Veterinaria Medika Vol 7, No.
2, Juli 2014
Pengaruh Penggunaan Kombinasi Progesteron (Medroxy Progesterone Acetate)
dan Prostaglandin (PGF2α) Injeksi Terhadap Persentase Birahi dan Kebuntingan
pada Domba Ekor Gemuk
Effect Using a Combination of MPA (Medroxy Progesterone Acetate)
and Prostaglandin (PGF2α) Injection on the Percentage of Estrous
and Pregnant on Sheeps
1
Darmaningtyas Satiti, 2Indah Norma Triana, 2Adi Prijo Rahardjo
1
Pascasarjana Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
2
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
Kampuc C Unair, Jl. Mulyorejo Surabaya – 60115
Telp. 031-5992785, Fax. 031-5993014
Email :
[email protected] Abstract
The aims of this research was to determine the effect of using a combination of
MPA (Medroxy Progesteron Acetate) and Prostaglandin (PGF2 ) injection on the
percentage of estrous and pregnant sheep after artificial insemination usingfresh semen.
Twenty four sheep’s were divided into three groups : control group (P0), first treatment
group (P1), and second treatment group (P2). Control group (P0) was injected by 2 ml
(equivalent to 10 mg) PGF2α, mean while both P1 and P2 were injected by 0.2 ml
(equivalent to 10 mg) MPA, intramuscularly. At 11 days later, PGF2 was injected to
P0 and P2 with the same dose, and placebo was injected to P1. The observation of
estrous occurrence time was conducted in three days after the last injection.
Ultrasonography was performed thirty days after artificial insemination. The percentage
of estrous ewes in P1 group was 100%, while P2 group was 87,5%. The percentage of
pregnancy P1 group was 75%, while P2 group was 100%. Chi-Square analysis showed
no significant difference (p>0,05) between groups.
Keywords: Progesterone Hormones (Medroxy Progesterone Acetate), Prostaglandine
Hormones (PGF2 ), time of estrous, pregnancy.
––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––
Pendahuluan Banyak kendala dihadapi untuk memenuhi
Kebutuhan daging di Indonesia target tersebut, di antaranya kenaikan
terus meningkat seiring dengan laju populasi ternak yang lambat dan tingkat
pertumbuhan penduduk dan tingkat reproduktivitas yang tidak sesuai harapan,
kesejahteraan masyarakat, untuk itu oleh karena itu perhatian pemerintah
perlu upaya pemanfaatan ternak semaksimal diarahkan pada pengembangan ternak
mungkin untuk memenuhinya. Pemerintah ruminansia kecil seperti kambing dan
berusaha menaikkan konsumsi daging domba yang diharapkan dapat menutup
penduduk Indonesia dari 1,76 kg perkapita kekurangan produk daging yang berasal
pertahun menjadi 2 kg per kapita per tahun.
126
Darmaningtyas Satiti, dkk. Pengaruh Penggunaan Kombinasi Progesteron....
dari ternak besar (Nataatmaja dan Arifin, hormon MPA ke dalam spons yang
2008). dimasukkan secara intravaginal selama 10
Domba merupakan ternak ruminansia sampai 14 hari pada domba dan
kecil yang relatif mudah diternakkan kambing menghasilkan angka konsepsi
oleh masyarakat pedesaan yang ketersediaan tinggi apabila diberikan lebih dari 14
pakannya berlimpah. Sumber pakan hari dan dikawinkan pada pemunculan
dapat berupa hijauan dari daerah sekitar estrus pertama. Gertak birahi menggunakan
hutan, sawah dan kebun. Namun, dalam MPA telah dilaporkan keberhasilannya oleh
perkembangan ternak domba di Purbosari (2003) dan Vyas et al.,
Indonesia, penampilan reproduksi menjadi (1999).
