67% found this document useful (3 votes)
5K views4 pages

Pelanggaran Kode Etik Guru PPG

This document discusses a case of a teacher violating the teacher's code of ethics in Indonesia. Specifically, it describes a teacher who physically abused a student at a pesantren (Islamic boarding school) in Situbondo, East Java, by hitting the student with a wooden stick, causing minor injuries. The teacher's actions violated principles in the teacher's code of ethics, as well as Indonesian laws regarding child protection and assault. The document analyzes the causes of the problem, potential solutions based on relevant theories and regulations, and lessons that can be learned about upholding the teacher's code of ethics.

Uploaded by

fisya54
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
67% found this document useful (3 votes)
5K views4 pages

Pelanggaran Kode Etik Guru PPG

This document discusses a case of a teacher violating the teacher's code of ethics in Indonesia. Specifically, it describes a teacher who physically abused a student at a pesantren (Islamic boarding school) in Situbondo, East Java, by hitting the student with a wooden stick, causing minor injuries. The teacher's actions violated principles in the teacher's code of ethics, as well as Indonesian laws regarding child protection and assault. The document analyzes the causes of the problem, potential solutions based on relevant theories and regulations, and lessons that can be learned about upholding the teacher's code of ethics.

Uploaded by

fisya54
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

PROBLEM BASED LEARNING ( PBL )

Nama : AINUL YAQIN

Judul Modul : Pengembangan Profesi Guru

Kegiatan Belajar ( KB ) : III ( Kode Etik Guru )

Judul Masalah : Guru Yang Melakukan Kekerasan Salahi Kode Etik Guru

Kode Etik Guru Indonesia dirumuskan oleh PGRI secara yuridis pada tahun 1973, yang
artinya apabila para guru melakukan pelanggaran kode etik makan akan diberikan sanksi.

Kode Etik Guru sesungguhnya berupa pedoman yang mengatur hubungan guru dengan
teman sejawat, peserta didik pemimpi, masyarakat, dan juga dengan misi tugasnya.

Pedoman itu diharapkan nantinya bisa membedakan perilaku baik atau buruk seorang
guru, memilah – milah mana saja hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama
menjalankan tugas sebagai seorang pendidik. Keberadaan kode etik ini bertujuan untuk
menempatkan sosok guru sebagai pribadi yang terhormat, mulia, dan juga bermartabat.

Adapun fungsi kode etik guru Indonesia adalah seperangkat prinsip dan norma moral
yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungan dengan
peserta didik, orang tua/wali siswa, sekolah dan rekan seprofesi, organisasi profesi dan
pemerintah sesuai dengan nilai – nilai agama, Pendidikan social, etika, dan juga kemanusiaan.

Sehingga bisa berfungsi dengan baik, kode etik itu sendiri harus menjadi hasil Self
Regulation ( pengaturan diri ) dari profesi. Dengan membuat kode etik, profesi sendiri maka
akan menetapkan hitam atas putih yang niatnya untuk mewujudkan nilai nilai moral yang
dianggap hakiki.

Bagi guru yang melanggar kode etik maka akan dikenai sanksi sesuai dengan peraturan
perundang – undangan yang berlaku. Pihak yang berwenang yang merekomendasikan sanksi
pada pelanggaran kode etik yaitu Dewan Kehormatan Guru Indonesia. Akan tetapi masih
banyak permasalahan pelanggaran – pelanggaran kode etik yang masih sering dilakukan oleh
seorang guru. Seperti Kekerasan terhadap anak didik, Pemukulan bahkan Pencabulan.

Implementasi kode etik profesi itu dapat memberikan pengaruh terhadap


profesionalisme guru, disamping itu dipengaruhi juga oleh faktor lain misalnya kurikulum,
ketenagaan, sarana prasarana dan juga metodologi.

Terdapat salah satu kasus pelanggaran kode etik yang pernah saya temui, pelanggaran
kode etik tersebut dilakukan oleh salah satu oknum guru yang mengajar di salah satu pondok
pesantren, tepatnya di Pondok Pesantren Tanjung Rejo Mangaran Situbondo. Dimana
seorang guru memukul murid hingga mengalami luka ringan karena murid tersebut
melanggar peraturan yang telah ditetapkan berupa “ Membawa elektronik (HP) dan
berhubungan dengan selain jenis ( Berpacaran ) di lingkungan pondok “, dimana dalam tata
tertibnya pelanggaran tersebut termasuk pelanggaran yang berat didalam lembaga namun
dengan sanksi yang sudah ditetapkan didalam tata tertib berupa : penahanan HP dan
menghatamkan Al qur’an. Hukuman fisik disekolah (Khususnya organisasi hak asasi manusia
dan kedokteran) menegaskan bahwasannya hukuman fisik itu kurang efektif dalam jangka
Panjang, bisa mengganggu proses pembelajaran, memicu perilaku antisosial dan penderitaan
kejiwaan, serta termasuk tindak kekerasan yang melanggar hak anak – anak.

Pemberian sanksi harus bersifat objektif, tidak boleh diskriminasi, dan juga tidak
bertentangan dengan dasar organisasi profesi dan perundang – undangan. Apabila seorang
guru melakukan pelanggaran kode etik, maka guru tersebut sudah melanggar sumpah/janji
guru yang pernah diucapkan.

