Artikel
Artikel
TABRIZI
KARYA JALALUDIN RUMI
Wahyuni Nuriyah / 20020074011
Wahyuni.20011@[Link]
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia / Universitas Negeri Surabaya
Abstract
Sufi psychology is a branch of psychology that deals with the spiritual sphere. Along with
the development of the times, this Sufi psychology is increasingly developing and
reaching all levels of society, this one psychology is an explanation of the main spiritual
is Sufism. Sufism that developed in society was then modified and translated by Sufis and
scientific figures into Sufi psychology. Sufi psychology today is growing rapidly, because
Sufi psychology that is developed in theory must also be practiced through deeds or
what is commonly referred to as implementation or also application in everyday life.
Along with the development of the era, there are a lot of literatures that have developed
in society, one of which discusses Sufi psychology, apart from being in the form of a
theory book, this Sufi psychology is also wrapped in the form of a literary novel. Famous
Sufi poets, among others, are Jalaluddin Rumi, through his works entitled Samudra
Rubaiyat, Matahari Dhiwan Syams Tabrizi, and many other works, he makes a story or a
collection of poetry which includes a knowledge or implementation of Sufistic values. The
implementation of the Sufistic values that can be taken from the novel Sun Dhiwan
Syams Tabrizi itself is how the manifestation and essence of love in humans, love that
comes from Him and will return to Him, in this case patience and cleanliness of the heart
are very necessary in achieving love pure one.
Abstrak
Psikologi sufi merupakan sebuah cabang ilmu psikologi yang membahas ruang
lingkup spiritual. Seiring berkembangnya jaman, psikologi sufi ini semakin
berkembang dan menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat, psikologi yang satu
ini merupakan suatu penjabaran dari spiritual utamanya adalah tasawuf.
Tasawuf yang berkembang dimasyarakat kemudian dimodifikasi dan dijabarkan
oleh para sufi dan para tokoh ilmuwan menjadi psikologi sufi. Psikologi sufi pada
jaman sekarang ini semakin berkembang pesat, dikarenakan Psikologi sufi yang
dikembangkan secara teori tentunya juga harus dipraktikkan melalui perbuatan
atau yang biasa disebut dengan implementasi atau juga penerapan dalam
kehidupan sehari-hari. Seiring berkembangnya jaman ada banyak sekali sastra-
sastra yang berkembang di masyarakat yang salah satunya membahas
mengenai psikologi sufi, selain dalam bentuk buku teori, psikologi sufi ini juga
dibungkus dalam bentuk sebuah novel karya sastra. Penyair sufi yang terkenal
antara lain adalah Jalaluddin Rumi, melalui karya-karyanya yang berjudul
samudra rubaiyat, matahari dhiwan syams tabrizi, dan banyak karya lainnya ia
membuat suatu cerita ataupun kumpulan puisi yang mana didalamnya
mencakup sebuah pengetahuan atau implementasi nilai sufistik. Implementasi
nilai sufistik yang dapat diambil dari novel matahari dhiwan syams tabrizi sendiri
adalah bagaimana manifestasi dan hakikat dari cinta dalam diri manusia, cinta
yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya, dalam hal ini kesabaran
dan kebersihan hati sangat diperlukan dalam mencapai sebuah cinta yang
murni.
Kata kunci: sufi, psikologi sufi, implementasi
PENDAHULUAN
Di era modern ini begitu banyak ilmu pengetahuan yang berkembang di tengah-
tengah manusia. Tak terkecuali cabang-cabang ilmu psikologi yang salah satunya
adalah psikologi sufi. Psikologi sufi sendiri merupakan psikologi yang membahas
tentang spiritual, ada banyak novel-novel psikologi sufi atau yang menyangkut
psikologi tersebut, novel yang muncul antara lain adalah “Matahari Diwan Syams
Tabrizi” karya penyair sufi terkenal Jalaluddin Rumi. Novel tersebut berisi puisi-
puisi yang mengandung implementasi nilai sufistik, oleh karena itu penelitian ini
dilakukan agar masyarakat terutama kalangan pelajar mampu
mengimplementasikan psikologi spiritual dalam kehidupan yang berawal dari
gambaran pada novel.
