100% found this document useful (1 vote)
550 views14 pages

Sop Scaffolding

The document provides standard operating procedures for scaffolding on a construction project in East Java, Indonesia. It outlines the purpose, scope, references, definitions, responsibilities, and procedures for safely installing and using scaffolding. The key responsibilities include assigning a scaffolding supervisor and qualified scaffolders. Proper tagging is required to indicate if scaffolding is approved for use. Frames, braces and safety measures are defined to prevent falls and falling objects when working on scaffolding.

Uploaded by

Taufik Kurahman
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
100% found this document useful (1 vote)
550 views14 pages

Sop Scaffolding

The document provides standard operating procedures for scaffolding on a construction project in East Java, Indonesia. It outlines the purpose, scope, references, definitions, responsibilities, and procedures for safely installing and using scaffolding. The key responsibilities include assigning a scaffolding supervisor and qualified scaffolders. Proper tagging is required to indicate if scaffolding is approved for use. Frames, braces and safety measures are defined to prevent falls and falling objects when working on scaffolding.

Uploaded by

Taufik Kurahman
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

PT.

ESKAPINDO MATRA
consulting engineers

EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION WORKS


NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA

STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP)

Contract : P104 Earthworks and River Diversion Works


Document Title : PROSEDUR SCAFFOLDING
SCAFFOLDING PROSEDURE
Document No :
Revision Date :

Document Approval

Rev Date Revision Status Prepared by Reviewed by Approved by

00 09 Sept 2020 For Approval AIN NMP HAP

Signature

Checked by (PT. Approved by (SJ)


EM)

Name

Signature

LMA KONSORSIUM
PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

DOCUMENT DISTRIBUTION SHEET

Distribution
No.copy Description
Recipient of a Document Copy
MASTER  Head of Safety Committee

01  Technique

02  Operational

03  HRD & General

04  Finance & Logistics

HISTORY OF DOCUMENT REVISION


Rev.
Date Part Description of Revision Approved by
Number

TABLE OF CONTENTS

Page 2 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

DOCUMENT DISTRIBUTION SHEET..............................................................................................2

HISTORY OF DOCUMENT REVISION.............................................................................................2


TABLE OF CONTENTS....................................................................................................................3
1. TUJUAN / PURPOSE..............................................................................................................4
2. RUANG LINGKUP / SCOPE.....................................................................................................4
3. REFERENSI / REFERENCE.......................................................................................................4
4. DEFINISI / DEFINITION..........................................................................................................4
5. TANGGUNG JAWAB / RESPONSIBLE..................................................................................11
6. URAIAN PROSEDUR / DESCRIPTION OF THE PROCEDURE................................................17

Page 3 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

1. TUJUAN / PURPOSE
Menurut OSHA, diperkirakan sekitar 2,3 juta pekerja konstruksi melakukan pekerjaan
yang berhubungan dengan perancah. Dengan begitu, banyak juga pekerja yang
berpotensi mengalami sejumlah bahaya terkait perancah seperti terjatuh, tertimpa
jatuhan benda, dan tersengat aliran listrik. Dengan banyaknya pekerja yang berpotensi
terkena bahaya saat menggunakan perancah, maka penerapan keselamatan penggunaan
perancah perlu menjadi prioritas. 
Scaffolding disediakan untuk sebagai sarana akses yang aman untuk keluar-masuk dan
ke lokasi kerja yang tidak tersedia akses di lokasi kerja. Maka perlu adanya strandart
untuk membangun dan menggunakan scaffolding yang aman. Pedoman berikut adalah
cara untuk memenuhi penyediaan sarana yang di maksud.

2. RUANG LINGKUP / SCOPE


Standar ini berlaku untuk jenis pekerjaan di ketinggian atau lokasi kerja tanpa akses
kerja atau pekerjaan di ketinggian.

