0% found this document useful (0 votes)
127 views12 pages

Analisis Penggunaan Formalin Tahu Serang

This document analyzes the factors influencing the use of formalin by tofu traders in traditional markets in Serang City. It finds that 67.4% of tofu samples from traders tested positive for formalin. There was no relationship found between attitudes and formalin use, but relationships were found between knowledge and supervision with use. Improving trader knowledge and supervision can help reduce unsafe formalin use in tofu.

Uploaded by

divting04
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
127 views12 pages

Analisis Penggunaan Formalin Tahu Serang

This document analyzes the factors influencing the use of formalin by tofu traders in traditional markets in Serang City. It finds that 67.4% of tofu samples from traders tested positive for formalin. There was no relationship found between attitudes and formalin use, but relationships were found between knowledge and supervision with use. Improving trader knowledge and supervision can help reduce unsafe formalin use in tofu.

Uploaded by

divting04
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

ARTIKEL

ANALISIS FAKTOR PENGGUNAAN FORMALIN


PADA PEDAGANG TAHU DI PASAR TRADISIONAL
KOTA SERANG

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Ir. Dharia Renate, [Link].

OLEH :
Diva Rayetha Lorensius Ginting
(D1C022061)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2023
ANALISIS FAKTOR PENGGUNAAN
FORMALIN PADA PEDAGANG TAHU DI
PASAR TRADISIONALKOTA SERANG
Diva Rayetha Lorensius Ginting
Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Jambi, Kampus UNJA
Pondok Meja,Muaro Jambi, Indonesia
Email : divalorensius17@[Link]

ABSTRAK
Formalin is known as a disinfectant, germicide and non-food preservative. For this
reason, useing formalin in tofu food products is strictly prohibited. The importance of
preventing the use of formalin in tofu traders has an impact on human health so it is safe for
consumption. The purpose of this study was to determine of formaldehyde used among tofu
traders in the traditional market of Serang City. Cross-sectional study with total sampling
technique. The research sample was 43 tofu traders and 43 tofu samples were taken.
Questionnaire instrument to obtain data on the variables of knowledge, attitudes and
supervision variables that had previously been tested for validity (r count > r table) and
reliability with Cronbach's alpha (α) value of 0.947 > 0.60. Tofu formalin content
examination was carried out by the Regional Health Laboratory (Labkesda) Serang City
using the Schiff reagent test. The results showed that there were (67.4%) tofu trader were
positive formalin. There is no relationship between attitudes and use of formaldehyde in tofu
traders (p=1,000). There is a relationship between knowledge (p=0.016) and supervision
(p=0.004) with the use of formalin in tofu traders. Application of regulations, supervision
traders and producers to prevent the use of formaldehyde in food.

Kata kunci: Formalin, Pasar Tradisional, Pedagang Tahu


PENDAHULUAN
Tahu sebagai prodak bahan pangan hasil olahan kedelai merupakan produk
makanan yang rentan mengalami kerusakan dan pembusukan. Produsen dan
pedagang tahu dengan pertimbangan ekonomis, praktis dan motive lainnya,
menambahkan bahan pengawet seperti formalin agar lebih tahan lama.
(Desrosier,Norman, 2008)

Larutan konsentrasi formalin sebesar 10-40% formaldehida. Penggunaan


formalin sebagai bahan non pengawet makanan. Dilarang penggunaanya
sebagai pengolahan makanan. (Saparinto,Hidayati,2006) Laporan tahunan Badan
Pengawasan Obat dan Makanan (POM) tahun 2018 tentang penggunaan bahan
berbahaya pada produk pangan jajanan menemukan dari 282 sampel jenis pangan
termasuk didalamnya produk tahu didapatkan sebesar 37,8% mengandung
formalin. (BPOM,2018) Monitoring lapangan yang dilakukan oleh Dinas
Kesehatan Kota Serang tahun 2017 menemukan adanya tahu berformalin yang
dijual sejumlah pedagang di Pasar lama dan Pasar Induk Rau (PIR) Serang.
Pemeriksaan sampel tahu sebanyak 12, terdapat empat tahu putih (33,3%) positif
berformalin. (Dinkes Kota Serang, 2017) Penelitian yang dilakukan oleh Lakuto
dkk, (2017) menemukan bahwa tahu berformalain sebanyak 13 positif (92,8%) di
Pasar Bersehati Kota Manado. Penelitian Syarfaini, Rusmin (2014), menemukan
bahwa dari 15 sampel tahu di delapan pasar tradisonal Kota Makassar sebanyak 5
sampel tahu (33,3%) positif mengandung formalin.
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pedagang tahu
mengidentifikasi formalin, bahaya penggunaan dan pengolahan makanan dapat
meningkatkan keamanan bahan pangan dan kesehatan masyarakat. (Wijaya dkk,
2011) Penelitian Arumsari dkk, (2017), menemukan pengetahuan sebagai faktor
perilaku penggunaan formalin pada pedagang dan produsen mie basah dan tahu di
Provinsi DKI Jakarta.