Penelitian ini dapat bisa disebut orisinil, mengapa demikian? Sebab belum ada
yang membahas psikologi sufi dalam novel “Matahari Diwan Syams Tabrizi”, oleh
sebab itu penelitian ini layak dikonsumsi oleh jutaan mata masyarakat sebagai
sarana belajar dalam mengubah cara pandang manusia dalam mendalami aspek
spiritual.
KAJIAN PUSTAKA
Psikologi sufi dianggap sebagai salah satu cabang psikologi yang berkaitan
dengan nilai spiritual, bahkan lebih dari itu psikologi sufi menjurus pada hal-hal
yang lebih mendalam, misalnya ruh, hati, dan nafs. Sufisme kini menjadi ilmu
yang agak jauh dari kajian populer, hal ini disebabkan sufisme lebih banyak
masuk ke ranah filsafat (Ahmadi, 2021:94). Dalam bahasa Arab sendiri, sufi
(shufi) memiliki makna suci dan kajiannya mengulas tentang berbagai cara
menuju kesucian diri atau batin. Psikologi Barat beranggapan manusia tak lebih
dari tubuh. Pikiran dinilai berkembang dari sistem saraf tubuh yang tampak
secara indrawi. Psikologi sufi begitu memandang masalah hati dan kajian spiritual
sebagai elemen penting.
Menurut Ahmadi (2021:96) praktik dasar sufi sendiri terbagi menjadi beberapa
hal, yaitu:
a. Puasa
Puasa dalam konteks sederhana memiliki arti menahan makan, minum seks dari
dalam waktu tertentu hingga waktu yang ditentukan. Dalam agama Langitan
ataupun agama bukan, menjalankan puasa merupakan salah satu ritual menuju
ke titik kemurnian atau kesucian diri.
Salah satu fungsi berpuasa adalah untuk menurunkan dan melemahkan nafsu.
Nafsu seringkali mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang
dianggapnya mudah, menyenangkan, bebas, daripada melakukan hal yang benar.
Seringkali nafsu lebih unggul dan mengalahkan nilai spiritual seseorang. Nafsu
memang jalan yang diciptakan untuk menguji hati seseorang dalam mencapai
jalan kebenaran untuk menuju kebenaran. Seseorang yang mampu menahan
nafsunya ialahereka yang memiliki nilai spiritual tinggi.
b. Mengasingkan diri
Khalwat dalam bahasa Arab memiliki arti mengasingkan diri. Pada masa lampau
salah satu praktik spiritual tasawuf yang utama adalah mengasingkan diri.
Dalam zen-aliran kepercayaan yang tumbuh kembang di Jepang (mulanya
muncul di China dengan nama Chan) dan banyak memberikan pengaruh pada
dunia samurai. Seseorang pada mulanya adalah adalah sosok manusia yang
kehilangan diri. Karena itu, mereka harus mencari dirinya yang hilang tersebut
dengan jalan kemenyendirian, jalan tersebut dilakukan dengan cara meditasi,
menyepi di gunung, ataupun pergi ke kuil. Tiap manusia yang kehilangan dirinya,
haruslah mampu menemukan keseharian diri yang hilang.
Pengasingan diri yang dilakukan oleh para nabi, para sufi, para tokoh dalam
konteks Jawa disebut wali adalah untuk menemukan keseharian dan untuk
mencari kekurangan diri. Seseorang yang masih dibelenggu oleh nafsu terkadang
tidak mampu memandang dirinya sendiri. Oleh karena itu perlu memandang diri
sendiri dengan kacamata yang berbeda, dalam artian mencari arti diri dan
spiritual melalui berbagai sudut pandang dan pendapat sehingga seseorang
dapat memilah mana yang benar dan yang harus ia pilih.
c. Adab
Adab berarti berperilaku yang baik atau tata Krama yang baik, ia bertindak
dengan penuh perhatian dan kesantunan serta penghormatan kepada orang lain.
