0% found this document useful (0 votes)
148 views10 pages

Formulasi Dan Evaluasi Aktivitas Antioksidan Metode Dpph Pada Sediaan Spray Gel Β-Karoten

Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
148 views10 pages

Formulasi Dan Evaluasi Aktivitas Antioksidan Metode Dpph Pada Sediaan Spray Gel Β-Karoten

Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

p-ISSN: 2620-8563; e-ISSN: 2621-1521

Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021


Taufik I et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

Available online at Website: http://ejurnal.stikes-bth.ac.id/index.php/P3M_JoP

FORMULASI DAN EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN METODE DPPH


PADA SEDIAAN SPRAY GEL β-KAROTEN

Ilham Taufik1, Indra2, Lusi Nurdianti3


Program Studi S-1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehataan Bakti Tunas Husada,
Jl. Cilolohan no. 36 Tasikmalaya Indonesia 46115
Email: [email protected]

Received: 31 May 2021; Revised: Juny 2021; Accepted: July 2021; Available online: August 2021

ABSTRACT
In this day and age people want to have clean skin, look youthful and avoid the process of premature
aging, to prevent this from happening caused by exposure to free radicals, antioxidant preparations
are needed. Therefore, researchers are interested in creating new preparation products in the form of
serum spray gel with active substances β-carotene as antioxidants that people like. To create the
product research passed several methods that include Formulation spray gel, preparation making,
antioxidant activity test DPPH method using UV-Vis spectrophotometer pada (ascorbic acid, β-
carotene, and preparation), Evaluation of Preparations include organoleptic examination,
homogeneity, viscosity, pH, adhesion, stability test (Cycling Test) and hedonic test (fondness). In the
manufacture of preparations used tween 80 which acts as an emulgator so that the base with the active
substance can be mixed and produce a homogeneous preparation has a form of thick preparation,
murky yellow, and flavored typical vanilla with viscosity and pH according to standard
preparations. antioxidant test results β-carotene showed antioxidant activity that is classified as strong
as well as in preparations showed the presence of antioxidant activity characterized by the value of %
Inhibition. Hedonic tests on 30 people showed that Formula 1 is preferred based on three parameters.
From the results of the study proved that β-carotene compounds can be made into serum spray gel
preparations that have antioxidant activity and are preferred.

Keywords: β-carotene, serum spray gel, antioxidants.

ABSTRAK

Pada zaman sekarang masyarakat ingin memiliki kulit yang bersih, terlihat awet muda dan terhindar dari proses
penuaan dini, untuk mencegah hal tersebut terjadi yang diakibatkan oleh paparan dari radikal bebas maka
dibutuhkan sediaan antioksidan. Maka dari itu peneliti tertarik untuk menciptakan produk sediaan baru berupa
serum spray gel dengan zat aktif β-karoten sebagai antioksidan yang disukai masyarakat. untuk menciptakan
produk tersebut penelitian melewati beberapa metode yang meliputi Formulasi Spray gel, Pembuatan Sediaan,
Uji Aktivitas Antioksidan metode DPPH menggunakan Spekrofotometer UV-Vis pada (asam askorbat, β-karoten,
dan sediaan), Evaluasi Sediaan meliputi pemeriksaan organoleptik, homogenitas, viskositas, pH, daya lekat, uji
stabilitas (Cycling Test) dan uji hedonik (kesukaan). Pada pembuatan sediaan digunakan tween 80 yang berperan
sebagai emulgator agar basis dengan zat aktif dapat tercampur dan menghasilkan sediaan yang homogen memiliki
bentuk sediaan kental, berwarna kuning keruh, dan beraroma khas vanilla dengan viskositas dan pH sesuai standar
sediaan. hasil uji antioksidan β-karoten menunjukan aktivitas antioksidan yang tergolong kuat begitu pula pada
sediaan menunjukan adanya aktivitas antioksidan ditandai dengan nilai % Inhibisi. Uji hedonik pada 30 orang
menunjukan bahwa Formula 1 paling disukai berdasarkan tiga parameter.dari hasil penelitian membuktikan
bahwa senyawa β-karoten dapat dibuat menjadi sediaan serum spray gel yang memiliki aktivitas antioksidan dan
disukai.

Kata kunci: β-karoten, serum spray gel, antioksidan..