salah satu penentu utama bagi keberhasilan Senyawa prostaglandin menyebabkan
reproduksinya. Harapan untuk beranak sinkronisasi dengan meregresi korpus
dua kali dalam satu tahun seringkali luteum secara serentak selama masa
tidak tercapai. Kesuburan domba betina dari pertengahan sampai akhir dari
merupakan salah satu segi yang perlu siklus dan hanya efektif bila korpus
diusahakan sampai ketingkat yang luteum yang sedang aktif untuk
maksimal (Hardijanto, 2009). dihancurkan. Penggunaan PGF2 dapat
Peningkatan produksi ternak di diberikan secara intamuskular atau
Indonesia telah dilakukan dengan berbagai secara intrauterin. Pemberian PGF2
cara, salah satu teknik yang diperkenalkan secara intrauterin lebih hemat dibanding
dan diterapkan adalah inseminasi pemberian PGF2 secara intramuskular
buatan. Dalam rangka optimalisasi hasil karena pemakaian dosisnya lebih sedikit.
inseminasi buatan, dapat dikombinasikan Suntikan PGF2 7,5 mg intramuskular
dengan teknik gertak birahi agar pada kambing dan domba dapat
penggunaan inseminasi buatan menjadi menyebabkan birahi rata-rata pada hari
efsisien dan tepat waktu yang diinginkan. ketiga setelah penyuntikan (Wiyono,
Untuk itu telah dilakukan berbagai 1999).
penelitian dan percobaan untuk mendapatkan Menurut Tomaszewska (1991),
cara yang tepat dalam pengaturan dan gertak birahi dengan menggunakan
penentuan birahi (Hunter, 1995). MPA spons intra vagina dalam waktu
Sejak beberapa tahun yang lalu 10-14 hari telah memberikan hasil yang
telah banyak percobaan dan penelitian baik, dan untuk keberhasilan penggunaan
untuk mendapatkan preparat yang prostaglandin secara intramuskular telah
efektif dalam gertak birahi. Hormon dibuktikan dalam percobaan yang
yang pertama kali dipakai untuk teknik dilakukan oleh Mc Craken et al., (1972).
gertak birahi adalah progesteron. Berdasarkan penjelasan diatas maka
Beberapa penelitian dilakukan untuk dilakukan penelitian tentang pengaruh
mengetahui efektivitas progesteron pengunaan kombinasi progesteron (Medroxy
dalam gertak birahi pada kambing dan Progesterone Acetate) dan Prostaglandin
domba dengan hasil yang berbeda-beda. (PG) F2 injeksi terhadap waktu
Penggunaan hormon progesteron mem- timbulnya birahi pada domba ekor
perpanjang fase luteal secara buatan. gemuk (DEG).
Bila progesteron dihentikan, birahi pada Pemeriksaan kebuntingan domba
kebanyakan ternak terjadi merata dalam pada umumnya didasarkan kepada non
dua hari. Adanya kelemahan pemakaian return rate yaitu tidak kembalinya
progesteron dibuatlah derivat progesteron birahi setelah perkawinan, namun cara
yang salah satunya adalah MPA ini kurang tepat dan sering dikelirukan
(Medroxy Progesterone Acetate). Pemakaian dengan hewan yang menderita anesterus,
127
Veterinaria Medika Vol 7, No. 2, Juli 2014
sehingga untuk deteksi kebuntingan dini secara intramuskular 2 ml. Pengamatan
dapat dilakukan dengan USG, karena terhadap tanda-tanda birahi dilakukan
sudah terbukti keakuratannya dan selama tiga hari setelah penyuntikan
kepraktisannya (Manan, 2001). terakhir. Domba dinyatakan birahi
Beberapa keunggulan dari Ultra- apabila muncul tanda-tanda birahi
sonography (USG) antara lain adalah secara tingkah laku dan daerah sekitar
alat ini bersifat non-invasif atau tidak alat kelamin pada Domba Ekor Gemuk
menimbulkan trauma fisik pada organ antara lain: alat kelamin luar tampak
tubuh yang diperiksa, tidak memberikan membengkak, basah, merah, dan
efek samping terhadap hewan ataupun hangat; menggerak-gerakkan ekornya;
pemeriksa, dapat memperkirakan umur diam bila dikawini atau dinaiki oleh
kebuntingan, jumlah fetus yang ber- pejantan atau ternak lain; gelisah dan
kembang dan melihat perkembangan nafsu makan menurun (Ismudiono,
organ-organ fetus, tidak memerlukan 2010).