Qur'an mengajarkan kepada kita mengenai keutamaan dan perilaku baik. Adab
seseorang tidak hanya dari luar, melainkan juga dari dalam. Seorang sufi
mempunyai adab yang bagus pada orang lain. Karena itu, sampai muncul istilah
bahwa seluruh tasawuf adalah adab (Frager, 2014). Dalam ranah sosiologi, adab
disebut dengan istilah etika, hal yang berkait dengan sikap (attitude) masalah
baik dan buruk. Jika seseorang adabnya baik (dalam hal ini tampak luar), dan juga
akan menampilkan hal yang demikian.
d. Pelayanan
Melayani orang dengan rasa syukur atas kesempatan untuk memberikan
pelayanan tersebut adalah adab yang baik. Seorang Darwis mencari kesempatan
untuk melayani karena mengetahui bahwa pelayanan adalah bagian terpenting
dari jalan spiritual. Ketika kita melayani seorang hamba Tuhan, kita berarti juga
sedang melayani Tuhan. Tidak semua dari kita pantas untuk disebut sebagai
hamba Tuhan, tetapi prinsip yang umum adalah bahwa ketika kau melayani
ciptaan, berarti kau sedang melayani penciptanya (Frager, 2014:245).
Kemampuan dalam melayani dengan ikhlas inilah akan membuat manusia akan
menjadi orang yang benar-benar disayang oleh Tuhan.
e. Mengingat Tuhan
Salah satu amalan utama seorang sufi adalah berdzikir, tepatnya mengingat
Tuhan. Dzikir mempunyai empat makna dasar, yakni:
1. Perjuangan konstan untuk mengingat Tuhan
Saat kita berzikir, tentunya kita melakukan dengan begitu fokus agar hati dan
pikiran kita mampu mengingat Tuhan dengan konsentrasi. Hal ini bertujuan agar
hati senantiasa mengingat Tuhan dan jalan itu membuat manusia merasa takut
melakukan sebuah dosa dengan alasan takut akan kemurkaan Tuhan.
2. Zikir adalah pengulangan doa ataupun nama Tuhan
Berdzikir dilakukan secara berulang-ulang, misalnya pada umumnya seseorang
berzikir menyebut asma Tuhan sebanyak 33x atau bahkan lebih. Hal ini semakin
memudahkan kita untuk mencapai fokus dan juga solusi dari pembiasaan diri
dalam menyebut asma Tuhan.
3. Zikir berarti kondisi batiniah yang didalamnya terdapat kepekaan
terhadap Tuhan.
Zikir berarti mengingat Tuhan dengan sepenuh hati, ia memiliki kepekaan
terhadap Tuhan dalam artian ia takut pada Tuhannya dan sangat peka terhadap
segala larangan yang diberikan oleh Tuhan.
4. Zikir adalah kondisi batiniah yang stabil, didalamnya terdapat
kehati-hatian yang menetap.
Manusia yang senantiasa berzikir pada Tuhannya maka dalam hatinya akan
timbul kewaspadaan dan rasa berhati-hati dalam setiap perbuatan maupun
perasaan. Orang yang demikian akan lebih terhindar dari rasa iri dan dengki,
sebab secara batiniah ia sangat berhati hati baik dari segi perbuatan maupun
rasa.
d. Mengingat mati
Kematian adalah suatu hal yang pasti dalam ketidakpastian. Manusia tak bisa lari
dari kematian sebab malaikat maut selalu mengintai, setiap orang pasti mati
dengan jalannya masing-masing.
Merenungi kematian adalah sarana yang luar biasa untuk mengeluarkan
kebiasaan kita dari perilaku lama. Memikirkan kematian adalah sebuah latihan
untuk lebih peka akan masa kini. Seseorang yang mengingat mati akan lebih
berhati-hati dalam melakukan sebuah tindakan. Seseorang yang tidak ingat mati
cenderung melakukan perbuatan yang melanggar aturan Tuhan sebab ia tak ingY
dan tak takut pada kematian.
Dalam psikologi sufi, tak dapat dipisahkan dengan pembahasan yang
berhubungan dengan hati, para sufi beranggapan bahwa hati merek sebagai
rumah dan singgasana cinta. Adapula sifat-sifat yang dimiliki oleh hati adalah
sebagai berikut:
a. Pembersihan hati
Abul Khair Aqta' berkata, “hati dapat disucikan hanya melalui tujuan yang
sebenarnya yakni menuju pada Allah SWT. Tubuh dapat disucikan hanya melalui
pengabdian pada para kekasih Allah (Waliyullah)”
Hati memiliki peranan masing-masing, salah satu jenis hati berperan sebagai
tempat keimanan dan dan tanda kebajikan bagi setiap umat yang berupaya
untuk selalu melakukan perbuatan baik pada merek. Jenis hati yang lain
berperan sebagai tempat ingkar, indikasi darinya adalah sifat sombong,
pendendam, penolakan, dan iri.