Hal tersebut berdasarkan wawancara mendalam diketahui formalin merupakan


bahan pengawet, dan dilarang pemakaiannya. Pedagang pasar tidak mengetahui
bentuk, sifat dan kegunannya, tetapi mengerti formalin berbahaya bagi manusia,
dengan keyakinan tidak berefek pada kesehatan. Adanya pemahaman bahwa
formalin dalam jumlah kecil tidak berdampak kesehatan. Sikap merupakan faktor
pendorong seseorang untuk berperilaku baik. Sikap tidak baik bertentangan dengan
norma yang berlaku di masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Arumsari dkk,
(2017), menemukan bahwa sikap berpengaruh terhadap perilaku masyarakat.
Peran pemerintah untuk penegakan hukum, pembinaan pedagang dan
produsen tahun mencegah pemakaian bahan pengawet pangan. (Sutiari,
Dwipayanti, 2011) Pencegahan dan pengendalian dilakukan instansi kesehatan,
Badan POM daerah, Dinas Perindustrian dan keterlibatan komunitas daerah.
(Hartati,2007)
Berdasarkan hal diatas, maka tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui
faktor penyebab penggunaan formalin pada pedagang tahu di Pasar Tradisonal
Kota Serang.

METODE PENELITIAN
Penelitian dengan studi cross sectional. (Arikunto,2010) Penelitian
dilaksanakan September-Desember 2019. Populasi didapatkan dari seluruh
pedagang tahu di pasar tradisional wilayah Kota Serang. Sampel merupakan total
populasi sebanyak 43 pedagang tahu dan pengambilan sampel tahu diantaranya
pasar lama sebanyak 5 sampel tahu, pasar taman sari sebanyak 8 sampel tahu, pasar
rau sebanyak 27 sampel tahu, dan pasar kalodran sebanyak 3 sampel tahu.
Variabelbebas diantaranya pengetahuan, sikap dan pengawasan. Variabel terikat
penelitian yaitu kandungan formalin tahu. Data primer didapatkan dengan
melakukan wawancara dengan pedagang tahu

menggunakan kuesioner terstruktur untuk mendapatkan data variabel


pengetahuan, sikap dan pengawasan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner
untuk mendapatkan data variabel pengetahuan, sikap dan pengawasan dengan uji
validitas dan reliabilitas yaitu 0.947 > 0,60. Pemeriksaan kandungan formalin tahu
dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Serang
menggunakan uji reagensia schiff. Data analisis berupa univariat.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik responden dari 43 pedagang tahu di pasar tradisional Kota
Serang, sebanyak 32 pedagang tahu berusia 26-45 tahun (74,4%). Sebagian
responden berjenis kelamin laki-laki (58,1%) pendidikan SMP sebesar (44,2%).
Dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik pedagang tahu


di pasar tradisional Kota Serang
No. Karakteristik Frekuensi (%)
1. Usia
18-25 tahun 7 16,3
26-45 tahun 32 74,4
46-60 tahun 4 9,3
2. Jenis Kelamin
Laki-Laki 25 58,1
Perempuan 18 41,9
3. Pendidikan
Tidak Tamat SD 4 9,3
Tamat SD 13 30,2
SMP 19 44,2
SMA 7 16,3

Tabel 2. Distribusi frekuensi kandungan formalin pedagang


tahudi pasar tradisional Kota Serang

No. Kandungan Formalin Tahu Frekuensi (%)


1. Positif 29 67,4
2. Negatif 14 32,6
Jumlah 43 100

Tabel 2 menunjukkan bahwa sebanyak 29 sampel tahu positif formalin


(67,4%) dan (32,6%) negatif formalin. Adapun lokasi pedagang tahu yang
mengandung formalin dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 3. Distribusi frekuensi kandungan formalin pedagang tahu berdasarkan


lokasidi pasar tradisional Kota Serang
No. Pasar Kandungan formalin Total
Positif (%) Negatif (%)
1. Lama 3 60 2 40 5
2. Taman sari 6 75 2 25 8
3. Rau 20 74,1 7 25,9 27
4. Kalodran 0 0,0 3 100 3
Jumlah 29 67,4 14 32,6 43

