0% found this document useful (0 votes)
38 views7 pages

Analisis Pertumbuhan Non-Linier Domba Lokal Sumatera Dan Persilangannya

Jurnal metode regresi non linier

Uploaded by

artha hin
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
38 views7 pages

Analisis Pertumbuhan Non-Linier Domba Lokal Sumatera Dan Persilangannya

Jurnal metode regresi non linier

Uploaded by

artha hin
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. 6. No. 4. Th.

2001

ANALISIS PERTUMBUHAN NON-LINIER DOMBA LOKAL SUMATERA


DAN PERSILANGANNYA
AGUS SUPARYANTO1, SUBANDRIYO1, T.R. WIRADARYA2 dan H. H. MARTOJO2

1
Balai Penelitian Ternak, Ciawi PO Box 221 Bogor
2
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga-Bogor

(Diterima dewan redaksi 27 Oktober 2001)

ABSTRACT

SUPARYANTO, A., SUBANDRIYO, T.R. WIRADARYA and H. H. MARTOJO. 2001. Non-linear growth analysis of Sumatera thin tail
sheep and its cross breds. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6(4): 259-264.
Growth curve is a figure of individual ability to express its genetic potential to maximum size under the existing
environmental condition. Three non-linear growth curves, von Bertalanffy, Logistic and Gompertz, were used to analyze the
weight-age relationship for five genotypes of sheep. The data were collected from IP2TP Sei Putih, North Sumatera. Number of
animals which were collected consisted of five genotypes i.e, indigenous Sumatera (n=275), St. Croix (n=571), St. Croix Cross
(n=899), Barbados Blackbelly Cross (n=471) and composite (n=740). The three non-linear growth curves were compared to
obtain the most suitable curve for describing the shape of growth curves among sheep genotypes. The growth curves of von
Bertalanffy fitted better than the others. The results showed that regression parameters of B or M (integral constante) were
significantly different (P<0.001) among growth curves. It means that higher asymptotic weights will be followed by faster
growth rates to reach mature size. Value of A (asymptotic mature weigh) and k (growth rate to mature size) were not significant
(P>0.05). The data show that there was correlation between A and k.

Key words: Sumatera thin-tail sheep, crossing, non-linear growth

ABSTRAK

SUPARYANTO, A., SUBANDRIYO, T.R. WIRADARYA dan H. H. MARTOJO. 2001. Analisis pertumbuhan non linier domba lokal
Sumatera dan persilangannya. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6(4): 259-264.
Kurva pertumbuhan merupakan pencerminan kemampuan individu untuk menampilkan potensi genetik sampai mencapai
ukuran maksimal (dewasa) pada kondisi lingkungan yang ada. Tiga kurva pertumbuhan non-linier, yaitu von Bertalanffy,
Logistic dan Gompertz digunakan untuk menganalisis hubungan data umur dengan bobot badan dari lima genotipa domba. Data
tersebut diambil dari hasil monitoring di Stasiun percobaan IP2TP Sei Putih, Sumatera Utara. Jumlah data yang terkoleksi untuk
masing-masing genotipa domba adalah lokal Sumatera n=275, domba St. Croix n=571, St. Croix Cross n=899, Barbados
Blackbelly Cross n=471 dan Komposit n=740. Pembandingan ketiga kurva pertumbuhan yang digunakan dimaksudkan untuk
mencari yang terbaik dalam menduga pola pertumbuhan domba. Kurva pertumbuhan von Bertalanffy cenderung menghasilkan
dugaan yang lebih baik dibanding dengan kurva pertumbuhan lainnya. Hasil parameter regresi B atau M (konstanta integral) antar
kurva pertumbuhan menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (P<0,001). Hal ini mengisyaratkan bahwa tingginya pendugaan
bobot dewasa tubuh (asimtot) akan diikuti dengan cepatnya laju pertumbuhan untuk mencapai bobot dewasa. Nilai parameter A
sebagai bobot dewasa tubuh dan k sebagai laju kecepatan pertumbuhan antar model tidak menunjukkan adanya perbedaan yang
nyata (P>0,05). Lebih jauh dijelaskan pula adanya hubungan keeratan yang kuat bersifat negatif antara parameter A terhadap k.
Kata kunci : Domba Sumatera, persilangan, pertumbuhan non linier