b. Keingkaran hati
Keingkaran hati terjadi dalam tiga hal, yaitu 1) Selama mendekatkan diri pada
Tuhan (muraqaba) perhatian seseorang teralihkan dari Tuhannya, penyimpangan
ini membuat seseorang menjadi ingkar. 2) Dalam komunikasi dengan Allah,
ketika seseorang memohon sesuatu pada selain Allah/Tuhan serta
membicarakan dirinya sendiri maka ia tergolong orang yang ingkar. 3) Pada saat
penghitungan diri (muhasabah), ketika sedang memperbaiki kesadaran dalamnya
seseorang menjadi tertutup dari cahaya cahaya Allah sebab perhatiannya
terhadap hal hal selain Allah. Dalam hal demikian seseorang menghitung
perbuatan Allah dihadapan Allah, dan dengan memberi batasan terhadap
perbuatan Allah, dia menjadi seorang yang ingkar.
c. Luasnya hati
Ketika hati seseorang menjadi tempat perwujudan dataran ketuhanan, dia
menjadi sebuah cermin bagi aspek Ketuhanan dan tidak terbatas sesuai
kemampuan dan kepandaian. Dari semua tingkat eksistensi, hanya hati manusia
yang sempurna dan memiliki keluasan untuk memuat wujud ketuhanan. Adapula
yang mengatakan bahwa hati adalah tempat terwujud dan tersimpannya asma
Allah. Karena posisiny sebagai penghubung antara lahir dan batin, hati mewakili
suatu penggabungan hal hal yang bertentangan. Hal ini disebabkan karena hati
manusia merupakan tempat konsentrasi ketuhanan, realitas-realitas dari semu
tingkat jasmani dan rohani.
Keluasan hati sendiri terdiri dari tiga jenis, yakni:
Keluasan pengetahuan, yakni merupakan hikmah Allah, tak ada yang mengetahui
pengaruh eksistensi Allah selain hati, karena setiap wujud kehidupan mengetahui
Tuhannya dalam salah satu bentuk atau bentuk yang lainnya dan hanya hati yang
mengenal Dia secara keseluruhan.
Keluasan kekhalifahan, melibatkan realisasi nama nama dan sifat sifat Allah
sampai hati mengalami esensinya sendiri sebagai esensi Allah, dan identitas diri
seseorang yang saleh menjadi identitas diri Allah (hawiyat). Sebagai Khalifah
Allah, seseorang akan mengendalikan dunia. Inilah situasi dari hati yang telah
terwujud.
Keluasan pandangan, yang melibatkan pentingkan pandangan melalui hati
menyadari akan keindahan dan sifat Allah melalui pandangannya. Inilah yang
disebut dengan situasi hikmah.
Pandangan dan perenungan hati
Apabila hati tersucikan dari pengaruh-pengaruh nafs dan tabir penutupnya, ia
akan bisa melihat alam malakut, dan batas kegaiban dan segala rahasia yang
diperlihatkan kepadanya. Mata hati terpusat pada pengaruh-pengaruh kegaiban
dengan keyakinan dan hakikat keimanan. Hakikat pandangan hati ini timbul dari
pertemuan antara pandangan ruh dan keindahan alam kekuasaan (jabarut)
dengan alam malakut.
Hikmah hati
Hikmah sifat-sifat hati adalah sulit, sebagaimana juga gambaran daripadanya
karena kondisinya yang senantiasa berubah melalui perubahan-perubahan
kondisi dan perkembangan sampai batas-batas yang membawa pada
kesempurnaan. Inilah sebab mengapa hati disebut qalb (yang berubah). Kondisi
ini merupakan anugerah Allah yang jumlahnya tak pernah terbatas, maka
perubahan dan perkembangan hati sampai batas-batas yang membawa kepada
kesempurnaan dan tahap tahap keindahan serta kekuasaan yang jumlahnya tak
terbatas.