Hasil analisis diketahui bahwa dari 43 sampel tahu di pasar tradisional Kota
Serang, sebanyak 29 sampel tahu (67,4%) positif mengandung formalin terdapat di
Pasar lama sebanyak 3 sampel tahu (60%), pasar taman sari sebanyak 6 sampel tahu
(75%), pasar rau sebanyak 20 sampel tahu (74,1%), dan pasar kalodran dari tiga
sampel tahu seluruhnya negatif tidakmengandung formalin.

Tabel 4. Distribusi frekuensi pengetahuan pedagang tahu di Pasar TradisionalKota


Serang

No. Pengetahuan Frekuensi (%)


1. Tidak Baik 25 58,1
2. Baik 18 41,9
Jumlah 43 100
Hasil analisis diatas diketahui bahwa dari 43 pedagang tahu pasar
tradisional Kota Serang, sebanyak 25 pedagang tahu (58,1%) berpengetahuan tidak
baik dan 18 pedagang tahu (41,9%) berpengetahuan baik.

Tabel 5. Distribusi frekuensi sikap pedagang tahu di Pasar Tradisonal Kota


Serang

No. Sikap Frekuensi (%)


1. Tidak Baik 23 53,5
2. Baik 20 46,5
Jumlah 43 100

Hasil analisis diketahui sebanyak 43 pedagang tahu pasar tradisional Kota Serang,
sebanyak 23 pedagang tahu (53,5%) bersikap tidak baik dan 20pedagang tahu
(46,5%) bersikap baik.
Tabel 6. Distribusi frekuensi pengawasan pada pedagang tahu di pasar
tradisonalKota Serang
No. Pengawasan Frekuensi (%)
1. Ada 34 79,1
2. Tidak Ada 9 20,9
Jumlah 43 100

Hasil analisis didapati dari 43 pedagang tahu di pasar tradisional


Kota Serang, sebanyak 25 pedagang tahu. (79,1%) menyatakan tidak mendapatkan
pengawasan dan 9 pedagang tahu (20,9%)menyatakan mendapat pengawasan.

Tabel 7. Hubungan antara pengetahuan dengan kandungan formalin


pedagang tahu di pasar tradisional Kota Serang

No. Pengetahuan Kandungan Formalin Pedagang Total p value


Tahu di Kota Serang
Positif Negatif
N % N %
1. Tidak Baik 21 84,0 4 16,0 25 0,016
2. Baik 8 44,4 10 55,6 18

Analisis hubungan diperoleh nilai (Pv = 0,016) dengan nilai (OR=6,5). Pengetahuan
pedagang tahu yang tidak. baik memiliki peluang risiko 6,5 kali tahu positif
mengandung formalin dibandingkan pengetahuannya baik.

Tabel 8. Hubungan antara sikap dengan kandungan formalin pedagang tahu


di pasar tradisional Kota Serang

No. Sikap Kandungan Formalin Pedagang Total p value


Tahu di Kota Serang
Positif Negatif
n % N %
1. Tidak Baik 16 69,6 7 30,4 23 1,000
2. Baik 13 65,0 7 35,0 20

Penelitian menunjukkan hasil tidak terdapat hubungan signifikan antara sikap


dengankandungan formalin padapedagang tahu. (Pv = 1,000).
Tabel 9. Hubungan antara pengawasan dengan kandungan formalin pedagang
tahu
di pasar tradisional Kota Serang

No. Pengawasan Kandungan Formalin Pedagang Total p value


Tahu di Kota Serang
Positif Negatif
n % N %
1. Tidak Ada 27 79,4 7 20,6 34 0,004
2. Ada 2 22,2 7 77,8 9

Penelitian menunjukkan hasil hubungan signifikan antara pengawasan dengan


kandungan formalin padapedagang tahu. (Pv=0,004). Pedagang tahu tidak
mendapatkan pengawasan mempunyai peluang menjual tahu berformalin 13,5 kali
dibandingkan yangmendapatkan pengawasan.

