Angngaru: Ritual to Performance
Angngaru: Ritual to Performance
Apriadi Bumbungan
apriadibums@[Link], [Link]@[Link]
(Fakultas Pengetahuan Ilmu Budaya, Universitas Indonesia)
ABSTRACT
In the tradition of the Gowa community, there are two sacred oath traditions, namely Angngaru Tumanurung -
the Sombayya (King) pledge to the people - and Angngaru Tubarani - the ritual of oath warriors to Sombayya.
However, this article deal specifically of Angngaru Tubarani. The tradition of Angngaru Tubarani (hereinafter
read Angngaru) recently is re-interpreted as a form of performance needs. This article tries to see the changing
process of the form and meaning of angngaru from ritual to cultural performance commodity. The research is
using a cultural ethnographic approach with a direct interview with angangaru practitioners and a literature
review. This article sees that the changing meaning of Angngaru cannot separate from social and economic
changes toward Gowa-Makassar society. The social changing as globalization effect and the development needs
of tourism economics are a determinant of the rising of new cultural interpretation. . Angngaru, which
previously interpreted as a sacred ritual, has become a cultural commodity that is mass-consumed nowadays. .
The research found that the commodification of the Angngaru tradition into popular performance culture can be
interpreted as a strategy to maintain or keep the tradition continues to exist today. This research shows the
meaning creation of the oral tradition of angngaru for more [Link] needs. .
Keywords: Angngaru Tubarani, Comodification, Performance, Ritual, Oral Tradition
ABSTRAK
Dalam tradisi masyarakat Gowa, terdapat dua tradisi sumpah sakral, yaitu Angngaru Tumanurung—ikrar
Sombayya (raja) kepada rakyat—dan angngaru tubarani—ritual sumpah prajurit kepada Sombayya. Artikel ini
membahas secara khusus mengenai Angngaru Tubarani. Tradisi Angngaru Tubarani (selanjutnya baca
angngaru) dewasa ini dimaknai ulang sebagai bentuk kebutuhan pertunjukan. Artikel ini berusaha melihat proses
perubahan bentuk dan makna angngaru dari ritual menjadi komoditas pertunjukan budaya. Penelitian ini
menggunakan pendekatan etnografi budaya dengan metode wawancara langsung dengan praktisi angngaru dan
studi kepustakaan. Artikel ini melihat bahwa perubahan makna angngaru tidak terlepas dari perubahan-
perubahan sosial dan ekonomi dalam masyarakat Makassar. Perubahan sosial sebagai efek globalisasi dan
kebutuhan pengembangan ekonomi wisata menjadi determinan munculnya tafsir budaya baru. Angngaru yang
dulunya dimaknai sebagai suatu ritual yang sakral, kini telah menjadi suatu komoditas budaya yang dikonsumsi
secara massal. Penelitian ini menemukan bahwa komodifikasi tradisi angngaru ke dalam budaya pertunjukan
populer dimaknai sebagai sebuah strategi untuk mempertahankan ataupun menjaga tradisi tersebut tetap eksis di
masa sekarang. Penelitian mengenai tradisi angngaru ini memperlihatkan penciptaan makna tradisi lisan
angngaru untuk kebutuhan masyarakat yang lebih kompleks.
Keyword: Angngaru, Tubarani, Komodifikasi, Pertunjukan, Ritual, Tradisi Lisan
47
Pangadereng, Vol. 6 No. 1, Juni 2020 : 47 - 56
yang terdiri atas lima kerajaan di sebelah barat bertujuan mendudukkan tradisi sebagai salah
Danau Sidenreng. (Hamid et al. 1992:113–14). satu medium dalam melihat sambung-kait
Tradisi dalam konteks masyarakat antara kebudayaan dan perubahan struktur
Makassar, terdapat satu peristiwa tradisi pranata masyarakat (politik, ekonomi, dan
sumpah yang masih dapat dijumpai dan telah sosial,) dari tingkat regional sampai global.
dikemas menjadi suatu bentuk kesenian dan Adapun manfaat penelitian ini, yakni sebagai
pertunjukan. Tradisi sumpah tersebut secara langkah awal dalam mendata tradisi-tradisi
umum dikenal dengan sebutan angngaru. Pada lokal yang ada di Indonesia, khususnya di
dasarnya suku Makassar—wilayah wilayah Sulawesi Selatan, sekaligus sebagai
administrasi yang bermukim di pesisir selatan bentuk apresiasi serta preservasi nilai-nilai
Pulau Sulawesi yang terdiri atas Kabupaten tradisi lisan masyarakat Gowa-Makassar.
Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar,
dan Kajang (sub-etnik)—memiliki angngaru METODE
masing-masing. Hal ini didasarkan pada
kerajaan-kerajaan yang pernah bermukim di Berdasarkan pengamatan beberapa sumber
daerah tersebut. Terdapat sebuah fakta selama referensi, diungkapkan bahwa penelitian
penelusuran di lapangan, yaitu angngaru terhadap kajian tradisi lisan cenderung
kerajaan tersebut ternyata tidak lagi menjadi menggunakan metode etnografi. Spradley
slogan kerajaannya, tetapi telah beralih (1997:3) menjelaskan bahwa etnografis
menjadi angngaru berdasarkan nama merupakan suatu pendeskripsian suatu aktivitas
kabupaten atau distrik asalnya. kebudayaan yang bertujuan agar memahami
Sebelum jauh membahas mengenai suatu pandangan hidup dari perspektif
angngaru, perlu diketahui bahwa Kerajaan penduduk asli. Hal ini melibatkan kegiatan
Gowa terikat dengan narasi tentang sebuah belajar mengenai dunia orang yang telah
peristiwa mitologi kedatangan seseorang putri belajar melihat, mendengar, berbicara, berfikir,
dari alam atas (kayangan). Kisah tersebut dan bertindak dengan cara yang berbeda.
secara garis besar menceritakan bagaimana Dengan kata lain, etnografi adalah sebuah
proses pengangkatan Raja Gowa yang pertama. proses pembelajaran dari suatu masyarakat.
