Analysis of Socioeconomic, Utilization of Maternal Health Services, and Toddler’s
Characteristics as Stunting Risk Factors
Analisis Sosial Ekonomi, Pemanfaatan Kesehatan Ibu Pelayanan, dan
Karakteristik Balita sebagai Faktor Risiko Stunting.
Abstract: Stunting prevalence in South Kalimantan has been higher than the
national figure and
is the sixth highest in Indonesia. Not many studies in South Kalimantan have
analysed the risk
factors for stunting comprehensively that combine sociodemographic factors,
utilization of maternal
health services, and characteristics of children. Therefore, the purpose of this
study was to analyse
sociodemographic factors, utilization of maternal health services, and
characteristics of children
under 5 as determinants of stunting in South Kalimantan Province. This study used
an analytic
observational method with a cross-sectional design. Data collection used
secondary data from the
results of South Kalimantan Baseline Health Research 2018. The total population
of toddlers obtained
from South Kalimantan Baseline Health Research 2018 data was 1218 toddlers,
and all of them were
taken as samples. Data analysis used a chi square test for bivariate test and
Logistic Regression
for multivariate test. There is a relationship between mother’s education level (p =
0.001), father’s
education (p = 0.002), toddler age (p < 0.001), low birth weight (p = 0.05),
exclusive breastfeeding
(p = 0.008), and underweight (p = 0.000) with stunting. The data were continued
with the Logistics
Regression test and the dominant variables related to stunting were underweight
(p < 0.001 with OR
18,241), under-five age (p < 0.001, with OR value for ages 24–35 months 9511),
and premature birth
(p = 0.027 with an OR of 2187). The conclusion of this study is that the most
important factor in the
incidence of stunting in South Kalimantan is underweight nutritional status.
Abstrak: Prevalensi stunting di Kalimantan Selatan lebih tinggi dari angka
nasional dan
tertinggi keenam di Indonesia. Tidak banyak penelitian di Kalimantan Selatan
yang menganalisis risiko
faktor stunting secara komprehensif yang menggabungkan faktor
sosiodemografi, pemanfaatan
pelayanan kesehatan, dan karakteristik anak. Oleh karena itu, tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menganalisis
faktor sosiodemografi, pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu, dan karakteristik
anak
balita sebagai faktor penentu stunting di Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian
ini menggunakan analitik
metode observasional dengan desain potong lintang. Pengumpulan data
menggunakan data sekunder dari
hasil Riset Kesehatan Dasar Kalsel 2018. Jumlah populasi balita yang diperoleh
Dari data Riset Kesehatan Dasar Kalsel tahun 2018 sebanyak 1.218 balita, dan
semuanya
diambil sebagai sampel. Analisis data menggunakan uji chi square untuk uji
bivariat dan Regresi Logistik
untuk uji multivariat. Ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu (p = 0,001),
ayah
pendidikan (p = 0,002), usia balita (p < 0,001), berat badan lahir rendah (p =
0,05), ASI eksklusif
(p = 0,008), dan kurus (p = 0,000) dengan stunting. Data dilanjutkan dengan
Logistik
Uji regresi dan variabel dominan yang berhubungan dengan stunting adalah
underweight (p < 0,001 dengan OR
18.241), usia balita (p < 0,001, dengan nilai OR untuk usia 24-35 bulan 9511),
dan kelahiran prematur
(p = 0,027 dengan OR 2187). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa faktor
yang paling penting dalam
kejadian stunting di Kalimantan Selatan adalah status gizi kurang.
Introduction Stunting in Indonesia is still a nutritional problem that needs serious treatment.
The Indonesian Ministry of Health’s data and information centre (2018) states that stunting is a
condition in children who have shorter body length/height compared to their peers. This
category is based on WHO child growth standards. Stunting is the impaired growth and
development that children experience from poor nutrition, repeated infection, and inadequate
psychosocial stimulation. Children are defined as stunted if their height-for-age is more than two
standard deviations below the WHO Child Growth Standards median. Stunting adversely affects
both short- and long-term consequences, including poor child growth and development. The
WHO states Indonesia as the country with the third-highest stunting prevalence in Southeast
Asia, with a prevalence of 36.4% from 2005 to 2017 [1,2]. The Indonesia Nutrition Status Survey
in 2021 reports that the stunting prevalence in Indonesia is 24.4%, while the stunting prevalence
target for 2024 is 14% [3]. South Kalimantan is one of the provinces that has a stunting
prevalence higher than the national.
pengantar
Stunting di Indonesia masih merupakan masalah gizi yang perlu penanganan serius. Itu
Pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan RI (2018) menyatakan bahwa stunting
adalah kondisi pada anak yang memiliki panjang/tinggi badan yang lebih pendek
dibandingkan dengan teman sebayanya.
Kategori ini didasarkan pada standar pertumbuhan anak WHO. Stunting adalah gangguan
pertumbuhan
dan perkembangan yang dialami anak dari gizi buruk, infeksi berulang, dan
stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak-anak didefinisikan sebagai stunting jika tinggi
badan mereka untuk usia
lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak WHO.
Stunting berdampak buruk pada konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang, termasuk
anak miskin
pertumbuhan dan perkembangan. WHO menyatakan Indonesia sebagai negara dengan
peringkat ketiga tertinggi
prevalensi stunting di Asia Tenggara, dengan prevalensi 36,4% dari tahun 2005 hingga 2017
[1,2].
Survei Status Gizi Indonesia tahun 2021 melaporkan bahwa prevalensi stunting
di Indonesia sebesar 24,4%, sedangkan target prevalensi stunting tahun 2024 adalah 14%.
Selatan
Kalimantan merupakan salah satu provinsi yang memiliki prevalensi stunting lebih tinggi dari
nasional
angka, yaitu 30%. Kalimantan Selatan menduduki peringkat keenam tertinggi di Indonesia.