PENDAHULUAN adalah dengan menggunakan regresi linier. Kelemahan


regresi linier adalah adanya salah penafsiran untuk
Kurva pertumbuhan merupakan pencerminan jangka panjang.
kemampuan suatu individu untuk menampilkan potensi Untuk mengatasi hal tersebut pada umumnya
genetik dan sekaligus sebagai ukuran akan cenderung digunakan regresi non-linier. Hal ini didasari
berkembangnya bagian-bagian tubuh sampai mencapai dari keterbatasan sifat biologis yang menghendaki
ukuran maksimal (dewasa) pada kondisi lingkungan norma tersendiri, sehingga teori yang mengacu pada
yang ada. Cara yang paling sederhana untuk menduga sifat keterbatasan biologis tersebut sangat baik untuk
fungsi pertumbuhan anak domba sebelum penyapihan digunakan pada ternak. Sebagaimana laporan terdahulu

259
AGUS SUPARYANTO et al.: Analisis pertumbuhan non linier domba lokal Sumatera

terhadap domba Ekor Tipis di stasiun percobaan Bogor sebesar 1,6 kg dan bobot umur 180 hari sebesar 2,1 kg
menunjukkan bahwa pertumbuhan anak sampai dengan untuk kondisi stasiun percobaan, sedangkan untuk
umur 3 bulan memiliki laju pertumbuhan linier kondisi pedesaan hanya mampu meningkatkan bobot
sedangkan di atas umur tersebut laju pertumbuhan sapih sebesar 0,7 ± 0,25 kg (SUBANDRIYO et al., 1985).
cenderung mengikuti pola non-linier. Domba Mehraban Iranian pada jantan mendapatkan
Hasil tersebut di atas juga sejalan dengan analisis bobot dewasa 20 kg lebih tinggi dibanding dengan
laju pertumbuhan bobot badan anak domba yang domba dewasa betina tetapi proses kedewasaan relatif
dilakukan oleh GUNAWAN et al. (1992), dimana lebih lambat. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai
rekomendasi menunjukkan bahwa cara yang baik untuk laju kecepatan pertumbuhan (k), dimana pada jantan k =
menganalisis laju pertumbuhan adalah dengan dua 0,1034 dan betina k = 0,1305 (BATHAEI dan LEROY,
pendekatan. Pertama, bagi anak domba yang belum 1996). Lebih jauh dijelaskan bahwa secara biologis
mencapai umur sapih digunakan analisis laju hubungan fenotipik yang lebih penting adalah antara
pertumbuhan dengan regresi linier. Kedua, untuk nilai bobot dewasa tubuh (A) dan laju kecepatan
pertumbuhan lepas sapih penggunaan fungsi pertumbuhan (k) karena hubungannya mencerminkan
eksponensial adalah yang paling baik. kecepatan laju pertumbuhan hingga mencapai bobot
Peralihan dari laju pertumbuhan linier ke non-linier asimtot. Semakin besar nilai hubungan maka laju
disebut sebagai titik belok. Kapan titik belok ini terjadi pertumbuhan semakin tinggi dan waktu yang
merupakan kondisi yang menarik untuk dibahas, karena dibutuhkan untuk mencapai dewasa lebih singkat.
pada saat titik belok pertama diperkirakan ternak Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi
memasuki tanda kedewasaan kelamin dan pada titik tentang penggunaan kurva pertumbuhan yang cocok
belok kedua ternak memasuki dewasa tubuh. Terlebih agar dapat memprediksi bobot badan pada domba
lagi bahwa titik belok selama ini dijadikan dasar untuk Sumatera dan hasil persilangannya pada umur tertentu.