ruangan dan persiapan khusus sehingga Tiga puluh hari setelah Inseminasi
dapat digunakan di lapangan serta mudah, Buatan (IB) berlangsung dilakukan
cepat dan tepat dalam penggunaannya. pemeriksaan kebuntingan pada kelompok
Penggunaan USG lebih akurat untuk P1 dan P2. Deteksi kebuntingan menggu-
mendeteksi kebuntingan dibandingkan nakan Ultrasonography (USG), tahap
metode palpasi abdominal yang dilakukan persiapannya antara lain: Membersihkan
didaerah abdomen dan sinar-X (Zambelli transduser dengan memakai kain yang
and Parti, 2006). lembut, setelah itu menempatkan
transduser pada posisi kanan hewan
Materi dan Metode Penelitian kemudian samakan pada layar monitor,
Penelitian ini menggunakan 24 membersihkan bulu dan kotoran
ekor Domba Ekor Gemuk (DEG) betina dibagian abdominal, probe dan abdominal
umur 1-2 tahun, kondisi sehat dan domba betina dilumasi dengan gel
dalam keadaan tidak bunting. Dua ultrasound, menempatkan posisi probe
puluh empat ekor domba betina dibagi yang telah diberikan vaseline dan
secara acak menjadi tiga kelompok dipindah-pindahkan hingga tampak
perlakuan, yaitu P0 (pemberian hormon kantong amnion yang berwarna kehitaman
PGF2 ), P1 (pemberian MPA), P2 dan kantong amnion tersebut terdapat
(pemberian MPA dan PGF2 ). Penelitian fetus umur 30 hari yang tampak
diawali dengan melakukan pemeriksaan melayang pada monitor USG bila
kebuntingan melalui palpasi bimanual bunting, kalau tidak bunting hanya
untuk memastikan kondisi tidak terlihat lumen uteri (Anwar et al., 2008;
bunting. Hari pertama penelitian P0 Virgianti, 2011).
diberi suntikan hormon Prostaglandin Rancangan percobaan yang
(PGF2 ) secara intramuskular 2 ml, digunakan dalam penelitian ini adalah
sedangkan pada P1 dan P2 diberi Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang
suntikan hormon MPA (Medroxy Pro- terdiri dari 3 perlakuan dan 8 ulangan.
gesterone Aceatate) secara intramuskular Data yang diperoleh dari penelitian
0,2 ml. Pada hari ke sebelas dilakukan tersebut dianalisis menggunakan Chi-
penyuntikan kembali, pada P0 diberi Khuadrat dengan Program Statistical
suntikan hormon Prostaglandin (PGF2 ) Product and Service Solution (SPSS)
secara intramuskular 2 ml, P1 diberi versi 18, disajikan dalam bentuk
suntikan plasebo (H₂O), dan P2 diberi gambar, dan tabel yang menyatakan
suntikan hormon Prostaglandin (PGF2 ) persentase birahi dan bunting. Hasil
128
Darmaningtyas Satiti, dkk. Pengaruh Penggunaan Kombinasi Progesteron....
dinyatakan bermakna, p<0,05. Penghitungan Seperti yang dilihat dalam
menggunakan Fisher’s Exact Test Tabel 1, kelompok P0 menunjukkan dari
karena sampel yang digunakan kecil 8 domba hanya 5 ekor domba birahi
(Weisstein, 2012). (50%) serta 5 (50%) domba yang bunting,
kelompok P1 menunjukkan persentase
Hasil dan Pembahasan birahi pada semua domba (100%) serta
Hasil penelitian menunjukkan 6 (75%) domba yang bunting, sedangkan
bahwa pengaruh pemberian Prostaglandin kelompok P2 menunjukkan dari 8 ekor
F2α (PGF2α) dan Medroxy Progesterone domba hanya 7 ekor domba birahi
Acetate (MPA) terhadap persentase (87,5%) dan persentase kebuntingannya
birahi dan kebuntingan pada Domba 100% atau sebanyak 7 ekor domba.