Tiga
Kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi di Kalimantan Selatan adalah Kabupaten
Banjar
(40,2%), Kabupaten Tapin (33,5%), dan Barito Kuala (32,4%) [4]. Wicaksono dan Hartanti
(2020)
menjelaskan bahwa kejadian stunting tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 5 tahun,
dan 18% di antaranya tergolong stunting berat [5].
Stunting dapat mengganggu perkembangan fisik dan kognitif anak [1].
Selain itu, stunting juga meningkatkan risiko kematian anak, gangguan tumbuh kembang
dan kemampuan belajar, risiko menderita penyakit menular dan tidak menular, dan
mengurangi produktivitas dan kemampuan ekonomi [5]. Oleh karena itu, penanganan
stunting harus
prioritas untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Penelitian Wicaksono dan Hartanti (2020) menemukan bahwa faktor-faktor yang
berhubungan dengan
kejadian stunting adalah faktor individu, rumah tangga, dan masyarakat. Individu
faktor terdiri dari jenis kelamin dan status imunisasi. Faktor rumah tangga terdiri dari
status pendidikan ayah dan ibu, kesejahteraan rumah tangga, dan permukiman kumuh.
Selain itu ada juga faktor pengaruh dari masyarakat yaitu tempat
tempat tinggal (desa atau kota) [5].
Penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh Ardiansyah dkk. (2018) yang menyatakan
bahwa stunting disebabkan oleh umur, jenis kelamin, pendidikan orang tua, pendapatan
orang tua, jumlah
anggota rumah tangga, inisiasi menyusu dini, ASI eksklusif, dan ibu
tinggi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan adalah
pendidikan ayah [6].
Kehamilan remaja juga berhubungan dengan kejadian stunting seperti pada
penelitian Larasati et al. (2018). Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin muda usia
kehamilan seseorang
usia akan meningkatkan kejadian stunting [7]. Sampai saat ini, masih belum banyak penelitian
di
Kalimantan Selatan yang mengkaji faktor risiko stunting secara komprehensif
yang menggabungkan faktor individu, rumah tangga, masyarakat, dan budaya. Dengan
demikian, penelitian ini
perlu dilakukan.
2. Bahan-bahan dan metode-metode
2.1. Desain Studi dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan desain potong lintang dengan
penelitian sekunder
data dari Riset Kesehatan Dasar 2018 (Riskesdas, akronim dalam bahasa Indonesia). Itu
populasi penelitian ini adalah 1218 anak usia 0–59 bulan yang masuk sebagai angkatan 2018
Sampel Penelitian Kesehatan Dasar di Provinsi Kalimantan Selatan. Analisis sekunder
untuk penelitian ini dilakukan dari bulan Mei sampai Agustus 2022. Anak-anak berusia kurang
dari 5 tahun di
penelitian ini disebut 'balita'.
2.2. Persetujuan Etis
Untuk pendataan primer Riskesdas 2018, Komite Etik Riset Kesehatan, NIHRD, Kementerian
Kesehatan RI memberikan persetujuan dengan referensi
nomor LB.02.01/2/KE.267/2017. Semua peserta dimintai persetujuannya dan ditandatangani
formulir persetujuan dalam survei.
2.3. Variabel
Variabel terikat penelitian ini adalah kejadian stunting yang ditandai dengan tinggi badan
menurut umur kurang dari -2 SD dari standar pertumbuhan anak WHO. Itu
variabel independen penelitian diklasifikasikan ke dalam karakteristik sosiodemografi,
pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu, dan karakteristik balita.
Data sosiodemografi serta riwayat kehamilan, persalinan, dan pemberian makan balita
praktek dikumpulkan oleh pewawancara terlatih dengan kuesioner yang divalidasi. Status
pekerjaan masing-masing orang tua diklasifikasikan menjadi bekerja dan tidak bekerja.
Klasifikasi daerah tempat tinggal menjadi pedesaan dan perkotaan mengikuti klasifikasi dari
Statistika
Indonesia yang merupakan badan statistik resmi di negara tersebut. Anggota rumah tangga
adalah
jumlah orang yang termasuk dalam rumah tangga subjek
Variabel pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu meliputi Ante Natal Care
(ANC) kunjungan, konsumsi tablet Besi dan Asam Folat (IFA), lokasi persalinan, dan persalinan
petugas. Kunjungan ANC didefinisikan sebagai jumlah kunjungan antenatal selama kehamilan.
Tablet IFA yang dikonsumsi mengacu pada jumlah tablet suplemen IFA yang dikonsumsi oleh
ibu selama kehamilan anak di bawah 5 tahun. Sebuah pertanyaan tentang persalinan
lokasi ditanyakan untuk mengetahui apakah anak lahir di fasilitas kesehatan atau tidak.
Sedangkan penolong persalinan anak digolongkan menjadi tenaga terampil atau tenaga
kesehatan
dan non tenaga kesehatan.
Karakteristik balita meliputi usia, jenis kelamin, usia kehamilan, berat badan lahir, status
imunisasi, status pemberian makanan sebelum laktasi, ASI eksklusif, berat badan kurang,
wasting, dan
usia ibu saat melahirkan anak. Data dari buku kesehatan ibu dan anak
(KIA, akronim dalam bahasa Indonesia) digunakan untuk mengamati status imunisasi anak.
Itu
pengukuran antropometri dilakukan oleh enumerator terlatih. Lahir prematur
didefinisikan jika usia kehamilan saat melahirkan kurang dari 20 minggu. Berat badan lahir
rendah adalah
didefinisikan ketika berat lahir bayi kurang dari 2500 g. Pemberian makan prelakteal mengacu
adanya makanan/minuman lain yang diberikan kepada bayi sebelum mulai disusui.
Selain itu, status ibu remaja didefinisikan jika usia ibu saat melahirkan
bayi berusia 19 tahun atau lebih muda.
2.4. Analisis statistik
Analisis univariat dilakukan dengan melihat distribusi dan persentase
setiap variabel. Analisis bivariat dilakukan dengan melihat hubungan masing-masing
variabel bebas dengan variabel terikat (uji chi square dengan kepercayaan 95%
selang). Variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan status stunting kemudian
masuk ke tahap selanjutnya yaitu analisis multivariat. Analisis itu adalah
dilakukan dengan desain sampel yang kompleks menggunakan SPSS Versi 25.