Dalam peristiwa tersebut, dilakukan sebuah Singkatnya, penelitian etnografis memudahkan
ritual sumpah atau kontrak politik—antara raja peneliti dalam memahami sistem dan kognisi
dan rakyat yang diwakili oleh Kasuwiyang suatu masyarakat.
Salapang (Abdullah. 1985). Kasuwiyang Adapun teknik pengumpulan data
Salapang merupakan kumpulan sembilan dilakukan dengan teknik pengamatan pasif,
pengabdi Kerajaan Gowa, hal ini dapat aktif, dan wawancara (Spradley 1997).
diartikan sebagai sembilan negeri yang Pengamatan pasif merupakan suatu
merupakan federasi kecil yang membentuk pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari
Kerajaan Gowa. Sayangnya tidak ada istilah masyarakat pendukung suatu tradisi dan
yang digunakan untuk penamaan peristiwa pengamatan pada saat berlangsungnya
sumpah/ikrar tersebut. Oleh karena itu pada pertunjukan yang mencakup kehidupan sosial,
tulisan ini disebutlah peristiwa itu dengan ekonomi, dan budaya (Syahrial 2016:67).
istilah Angngaru Tomanurung yang berarti Selanjutnya pengamatan aktif menurut
ikrar raja kepada rakyatnya. Murgiyanto (2004:121) adalah terlibatnya
Angngaru Tomanurung merupakan cikal seorang peneliti secara aktif dalam proses
bakal terjadinya tradisi Angngaru Tubarani. latihan dan pertunjukan. Dalam penelitian
Hal tersebut dapat disaksikan dari formula korpus ini peneliti dituntut aktif dalam segala
syair yang terdapat pada kedua peristiwa proses persiapan sebelum dan sesudah
tersebut. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini pertunjukan Angngaru Tubarani dilaksanakan.
mengelaborasi beberapa permasalahan Yang terakhir adalah pengamatan dengan
menyoal tradisi, yakni; bentuk dan fungsi, wawancara. Wawancara diperlukan guna
aspek kesejarahan, dan perubahan makna melengkapi dan memperdalam data dari kedua
tradisiangngaru dalam masyarakat Gowa- teknik yang dilakukan sebelumnya. Output
Makassar dari masa ke masa. Penelitian ini yang dihasilkan melalui teknik wawancara,
48
Tradisi Angngaru Tubarani Gowa..... (Fadhly & Apriadi)
yaitu data yang terhimpun bersifat holistik dan Gowa tradisi tertua relasi antara raja dan rakyat
saling melengkapi (Syahrial 2016:69). Gowa. Hal tersebut dilandaskan dengan adanya
Agar penelitian terdokumentasi dengan bentuk kontrak politik yang secara eksplisit
baik, penelitian ini didukung dengan beberapa menurut Mattulada sebagai governmental
gawai seperti HP, kamera, dan alat bantu contract (kontrak politik) antara Kasuwiyang
rekam lainnya. Hal ini bertujuan agar segala Salapang dengan Tomanurung. Pernyataan
peristiwa yang telah disaksikan selanjutnya tersebut diambil berdasarkan teori yang
difiksasi ke dalam sebuah metadata. Dengan dikemukakan Catlin dalam bukunya yang
dibekukannya sebuah peristiwa dengan peranti berjudul A History of the Political Philosophy
tersebut, penelitian akan dimudahkan dalam (Abdullah, 1985), yaitu tentang dasar-dasar
mengolah data audio-visual ke depannya. dan janji yang lahir dari masyarakat dan
kemudian berkembang di Eropa menjadi
sebuah sistem.
PEMBAHASAN
Abdullah (1985:84), peristiwa Angngaru
Angngaru Tomanurung Tomanurung tidak hanya dalam batasan
Raja Gowa yang pertama menurut governmental contract tetapi lebih dari itu,
mitologi adalah seorang putri yang turun dari sebuah bentuk social contract dengan manusia
dunia atas yang bertujuan untuk menciptakan yang tergolong dari kelompok penguasa dan
perdamaian antarbeberapa federasi yang saling dari kelompok rakyat yang dipimpin oleh raja.
bertikai. Basang (1997:50) mengatakan bahwa Masing-masing kelompok tersebut
berdirinya Kerajaan Gowa dilandasi dengan mengikatkan diri dalam suatu penjanjian sosial
sebuah peristiwa perjanjian (ikrar) antara raja (abstrak) untuk bersama-sama membangun
dengan beberapa federasi yang dinamakan masyarakat atau negara yang bertujuan
Kasuwiyang Salapang. mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan
Substansi dalam perjanjian ikrar tersebut hidup di dunia.
terkandung batas-batas kekuasaan dan Tradisi Angngaru Tomanurung juga dapat
kewenangan antara raja dengan Kasuwiyang dijumpai di Kerajaan Bone. Angngaru
Salapang yang mewakili rakyat di daerahnya. Tomanurung di Bone ini juga berasal dari
Perjanjian tersebut dinamai dengan Angngaru konsep mitologi Tomanurung. Ritual ini
Tomanurung. Berkaitan dengan penjelasan biasanya disaksikan oleh dewan adat yang
sebelumnya, Angngaru Tomanurung dalam hal berikrar di hadapan Tomanurung Mata
ini berkekuatan sebagai undang-undang atau SilompoE (Mattulada. 1985). Secara
peraturan yang harus ditaati kedua pihak demi konseptual keduanya memiliki persamaan.
