0% found this document useful (0 votes)
144 views103 pages

Potensi Ekstrak Ikan Gabus sebagai Hepatoprotector

This document is the thesis written by Agus Heri Santoso to obtain a Master of Science degree in Food Science. The thesis tests the potential of snakehead fish (Channa striata) extract as a hepatoprotector in rats induced with toxic doses of paracetamol. It finds that the extract contains proteins, albumin, zinc, copper and iron, and has antioxidant activity. Giving rats 500 mg/kg body weight of paracetamol daily for 7 days increased liver enzymes and cell degeneration. Administration of the snakehead fish extract limited the increase in enzymes, suppressed liver cell degeneration, and limited decreases in antioxidant activity and albumin levels, showing its ability to protect the liver from paracetam

Uploaded by

Yulianti Antula
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
144 views103 pages

Potensi Ekstrak Ikan Gabus sebagai Hepatoprotector

This document is the thesis written by Agus Heri Santoso to obtain a Master of Science degree in Food Science. The thesis tests the potential of snakehead fish (Channa striata) extract as a hepatoprotector in rats induced with toxic doses of paracetamol. It finds that the extract contains proteins, albumin, zinc, copper and iron, and has antioxidant activity. Giving rats 500 mg/kg body weight of paracetamol daily for 7 days increased liver enzymes and cell degeneration. Administration of the snakehead fish extract limited the increase in enzymes, suppressed liver cell degeneration, and limited decreases in antioxidant activity and albumin levels, showing its ability to protect the liver from paracetam

Uploaded by

Yulianti Antula
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

UJI POTENSI EKS IKAN GABUS (Chnnnnstriata) SEBAGAI

HEPATOPROTECTOR PADA TIKUS YANG DEENDUKSX DENGAN PARASETAMOL

SEKOLAH PASCA SAFUANA


UYSTITUT PERTANXAN BOGOR
BOGOR
2009
PERNYATAAN MENGENAT TESIS
DAN SUMBER INFORMASINYA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis "Uji Potensi Ekstrak Zkan Gabus
(Channa striafa) sebagai Hepatoprotector pada Tikus Yang diinduksi dengan
Parasetamol" adalah karya saya di bawah bimbingm Prof. Dr. Made Astawan dan drh.
Tutik Wresdiyati, Ph.D. Karya ini belum pernah diajukan d d m bentuk apa pun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber inforrnasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan telah disebutkan dalam teks dm dicantumkm dalm
Daflar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2009

Agus Heri Santoso


NRP F25 1060061
ABSTRACT

AGUS HERI SANTOSO. The Potential of Snakehead fish's (Channa saiata) Extracts
as a Hepatoprotector in Rats Induced with Toxic Dose of Paracetamal, supervised by
MADE ASTAWAN and TUTXK WRESDIYATI.

The high level of hepatitis prevalence shows that liver is experiencing a serious health
problem. Supply of hepatoprotector to prevent liver foam, is needed. Snakehead fish
(Channa striata) is a freshwater fish widely spread in Indonesian area. Snakehead fish is
rich in albumin arid various minerals. Snakehead fish's extract utilization in diet can
evidently accelerate healing of wound and increasing of serum albumin of patient
indicated with hypoalbuminemia. This research was aimed to determine nutrient contents
and antioxidant activities of snakehead fish's extracts and evaluate its ability of those as
hepatoprotector in rats induced with toxic dose of paracetamol. It was known fiom this
research that Snakehead fish's extract was containing protein (3.36 g/IOQml),albumen
(2.17g/100ml), Zn (3.43 rng/lOOml), Cu (2,34 rng/100d), and Fe (0.81 mg/lOOd).
Snakehead fish's extract had an antioxidant activities of 0,14 k 0,002 mmoV1 or 90.93 %
compared with vitamin E. Paracetamol dose of 500 mgkg BWIday given for 7 days
evidently increasing SGOT contents and cell degeneration, and decreasing antioxidant
activities of the serum and albumin contents. Admission of snakehead fish's extract could
restrain the increase of SGOT and suppress degeneration of the hepatic cell, as well as
limit the decrease of serum's antioxidant activities and albumin contents. It is concluded
fiom this research that extract of snakehead fish could be utilized as a hepatoprotector