mengukur optimalisasi pertumbuhan yang juga sebagai Analisis pertumbuhan berdasarkan genotipa domba
ukuran tingkat efisiensi usaha yang dicapai (BRODY, sangat strategis dalam industri peternakan, khususnya
1974). guna mengetahui sejauh mana karakteristik
Secara sederhana BUTTERFIELD (1988) pertumbuhan biologis sebagai faktor utama dalam
mendifinisikan pertumbuhan sebagai terjadinya mencapai prestasi produksi.
perubahan ukuran dalam suatu organisme sebelum
mencapai dewasa. Tentunya hal ini berbeda makna MATERI DAN METODE
dengan perkembangan, dimana perkembangan adalah
produk hasil perbedaan pertumbuhan dari masing- Data ini merupakan hasil monitoring bobot badan
masing bagian atas suatu organisme. Tingkat perbedaan domba yang dilakukan di Instalasi Penelitian dan
pertumbuhan di setiap bagian sangat tergantung pada Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP), Sungai Putih,
fungsi dari bagian tersebut (BRODY, 1974). Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera
Analisis pertumbuhan antara domba Ekor Gemuk Utara. Lima genotipa domba yang diamati merupakan
(DEG) dan Ekor Tipis (DET) pada kondisi lingkungan hasil pola perkawinan dari tiga bangsa masing-masing
yang berbeda (stasiun percobaan Bogor untuk DEG dan adalah lokal Sumatera (S), St. Croix (H) dan semen
DET serta DET kondisi pedesaan Garut, Cirebon dan beku dari jantan Barbados Blackbelly (B). Parameter
Ciburuy) yang dilakukan oleh SUBANDRIYO et al. yang digunakan dalam analisis adalah umur dan bobot
(1985) menunjukkan kurva yang berbeda, dimana anak badan, dimana untuk domba lokal Sumatera n=275,
DET yang dipelihara di stasiun percobaan memiliki laju domba St. Croix n=571, St. Croix Cross n=899,
pertumbuhan yang lebih tinggi (bobot = 6,9* Barbados Blackbelly Cross n=471 dan Komposit n=740.
umur**0.405) dibanding dengan pertumbuhan anak Persamaan dari masing-masing kurva adalah:
domba DEG yaitu bobot = 6,4* umur**0.424 dan anak (a). Kurva von Bertalanffy Y = A (1-Be-kt)3
domba DET yang dipelihara oleh peternak di pedesaan, (b). Kurva Logistic Y = A (1+ e-kt)-M dan
dimana persamaan yang didapat adalah bobot = 6,1* (c). Kurva Gompertz Y = A exp(-Be-kt)
umur**0.385 dimana, A = bobot badan tubuh (asimtot), yaitu pada
Hubungan berat badan dengan umur pada domba nilai t mendekati tak terhingga.
persilangan antara Dorset dengan Siamese Long Tail B/M = parameter skala (nilai konstanta integral)
yang dianalisis dengan model Brody adalah exp = logaritme dasar (2,30259)
BW=21.6869*{1–0.8778*exp(-0.0049*t)} untuk jantan k = rataan laju pertumbuhan hingga ternak
dan BW=18.7301*{1-0.8613*exp(-0.0059*t)} untuk mencapai dewasa tubuh.
betina (WATTANACHANT et al., 1996). Koefisien regresi Y = ukuran bobot badan ternak pada waktu t
linier pada bobot sapih DET dan umur 180 hari t = satuan waktu (umur ternak dalam hari).
menunjukkan bahwa dengan kenaikan bobot lahir Proses perhitungan statistik dilakukan dengan
sebesar 1 kg akan dapat meningkatkan bobot sapih menggunakan program SAS (1987). Untuk menguji