terwujudnya penyelenggaraan yang Perbedaan tradisi Angngaru Tomanurung
demokratis. Gowa dan Bone terletak pada tatanan bahasa
Peristiwa tersebut menurut Paeni yang digunakan, sedangkan formula syair
(2002:38) merupakan bentuk relasi patron dan ikrarnya memiliki pola yang hampir sama.
klien. Hubungan yang didasarkan atas Selanjutnya akan dibahas mengenai peristiwa
kesadaran bahwa suatu hubungan kekuasaan yang bertalian dengan Angngaru Tomanurung,
dari seorang yang lebih tinggi terhadap yaitu Angngaru Tubarani yang bermakna
bawahan dan juga disadari bahwa atasan sumpah/ikrar kesetiaan panglima perang
(dalam hal ini raja) sebagai patron, dan kepada sombayya.
bawahan (rakyat yang telah berikrar) sebagai
klien saling membutuhkan. Dalam hal ini Angngaru Tubarani
tercermin atau tergambar konsep kepemimpinan Cummings (2015:58) menyatakan bahwa
yang digunakan dalam penyelenggaraan Angngaru Tubarani juga dimaknai sebagai
pemerintahan pada waktu itu yang diperkirakan peristiwa sumpah kesetiaan prajurit terhadap
terjadi sekitar akhir abad ke 13 (Sikki and rajanya, Tradisi ini dilakukan saat hendak
Nasruddin. 1995). berangkat ke medan laga (perang). Lebih lanjut
Berdasarkan catatan sejarah, Angngaru Cummings mengatakan bahwa dalam
Tomanurung merupakan tradisi lisan tertua pelaksanaan Angngaru Tubarani, perajurit atau
yang menjadi tonggak berdirinya Kerajaan panglima perang mengucapkan syair-syair
49
Pangadereng, Vol. 6 No. 1, Juni 2020 : 47 - 56
Angngaru Tubarani dihadapan sombayya (raja) Angngaru Tubarani sebagai Ritual Sumpah
sembari menghunuskan pedangnya, dengan Setia Prajurit Gowa
suara yang lantang disertai ekpresi emosional
yang ditunjukkan oleh pangngaru (pelaku Peristiwa Angngaru Tumanurung dan
angngaru). Ritual tersebut membentuk Angngaru Tubarani memiliki esensi yang
simulasi medan perang. Hal demikian sama, yaitu sebuah peristiwa sumpah.
menjadikan orang yang turut menyaksikan Angngaru menurut Latief (2000) merupakan
ritual ini seakan-akan terbawa/turut merasakan suatu peristiwa bersumpah yang dilakukan oleh
kesakralan dan kejamnya di medan laga. seorang pria yang sambil memegang keris atau
Tradisi Angngaru Tubarani merupakan senjata lainnya dan umumnya bersumpah
salah satu tradisi yang telah lama ada dalam dihadapan orang banyak atau raja. Angngaru
tubuh masyarakat Makassar. Dalam catatan dilaksanakan pada upacara pelantikan raja,
sejarah, Angngaru Tubarani disebut juga peperangan, perkawinan raja, atau upacara
sebagai salah satu tradisi tertua di Kerajaan kerajaan lainnya. Menurut KBBI (edisi ke V),
Gowa. Hal tersebut dapat dikatakan valid angngaru berasal dari kata aruk yang berarti
karena Angngaru Tubarani merupakan suatu suatu tarian yang menggunakan keris di tangan
fenomena sosial-budaya (ikrar) yang biasanya seolah-olah menyerang musuh sebagai tanda
ditampilkan dalam pelantikan raja, sumpah setia kepada raja.
sebelum menuju medan perang, dan beberapa Berdasarkan wawancara langsung dengan
agenda sakral terkait kegiatan dalam salah satu praktisi angngaru sekaligus
lingkungan Kerajaan Gowa. Adapun sebagai budayawan Kabupaten Gowa, Syarifuddin Dg.
sebuah sumpah, Angngaru Tubarani sarat Tutu (2019) angngaru menurutnya berasal dari
mengandung nilai-nilai masyarakat Makassar, bahasa Makassar (tinggi) yang artinya sumpah
utamanya kesetiaan ata‟ (bawahan) terhadap atau ikrar. Dg. Tutu menyebutkan bahwa
karaeng (raja atau bangsawan). Dalam konteks angngaru merupakan suatu bentuk ikrar
masyarakat modern nilai-nilai yang terkandung kesetiaan terhadap Raja Gowa yang sifatnya
dalam tradisi tersebut tetap terjaga namun sangat sakral. Tradisi tersebut merupakan
dalam bentuk yang lebih transformatif dari tradisi yang disaksikan oleh Tomanurung
sebelumnya, yakni budaya pertunjukan. Baineya seorang putri yang turun dari
Pembahasan kali ini akan difokuskan pada kayangan saat diangkat menjadi Raja Gowa
tradisi Angngaru Tubarani di Kerajaan Gowa. yang pertama oleh ke sembilan federasi
Elaborasi terhadap tradisi Angngaru Tubarani kerajaan atau yang disebut dengan Kasuwiyang
Gowa yang penulis maksudkan bertujuan Salapang. Tradisi Angngaru dapat dikatakan
untuk menelisik perubahan yang terjadi pada sebagai salah satu ritual tertua dalam
tradisi ini, dari konteks zaman kerajaan ke lingkungan Kerajaan Gowa. Hal tersebut
masa modern saat ini. Perubahan tersebut mendapat signifikansi dari Hamid Abdullah
dilihat dari bentuk tradisi Angngaru Tubarani (1985) yang mengatakan bahwa tradisi
yang mengalami pergeseran yang pada angngaru merupakan tradisi tertua yang ada di
mulanya merupakan sebuah upacara sakral Kerajaan Gowa karena disaksikan langsung
menjadi sebuah komoditi pertunjukan di masa oleh Tomanurung Baineya.