3. Hasil
3.1. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi, Pemanfaatan Kesehatan Ibu
Pelayanan, dan Karakteristik Anak dengan Prevalensi Stunting di Kalsel
Analisis bivariat (Tabel 1) dilakukan pada semua anak balita yang
sampel Riset Kesehatan Dasar 2018 di Kalimantan Selatan. Dari 1218 anak
di bawah 5 tahun, terlihat bahwa ayah dan ibu yang bekerja dapat meningkatkan risiko
stunting (OR: 1076; 95% CI: 0,778–1,489 untuk ibu dan OR: 2747; 95% CI: 0,635–11,885 untuk
ayah). Namun, hubungan itu tidak signifikan secara statistik. Di samping itu,
ada hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu (p 0,001) dan ayah (p 0,002)
dan stunting pada anak di bawah 5 tahun. Lahir dari orang tua yang tamat SMA
dapat mengurangi kemungkinan stunting. Risiko stunting hampir sama di kedua perkotaan
dan penduduk pedesaan serta dalam rumah tangga dengan anggota kurang dan lebih dari
empat orang.
abel 1. Analisis Bivariat Variabel Independen dengan Prevalensi Stunting.
Variabel Balita Stunting (n = 396, N = 1218)
N (%) ATAU 95% CI p Nilai
Karakteristik Sosiodemografi Rumah Tangga
ibu bekerja
Ya
Tidak
172
224
43.4
56.6
1.076
1
0,778–1,489 0,656
Ayah yang bekerja
Ya
Tidak
394
2
99,5
0,5
2,747
1
0,635–11,885 0,158
Ibu lulus tinggi
sekolah
Ya
Tidak
126
270
31.7
68.3
0,567
1
0,410–0,784 0,001
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa bayi yang lahir di fasilitas kesehatan
memiliki
risiko lebih rendah (OR = 0,788; 95% CI: 0,539–1,153) mengalami stunting
dibandingkan mereka yang lokasi kelahirannya tidak berada di fasilitas
kesehatan. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan secara statistik
antara semua variabel tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu terhadap
risiko
stunting anak pada populasi ini.
Usia balita merupakan faktor yang dapat menentukan status stunting (p-value <
0,001), sebagaimana dapat
dilihat dari besar nilai OR yang ditunjukkan pada kategori umur. Risiko ini
cenderung meningkat sampai
balita berusia 24–35 bulan, kemudian menurun lagi pada balita berusia 36–60
bulan.
Variabel lain yang signifikan secara statistik dalam mempengaruhi stunting
adalah
status berat badan lahir rendah (p-value 0,05). Bayi yang berat lahirnya kurang
dari 2500 g
memiliki risiko 2,1 kali menjadi balita stunting dibandingkan bayi dengan berat
badan lahir normal
(≥ 2500 gram).
Variabel riwayat pemberian ASI eksklusif berhubungan dengan kejadian
stunting (p = 0,008), tetapi mereka yang mendapat ASI eksklusif masih berisiko
menderita stunting.
Variabel lain yang signifikan secara statistik adalah status berat badan kurang.
Anak-anak di bawah
5 orang dengan berat badan kurang memiliki risiko 7,119 kali lebih tinggi untuk
menjadi stunting dibandingkan dengan
anak-anak lain di bawah 5 tahun.
Variabel lain seperti jenis kelamin, riwayat kelahiran prematur, status imunisasi,
riwayat asupan prelakteal, status wasting, dan lahir dari ibu remaja tidak
secara statistik berhubungan dengan stunting pada anak di bawah 5 tahun di
Kalimantan Selatan.
Selanjutnya dari aspek sosiodemografi yang dianalisis, variabel ayah
pekerjaan, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan ibu, tempat bersalin,
usia balita, riwayat BBLR, riwayat ASI eksklusif, stunting,
riwayat kelahiran prematur, dan status gizi kurus dipilih sebagai kandidat.
variabel yang akan dianalisis bersifat multivariat untuk mendapatkan model
yang tepat (fit model).
3.2. Determinan Stunting pada Balita di Kalimantan Selatan Kalimantan
Analisis multivariat yang dilakukan dalam penelitian ini menghasilkan empat
variabel yang berhubungan dengan
kejadian stunting pada balita di Kalimantan Selatan yaitu rentang usia,
riwayat kelahiran prematur, serta status kurus dan kurus. Hasil ini
diperoleh setelah disesuaikan dengan variabel lain yaitu usia ibu saat
melahirkan,
tingkat pendidikan ayah, dan riwayat berat badan lahir rendah.
Status gizi kurang merupakan penentu utama kejadian stunting pada anak
di bawah 5 di Kalimantan Selatan dengan nilai OR 18,241 (95% CI 8,054–41,312).
Usia balita juga merupakan faktor penentu kejadian stunting, dimana
risiko mulai muncul setelah balita berusia di atas 6 bulan. Setelah umur
6 bulan, balita mulai diberikan makanan pendamping ASI dan proses parenting
berkaitan dengan pola makan menjadi sangat berpengaruh terhadap status gizi
anak. Dengan demikian, dapat
Disimpulkan bahwa kejadian stunting di Provinsi Kalimantan Selatan lebih
banyak dipengaruhi oleh faktor pola asuh dan kualitas makanan pendamping
ASI. Tren dari
peningkatan risiko terlihat pada balita usia 6-11 bulan (OR 2,688, 95% CI 0,849-
8,510),
kemudian meningkat pada balita selanjutnya dan risiko tertinggi pada balita
berusia 24-35 bulan
(ATAU 9.511, 95% CI 3.322–27.234). Selanjutnya, risiko mulai menurun pada usia
balita
36-59 bulan.
