada menjadi
Jurnal Titik Imaji | 64
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
pose khas pada manga. Sesualitas ini dan ini sering tidak dinyatakan dalam istilah
mendorong upaya pembaca wanita teoritis, tetapi dibawa dalam gambar atau
membangun imajinasi maskulinitas pria cerita. Dalam beberapa kasus, teori ini sering
menjadi lebih liar. Pose populer ini hanya kali dimiliki oleh minoritas kecil, sedangkan
beberapa bagian pada komik PG, walaupun yang menarik dalam imajiner sosial, atau
demikian, pose tersebut memang cukup seringkali diistilahkan khayalan sosial
populer dan menjadi hegemoni yang khas adalah bahwa ia dimiliki oleh kelompok
dalam komik manga. besar orang, bahkan seluruh masyarakat.
Komik PG mengkonstruksi visual PG bercerita tentang kehidupan
“pria idaman” sepertinya dibangun atas keseharian dua sejoli suami istri. Sepertinya,
imajinasi dan harapan. Tentu saja visual penulis cerita memberikan karakter utama
tidak hadir secara tiba-tiba, ide yang kosong, yang sesungguhnya kepada sang istri.
atau begitu adanya, tetapi dibuat melalui Karakter tersebut ditampilkan orang yang
gagasan yang matang, atau dari pengalaman sangat cemburu, mudah marah, dan
sosial, bahkan imajinasi harapan seorang berpangku tangan kepada suaminya. Tetapi,
penulis perempuan dalam penciptaannya. bentuk yang lebih imajinatif pengarang
Imajiner sosial memainkan peran yang memperlihatkan idelisme seorang suami
signifikan dalam karya-karya yang hadir tersebut, karena hampir semua episode
setiap episodenya. Ogi (2004) menerangkan tipe idealisme seorang
menghubungkan penggunaan imajiner luar karakter “suami” itu. sehingga, dengan tanpa
angkasa dengan evolusi manga shojo sadar, sang penulis manga ini
menjadi seperti apa dia menggambarkan mengkonstruksi posisi imajiner pria
sebagai "ruang untuk anak perempuan" ( maskulin. Pembahasan cerita ini peneliti
shojo no kūkan ). Manga shojo semakin akan membagi karakteristik sikap serta yang
menjadi media ekspresi untuk anak memungkinkan penulis cerita memberikan
perempuan, ruang aman di mana penulis dan harapannya dalam kreatifitas komik manga
pembaca bisa terhubung dan berkomunikasi ini.
satu sama lain di luar norma masyarakat Karakteristik tokoh pria ditonjolkan
patriarkal tempat mereka tinggal (Prough pertama kali sebagai seorang yang tampan
2011 ). sehingga mempunyai banyak penggemarnya
Hall (1980) mengatakan bahwa mengakibatkan kegelisahan sang istri pada
khalayak mampu membangun interpretasi kejadian tersebut. Pada teks konstruksi pria
membuat teks cerita, adegan, dan gambar, yang perlu dijaga dari mata perempuan lain
dalam mempertimbangkan masalah budaya membangun kekuatan naratif sang pria yang
seperti pembentukan identitas. Secara sangat diidamkan. Peneliti meringkas cerita
mendalam, imaginer sosial memetakan citra yang disajikan PD sampai episode terakhir
identitas tertentu dalam mendefinisikan pada tahun 2020, yakni sebanyak 176
dunia sosial melalui penciptaan dan episode dengan 4 season (babak), dan
representasi manusia dalam gaya hidup mendapati bahwa cerita menghadirkan
kolektif mereka (Thompson,1984). Taylor sosok maskulinitas pria akibat karakteristik
(2004) dengan tegas mengungkapkan bahwa problem yang hadir melalui skema sang
imajiner sosial adalah cara orang biasa tokoh wanita.
"membayangkan" lingkungan sosial mereka,
Tabel 1. Karakteristik antar tokoh dengan problematika pada cerita
Karakteristik Wanita Karakteristik Pria Karakteristik Problem
• Cemburu • Tenang • Tempat kerja
• Gegabah • Penurut • Teman sejawat
• Lugu • Mengetahui isi hati wanita • Sistem keluarga: orangtua,
• Lucu • Membantu di dapur mertua, adik, ipar.
• Mudah terhasut • Pendengar • Sistem keluarga: anak
Jurnal Titik Imaji | 65
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
• Penurut • Penghibur • Rumor
• Mudah menangis • Berani • Kesalahan tokoh utama
• Penghibur • Lugu (wanita)
• Pembuat masalah • Lucu • Ketidak tahuan dan ketidak
• Cinta anak • Penarik perhatian sengajaan (oleh tokoh pria)
• Momong anak • Pemecah masalah
• Pencari ilmu • Cinta anak
• Cerewet • Momong anak
• Mudah marah • Pemberi ilmu
Sumber: cerita diambil melalui komik Pasutri Gaje, Webtoon, 2020.