PEMBAHASAN
Gambaran Kandungan Formalin Tahu
Hasil analisis penelitianm dari 43 sampel tahu sebanyak 29 (67,4%) positif
mengandung formalin diantaranya pasar lama sebanyak 3 sampel tahu (60%),
taman sari sebanyak 6 sampel tahu (75%), rau sebanyak 20 sampel tahu (74,1%), dan
sampel kalodran seluruhnya negatif. Penelitian Lakuto dkk, (2017)
menemukan kandungan formalin pada tahu sebesar (92,8%). Syarfaini,Rusmin
(2014), menemukan bahwa dari 15 sampel tahu di delapan pasar tradisonal Kota
Makassar sebanyak 5 sampel tahu (33,3%) positif mengandung formalin.
Hasil observasidilapangan terhadap karakteristik fisiktahu berformalin di
pasar tradisional Kota Serang diantaranya tekstur kenyal, warna cerah tampak
mengkilat, tekstur lebih banyak berongga dan jika dijatuhkan tahu akan memantul.
Rekomendasi BPOM Republik Indonesia tahun 2018, menunjukkan bahwa ciri-ciri
fisik tahu berformalin diantaranaya adalah tekstur kenyal, tidak mudah hancur, awet,
danberbau khas formalin, bukan bau khas tau.(BPOM, 2018).

Masih maraknya tahu berformalin. Diduga akibat biaya murah dan banyak
dipasaran membuat produsen tahu masih memilih formalin. Peran perilaku manusia
menjadi faktor utama penggunaan formalin pada produk tahu. Upaya untuk
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pedagang tahu mengidentifikasi
formalin, bahaya penggunaan dan pengolahan makanan dapat meningkatkan
keamanan bahan pangan dan kesehatan masyarakat.(Wijaya dkk, 2012)
HASIL
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 43 pedagang tahu di pasar
tradisional Kota Serang, sebanyak 25 pedagang tahu (58,1%) berpengetahuan tidak
baik dan 18 pedagang tahu (41,9%) berpengetahuan baik. Berdasarkan hasil
pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pengetahuan tidak baik pada pedagang
tahu di pasar tradisional Kota Serang diantaranya kurangnya pengetahuan
(bentuk, sifat dan kemanfatannya termasuk bahan pengawet yang dizinkan).
Penelitian terkait pengetahuan yang rendah menjadi faktor dominan dalam
praktiknya. Salta dan Citosan belum dimanfaatkan sebagai bahan pengawet.
(Arumsari dkk, 2017). Faktor predisposisi seperti pendidikan formal diduga
berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan responden. Berdasarkan distribusi
karakterisitk responden, tamatan SMP (44,2%) dan SD (30,2%). Pengetahuan
berkorelasi dengan pendidikan, diharapkan semakin luas pengetahuannya. Terdapat
signifikansi antara pengetahuan dengan tahu berformalin (p value = 0,016 < 0,05).
Nilai OR=(6,563), Pengetahuannya tidak baik (6,563) kali risiko lebih tinggi dengan
tahu positif berformalin. Penelitian Arumsari dkk, (2017), menemukan bahwa faktor
pengetahuan berpengaruh terhadap perilaku.

Sikap
Sikap merupakan faktor pendorong seseorang untuk berperilaku baik. Sikap
tidak baik tidak sesuai dengan norma masyarakat. Hasil penelitian menemukan
bahwa dari 43 pedagang tahudi pasar tradisional Kota Serang, sebanyak 23
pedagang tahu (53,5%) bersikap tidak baik dan 20 pedagang tahu (46,5%) bersikap
baik. Berdasarkan hasil temuandilapangan menunjukkan bahwa pedagang tahu
pasar tradisional Kota Serang mengemukakan bahaya formalin bagi tubuh manusia,
namun tidak mengganggu kesehatan dengan jumlah yang kecil. Responden
mengatakan efektif sebagai pengawet. Terbentuk persepsi, tahu terasa enak, kenyal,
tidak cepat rusak. Tidak terdapat hubungan sikap (pv = 1,000;>0,05). Sikap baik
masih mengandung formalin (65%). Safitri (2015) menemukan sikap negatif
(35,3%) terdapat formalin (+) sebesar 46,6%. Sikap baik belum pasti menjadikan
tindakan baik. Habibah (2013), menemukan sebaliknya sikap baik menjual tahu
berformalin. Kesadaran masyarakat menjadi pertimbangan faktor sikap,
menyebabkan keyakinan seseorang tidak baik. Pendidikan berkelanjutan
memberikan perubahan persepsi negatifmenjadi lebih baik.

