Penelitian
338 Aksa dan Nurhayati
MODERASI BERAGAMA BERBASIS BUDAYA DAN KEARIFAN
LOKAL PADA MASYARAKAT DONGGO DI BIMA
CULTURAL BASED RELIGION MODERATION AND LOCAL
ACTIVITY IN THE DONGGO COMMUNITY IN BIMA
Aksa
Dosen Sejarah dan Kebudayaa Islam, UIN Alauddin Makassar, Indonesia
[email protected] Nurhayati
Guru Sejarah di SMANKO Sulawesi Selatan, Indonesia
[email protected]
Artikel diterima 12 Desember 2020, diseleksi 25 Desember 2020, dan disetujui
28 Desember 2020
Abstract Abstrak
This paper describes religious moderation based Tulisan ini menjelaskan tentang moderasi
on culture and local wisdom in the Donggo beragama berbasis budaya dan kearifan
community in Bima. This paper examines the lokal pada masyarakat Donggo di Bima.
standpoint of culture and local wisdom in assessing Tulisan ini menelaah sisi kemengapaan
religious moderation for the Donggo community. budaya dan kearifan lokal memperkuat
This research is a historical research with a socio- moderasi beragama bagi masyarakat Donggo.
cultural approach. The input methodology is the Penelitian ini adalah penelitian sejarah
flow of the flow in the historical methodology dengan pendekatan sosio-kultur. Metodologi
which takes the stages of heuristic, criticism, penulisan mengikuti alur dalam metodologi
interpretation and historiography. The results sejarah yang meliputi tahapan heuristik, kritik,
showed that the Donggo area (Dana Donggo) is interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian
a place for culture and local wisdom as well as a menunjukan bahwa Wilayah Donggo (Dana
role model for diversity in the midst of religious Donggo) menjadi tempat persemaian budaya
plurality. Interestingly, religious moderation in dan kearifan lokal serta role model bagi
the Donggo (Dou Donggo) community is actually keberagamaan di tengah pluralitas beragama.
united by a variety of cultural expressions and Menariknya moderasi beragama di kalangan
local wisdom, not because of religious factors. masyarakat Donggo (Dou Donggo) justru
Meanwhile, religious moderation is increasingly disatukan oleh ragam ekspresi budaya dan
taking root in the midst of religious plurality kearifan lokal, bukan karena faktor agama.
because it is supported by the use of symbols, Sementara moderasi beragama semakin
identities and rites of ‘Raju Culture’ as social glue mengakar di tengah pluralitas agama karena
without religious barriers. didukung oleh penggunaan simbol, identitas
dan ritus ‘Budaya Raju’ sebagai perekat sosial
Keywords: Religious Moderation, Culture, Local tanpa sekat-sekat keagamaan.
Wisdom, Donggo.
Kata Kunci: Moderasi Beragama, Budaya,
Kearifan Lokal, Donggo.
HARMONI Juli - Desember 2020
Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal pada Masyarakat Donggo di Bima 339
PENDAHULUAN beragama) di Kabupaten Bima adalah
Kecamatan Donggo.
Menghadapi era disrupsi,
masyarakat Indonesia dituntut untuk Sebagai modal sosial dalam
menguasai ilmu pengetahuan dan beragama, budaya dan kearifan lokal
teknologi. Tanpa penguasaan ilmu perlu digali, dijaga, ditemukenali, dan
pengetahuan dan teknologi, masyarakat diabadikan oleh masyarakat sebagai
Indonesia akan ketinggalan zaman dan memori kolektif akan kekayaan budaya
ditinggalkan oleh zaman. Karena itu, masyarakat yang dimiliki oleh bangsa
penguasaan iptek menjadi sesuatu yang Indonesia. Menulis kembali moderasi
diutamakan agar bisa bersaing dengan beragama dengan pendekatan budaya
negara-negara maju. Namun, perlu dan kearifan lokal saat ini menjadi sangat
digaris-bawahi bahwa penguasaan iptek penting di tengah sergapan modernisasi
tidaklah cukup dijadikan modal dalam dan hegemoni budaya global.
hidup di tengah masyarakat modern Berangkat dari latar persoalan
yang cenderung berpikir antroposentris. tersebut, maka penulis berusaha menjawab
Munculnya teknologi modern bisa jadi eksistensi budaya dan kearifan lokal
akan membawa manusia ke arah berpikir dalam merekatkan moderasi beragama
pragmatis, cenderung hedonis, bermental pada masyarakat Donggo di daerah Bima.
kapitalis dan kehilangan spiritualitasnya. Fokus permasalahan yang dijawab dalam
Karena itu, sisi spiritualitas sangat penelitian ini antara lain: bagaimana
vital dalam membentengi diri dari realitas sosio-historis keberagamaan
sergapan modernitas dan pandangan masyarakat Donggo, bagaimana posisi
antroposentris yang kian mengikis budaya dan kearifan lokal menyatukan
keimanan ummat manusia. Dengan identitas Masyarakat Donggo. dan,
kata lain, agama menjadi penuntun bagaimana bentuk pembudayaan budaya
hidup umat manusia dalam menjawab dan kearifan lokal dalam memperkuat
problematika kehidupan. moderasi beragama bagi masyarakat
Donggo. Tulisan yang berjudul “Moderasi
Sebagai bangsa yang heterogen, Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan
agama-agama samawi dan ardi telah Lokal Pada Masyarakat Donggo di Bima”
tumbuh dan berkembang sekaligus bukan sekedar mengungkap kembali
ikut mewarnai corak keberagamaan masa lalu semata, tetapi penulisan ini
masyarakat di Indonesia. Selain harus disikapi secara bijak dan dimaknai
keragaman dalam beragama, berdasarkan moral manusia dalam arus
heterogenitas masyarakat juga tercermin perkembangan jaman.
dalam keragaman suku, ras, dan
budaya sebagai modal sosial dalam
mengembangkan potensi dan kreativitas Kajian Pustaka
masyarakat yang berkarakter lokal dari
Perbincangan seputar moderasi
gempuran globalisasi. Bima sebagai salah
beragama mulai digiatkan oleh kalangan
satu daerah yang ada di ujung timur
akademisi pasca kementerian agama
pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara
meluncurkan buku moderasi beragama.
Barat (NTB) juga memiliki keragaman
Moderasi beragama menjadi skala
baik dalam beragama maupun dalam
prioritasnya dalam pembangunan dan
ekspresi kebudayaan. Salah satu daerah sekaligus menjadi bagian dari strategi
yang dikenal cukup harmonis dalam kebudayaan dalam memajukan SDM
merawat toleransi antar umat beragama Indonesia (Kementerian Agama, 2019).