Penentu lain dari stunting adalah riwayat kelahiran prematur (OR 2,187, 95% CI
1,082–4,380). Balita dengan riwayat kelahiran prematur memiliki risiko lebih
tinggi untuk mengalami stunting
dibandingkan balita yang lahir cukup bulan. Namun, variabel wasting
menunjukkan OR 0,129 (95% CI
0,049–0,339). Wasting adalah suatu kondisi ketika balita kekurangan berat
badan dalam kaitannya dengan nya
tinggi. Balita kurus memiliki berat badan yang rendah namun cukup tinggi. Nilai
R-kuadrat yang diperoleh
adalah 24,5%.
Dengan demikian, dapat diartikan bahwa kejadian stunting pada balita di
Kalsel dapat dijelaskan sebesar 24,5% karena determinan underweight,
usia balita, riwayat kelahiran prematur, dan wasting. Sementara itu, 76,5% risiko
stunting
antara populasi ini dipengaruhi oleh variabel lain.
4. Diskusi
4.1. Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Prevalensi Stunting
Hasil penelitian pada Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara
pendidikan ibu dan ayah dengan stunting pada anak di bawah 5 tahun. Orang
tua yang memiliki
Lulus SMA hampir dua kali lipat risiko stunting dibandingkan orang tua
yang tidak menyelesaikan pendidikan formal sampai tingkat tersebut.
Pendidikan dapat merangsang status gizi baik secara langsung maupun tidak
langsung melalui pengaruh kesadaran dan preferensi budaya yang dapat
membentuk kebiasaan konsumsi makanan. Pada akhirnya, kebiasaan makan
yang baik mengarah pada status gizi yang baik. Pendidikan juga mempengaruhi
higiene dan sanitasi termasuk sumber air minum, sistem drainase, dan
perumahan
kondisi. Praktik kebersihan dan sanitasi yang baik akan membangun kesehatan
dengan mengurangi infeksi
kasus [8].
Tingkat pendidikan dapat berperan dalam memahami masalah kesehatan yang
akan dihadapi
berdampak besar terhadap status gizi, dalam hal ini stunting. Tingkat
pendidikan seseorang
akan mempengaruhi pendapatan keluarga. Semakin tinggi tingkat pendidikan,
semakin baik pendapatan keluarga,
sehingga akan berdampak pada ketahanan pangan keluarga. Selain itu, tingkat
orang tua
pendidikan juga diasumsikan mempengaruhi tingkat pengetahuan, termasuk
pengetahuan tentang
kesehatan dan gizi keluarga. Hal ini akan meningkatkan upaya dalam mengasuh
anak, pemanfaatan
pelayanan kesehatan, higiene sanitasi, dan perilaku lainnya [5].
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wicaksono dan Hartanti (2020) yang
menyatakan bahwa pendidikan ayah dan ibu berhubungan dengan kejadian
stunting
(p value < 0,01), dengan pendidikan minimal SMA dapat menurunkan risiko
stunting [4].
Penelitian Das dan Gulshan (2017) juga menunjukkan hal yang sama, dimana
pendidikan
ayah dan ibu berhubungan dengan kejadian stunting dengan p value 0,000[9].
Variabel sosiodemografi lain dalam penelitian ini, seperti status pekerjaan ayah
dan ibu, daerah tempat tinggal, dan jumlah anggota keluarga, tidak
berhubungan dengan
pengerdilan. Pekerjaan tidak terkait dengan stunting karena identifikasi
pekerjaan dalam hal ini
studi masih umum yang tidak didukung oleh jumlah pendapatan keluarga.
terbatas
data pada deskripsi pekerjaan menyebabkan deskripsi jenis pekerjaan ini tidak
dapat menggambarkan
kesejahteraan keluarga.
Jumlah anggota keluarga secara teoritis diduga mempengaruhi stunting karena
berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan keluarga. Namun, jumlah anggota
keluarga dalam penelitian
tidak berhubungan dengan stunting, karena jumlah anggota keluarga balita
yang mengalami stunting didominasi oleh <4 orang (60,7%), jadi ada faktor lain
yang menyebabkan stunting selain anggota keluarga.
Karakteristik wilayah tempat tinggal (pedesaan dan perkotaan) bukan
merupakan penentu
penyebab stunting dalam penelitian ini
4.2. Hubungan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Ibu dengan Prevalensi
Stunting
Variabel penggunaan pelayanan kesehatan ibu dalam penelitian ini adalah
kunjungan ANC,
konsumsi tablet IFA selama kehamilan, persalinan di fasilitas kesehatan, dan
persalinan di bidan. Semua variabel ini tidak berhubungan dengan kejadian
stunting dalam hasil
dari analisis statistik bivariat penelitian ini. Namun, data deskriptif masih
menggambarkan
kecenderungan menyebabkan stunting. Data deskriptif pada Tabel 1
menunjukkan bahwa ibu yang
melakukan ANC <4 kali selama kehamilan memiliki 91,9% prevalensi stunting
pada balita.
Pelayanan kesehatan ibu hamil (ANC) sangat penting untuk kesehatan ibu
dan kandungannya dimana ditemukan ibu yang melakukan kunjungan ANC
kurang dari empat kali
selama kehamilan lebih mungkin untuk memiliki anak stunting pada usia 0-23
bulan
dibandingkan dengan ibu yang melakukan kunjungan ANC sebanyak empat kali
atau lebih [10].
Fase antenatal merupakan periode penting untuk mencegah stunting. Pada fase
ini, janin
terjadi pertumbuhan dan merupakan masa optimal bagi perkembangan anak
sampai 1000 hari pertama
kehidupan. Faktor lingkungan dan nutrisi pada fase ini akan mempengaruhi
pertumbuhan janin, otak
perkembangan, saluran pencernaan, metabolisme, dan sistem kekebalan tubuh.
Asupan nutrisi adalah
sangat penting untuk mendukung fase 1000 hari pertama kehidupan ini,
termasuk asam amino,
zat besi, yodium, kalsium, seng, magnesium, dan vitamin [11].