Keyword :Channa striata, snahhead$sh's extract, albumin, hepatoprofeetor


GKASAN
AGUS HIEXU SANTOSO, Uji Potensi Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) sebagai
Hepatoprotector pada Tikus yang Diinduksi dengan ~arasetamol,di bawah bimbing&
W E ASTAWAN dan TUTIK WRESDIYATI.
Tingghya prevalensi hepatitis memberikan gambaran btihwa gangguan Eungsi
hati merupakan ancaman kesehatan yang serius, sehingga peran hepatoprotector
sangatlah penting. Beberapa ekstrak bahan nabati telah terbuhi dapat berfimgsi sebagai
hepatoprotector, diantaranya addah ekstrak bawang putih, ekstrak rimpang bangle,
ekstrak h y i t , dan lesitin.
Ekstrak ikan gabus adalah cairan berwarna putih kekuningan yang dihilkan dari
*
pengukusan daging ikan gabus segar (suhu 70 2,5 "C) yang dipadukan dengan rempah.
Ekstrak ikan gabus diberikan sebagai menu ekstra bagi penderita dengan indikasi
hipodbumin dm luka, baik luka setelah operasi maupun luka bakar. Beberapa penelitian
yang menggunakm ekstrak ikan gabus sebagai menu ekstra dalarn diet memberikan
informasi bahwa pemberism ekstrak &an gabus dalam diet berkorelasi positif dengan
peningkatan kadar albumin plasma d m proses penyembuhan luka, sehingga diduga
dalam ekstrak ikan gabus terkandung albumin dan beberapa mineral yang erat kaitamya
dengan proses penyembuhan luka. Albumin juga dapat berfimgsi sebagai antioksidan,
memperbaiki kapasitas antioksidan plasma, dan dimungkinkan dapat berfungsi sebagai
senyawa proteksi hati (hepatoprotector). Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar
protein, albumin, mineral seng, tembaga, besi, dm aktivitas antioksidan ekstrak ikan
gabus, serta menguji kemampuan ekstrak ikan gabus sebagai hepatoprutector.
Penelitian dilakulcan dalam dua tahap. Tahap pertama analisis komponen gizi
ekstsak ikan gabus, dan tahap kedua uji kemampuan ekstrak ikan gabus sebagai
hepatoprotector. Analisis zat gizi ekstrak ikan gabus menggmakan sampling secara acak
dari tiga proses pengolahan ekstrak ikan gabus, kemudian dilakukan analisis kadar
protein total, albumin, Zn, Fe, Cu, dm aktivitas mtioksidan (DPPH). Data kadw
Albumin, Zn, Fe, Cu, dan aktivitas antioksidan ekstrak ikan gabus dianalisis secara
deskriptif. Pengujian ekstrak ikan gabus sebagai hepatoprotector pada t i h s
rnenggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 5 perlakuan d m 5 uIangan.
Pengelompokan pada tahap dua adalah sebagai berikut : Keiompok satu (EfG3O),tikus
diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 30 mlkg bblhari secara sonde tanpa
diinduksi parasetamol. Kelompok dua (EIG30PCT), tikus diberi ransum standar dan
ekstrak ikan gabus 30 mVkg bb/hari secara sonde serta diinduksi dengan parasetamol.
Kelompok tiga (EIG60PCT), tikus diberi rmsum standm dan ekstrak ikan gabus 60 mlkg
bbhari secara sonde serta diinduksi dengan parasetamol. Kelompok empat (KRPCT),
tikus diberi ransum standar dan kurkumino 30 mgkg bbhari secara sonde serta diinduksi
dengan parasetamol. Kelompok lima (PCT), tikus diberi ransum standar dan diinduksi
dengan parasetamol. Induksi parasetamol dosis 500 mgkg bb/hari dilakukan selama 7
hari beriurut-turut melalui sonde. Pada hari ke 8 (24 jam setelah perlakuan terakhir)
dilakuan pembiusan dm pembedhan untuk- peng-ambilan darah dm pengangkatan hati.
Darah disentrifhgasi dengan kecepatan 3500 rpm selama 10 menit untuk mendapatkan
s e m yang kemudian dilakukan analisis albumin, SGOT, SGPT, dan aktivitas
antioksidmya. Organ hati dicuci dengan larutan fisiologis kernudian difhasi dengan
larutan formalin 10 % untuk persiapan pembuatan prepatat histologi. Organ terfiksasi
direndarn dalam alkohol 70 % dm dilmjutkan dengan dehidrasi, penjernihan dengan
silol, infiltrasi d m embedding dalam parafin. Setelah pernotongan dengan dkrotom
setebal 5 pm, sediaan diwmai dengan pewmaan Hernatolcsilin-Eosin (HE) dan
dimalisis secara kualitatif.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa ekstrak ikan gabus mengandung protein
f3,36 5 0,29 d l 0 0 ml), albumin (2,17* *
0,14 d l 0 0 ml) Zn (3,34 0,8 rng/lOO ml), Cu,
(2,34 k 0,98 md100 ml), dm Fe (0,2 0,09 rng/100 ml), s e a rnernpunyai aktivitas
antioksidan 0,14 k 0,002 mmoV1, atau sebanding dengan 90,93 % aktivitas antioksidan
vitamin E. Hail ini menunjukkan bahwa ekstrak ikan gabus sangat berpotensi u t u k
mendukung proses penyembuhan luka dan difimgsikan sebagai antioksidan. Pemberian
parasetamol dosis 500 m a g bbhari melalui sonde selama 7 hari berturut-turut secara
bermakna menaikkan SGOT d m menunadsan kadar albumin yang menandakan adanya
gangguan h g s i hati. Pemberian ekstrak &an gabus secara bermakna dapat menahan
p e n m a n kadar albumin d m aktivitas antioksidan serum akibat pemberian parasetamol
dosis tinggi. Pemberian ekstrak ikan gabus secara b e m a dapat menahan kenaikan
kadar SGOT akibat pemberian parasetamol dosis tinggi. Dari gmbaran fad hati
diketahui bahwa terjadi degenerasi sel dan peningkatan jumlah sel radang pada jaringan
hati tikus karena pemberian parasetamol dosis 500 mgkg bbhari selama 7 hari b e m i -
h u t . Pemberian ekstrak ikan gabus dapat m e n d a n tingkat degenerasi sel-sel hati dm
menekan peningkatan jurnlah sel-sel radang pada jaringan hati tikus percobaan. Dari hasil
analisis SGOT, SGPT, albumin dm aktivitas antioksidan serum dm gambaran faal hati
tikus percobaan disimpulkan bahwa eksbak ikan gabus dapat difungsikan sebagai
hepatoprotector.