3. REFERENSI / REFERENCE
3.1. UU No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamtan Kerja
3.2. PERMNAKER No.PER.01/MEN/1980 tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada
kontruksi bangunan
3.3. SKB Kemenakertrans dan Kemenpu No. Kep 174/Men/1996 dan no. 104/Kpts/1986
dan Pedoman pelaksanaan tentang keselamatan dan kesehatan kerja pada tempat
kegiatan kontruksi.
3.4. Manual SMK3 LMA Konsorsium

4. DEFINISI / DEFINITION
4.1. Kondisi yang diperbolehkan untuk melakukan kegiatan - Keadaan
dimana pekerjaan di area Box Culvert dinyatakan aman untuk
dilaksanakan dari beberapa aspek yang harus di penuhi dan salah
satunya tentang keselamatan pekerja.
4.2. Scaffolding - Secara umum scaffolding atau staging ialah suatu
bangunan peralatan (platform) yang dibuat untuk sementara dan
digunakan sebagai penyangga tenaga kerja, bahan-bahan serta alat-alat
pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan termasuk pekerjaan
pemeliharaan dan pembongkaran. Scaffolding yang sesuai dan
aman harus disediakan untuk semua pekerjaan yang tidak dapat
dilakukan dengan aman oleh seseorang yang berdiri diatas konstruksi
yang kuat dan permanen, kecuali apabila pekerjaan tersebut dapat
dilakukan dengan aman dengan mempergunakan tangga. Scaffolding
atau staging memiliki potensi bahaya terhadap pekerja ketika memasuki

Page 4 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

atau meninggalkannya. Agar aman, scaffolding harus terbuat dari


material khusus yang diizinkan. Pencegahan bahaya jatuh harus
dilakukan terhadap pekerja diatasnya, termasuk pencegahan terhadap
benda-benda jatuh.
4.3. Pengawas Scaffolding – Pekerja yang memiliki wewenang dan tanggung
jawab penuh terhadap scaffolding

4.4. Scaffolder - Pekerja yang telah diberi wewenang oleh untuk memasang
dan membongkar scffolding yang memerlukan ijin khusus atau
sertifikasi.

4.5. Tagging – Label untuk menentukan apakah scaffolding layak digunakan


atau tidak layak digunakan

4.6. Main Frame - Sesuai dengan namanya, main frame merupakan bagian
dari scaffolding yang berperan sebagai komponen utama. Main frame
ini terdiri dari berbagai macam tipe dan ukuran. Jika ketinggian satu
main frame belum mencukupi ketinggian yang dibutuhkan, maka dapat
ditambahkan main frame lagi di atasnya (arah vertikal). Selain main
frame, ada juga dikenal ladder frame dan beam frame yang fungsinya
sama dengan main frame, namun hanya berbeda di ketinggian frame.

4.7. Braket (Brace) – Pipa yang di rangka diagonal, melintang terhadap


bagian dua atau lebih pada peranca yang di pasang tetap untuk
memperkuat peranca

4.8. Rel Pengaman (Gaurdrail) – pipa yang di rangkai pada struktur


scaffolding untuk mencegah orang jatuh dari lantai kerja, pipa ini
tingginya 36” – 45” diatas dek

4.9. Rel Pegangangan Tangan (Handrail) – Pipa yang di pergunakan untuk


peganggan tangan atau sandaran untuk mencegah orang jatuh

4.10. Cross Brace atau Diagonal Brace - Sesuai dengan namanya, cross


brace merupakan dua pipa yang salin bersilangan yang berfungsi untuk
memberikan jarak horizontal antar main frame sekaligus memberikan
daya dukung pada scaffolding agar tidak goyang dan dapat berdiri
tegak. Selain itu, cross brace dapat mengurangi faktor tekuk yang terjadi
pada standard scaffolding terutama ketika main frame disambungkan

Page 5 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

ke atas dengan main frame yang lain. Pemasangan cross brace relatif
mudah yaitu dengan memasukkan pen yang ada pada tiap-tiap frame ke
lubang yang tersedia pada ujung-ujung cross brace kemudian dikunci
dengan brace locking yang ada di badan main frame.

4.11. Joint Pin and Lock Pin - Joint pin and lock pin merupakan komponen
scaffolding yang berfungsi sebagai penyambung dan pengunci antar main
frame dengan main frame di atasnya.

4.12. Adjustable Base Jack - Merupakan bagian dari scaffolding yang


berfungsi sebagai kaki dari main frame yang dapat pula diatur
ketinggiannya untuk menambah ketinggian scaffolding sesuai dengan
ketinggian yang dibutuhkan. Selain itu, base jack juga berfungsi sebagai
bagian yang meratakan ketinggian scaffolding agar antar main frame
dapat berdiri dengan ketinggian yang rata.