Tujuan perkawinan antara ruh dan nafs adalah untuk membawa hati kedalam
eksistensi tujuan kemitraan antara alam kekuasaan tertinggi dan alam malaikat
adalah untuk memberikan tempat bagi penglihatan nya dan suatu tempat
pandangan komplematifnya (Syuhud). Bentuk itu berasal dari cinta dan
perenungannya yang diterangi oleh cahaya penyaksian. Ketika nafs terpisah dari
ruh, maka cinta dan perselisihan akan terlihat diantara mereka, kemudian hasil
dari perkawinan keduanya diberi nama hati. Bentuk hati berasal dari cinta,
sehingga setiap kali ia menemukan tanda-tanda keindahan ia akan menyatu
dengannya. Hati tidak pernah berdiri tanpa objek kontemplasi, suatu objek cinta
atau sang maha pengasih.
Seiring perkembangan jaman kini psikologi sufi dan penerapannya tidak hanya
tidak hanya tersebar luas dan berkembang dalam ruang lingkup teori, akan tetapi
para ilmuwan hingga para sufi menerapkannya dalam sebuah karya sastra
sebagai wujud implementasi psikologi spiritual dalam sastra serta kehidupan
sehari-sehari. Seorang sastrawan sufi yang terkenal dengan karyanya yang
hampir semua menyangkut masalah sufisme adalah Jalaluddin Rumi. Beliau
merupakan seorang penyair sufi yang karyanya sudah banyak diterbitkan dan
menjadi konsumsi publik sehari-hari, diantaranya adalah semesta matsnawi,
samudra Rubaiyat, gigi maa Fihi dan masih banyak lagi. Menurut Hasan (2011)
salah satu novel kumpulan puisinya yang berjudul “Matahari Diwan Syams
Tabrizi” yang dinilai unik dan mendalam oleh sebagian masyarakat. Novel ini
merupakan terjemahan dari kitab Jalaluddin Rumi yang mana Kitab ini
berisi ghazal, seperti yang dikatakan orang-orang Iran. Diwan ini kemudian
diubah dengan tetap mengikuti bahar-bahar yang bervariasi dengan jumlah
baitnya mencapai 43.000 bait. Rumi menggubah Diwan ini untuk
mengungkapkan ketergantungannya serta rasa cinta yang besar kepada gurunya
Syamsuddin Tabrizi. Karenanya terjalin sebuah ikatan kuat antara murid dan
gurunya, hingga Rumi menggubah diwan dan pada akhirnya terucap nama Syams
atau berarti matahari oleh lisannya sehingga Diwan ini terkenal dan dikagumi
oleh manusia di penjuru dunia dengan nama Diwan Syams Tabrizi.
Asal muasal Ghazal “Matahari Diwan Syams Tabrizi” telah diceritakan atau
dikemukakan oleh Rumi (2018:vi) “Hari itu, sebagaimana biasanya, Jalaluddin
Rumi tengah mengajar para mahasiswanya dalam sebuah perkuliahan. Beberapa
waktu kemudian seseorang yang sebelumnya belum dikenal secara lebih dekat
oleh Rumi masuk kedalam ruang perkuliahan tersebut. Orang asing itu pun
menunjuk sebuah tumpukan buku dan kemudian ia bertanya dengan nada
berantakan, "Apa ini?" Rumi pun langsung menjawab dengan nada jengkel, "Kau
tidak akan mengerti." Mendapat jawaban yang begitu sinis dari Rumi, orang itu
kemudian membawa buku-buku tersebut untuk dibakar. Pada akhirnya
seseorang tersebut menyulut api lalu membakar buku-buku tersebut, Rumi
kemudian bertanya, "Apa ini?" Orang asing itu menjawab, "Kau tidak akan
mengerti." Saat itu, Rumi terhentak dalam kebingungan. Dia merasa bodoh,
hingga pada akhirnya ia menjadi murid dan menimba banyak ilmu dari orang
asing yang membakar buku-buku itu. Orang asing itu memiliki nama Syamsuddin
Al-Tabrizi, atau dikenal dengan nama Syams Tabrizi. Dialah guru yang
membimbing Rumi dalam kehidupannya dan beliaulah yang menuntun untuk
meninggalkan segalanya. Sejak pertemuannya dengan Syams Tabrizi, Rumi
berubah secara keseluruhan atau berubah drastis. Hingga pada akhirnya, Rumi
menjadi seorang sufi agung yang populer dengan syair-syair indahnya yang masih
berbalut sufisme. Suatu ketika, Syams Tabrizi meninggalkan Rumi tanpa
berpamitan apalagi memberitahukan ke mana tujuan dari kepergiannya, tanpa
sepatah kata ia meninggalkan Rumi. Rumi merasa begitu kehilangan dan tak tahu
arah. Maka, lahirlah sebuah kitab yang berjudul Diwan Syams Tabrizi yang berisi
ghazal-ghazal kerinduan Rumi kepada Sang Guru, Syams Tabrizi.”