1
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

PENDAHULUAN
Pada zaman sekarang masyarakat ingin memiliki kulit yang bersih dan terlihat awet muda, baik
dengan cara yang tradisional atau modern. Untuk mencoba mencegah atau bahkan mengembalikan kulit
yang mengalami proses penuaan, Masyarakat banyak menggunakan sediaan kosmetik baik kosmetik
untuk riasan ataupun kosmetik untuk perawatan. Fenomena penuaan ada kaitannya dengan terjadinya
proses degeneratif atau penurunan fungsi jaringan pada tubuh (Manik Worowerdi Cintakaweni et al.,
2011). Tanda-tanda yang terlihat dari perubahan tekstur kulit yang menjadi kekeringan, kehilangan
kekencangan, dan timbulnya kerutan (Garre et al., 2018). Hal tersebut dapat diatasi dengan produk yang
mengandung antioksidan.
Senyawa Antioksidan diketahui dapat menangkal radikal bebas, senyawa antioksidan dipercaya
dapat membuat kulit awet muda atau mencegah penuaan (Mangunsong et al., 2019), senyawa
antioksidan banyak jenisnya salah satunya adalah β-karoten. Senyawa β-karoten dapat menghilangkan
spesies oksigen reaktif berlebihan yang dihasilkan di dalam tubuh. Sehingga β-karoten berpotensi
digunakan dalam bidang industri farmasi, makanan, dan juga kosmetik (Ishimoto et al., 2019). β-karoten
diyakini memiliki keuntungan dapat menghantarkan bahan aktif ke dalam kulit karena stratum korneum
memiliki karakteristik lipoid karena komponen lipidnya karena β-karoten yang memiliki kelarutan yang
bersifat hidrofobik sehingga memiliki kesempatan untuk menembus lipid lebih baik dari pada
komponen yang larut air (Baki, Gabriella, Alexander, 2016).
Sediaan antioksidan yang tersedia antara lain yaitu bentuk sediaan krim, gel, salep, dan tablet,
Selain sediaan krim, gel, salep, dan tablet ada pula sediaan kosmetik berupa serum, Serum juga
merupakan bentuk sediaan kosmetik yang telah berkembang akhir – akhir ini. serum dikategorikan
sebagai sediaan emulsi karena merupakan sediaan yang biasanya memiliki viskositas rendah. Salah satu
bentuk serum yaitu sediaan serum dalam bentuk gel semprot (spray gel) (Matsui, 1997; Putri, 2017).
Kelebihan serum yaitu memiliki konsentrasi bahan aktif tinggi sehingga efeknya lebih cepat diserap
kulit dan memiliki viskositas yang tidak terlalu tinggi (Garre et al., 2018)
Dari latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan formulasi pembuatan sediaan
kosmetik berupa serum wajah dengan zat aktif β-karoten dengan variasi konsentrasi untuk mengetahui
karakteristik dari sediaan dengan dilakukan pengujian evaluasi bentuk sediaan yang meliputi uji mutu
fisik, uji antioksidan dan juga uji hedonik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
β-karoten dapat diformulakan menjadi serum spray gel yang memiliki aktivitas antioksidan yang
disukai.

METODE PENELITIAN
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik (Excellen®), batang
pengaduk, spatula, alumunium foil, gelas kimia (Pyrex), labu ukur (Pyrex), kaca arloji, magnetic stirrer
hot plate, kapsul magnetik, oven (Memmert), indikator pH universal, Viscometer Brookfield, botol
semprot, kuvet, mikropipet, spektrofotometer UV-Vis.

Bahan
Bahan dalam penelitian ini yaitu meliputi β-karoten (Sigma-Aldrich®), Asam Askorbat,
Paraffin, Essential Oil, Petroleum Eter, 2,2-Diphenyl-1-pikrilhidrazil (DPPH), Natrium Carboxymethyl
Cellulose (Na-CMC), Aqua demineralisata, DMDM Hydantoin, Natrium metabisulfit, methanol p.a
(Germany Merck), Polysorbate 80 (Tween 80).

Formulasi Spray gel


Formulasi Spray gel dibuat dengan beberapa variasi konsentrasi β-karoten sebagai zat aktif
yang dilarutkan dalam Petroleum Eter. Na-CMC sebagai basis gel yang dilarutkan dengan
Sebagian aqua demineralisata sebagai Gelling agent.

2
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

Pembuatan Sediaan Spray gel


Pembuatan sediaan dilakukan menggunakan alat magnetic stirrer hot plate dengan membuat
basis gelnya terlebih dahulu dan didinginkan agar tidak merusak senyawa antioksidan pada zat aktif
Ketika dicampurkan. Agar zat aktif dapat homogen maka ditambahkan tween 80 sebagai emulgator dan
ditambahkan juga bahan bahan tambahan yang lain seperti Natrium metabisulfite, Paraffin, DMDM
Hydantoin, dan Essential Oil.