sekarang. Adapun perubahan fungsi tradisi Menurut etimologi kata angngaru berasal
Angngaru Tubarani dari sesuatu yang sakral dari kata dasar aru yang berarti sumpah, diberi
menjadi pertunjukan profan tersebut tidak prefiks a‟/ang sebagai bentuk kata kerja yang
dapat disimplifikasi sebagai suatu bentuk bermakna bersumpah. Angngaru sendiri adalah
komodifikasi budaya (cultural commodification) ikrar yang diucapkan masyarakat Gowa pada
dalam arti negatif. Komodifikasi budaya tradisi jaman dahulu di wilayah sembilan negeri
Angngaru Tubarani dalam tulisan ini dilihat federasi (gallarrang) yang membentuk wilayah
sebagai sebuah strategi untuk mempertahankan Kerajaan Gowa. Dalam hal lain, aru yang
dan mewariskan suatu tradisi yang bisa jadi diucapkan oleh prajurit disebut ―Aru Tubarani‖
akan tergerus dan hilang apabila tidak (sumpah pemberani). Secara konvensional,
mendapatkan perhatian dari masyarakat itu tradisi angngaru dikenal sebagai suatu
sendiri. peristiwa sosial-budaya yang berada dalam
masyarakat suku Makassar khususnya daerah
50
Tradisi Angngaru Tubarani Gowa..... (Fadhly & Apriadi)
Kabupaten Gowa. Berdasarkan catatan sejarah, sehingga federasi sembilan kerajaan tersebut
angngaru dahulunya hanya dilakukan dalam tidak berfungsi sebagai mana mestinya.
lingkungan Kerajaan Gowa mengingat tradisi Melihat kondisi federasi yang tidak stabil,
tersebut merupakan ikrar yang hanya tidak mengherankan jika konflik dan
diperuntukkan bagi raja-raja baru yang akan ketegangan rawan terjadi di antara mereka.
dilantik. Kondisi carut-marut dan perang
Angngaru Tubarani dapat pula dimaknai antarfederasi terus terjadi, peran paccallaya
sebagai tradisi yang mengandung nilai sebagai ketua tidak dapat diharapkan dan tidak
kepemimpinan di dalamnya. Apabila raja telah mempunyai wibawa dalam memimpin. Hal
menerima sumpah dari prajurit, raja tersebut berpengaruh terhadap kesembilan
seyogianya juga harus menjamin kehidupan federasi lainnya tidak dapat mencari pemimpin
rakyat yang telah berjanji setia kepadanya. yang dapat digugui di antara mereka. Sampai
Dimensi mutualisme dalam tradisi angngaru pada puncak konflik, terdengar berita oleh
menjadi poin penting dalam kehidupan paccallaya bahwa di satu tempat yang bernama
masyarakat Kerajaan Gowa di waktu lampau. puncak Takabassia telah turun dari kayangan
Hal tersebut juga menjadi titik perhatian seorang puteri. Setelah paccalayya memastikan
penulis dalam artikel ini. Menurut penulis, kebenaran dari berita tersebut, diadakanlah
Angngaru Tubarani Gowa merupakan bagian Empo Sipangatarri atau perundingan antara
penting yang membangun struktur hierarkis sembilan federasi tersebut. Di antaranya, yaitu
masyarakat feodal Gowa. Tradisi angngaru berasal dari daerah Tombolo, Lakiung,
dapat dikatakan sebagai determinan yang Saumata, Agangje‘ne, Parang-Parang, Data,
membuat Kerajaan Gowa pada masanya Bisei, Kalling, dan Sero. Setelah perundingan
termahsyur hingga ke luar negeri. Hal tersebut selesai dilaksanakan, para anggota federasi
tentu saja tidak berlebihan mengingat dalam yang dipimpin oleh paccallaya menemui sosok
sejarah Kerajaan Gowa, prajurit-prajurit dari putri yang turun dari kayangan. Adapun hasil
kerajaan ini dikenal sebagai prajurit yang dari perundingan antarfederasi tersebut adalah
pemberani dan memiliki militansi yang tinggi. mengangkat putri kayangan untuk menjadi
pemimpin/raja bagi kesembilan kerajaan
Kesejarahan Angngaru Gowa dan tersebut.
Implementasi Nilai Kesetiaan Para rombongan penguasa lokal yang
Paparan sebelumnya telah dijelaskan dipimpin oleh paccallaya bertemu dengan tuan
mengenai Angngaru Tomanurung yang putri. Pada pertemuan tersebut, diutarakanlah
merupakan tonggak awal dari kesejarahan maksud kedatangan mereka dalam sebuah
kerajaan terbesar di Indonesia Timur, yaitu dialog;
Kerajaan Gowa (Massiara. 1988). Bermula dari Berkata paccallaya:
lontara yang menyatakan bahwa pada masa “Kami semua datang kemari untuk ambil
sebelum kedatangan Tomanurung, kondisi engkau menjadi raja kami”.
masyarakat dalam keadaan kacau-balau. Istilah
Tomanurung menjawab:
tersebut awam diketahui sebagai sikanre juku.