Beberapa aspek yang ada dan diuraikan dalam psikologi sufi yang meliputi sifat
kebendaan, nafs, hati, ruh, kesadaran batin hingga kesadaran batin terdalam
akan tampak jelas apabila dikaji dan di dalami maknanya. Dalam Ghazal Rumi,
pembahasan paling dominan terletak pada sifat kebendaan dan cinta. Sifat
kebendaan sendiri merupakan sifat-sifat psikologis yang dengannya manusia
diberi karunia sejak ia lahir atau biasa disebut dengan kondisi psikologis bawaan
sejak lahir bisa jadi sifat itu merupakan warisan dari orang tuanya atau bahkan
leluhurnya (Nurbakhsyi, 1998:1). Sedangkan menurut Rumi (1992) sifat
kebendaan selalu berusaha membalas dendam kepada musuhnya. Akal
bertindak sebagai sebuah rantai besi terhadap nafs. Berbeda dengan pengertian
dari cinta, cinta dalam pandangan eksestensialis adalah proses mengobjekkan
seseorang dalam fikiran (Ahmadi, 2021:18) akan tetapi ada pula yang
berpendapat bahwa cinta adalah belenggu kehidupan. Makna cinta (mahabbah)
adalah kecenderungan jiwa padanya karena keberadaannya sebagai suatu
kelezatan padanya. Sedangkan kebencian memiliki arti yang sebaliknya, yaitu
ketidakpuasan jiwa karena keberadaannya sebagai sesuatu yang tidak cocok
baginya atau sesuatu yang begitu menyakiti hati, sesuatu tersebut bisa
disebabkan oleh ego ataupun perasaan tidak suka secara alamiah.
Dalam pandangan Rumi, cinta sebagai didefinisikan sebagai sebuah dimensi
pengalaman rohani, bukan dalam pengertian teoritis sepenuhnya
“mengendalikan keadaan batin” dan juga “Psikologi sufi”. Ia tidak dapat diulas
dengan kata-kata, tapi hal itu hanya dapat dipahami dan dimaknai melalui
pengalaman hidup. Sebagaimana halnya seseorang yang ingin mengungkapkan
cinta kepada kekasihnya, kata-kata tak dapat mewakili apa yang ada dihati
melalui selembar kertas. Apalagi cinta seorang sufi pada kekasihnya yang tidak
hanya melampaui dunia, tapi juga dunia dunia yang akan datang dan segala
sesuatu yang terjangkau oleh imajinasi. Rumi sering menegaskan bahwa cinta tak
terungkapkan. Meskipun demikian, dalam sebagian syair-syairnya, dia
memberikan gambaran: orang dapat membicarakannya kapan saja dan tiada
habis-habisnya. Tapi tetap pada suatu kesimpulan: cinta benar-benar tak
terungkapkan lewat kata-kata. Ia adalah pengalaman yang berada di seberang
pemikiran tapi sebuah pengalaman yang lebih nyata dari pada dunia dan segala
yang ada di dalamnya.
Membahas pengertian cinta yang diterima secara umum di kalangan ahli
tasawuf. Ada dua katagori cinta yang seringkali dibahas oleh para sufi, khususnya
oleh kalangan wujudiyah, yaitu: (1) Cinta Ilahi itu sendiri, dan (2) Cinta mistikal
atau kesufian. Cinta mistikal secara umum menjelaskan jalan menuju persatuan
mistikal dan ma’rifat, dan cinta mistikal sendiri merupakan bentuk pengalaman
religius yang tinggi dengan beberapa keadaan rohani yang menyertainya.
Dalam masyarakat sendiri psikologi sufi ataupun implementasi dari sufisme
masih jarang diterapkan, atau bahkan masih jarang dipelajari dan dikaji oleh
kebanyakan orang. Oleh karena itu pembahasan artikel ini bertujuan untuk
memberi gambaran terkait implementasi nilai sufistik yang ada dalam novel
kumpulan puisi dari Jalaluddin Rumi yang berjudul “Marahari Diwan Syams
Tabrizi” sehingga dapat dikaitkan atau diterapkan dalam teori atau penerapan
sehari-sehari.