Uji Aktivitas Antioksidan


Pengujian dilanjutkan dengan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode 2,2-Diphenyl-
1-pikri lhidrazil (DPPH). Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan mengukur nilai
absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis, pengujian aktivitas antioksidan dilakukan pada
asam askorbat (kontrol positif), β-karoten, dan pada sediaan.

Evaluasi Sediaan Spray gel


Evaluasi sediaan yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari pemeriksaan organoleptik
(warna,bau, dan bentuk sediaan), pemeriksaan homogenitas, pengukuran viskositas, pengukuran pH,
pengujian daya lekat, uji stabilitas (Cycling Test) dan uji hedonik (kesukaan).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pemeriksaan organoleptik dan homogenitas pada penelitian ini bertujuan untuk meliha warna,
aroma, bentuk dan homogenitas sediaan yang dihasilkan.

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Organoleptik dan Homogenitas


Formula Bentuk Warna Aroma Homogenitas
F1 Kental Kuning Keruh Khas Vanilla Homogen
F2 Kental Kuning Keruh Khas Vanilla Homogen
F3 Kental Kuning Keruh Khas Vanilla Homogen
Keterangan: F1 = Formula 1
F2 = Formula 2
F3 = Formula 3

Pada pengamatan organoleptik dari ketiga formula ini menunjukan dari ke 3 formula tersebut
dihasilkan sediaan yang memiliki bentuk sediaan yang kental, dengan aroma khas vanilla yang timbul
karena adanya penambahan vanilla essential oil untuk penambah daya Tarik dari sediaan, dan untuk
warna dari tampilan ketiga formula tersebut menunjukan hasil kuning keruh. Tampilan kuning keruh
tersebut disebabkan dari adanya pengaruh dari tween 80 dengan β-karoten, disebutkan juga bahwa
faktor yang dapat mempengaruhi turbiditas (kekeruhan) diantaranya yaitu indeks bias, komposisi
aqueous phase dan adanya pengemulsi (Siqhny et al., 2020).
Pada pengamatan homogenitas dari ketiga formula yang telah di buat telah homogen karena
pada pengujian homogenitas dengan pengujian secara visual dengan cara meneteskan sediaan pada
permukaan kaca preparate kemudian di tutup dengan kaca preparate yang lain tidak terlihat adanya
gumpalan dan butiran butiran kasar.

Tabel 2. Hasil Uji Viskositas dengan spindle No. 3 dengan 30 rpm

Formulasi Viskositas (cPs)