260
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. 6. No. 4. Th. 2001

perbedaan nilai paremeter regresi dilakukan dengan terbesar dibanding dengan dua model lainnya. Hal ini
pendekatan uji t-tets seperti yang dilakukan DIWYANTO memberikan gambaran bahwa pendugaan dengan kurva
(1989), dimana batas penolakan (BT) jika: Logistic mempunyai kecenderungan memprediksi
BT = tα, df EMSi + df EMSj √SEi2 + SEj2 ternak dalam mencapai bobot maupun umur dewasa
Batas penolakan atas hipotesis H0 jika Āi - Āj ≥ BT, yang relatif lebih cepat dibanding dengan dua kurva
dimana : i ≠ j lainnya. Demikian sebaliknya, untuk mencapai bobot
Āi , Āj = estimasi nilai parameter regresi ke i dan maupun umur dewasa yang relatif lambat diperoleh
ke j df EMSi, melalui pendugaan kurva von Bertalanffy. Meskipun
df EMSj= derajat bebas atas kuadrat tengah eror ke demikian secara statistik tidak cukup data untuk
i dan ke j menolak H0, dengan kata lain bahwa perbedaan rataan
SEi2 , SEj2 = standar eror ke i dan ke j. laju pencapaian dewasa tubuh (nilai k) dari masing-
Untuk mendapatkan nilai dugaan saat terjadinya titik masing kurva tidak nyata (P>0,05).
belok dari suatu pertumbuhan digunakan rumus menurut Secara biologis BATHAEI dan LEROY (1996)
PTAK et al. (1994), dimana rumus yang didapat memberikan pemahaman kurva von Bertalanffy bahwa
merupakan hasil turunan kedua dari persamaan non- dengan bobot sapih yang rendah (oleh karena nilai B
linier. Notasi untuk menduga titik belok umur adalah (t1) atau M tinggi) akan memberikan pengaruh terhadap
dan bobot badan adalah (yI), rumus matematis setiap tingginya rataan pertumbuhan relatif (berat
kurva adalah: von Bertalanffy (t1) = ln3B/k; (yI) = A pertumbuhan per bobot badan) yang dicapai pada umur
(8/27); Logistic (tI) = lnM/k; (yI) = A (M/M+1)M dan muda. Dan konsekuensinya akan diperoleh bobot
Gompertz (t1) = lnB/k; (yI) = A e-1. dewasa asimtot yang lama (nilai k tinggi) dibanding
dengan bobot sapih domba yang tinggi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pendugaan bobot badan dan pertumbuhan
Hasil analisis non linier menunjukkan bahwa nilai
regresi pada Tabel 1, dimana untuk nilai A sebagai Hasil analisis yang didapat dijelaskan ke dalam
bobot dewasa tubuh (asimtot) yang ditunjukkan oleh bentuk persamaan yang tersaji pada Tabel 1. Dari
kurva Logistic memiliki pendugaan bobot badan dewasa persamaan tersebut dapat disimulasikan umur (t) domba
tubuh terendah, sedangkan kurva von Bertalanffy untuk mendapatkan dugaan besarnya bobot badan (y).
cenderung tertinggi di antara kurva dari masing-masing Hasil simulasi menunjukkan bahwa umur ternak hingga
genotipa. Namun demikian secara statistik tidak terbukti mencapai bobot asimtot lebih cepat dicapai pada domba
cukup data untuk dapat membedakan secara nyata rambut dan hasil persilangannya, sementara domba
(P>0,05) pendugaan nilai A (bobot dewasa tubuh) antar lokal Sumatera relatif lebih lama. Hal ini
model pada setiap genotipa. mengisyaratkan bahwa dengan persilangan akan
Pendugaan bobot dewasa tubuh domba lokal diperoleh laju pertumbuhan yang lebih tinggi sehingga
Sumatera pada Tabel 1, sesuai dengan besarnya bobot akan dicapai bobot dewasa tubuh yang lebih cepat.
kawin ang dilaporkan SUBANDRIYO et al. (1996) dalam Prediksi bobot lahir berdasarkan nilai persamaan
kondisi stasiun percobaan, namun lebih tinggi dari regresi non linier pada Tabel 1 dengan cara
laporan DOLOKSARIBU et al. (1995) pada kondisi memasukkan skala umur (t) akan diperoleh nilai
pedesaan yang diperbaiki nutrisinya (21,1 kg). pendugaan atas bobot badan (y) dari masing-masing
Sementara bangsa St. Croix menghasilkan bobot yang model pada umur t. Hasil simulasi pada Gambar 1, 2
sama dengan laporan GATENBY et al. (1997a) yaitu 31 dan 3, menunjukkan bahwa kurva pertumbuhan von
kg. Namun untuk St. Croix Cross bobot hasil pendugaan Bertalanffy memiliki pendugaan bobot lahir yang lebih
lebih tinggi dari laporan GATENBY et al. (1997b) sebesar rendah. Sedangkan pada model Gompertz maupun
27,2 kg. Pendugaan bobot dewasa domba Barbados Logistic pendugaannya cenderung tinggi (over
Blackbelly tidak jauh atas laporan SUBANDRIYO et al. estimate). Kedua kurva tersebut memiliki karakteristik
(1996) yaitu sebesar 28,10 + 4,01 kg. Hal yang sama dugaan bobot awal tinggi disertai dengan bobot dewasa
terjadi pada domba komposit, yaitu hasil pendugaannya rendah, serta rentang waktu mencapai asimtot yang
sejalan dengan laporan SUBANDRIYO et al. (1998) yaitu cepat. Adapun kurva von Bertalanffy memiliki
29,86 + 3,30 kg (paritas pertama) atau sebesar 29,68 + pendugaan bobot awal rendah dengan bobot akhir tinggi
3,50 kg bobot induk dengan anak tunggal, 29,43 + 3,61 dan rentang waktunya lebih lama.
kg (anak kembar dua) dan 28,47 + 3,22 kg (anak kembar Kurva von Bertalanffy lebih realistis dan sejalan
tiga). dengan laporan MERKENS dan SOEMIRAT (1926), bahwa
Besarnya rataan laju pencapaian dewasa tubuh (nilai domba lokal memiliki bobot lahir rendah dengan laju
k), menunjukkan bahwa kurva Logistic memiliki nilai pertumbuhan rendah, dan rentang waktunya lama.