Ekor Gemuk disajikan dalam Tabel 1. Hasil Chi-Khuadrat dengan Program
Statistical Product and Service Solution
Tabel 1. Persentase Birahi dan Kebuntingan (SPSS) versi 18 penghitungan Fisher’s
Domba Ekor Gemuk. Exact Test menunjukkan bahwa kelompok
Birahi Bunting P2 tidak ada perbedaan (p>0,05) terhadap
Kelompok ∑ db
(%) (%) kelompok P1 yang diberikan injeksi
P0 8 5(50%) 5(50%) MPA.
P1 8 8 (100%) 6 (75%) Diagnosa kebuntingan dari kelompok
P2 8 7 (87,5%) 7 (100%) P0, P1 dan P2 dilakukan dengan menggunakan
Keterangan: ultrasonography (USG). Hasil diagnosis
P0 = Pemberian hormon PGF2 kebuntingan domba dengan USG disajikan
P1 = Pemberian MPA dalam Gambar 1.
P2 = Pemberian MPA dan PGF2
∑db = Jumlah domba betina.
KA F
(A) Tidak bunting (B) Positif Bunting
Gambar 1. Hasil Ultrasonography 30 hari setelah IB.
Keterangan: (KA) Kantong Amnion yang berwarna hitam;
(F) Fetus yang bewarna putih dalam kantong amnion, sehingga dapat
dilihat bentukan tulang walaupun masih belum sempurna.
Keberhasilan kebuntingan pada Folikel merangsang lonjakan pelepasan LH
metode inseminasi buatan disebabkan yang menginduksi ovulasi dan menginisiasi
oleh estrus yang terkontrol dan ketepatan sel-sel lutein. Sedangkan menurut Sugiyatno
waktu inseminasi. Estrus dipengaruhi dkk (2001) bahwa banyaknya folikel
oleh estrogen, yang diproduksi oleh folikel. yang akan berovulasi akan meningkatkan
129
Veterinaria Medika Vol 7, No. 2, Juli 2014
estrogen dalam serum, dan ternyata yang mendadak ini menyebabkan
mampu memperpanjang lama estrus. feedback positif pada hipothalamus
Hasil penelitian yang didapatkan untuk mensekresikan GnRH yang
dari 24 ekor domba betina yang diberi diteruskan pada hipofisa anterior, untuk
perlakuan, pada hari ketiga setelah mensekresikan FSH dan LH. Follicle
penyuntikan pertama lima ekor domba Stimulating Hormone berfungsi untuk
menunjukkan tanda-tanda birahi pada pertumbuhan dan pematangan folikel
P0 (penyuntikan PGF2α), hal ini terjadi (folikulogenesis), folikel yang tumbuh
karena lima ekor domba tersebut berada menghasilkan hormon estrogen sehingga
dalam fase luteal, korpus luteum menyebabkan munculnya keinginan dan
teregresi akibat pemberian hormon PGF2 . tingkah laku birahi. Birahi akan muncul
Pada tiga ekor domba yang tidak pada 36-72 jam kemudian, 11 jam
menunjukkan tanda birahi setelah menjelang berakhirnya masa birahi diikuti
penyuntikan PGF2 pertama, peneliti dengan ovulasi, selanjutnya terjadi
menduga korpus luteum fungsional belum penurunan kadar LH dengan cepat
matang atau korpus luteum dalam tetapi tidak kembali ke kadar dasar,
kondisi mulai tumbuh. Pada keadaan melainkan cukup untuk merangsang
demikian PGF2 tidak mampu meng- pertumbuhan korpus luteum (Hafez,
hancurkan sel lutein dalam korpus 1993; Hardijanto dkk., 2009).