(sebagai pengejewantahan dari moderasi
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 19 No. 2
340 Aksa dan Nurhayati
Meski demikian, wacana tentang disisi yang lainnya. Kaduanya sama-sama
moderasi beragama bukanlah hal baru menafsirkan teks suci sesuai selera dengan
dalam konteks Indonesia. Moderasi cara yang kaku (bagi kaum radikal) dan
beragama sejatinya telah lama mengakar, juga bebas (bagi kaum liberal). Posisi
berjalin secara harmoni diantara pemeluk keduanya saling berlawanan, mengambil
agama yang ada di Indonesia. Ide jarak dan semakin jauh dari titik tengah
moderasi beragama oleh kementerian
agama hanyalah penegasan atas sikap dan Kedua tulisan di atas masih berkutat
perilaku kita dalam praktik beragama. pada analisa tentang moderasi beragama
dengan menjadikan doktrin teologis
Penelitian tentang moderasi sebagai landasan teoritis serta realitas
beragama telah dipublikasikan baik historis umat manusia dalam beragama.
dalam bentuk jurnal maupun buku dan Tulisan Toto Suharto hanya memotret
banyak beredar di berbagai perpustakaan lembaga pendidikan Islam dengan
yang ada di Indonesia khususnya Kota basis penguatan Islam moderat sebagai
Makassar. Diantaranya adalah tulisan usaha Indonesianisasi Islam. Tulisan
berupa jurnal yang ditulis oleh Toto Toto Suharto dan Muchlis Hanafi tidak
Suharto (2017) berjudul “Indonesianisasi menyoroti moderasi beragama dengan
Islam: Penguatan Islam Moderat dalam pendekatan budaya dan kearifan lokal.
Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia”. Oleh karena itu, peneliti perlu menelaah
Munculnya Islam transnasional dengan dan menjelaskan lebih jauh tentang
ideologinya yang di impor dari Timur moderasi beragama dengan pendekatan
Tengah sedikit banyak telah merusak budaya dan kearifan lokal sebagai fokus
citra Islam yang ramah menjadi Islam penelitian dan Kecamatan Donggo
yang suka marah. Tulisan ini berusaha Kabupaten Bima sebagai lokusnya.
mengembalikan wajah Islam yang
ramah sebagaimana sejak hadirnya di
Indonesia dengan pendidikan Islam METODE
sebagai sarana yang cukup strategis
dalam mengembangkan Islam moderat Tulisan ini adalah jenis tulisan
di Indonesia. sejarah, kerena menyoroti interaksi
sosial (budaya dan kearifan lokal) dalam
Karya selanjutnya ditulis merawat keragaman dan sikap beragama
oleh Muchlis Hanafi (2013) yang maka perlu ditelaah dengan pendekatan
berjudul “Moderasi Islam: Menangkal sosiologi agama dan sosio-kultur (secara
Radikalisme Berbasis Agama”. Buku ini sosiologis dan antropologis) masyarakat
secara panjang lebar mengulik secara Donggo di Kabupaten Bima. Tulisan
historis munculnya sikap ekremisme ini dilakukan secara sistematis dengan
dan radikalisme dalam beragama yang menempuh metode penelitian sejarah,
dimulai sejak munculnya kaum khawarij sebagaimana dalam ilmu sejarah meliputi:
dan murjiah. Faktor yang menyebabkan
hal itu terjadi karena; pertama, sikap kita a. Heuristik (pengumpulan data)
yang terlalu ketat dalam memahami teks- dilakukan melalui penelitian pustaka,
teks suci keagamaan dan kedua, cara kita wawancara dan dokumentasi.
yang terlalu longgar dalam menjalankan Penelitian pustaka berguna dalam
ajaran agama dan beragama. Karakter memperkuat data dalam penulisan
moderasi beragama semakin hari semakin buku-buku, jurnal, dan karya ilmiah
kabur karena disebabkan oleh sikap dan lain yang berhubungan langsung
perilaku sebagian umat dalam beragama. dengan tulisan ini. Informan yang
Disatu sisi cenderung liberal dan radikal diwawancara adalah tokoh-tokoh
masyarakat, tokoh agamawan (Imam
HARMONI Juli - Desember 2020
Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal pada Masyarakat Donggo di Bima 341
Masjid, Pembina Gereja, seperti karya sejarah yang tidak hanya
Pastor dan Pendeta), sejarahwan menggambarkan suatu peristiwa
lokal maupun orang-orang yang sejarah, tetapi juga menghasilkan
mengerti dan memahami kehidupan makna dari peristiwa itu sendiri
sosial, agama dan budaya masyarakat berdasarkan analisis historis.
Donggo.
b. Kritik Sumber dalam konteks ini
yaitu data-data yang didapatkan PEMBAHASAN
dari hasil wawancara meyakinkan Daerah Donggo dan Setting Sosial
bahwa informan yang diwawancarai Keagmaannya
mempunyai kemampuan mental dan
memiliki nilai moral atau kejujuran Gambaran umum wilayah Donggo
atas apa yang disampaikannya. (Dana Donggo) dan Orang Donggo (Dou
Narasumber yang diwawancarai Donggo) yang dikemukakan dalam tulisan
umumnya mempunyai daya ingat ini, bukan Dana Donggo dan Dou Donggo
yang kuat dalam menjelaskan sikap secara keseluruhan. Dana Donggo sebagai
dan perilaku keberagamaan, serta batasan spasial dalam tulisan ini yaitu
praktek budaya lokalnya. Hal yang Dana Donggo yang secara administratif
paling ditekankan disini adalah hanya terfokus pada wilayah Kecamatan
aspek “dalam” yaitu isi sumber yang Donggo Kabupaten Bima provinsi Nusa
didapatkan. Tenggara Barat. Sedangkan Dou Donggo
c. Intepretasi untuk menetapkan makna yang menjadi obyek atau sasaran kajian
dan saling hubungan dari fakta- yaitu orang Donggo Seberang (Dou
fakta yang diperoleh. Pada tahap Donggo Ipa) yang sekarang ini mendiami
ini sangat diperlukan kehati-hatian, wilayah Kecamatan Donggo.