Menurut Abdul Razak Daeng Patunru (1972), “Engkau pertuan kami, masih menumbuk
di pusat Kerajaan Gowa pada masa itu– masih mengambil air.
sebelum datangnya Tomanurung—terdapat (Maksudnya: engkau meminta saya
sembilan kerajaan kecil (gallarrang) yang menjadi rajamu, tapi engkau masih
membentuk federasi yang diketuai oleh mewajibkan saya menumbuk padi dan
seorang pemimpin, paccallaya. Namun mengambil air).
paccallaya tidak berfungsi sebagai seorang
Berkata paccallaya:
raja, jabatannya sebagai ketua federasi hanya
sebatas lambang yang tidak memiliki pengaruh “Sedangkan istri kami tidak
kekuasaan langsung terhadap tiap-tiap daerah menumbuk, tidak mengambil air,
yang bergabung dalam federasi. Tiap-tiap apalagi engkau yang kami pertuan
anggota federasi mempunyai hak otonom yang (raja)”.
bebas untuk berbuat sekehendak hatinya
51
Pangadereng, Vol. 6 No. 1, Juni 2020 : 47 - 56
Dialog di atas menurut Dg. Patunru (1972) Maksudnya: Tuanku tidak akan
merupakan percakapan antara pemimpin membunuh patik sekalian dan patik pun
federasi dengan putri kayangan (Tomanurung) tidak akan membunuh tuanku.
yang menjadi awal terbentuknya Kerajaan
Hanya dewata yang membunuh kami,
Gowa. Beberapa waktu kemudian Tomanurung
engkau pun hanya dewata yang
menikah dengan manusia biasa yang
membunuhmu. Maksudnya: Raja dan
disebutkan pria tersebut berasal dari arah
Kasuwiyang Salapanga harus saling
selatan—sebagian sejarawan menyebutnya dari
berserah diri kepada dewata.
Bantaeng—yang bernama Karaeng Bayo.
Setelah pernikahan Tomanurung, federasi Bertitahlah engkau dan kami tunduk
mengadakan pertemuan dengan seluruh rakyat patuh. Kalau kami menjunjung maka kami
Gowa disaksikan oleh Kasuwiyang Salapang. tidak memikul; kalau kami memikul maka
Kasuwiyang Salapang merupakan sembilan kami tidak menjunjung. Maksudnya:
pengabdi yang bertugas sebagai dewan Segala titah raja, kami junjung tinggi,
penasihat dan pelaksana dalam sistem tetapi jika perintah tuanku tidak adil maka
pemerintahan federasi Gowa. Pertemuan perintah itu tidak dilaksanakan oleh
tersebut berisi dialog antara Karaeng Bayo dan Kasuwiyang Salapanga.
rakyat Sembilan federasi yang pada bagiannya Engkau adalah angin, kami adalah daun
melahirkan lirik sumpah yang disebut kayu yang telah menguning saja engkau
angngaru. Adapun dialognya berbunyi turunkan.
demikian:
Berkata Karaeng Bayo (Suami Maksudnya: Raja tidak boleh berbuat
Tomanurung-manusia biasa): sesukanya saja terhadap Kasuwiyang
“Bahwasanya engkau telah mengangkat Salapanga dan rakyat tetapi yang bersalah
kami sebagai rajamu, kami bersabda dan saja yang dihukum.
engkau tunduk patuh, kami adalah angin Engkau adalah air dan kami hanyalah
dan engkau adalah daun kayu. batang hanyut, akan tetapi hanya air
(Maksudnya: Oleh karena engkau telah pasang yang besar saja yang dapat
mengangkat kami menjadi rajamu maka menghanyutkannya. Maksudnya: Raja
segala titah kami harus engkau junjung berkuasa dalam batas-batas yang patut
dan segala kehendak dan perintah kami terhadap rakyat, akan tetapi di dalam hal-
engkau harus laksanakan). hal yang sangat penting, umpamanya
Paccallaya bersama Kasuwiyang negeri berada di dalam bahaya perang,
Salapanga menjawab (mereka maka adalah kewajiban rakyat untuk
menjawab secara bergilir): membela negerinya.
Bahwasanya kami telah mengangkat Walaupun anak kami, walaupun istri
engkau menjadi raja kami, engkau adalah kami, tetapi jika kerajaan tidak
raja dan kami adalah hamba rakyat menyukainya, maka kami pun tidak
tuanku. menyukainya.
Engkau adalah sangkutan tempat Maksudnya: Walaupun istri dan anak
bergantung, kami adalah Lau (semacam kami bersalah, kami merelakan mereka
labu tempat air atau tuak). Maksudnya: dikenakan hukuman atas kesalahannya.
Raja adalah tempat rakyat berlindung.
Bahwasanya kami mempertuan engkau,
Kalau sangkutan tempat bergantung patah hanya diri pribadi kamilah mempertuan
dan Lau tidak pecah, maka kami patah. engkau, bukanlah harta benda kami.
Maksudnya: Bilamana kami patik
Engkau tidak akan mengambil ayam dari
sekalian tidak menepati janji kepada
kandang kami, engkau tidak akan
tuanku, maka patik sekalian akan binasa.
mengambil telur di pekarangan kami,
Kami tidak akan tertikam oleh senjatamu, tidak mengambil kelapa kami sebutir pun
engkau pun tidak akan tertikam oleh dan tidak mengambil pinang setandan pun
senjata kami. dari kami.
52
Tradisi Angngaru Tubarani Gowa..... (Fadhly & Apriadi)
Jika engkau mengingini barang kepunyaan berisi eksistensi peradaban masyarakat madani
kami, engkau membelinya yang patut (Abrams 2016). Dalam perkataan lain, tradisi
dibeli, engkau menggantinya yang patut lisan angngaru memberikan visualisasi
diganti, engkau memintanya yang patut hubungan simbiosis mutualisme antara rakyat
diminta dan kami akan memberikannya dan pemimpin yang disatukan dalam ikatan
pada engkau, engkau tidak boleh terus sakral ikrar kesetiaan. Dengan demikian, hal
mengambil begitu saja milik kami. tersebut secara gamblang melukiskan
Raja tidak memutuskan hal ihwal di dalam hubungan atau memori kolektif dari
negeri jika gallarrang tidak hadir dan masyarakat Makassar di masa lampau yang
gallarrang tidak akan mengambil sampai saat ini masih dapat ditemui secara
keputusan tentang soal perang, jika raja langsung.