Formula 1 1777
Formula 2 1983
Formula 3 1383

3
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

Berdasarkan dari hasil uji viskositas tersebut dapat kita lihat bahwa yang masuk kedalam
rentang spray gel adalah formula 1, 2 dan 3 sebagaimana untuk viskositas basis spray gel berkisar dari
800-3000 cps (Kamishita et al, 1992; Putri, 2017). Viskositas sediaan harus dapat membuat sediaan
disemprotkan dan pada nilai viskositas dari formula 1, 2 dan 3 sediaan dapat disemprotkan dengan baik.
Pengujian pH bertujuan untuk menentukan dan mengevaluasi nilai pH sediaan agar sesuai
dengan nilai pH kulit, sehingga tidak terjadi iritasi kulit dan menjamin keamanan sediaan. Pada uji pH
ini didapatkan formula 1, 2 dan 3 semuanya memenuhi syarat yaitu pH 6 berada pada kisaran pH kulit
4,5-6,5 (Djajadisastra Abdul; NP, Dessy, 2009). Dengan pH sediaan ada pada rentang pH kulit maka
sediaan aman diaplikasikan pada kulit. Apabila pH melebihi dari rentang tersebut maka dapat
menimbulkan kerusakan pada kulit.
Berdasarkan pengujian daya lekat yang dilakukan bertujuan untuk melihat berapa lama waktu
dari sediaan melekat pada permukaan kulit, dilakukan sebanyak 3 pengulangan pada tiap formulanya
pada waktu 10 detik tiap masing masing formula tersebut apakah dapat menempel atau menetes
kebawah. Hasil dari pengujian daya lekat pada semua sediaan dari setiap formulasi menunjukan
kemampun sediaan melekat pada permukaan kulit lebih dari 10 detik. Hal tersebut membuktikan bahwa
sediaan pada tiap formulanya memiliki kemampuan melekat pada kulit yang baik.
Pada pengujian stabilitas yang dilakukan dengan melakukan pengamatan secara organoleptis
dan pH dengan menggunakan metode Cycling test dengan menyimpan sediaan pada 2 kondisi yaitu
pada suhu 4 ± 2ºC selama 24 jam, dilanjutkan dengan pemindahan ke dalam oven yang bersuhu 40 ±
2ºC selam 24 jam (satu siklus).
Pemeriksaan secara organoleptis pada formulasi F1, F2 dan F3 menunjukkan bahwa formulasi
memiliki kenampakan kuning keruh dan bau yang khas. Pengamatan menunjukkan hasil perubahan
terjadi sebelum waktu yang ditentukan, yaitu 6 siklus (12 hari). Ditandai dengan terjadinya pemisahan
atau terbentuknya sineresis hal tersebut disebabkan karena sediaan pada awalnya merupakan sediaan
yang terdispersi, Ketika dilakukan pengujian dan di simpan dalam 2 kondisi maka adanya penguapan
dari pelarut zat aktifnya yaitu petroleum eter, yang lama kelamaan akan membuat sediaan menjadi tidak
terdispersi dan menunjukan adanya pemisahan menjadi 2 fase. Dibandingkan dengan sediaan F2 dan
F3, sediaan F1 cukup baik, karena F1 dapat bertahan selama 3 siklus, sedangkan F2 dan F3 hanya dapat
bertahan selama 2 siklus. Jika formulasi tidak mengalami perubah dalam 6 siklus (12 hari), maka
formulasi dinyatakan memiliki stabilitas yang baik pada metode uji Cycling test (Suryani et al., 2019).
Untuk hasil uji pH pada masing-masing kondisi dilakukan pada setiap siklusnya, dan hasilnya
menunjukkan bahwa pH semua formulasi tidak mengalami perubahan.
Pada pengujian aktivitas antioksidan yang dilakukan dengan menggunakan DPPH dengan
spektrofotometri, yang meliputi pemeriksaan antioksidan pada control positif (asam askorbat),
penentuan nilai IC50 kontrol positif, pengukuran antioksidan β-karoten, penentuan nilai IC50 β-karoten,
dan pengukuran aktivitas antioksidan sediaan.
Berdasarkan pengukuran absorbansi pada kontrol positif (asam askorbat) pada seri konsentrasi
1.5 ppm, 2 ppm, 2.5 ppm, 4 ppm, dan 5 ppm yang di tambahkan dengan DPPH dengan perbandingan 2
: 1 dimana DPPH 2 ml dan kontrol positif 1 ml yang di inkubasi selama 30 menit di ukur pada panjang
gelombang 516 nm menggunakan alat Spektrofometer UV-Vis. Data hasil pengukuran absorbansi
dinyatakan sebagai berikut:

Tabel 3 Hasil analisis aktivitas antioksidan As.Askorbat


% IC50 Kontrol Negatif
Kadar Abs slope
Inhibisi (ppm) (DPPH)
1,5 0,447 46,38% Rep 1 0,834
0,0381
2 0,417 49,98% Rep 2 0,834
2,5 0,404667 51,46% Intercept Rep 3 0,833
4 0,367 55,98% 2,231 Rata-rata 0,834
0,4149
5 0,326333 60,86%
Correlation (r2)
0,9817

4
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

0.5
0.4
y = -0.0318x + 0.4878
0.3 R² = 0.9817

abs
0.2
0.1
0
0 1 2 3 4 5 6
ppm
abs As.Askorbat Linear (abs As.Askorbat)

Gambar 1 Grafik Nilai absorbansi Asam Askorbat dengan DPPH

Dari hasil tersebut dapat dilihat pada kolom adanya penurunan nilai absorbansi DPPH pada
setiap kenaikan konsentrasi dari kontrol positif (asam askorbat). Penurunan nilai tersebut dapat
diartikan bahwa terjadi aktivitas penangkapan radikal bebas (DPPH) oleh asam askorbat sehingga
terjadinya penurunan nilai absorbansi. Selanjutnya persen hambat masing - masing larutan akan
diketahui dengan menggunakan rumus (Molyneux, 2004):
(Abs kontrol −Abs sampel) x 100%
Inhibisi (%) = Abs Kontrol
Ket : Abs kontrol = Absorbansi kontrol (DPPH) setelah 30 menit
Abs sampel = Absorbansi sampel setelah 30 menit

80%

60%
% Antioksidan

40%
y = 0.0381x + 0.4149
20% R² = 0.9817

0%
0 1 2 3 4 5 6
Kadar As.Askorbat (µg/mL)
Gambar 2 Grafik Nilai % Inhibisi Asam Askorbat