ketelitian dan kecermatan serta sikap
Nama Donggo adalah berasal dari
menghindari subyektifitas terhadap
fakta sejarah. Interpretasi meliputi gugusan tinggi pegunungan di sebelah
dua hal yaitu analisis (penguraian) barat Selat Bima. Secara geografis daerah
dan sintesis (kepercayaan). Tahap Donggo masih terpencil dan jauh dari
ini, peneliti telah mencurahkan pusat kota. Dari kota Bima, Kecamatan
semua kekuatan menghidupkan Donggo bisa terlihat jelas di bawah puncak
data-data yang lulus verifikasi dan Doro Soromandi (Gunung Soromandi)
mengimajinasikan kata-kata dengan yang menjulang tinggi. Masyarakat
tetap mengacu pada sumber-sumber Donggo atau Dou Donggo merupakan
yang ada. masyarakat yang paling lama mendiami
Daerah Bima dibandingkan dengan suku
d. Historigrafi adalah titik puncak dari lain. Mereka bermukim di daratan tinggi
metodologi dalam penelitian sejarah. yang jauh dari pesisir, memiliki bahasa
Tahapan historiografi yang telah dan adat istiadat yang berbeda dengan
melewati tahapan heuristik, kritik
Dou Mbojo atau orang Bima. Bahkan
sumber dan interpretasi hendaknya
menurut Abdulah Tajib, salah seorang
dapat memberikan gambaran yang
sejarawan Bima mengatakan bahwa
jelas mengenai proses penelitian
Dou Donggo (orang Donggo) memiliki
sejak dari awal sampai penarikan
kesimpulan, sehingga prosedur kesamaan dengan masyarakat yang
penelitian dapat berlangsung dengan mendiami daerah pulau Lombok (Sasak
tepat. Dalam tahap ini, peneliti juga Bayan). Orang Donggo dan orang Sasak
berusaha untuk memahami realitas Bayan mempunyai ciri yang sama yaitu
sejarah sosial dan budaya masyarakat berambut pendek bergelombang, keriting
sehingga dapat menghasilkan dan warna kulit agak gelap (Tajib,
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 19 No. 2
342 Aksa dan Nurhayati
1995: 33). Dou Donggo (orang Donggo) Gereja tersebut. Hal demikian juga terjadi
mendiami lereng-lereng gunung Lambitu di masyarakat Tolonggeru, umat Kristiani
disebut Donggo Timur (Donggo Ele). banyak yang ikut membantu melakukan
Sementara orang Donggo yang mendiami pengecoran Masjid, ketika waktu dulu
lereng Gunung Soromandi disebut Masjid perbaiki dan diperluas.
Donggo Barat (Donggo Ipa).
Akhir-akhir ini, harmonisasi di Dana
Mayoritas masyarakat Donggo Donggo mulai tercekoki dengan adanya
adalah masyarakat yang beragama Islam, politik segregatif Pemkab Bima berpotensi
namun tidak dapat dipungkiri bahwa menimbulkan konflik dan rivalitas yang
ada sebagian kecil masyarakat non bersifat laten dalam masyarakat Donggo.
muslim yang mendiami Dana Donggo. Sebagai contoh, masyarakat Dusun
Diantaranya mereka ada yang beragama Tolonggeru yang beragama Islam dan
Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Data Kristen secara historis berasal dari satu
dari BPS Kabupaten Bima, menyebutkan leluhur dan etnis yang sama tetapi Pemkab
bahwa masyarakat yang beragama Islam Bima memisahkan etnis Donggo melalui
di Kecamatan Donggo berjumlah 18. 599 pembagian wilayah secara administratif
orang, yang beragama Kristen Katolik berdasarkan agamanya. Meski satu
berjumlah 690 orang dan 288 orang yang dusun, faktanya Tolonggeru secara
beragama Kristen Protestan. Selain itu ada administratif di bagi dua wilayah. Dusun
sekitar 6.119 orang yang tidak masuk di Tolonggeru bagian barat menjadi bagian
antara tiga kategori agama tersebut, karena Desa Monggo Kecamatan Madapangga.
data BPS Kabupaten Bima hanya menulis Sedangkan Dusun Tolonggeru bagian
kata ‘lainnya’ di bagian kolom selanjutnya. timur masuk dan menjadi bagian dari
Jumlah Masjid di Dana Donggo sebanyak Desa Mbawa Kecamatan Donggo. Padahal
29 Masjid dan 18 Musholah/Langgar yang secara historis dan kultural masyarakat
telah dibangun di beberapa kampung yang Tolonggeru adalah Dou Donggo asli yang
ada di kecamatan Donggo. Sementara sejak awal tetap merasa dirinya berasal
Geraja hanya sebanyak 5 Gereja, 2 Gereja dari leluhur, sejarah dan budaya yang
di Desa Palama (Gereja Kemah Injil dan sama.
Gereja Katolik di Dusun Nggeru Kopa)
dan 3 Gereja di Desa Mbawa (Gerja
Katolik Santo Paulus di Dusun Mbawa Realitas Sosio-Historis Keberagamaan
Kambentu, Gereja Kemah Injil di Dusun Masyarakat Donggo
Jango dan Gereja katolik Santa Maria
Vianyie di Dusun Tolonggeru). Marafu, agama lokal masyarakat Donggo
Kondisi sosial keagamaan Sebelum datangnya pengaruh
masyarakat Donggo umumnya berjalan agama-agama besar (Hindu, Buddha,
secara damai dengan penuh toleransi, Kristen, Katolik dan Islam) masuk
Masyarakat Donggo utamanya ke wilayah Nusantara, masyarakat
masyarakat Desa Mbawa selalu Nusantara sudah mempunyai
melakukan aktivitas gotong royong bentuk keyakinan yaitu agama lokal
jika ada pembangunan tempat-tempat atau agama asli (Sukamto, 2017).
ibadah. Sebagai contoh berdasarkan Beberapa agama asli yang dianut oleh
hasil wawancara dengan Muliyadin masyarakat Nusantara di tingkat lokal
(wawancara, Donggo 15/05/2019), saat antara lain; Pelebegu yang dianut oleh
ada renovasi Gereja di Dusun Mbawa- masyarakat Nias, Arat Sabulungan
Kambentu, tidak sedikit masyarakat yang yakini oleh masyarakat
Muslim yang datang membantu renovasi Mentawai yang bermukim di Pulau
Siberut, Permalim atau Sipelebegu oleh
HARMONI Juli - Desember 2020
Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal pada Masyarakat Donggo di Bima 343
masyarakat Batak, Sunda Wiwitan di pohon yang rindang dianggap
masyarakat Badui Banten, Kahariangan memiliki kekuatan ghaib karena di
yang dianut oleh sebagian masyarakat dalam benda-benda tersebut terdapat
Dayak Ma’anyan di Kalimantan roh atau jiwa yang mendiami. benda-
Tengah, Towani Tolotang di sekitaran benda tersebut dipercayai dapat
daerah Pinrang-Sidrap dan Aluk menjaga diri dari berbagai macam
Tudolo di masyarakat Toraja Sulawesi bahaya baik berupa musuh maupun
Selatan. Selain itu, masih banyak bahaya dalam bentuk penyakit.
kepercayaan lokal yang tersebar luas
di Bumi Nusantara, termasuk wilayah Sedangkan Makakimbi artinya
Kebupaten Bima. cahaya yang berkemilau, kepercayaan
Makakimbi selain mempercayai
Masyarakat Donggo telah seperti dalam kepercayaan Makakamba,
mempunyai kepercayaan asli kepercayaan ini harus dipersembahkan
sejak dari nenek moyangnya jauh dengan pemberian sesajen (Soji)
sebelum datangnya tiga agama ketika terjadi bencana alam atau
(Islam, Kristen Katolik dan Kristen musibah lainnya. Sebagai sesajennya,
Protestan). Kepercayaan lokal yang masyarakat diperkenankan untuk
dirituskultuskan oleh masyarakat mempersembahkan makanan dengan
Donggo dulu dikenal dengan istilah wewangian dan menyembeli ayam atau
Marafu, yaitu kepercayaan atas roh-roh kambing. Bahkan menurut Zollinger
nenek moyangnya. Parafu ro Pamboro (1997), dalam hal kepercayaan, orang-
dianggap sebagai perantara manusia orang Donggo tidak mengenal dewa
dengan ciptaannya. Masyarakat dalam pengertian agama Hindu.