Berikut Identifikasi Masalah dan deskripsi kasus pelanggaran kode etik yang dilakukan
oleh seorang guru di Pondok Pesantren Tanjung Rejo, Mangaran Situbondo. Terkait kasus
pemukulan terhadap siswa hingga menyebabkan luka ringan.

No. Komponen Deskripsi


1. Identifikasi Masalah ( Berbasis 1. Polsek Mangaran telah menerima laporan
masalah yang ditemukan di dari orang tua siswa yang tidak terima
lapangan ) bahwasannya anaknya mengalami kekerasan
di Madrasahnya.
2. Polres mangaran menindak lanjuti laporan
tersebut dengan melakukan pemanggilan
terhadap guru yang berinisial AQ yang diduga
melakukan kekerasan terhadap siswa.
3. Disangka telah memukul siswanya bernama
Muhammad Irwansyah (15 tahun).
Menggunakan kayu hingga mengalami luka
ringan ( Memar Punggung ). Peristiwa
tersebut terjadi pada Jum’at, 20 Desember
2020 ).

2. Penyebab Masalah 1. Hilangnya citra dari seorang guru


( Dianalisis apa yang menjadi 2. Ketidak mampuan seorang guru untuk
akar masalah yang menjadi menahan emosi
pilihan masalah ) 3. Kurangnya kedisiplinan seorang siswa dalam
mentaati peraturan
4. Kurangnya pemahaman seorang guru
tentang masalah kode etik
3. Solusi Teori Kode Etik Guru
a. Dikaitkan dengan teori / 1. UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang guru
dalil yang relevan dan dosen, minimal memiliki empat
b. Sesuaikan dengan masalah kompetensi yaitu Kompetensi
yang akan di pecahkan Pedagogik, Kompetensi Kepribadian,
Kompetensi sosial, beserta Kompetensi
profesional. Mempunyai Komitmen
untuk meningkatkan mutu Pendidikan,
keimanan, ketakwaan, dan juga akhlaq
mulia.
2. Menyalahi kode etik guru no 9, artinya
Guru Melaksanakan semua ketentuan
yang menjadi kebijaksanaan pemerintah
dalam bidang Pendidikan.
Prosedur dan Langkah pemecahan :
1. Dalam masalah pelanggaran kode etik
ada beberapa sanksi yang akan diberikan
sesuai dengan tingkat pelanggarannya.
2. Guru diperbolehkan untuk memberikan
sanksi kepada murid yang melanggar
aturan sekolah, sebagaimana yang sudah
tercantum dalam Pasal 39 Peraturan
Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008
Tentang guru
3. UU No. 35 Tahun 2014 tentang
perubahan atas undang undang Nomor
23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan
anak
4. Pasal 352 ayat (1) KUHP menyebutkan
bahwasannya penganiayaan yang
menyebabkan luka ringan dihukum
dengan hukuman penjara selama –
lamanya tiga bulan atau denda sebanyak
– banyaknya Rp. 4.500,-

Hikmah dan pembelajarann yang bisa di ambil dari pelanggaran kode etik seorang guru
yang telah disebutkan. Yakni, seorang guru harus bisa memegang teguh terhadap prinsip –
prinsip kode etik , yaitu :
1. Guru harus berbakti dan membimbing peserta didik bertujuan untuk membentuk
manusia Indonesia seutuhnya dan berjiwa Pancasila
2. Guru mampu memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional
3. Guru harus berusaha untuk memperoleh informasi tentang peserta didik supaya
menjadi bahan dalam melakukan bimbingan dan pembinaan
4. Guru dapat menciptakan suasana sekolah yang sebaik – baiknya sehingga bisa
menunjang berhasilnya sukses belajar mengajar
5. Guru menjaga hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
dalam membina peran peserta serta bertanggung jawab Bersama terhadap
Pendidikan
6. Guru secara pribadi dan bersama – sama dapat mengembangkan dan meningkatkan
mutu dan martabat profesinya
7. Guru harus menjaga hubungan baik seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetia
kawanan social
8. Guru secara bersama – sama memelihara dan meningkatkan mutu PGRI supaya
menjadi sarana perjuangan dan pengabdian
9. Guru dapat menjalankan segala kebijakan pemerintah dibidang Pendidikan

Jika guru mampu untuk mengamalkan prinsip – prinsip kode etik secara optimal, maka
tidak akan terjadi pelanggaran kasus – kasus kode etik. Tujuan Pendidikan bisa terlaksana
dengan baik mulai dari penanaman Pendidikan karakter kepada siswa dan mengembangkan
kreasi dan inovasi untuk memajukan Pendidikan di sekolah. Melihat dari tugas juga peran
guru yang begitu kompleks dengan tugas – tugas yang sangat berat yakni menjadikan anak –
anak bangsa menjadi seseorang yang mempunyai kecerdasan IQ, EQ dan SQ sehingga bisa
menjadi manusia seutuhnya. Dengan begitu maka implikasinya untuk kemajuan bangsa.
Sebuah proses Panjang yang tidak bisa langsung dinikmati dengan sekejap mata. Untuk
menunjang keberhasilan pencapaian tugas yang berat ini, perlu bagi guru agar mau berbenah
serta mendukung. Tak hanya dari segi guru akan tetapi semua pihak juga harus ikut berbenah
supaya dapat menunjang keberhasilan Pendidikan Indonesia.

You might also like