luteum. Namun pada perlakuan pertama Kelompok perlakuan P2 persentase
(P1) dan perlakuan kedua (P2) tidak birahinya 87,5% (7 ekor). Birahi
timbul adanya tanda-tanda birahi setelah muncul pada 2-3 hari setelah injeksi
dilakukan penyuntikan hormon MPA, MPA terakhir, hal ini terjadi karena
hal ini terjadi karena MPA yang setelah penghentian injeksi MPA selain
disuntikkan menyebabkan kadar hormon progesteron turun, juga diikuti sekresi
progesteron tinggi di dalam darah yang PGF2α endogen dari endometrium. Lima
mengakibatkan adanya umpan balik belas hari setelah injeksi PGF2α,
negatif pada hipofisa anterior sehingga dilanjutkan dengan injeksi MPA dimaksudkan
terhentinya produksi hormon FSH, agar domba memasuki fase luteal
pertumbuhan folikel terhambat dan dengan tumbuhnya korpus luteum menjadi
kadar estrogen rendah (Barrett et al., dewasa. Injeksi MPA selama 13 hari
2002; Richardson et al., 2002). menyebabkan progesteron dalam darah
Berdasarkan analisis menggunakan sangat tinggi dan mengakibatkan hambatan
uji Chi-Khuadrat dengan Program terhadap hipothalamus untuk tidak
Statistical Product and Service Solution mensekresikan GnRH dan hambatan
(SPSS) versi 18, penghitungan Fisher’s GnRH akan menyebabkan hipofisa
Exact Test menunjukkan birahi pada anterior untuk tidak mensekresikan FSH
DEG antara P0, P1 dan P2 menunjukkan dan LH. Tidak adanya FSH dan LH
bahwa tidak ada perbedaan (p>0,05). menyebabkan tidak adanya pertumbuhan
Kelompok perlakuan P1 menunjukkan folikel dan tidak terjadi birahi sampai
persentase birahi 100% (8 ekor), hal ini penghentian injeksi MPA. Penghentian
terjadi karena semua domba berada injeksi MPA diikuti penurunan
dalam kondisi korpus luteumnya sedang progesteron dan menyebabkan feedback
berfungsi sehingga dengan injeksi PGF2α negative berubah menjadi feedback
kedua korpus luteum telah berfungsi positif ke hipothalamus dan hipofisa
dan akan diregresi. Regresinya korpus anterior. Hiphotalamus akan mensekresikan
luteum diikuti dengan penurunan GnRH yang akan merangsang hipofisa
progesteron secara mendadak. Penurunan anterior untuk mensekresikan FSH dan
130
Darmaningtyas Satiti, dkk. Pengaruh Penggunaan Kombinasi Progesteron....
LH sehingga terjadi pertumbuhan atau sebanyak 7 ekor. Kebuntingan
folikel dan birahi. Pemberian MPA dapat dideteksi karena dikonfirmasikan
harus dilakukan secara terus menerus dengan ditemukannya kantong amnion
selama 12-14 hari, bertujuan untuk yang berbentuk bulat berwarna hitam
mendapatkan kadar progesteron dalam dan didalam kantong amnion terdapat
darah agar tetap tinggi. Birahi terjadi fetus berwarna putih, karena kebuntingan
antara hari ke-1 sampai hari ke-3 setelah masih berumur 30 hari, sehingga bentuk
penghentian pemberian MPA, dan fetus dan plasenta belum terlihat jelas
diikuti dengan ovulasi. Satu ekor domba (Gambar.1.B).
yang tidak menunjukkan gejala birahi Penghitungan Fisher’s Exact Test
diduga karena kadar progesteron masih dari analisis statistik Chi-Kuadrat menu-
tetap tinggi dalam darah yang dihasilkan njukkan terjadinya kebuntingan Domba
oleh korpus luteum dan tidak mengalami Ekor Gemuk antara kelompok perlakuan
regresi, sehingga mengakibatkan sekresi pertama (P1) dan kelompok perlakuan
FSH dan LH dihambat (Ramdani, 2010; kedua (P2) menunjukkan tidak ada
Wurlina, 2005). perbedaan (p>0,05).