Konstruksi imajiner tokoh pria, wanita. Pada konteks cerita, tokoh wanita
secara harfiah menggolongkan imajiner digambarkan menjadi dual-fungsi, pertama
sorang pria secara lebih luas (global) bagi kadang menjadi sumber permasalahan, dan
para wanita. Struktur cerita tersebut pun kadangkala mentransformasikan sesuatu
terbagi menjadi tiga karakteristik sebagai masalah lain menjadi masalah baru. Tentu
pembangun cerita yang saling memberikan saya tidak membahas bentuk permeasalahn
kausalitasnya, yakni karakteristik wanita, tentang gender wanita pada cerita ini.
karakteristik pria, dan karakteristik problem. peneliti berfokus pada permasalahan yang
Karakteristik problem memainkan peran diakibatkan tokoh wanita mereproduksi
yang paling utama, “mereka” lah yang maskulinitas tokoh pria pada setiap
membangun sebuah cerita yang akan episodenya.
mengakibatkan karakteristik wanita Idelisme maskulinitas pria
membangun lebih luas cerita, dan pada diasumsikan sebagai pemimpin keluarga
akhirnya karakteristik pria sabagai yang memiliki banyak aspek. Sebagai
“keluaran” akhir cerita. Misalnya, pada seorang pemimpin, sifat dan sikap
episode 3 yang berjudul “Mengambil direfleksikan melalui narasi manga PG
Keputusan” secara testruktur karakteristik dengan episode yang cukup banyak, melalui
wanita, yaitu Ade merasa membuat jalan berliku, kadang berputar ulang.
kesalahan sehingga merasa bimbang untuk Walaupun demikian, idealisme terhadap
bertindak sesuatu. Di lain hal, karakteristik karakteristik maskulin menjadi lebih jelas
problem, adik ipar yang diperankan oleh dan berarti sebagai harapan dan imajinasi
Ares dibayangkan oleh Ade sebagai pembaca komik tersebut. Beberapa
problematika yang sagat serius, walaupun komentar menggambarkan harapan yang
hanya tentang tertangkapnya Ade dan sama dan diinginkan wanita, misalnya sang
Abdimas bermesraan. Peran tokoh pria komentar berkata “ baca komik ini tuhh
yakni Abdimas menjadi pemecah masalah rasanya jadi pengen nikah aja bawaannya -
dengan beberapa tindakan seperti, ia dapat _-" atau “perhatian!!! bagi mahasiswa
membaca sikap tokoh wanita, memberikan tingkat akhir/mahasiswa yg lagi nyusun
nasehat, serta menenangkan hati istrinya skripsi dilarang membaca webtoon ini!
tersebut. webtoon ini menimbulkan baper, pengen
Kebergantungan sikap maskulin cepet nikah juga...wkwkwkwk”.
atas aksi dan reaksi tokoh melalui cerita Konstruksi wacana tentang
mengungkapkan kecenderungan wanita maskulinitas tokoh pria digambarakan
yang mempunyai banyak problematika secara sempurna. Bagaikan pahlawan super
hidup, baik secara intenal, eksternal, hal (hero) yang akan menolong siapapun,
yang sangat kecil, yang besar, atau yang kapanpun, dalam kondisi apapun dengan
kecil menjadi besar. Mungkin saja bagi para sabar dan senyuman. Kekuatan narasi
wanita sebagai seseorang yang lemah dan maskulinitas sebagai khayalan yang tinggi
ingin mendapatkan perlindungan, hanya saja sebagai impian dan harapan seperti halnya
menjadi ironis jika kelemahan ini pahlawan super. Hal ini memungkinkan
dibergantungkan kepada subordiat gender bahwa penulis serta pembaca wanita manga
Jurnal Titik Imaji | 66
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
PG mempunyai persamaan tokoh idola pria Barthes, R. 1967. Elements of Seminology.
melalui visual naratif ini. Rasa kesadaran London: Cape (first published in
kolektif masyarakat dipenuhi dengan 1964)
struktur narasi yang hadir, peneliti Berger, A., A. 2010. Narratives In Popular
meminjam istilah kesadaran dan intensitas Culture, Media, And Everyday Life.
kolektif Rosen (2013) sebagai rasa yang USA. SAGE Publications
sama dan kebersamaan dalam masyarakat Buckley, S. 1991. “‘Penguin in Bondage’: A
yang atas persamaan rasa (keberasaan). Graphic Tale of Japanese Comic
Books,” in Constance Penley and
SIMPULAN Andrew Ross, eds, Technoculture.