261
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. 6. No. 4. Th. 2001

Tabel 1. Persamaan regresi non linier untuk setiap kurva dan genotipa domba

Genotipa von Bertalanffy Logistic Gompertz


-0.008567*t 3 -0.01964*t -3.0443
Lokal Sumatera 22.2578*(1- 0.5673*exp ) 22.0785*(1+ exp ) 22.1540*exp-2.2653*exp-0.009766*t
St. Croix 31.4650*(1- 0.4969*exp-0.005718*t)3 31.0959*(1+ exp-0.007463*t)-2.6125 31.2780*exp-1.9192*exp-0.006502*t
St. Croix Cross 28.6830*(1- 0.5411*exp-0.008415*t)3 28.6830*(1+ exp-0.010321*t)-2.8096 28.7246*exp-2.0936*exp-0.009283*t
-0.007768*t 3 -0.009934*t -3.0505
B. Blackbelly Cross 28.8529*(1- 0.5633*exp ) 28.6934*(1+ exp ) 28.7595*exp-2.2683*exp-0.008868*t
Komposit 29.5432*(1- 0.5345*exp-0.006409*t)3 29.0177*(1+ exp-0.008445*t)-2.8662 29.3253*exp-2.1293*exp-0.007433*t

Pada sisi lain kurva model von Bertalanffy pertumbuhan seperti sistem hormonal, ekspresi genetik
pendugaan untuk mencapai bobot asimtot awal setelah dan faktor eksternal lainnya.
ternak berumur 1,5 tahun, tetapi bobot asimtot yang Pada semua kurva pertumbuhan nampak jelas bahwa
konstan dicapai setelah umur 3 tahun ke atas. pendugaan bobot awal terbesar di dapat pada domba St.
Sedangkan dua model lainnya bobot asimtot yang Croix. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu terdapat
konstan dicapai lebih awal yaitu setelah ternak berumur kecenderungan bahwa ternak setelah mencapai umur 2
2 tahun. Hasil pendugaan tersebut lebih cepat dari yang bulan besarnya pendugaan bobot badannya mendekati
dilaporkan BATHAEI dan LEROY (1996) terhadap domba besarnya pendugaan bobot badan pada domba St. Croix
Mehraban Iranian Fat-tail dengan menggunakan kurva Cross. Pola ini mengisyaratkan bahwa pola
non linier model Brody yaitu dicapai pada umur 4-5 pertumbuhan domba St. Croix pada masa pra sapih
tahun. bersifat lamban, kondisi ini akan berlanjut pada masa
Pendugaan hubungan keeratan genetik yang kuat pra sapih.
antara parameter bobot dewasa (A) dengan rataan laju Sajian ke tiga gambar yang ada menunjukkan
pencapaian umur dewasa (k) terjadi pada kurva adanya kesamaan pola, dimana domba genotipa St.
pertumbuhan von Bertalanffy. Sedangkan kurva Croix setelah melewati umur sapih kemampuan
pertumbuhan Logistic, hubungannya rendah (Tabel 2). pertumbuhan senantiasa berada di bawah kemampuan
Hal yang sama terjadi pada kurva pertumbuhan pertumbuhan domba dari genotipa St. Croix Cross.
Gompertz, namun hubungan kuat lainnya justru terjadi Lebih jauh dapat dijelaskan pula bahwa pola
pada parameter B dan k, ini menggambarkan bahwa pertumbuhan domba genotipa St. Croix hingga
tingginya rasio bobot lahir dengan kedewasaan akan mencapai umur 5 bulan lebih bersifat landai dibanding
mempercepat ternak untuk mencapai umur dewasa. dengan empat genotipa lainnya. Setelah melewati umur
Bentuk kurva (Gambar 1, 2 dan 3) berdasarkan lima 6 bulan sudut pertumbuhan menjadi lebih tegak, hingga
genotipa domba dari setiap kurva pertumbuhan non- mencapai umur 1,5 tahun untuk kemudian bersifat
linier yang digunakan menunjukkan bahwa domba lokal landai kembali. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
Sumatera memiliki kecenderungan sudut kurva yang sifat pertumbuhan domba genotipa St. Croix Cross yang
landai dibanding dengan empat genotipa domba lainnya, merupakan hasil persilangannya dimana pada periode
meskipun sudut kelandaian kurva beragam. Hal ini yang sama (ternak hingga mencapai umur 1,5 tahun)
menggambarkan bahwa kemampuan tumbuh dan pola pertumbuhan cenderung tegak setelah itu baru
berkembangnya ukuran tubuh domba lokal sangat bersifat landai.
terbatas sehingga performa yang diekspresikan relatif
Pendugaan umur dan bobot pubertas
lebih rendah dibanding domba tropis eks-impor maupun
hasil persilangannya pada kondisi lingkungan yang Pendugaan umur dan bobot domba saat pertama
sama. pubertas didapatkan hasil bahwa pendugaan lewat kurva
Secara umum bentuk kurva yang tertera pada pertumbuhan Logistic cenderung memiliki umur
gambar 1, 2 dan 3 terlihat adanya garis pertumbuhan pubertas yang lebih tinggi dibanding dengan kurva
yang beragam di antara lima genotipa domba yang ada. lainnya, adapun untuk bobot pendugaan tertinggi
Meskipun demikian perbedaan pola pertumbuhan diperoleh pada kurva Gompertz. Sedangkan pada kurva
terbesar pada saat ternak melewati umur 6 bulan hingga pertumbuhan von Bertalanffy, baik umur maupun bobot
mencapai umur 1,5 tahun. Hal ini diduga banyak faktor pendugaan saat pubertas cenderung rendah (Tabel 3).
yang menyebabkan besarnya pola keragaman Rendahnya nilai dugaan saat pubertas karena
keterbatasan data yang ada.