Kata Kmci : ekstrak ikan gabus, albumin, hepatoprotector,


@ Hak Cipta milk IPB, tahm 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau selunrh karya tulis ini tanpa mencanhunkan atau ,

menyebutkan narasmber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan kaua
ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tidak memgikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang rnengum.umkan dm rnemperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
UJI POTENSI EKSTRAK IKAN GABUS (Channa striatn) SEBAGAI
HEPATOPROTECTOR PADA TIKZTSYANGD ~ D U K S DENGAN
I PARASETAMQL

Oleh :Agus Heri Santoss


NIM F 251060061

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoieh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Pangan

SEKOLAH PASCA SARJANA


KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan pencipta, pengatur, dan pemelihara alam,
tiada Tuhan yang benar u11tuk diibadahi kecuali Allah. Tuhan yang telah memberikan
ilham, bimbingan dan kekuatan kepada saya, sehingga dapat menyelesaikan penelitian
dan penulisan tesis yang berjudul "Uji Potensi Ekstrak Ikan Gabus (Channa striafa)
sebagai Hepatoprotector pada Tikus yang Diinduksi dengan Parasetamol" ini. Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga Nabi
Muhammad d m sahabat-sahabatnya,
Sehubungan dengan selesainya karya tulis ini, sebagai wujud m a syukw saya
kepada Allah yang telah menggerakkan hamba-hamba-Nya untuk membantu saya,
dengan ini saya mengucapkan salam dan terima kasih kepada :
I. Bapak Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS., dan Ibu drh. Tutik Wresdiyati, Ph.D., yang
dengan penuh kesabaran memberikan bimbingan dm arahan kepada saya dalam
pelaksanaan penelitian d m penulisan tesis ini, teriring do'a semoga amd budi
Bapak dm lbra dicatat dan dilipat gandakan oleh Allah untuk kebaikan di dunia dan
di akhirak-
2. Bapak Dr. Ir. Sukarno, M.Sc. yang menguji dan memberikan masukan-masukan
pada karya tulis ini.
3. Ketua Program Studi IPN beserta Staf, Kepala Laboratorium Histologi bescrta staf,
Kepala Laboratorium Kimia UNMUH Malang beserta staf, Kepala Laboratorium
K l i Pattimwa beserta St& dan Direktur Paliteknik Kesehatan Malang beserta
staf, Ketua Jurusan Gizi beserta staf sciring do'a semoga Allah SWT memberikan
balasan yang baik dan kefnajw pada institusi beliau semuanya atas bmtuan baik
moral maupun materiil-
4. Rekan-rekan rnahasiswa LPN khususnya arigkatan 2006 dengan selipm pesan
'persaudaram sangat rhembantu meringankan kita dalam kehidupan ini, janganlah
kita bakhil dalam memberikan bantuan kepada saudara kita, meskipun hanya
sekedar dorungan semmgat dan saran', semoga Allah senantiasa memberikan
bimbingan dan pertolongan kepada Eta.
Judul Tesis :Uji Potensi Ektrak Ikan Gabus (Channa spiata) sebagai
Hepatoprotector pada Tikus yang Diinduksi dengan
Parasetamol
Nama : Agus Heri Santoso
NW. : F 251060061

Disetujui
Kornisi Pembimbing,

Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS. drh. Tutik ~resdivati,Ph.D.


Ketua hggota

Diketahui

Ketua flromam Sbdiiayor


Ilmu Pangan
1 1 -

Dr. Ir. Ratih Dewanti Hariyadi. M.Sc. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.