Tiga puluh hari setelah dilakukan Kelompok perlakuan pertama (P1)
inseminasi buatan, pemeriksaan kebuntingan menunjukkan hasil persentase kebuntingan
dilakukan dengan menggunakan USG. 75% (6 ekor), hal ini terjadi karena
Ultrasonography adalah alat diagnostik waktu ovulasi dan pelaksanaan IB yang
di bidang kedokteran untuk menampilkan tepat sehingga fertilisasi juga berjalan
gambaran struktur bagian dalam tubuh dengan baik, sedangkan 2 ekor domba
hewan yang bekerja dengan menggunakan yang tidak bunting disebabkan karena
bantuan teknologi gelombang suara tidak terjadi fertilisasi atau kematian
berfrekuensi tinggi seperti yang dimiliki embrio dini (Toelihere, 1977).
oleh kelelawar. Alat ini terdiri atas Kelompok perlakuan kedua (P2)
monitor dan transducer. Transduser menunjukkan persentase kebuntingan
merupakan alat yang akan mentransfer 100% (7 ekor), hal ini disebabkan
pantulan gelombang suara menjadi bentuk karena pada kelompok P2 terjadi birahi
gambar yang akan tampil di layar monitor, yang disertai ovulasi setelah 11 jam
hasilnya disebut sonogram. Transduser menjelang berakhirnya birahi (Hardijanto
ditempelkan pada permukaan abdominal dkk., 2009) dan setelah inseminasi
yang disebut USG transabdominal. Sebelum buatan diikuti dengan proses fertilisasi
transduser ditempelkan di permukaan sehingga terjadi kebuntingan. Delapan
abdominal, permukaan kulit dilapisi ekor domba hanya 1 ekor yang tidak
dengan suatu ultrasound gel khusus, menunjukkan gejala birahi sehingga
kemudian transduser digerakkan keatas dan tidak dilakukan IB (Bearden and Fuquay,
kebawah serta komputer akan menerjemahkan 1992).
gelombang suara kedalam suatu bentuk
gambar (Widmer, 2004). Kesimpulan
Hasil pemeriksaan kebuntingan Pemberian kombinasi Progesteron
pada kelompok perlakuan P1 dengan 2 (Medroxy Progesteron Acetate) dan
kali injeksi PGF2α menunjukkan 6 ekor Prostaglandin (PGF2 ) injeksi pada kelompok
mengalami kebuntingan (75%) dan perlakuan kedua (P2) menghasilkan
kelompok perlakuan P2 yang diberikan persentase birahi 87,5% dan persentase
kombinasi injeksi PGF2α dan MPA kebuntingan 100%, walaupun secara
didapatkan 7 ekor domba yang birahi statistik tidak ada perbedaan (p>0,05)
serta mengalami kebuntingan (100%) dengan kelompok perlakuan pertama
131
Veterinaria Medika Vol 7, No. 2, Juli 2014
(P1) yang persentase birahinya 100% Populasi Domba di Kabupaten
dan persentase kebuntingannya 75%. Pandeglang dan Garut. Animal
Production. 10: 140-146.
Daftar Pustaka Purbosari, S.I. 2003. Pengaruh Lama
Anwar, M., A. Rias, N. Ullah and M. Waktu Pemberian Privasi (progesteron
Rafiq. 2008. Use of Ultrasonografy Intravaginal Silicon Sponge) Terhadap
for Pregnancy Diagnostic in Gejala Birahi pada Kambing.
Balkhi sheep. Pakistan Veteriner Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan.
Jurnal. 28(3): 144-146. Universitas Airlangga.
Richardson, A. M., B. A. Hensley, T. J.
Barret, D.M, P.M Bartlewski, S.J.