tidak hadir. (Patunru 1972:1–6). Adapun hal lain yang dapat dilihat dari
tradisi angngaru Gowa merujuk pada struktur
Beberapa kutipan dialog di atas berisi lirik hierarkis masyarakat feodal kerajaan di masa
angngaru menyoal kesetiaan rakyat kepada lampau. Dalam lirik angngaru, Ata‟ atau rakyat
pemimpin dan tugas raja sebagai pengayom yang melakukan sumpah kepada karaeng atau
masyarakat. Setelah dialog berisi ikrar yang raja menyerahkan kehidupan dan
disaksikan oleh Tomanurung, Karaeng Bayo, pengabdiannya kepada tanah/negeri. Dari hal
dan Kasuwiyang Salapang terjadi, kontrak tersebut, budaya dalam masyarakat feodal
politik tersebut berisi harapan agar kehidupan kerajaan dinarasikan sebagai sesuatu yang
dalam bermasyarakat (dalam konteks Kerajaan saling ‗menghidupkan‘. Dalam konsepsi
Gowa) dapat berjalan dengan harmonis. Dari masyarakat Makassar, terdapat nilai
kutipan dialog tersebut, dapat dilihat makna ‗sipakatuo‟ (saling menghidupkan) dan
yang hadir mengenai pentingnya keberadaan „sipakatau‟ (saling memanusiakan) yang secara
seorang pemimpin dalam sebuah kelompok tidak langsung juga terkandung dalam tradisi
atau negeri. Ikrar yang disebutkan dalam lisan angngaru. Di satu sisi, ata‟
pengandaian tersebut sarat akan nilai kesetiaan memercayakan kehidupannya kepada karaeang
dan pengabdian masyarakat Makassar atau dalam bentuk kesetiaan kepada kerajaan. Di
Gowa dalam kehidupan sehari-harinya. sisi lain, karaeng secara etik harus pula
mensejahterakan golongan ata‟ yang telah
bersumpah menjamin keselamatan raja dan
negeri. Dengan demikian, nilai-nilai hubungan
mutual dalam tradisi lisan angngaru
menunjukkan urgensinya dalam kehidupan
kebudayaan feodal Kerajaan Gowa di waktu
lampau.
Terbentuknya Kerajaan Gowa tidak dapat
dilepaskan dari keberadaan tradisi angngaru
dalam kesejarahaannya. Sebagaimana
penjelasan di atas, tradisi angngaru menjadi
bagian penting dalam proses pembentukan
Kerajaan Gowa dan sistem hierarkisnya. Kisah
Gambar 1. Dg. Tutu (praktisi) sedang mengenai ―Sembilan Gallarang dan Tomanurung
melakukan angngaru pada kegiatan Putri‖ menjadi fiksasi monumental yang
kebudayaan di Kab. Gowa menjadikan angngaru sebagai bagian dari
Sumber: Koleksi pribadi Dg. Tutu tradisi yang lekat dengan masyarakat dan
kerajaan tersebut. Dengan demikian tradisi
Konsep kesetiaan yang dimaksudkan angngaru dalam konteks ritual berkelindan
dalam lirik angngaru dapat merefleksikan tata dengan proses pembetukan struktur feodal
nilai dalam masyarakat Gowa di masa lampau. Kerajaan Gowa yang berisi memori tentang
Dalam studi tentang memori, tradisi lisan hubungan mutualisme rakyat dan pemimpin
angngaru dapat dikatakan sebagai sebuah
penggambaran proses penciptaan makna yang
53
Pangadereng, Vol. 6 No. 1, Juni 2020 : 47 - 56
serta nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat sebuah negara (state). Leburnya kerajaan-
Gowa-Makassar secara umum. kerajaan di Nusantara menjadi Indonesia dalam
konteks nation-state mengikis makna ritual
Perubahan Fungsi Tradisi Angngaru hingga pada tradisi sejenis angngaru menjadi sebuah
Pertunjukan Populer kegiatan yang berkaitan dengan pertunjukan
populer. Hal ini disebabkan oleh perubahan
Dewasa ini angngaru dalam masyarakat sistem sosial-politik-budaya yang feodal
Gowa telah dikemas menjadi suatu konsep menjadi liberal-demokratis, khususnya dalam
kesatuan pertunjukan yang terdiri atas 4-5 konteks masyarakat Gowa-Makassar. Dalam
orang, yakni; Pangngaru (penutur), dua orang masa pemerintahan modern, kepentingan untuk
pemain gendang Makassar, satu orang bermain memajukan pembangunan dan ekonomi
puik-puik (sejenis alat musik tiup), dan satu Negara—salah satunya melalui pranata
orang lagi bermain gong. Angngaru sering tourisme—juga sedikit banyak memengaruhi
dipertunjukkan baik dalam kegiatan adat, bergesernya bentuk dan fungsi tradisi
kegiatan pemerintahan, maupun dalam Angngaru Tubarani. Ritual yang pada mulanya
penyambutan tamu–tamu kehormatan. Bahkan hanya dipraktikkan dalam ruang medan
dalam upacara pernikahan angngaru juga peperangan, berganti menjadi pertunjukan
sering ditampilkan. Hal ini menunjukkan massa yang ditampilkan dalam setiap agenda
pergeseran fungsi ritual yang bila dimaknai, pemerintahan dan kegiatan kepariwisataan.
angngaru (pertunjukan) menyampaikan simbol Bergesernya bentuk dan fungsi tradisi
untuk tamu yang berkunjung akan angngaru yang dipaparkan di atas, selanjutnya
mendapatkan legitimasi hukum. Artinya, akan memengaruhi pemaknaan terhadap tradisi
mereka akan dijamin keselamatan dan tersebut dalam era kontemporer dewasa ini.