Donggo pada dasarnya memiliki Mereka menguburkan mayat di
kesamaan dengan kebanyakan dalam lubang dengan posisi berdiri,
masyarakat dari suku-suku lain disertai pakai lengkap seperti cincin,
Nusa Tenggara Barat, yaitu konsepsi gelang, kalung, bokor dan tutup
masyarakat tentang kekuatan sakti kepala. Kubur ini kemudian ditutup
di luar diri manusia. Mereka yang dengan batu plat, seperti halnya pada
memiliki kekuatan supranatural makam di bagian barat Kampung
dikenal sebagai Dou Maloa Ngaji Tua Padende oleh masyarakat sekitarnya
(Orang yang pandai mengkaji ilmu- dianggap sebagai makam Gajah
ilmu mistik). Mada. (Depdikbud, 1997:26).
Berdasarkan hasil wawancara Dalam perjalanan sejarahnya,
dengan dengan Syamsuddin Abdul keberadaan Marafu dengan
Hamid Zein (wawancara, Doridungga- mempercayai konsep makakamba-
Donggo 23/05/2019), selaku pengurus makakimbi sebagai agama lokal
Lembaga Syariat Donggo (Lasdo) masyarakat Donggo justru kurang
mengemukakan bahwa secara mendapat tempat dihati masyarakat
historis Dou Donggo telah lama dan daerah tempat lahirnya
menganut kepercayaan animisme dan kepercayaan tersebut. Hadirnya
dinamisme dalam bahasa bahasa Bima agama Islam, Kriten dan Katolik
dikenal dengan kepercyaan terhadap telah menekuk agama lokal. Seperti
makakamba ro makakimbi. Makakamba pepatah mengatakan “anak ayam
artiya memancarkan cahaya dalam mati di lumbung padinya sendiri”.
artian Dou Donggo mempercayai Demikanlah nasib kepercayaan
bahwa benda-benda seperti keris yang Marafu sampai sekarang tidak diakui
memancarkan cahayanya maupun eksistensinya. Sehingga tidak salah
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 19 No. 2
344 Aksa dan Nurhayati
saat Atkinson mengatakan “Pada ke dataran yang lebih rendah, Etnis
prinsipnya, toleransi terhadap Donggo bertemu dan bercampur
minoritas agama di Indonesia baik dengan kelompok lain yang datang
sekali, tetapi hal ini hanya berlaku dari luar, seperti dari Flores, Ambon
bagi sistem-sistem kepercayaan yang dan lain-lain. Dengan adanya
telah diakui sebagai agama modern pengetahuan dari orang luar, barulah
yang berarti tidak termasuk agama- etnis Donggo menetap dan membuat
agama tradisional. Pemeluk agama rumah (Purna, 2016) seperti yang
modern disebut orang beragama, terjadi di Desa Kala, Desa Mbawa dan
sedangkan penganut kepercayaan sekitanya.
tradisional dinamakan orang yang Meskipun periode masuknya
belum beragama; ungkapan yang agama Islam lebih awal dari agama
belum beragama menganut implikasi Kristen Katolik dan Kristen Protestan
yang kurang baik dan menekankan di Dana Donggo. Namun, Usaha
mutlak perlunya perlunya peralihan para Zending dan Misionaris di
kepercayaan (Atkinson, 1985)”. periode awal justru mendapatkan
tempat dan respon dari masyarakat.
Usaha Islamisasi awal sejak masa
Dana Donggo, Rumah Tiga Agama kesultanan dan periode kedua
tahun 1931 mengalami kegagalan
Pengaruh agama Khatolik, dan tidak ada tindakan lebih lanjut
Kristen Protestan baru masuk pada oleh para mubaligh/ulama dalam
abad ke-20. Dengan masuknya tiga memancarkan Islam di Dana Mbojo,
agama tersebut, masyarakat Donggo sehingga Islamisasi pada masa itu
mulai terbuka dengan dunia dan belum membuahkan berhasil. Atas
masyarakat luar. Etnis Donggo dengan kerjasama personil Angkatan Pemuda
cepat menerima pembaharuan- Islam (API), di bawah pimpinan
pembaharuan. Keberadaan alam Abdul Majid Bakry agama Islam
yang bergunung-gunung dan ganas mulai berkembang baru pada tahun
menyebabkan etnis Donggo turun ke 1947 (Ama La Nora, 2008).
daerah yang lebih rendah di sekitar
daerah Donggo sekarang (Purna, Kendati demikian, Masyarakat
2016). Penyataan Purna senada Donggo meskipun terkenal fanatif dan
dengan sumber lisan hasil wawancarai cukup religious dalam menjalankan
peneliti dengan Abdul Haris, salah ritus keagamaannya. Sementara di
satu tokoh masyarakat Donggo bagian Desa Mbawa masyarakatnya yang
barat. Abdul Haris (wawancara, Bumi telah lama menganut kepercayaan
Pajo-Donggo 20/05/2019) dengan Marafu sekarang lebih dikenal sebagai
orang-orang Kristiani. Lebih dari itu,
mengambil contoh masyarakat Dusun
daerah ini juga dikenal sebagai basis
Ncuhi dan Dusun Padende Desa
pengembangan agama Katolik dan
Bumi Pajo, kedua kampung tersebut
Kristen Protestan di Dana Mbojo yang
sebenarnya tahun 1900-an baru ada.
notabene mayoritas beragama Islam.
Sebelumnya masyarakat masih tinggal Kebijakan politik pihak kesultanan
dan menetap di Puncak Gunung yang Bima belakangan dengan mengirim
dikenal Rasa Mantoi (Kampung yang para mubaligh dan ulama secara
lama) yang terletak di sebelah barat gencar melakukan syiar Islam. usaha
Desa Bumi Pajo. Sekarang Rasa Mantoi reislamisasi difokuskan kembali demi
sudah ditumbuhi rerumputan dan memancarkan sinar Islam di puncak
sebagian sudah tumbuh pohon-pohon Dana Donggo.
besar. Setelah Dou Donggo menetap
HARMONI Juli - Desember 2020
Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal pada Masyarakat Donggo di Bima 345
Budaya dan Kearifan Lokal Masyarakat karena diikat oleh kesamaan budaya
Donggo dan berasal dari leluhur yang sama.