4.13. U-Head Jack - Merupakan bagian teratas dari scaffolding karena


fungsinya untuk menahan balok gelagar (balok yang menyalurkan
beban-beban dari bekisting ke scaffolding) yang juga dapat diatur
ketinggiannya sama seperti adjustable base jack. Bagian ini disebut U-
head karena bentuknya yang menyerupai huruf ‘U’. Dalam
pemasangannya, U-head disambungkan ke main frame, sedangkan
bagian yang berbentuk U dipasangkan balok gelagar.

4.14. Ledger - Pipa yang di pasang horizontal dan diikat pada perancah
kearah memanjang

4.15. Rel Tengah (Midrail) – Pipa yang di rangkai pada sruktur di tengah –
tengah antara rel pengaman dan geladak

4.16. Tonggak ( Puncheon) – Pipa yang di pasang vertikal untuk mendukung


berdiri tegak diatas tanah atau pelat alas

4.17. Raker – Pipa yang dipasang untuk menahan beban miring pada tanah
atau struktur di sebelahnya

4.18. Pipa pengikat ( Reveal Tie) – Pipa yang diangkat atau di rapatkan antara
dua permukaan yang berlawanan

Page 6 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

5. TANGGUNG JAWAB / RESPONSIBLE


5.1. Kontraktor/Contractor
5.1.1. Jika kontraktor (LMAK) akan menggunakan subkontraktor untuk
melakukan pekerjaan yang melibatkan kegiatan di atas kontraktor
tersebut wajib:

5.1.1.1. Memberikan penetapan kepada subkontraktor bahwa tempat


kerja tersebut meliputi pekerjaan di ketinggian dan kegiatan
didalamnya diperbolehkan hanya jika memenuhi persyaratan
seperti yang dijelaskan dalam pedoman ini.

5.1.1.2. Menginformasikan kepada subkontraktor mengenai elemen,


termasuk bahaya yang telah teridentifikasi dan bagaimana
pengalaman kontraktor dengan pekerjaan tersebut.

5.1.1.3. Menginformasikan kepada subkontraktor mengenai tindakan


pencegahan atau prosedur yang telah diterapkan oleh kontraktor
dalam rangka perlindungan terhadap pekerja dimana personel
sukontraktor tersebut akan bekerja.

5.1.1.4. Mengkoordinasikan kegiatan operasi dengan subkontraktor jika


pekerja dari kedua pihak akan bekerja bersama dalam ketinggian.

5.1.1.5. Menerima laporan dari subkontraktor pada akhir kegiatan,


mengenai program yang diikuti dan bahaya yang dihadapi selama
proses kegiatan dalam pekerjaan di ketinggian tersebut.

5.1.2. Setiap subkontraktor yang melakukan kegiatan dalam ruang tersebut wajib:

5.1.2.1. Mematuhi semua ketentuan dalam pedoman ini.

5.1.2.2. Mencari informasi mengenai bahaya dan kegiatan di ketinggian.

5.1.2.3. Mengkoordinasikan setiap kegiatan dengan kontraktor, jika baik


pekerja induk maupun pekerja subkontraktor akan bekerja di
lokasi tersebut.

5.1.2.4. Melaporkan kepada kontraktor mengenai program yang akan


diikuti dan seluruh bahaya yang timbul atau dihadapi dalam
lokasi tersebut, melalui laporan tertulis selama proses kegiatan.

Page 7 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

5.2. Petugas Scaffolding


Orang yang berkewanangan tentang scaffolding adalah Inspector/Pengawas
scaffolding, dan di dukung dengan sertifikat kompetensi yang masih berlaku.
Fungsi Inspector/Pengawas Scaffolding adalah:
5.1.2. Semua sistem perancah (Scaffolding) harus diperiksa oleh inspektur scaffolder
sebelum digunakan di tempat kerja untuk memastikan kepatuhan dengan
persyaratan keselamatan.
5.1.3. Melakukan pemeriksaan mingguan di tempat semua perancah, dan juga
harus mencatat hasil pemeriksaan, menempatkan label (sistem penandaan)
setiap perancah untuk mengidentifikasi perancah yang aman dan tidak aman.
5.1.4. Melaporkan kepada Yard Supervisor/Manager dan HSS Coordinator mengenai
perancah aman.