Dari data absorbansi pada Tabel 3, dapat dianalisis pengaruh konsentrasi sampel terhadap
persentase penghambatan, seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Menurut data tersebut, peningkatan
aktivitas antioksidan berbanding lurus dengan peningkatan nilai konsentrasi asam askorbat. Nilai %
inhibisi merupakan persentase kemampuan senyawa dalam menghambat radikal bebas.
Nilai IC50 asam askorbat ditentukan dengan perhitungan menggunakan persamaan 𝑦 = 𝑎x + 𝑏
dimana y=50 dan nilai x menunjukkan IC50. data yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 2.
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus tersebut di dapatkan nilai IC50 sebesar 2,231 ppm.
Definisi dari IC50 adalah konsentrasi yang dapat meredam 50% radikal bebas DPPH. Semakin kecil
nilai IC50 maka semakin besar aktivitas antioksidannya. Suatu senyawa dikatakan memiliki aktivitas
antioksidan kelompok sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50 ppm, senyawa tersebut dianggap
memiliki aktivitas antioksidan kuat jika memiliki nilai IC50 antara 50-100 ppm, jika nilai IC50 101-150
ppm maka dianggap memiliki aktivitas antioksidan sedang, dan jika nilai IC50 antara 150-200 ppm
senyawa tersebut dianggap memiliki aktivitas antioksidan yang lemah (Widyasanti et al., 2016).
Pengujian antioksidan pada β-karoten juga dilakukan dengan menggunakan meode 2,2-
Diphenyl-1-pikrilhidrazil (DPPH). Dilakukan dengan pengukuran absorbansi pada β-karoten sintetis
dengan seri konsentrasi 8 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 90 ppm, dan 100 ppm yang di tambahkan dengan
DPPH dengan perbandingan 2 : 1 dimana DPPH 2 ml dan β-karoten 1 ml yang di inkubasi selama 30
menit di ukur pada Panjang gelombang 516 nm menggunakan alat Spektrofometer UV-Vis. Data hasil
pengukuran absorbansi dinyatakan sebagai berikut:

5
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

Tabel 4 Hasil analisis antioksidan β-karoten


% IC50 Kontrol Negatif
Kadar Abs slope
Inhibisi (ppm) (DPPH)
8 0,409 42,29% Rep 1 0,709
0,0013
20 0,397 43,98% 64,526 Rep 2 0,708
40 0,372333 47,46% Intercept Rep 3 0,709
90 0,333667 52,92% Rata-rata 0,709
0,4150
100 0,32 54,84%
Correlation
(r2)
0,9934

0.5
0.4
0.3
abs

0.2 y = -0.0009x + 0.4146


R² = 0.9934
0.1
0
0 20 40 60 80 100 120
ppm

ppm abs β-karoten Linear (ppm abs β-karoten)

Gambar 3 Grafik Nilai absorbansi β-karoten dengan DPPH

Pengukuran nilai absorbansi pada setiap kenaikan konsentrasi β-karoten menunjukan hasil
adanya penurunan nilai absorbansi pada setiap kenaikan konsentrasinya, har tersebut membuktikan
bahwa adanya aktivitas penekanan radikal bebas (DPPH) oleh β-karoten. Selanjutnya untuk mengetahui
persen hambat masing-masing larutan menggunakan rumus (Molyneux, 2004) :
(Abs kontrol −Abs sampel) x 100%
Inhibisi (%) = Abs Kontrol
Ket : Abs kontrol = Absorbansi kontrol (DPPH) setelah 30 menit
Abs sampel = Absorbansi sampel setelah 30 menit

60%
50%
40%
% Antioksidan

y = 0.0013x + 0.415
30%
R² = 0.9934
20%
10%
0%
0 20 40 60 80 100 120
Kadar β-karoten (µg/mL)
Gambar 4 Grafik Nilai % Inhibisi β-karoten
Nilai % inhibisi dari β-karoten terdapat pada Tabel 4. pada Gambar 4 dapat dilihat data
menunjukan adanya kenaikan aktivitas antioksidan yang berbanding lurus dengan peningkatan kadar β-
karoten. Nilai % Inhibisi tersebut menunjukan persentase kemampuan senyawa β-karoten untuk
menghambat radikal bebas. Berdasarkan hasil pengukuran nilai absorbansi dan persen (%) inhibisi
dapat diperoleh nilai IC50.