Tanggal Ujian : 6 Juli 2009


5. Ibunda, ayahanda yang dengan lembut menyayangiku dan senantiasa
mendo'akarrku, hanya Allah yang bisa membalas kasih-sayang ibunda dm
ayahanda. Sernoga Allah senantisa memberikan kekuatan iman dm amal sholih
kepada ibunda dm ayahanda.
6. Istri dm anak-anakku yang telah banyak terkurangi hak-haknya karma tugas studi
ini, teriring do'a semoga Allah senantiasa menambah nikmat ilmu d m kesabaran
kepada kalian dm menjadikan kalian sebagai hamba-Nya yang faqih di dalam
agama-Nya,
7. Hamba-hamba Allah yang tidak mungkin aku bisa merincinya, yang telah
membantu temtama dalam do'a-do'a, semoga Allah rnemberi balasan kebaikan.
Saya berdo'a kepada Allah, semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi
kehidupan manusia, bukan sekedar sebendel kertas yang dibangga-banggakan.
Khususnya bagi rekan-rek& profesi ahli gizi yang akhir-akhir ini menunggu
informasi-infomasi banr tentang krtitan ekstrak ikan gabus dengan diet, semoga tulisan
ini bisa rnemberi idormasi yang bermanfaat bagi pengembangan tatalaksma diet.
Sernoga Allah mengampuni segala kekilafan dm kekuranganku, dm saya mohon maaf
atas segala kekurangan selarna menempuh studi Progam Studi IPN Institut Pertanian
Bogor.

Bogor, Juli 2009

Agus Heri Santoso


RIWAYAT HIDUP

Penulis dilabirkan di Kediri pada tanggal 15 April 1969, dari pasangan ayah
bernama Imam Sujono d m Zbu Ngatinah. Penulis menzpakan an& ke-1 dari tiga
bersaudara. Penulis bekerja sebagai staf pengstjaran pada Politeknik Kesehatan Malang
Jurusan Gizi, dan sebelumnya bekerja sebagai ahli Gizi pada Rumah Saw Umum
Kotabaru, Kaliiantm Selatan dari tahun 1992-1995.
Pendidikm penulis diawali dari SD Negeri Keling III lulus tahm1982, SMP
Negeri 1 Pare lulus tahun 1985, SMA Negeri 1 Pare lulus tahun 1988, pendidikan
Diploma 3 Gizi Malang, lulus t a b 1991, dm pendidikan Sarjana penulis tempuh pada
Universitas Brawijaya Fakultas Tekonologi Petanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian,
lulus tahun 2001. Tahun 2006 penulis berkesempatan melanjutkan studi pada Program
Magister Sains Sekolah Pascasarjana Institut Pertmian Bogor.
DAFTAR IS1

DAFTAR TABEL ............................................................. xvi


DAFTAR GAMBAR ......................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................... xviii
I. PENDAHLnUAN
1.l.Latar Belakang ......................................................
1.2. Perumusan Masalah ...............................................
1.3. Tujuan Penelitian ...................................................
1.4. Manfaat Penelitian ..................................................
1.5. Kerangkap Konsep ...................................................
I1.TINJUAN PUSTAKA
2.1. Ikan Gabus P angan Sumber Albumin ...........................
2.2. Ekstrak Ikan Gabus dan Aplikasinya dalam Diet..................
2.3. Albumin ................................................................
2.4. Anatomi dan Fisologis Hati .........................................
2.5. Fungsi hati dalam tubuh ............................................
2.6. Kerusakan Hati .....................................................
2.7. Deteksi Disfungsi Hati ...........................................
2.8. Parasetamol .........................................................
2.9. Antioksidan dan Hepatoprotector .................................
2.10. Degenerasi dan Sel Radang .....................................
111. METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan tempat Penelitian .....................................
3.2. Bahan dan Alat ........................................................
3.3. Rancangan Riset ......................................................
3.4. Jenis dan Metode Pengamhilan Data ..............................

IV . HASlL DAN PEMBAHASAN


4.1. Gambaran Umum Ekstrak Ikan Gabus.....................................
4.2. Komposisi Gizi Ekstrak Ikan Gabus..........................................
4.2.1. Protein dan Albumin Ekstrak Ikan Gabus.................... 44
4.2.2. Mineral Seng (Zn) Ekstrak Ikan Gabus ....................... 47
4.2.3. Mineral Tembaga (Cu) Ekstrak Ikan Gabus.................... 49
4.2.4. Mineral Besi (Fe) Ekstrak Ikan Gabus.......................... 49
4.3. Aktivitas Antioksidan Ekstrak &an Gabus............................... 50
4.4. Pengaruh Pemberian Ekstrak Ikan Gabus terhadap Fungsi
Hati .................................................................
4.4.1. Pertarnbahan Berat Badan Tikus...............................................
4.4.2. Kadar SGOT dan SGPT.........................................................
54
4.4.3. Kadar Albumin ....................................................................58
4.4.4. Aktivitas Antioksidan serum .....................................................60
4.5. Gambaran Histologi Hati Tikus Perlakuan............................... 62
V .KESIMPULAN DAN SARAN........................................................
71
DAFTAR PU STAKA.........................................................72
LAMPXRAN ..................................................................... 77
I . Komposisi Gizi Ikan Gabus ..............................................
.
2 Komposisi Fraksi Protein Ikan ..........................................
3.Kadar Albumin Bahan Makanan ..........................................
4 .Kamposisi Fraksi Protein dan Keadaan Ikan. .......................
5. Tanda-tanda Kesegaran Ikan ...........................................
6. Suhu Koagulasi beberapa albumin .....................................
7.Komposisi asam amino Albumin ..........*.. . . . ..........*....***.*
8. Kandungan albumin pada beberapa Organisme .......................
9.Efek Toksikan pada Organel Sub Sel Hati.....................................
10 Zat Gizi dan Antioksidan Tubuh .......................................
11.Analisis Kadar Protein.................................................
12. Analisis Kadar Albumin ..............................................
13.Analisis Kadar SGOT .................................................
14.Analisis Kadar SGPT .................................................
15.Komposisi Gizi Ekstrak Xkan Gabus .................................
16.Komposisi Fraksi Protein Putih Telur................................
1.7.Hasil Pengamatm Mikroskopis Degenerasi Hati dan
Perhitungan Sei Radang.................................................