kenyamanannya selama berada di daerah yang Perubahan fungsi angngaru dari ritual ke
dikunjunginya, khususnya dalam wilayah dalam pertunjukan populer menunjukkan suatu
Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. ‗penghadiran masa lalu‘ yang diejawantahkan
Perubahan tradisi angngaru sendiri dalam struktur estetika baru melalui
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang pembacaan aktual masa kini (Cummings.
berkaitan dengan perubahan pranata sosial, 2015). Dalam arti lain, perubahan ritual
budaya, dan politik masyarakat Gowa- angngaru menjadi sebuah seni pertunjukan
Makassar dari masa ke masa. Pada masa tidak dapat semata-mata disebut sebagai
Kerajaan Gowa-Makassar mula-mula, bentuk sebuah komodifikasi yang janggal. Perubahan
dan fungsi dari tradisi Angngaru Tubarani tersebut menurut Hobsbawn (2019) harus
masih berupa ritual yang sakral. Struktur sosial dimaknai sebagai sebuah upaya untuk
dan budaya yang masih menganut sistem melestarikan dan menghadirkan kembali nilai-
feodal memungkinkan tradisi tersebut nilai tradisi lisan angngaru ke dalam
diposisikan sebagai sebuah ritual yang sakral. kehidupan modern. Adapun perdebatan
Terlebih pada masa tersebut gejolak politik dan menyoal bentuk dan struktur angngaru yang
pemerintahan mendukung angngaru menjadi mengalami pengubahan signifikan dalam seni
sebuah kebutuhan ritual. Hal tersebut pertunjukan, seyogianya menjadi hal yang
ditengarai gejolak pemerintahan dan politik justru akan menghidupkan tradisi tersebut di
zaman kerajaan yang masih tinggi, sehingga kalangan pemerhati dan praktisi tradisi lisan.
pengkultusan tradisi tersebut dimungkinkan Pergeseran nilai dalam perubahan fungsi tradisi
sebagai bagian dari praktik menjaga semangat merupakan hal yang niscaya, namun lebih dari
dan kesetiaan prajurit kerajaan terhadap Raja itu, ingatan dan nostalgia terhadap kesetiaan
selaku kepala pemerintahan. Dengan kata lain, prajurit Kerajaan Gowa pada masa lampau
Angngaru Tubarani pada masa Kerajaan masih dapat dijumpai oleh generasi masa kini
Gowa-Makassar mula-mula adalah bagian dari dalam bentuk tradisi yang lebih dinamis dan
praktik ideologis untuk menjaga status quo adaptif.
kekuasaan. Menurut Bauman (1977) pertunjukan
Ritual angngaru kemudian mengalami merupakan sebuah penanda yang memperkuat
perubahan bentuk dan fungsinya ketika penyampaian makna (komunikasi) dan
memasuki masa Indonesia berdiri menjadi
54
Tradisi Angngaru Tubarani Gowa..... (Fadhly & Apriadi)
dibingkai secara khusus melalui penampilan dimensi kesetiaan baik sebagai individu
kepada sejumlah penonton. Dengan demikian otonom maupun secara sosial. Lebih jauh,
pertunjukan memuat unsur-unsur kesenian perubahan fungsi ritual angngaru ke dalam
verbal termasuk narasi sejarah dari tradisi. bentuk pertunjukan populer memungkinkan
Dalam konteks angngaru sebagai sebuah tradisi tersebut untuk dapat dinikmati dan
pertunjukan populer, narasi dari tradisi tersebut dimaknai lebih kompleks oleh masyarakat
‗menstruktur‘ dalam unsur-unsur yang yang lebih jamak. Pengubahan dalam dimensi
membangun pertunjukan. Kehadiran aktor bentuk ritual tersebut, juga dapat menegaskan
pangngaru, paganrang, dan tamu kehormatan keberterimaan masyarakat Gowa-Makassar
merupakan bagian yang membangun tradisi terhadap perkembangan zaman yang begitu
tersebut dalam bentuknya yang lebih cepat tanpa mengurangi nilai-nilai yang subtil
transformatif. Adapun isi dari ikrar angngaru dari tradisi tersebut.
yang ditampilkan dalam bentuk pertujukan
tradisi tidak banyak berubah, dan secara
substantif tidak banyak mengubah makna atau
pesan dari aru yang dikumandangkan.
Bentuk pertunjukan tradisi angngaru di
masa sekarang mengalami pergeseran pada
ranah fungsi ritualitasnya. angngaru tidak lagi
dimaknai sebagai bentuk ritual sakral—raja
yang bersumpah di hadapan rakyat maupun
prajurit yang akan membela raja dan tanah
airnya, tetapi dapat diartikan sebagai bentuk
penghormatan dan jaminan kultural
(keamanan) terhadap tamu yang berkunjung ke
wilayah Kabupaten Gowa. Berdasarkan
argumen tersebut, perubahan fungsi angngaru
dari sebuah ritual sakral menjadi budaya
pertunjukan populer hanya terjadi pada tatanan Gambar 2. Dg. Tutu angngaru dalam
struktur dan sifatnya. penjemputan tamu kehormatan/pejabat negara.
Sumber: Koleksi pribadi Dg. Tutu
Subtansi aru yang termuat dalam lirik
angngaru seyogianya tidak banyak bergeser.