Marple, S. K. Johnson, and J. S.
Cook, and W.C Rawling. 2002.
Stevenson. 2002. Characteristics
Ultrasound and Endocrine Evaluation
of Estrus before and after first
of the Ovarian Respon to PGF2 Insemination and Fertility after
given at Different Stage of the Synchronized Estrus Using GnRH,
Luteal Phase in ewes. Theriogenology
PGF2 and Progesteron. J. Anim
58(7): 1409-1424.
Sci. Vd. 80 (11) : 2792 -2800.
Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Toelihere, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan
Farm Animals. 6 th. Ed. Lea and pada Ternak Sapi dan Kerbau.
Febiger Philadelphia. Universitas Indonesia, 40-44.
Hardijanto, S. Susilowati, T. Hernawati, Tomaszweska, M. W., I.K. Sutama., I.G
T. Sardjito, dan T.W. Suprayogi. Putut., dan T.D. Chaniago. 1991.
2009. Spermatogenesis pada Ternak. Reproduksi, Tingkah Laku dan
dalam: Buku Ajar Inseminasi Buatan. Produksi Ternak di Indonesia. PT.
Airlangga University Press. Surabaya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Hunter, R.H.F. 1995. Fisiologi dan Virgianti, D. 2011. Deteksi Kebuntingan
Teknologi Reproduksi Hewan pada Kambing Peranakan Etawa
Betina Domestik. Terjemahan : DK. dengan menggunakan USG. [Skripsi].
Harya Putra. Penerbit Bandung. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Ismudiono, P. Srianto, H. Anwar, S.P. Airlangga. Surabaya.
Madyawati, A. Samik dan E. Vyas .S, N. Sharma, U.K. Bissa, B.L.
Safitri. 2010. Fisiologi Reproduksi Chirania and B.L. Bishnoi. 1999.
pada Ternak. Edisi I. Fakultas Effect of Prostaglandin F2 alpha
Kedokteran Hewan. Universitas on Induction of Parturition in She
Airlangga. Camel (Camelus dromedarius).
Manan, D. 2001. Ilmu Kebidanan pada Indian J. Reproduction 20(1): 2970-
Ternak. Edisi 1. Fakultas Kedokteran 2997.
Hewan. Universitas Syiah Kuala. Weisstein, E. W. 2012. Uji Exact Fisher.
Darussalam, Banda Aceh. Dari Math World. Sebuah Sumber
Mc Cracken, J.A., D.T. Braind, J.C. Daya.http://mathworld.wolfram.com/
Carlson, J.R. Godding and B. FishersExactTest.html.
Barchikoroski. 1972. The Role of Widmer, W.R., D. S. Biller, dan L. G.
Prostaglandin In Luteal Regresion. Adams. 2004. Ultrasonography of
J.Reprod. Fert. 18 : 133-142 the Urinary Tract in Small
Nataatmaja, D.M dan J. Arifin. 2008. Animals. Journal of the American
Karakteristik Ukuran Tubuh dan Veterinary Medical Association.
Reproduksi Jantan pada Kelompok 255: 46-54.
132
Darmaningtyas Satiti, dkk. Pengaruh Penggunaan Kombinasi Progesteron....
Wiyono, A. 1999. Efektifitas Prostaglandin Wurlina. 2005. Pengaruh Berbagai Dosis
F2α Intrauterin Dibandingkan Prostaglandin F2α Terhadap Kualitas
Intramuskular Terhadap Gertak Birahi pada kambing Lokal.
Presentase Timbulnya Birahi, Media Kedokteran Hewan.
Kecepatan Timbulnya Birahi dan Surabaya. 21:48-99.
Presentase Kebuntingan pada Zambelli, D and F. Parti. 2006.
Kambing Kacang. Skripsi. Fakultas Ultrasonography for Pregnancy
Kedokteran Hewan. Universitas Diagnosis and Evaluation in
Airlangga. Queens. Theriogenology 66: 135-
144.
133