6
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

Nilai IC50 β-karoten ditentukan dengan perhitungan menggunakan persamaan 𝑦 = 𝑎x + 𝑏


dimana y=50 dan nilai x menunjukkan IC50. data yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 4 yaitu
meliputi nilai 𝑎 dan 𝑏. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus tersebut di dapatkan nilai
IC50 sebesar 64,526 ppm dengan demikian senyawa β-karoten digolongkan kedalam senyawa yang
memiliki aktivitas antioksidan kuat karena nilai IC50 β-karoten tersebut ada pada rentang 50-100 ppm
yang termasuk kedalam senyawa yang dianggap memiliki aktivitas antioksidan kuat (Widyasanti et al.,
2016).
Pada pemeriksaan aktivitas antioksidan pada sediaan dilakukan menggunakan DPPH secara
spektrofotometri dengan mereaksikan setiap Formulanya dengan larutan DPPH. Data hasil pemeriksaan
aktivitas antioksidan ini akan menunjukan bahwa sediaan tersebut memiliki aktivitas antioksidan. Data
hasil pengukuran absorbansi sediaan pada Panjang gelombang 516 nm yaitu sebagai berikut:

Tabel 5 Hasil analisis antioksidan pada Sediaan


Sampel Absorbansi Rata-rata % Inhibisi
0,709
DPPH 0,708 0,7086667
0,709
0,377
F3 0,378 0,3773333 46,7544685 %
0,377
0,4
F2 0,4 0,3996667 43,6030103 %
0,399
0,408
F1 0,408 0,4083333 42,3800564 %
0,409

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa F3 yang memiliki aktivitas antioksidan yang lebih baik
dibandingkan F2 dan F1 dikarenakan nilai rata rata absorbansi dari F3 lebih kecil dan juga dapat dilihat
dari % inhibisinya F3 menunjukan kemampuan untuk menghambat radikal bebas sebanyak 46.75 %
lebih besar dibandingkan dengan F2 sebesar 43.60 % dan F1 sebesar 42.38 %. Dari data tersebut
menunjukan sediaan spray gel β-karoten yang di buat memiliki aktivitas antioksidan untuk menangkal
radikal bebas.
Pada pengujian hedonik yang dilakukan dengan tujuan mengetahui Formula mana yang paling
di sukai oleh panelis diantara ke 3 Formula sediaan Spray gel. Penelitian ini telah disetujui Ethical
Clearence sebagai syarat untuk memberikan perlakuan kepada panelis (manusia). Ethical Clearence
telah disetujui dan dikeluarkan oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan STIKes BTH Tasikmalaya
dengan No.118/kepk-bth/V/2021 yang dapat dilihat pada Lampiran.
Data didapat dengan cara memberikan kuesioner dengan penilaian 3 parameter yang meliputi
warna, aroma, dan sensasi di kulit (kelengketan). Parameter penilaian dibuat dalam skala numerik yaitu
4 = sangat suka, 3 = suka, 2 = kurang suka, dan 1 = tidak suka. Dalam uji ini panelis yang digunakan
yaitu Wanita berumur 18-35 tahun dengan jumlah 30 orang (Indonesia, 2006). Format kuesioner yang
diberikan kepada panelis dapat dilihat pada lampiran.
Warna merupakan parameter yang secara langsung mempengaruhi indera manusia. Warna
dapat menentukan apakah suatu produk menarik atau tidak, dan juga merupakan salah satu atribut kesan
pertama konsumen saat menilai. Sedangkan parameter aroma merupakan penentu kualitas yang dapat
meningkatkan daya tarik sehingga dapat diterima oleh konsumen. Aroma yang menyenangkan akan
menarik konsumen, sedangkan aroma yang tidak sedap akan mengurangi daya tarik konsumen untuk
menggunakan sediaan tersebut. Sensasi kulit (lengket) adalah parameter yang menentukan kenyamanan
saat menggunakan formulasi ini, dan formulasi yang baik yang diharapkan konsumen adalah yang tidak
terlalu lengket dan tidak terlalu cair saat diaplikasikan pada kulit.

7
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

Tabel 6 Hasil Uji Hedonik


Skala Numerik
Parameter Formula
1 2 3 4
F1 0 5 11 14
Warna F2 1 10 19 0
F3 3 18 5 4
F1 0 3 20 7
Aroma F2 1 3 23 3
F3 1 7 16 6
F1 0 5 12 13
Sensasi dikulit
F2 1 7 17 5
(Kelengketan)
F3 4 15 5 6
Keterangan : 1 = Tidak Suka
2 = Kurang Suka
3 = Suka
4 = Sangat Suka

Tabel 7 Hasil Output SPSS Uji Hedonik


Parameter Uji F1 F2 F3
Mean 3,300 2,600 2,333
Warna SD 0,7497 0,5632 0,8442
Asymp.Sig 0,000