6. URAIAN PROSEDUR / DESCRIPTION OF THE PROCEDURE

6.1. Pemeriksaan Perancah


Banyak aspek yang harus diperiksa untuk memastikan perancah aman sebelum
digunakan. Setiap jenis perancah yang akan digunakan harus diperiksa terlebih
dahulu oleh ahli/ petugas perancah (scaffolder).
Beberapa aspek pada perancah yang harus diperiksa antara lain:

1. Pastikan izin kerja sudah lengkap, biasanya mencakup Job Safety Analysis (JSA),


sertifikat scaffolder, dan izin pembuatan perancah
2. Periksa material yang digunakan untuk komponen dan perlengkapan perancah
dan pastikan dalam keadaan baik, tidak rusak atau cacat. Harus terbuat dari
material khusus yang diizinkan
3. Lakukan pemeriksaan visual pada semua bagian dari perancah, di antaranya
bagian fondasi, rangka, lantai kerja, jalan masuk ke lantai kerja dan bagian paling
atas dari bangunan perancah. Pastikan tidak berkarat, rusak, cacat, melengkung/
bengkok atau terdapat bagian yang tidak layak
4. Periksa kestabilan bangunan perancah
5. Periksa semua pengunci atau clamp berfungsi baik
6. Pastikan area untuk penempatan anchor pada full body harness minimum
setinggi pinggang.
7. Pastikan semua risiko jatuh sudah dikendalikan dengan baik, misalnya dengan
memasang railing-railing yang diperlukan
8. Pastikan perancah sudah diberi pengaman atau alat-alat pengaman yang
diperlukan
9. Selanjutnya, bila perancah sudah dipastikan aman, pasang scafftag hijau di dekat
akses tangga perancah. 

Page 8 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

Jenis-jenis scafftag untuk perancah:

 Tanda hijau : aman


 Tanda kuning: aman dengan syarat (perlu tambahan alat pengaman lainnya)
 Tanda merah: tidak aman (perancah tidak boleh digunakan)

6.2. Syarat Keamanan Perancah


Berikut syarat-syarat umum keamanan perancah, di antaranya:

1. Perancah harus diberi lantai papan yang kuat dan rapat


2. Lantai perancah harus diberi pagar pengaman, apabila tingginya lebih dari 2 meter
3. Jalan-jalan sempit, jalan-jalan dan jalan-jalan landasan (runway) harus terbuat dari
bahan dan konstruksi yang kuat, tidak rusak dan aman untuk tujuan pemakaiannya
4. Perancah yang sudah dinyatakan aman terpasang scafftag hijau
5. Sudah dilakukan pemeriksaan awal, berkala dan pemeriksaan khusus
6. Perancah harus dipasang jaring pengaman (safety net), apabila tingginya lebih dari 5
meter dan harus dipasang perisai pengaman (protective shield) untuk melindungi
kejatuhan material 

7. Perancah diletakkan pada fondasi yang kuat dan rata. Permukaan perancah harus
mampu menahan berat perancah dan berbagai beban yang akan diletakkan di
atasnya. Pekerja bisa memberikan pendukung tambahan bila diperlukan
8. Jangan menggunakan kotak, drum, batu bata atau balok beton sebagai pendukung
tambahan perancah
9. Kondisi tanah atau dudukan rata dan pendukung tambahan mampu mendukung
beban 4 (empat) kali lipat
10. Perancah harus stabil dan mampu menahan beban yang akan diletakkan di atasnya
11. Lantai kerja, tangga naik, lantai dasar, dan rangka perancah harus dalam keadaan
bersih dari minyak, gemuk, lumpur dan bahan lain yang bisa membahayakan pekerja
12. Pekerja, operator perancah, scaffolder harus menggunakan APD yang disyaratkan,
termasuk perlengkapan pelindung jatuh
13. Lebar perancah dan lantai kerja harus cukup untuk bekerja dan meletakkan bahan-
bahan.
14. Pastikan perancah sudah terpasang toe board, cross bracing pada semua tingkat
perancah dan pastikan semua komponen aman
15. Bila bekerja dekat aliran listrik, jarak aman perancah adalah 4,5 meter (horizontal) dan
6 meter (vertikal).