Dengan kata lain bahwa faktor budaya
Masyarakat Donggo disatukan oleh
dan kearifan lokal menjadi instrumen
budaya dan kearifan lokal
utama dalam merekatkan hubungan
Jika masyarakat Bima disatukan sosial di tengah keragaman beragama
oleh agama, maka khusus masyarakat pada masyarakat setempat. Beberapa
etnis Donggo di Kabupaten Bima contoh budaya, adat-istiadat dan
disatukan oleh budaya. Masyarakat kearifan lokal masyarakat Donggo
Bima yang kuat dipengaruhi Islam yang mendukung praktik moderasi
(seperti Aceh, Minangkabau, beragama dan sudah lama mengakar
Betawi, Banjar dan Makassar) telah sebagaimana yang kemukakan oleh
menempatkan agama (Islam) sebagai Sugiyanto (wawancara, Padende-
unsur pemersatu. Bagi masyarakat Donggo 05/05/2019) diantaranya;
Bima, orang yang berasal dari suku Pertama, praktek budaya Raju
manapun, selama ia muslim maka sebagai pintu dialog dalam merawat
akan dianggap Dou ndai (orang kita) harmoni di tengah keragaman dalam
karena adanya persamaan identitas beragama. Kedua, adanya penamaan
dan solidaritas keagamaan (Islam).
sebagai identitas yang mencerminkan
Pandangan ini menegasikan terhadap
hasil perpaduan agama (Islam dan
umat di luar Islam, meskipun sudah
Kristen). Ketiga, fungsionalisasi rumah
lama tinggal dan menetap, tetap
dianggap sebagai Dou makalai hampa adat (Uma Leme) sebagai sarana dan
makalai hela (orang lain yang berbeda) mediasi dalam memperkuat moderasi
(Effendy, 2017). beragama. Keempat, terbukanya ruang
diskursus komukatif melalui kegiatan
Karenanya, menikah dengan paresa rawi rasa. Kelima, kegiatan paresa
orang yang berbeda agama tua sebagai basis doktrin masyarakat
merupakan sesuatu yang tabu dalam multikultural. Keenam, Kasaro sebagai
kesadaran kosmologis orang Bima. ekspresi bahasa sosial dan politik
Meski dalam jumlah kecil sudah ada dalam konsolidasi internal.
yang melakukannya tetapi cenderung
didiamkan. Nikah nikah beda agama Selain itu, tradisi dan budaya
bagi masyarakat Bima adalah ‘aib’ masyarakat yang memperkuat
secara teologis maupun sosiologis. perilaku moderasi beragama seperti
Singkatnya, identitas agama selain yang dikemukakan oleh Andreas
Islam dianggap mengganggu identitas Pasya (wawancara, Palama II-
kultural masyarakat Bima yang Donggo 10/05/2019) karena adanya
mayoritas muslim. Sebaliknya bagi ritus Kabusi Rasa dan tradisi Karawi
masyarakat Donggo, agama apapun Kaboju ikut memperkuat persemaian
yang dianutnya mereka tetap merasa budaya dan harmonisasi di tengah
sama-sama sebagai orang Donggo keragaman dalam keberagamaan.
(Dou Donggo). Dengan kata lain, Masyarakat Donggo menjadi entitas
Budaya dan kearifan lokal yang telah dan identitas keberagamaan dalam
lama mengakar telah menyatukan kultural masyarakat yang plural.
Dou Donggo. Oleh karenanya, Kecamatan Donggo
Moderasi beragama pada menjadi role model atas moderasi
Masyarakat Donggo bisa terawat beragama bagi masyarakat yang
baik dan selalu terlihat harmonis mendiami daerah Bima.
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 19 No. 2
346 Aksa dan Nurhayati
Harmonisasi dalam beragama Donggo. Akibatnya, harmoni
yang mengedepankan pendekatan masyarakat Donggo yang sudah lama
budaya dan kearifan lokal menjadi hidup berdampingan secara damai
jalan alternatif bagi masyarakat dengan sesama saudaranya dibayang-
Donggo dalam memperkuat ikatan bayangi oleh konflik. Agama, baik
solidaritas sosial. Ritme-ritme sosial Kristen maupun Islam, hadir dengan
berjalan damai dan paralel dengann menawarkan identitas baru berupa
nilai-nilai budaya dan kearifan lokal agama, bukan lagi karena adanya
yang tumbuh pada masyarakat kesamaan suku dan leluhur.
Donggo. Karena itu, perbedaan
Sebaliknya, bayang-bayang
agama dan keyakinan sama sekali
konflik antar agama justru dilatari
tidak mengganggu relasi sosial.
oleh nalar politik praktis yang tidak
Sebagai contoh, pernikahan beda
mendidik. Praktek politik menjadi
agama adalah fenomena biasa yang
frase yang sering muncul dan tentunya
sering terjadi. Kendati demikian,
cukup mengganggu harmonisasi
semua tetap berjalan secara damai.
sosial dalam hidup beragama yang
Mereka tetap bisa hidup harmonis
telah lama mengakar. Nalar politik
penuh kekeluargaan dalam ikatan
praktis seperti siapa memilih siapa,
pernikahan. Meskipun di beberapa
siapa dapat apa dengan sejumlah
kasus salah satu pengantin secara
“frasa transaksi” politik lainnya.
sukarela harus meninggalkan
Sebenarnya transaksi politik semacam
agamanya (suami mengikuti agama
ini tidak ditemukan dalam karakter
istri atau sebaliknya).
budaya dan kearifan lokal masyarakat
Selain itu, ada usaha dari Donggo. Justru ciri khasnya Dou
kalangan agamawan yang secara Donggo adalah masyarakat yang
tidak langsung menggerogoti pondasi mengedepankan nilai- nilai gotong
keharmonisan masyarakat Donggo. royong, tolong menolong dan
sebagian kaum agamawan secara toleransi.