PENUTUP
Dalam pengertian penulis pada artikel ini, hal
tersebut dianggap sebagai komodifikasi ritual Hasil elaborasi mengenai tradisi lisan
(cultural commodification) yang memiliki angngaru di atas, ditarik sebuah simpul
fungsi konservasi tradisi. Pewarisan dan argumen bahwa angngaru sebagai sebuah
pemertahanan tradisi dalam bentuk ritual sakral telah mengalami perubahan fungsi
komodifikasi budaya tersebut, baiknya dilihat menjadi budaya pertunjukan populer.
sebagai bagian dari pelestarian nilai-nilai Perubahan ini disebabkan oleh bergesernya
pengetahuan lokal-tradisional yang dapat berbagai dimensi kehidupan masyarakat
secara adaptif melewati gerusan pengubahan Makassar. Dari segi pemerintahan, Gowa-
zaman dan nilai dalam masyarakat modern. Makassar tidak lagi berupa kerajaan yang
Hadirnya teknologi digital sebagai membutuhkan prajurit untuk bersumpah dalam
dampak langsug dari globalisasi menuntut medan peperangan. Dimensi perubahan sosial
secara radikal model penyesuaian diri tradisi- budaya masyarakat Makassar yang disebabkan
tradisi lisan seperti angngaru agar dapat oleh globalisasi juga turut andil dalam proses
‗bersahabat‘ dengan kondisi masyarakat perubahan fungsi ritual tersebut. Leburnya
modern. angngaru dalam bentuk pertunjukan batas-batas wilayah yang melahirkan interaksi
dimaknai sebagai bagian dari proses lintas-batas (masyarakat kosmopolitan)
kebudayaan dan kesenian yang secara memicu pergeseran yang radikal dari tradisi
berkesinambungan merawat nilai-nilai luhur angngaru. Kebutuhan ekonomi yang kini
masyarakat Gowa-Makassar, utamanya dalam bertambah kompleks menuntut pelaku-pelaku
55
Pangadereng, Vol. 6 No. 1, Juni 2020 : 47 - 56
tradisi bersiasat dengan perubahan zaman Sumardi, and Sri Mintosih. 1992. Lontara
sehingga tradisi angngaru kemudian Tellumpoccoe. [Jakarta]: Departemen
dipertahankan mengikuti pola pertunjukan Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat
populer. Namun demikian, faktor-faktor yang Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah
menyebabkan pergeseran fungsi tradisi ritual dan Nilai Tradisional, Bagian Proyek
angngaru tersebut menjadi sebuah Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan
penggambaran mengenai proses preservasi dan Nusantara.
pewarisan tradisi ke dalam bentuk yang lebih Hobsbawm, E. J. 2019. The Invention of
adaptif. Pergeseran tersebut juga selayaknya Tradition. United Kingdom: Cambridge
dimaknai sebagai proses perdebatan dan University Press.
agenda kerja kebudayaan yang terus Lathief, Halilintar, and Niniek Sumiani HL.
berdinamika dalam menjawab tantangan 2000. Tari Daerah Bugis (Tinjauan
zaman. Melalui Bentuk Dan Fungsi). Jakarta:
Akhirnya, pembahasan mengenai Proyek Pengembangan Media
perubahan fungsi ritual dapat dijadikan suatu Kebudayaan Direktorat Jenderal
bentuk refleksifitas mengenai nilai-nilai Kebudayaan Departemen Pendidikan
kebudayaan lokal yang tetap dipertahankan Nasional.
meskipun mengalami komodifikasi di era Massiara, H. A. 1988. Menyingkap Tabir
globalisasi saat ini. Komodifikasi kebudayaan Sejarah dan Budaya di Sulawesi Selatan.
tersebut tidak melulu dimaknai sebagai bentuk Jakarta: Yayasan Bhinneka Tunggal Ika.
kapitalisasi terhadap produk budaya Mattulada. 1985. Latoa, Satu Lukisan Analitis
tradisional, tetapi sebuah strategi pelestarian Terhadap Antropologi Politik Orang
yang terus berlanjut. Selayaknya warisan, Bugis. Yogyakarta: Gadjah Mada
produk budaya tradisi lisan sudah harus University Press.
mendapatkan tempat dalam kehidupan Murgianto. 2004. Tradisi Dan Inovasi:
masyarakat modern yang penuh dengan Beberapa Masalah Di Indonesia. Jakarta:
ancaman kebudayaan global. Menjadikan Wedatama Widiasastra.
tradisi lisan sebagai bagian dari kebudayaan Paeni, Mukhlis., Edward L. Poelinggomang,
global merupakan pilihan yang bijak, agar and Ina. Mirawati. 2002. ―Batara Gowa:
generasi selanjutnya masih dapat menyaksikan Messianisme dalam Gerakan Sosial di
dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Makassar.‖
yang ‗menubuh‘ (embodied) dalam Patunru, Abdurrazak Daeng. 1972. ―Sedjarah
kebudayaan masyarakatnya kelak. Gowa.‖
Sikki, Muhammad., and Nasruddin. 1995.
DAFTAR PUSTAKA ―Puisi-puisi Makassar.‖
Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi .
Abdullah, Hamid. 1985. Manusia Bugis Yogya: PT. Tiara Wacana.
Makassar : Suatu Tinjauan Historis
Syahrial, Dr. 2016. ―Tradisi Lisan Kias Dalam
terhadap Pola Tingkah Laku dan
Masyarakat Lampung Peminggir
Pandangan Hidup Manusia Bugis
Kalianda: Bentuk, Fungsi, Dan Konteks.‖
Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.
Universitas Indonesia.
Abrams, Lynn. 2016. Oral History Theory.
Bauman, Richard. 1977. Verbal Art as
Sumber Lisan/Informan:
Perfomance. Prospect Heights:
Waveland. H. Syarifuddin Dg. Tutu (64 tahun). 2019
Cummings, William. 2015. Penciptaan
Sejarah Makassar di Awal Era Modern.
Yogyakarta: Ombak.
Djirong Basang, and Salmah Djirong Daeng.
Intang. 1997. Taman Sastra Makassar.
[Ujung Pandang]: Dirjen Depdikbud.
Hamid, Pananrangi., Tatiek. Kartikasari, S.
56