Pengawasan
Penegakan hukum, pembinaan masyarakat mencegah penggunaan
formalin. (Sutiari, Dwipayanti,2011) Hubungan signifikan pengawasan (p value =
0,004; < 0,05). Nilai (OR=13,500), pengawasan (13,5) kali risiko lebih tinggidengan
tahu berformalin. Pemeriksaan dan pembinaan berkelanjutan tidak dilakukan oleh
Pemerintah Daerah Kota Serang, hanya rutin dilakukkan pada saat hari raya besar
maupun menjelang bulan puasa saja. Lemahnya sanksi, berakibat pelaku berulang
melakukan pelanggaran. Pencegahan melalui pendidikan jangka panjang,
pengawasan penggunaan bahan berbahaya tambahan makanan oleh instans yang
berwenang setempat. (Hartati,2007)

KESIMPULAN
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah dari 43 sampel tahu di pasar
tradisional Kota Serang, sebanyak 29 sampel tahu (67,4%) positif berformalin.
Faktor penyebab dari hal tersebut adalah pengetahuan pedagang tahu merupakan
faktor risiko 6,5 kali tahu yang dijual mengandung formalin dan pengawasan
memiliki risiko 13,5 kali tahu yang dijual mengandung formalin. Sanksi tegas bagi
pelaku yang melanggar. Pembinaan persuasif dilakukan pada pedagang tahu pasar
Kota Serang

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih kepada pihak- pihak terkait terutama pada Dinas
Kesehatan Kota Serang, seluruh pasar tradisional di Kota Serang dan Universitas
Faletehan.
DAFTAR PUSTAKA
Arumsari, G.P., Krianto, T., & Wispriyono, B. (2017). Perilaku Penggunaan Formalin
Pada Pedagang Dan Produsen Mie Basah Dan Tahu Di Provinsi DKI Jakarta.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas. Vol. 11, No. 1, Hal. 39-48.
Arikunto, S. (2010). ManajemenPenelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
BPOM, RI. (2019). Laporan Tahunan Kegiatan Tahun 2018. Jakarta: Direktorat
Pemberdayaan Masyarakat Dan Pelaku Usaha Deputi Bidang Pengawasan
Pangan Olahan Badan POM.

Dinas Kesehatan Kota Serang. (2018). Laporan Tahunan Bidang Farmasi dan Alat
Kesehatan Kota Serang 2017. Serang: DinasKesehatan Kota Serang.
Desrosier, Norman,W. (2008). Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta: UI-Press.
Habibah, T. (2013). Identifikasi Penggunaan Formalin Pada Ikan Asin dan Faktor Perilaku
Penjual di Pasar Tradisional Kota Semarang. Jurnal: Unnes Journal of Public
Health. 2 (3) (2013).
Hartati, H. (2007). Analisis Manajemen Pengawasan dan Pengendalian Penyalahgunaan
Formalin di Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. KESMAS, Jurnal Kesehatan
Masyarakat [Link]. 2, No. 2, Oktober 2007.
Lakuto, R.S., Akili, R.H., & Joseph,
W.B.S. (2017). Analisis Kandungan Formalin Pada Tahu Putih Di Pasar Bersehati
Kota Manado Tahun 2017. KESMAS. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas
Sam Ratulangi. Volume 6, Nomor 3, Mei 2017.
Saparinto, C., Hidayati, D. (2006). BahanTambahan Pangan. Yogyakarta: Kanisus.
Syarfaini, Rusmin, M. (2014). Analisis Kandungan Formalin Pada Tahu di Pasar
Tradisional Kota Makassar Tahun 2014. Al-Sihah: Public Health Science Journal.
Volume VI,No.2, Juli-Desember 2014.
Sutiari, N.K., Dwipayanti, U. (2011). Pembinaan Pedagang Tahu Di Pasar Badung
Mengenai Bahaya Penyalahgunaan Formalin. Udayana Mengabdi Volume 10
Nomor 1 Tahun 2011.
Safitri, A.R. (2015). Gambaran Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Penjual Tahu Mengenai
Tahu Berformalin Di Pasar Daerah Semanan Jakarta Barat Tahun 2015. Skripsi:
UniversitasIslam Negeri Syarif HidayatullahJakarta.
Wijaya,C.H., Mulyono, N., & Afandi, F.A. (2012). Bahan TambahanPengawet. Bogor:
IPB PRES
.

You might also like