Parameter Uji F1 F2 F3
Mean 3,133 2,933 2,900
Aroma SD 0,7513 0,5833 0,7589
Asymp.Sig 0,081

Parameter Uji F1 F2 F3
Mean 3,267 2,867 2,433
Sensasi dikulit
SD 0,7397 0,7303 0,9714
(Kelengketan)
Asymp.Sig 0,003

Dari data pada Tabel 7 dengan jumlah N yang di pakai peneliti dalam uji ini sebanyak 30
panelis. Hasil data yang didapat diolah menggunakan SPSS Uji Friedman dengan tingkat kepercayaan
95%. Uji Friedman merupakan metode nonparametrik dilakukan untuk mengetahui perbedaan lebih
dari dua kelompok sampel yang saling berhubungan. Tujuan Uji Friedman adalah untuk melihat ada
atau tidaknya perbedaan pengaruh antar perlakuan, uji ini dianalogikan dengan prosedur parametrik
analisis ragam dua-arah (IPB, 2010).
Hipotesis yang digunakan yaitu jika signifikasi < 0,05 maka terdapat perbedaan pada ketiga
formula, jika signifikasi > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan pada ketiga formula. Berdasarkan
Friedman test dari masing masing parameter didapatkan hasil nilai signifikasi < 0,05 maka terdapat
perbedaan pada ketiga formula sediaan spray gel.
Penilaian pada warna hasil Uji Friedman menunjukan hasil signifikasi 0,000 nilai signifikasi
tersebut < 0,05 artinya terdapat perbedaan warna pada ketiga formula. Perbedaan konsentrasi β-karoten
berpengaruh nyata terhadap warna sediaan. Berdasarkan dari mean rank test pada uji Friedman formula
yang paling disukai panelis berdasarkan parameter warna adalah formula 1 karena pada mean rank
menunjukan respon paling tinggi pada formula 1 disusul formula 2 kemudian terakhir formula 3.
Penilaian terhadap parameter aroma hasil Uji Friedman menghasilkan nilai signifikasi 0,081
nilai signifikasi tersebut > 0,05 maka artinya tidak terdapat perbedaan pada ketiga formula, hal tersebut
dikarenakan pada setiap formula tidak adanya perbedaan konsentrasi dari vanilla essential oil yang
berperan sebegai pewangi. Berdasarkan dari nilai mean rank parameter aroma pada uji Friedman

8
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

formula yang mendapatkan respon paling tinggi yaitu pada formula 1 dengan nilai mean rank 2,18
disusul formula 2 dengan nilai 1,97 dan terakhir formula 3 dengan nilai 1,85.
Penilaian pada parameter sensasi dikulit (kelengketan) menunjukan hasil pada Uji Friedman
signifikasi sebesar 0,003 nilai signifikasi tersebut < 0,05 maka artinya terdapat perbedaan pada ketiga
formula. Berdasarkan mean rank pada uji Friedman formula yang mendapatkan respon paling tinggi
adalah formula 1 ditandai dengan nilai mean rank paling tinggi yaitu 2,38 kemudian disusul formula
dengan nilai 2,03 dan terakhir formula 3 dengan nilai 1,58.

KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukan bahwa Sediaan Spray gel β-karoten menghasilkan sediaan yang
memiliki bentuk sediaan kental, berwarna kuning keruh, dan beraroma khas vanilla. Dengan viskositas
yang dihasilkan pada formula 1 sebesar 1777 cPs, pada formula 2 sebesar 1983 cPs, dan pada formula
3 sebesar 1383 cPs dengan pH sediaan 6. Sediaan dikatakan homogen karena dari hasil uji homogenitas
dari tiap formula tidak ditemukan adanya partikel-partikel kasar.
Berdasarkan hasil uji stabilitas (Cycling Test) sediaan, sediaan harus di simpan pada tempat
yang sejuk dan hindari penyimpanan di tempat yang panas agar stabilitas sediaan dapat terjaga.
Senyawa β-karoten terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong kuat karena memiliki nilai
IC50 64,526 ppm nilai tersebut ada pada rentang 50-100 ppm yang termasuk kedalam senyawa yang
dianggap memiliki aktivitas antioksidan kuat.
Dari ketiga formula yaitu formula 1, 2, dan 3 menunjukan adanya aktivitas antioksidan pada
sediaan untuk menghambat radikal bebas ditandai dengan nilai % Inhibisi, pada formula 1 memiliki
nilai % inhibisi sebesar 42,38 %, pada formula 2 sebesar 43,60 %, dan pada formula 3 sebesar 46,75 %.
Dari Uji hedonik yang dilakukan pada 30 orang panelis dari ketiga Formula tersebut
menunjukan bahwa Formula 1 adalah Formula yang paling disukai oleh panelis, kemudian disusul
Formula 2 dan terakhir Formula 3 berdasarkan parameter warna, aroma dan sensasi dikulit
(kelengketan).