implisit melakukan berbagai penetrasi
dakwah bagi etnis Donggo. Atas nama
pemurnian ajaran agama, mereka oleh Ragam budaya dan kearifan lokal
Al Qurtuby telah menyerang berbagai masyarakat Donggo
aset kultural, nilai-nilai luhur leluhur,
dan khazanah keilmuan nenek Adat istiadat dan kebudayaan
moyang Nusantara karena dianggap masyarakat Donggo tercermin dalam
bid’ah dan dipandang tidak sesuai hasil karya cipta, rasa dan karsa
dengan ajaran normatif keagamaan masyarakat berupa adat perkawinan,
tertentu. Modus ini dilakukan seraya kesenian, bahasa dan perilaku
memperkenalkan (dan dalam banyak masyarakatnya. Menurut Abdul
hal memaksakan) doktrin, wacana, Majid, adat istiadat dan kebudayaan
gagasan, pandangan, dan ideologi yang masih bisa kita saksikan sampai
keagamaan eksklusif puritan dan sekarang dapat dilihat dalam bentuk
aneka ragam budaya luar kepada adat pernikahan yang dimulai dari
masyarakat Indonesia. (Al Qurtuby, cempe kanefe, sodi ntaru, wa’a mama, pita
2019) mama, ngge’e nuru, mbaju (kalondo fare),
mbolo weki, wa’a coi, peta kapanca sampai
Islamisasi dan Kristenisasi berlangsungnya akad nikad yang
sangat gencar dan ‘mengepung’ dilanjutkan dengan pesta penikahan
budaya dan kearifan lokal masyarakat (nika ndiha). Seusai pesta pernikahan
HARMONI Juli - Desember 2020
Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal pada Masyarakat Donggo di Bima 347
biasanya kedua mempelai disirami tamu dari kalangan elit bangsawan
dengan air kelapa yang dipecahkan dari istana (para pembesar negeri
oleh perias pengantin (ina mbuti) maupun tamu dari luar negeri) atau
yang disebut dengan boho oi ndeu atau pemimpin daerah maupun pusat yang
ndeu boho oi mbaru. Terakhir sebagai berkunjung ke Dana Donggo. Adapun
rangkaian dari beberapa ada di atas tarian kalero merupakan tarian yang
nantinya akan di adakan acara ne’e disertai nyanyian yang berisi ratapan
uma rana (wawancara, Rora-Donggo, dan pujian serta penghormatan
22/05/2019). Kebudayan masyarakat atas arwah. Kalero adalah warisan
Donggo berupa hasil karya seni dapat budaya Donggo lama dalam melepas
dilihat dalam berebagai kesenian baik kepergian anggota keluarga yang
berupa seni bangunan, seni tari, seni telah meninggal dunia. Sebagai tarian
suara maupun seni ukir/seni pahat. pelepasan arwah, Kalero terkadang
disuguhkan juga dengan mpisi yang
Tradisi dan ada istiadat yang diselingi dengan ntu’ba ncala untuk
masih dilaksanakan oleh sebagian menghibur anggota keluarga yang
masyarakat Donggo, diantaranya ditinggalkan oleh sanak saudaranya.
pemberian sesajean (sasangi atau soji
ro sangga), tolak bala (kabusi rasa) dan
tari mpisi ro kalero sebagai satu ekspresi
spitualitas dan duka cita masyarakat Moderasi Beragama Berbasis Budaya
dalam dunia seni. Selain itu, terdapat dan Kearifan Lokal
juga upacara kasaro (untuk orang Moderasi beragama dengan pendekatan
meninggal), doa rasa (doa untuk budaya dan kearifan lokal
keselamatan kampung halaman),
cafisari (membersihkan lantai rumah Sebelum menjelaskan moderasi
pasca acara penguburan mayat) dan beragama dengan pendekatan
pesta raju menjelang menanam padi, budaya dan kearifan lokal. Perlu
jagung maupun kedelai. dikemukakan di sini bahwa untuk
menerapkan moderasi (Wasathiyyah)
Khazanah kebudayaan etnis beragama dalam kehidupan pribadi
Donggo yang masih dilestarikan dan masyarakat diperlukan upaya
hingga sekarang diantaranya mpisi, serius yang dikukuhkan oleh; a.
kalero, gantaw (kuntau), makka, dan pengetahuan/pemahaman yang
dzikir hadharah dan sebgainya. Mpisi benar, b. emosi yang seimbang dan
adalah sejenis tarian dengan gerakan terkendali, dan c. kewaspadaan
berputar-putar (tanta mpisi) sambil dan kehati-hatian bersinambung
mengayunkan tombak disertai (Shihab, 2020). Lebih lanjut, Shihab
keyang. Tari Mpiri terkadang disertai mengemukakan bahwa dengan
dengan ‘makka’ yaitu sebuah atraksi Wasathiyyah, Islam hadir ditengah
dengan sedikit melompat dan tangan masyarakat majemuk/plural untuk
kanannya memegang keris (sapari) berdialog dengan berprinsipkan nilai-
atau senjata tradisional lain sebagai nilai kemanusiaan, keadilan dan syura
simbol patriotisme yang sertai dengan tanpa memaksa yang menolaknya
semboyan (ucapan-ucapan yang untuk mengikutinya, dan yang
menunjukan keperkasaan seorang menerima diberi kesempatan untuk
lelaki sejati). Mpisi maupun makka melaksnakannya secara bertahap
yang penuh akrobatik itu biasanya sesuai kemampuannya tanpa
diatraksikan dalam moment-moment mengampangkannya (Shihab, 2020).
tertentu khususnya dalam menyambut
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 19 No. 2
348 Aksa dan Nurhayati
Bertolak dari penjelasan tersebut, menggambarkan hubungan antara
Moderasi beragama yang dikemukan Sang Pencipta-Manusia dan Alam
di sini adalah moderasi dalam hidup Semesta juga dimaknai sebagai
intern dan antar umat beragama, pertemuan tiga agama (Islam,
yang secara eksplisit memiliki nilai Katolik dan Protestan) di Dana
yang bersifat universalitas. Moderasi Donggo. Sementara bagian teras
beragama di Kecamatan Donggo (sarangge) merupakan unsur baru
adalah moderasi beragama yang dalam struktur Uma Ncuhi sebagai
dibalut dengan budaya dan kearifan perpaduan dengan elemen budaya
lokal masyarakat Donggo. Simbolitas, modern.
identitas dalam budaya dan kearifan
lokal menjadi tanda dan penanda Uma Ncuhi juga berfungsi
dalam sikap beragama (moderasi sebagai wadah komunikasi dan
beragama). mediasi antar umat beragama. Adanya
acara Paresa Rawi Rasa di Uma Ncuhi
Moderasi beragama secara mengambarkan cara Dou Donggo
simbolik dapat di lihat dari cara mereka memecahkan persoalan sosial dan
melakukan pembokaran Pohon Wangi keagamaan. Dalam konteks ini, Uma
atau Haju Mengi (penanda lokasi Ncuhi sebagai ruang diskursus dalam
muslim) untuk dibangun Gereja. menjembatani dan mencari solusi
Sementara Masjid dibangun di bawah setiap permasahan sosial yang sedang
naungan Pohon Bau atau Haju Wou dihadapi oleh masyarakat setempat.