Berdasarkan penjelasan tersebut, hasil penelitian ini yang menunjukkan bahwa
ANC tidak
terkait dengan stunting dapat disebabkan oleh asupan gizi ibu selama kehamilan
yang menjadi faktor utama. Asupan nutrisi tidak diidentifikasi dalam penelitian
ini, bahkan
meskipun sudah dilakukan ANC, jika asupan gizinya kurang baik tetap akan
meningkat
risiko stunting.
Jumlah tablet suplemen IFA yang dikonsumsi selama kehamilan juga tidak
berhubungan dengan kejadian stunting pada penelitian ini. Namun, Tabel 1
menunjukkan bahwa 52,8%
ibu yang tidak mengonsumsi tablet suplemen IFA selama kehamilan memiliki
anak yang stunting.
Konsumsi tablet suplemen IFA selama kehamilan memiliki korelasi linier
dengan pertumbuhan anak. Namun secara umum, kegagalan tumbuh kembang
pada balita dipengaruhi oleh kurangnya
asupan nutrisi. Selain zat besi, ini termasuk asam folat, kalsium, asam amino,
dan lainnya
nutrisi [10,11]. Konsumsi tablet suplemen IFA selama kehamilan mempengaruhi
janin
pertumbuhan karena berhubungan dengan anemia pada ibu hamil. Anemia
pada kehamilan
dapat menyebabkan penurunan aliran oksigen dan nutrisi pada jaringan
plasenta yang akan
berdampak pada terganggunya status gizi janin [12].
Nutrisi lain selain zat besi dan asam folat tidak diidentifikasi dalam penelitian
ini. Karena
suplementasi IFA bukan satu-satunya yang mempengaruhi kejadian stunting,
faktornya
konsumsi tablet IFA selama kehamilan tidak berhubungan dengan kejadian
stunting
dalam penelitian ini. Selain itu, mekanisme yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan adalah kondisi
anemia pada ibu hamil, dimana kadar Hb tidak teridentifikasi dalam penelitian
sehingga
belum dapat menggambarkan kondisi anemia sebagai penyebab gangguan
pertumbuhan.
Dalam penelitian ini, lokasi persalinan dan keberadaan penolong persalinan
terampil tidak
berhubungan dengan stunting. Hal ini ditunjukkan oleh ibu yang melahirkan di
fasilitas kesehatan
memiliki anak stunting sebesar 73,4% (Tabel 1). Torlesse dkk. (2016)
menjelaskan kemampuan
tenaga medis dalam memberikan pelayanan ANC dan pertolongan persalinan di
fasilitas kesehatan
terkait dengan stunting [9]. Melahirkan di fasilitas kesehatan dan penolong
persalinan sebagai faktor risiko
untuk stunting terkait penanganan bayi lahir, seperti bayi dengan berat badan
lahir rendah,
pemeriksaan neonatus, dan penanganan komplikasi saat melahirkan [12].
Variabel yang tidak berhubungan ini dapat diasumsikan karena lokasi persalinan
dan kelahiran
penolong terkait dengan manajemen untuk pertolongan persalinan, sehingga
masih ada fase lanjutan yang berdampak panjang terhadap terjadinya stunting
yaitu gizi. asupan pada balita
4.3. Hubungan Karakteristik Anak dengan Prevalensi Stunting
Penelitian ini menganalisis beberapa karakteristik pada anak balita yang
berhubungan
dengan stunting. Variabel yang berhubungan secara signifikan adalah umur,
berat badan lahir, eksklusif
menyusui, dan berat badan kurang.
Usia balita merupakan penentu stunting, terlihat dari nilai OR yang besar
ditunjukkan pada kategori usia balita (Tabel 1). Anak usia 6-11 bulan memiliki
1,8 kali
risiko stunting dibandingkan dengan anak usia 0-5 bulan. Kecenderungan risiko
ini meningkat sampai
anak usia 24-35 bulan kemudian menurun lagi pada anak usia 36-60 bulan.
Balita yang siap menerima ASI tambahan yaitu di atas 6 bulan,
mulai menunjukkan peningkatan risiko stunting.
Usia balita merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting karena
berkaitan dengan masa pertumbuhan.
Kami menemukan bahwa balita berusia > 6 bulan memiliki risiko stunting yang
lebih tinggi daripada anak-anak
usia < 6 bulan. Pada usia ini, mereka telah mengalami interaksi dengan
lingkungan
faktor dan pola makan [13]. Anak usia 0–6 bulan hanya mendapat ASI saja,
sedangkan
anak usia > 6 bulan mendapat makanan pendamping ASI selain ASI yang masih
diberikan. Hal ini menggambarkan bahwa makanan pendamping ASI memegang
peranan penting dalam memenuhi
kebutuhan gizi anak, terutama untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Penelitian ini sejalan dengan Mulu et al. (2022) yang menjelaskan bahwa usia
berhubungan dengan
kejadian stunting [13]. Penelitian Das dan Gulshan (2017) juga menyatakan hal
yang sama
dengan nilai p = 0,000, dimana usia < 6 bulan memiliki resiko menjadi stunting
sebesar 14-22%,
yang kemudian seiring dengan bertambahnya usia juga meningkatkan risiko
stunting [9].
Variabel lain yang signifikan secara statistik dalam mempengaruhi stunting
adalah kelahiran rendah
bobot (p-value 0,05). Bayi yang berat lahirnya kurang dari 2500 gram memiliki
risiko 2,1 kali lipat
menjadi kerdil dibandingkan dengan bayi dengan berat lahir normal (≥2500 g).
Berat badan lahir rendah (<2500 g) akan berdampak pada 6 bulan pertama
kehidupan. Kemudian
dampaknya akan berkurang sampai anak berusia 24 bulan. Jika bayi dapat
mencapai yang sesuai
pertumbuhan pada 6 bulan pertama, maka dimungkinkan bayi memiliki panjang
badan yang normal. SEBUAH
Riwayat berat badan lahir rendah menunjukkan keterbelakangan pertumbuhan
dalam kandungan yang terjadi secara akut
dan kronis [14].