 
Saat Menggunakan Perancah

Page 9 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

1. Pastikan pekerja sudah mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan perancah yang


tepat dan pengendalian bahaya saat bekerja di atas perancah, penggunaan alat
pelindung jatuh, dan apa yang harus dilakukan apabila ada perubahan pada tempat
kerja atau jenis perancah.
2. Scaffolder atau pengawas memeriksa dan memastikan perancah dalam kondisi aman
sebelum digunakan
3. Lantai kerja, bagian deck, dan pagar pengaman sudah terpasang dan dalam kondisi
aman
4. Gunakan alat bantu untuk memindahkan material dari bawah ke atas
5. Gunakan tangga yang sudah terpasang kuat dan kokoh untuk naik dan turun dari
perancah
6. Gunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm, sepatu keselamatan dan full body
harness.
7. Perhatikan rekan kerja yang bekerja di atas atau di bawah Anda setiap saat. Jika Anda
melihat ada hal yang tidak sesuai prosedur atau ketidaknormalan pada perancah,
hentikan pekerjaan Anda dan laporkan pada atasan.
8. Periksa seluruh komponen alat pelindung jatuh yang digunakan,
mencakup harness (webbing, D-ring, buckle), lanyard, dan lifeline.
9. Jangan membawa barang berlebih saat menaiki perancah
10. Jangan menggunakan pengait silang (cross bracing) saat naik/ turun dari perancah
11. Jangan bekerja di atas perancah saat cuaca buruk
12. Jangan menyimpan bahan atau peralatan pada pagar pengaman.
13. Jangan bekerja dekat jalur aliran listrik kecuali Anda terlatih dan berwenang
melakukannya.

 
Poin Penting:

1. Amankan semua bahan atau peralatan dari lantai kerja sebelum memindahkan
perancah.
2. Gunakan pengunci roda setiap saat bila perancah tidak sedang bergerak berpindah.
3. Tidak ada seorang pun yang menaiki perancah saat sedang bergerak dipindahkan.
4. Dilarang memasang, membongkar, atau meninggikan perancah kecuali mendapatkan
izin dan diawasi oleh pengawas yang berwenang.
5. Dilarang menggunakan perancah yang belum diberi scafftag hijau.

6.6.1. POTENSI BAHAYA (HAZARD):

Page 10 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

1. Kegagalan komponen staging atau beban berlebih dapat menimbulkan


keruntuhan unit keseluruhan atau sebagian menyebabkan pekerja
terjatuh.
2. Pekerja jatuh dari staging akibat lemahnya sisi penguat.
3. Benda-benda jatuh dari staging dan melukai pekerja dibawahnya.
4. Lonjakan (misalnya pergerakan lantai kerja) ketika bekerja dengan .
5. Pekerja diatas scaffolding terjatuh ke lantai dibawahnya.
6. Benda-benda jatuh dari scaffolding dan mengenai pekerja dibawahnya.

6.6.2. PERSYARATAN SCAFFOLDING:


1. Semua scaffolding dan penyangganya harus mampu menyangga beban
sesuai rancangannya dengan factor keamanan tidak kurang dari 4.
2. Semua kayu yang digunakan dalam konstruksinya harus lurus dan tidak
cacat/rusak.
3. Scaffolding harus terawat dan dalam kondisi aman. Setiap komponen
yang patah, terbakar atau kerusakan lainnya harus diganti.
4. Benda-benda tidak stabil seperti drum, box, kaleng, tidak boleh
dipergunakan sebagai lantai kerja (platform) ataupun penyangga lantai
kerja.
5. Scaffolding dalam pemasangan, pemindahan, pembongkaran,
perubahan/modifikasi harus dalam pengawasan personil yang
berkompeten.
6. Pengelasan, pemanasan, riveting, atau pekerjaan dengan api terbuka
(open flame) tidak boleh dilakukan diatas staging gantung yang
menggunakan fiber rope, dimana wire rope akan mudah rusak akibat
kerja panas.
7. Lifting bridles pada lantai kerja gantung dari crane harus mempunyi 4
kakisehingga kestabilan lantai kerja terjamin.
8. Jika hook crane memiliki kunci pengaman (safety latch), lifting bridles
pada lantai kerja gantung dari crane harus terikat dengan shackle ke