262
AGUS SUPARYANTO et al.: Analisis pertumbuhan non linier domba lokal Sumatera

Tabel 2. Matrik korelasi asimtot untuk masing-masing kurva (von Bertalanffy, Logistic dan Gompertz) dan genotipa domba

Kurva/ Lokal Sumatera St. Croix St. Croix Cross B. Blackbelly Cross Komposit
Parameter A B/M A B/M A B/M A B/M A B/M

von Bertalanffy
B -0,1684 -0,1483 -0,1098 0,1237 -0,2112
k -0,6180 -0,4684 -0,6759 0,4895 -0,4833 0,4546 0,5425 0,4633 -0,8082 0,4780
Logistic
M -0,1924 -0,1749 -0,1219 0,1427 -0,2510
k -0,5302 0,6957 -0,5710 0,7168 -0,4011 0,7041 0,4477 0,7163 -0,70008 0,7173
Gompertz
B -0,2415 -0,2179 -0,1565 0,1826 -0,3124
K -0,5636 0,7347 -0,6013 0,7462 -0,4276 0,7392 0,4758 0,7507 -0,7324 0,7528

Gambar 1. Kurva sigmoid antara umur dengan prediksi bobot badan pada masing-masing genotipa dari kurva von Bertalanffy

Gambar 2. Kurva sigmoid antara umur dengan prediksi bobot badan pada masing-masing genotipa dari kurva
Logistic

263
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. 6. No. 4. Th. 2001

Gambar 3. Bentuk sigmoid antara umur dengan prediksi bobot badan pada masing-masing genotipa dari kurva
Gompertz.

Tabel 3. Nilai tI (umur) dan yI (bobot) saat pubertas dini untuk masing-masing kurva pertumbuhan dan genotipa
domba
Genotipa domba von Bertalanffy Logistic Gompertz
tI (hari) yI (kg) tI (hari) yI (kg) tI (hari) yI (kg)
Sumatera 77,7 6,8 107,5 8,5 88,4 8,4
St. Croix 96,1 9,5 129,6 11,6 101,2 11,7
St. Croix Cross 71,3 8,6 98,1 10,6 76,3 10,7
B. Blackbelly Cross 82,2 8,7 115,3 10,9 95,8 10,7
Komposit 94,3 8,9 127,1 10,9 103,1 10,9