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Lestari, Hasanah, dan Nugroho (2018),
yang
menyatakan bahwa berat badan lahir rendah memiliki nilai p 0,006 terkait
dengan stunting. Kelahiran rendah
Berat badan meningkatkan risiko stunting sebesar 12.429 kali dibandingkan
dengan berat badan lahir normal.
Pemberian ASI eksklusif juga merupakan faktor penentu stunting, meskipun
kami menemukan
kasus stunting lebih banyak dari anak yang tidak mendapat ASI eksklusif. Data
kami
menyarankan bahwa periode setelah 6 bulan selesainya pemberian ASI eksklusif
dapat
memainkan peran penting, terutama dalam hal asupan makanan anak. Secara
teoritis, eksklusif
menyusui mengurangi risiko stunting. Memperkenalkan makanan cair/padat
selain payudara
pemberian susu pada anak usia < 4 bulan akan meningkatkan risiko penyakit
saluran cerna, yang
akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan, defisiensi nutrisi, dan kerentanan
terhadap infeksi
penyakit sampai usia 2 tahun. Paparan penyakit menular seperti diare dan
demam
dapat meningkatkan risiko stunting, dimana kejadian penyakit ini lebih sering
terjadi
ditemukan pada anak yang tidak diberi ASI eksklusif [15].
Inisiasi menyusu dini juga diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan
pemberian ASI eksklusif
menyusui. ASI pertama yang keluar saat menyusui mengandung kolostrum yang
kaya nutrisi dan antibodi. Kolostrum sangat penting untuk pertumbuhan
mikrobiota usus
dan sistem kekebalan tubuh. Kolostrum hanya dilepaskan dalam 2-3 hari
pertama setelah melahirkan [15].
Temuan kami tentang paparan makanan prelakteal sejalan dengan Kuchenbeker
et al.
(2015) yang menunjukkan bahwa inisiasi menyusu dini sebagai salah satu
praktik pemberian ASI eksklusif
ASI sangat berhubungan dengan tumbuh kembang balita. Memberi makan
sebelum usia
6 bulan juga berdampak pada retardasi pertumbuhan bayi [15].
Variabel lain yang signifikan secara statistik adalah underweight. Kami
menemukan bahwa kekurangan berat badan pada anak di bawah 5 tahun dapat
meningkatkan risiko stunting hingga 18,241 kali.
Kondisi underweight dapat disebabkan oleh berat lahir, panjang lahir, frekuensi
dan kualitas
ANC ibu, dan kualitas makanan yang dikonsumsi anak. Asupan makanan anak.
harus menyediakan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan
perkembangannya. Namun, sebuah budaya
pembatasan diet atau pantangan dapat menghambat pemenuhan gizi anak
kebutuhan [16].
Penelitian Syeda et al. (2021) melaporkan temuan serupa, di mana kekurangan
berat badan di
tahun kedua dan ketiga akan meningkatkan risiko stunting lebih besar dari usia
<1 tahun.
Data tersebut berkaitan dengan pola makan yang diberikan kepada anak oleh
orang tua [16].
Karakteristik lain anak balita seperti jenis kelamin, riwayat kelahiran prematur,
riwayat pemberian makanan sebelum laktasi, status gizi buruk, dan status ibu
remaja
tidak berhubungan secara statistik dengan kejadian stunting pada anak balita di
Kalimantan Selatan. Data ini menunjukkan bahwa stunting dapat terjadi baik
pada pria maupun wanita
sehingga perbedaan gender dalam pola asuh dapat mulai berubah.
Selain itu, status imunisasi tidak berhubungan dengan stunting karena imunisasi
sudah menjadi program wajib yang telah dilaksanakan oleh penduduk, sehingga
sudah
diterima baik oleh balita stunting maupun non-stunting. Hal ini ditunjukkan oleh
data pada Tabel 1,
di mana sebagian besar subjek penelitian kami telah diimunisasi.
Wasting juga tidak berhubungan dengan stunting dalam penelitian ini, karena
berat badan pada wasting adalah
indikator gizi jangka pendek (akut), sehingga dapat berubah dengan cepat.
Sementara stunting memiliki
panjang/tinggi badan sebagai indikator gizi jangka panjang (kronis), sesuai
dengan faktor-faktor yang
pengaruh stunting seharusnya sudah menularkan dampak jangka panjang.
Dalam penelitian ini, lahir dari ibu remaja bukan merupakan faktor risiko
stunting.
Hal ini dimungkinkan karena banyaknya ibu remaja yang dijadikan sampel
relatif terlalu kecil. Meskipun tidak berhubungan secara signifikan, data
deskriptif menunjukkan bahwa
dari 1218 balita yang dijadikan sampel, persentase stunting pada ibu remaja
adalah 41,7%, yaitu sekitar 10% lebih tinggi dari persentase di antara ibu
dewasa. Ini
persentase dapat menunjukkan kecenderungan risiko stunting pada ibu remaja.
Hampir separuh penduduk perempuan di Kalimantan Selatan menikah sebelum
usia
19 tahun [17], menunjukkan perlunya intervensi yang ditargetkan pada ibu
remaja
untuk mencegah masalah kesehatan terkait. Usia ibu saat menikah akan
mempengaruhi kematangan
organ-organ reproduksi. Mereka yang masih terlalu muda (<20 tahun) belum
memiliki
organ reproduksi yang matang secara fisik dan fungsional. Akibatnya, mereka
tidak siap
untuk pembuahan, melahirkan, dan menyusui secara optimal. Jika kehamilan
terjadi pada ibu
usia <20 tahun, pertumbuhan remaja akan terhenti karena terpenuhinya nutrisi
asupan akan dialokasikan untuk janin. Faktor risiko yang mungkin terjadi pada
ibu hamil muda
adalah gangguan gizi seperti anemia, kekurangan energi kronis, risiko
mengalami
komplikasi selama kehamilan dan persalinan seperti preeklamsia/eklampsia.
Berdasarkan
resiko tersebut, dampak yang akan dialami oleh janin/bayi yang dilahirkan
adalah pertumbuhan
gangguan seperti Retardasi Pertumbuhan Intra Uterin, berat badan lahir rendah,
dan stunting.