Manga atau yang lebih umum Minneapolis: University of
sebagai komik wanita memberikan Minnesota, pp. 163–195.
kreatifitas dan ruang bebas imajinasi para Connell, R. W., & Messerschmidt, J. W.
penulis wanita. Konstruksi maskulinitas (2005). Hegemonic masculinity
dihadirkan dalam bentuk visual naratif rethinking the concept. Gender and
dengan karakteristik bentuk tokoh, sifat serta Society, 19(6), 829–859.
sikap dalam cerita. Heteoseksual visual [Link]
tokoh menjadi pilihan dalam konstruksi 5278639
maskulinitas menghadirkan pria “cantik” Donaldson, M. 1991. Time of our lives:
atau kawaii sebagai idaman serta harapan Labor and love in the working class.
yang dapat memikat para pembacanya. Sydney, Australia: Allen and
Kawaii-nisme atau sindrom kkominam Unwin.
akhirnya memberikan pilihan baru bagi Galbraith, P.W. 2011. Fantasy Play and
peminat komik di Indonesia, khususnya para Transgressive Intimacy Among
peminat manga. Intensitas kolektif ‘Rotten Girls’ in Contemporary
menunjukan bahwa konsumsi atas imajiner Japan. Signs 37 (1): 211–232.
maskulinitas yang terbentuk atas rasa Gerschick, T. J., and A. S. Miller. 1994.
kebersamaan kolektif. PG menghadirkan Gender identities at the crossroads
maskulinitas dengan gaya cerita yang cukup of masculinity and physical
panjang yang dibayangkan sebagai sosok disability. Masculinities 2 (1): 34-
pemecah masalah dengan sikap kelembutan, 55.
kebaikan, keceriaan, kesabaran, dan hal-hal Hall, S. 1980. Encoding/decoding. In D.
yang lebih sejuk melalui pandangan komik. Simon (Ed.), The cultural studies
Penelitian ini memang sangat reader. Pp.90–105. London,
terbatas melalui konteks analisis teks yang England: Routledge
hadir pada komik manga PG pada aplikasi Hamad, I. 2010. “Komunikasi Sebagai
Webtoon. Penelitian ini diharapkan dapat Wacana”. Jakarta . La Tofi
memberikan sumbangsih terhadap ilmu Enterprise.
komunikasi, khususnya tentang wacana Hochschild, A. 1989. The second
pada komik manga Indonesia. Walaupun shift:Working parents and the
demikian, keterbatasan ini juga diharapkan revolution at home.
kepada peneliti-peneliti lain yang akan NewYork:Viking.
membahas komik manga yang belum Kessler, S. J., D. J. Ashenden, R.W. Connell,
tersentuh seperti, genre komik manga, serta and G.W. Dowsett. 1982. Ockers
pengaruh-pengaruh komik manga di and disco-maniacs. Sydney,
Indonesia. Australia: Inner City Education
Center
McLelland, M. 2016. Introduction:
REFERENSI Negotiating “cool Japan” in
research and teaching. In The End of
Cool Japan: Ethical, Legal and
Jurnal Titik Imaji | 67
Versi online: JURNAL TITIK IMAJI
[Link] Volume 3 Nomor 2: 60-68, Oktober 2020
Hasil Penelitian p-ISSN: 2620-4940
e-ISSN: 2621-2749
Cultural Challenges to Japanese Philippines. Women’s Manga in
Popular Culture. Asia and Beyond, 53–68.
Messaris, P. 1998. Visual aspects of media [Link]
literacy. Journal of Communication, 97229-9_4
48(1), 70–80. Jung, S. 2012. Korean Masculinities and
[Link] Transcultural Consumption. Hong
2466.1998.tb02738.x Kong: University Press of Hong
Messerschmidt, J. W. 1993. Masculinities Kong.
and crime: Critique and Taylor, C. 2004. Modern Social Imaginaries.
reconceptualization of theory. Duke University Press. London.
Lanham, MD: Rowman & Thompson, J. B. 1984. Studies in the Theory
Littlefield. of Ideology. Berkeley: University of
Messner, M. A. 1992. Power at play: Sports California Press.
and the problem of masculinity.
Boston: Beacon.
Mulyana, D. 2018. Metodologi Penelitian
Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial
[Link]. PT Remaja
Rosdakarya Offset.
Nagaike, K. 2019. Women’s Manga in Asia
and Beyond. Women’s Manga in
Asia and Beyond, 69–84.
[Link]
97229-9
Ogi, F. 2019. How Women’s Manga Has
Performed the Image of ASIAs,
Globally and Locally. Women’s
Manga in Asia and Beyond, 95–122.
[Link]
97229-9_7
Orbaugh, S. 2019. Manga, anime, and child
pornography law in Canada.
Women’s Manga in Asia and
Beyond, 94–108
Prough, J. 2011. Straight from the Heart:
Gender, Intimacy, and the Cultural
Production of Sho-jo Manga.
Honolulu: University of Hawaii
Press.
Rosen. H., D. 2013. Madness and
Creativity. Texas A&M University
Press. United States of America.
Sabo, D., and D. F. Gordon, eds. 1995.
Men’s health and illness: Gender,
power and the body. Thousand
Oaks, CA: Sage.
Sugawa., Shimada, A. 2019. Pleasurable
Interplay in the 2.5-Dimensional
World: Women’s Cosplay
Performances in Singapore and the
Jurnal Titik Imaji | 68