xvi
DAFTAR GAMBAR

1. Kerangka konsep Penelitian .................................


2 . Morfologi Ikan Gabus........................................
3. Lokasi ikatan S H dalam molekul Albumin .........................
4 . Pembagian Domain Albumin ..........................................
5 . Letak Organ Hati dalam Tubuh ......................................
6 . Anatomi Hati ............................................................
7 . Lobolus Hati ............................................................
8 . Potongan Melintang Jaringan Hati ...................................
9. Rangkaian Kerusakan Hati .............................................
10. Perubahan Faal dan Shuktur Hati .......................................
11. Struktur Kimia Parasetamol ..........................................
12 Metabolisme Parasetamol ................................................
13. Skema alat Pengolahan Estrak Ikan Gabus...........................
14.Alir Proses Pengolahan Ekstrak ikan Gabus...............................
15. Alir Penelitian ....................................................................
16. Struktur Kilnia Albumin...............................................
17 Pertambahan BB Tikus.........................................................
18. Kadar SGOT dan SGPT ....................................................
19.Kadar Albumin ..........................................................
20 .Aktivitas Antioksidan Serum .............................................
21. Fotomikrograf Jaringan Hati Tikus Percobaan yang diwamai
dengan HE dengan pembesaran 200 X ............................
25 . Ikatan antara Albumin dengan Mineral seng, tembaga..........
DAE'TGR LAMP