Namun, penelitian kami tidak mengkonfirmasi kehamilan remaja sebagai faktor
risiko stunting
di Kalimantan Selatan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fonseka et al.
(2022) yang
menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian
stunting. Itu
penentu yang paling penting adalah asupan gizi selama masa kanak-kanak [18].
4.4. Faktor Dominan yang Berhubungan dengan Stunting di Kalimantan Selatan
Hasil analisis multivariat pada Tabel 2 menunjukkan beberapa variabel yang
lebih dominan sebagai faktor risiko stunting: usia balita, kelahiran prematur,
berat badan kurang,
dan pemborosan. Jika diurutkan berdasarkan besaran risiko, determinan dengan
faktor risiko lebih besar
berat badan kurang sebagai faktor yang paling dominan, diikuti oleh anak usia
24-35 bulan, dan lahir premature.
Balita dengan berat badan kurang, dan dalam rentang usia 24-35 bulan lebih
tinggi
risiko stunting. Variabel-variabel ini terkait dengan asupan makanan anak,
sedangkan prematur
kelahiran dapat dikaitkan dengan usia ibu dan kondisi kesehatan selama
kehamilan termasuk
status gizi ibu. Dengan demikian, hasil analisis penelitian ini menggambarkan
bahwa
Asupan gizi lebih dominan dalam meningkatkan risiko stunting dibandingkan
dengan yang lain
variabel. Variabel-variabel tersebut (usia balita, riwayat kelahiran prematur, dan
berat badan kurang)
secara bersamaan terkait dengan risiko pengerdilan dengan besarnya asosiasi
itu
24,5%.
Faktor-faktor yang juga mempengaruhi kejadian stunting di luar yang diselidiki
dalam penelitian kami
adalah faktor sensitif, seperti pertanian dan ketahanan pangan, kesehatan
mental, perlindungan anak,
air, dan sanitasi yang berasal dari multisektor [19].
Faktor dasar yang harus diperkuat adalah tingkat pengetahuan masyarakat dan
pendidikan, kebijakan pemerintah, sumber anggaran dan pola kepemimpinan,
sosial, ekonomi,
dan kondisi lingkungan politik. Faktor-faktor dasar ini dapat bertindak sebagai
masukan untuk pengerdilan
manajemen [19].
Stunting dapat dimanifestasikan setelah kekurangan gizi kronis dengan
penyebab yang:
multifaktorial. Stunting menempatkan anak-anak pada risiko tinggi infeksi
dengan pemulihan yang tertunda karena
serta retardasi pertumbuhan [20].
Dari faktor dasar tersebut akan mempengaruhi ketahanan pangan yang terdiri
dari ketersediaan,
akses, dan pemanfaatan pangan. Selain itu pola asuh dan pola makan di rumah
tingkat, akses dan penggunaan fasilitas kesehatan, serta lingkungan yang sehat
dan aman akan
juga terpengaruh. Faktor-faktor tersebut akan berperan dalam proses
penanggulangan stunting. Itu
luaran yang diharapkan adalah status gizi dan perkembangan janin dan anak
akan optimal [19].
Karena sifat multifaktorial penyebab stunting, baik sensitif maupun spesifik
perlu dilakukan intervensi untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu,
manajemen
dan tinjauan kebijakan dapat diperkuat sebagai dasar untuk menghubungkan
proses untuk mengoptimalkan
keluaran [19].
5. Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan kedua orang tua, usia
balita, kelahiran
berat badan, status ASI eksklusif, dan berat badan kurang berhubungan dengan
peningkatan
risiko stunting pada balita di Kalimantan Selatan, Indonesia. Kontribusi utama
Faktor risiko stunting adalah berat badan kurang.
Kontribusi Penulis: Konseptualisasi, M.D.A. dan MSN; metodologi, R.A.D., A.R.F.
dan
PHR; perangkat lunak, PHR; validasi, M.I.S. dan AK; analisis formal, N.W.H. dan
W.T.Y.; penyelidikan,
ZD dan W.T.Y.; sumber daya, M.D.A. dan A.R.F.; kurasi data, A.R.F. dan AK; tulisan
—asli
persiapan draft, M.S.N. dan R.A.D.; menulis—ulasan dan penyuntingan, M.D.A.;
visualisasi, R.A.D.;
pengawasan, A.K.; administrasi proyek, Z.D. dan N.W.H.; akuisisi dana, M.D.A.
dan MSN
Semua penulis telah membaca dan menyetujui versi naskah yang diterbitkan.
Pendanaan: Penelitian ini didanai oleh Asian Development Bank.
Pernyataan Dewan Peninjau Institusional: Studi dilakukan sesuai dengan
Deklarasi
Helsinki, dan disetujui oleh Institutional Review Board oleh Komite Etik Fakultas
Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat untuk studi yang melibatkan
manusia (kode protokol No 66/KEPK FK ULM/EC/III/2022).
Pernyataan Persetujuan Informed: Informed consent diperoleh dari semua mata
pelajaran yang terlibat dalam penelitian ini.
Data Availability Statement: Data Riset Kesehatan Dasar Indonesia 2018 yang
digunakan dalam penelitian ini
dipasok oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia di bawah
lisensi dan karenanya tidak dapat dibuat tersedia secara bebas. Permintaan
untuk akses ke data ini harus dibuat untuk
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
Ucapan Terima Kasih: Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Asian
Development Bank, TA 9558 INO, Kementerian
Kesehatan-Indonesia, Badan Pusat Statistik, Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Banjarmasin,
Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, IPB University, Riset
Nasional dan
Badan Inovasi, dan semua lembaga yang telah berkontribusi dalam penelitian
ini.
Konflik Kepentingan: Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.
Penyandang dana tidak memiliki peran dalam desain
studi; dalam pengumpulan, analisis, atau interpretasi data; dalam penulisan
naskah; atau
dalam keputusan untuk mempublikasikan hasil.