DAFTAR PUSTAKA
1. Baki, Gabriella, Alexander, K. s. (2016). Formulasi & Teknologi Kosmetik (H. N. Lubis, Imelda,
Oktaviani, Risa Dwi, Afifah (ed.); volume 2). Kedokteran EGC.
2. Djajadisastra Abdul; NP, Dessy, J. M. (2009). formulasi gel topikal dari ekstrak nerii folium dalam
sediaan anti jerawat. JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X, Vol 4, No 4 (2009).
http://www.jfionline.org/index.php/jurnal/article/view/30
3. Garre, A., Narda, M., Valderas-Martinez, P., Piquero, J., & Granger, C. (2018). Antiaging effects
of a novel facial serum containing l-ascorbic acid, proteoglycans, and proteoglycan-stimulating
tripeptide: Ex vivo skin explant studies and in vivo clinical studies in women. Clinical, Cosmetic
and Investigational Dermatology, 11, 253–263. https://doi.org/10.2147/CCID.S161352
4. Indonesia, B. S. N. (2006). Petunjuk Pengujian Organoleptik dan atau Sensori. BSN (Badan
Standarisasi Nasional), 2–14.
5. IPB. (2010). Analisis Data Kategorik (STK351). Fmipa Ipb, 1, 1–5.
6. Ishimoto, K., Miki, S., Ohno, A., Nakamura, Y., Otani, S., Nakamura, M., & Nakagawa, S. (2019).
β-Carotene solid dispersion prepared by hot-melt technology improves its solubility in water.
Journal of Food Science and Technology, 56(7), 3540–3546. https://doi.org/10.1007/s13197-019-
03793-8
7. Kamishita et al. (1992). Spray Gel Base and Spray Gel Preparation Using Theorof. Geothermics,
14(4), 595–599. https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/0375650585900112
8. Mangunsong, S., Assiddiqy, R., Sari, E. P., Marpaung, P. N., & Sari, R. A. (2019). secara
kromatografi cair kinerja tinggi ( U- HPLC ) ( Determine of β -Caroten in carrot ( Daucus carota
) using Ultra High Performance Liquid Chromatograph ( U-HPLC )). 4(4), 36–41.
9. Manik Worowerdi Cintakaweni, D., Lydia Fransisca Hermina Tiurmauli Tambunan, D., Susanto,
L. W., Biomed, M., Lubbi Ilmiawan, D., Novita Pangindo Manoppo, D., Prihatini, D., Rahayu, P.,
Ratna Kumalasari, D., Galih Arviyani, T., Peer Review Arini Setiawati, Sk., Sudir Purba, J.,
Puruhito, M., & Rianto Setiabudy, D. (2011). Radikal Bebas dan Peran Antioksidan Dalam
Mencegah Penuaan. In Medicinus (Vol. 24, Issue 1).
10. Matsui, T. (1997). New Cosmetic Science (T. Mitsui (ed.)). Elsevier Science B. V.

9
Taufik I. et al./Journal of Pharmacopolium, Volume 1, No. 1, Agustus 2021

11. Molyneux, P. (2004). The use of the stable free radical diphenylpicryl- hydrazyl ( DPPH ) for
estimating antioxidant activity. 50(June 2003).
12. Putri, R. D. (2017). formulasi dan evaluasi antioksidan serum green tea (Camellia sinensis L.)
sebagai anti aging dalam sediaan spray gel dengan metode dpph. formulasi dan evaluasi
antioksidan serum green tea (camellia sinensis l.) sebagai anti aging dalam sediaan spray gel.
13. Siqhny, Z. D., Azkia, M. N., & Kunarto, B. (2020). Jurnal Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
Karakteristik Nanoemulsi Ekstrak Buah Parijoto ( Medinilla speciosa Blume ).
14. Suryani, N., Mubarika, D. N., & Komala, I. (2019). Pengembangan dan Evaluasi Stabilitas
Formulasi Gel yang Mengandung Etil p -metoksisinamat. 1(November), 29–36.
15. Widyasanti, A., Rohdiana, D., & Ekatama, N. (2016). Aktivitas Antioksidan Ekstrak Teh Putih
(Camellia sinensis) dengan Metode DPPH (2,2 Difenil-1-Pikrilhidrazil). Journal Fortech, 1(1),
2016. http://ejournal.upi.edu/index.php

10

You might also like