I .Hasil Analisis Kadar Protein. Albumin. Zn. Cu. Fe. dan DPPN 77
2.Rata.rata kadar kimia darah tikus percobaan .......................
,... 78
3.Hasil analisis sidik ragam kadar albumin................................. 79
4.Wasil analisis sidik ragam kadar SGOT................................... 80
5.Hasil analisis sidik ragarn kaar SGPT.....................................81
6.Hasil analisis sidik ragam nilai DPPH .................................... 82
7.Hasil perhitungan Perbandingan Kadar SGOT/SGPT.................. 83
8.Pertambahan BB selama perlakuan ....................................... 84
9.Hasil analisis sidik ragam sel radang pada jaringan hati tikus
Percobaan .....................................................................
85
.
10 Hasil Analisis Kualitatif Tingkat Degenerasi Sel ..................... 86
Segaia puji hanya pantas bagi Allah Tuhan semesta alam, Tuhan yang telah
menciptakan alam ini dengan keseimbangan yang sempurna. Allah telah menciptakan
alam dan seluruh isinya dengan penuh hikmah, dengan takaran yang adil, sehingga
barang siapa menyelisihi sunnah-Nya pasti akan merugi dan mengalami kehancuran.
Allah, Tuhan Yang Mahatahu telah memberikan bimbingan kehidupan kepada
manusia termasuk tentang tata cara makan sebagaimana yang tennaktub dalam Al-
Qur'an Surat Ai-Baqoroh ayat 172 (yang artinya) Wahai orang-orang yang beriman,
makanlah diantara rizki yang baik yang Kami berikan kepadamu. Di dalam ayat yang
lain (A1 - Maidah, ayat 87 - 881, Allah menegaskan agar manusia mengkonsumsi
makanan yang haXai lagi baik bagi tubuhnya, dan tidak sampai melampai batas. Nabi
Muhammad SAW, dalam A1 - Badist yang diriwayatkan oleh At-Timidzi, d m fmam
Ahmad menegaskan bahwa tidaklah anak Adam mengisi bejana yang lebih buruk
selain perut. CukupIah anak Adam memerlukan beberapa suapan yang bisa
rnenegqwn tulang sulbinya. Jika tidak mungkin (karena masih terasa lqpar) r n a b
sepertiga untuk rnakanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga Iagi untuk
nafasnya. Pelanggaran dari aturan Allah dan bimbingan utusan-Nya ini berakibat
kurang baik bqgi kehidupan manusia, diantarannya adalah rnunculnya fenomena
beban metabolik (metabolic burden) yang dialami oleh manusia modern dewasa ini.
Pola hidup-khususnya pula konsumsi- yang tidak seimbang menyebabkan tubuh
mengalami ketebihan k b a n metabolisme. Senyawa-senyawa xenobiotik lebih banyak
dan beragam yang dirnasukkan ke dalam tubuh rnenyebabkan tubuh -tenrtama hati
sebagai organ detoksifikasi- bekerja lebih keras. Akibatnya berbagai gangguan
kesehatan, termasuk penyakit degeneratif muncul dalam kehidupan rnanusia.
Nati merupakan organ tubuh terbesar yang sangat penting bagi manusia karena
m e r u p a h pusat pytabolisrne. Sel-sel hati rnerupakan sel-sel parenkirn yang di
dalsunnya t e r k a n d ~ ~sejumlah
g besar enzim. Masa sel hati berupa lobula yang
membentyk m k t u r segi enam, dimana satu dengan yang lain terikat oleh jaringan
ikat cjan meipuat cabang-cabang pembuluh darah. Hati mempunyai fungsi raetabolik
yang sgp~atlu* di antaranya adalah metabolisme karbohidrat, protSin, dan lemak;
penyim&ivq dan aktivasi vitamin dan mineral; pembentukan dan pengeluaran asam
empedu; pusat rnetabo'tisme steroid dan detoksifikasi obat.alkoho1; dan konversi
amonia rnenjadi urea. Dengan demikian gangguan pada hati akan rnenyebabkan
gangguan yang serius pada aktivitas metabolisme.
Sebagai pusat rnetabolisme dan detoksifikasi, sel-sel hati sangat rentan
terhadap kerusakan. Kemsakan hati dapat disebabkan oleh gangguan rnetabolisme
(Penyakit Wilson), obat-obatan (parasetamol, sulfonamida), atkohol, infeksi virus,
dan paparan senyawa-senyawatoksik rnisalnya CC14 .
Parasetamol telah dikenal dm dirnanfaatkan secara Iuas oleh masyarakat.
Parasetarno1 mudah didapatkan di toko-toko obat secara bebas tanpa resep dokter.
Parasetamof adalah bentuk aktif dari fenasitin yang difbngsikan sebagai analgesik dm
antipiretik sebagaimana aspirin. Parasetamol diketahui dapat menghambat aktivitas
enzirn siklooksigenase. Secara normal parsematoI dirnetabolisrne di hati dengan
mekanisme sulfat dan glukoronat konjugase, dan hanya sebagian kecil melibatkan
mekanisme siktokrom P450. Dalam dosis tinggi (diatas 150 mgkg bb/24 jam)
parasematol dapat menyebabkan keracunan hati, degenerasi sel-sel hati , dan pada
&hap berikutnya rnenyebabkan nekrosis.
Gangpan fungsi hati merupakan ancaman kesehatan yang serius di Indonesia.
Sekitar 7 juta penduduk Indonesia terinfeksi virus hepatitis C dan sekitar 1I juta
terinfeksi virus hepatitis B. Angka prevalensi tersebut akan terus meningkat kstrena
hepatitis dapat juga disebabkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan, dan racun.
FakEor lain yang mendukung pcrtambahan prevalensi hepatitis adaIah gejala hepatitis