Referensi
1. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Situasi Stunting di
Indonesia. Informasi dan Data Kesehatan
Buletin Jendela. Semester I. 2018, hlm. 6–18. Tersedia online:
[Link]
(diakses pada 12 Oktober 2022).
2. SIAPA. Pendeknya Stunting. Tersedia online:
[Link] (diakses
pada 13 Oktober 2022).
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil Kajian Status Gizi Indonesia
(SSGI) Tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota
tingkat pada tahun 2021; Kementerian Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta,
Indonesia, 2021.
4. Kementerian Kesehatan RI. Survei Status Gizi Indonesia. Dalam Buku Saku
Hasil Studi Status Gizi Indonesia Tingkat Nasional,
Tingkat Provinsi, dan Kabupaten/Kota pada tahun 2021; Kementerian Kesehatan
RI: Jakarta, Indonesia, 2021.
5. Wicaksono, F.; Hartanti, T. Determinan anak stunting di Indonesia: Analisis
berjenjang pada individu, rumah tangga, dan
tingkat komunitas. Natal Kesehatan Masyarakat J. 2020, 15, 48–53. [CrossRef]
6. Ardiansyah Indraasari, R.; Panghiyangani, R.; dan Noor Husaini, M.S. Faktor
risiko stunting pada anak usia 0–23 bulan
di Provinsi Kalimantan Selatan. India J. Kesehatan Masyarakat Res. Dev. 2018, 9,
316–320.
Nutrisi 2022, 14, 4373 12 dari 12
7. Larasati, D.A.; Nindya, T.S.; Arief, Y.S. Hubungan kehamilan remaja dan
riwayat menyusui dengan kejadian
kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pujon Kabupaten
Malang. Amerta Nutr. 2018, 392–401. [CrossRef]
8. Rengma, MS; Bose, K.; dan Mondal, N. Hubungan sosial ekonomi dan
demografi dengan stunting pada remaja Assam,
India Timur Laut. Antropol. Wahyu 2016, 79, 409–425.
9. Das, S.; Gulshan, J. Bentuk yang berbeda dari malnutrisi pada anak balita di
Bangladesh: Sebuah studi cross sectional pada prevalensi
dan determinan. BMC Nut. 2017, 3, 1–12. [CrossRef]
10. Tanpa Torsi, H.; Cronin, AA; Sebayang, S.K.; Nandy, R. Penentu stunting pada
anak Indonesia: Bukti dari survei cross sectional menunjukkan peran penting
sektor air, sanitasi dan kebersihan dalam pengurangan stunting. Kesehatan
Masyarakat BMC
2016, 16, 1–11. [CrossRef] [PubMed]
11. Saleh, A.; Syahrul, S.; Hadju, V.; Adriani, saya.; dan Restika, I. Peran ibu
dalam mencegah stunting: Tinjauan sistematis.
ga. Sanitasi. 2021, 35, S576–S582. [CrossRef] [PubMed]
12. Simbolon, D.; Devianti, D.; Setianingsih, L.; Ningsih, L.; Andriani, L. Hubungan
antara kesehatan ibu dan anak
pelayanan dengan prevalensi stunting berdasarkan penelitian kesehatan dasar
di Indonesia. Indonesia. J. Kesehatan Masyarakat 2021, 16, 177-187.
[CrossRef]
13. Mulu, N.; Muhammad, B.; Woldie, H.; dan Shitu, K. Penentu stunting dan
wasting pada anak jalanan di Northwest
Ethiopia: Sebuah studi berbasis komunitas. Nutrisi 2022, 94, 111532. [CrossRef]
14. Lestari, E.D.; Hasanah, F.; Nugroho, N.A. Hubungan antara pemberian ASI
tidak eksklusif dan berat badan lahir rendah dengan stunting pada
anak-anak. Paediatr Indonesia 2018, 58, 123–127. [CrossRef]
15. Kuchenbeker, J.; Yordania, saya.; Reinbott, A.; Herrmann, J.; Jeremias, T.;
Kennedy, G.; Muehlhoff, E.; Mtimuni, B.; dan Krawinkel, M.B.
Pemberian ASI eksklusif dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan bayi Malawi:
Hasil dari studi potong lintang. anak Int. Anak
Kesehatan 2015, 35, 14-23. [CrossRef]
16. Syeda, B.; Agho, K; Wilson, L.; Maheshwari, G.K.; dan Raza, M.Q. Hubungan
antara lama menyusui dan kondisi kurang gizi pada anak usia 0–3 tahun di
Pakistan. Int. [Link]. remaja Med. 2021, 8, 10–17. [CrossRef]
[PubMed]
17. Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan. Laporan Kinerja Tahun 2019. Dinas
Kesehatan Kalimantan Selatan 2019. Tersedia online:
[Link]
(diakses pada 13 Oktober 2022).
18. Fonseka, R.W.; MacDougal, L.; Raj, A.; Buluh, E.; Lundgreen, R.; Urada, L.; dan
Silverman, J.G. Mengukur dampak ibu
pernikahan anak dan kekerasan pasangan intim ibu dan efek moderasi pada
kedekatan dengan konflik pada pengerdilan di antara
anak di bawah 5 tahun pasca konflik Sri Lanka. SSM-Popul. Kesehatan 2022, 18,
101074. [CrossRef] [PubMed]
19. Perumal, N.; Bassani, D.G.; Roth, D.E. Stunting: Prevalensi dan Pencegahan
dalam Modul Referensi Ilmu Pangan; Elsevier Ltd.:
Amsterdam, Belanda, 2021.
20. Anitha, S.; Mengingat, D.I.; Subramaniam, K.; Upadhyay, S.; Kane-Potaka, J.;
Vogtschmidt, Y.K.; Botha, R.; Tsusaka, TW; Nedumaran,
S.; Rajkumar, H.; dkk. Bisakah memberi makan makanan berbasis giling
meningkatkan pertumbuhan anak-anak? Sebuah tinjauan sistematis dan meta-
analisis.
Nutrisi 2022, 14, 225. [CrossRef] [PubMed