KESIMPULAN DAN SARAN BRODY, S. 1974. Bioenergetics and Growth with Special
Reference to the Efficiency Complex in Domestic
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Animals. A Publication of the Herman Frasch
pendugaan bobot lahir pada kurva pertumbuhan von Foundation. Original edition published by Reinhold
Bertalanffy cenderung lebih kecil dengan diikuti bobot Publishing Corporation. Copyright 1945. Reprinted
dewasa tubuh yang lebih tinggi dan waktu yang 1974. Hafner Press. A Division of Macmillan Publishing
Co. Inc. New York.
dibutuhkan untuk mencapai bobot dewasa tubuh relatif
lebih lama, sementara kurva pertumbuhan lainnya BUTTERFIELD, R.M. 1988. New Concepts of Sheep Growth.
menunjukkan hasil yang berlawanan. Oleh karena itu Published by The Department of Veterinary Anatomy
kurva pertumbuhan von Bertalanffy cenderung lebih University of Sydney.
baik untuk menduga pertumbuhan domba secara non DIWYANTO, K. 1989. Genetic and Phenotypic Parameters
linier dibanding dengan dua kurva lainnya. Associated with Body Weight, Scrotal circumference,
Pendugaan umur dan bobot pubertas dini dengan seminal characteristics and Pelvic Measurement in
menggunakan kurva pertumbuhan von Bertalanffy lebih Yearling Beef Cattle. A Dissertation Presented to the
baik dan mendekati kenyataan di lapangan, meskipun Faculty of the Graduate School University of Missouri-
nilai dugaannya relatif kecil (under estimate). Colombia.
GUNAWAN, B., D. KINARJADI, A.A. MATJIK dan KOMARUDIN.
DAFTAR PUSTAKA 1992. Pendugaan model fungsi pertumbuhan anak
domba sebelum penyapihan. Dalam. Haryanto, B., I.K.
BATHAEI, S.S. and P.L. LEROY. 1996. Growth and mature Sutama, B. Sudaryanto dan A. Djajanegara (Eds).
weight of Mehraban Iranian fat tail sheep. Small Domba dan Kambing untuk Kesejahteraan Masyarakat.
Ruminant Research. 22; 155-162. Proseding Sarasehan Usaha Ternak Domba dan kambing
Menyongsong Era PJPT II. Kerjasama antara ISPI dan
HPDKI Cabang Bogor ; 85-91.

264
AGUS SUPARYANTO et al.: Analisis pertumbuhan non linier domba lokal Sumatera

PTAK, E., J. BIENIEK and W. JAGUSIAK. 1994. Comparison of SUBANDRIYO, B. SETIADI, M. RANGKUTI, K. DIWYANTO, E.
growth curves of purebred and crossbred rabbits. In. HENDIWIRAWAN, E. ROMJALI, M. DOLOKSARIBU, S.
Selection and Quantitative Genetics; Growth; ELISER dan L. BATUBARA. 1996. Pemuliaan Bangsa
Reproduction; Lactation; Fish; Fibre; Meat. Proceeding Domba Sintetis Hasil Persilangan Antara Domba Lokal
of the 5th World Congress on Genetic Applied to Sumatera dengan Domba Bulu. Pusat Penelitian dan
Livestock Production. University of Guelph, Canada; Pengembangan Peternakan. Bogor.
p.201-204.
SUBANDRIYO, B. SETIADI, M. RANGKUTI, K. DIWYANTO, M.
RASTOGI, R. 1996. The Barbados Blackbelly. In Hair Sheep of DOLOKSARIBU, L.P. BATUBARA, E. ROMJALI, S. ELIASER
Western Africa and the Americas. A Genetic resource dan E. HANDIWIRAWAN. 1998. Performa domba
for the Tropics. Edited by H.A. Fitzhugh and G.E. komposit hasil persilangan antara domba lokal Sumatera
Bradford. A Winrock International Study. Published by dengan domba rambut generasi pertama dan kedua.
Westview Press / Boulder Corolado; 121-136. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. Vol.3 (2): 78-86.
SUBANDRIYO, P. SITORUS, G.E. BRADFORD and R.L. SAS. 1987. SAS/STAT Guide for Personal Computers. Version 6
BLACKWELL. 1985. Growth characteristics of Indonesian Edition. SAS Institute Inc. Cary, NC.
sheep. Proc. The 3 rd AAAP Animal Science Congress.
Volume 1 ; 318-320. WATTANACHANT C, I. DAHLAN, M.A. RAJION and A. ZULKIFLI.
1996. Model of sheep production system Growth and
meat production. Silver Jubilee MSAP Conference,
Kuching, Sarawak; 255 – 256.

265

You might also like