Teoori yang digunakan dalam buku tersebut adalah teori yang berhubungan
dengan konsep cinta sebab menurut sejarahnya sendiri buku tersebut adalah
perwujudan nilai cinta seorang murid pada gurunya. Dalam buku tersebut
dipaparkan berbagai bentuk perspektif cinta hingga menghadapi kenyataan
dalam hidup. Mulai dari perdamaian hati, hakikat cinta pada Allah dan
bagaimana Allah mencintai kita, hingga perihal menjaga lisan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif sebagaimana dalam pemikiran
Cresswell (2007) yang mengartikan deskripsi kualitatif sebagai penyajian hasil
analisis berupa pendeskripsian dan penganalisis an. Dalam metode kualitatif tak
memungkiri dibutuhkan sebuah pengamatan untuk melihat gambaran kondisi
masyarakat yang kemudian dikaitkan dengan pembahasan atau deskripsi
permasalahan.
Menurut stake (1994) penelitian deskriptif-kualitatif sebagai penelitian
“interpretative” sebab lebih cenderung dengan penciptaan makna, oleh karena
itu penelitian sering digunakan oleh para peneliti untuk mendeskripsikan dan
menjelaskan tentang temuan atau hasil sebuah penelitian. Dalam genre sastra,
penelitian yang dibahas oleh penulis tersebut bertitik berat pada aspek psikologi
sufi dan nilai sufistik dengan menganalis sebuah novel.
Adapun sumber data yang digunakan antara lain, Psikologi sastra (Ahmadi,
2021), matahari Diwan Syams Tabrizi (Rumi,2018), psikologi sufi (Nurbakhsyi
1992).
Ketika cinta pada Tuhan sudah tertanam di hati, maka Tuhan sudah bagai sang
kekasih yang mana akan selalu kita cintai dengan segenap hati dan keyakinan.
Ketik cinta Tuhan telah bersemayam di hati manusia, maka semua nikmat,
kemudahan hidup, bahkan sebuah cobaan pun kita menganggapnya sebagai
perwujudan dari cinta Tuhan. Cinta membuat seseorang tak ingin meyakini atau
bahkan memikirkan seseorang selain yang dicintainya itu, begitulah konsep cinta
pada Tuhan. Sekali menyebut nama Tuhan dengan sepenuh cinta, maka hal itu
akan menjadi sebuah candu yang membuat cinta kita semakin agung dan besar.
Cinta yang besar itulah yang membuat hubungan antara Tuhan dengan hamba-
Nya semakin dekat dan tak ternilai dengan apapun.
Menyelami tentang makna dan arti cinta yang sebenarnya
Dalam hidup, seseorang seringkali merisaukan perihal makna cinta yang
sesungguhnya. Mereka bertanya-tanya mengenai definisi dari cinta itu sendiri,
beberapa orang berpendapat bahwa cinta selalu beriringan dengan nafs (nafsu),
sebagaimana definisi nafs sendiri adalah sesuatu yang cenderung memaksakan
hasratnya untuk mencapai suatu kepuasan (Nurbakhsyi, 1993:5) walaupun
demikian pendapat itu tidak semuanya betul, dalam dunia ini cinta yang tulus
juga ada dalam hati insan manusia.
Cinta adalah cahaya malam-malam
Pemisahan menyiapkan diri
Matang untuk penyatuan
Oh dia yang berjalan pada dadaku
Penyatuan adalah penangkal perpisahan
(Rumi, 2018:126)
Nilai sufistik yang terkandung dalam kutipan ini adalah sebuah makna mengenai
cinta yang bersemayam pada hati manusia. Ketika mencintai seseorang, kita
menganggap seseorang itu adalah cahaya dan sebuah kebahagiaan dalam hidup
kita. Entah cinta itu terwujud atau tidak, setidaknya kita sudah membuktikan
bahwa kita memiliki sebuah cinta yang tulus pada seseorang tersebut. Ketika
mencintai seseorang, berarti harus siap akan segala kemungkinan bahkan
kemungkinan terpahit sekalipun. Kita mempersiapkan diri untuk mewujudkan
cinta itu, akan tetapi kita juga harus siap untuk kehilangan dan merelakan
sesuatu yang selama ini kita cintai dengan sepenuh jiwa. Kita kembalikan lagi
pada kodrat cinta yang sebenarnya, Tuhan menganugerahkan cinta dan jika
Tuhan meminta kembali atau memaksa harus meninggalkan cinta itu maka kita
harus benar-benar siap, sebab Dialah sang pecinta dan segala cinta akan tetap
kembali kepada-Nya.