Page 11 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

lifting block, dengan kata lain harus dibuat tindakan pencegahan bahaya
lepas dari hook crane.
6.6.9. PAPAN LANTAI KERJA:
1. Papan untuk lantai kerja lebarnya tidak boleh kurang dari 2 x 10
inch (50 cm, OSHA).
2. Lantai staging tidak kurang dari 50 cm lebarnya kecuali dalam hal akibat
struktur kapal  membuatnya tidak mungkin menyediakan lebar yang
dimaksud.
3. Papan platform yang dibangun keluar bagian penyangga pada ujung
lain, panjangnya sekurangnya 6 inch (15 cm), jika lebih dari 12 inch
maka papan harus dikencangkan ke bagian penyangga.
4. Papan tidak boleh melampaui beban kerja.
6.6.10. GUARDRAIL DAN TOEBOARD:
1. Scaffolding dengan ketinggian lebih dari 5 kaki (150 cm) diatas
permukaan, atau dengan jarak tertentu diatas air, harus dilengkapi
dengan rel.

2. Rel atas (top rail) tingginya 42 inch (105 cm) sampai 45 inch (112,5 cm)
3. Rel tengah (mid rail) berada ditengah antara lantai dengan rel atas.
4. Rel terbuat dari 2 x 4 inch (2 x 10 cm) papan, flat bar atau  pipa.
5. Jika menggunakan penyangga kaku, taut wire atau fiber rope harus
cukup kuat.
6. Jika jarak antara penyangga lebih dari 8 kaki (240 cm), rel harus
sebanding kekuatannya dengan 2 x 4 inch papan.
7. Rel harus kuat dan aman.
8. Jika terarah dengan kerja panas atau bahan kimia, rel dari fiber rope
tidak digunakan.
9. Rel yang terbuat dari rantai juga dapat digunakan mengikuti
persyaratan yang berlaku.
10. Penggunaan rel dapat diabaikan jika struktur kapal menghalangi
pemakaiannya.

Page 12 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

11. Jika tidak menggunakan rel, pekerja yang bekerja diketinggian lebih


dari 5 kaki dan diatas permukaan keras, harus menggunakan harness
atau lifelines.
12. Pekerja yang bekerja diatas air harus dilengkapi dengan  buoyant work
vest (berupa life jackets atau ring)
13. Pekerja harus terlindung dari bahaya jatuh kekapal (akibat swinging)
ketika bekerja diatas floating scaffolding.
14. Untuk mencegah peralatan dan material jatuh menimpa pekerja
dibawah, scaffolding dilengkapi dengan papan kaki (toeboard),
berukuran  sekurangnya 1 x 4 inch papan.
6.6.11. AKSES KE STAGING:
1. Staging dengan ketinggian lebih dari 5 kaki membutuhkan akses seperti
ladder ramp, stairway.
2. Ramp dan stairway harus dilengkapi dengan handrail setinggi 36 inch
(90 cm) juga midrail.
3. Tangga harus disediakan sehingga pekerja tidak perlu melangkah lebih
dari satu langkah ke lantai kerja.
4. Staging yang dibuat dari tangga harus mengikuti persyaratan khusus.
5. Staging lebih dari 3 kaki dibawah titik akses membutuhkan sifat dapat
berpindah-pindah, langsung atau sejenis Jacob ladder.

Page 13 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00


PT. ESKAPINDO MATRA
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
consulting engineers NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJECT – KEDIRI
EAST JAVA, INDONESIA
PROSEDUR IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN RESIKO
(HAZARD IDENTIFICATION PROCEDURES, ASSESSMENT AND RISK CONTROL

Page 14 of 14

P104-LMAK-HSS-PRO-IBPR-001 LMA KONSORSIUM Rev.00

PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
L M A  K O N S O R S I U M
          
Contract
:
P104 Earthw
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE
PT. ESKAPINDO MATRA 
c o n s u l t i n g  e n g i n e e r s    
EARTHWORKS AND RIVER DIVERSION
NEW AIRPORT DEVELOPMENT PROJE

You might also like