tid& spesifk sehingga sulit terdeteksi sejak dini. Sekitar 10 - 20 % prevalensi
hepatitis dapat berkembang menjadi sirosis hati (Siswono, 2006).
Atas dasar realita ini, maka asupan hepatoprotector (komponen yang dapat
mernproteksi hati) sangat diperlukan. Senyawa-senyawa antioksidan dafam bahan
pangan dapat difimgsikan sebagai hepatoprotector. Bebempa penelitian
menginformasikan bahwa beberapa jenis senyawa kimia, baik obat-obatan maupun
dalam bahan pangan, secara nyata dapat befingsi sebagai hepatoprotector,
dianhranya adalah ekstrak bawang putih (Hidayati, et al, 20031, ekstrak rimpang
bangle (Arafah, er a], 2004), silymarin (Tedesco, 2004), sacogolotis gabonensis
(Maduka, 2005), ekstrak mengkudu (Suarsana, 2005), dan lesitin (Dewi, 2007).
Beberapa jenis obat juga dapat bertindak sebagai hepatoprotector, di antaranya adalah
kaptopril dan losarbn. Kemampuan tanaman dan obat-obatan tersebut sebagai
~zepatopmtekctordisebabkan oleh kernampuannya sebagai antioksidan, dan khusus
pada kaptopril karena adanya gugus -SH yang ada dalam obat tersebut.
Albumin mempunyai banyak gugus sulfhidril (-SH) yang dapat befingsi
sebagai pengikat radikal, dan adanya gugus ti01 ini mempunyai peranan penting dalam
penanganan kasus sepsis. Albumin dapat berfungsi sebagai antioksidan. Albumin
terlibat dalam pembersihan radikal bebas oksigen yang diimplikasikan dalam
patogenesis inflamasi. Larutan fisioiogis albumin serum manusia telah diperlihatkan
menghambat produksi radikal bebas oleh Ieukosit polimorfonuklear. Kemampuan
pengikatan ini berhubungan dengan melirnpahnya gugus sulfiidril (-SH) dafam
albumin (Sunatrio, 2003). Protein yang kaya akan gugus -SH akan mampu mengikat
logam-logarn berbahaya dan juga senyawa-senyawa yang bersifat radikal bebas.
Chen, er al, (2001) melaporkan bahwa albumin mempunyai efek antioksidan, dan
berperan &lam penangkapan radikal bebas pada proses pembentukan urotithiasis dan
asam sialik.
Ikan gabus (Channa striata ) merupakan jenis ikan air tawar yang sudah
dikenal Iuas oteh masyarakat Indonesia. Ikan gabus merupakan jenis ikan perairan
umum yang bernilai ekonomis. Ikan gabus banyak ditemukan di peraim umum dan
belum dibudidayakan secara luas. Ikan gabus hidup di muara-rnuara sungai, danau
dan dapat pula hidup di air kotor dengan kadar oksigen rendah, bahkan tahan terhadap
kekeringan, dan dapat ditemukan di berbagai perairan umum di wilayah Indonesia, di
antaranya Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali, Lombok, Singkep, FXores, Ambon, dan
Maluku dengan nama yang berbeda. Di Palembang ikan gabus dikenal dengan
sebutan deleg, di Jawa dikenal dengan sebutan kutuk, d m di Kalimantan dikenal
dengan ikan man atau hartran, dan di Sulawesi dikenal dengan sebutan ikan dalak.
lkan gabus telah dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan luka
sehingga dianjurkan untuk dikonsumsi oleh pasien pasca opemsi dan ibu-ibu sehabis
melahirkan. Hal ini dapat disebabkan ikan gabus mengandung protein yang tinggi
terutama albumin, sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan Iuka. Dari sudut
pandang gizi-kesehatan, ikan gabus merupakan sumber protein (khususnya albumin),
dan mineral yang diperlukan bagi proses penyembuhan dan pertahanan tubuh. Ikan
gabus berkarbohidrat dan berlemak rendah.
Ekstrak ikan gabus yang diolah dengan teknologi sederhana telah dikenal di
kalangan praktisi gizi untuk berbagai macam keperluan, diantaranya untuk diet pra
dan pasca bedah, hipoalbuminemia, d a diet
~ pada luka bakar. Pemberian menu ekstra
ekstrak ikan gabus pada penderita terindikasi hipoalbumin, secara nyata dapat
meningkatkan kadar albumin pada kasus-kasus alburninernia dan mempercepat proses
penyembuhan luka pada kasus pasca operasi (Asikin, 1999; Sugihastutik, 2002;
Nilasanti, 2003; Suprayitno, 2003).
Dari hasil penetifian yang telah ada, diduga di dalam ekstrak ikan gabus
terkandung senyawa-senyawa penting bagi proses sintesis jaringan, seperti albumin,
mineral seng (Zn), tembaga (Cu), dan juga besi (Fe). Atas dasar dugaan bahwa di
dalam ekstrak ikan gabus terkandung albumin dan mineral-mineral yang rnendukung
aktivitas antioksidan tub&, rnaka pada penelitian ini akan diuji kemampuan ekstrak
ikan gabus sebagai hepuoprutecror dengan tikus jenis Wistar sebagai hewan uji dan
kurkumino sebagai pembandingnya.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dugaan pemanfaatan ekstrak ikan
gabus sebagai hepatoprotector dengan cara menganatisis komponen gizi (protein,
albumin, mineral seng, tembaga, dan besi), dan aktivitas antioksidan ekstrak ikan
gabus, serta mengujikannya pada tikus yang diinduksi dengan parasetamol dosis
tinggi (500 mg/kg bbhari). Kerangka konsepsional penelitan disajikan pada
Gambar 1.