Cinta seorang murid pada gurunya adalah cinta yang tak ternilai
Seperti yang sudah dijelaskan di awal pembahasan, Matahari Diwan Syams
Tabrizi menceritakan tentang cinta seorang murid pada gurunya. Ada begitu
banyak jenis cinta, tetapi cinta seorang murid pada gurunya merupakan sesuatu
yang berbeda. Ada sebuah ikatan yang tersemat didalamnya, menyatu dengan
rasa kagum, balas budi, hingga sebuah pengabdian. Guru adalah sosok pelita bagi
semua muridnya, dan guru bagaikan cahaya yang telah memberikan sebuah arah
baru pada jiwa yang gelap dan haus akan ilmu. Cinta yang seperti ini dapat
dikategorikan sebagai cinta yang tulus meski tanpa imbal balik dalam hal apapun.
Kemanapun aku pergi, kau ada bersamaku
Jika kau ingin, tariklah aku ke arah kedai minuman
Buat aku mabuk ke arah ketiadaan
Hancurkan aku!
(Rumi, 2018:10)
Begitulah perwujudan cinta seorang murid pada gurunya, seorang murid yang
paham akan balas Budi dan betapa berharganya sebuah ilmu maka ia
menganggap gurunya adalah ladang kebaikan dan ladang cinta. Ia mampu
memberikan apapun demi pengabdian dan rasa terima kasih pada sang guru
bahkan dengan menyerahkan hidupnya, ketika seorang murid dipisahkan dengan
guru yang selalu membimbingnya tentunya itu akan menjadi sebuah penyiksaan.
Kerinduan akan selalu hadir berbalut dengan kesedihan akan kepergian sang
murobbi.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, anas. 2021. Psikologi sastra (edisi revisi).Surabaya:Unesa university
press
Nurbakhsyi, Javad. 1992. Psikologi sufi. Yogyakarta: fajar pustaka baru
Jalaluddin Rumi.2018. Matahari Diwan Syams Tabrizi terjemahan A. Schimmel.
Yogyakarta: forum relasi inti media
Harry, fadlullah.2001. Belajar mudah tasawuf terjemahan Muh. Hasyim Asegaf.
Jakarta: lentera
Jalaluddin Rumi. 2018. Samudra Rubaiyat menyelami pesona magis dan rindu,
terjemahan Andrew Harvey. Yogyakarta: forum relasi inti media
Rofi, Husnaini. 2014. Hari, diri, dan jiwa. Jakarta: jaqfi
Bastaman, Hanna Jumhana. 1997. Integrasi psikologi dengan Islam menuju
psikologi islami. Yogyakarta: pustaka pelajar
Zahri, Mustafa. 1995. Kunci memahami ilmu tasawuf. Surabaya: PT Bina Ilmu
Frager, Robert. 1999. Psikologi sufi untuk transformasi. Jakarta: serambi
Creswell, JW. 2015. Penelitian Kualitatif & Desain Riset. Terjemahan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 2014. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh
Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
Abdul Qodir, Muhammad. 2005. Menyucikan jiwa. Jakarta: gema insani
Mujib, Abdul. 2001. Nuansa psikologi islam. Jakarta: persada
Syukur amin. 2002. Tasawuf kontekstual solusi problem manusia modern.
Yogyakarta: pustaka
Ancok, Jamaluddin. 1994. Psikologi Islam. Yogyakarta: pustaka pelajar
Annajar, Amin. 2004. Psikologi Sufistik Dalam Kehidupan Modern. Bandung:
Mizan Media Utama
Syukur, Amin. 2000. Zuhud di Abad Moderen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syukur, Amin. 2012. Sufi Healing; Terapi dengan Metode Tasawuf. Jakarta:
Erlangga
Adz Dzaky. 2001. Hamdani Bakram. Konseling dan Psikoterapi Islami. Yogyakarta:
Pustaka Fajar
Al-Hujwiri. 1994. Kasyf al-Mahjub, Risalah Persia Tertua Tentang
[Link]: Mizan