(dilokasi umat Kristiani). Usaha Religiusitas masyarakat juga tentunya
masyarakat khususnya di Desa telah mengalami orientasi dari Marafu
Mbawa yang melakukan demikian, ke pluralisme agama telah menguatkan
dapat dinilai sebagai cara mereka moderasi beragama. Serta Hidup bersama
untuk hidup bersama (mori sama) (Mori sama) sebagai modal kultural
dalam satu spasial tanpa batasan dalam merawat dan mengembangkan
atau pengelompokan berdasarkan kehidupan beragama secara damai sesuai
identitas keagamaannya. Penyatuan prinsip moderasi beragama.
lokasi kuburan umat Islam dan umat
Moderasi beragama juga dilakukan
Kristiani tanpa sekat secara simbolik
dengan menggunakan identitas yang
juga dapat dibaca sebagai penolakan
unik, identitas dalam pemberian sebagian
pemilahan spasial berdasarkan sekat
nama masyarakat Donggo merupakan
keagamaan (Wahid, 2016).
siasat budaya. Meskipun menganut satu
Selain itu, Uma Ncuhi sebagai agama, akan tetapi dalam penamaan
simbol yang merepresentasekan terdapat dua identitas keagamaan yang
dunia luar, Keberadaan Uma Ncuhi melekat dalam pemberian namanya.
sebagai rumah adat Dou Donggo Nama-nama seperti Andreas Ahmad,
juga merepresentasekan perjumpaan Andreas Pasya, Bernadus Abu Bakar
simbolitas budaya lokal Dou Donggo Wrg Prote, Ignatius Ismail, Markus Jafar,
dengan agama global. Empat tiang martinus Tamrin. Pemberian nama untuk
mencirikan empat unsur dalam kaum perempuan juga seperti Anastasya
penciptaan manusia (tanah, air, api Nuraini, Kristin Siti Hawa, Marta
dan angin). Rumah Ncuhi dengan Maemunah, Marta Hadijah (Purna, 2016)
bentuknya segi empat menandakan tidak jarang di jumpai khusunya di Desa
adanya empat arah mata angi (barat- Mbawa Kecamatan Donggo. penggunaan
timur-utara-selatan). sedangkan nama dalam dua identitas keagamaan
atapnya yang berbetuk segi tiga adalah pengejewantahan langsung dari
HARMONI Juli - Desember 2020
Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal pada Masyarakat Donggo di Bima 349
moderasi beragama yang telah ada sejak Sementara dalam menyikapi sikap
lama. Model moderasi beragama seperti dan perilaku keberagamaan, maka Budaya
ini belum tentu ada dan diterapkan oleh Raju menjadi strategi dalam menguatkan
masyarakat lain yang berbeda agama. moderasi beragama masyarakat dengan
pendekatan budaya dan kearifan lokal.
Praktik budaya Raju harus dimaknai
Ritus “Budaya Raju” sebagai ekspresi secara kreatif berdasarkan konteks sosio-
moderasi beragama historis Dou Donggo agar tetap lestari di
tengah pengikisan tradisi kecil (pesta Raju)
Pasca hadirnya agama Islam, Katolik oleh tradisi besar (upacara Keagamaan).
dan Protestan di Donggo, Dana Donggo Budaya Raju juga dapat dijadikan sebagai
menjadi lokus pertarungan kebudayaan. wahana yang dapat menjamin kerekatan
Kontestasi ideologi dan elit dalam dunia sosial. Praktik Budaya Raju tentunya
keparafuan, kekristenan dan keislamanan memberi sumbangan pemahaman
telah memainkan peran dalam berbagai tentang perubahan sosial-keagamaan.
praktek keagamaan. Dou Donggo yang Seiring dengan pergeseran makna dan
menganut kepercayaan lokal atau agama bentuk, praktik budaya dari waktu ke
asli mengalami dinamika yang kompleks. waktu, akan memperkaya khazanah
Kompleksitas membawa perubahan budaya dan kearifan lokal dalam praktik
dalam sosial keagamaan, kepercayaan dan perilaku moderasi beragama di
Marafu dipaksa tunduk dari agama baru tengah heterogenitas masyarakat Donggo
(agama yang dilayani pemerintah). Ketiga (Wahid, 2016).
agama ini masuk dan konstruksi identitas
Dou Donggo yang masih menganut Moderasi beragama dalam ritus
kepercayaan Marafu yang berwarna lain. budaya raju telah melahirkan ikatan dan
Dou Donggo dinilai sebagai orang lain solidaritas sosial antara Dou Donggo
(the other) dalam hubungan sosial yang (insider) dengan Dou Mbojo (outsider)
berbeda secara lokalitas, agama, dan yang menekankan kesamaan posisi.
etnisitas dengan Dou Mbojo. Selain itu, Praktik Budaya Raju dapat
dijadikan sebagai pintu dialog di tengah
Meskipun Dou Donggo yang telah pertarungan entintas budaya lokal dan
konversi agama (Islam atau Kristen), global. Budaya Raju yang mentradisi di
kepercayaan Marafu tetap dihidupkan oleh Dana Donggo, terbentuk dan bersumber
sebagian masyarakatnya. Fakta tersebut dari budaya dan kearifan lokal yang
menjadikan Dou Donggo berada pada diekspresikan dalam ranah sosial-
ambiguitas dan dilema budaya. Sebagai budaya. Praktik Budaya Raju sebagai
masyarakat yang mepertahankan budaya budaya dan kearifan lokal dapat dijadikan
dan kearifan lokal basis tradisinya, Dou sebagai jembatan dalam menjelajahi
Donggo menemukan jalan keluar alamiah relasi dan kontestasi dari entitas budaya
dari situasi dan konteks pertarungan yang bermetamorfosa menjadi agama
kebudayaan tersebut. Hal ini terlihat pada (lokal) yang terpinggirkan versus agama
praktik budaya Raju sebagai agricultural (universal) yang dominan. Pada akhirnya
ritual (ritual pertanian). Ritual Raju dalam pesta Raju menjadi tempat persemaian
menyambut musim tanam melibatkan pluraslime agama, masyarakat kembali
Dou Donggo (Muslim dan Kristen) yang menyatu dalam ikatan kultural tanpa
berakar pada pandangan dunia Marafu terperangkap dalam ruang keagamaan
tanpa sekat-sekat keagamaan (Wahid, yang bersifat privat.
2016)
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 19 No. 2
350 Aksa dan Nurhayati
SIMPULAN Identitas dalam pemberian sebagian
nama masyarakat Donggo sebagai siasat
Wilayah Donggo (Dana Donggo) budaya, dan religiusitas masyarakat telah
menjadi tempat persemaian budaya dan mengalami orientasi dari keparafuan
kearifan lokal. Dana Donggo menjadi ke pluralisme agama telah menguatkan
role model bagi keberagamaan di tengah moderasi beragama. Mori sama sebagai
pluralitas beragama Masyarakat Donggo modal kultural dalam merawat dan
(Dou Donggo). Marafu sebagai kepercayaan mengembengakan kehidupan beragama
lokal (agama asli) Masyarakat Donggo secara damai sesuai prinsip moderasi
telah mengalami dinamika yang beragama. Selain itu, moderasi beragama
cukup kompleks. Kendati demikian, diekspresikan dalam ritus ‘Budaya Raju’
kompleksitas kepercayaan lokal pelan- sebagai perekat sosial tanpa sekat-sekat
pelan terhegemoni oleh agama resmi keagamaan.
(global) dengan modus citra diri telah
menekuk agama asli (lokal) yang berwarna
lain. Hadirnya agama Islam, Katolik
UCAPAN TERIMA KASIH
dan Kristen Protestan di Dana Donggo
Kabupaten Bima, telah mengukuhkan Akhirul kalam, penulis
posisi Dana Donggo sebagai rumah bagi mengucapkan rasa terima kasih yang
tiga agama besar tersebut. tulus dari hati yang terdalam kepada
semua pihak yang turut berpartisipasi
Selain menjadi tempat tersemainya
dan berkontribusi dalam penelitian ini,
tiga agama, Dana Donggo telah berhasil
kepada para narasumber yang sudah
merawat keharmonisan di tengah
bersedia wawancarai, mereka banyak
keberagamaan masyarakat Bima. Hidup
berkontribusi dalam memberikan
damai dalam perbedaan adalah hasil
informasi dalam penelitian ini.
dari sikap dan berperilaku (moderasi
Selanjutnya, penulis mengucapkan
beragama) masyarakat Donggo yang
terima kasih kepada pengelola (Managing
heterogen. Menariknya moderasi
Editor, tim redaksi, reviewer) Jurnal
beragama di kalangan masyarakat
Harmoni yang diterbitkan oleh Puslitbang
Donggo justru disatukan oleh ragam
Bimas Agama dan Layanan Keagamaan
ekspresi budaya dan kearifan lokal.
Kementerian Agama Republik Indonesia.
Berbeda dengan masyarakat Bima
Mereka yang turut menyeleksi serta
secara umum bahwa faktor agama lah
mengedit beberapa jurnal yang masuk ke
yang menentukan dalam memperkuat
tim redaksi, semoga kerja keras dan kerja
solidaritas sosialnya.
ikhlas pengelola jurnal bernilai ibadah
Sementara moderasi beragama dikemudian hari. Semoga tulisan ini
semakin mengakar di tengah pluralitas bisa memberi manfaat yang luas kepada
agama karena didukung oleh masyarakat Indonesia serta mampu
penggunaan simbol dan identitas sebagai menambah wawasan dan pengetahuan
tanda dan penanda. Uma Ncuhi menjadi seputar moderasi beragama yang berbasis
simbol yang merepresentasi dunia luar budaya dan kearifan lokal.
sekaligus sebagai wadah komunikasi.
HARMONI Juli - Desember 2020
Moderasi Beragama Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal pada Masyarakat Donggo di Bima 351
DAFTAR ACUAN
Al Qurtuby, Sumanto. (2019). Perlunya Merawat Tradisi dan Kebudayaan Nusantara
Kita. Kata Pengantarnya dalam buku Tradisi dan Kebudayaan Nusantara.
Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Press.
Ama La Nora, Ghazaly. (2008). Mutiara Donggo: Biografi Perjuangan Tuang Guru
Abdul Majid Bakri. Jakarta. NCI Press.
Atkinson, Jane Monning. (1985). “Agama dan Suku Wana di Sulawesi Tengah” dalam
“Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi” Dove Michael
R., Ed. Pp 3-30. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
BPS Kabupaten Bima. (2017). Kecamatan Donggo dalam Angka 2017. Bima: Badan
Pusat Statistik Kabupaten Bima.
Depdikbud. (1997). Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Effendy, Muslimin A.R. (2017). Diskursus Islam dan Karakter Politik Negara di
Kesultanan Bima. Dalam Jurnal “Al-Qalam” Volume 23 Nomor 2 Desember
Tahun 2017”
Hanafi, Muchlis M. (2013). Moderasi Islam: Menangkal Radikalisme Berbasis Agama.
Ciputat: Ikatan Alumni Al-Azhar dan Pusat Studi Al-Qur’an.
Kementerian Agama RI. (2019). Moderasi Beragama. Jakarta: Badan Litbang dan
Diklat Kementerian Agama RI.
Purna, I Made, (2016). Kearifan Lokal Masyarakat Desa Mbawa dalam Mewujudkan
Toleransi Beragama. Dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 1 No. 2
Agustus 2016. Jakarta: Badan Penelitian dan pengembangan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Shihab, M. Quraish. (2020). Wasathiyyah: Wawasan Islam tentang Moderasi
Beragama. Tangerang Selatan: Lentera Hati.
Suharto, Toto. (2017). Indonesianisasi Islam: Penguatan Islam Moderat dalam
Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jurnal At-Tahrir. Volume. 1 No.
1 Tahun 2017.
Sukamto. (2017). Kebijakan Negara Terhadap Agama-Agama Lokal dan Aliran-Aliran
Kepercayaan di Indonesia (1945-1980). Dalam Agama dan Negara di Indonesia:
Pergulatan Pemikiran dan Ketokohan (Editor, Sri Margarana dkk). Yagyakarta:
Ombak.
Tajib, Abdullah. (1995). Sejarah Bima Dana Mbojo. Jakarta: PT Harapan Masa PGRI
Wahid, Abdul. (2016). Praktik Budaya Raju dalam Pluralitas Dou Mbawa di Bima, Nusa
Tenggara Barat. Disertasi. Program Studi Kajian Budaya, PPs Universitas
Udayana.
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 19 No. 2
352 Aksa dan Nurhayati
Daftar Informan
Sugiyanto (36 Tahun), Guru Sejarah SMPN 3 Donggo (wawancara, Padende-
Donggo 05/05/2019).
Andreas Pasya (40 Tahun), Guru Agama Katolik di SDN Palama II (wawancara,
Palama II-Donggo 10/05/2019).
Muliyadin (36 Tahun), Guru di Pondok Pesantren Umar Bin Abdul Aziz
Tolonggeru (wawancara, Donggo 15/05/2019).
Abdul Haris (42 Tahun), Anggota BPD Desa Bumi Pajo (wawancara, Bumi Pajo-
Donggo 20/05/2019).
Abdul Majid (49 Tahun), Kepala SMKN 1 Donggo juga Kepala Adat Masyarakat
Donggo Barat (wawancara, Rora-Donggo, 22/05/2019).
Syamsuddin Abdul Hamid Zein, Ketua Umum Muhammadiyah Kecamatan
Donggo dan Pimpinan Lembaga Adat dan Syariat Donggo (wawancara,
Doridungga-Donggo 23/05/2019).
HARMONI Juli - Desember 2020