1.2. Perurnusan Masalah


Ikan gabus merupakan bahan pangan sumber protein (albumin). Beberapa
penelitan telah menyebulkan bahwa ekstrak ikan gabus secara bermakna dapat
meningkatkan kadar albumin pada kasus hipoalburninemia, dapat mempercepat
proses penyembuhan luka. Dari hasit-hasil penelitian tersebut, diduga di dalam
ekstrak ikan gabus terkandung albumin dan mineral-mineral yang penting bagi proses
penyembuhan luka seperti mineral seng, tembaga dan besi. Dari tinjauan teoritis,
albumin mengandung banyak gugus suifhidril (-SH) yang dapat berhngsi sebagai
hepatoprotedor. Mengacu pada berbagai penelitian dan laporan apiikasi ekstrak ikan
gabus dalam diet yang telah dilaksanakan, dan dari tinjauan teoritis struktr~ralbumin,
fungsi mineral seng, tembaga dan besi, maka pernasalahan yang ingin diangkat
dalam penelitian ini adalah "Apakah ekstrak ikan gabus dapat befingsi sebagai
hepatoprotector? ".
1.3. Tujuan
1. Mengukur kadar protein dan albumin ekstrak ikan gabus.
2. Mengukur kadar mineral Seng, Tembaga, dab besi ekstrak ikan gabus.
3. Mengukur aktivitas antioksidan ekstrak ikan gabus secara in vitro
4. Mengevaluasi pengaruh pemberian ekstrak ikan gabus terhadap perubahan kadar
SGOT, SGPT, albumin dan aktivitas antioksidan darah hewan percobaan yang
diinduksi parasetamoi dosis racun.
5. Mengevaluasi pengaruh pemberian ekstrak ikan gabus terhadap perubahan
histologi hati hewan percobaan yang diinduksi parasetarno1 dosis racun.

1.4. Manfaat Penelitian


Nasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan infonnasi ilmiah tentang
ekstrak ikan gabus khusunya pemanfaatannya daiarn tatalaksana diet. Adanya
informasi ilmiah ini akan dapat memperluas pernanfaatan ikan gabus bagi kesehatan.
Penerapan teknologi sederhana dalam pengolahan ekstrak ikan gabus dalarn penelitian
ini mempunyai maksud agar hasil penelitian ini juga bisa diapiikasikan pada tingkat
rumah tangga, sehingga masyarakat mernpunyai alternatif sumber pnngan beralbumin
tinggi yang relatif murah dan bisa diolah sendiri (tingkat rumah tangga).
1.5. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penclitian disajikan pada Garnbar 1.

I Gangguan Metabolisme
I

Gambar 1 . Kerangka Konsep Penelitian


2. TINJAUAN PUST

2.1. Ikan Gabus Pangan Sumfier Albumin


fkan gabus (Channa striata ,I merupakan jenis ikan perairan umum yang
bemilai ekonomis. Ikan gabus masuk dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata,
Kefas Actinopterygii, Order Perciformis, Famili Channidae, Genus Channa, d m
Spesies Channa striata. &an gabus merupakan ikan asli perairan tawar daerah tropis
seperti Asia dm Afiika. Ikan gabus banyak ditemukan di perairan umum dan beIum
dibudidayakan secara Iuas (Rahayu, 1992). Ikan gabus hidup di muara-muara sungai,
danau d m dapat pula hidup di air kotor dengan kadar oksigen rendah, bahkan tahan
terhadap kekeringan, dan dapat ditemukan di berbagai perairan umum di wilayah
Indonesia, di antaranya Jawa, Sumatra, Sulawesi, Bali, Lornbok, Singkep, Flores,
Ambon, dan Maluku dengan nama yang berbeda. Di Palembang ikan gabus dikenal
dengan sebutan ikan deleg, di jawa dikenal dengan sebutan ikan krrtuk, dan di
Kalimantan dikenal dengan ikan ntan atau ha~xan,dan di Sulawesi dikenai dengan
sebutan ikan duluk. Ikan gabus dapat memijah sepanjang tahun dengan jumlah
fekunditas untuk ikan dengan uhran panjang total 18,5- 50,5 cm dan bobot 60 -
-
1.020 gr berjumiah 2.585 12.880 butir.
Ikan gabus bersifat karnivora dengan ciri-ciri fisik memiliki bentuk tubuh
hamgir bulat, panjang dan rnakin ke belakang berbentuk pipih (conpresse~$.Bagian
punggung cembung, perut rata dan kepala pipih seperti ular (head snah). Warna
tubuh pada bagian punggmg hijau kehitaman dan baggian perut benvarna krem atau
putih. Sirip ikan gabus tidak rnerniliki jari-jari yang keras, mempunyai sirip punggung
dm sirip anal yang panjang dan lebar, sirip ekor berbentuk setengah lingkaran, sirip
-
dada lebar dengan ujung membulat. Xkan gabus dapat mencapai panjang 90 110 cm.
Morfologi ikan gabus disajikan pada Gambar 2.
Ikan gabus mempunyai toleransi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan
yang buruk. fkan gabus banyak ditemukan di sungai-sungai dan rawa, kadang-kadang
terdapat di air payau berkadar garam rendah. Masyarakat telah mengenal d m
memanfaat ikan gabus untuk berbagai keperluan, rnisalnya sebagai bahan baku
produk olahan seperti kerupuk dan pempek (Palembang), ikan asin dan ikan asap
(salai) gabus yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Di Kalimantan Selatan
ikan gabus (hawan) biasanya digunakan sebagai masakan lauk pauk seperti haruan
bakar, sayur asam haruan dan masakan habang yang bisanya disajikan dengan nasi
kuning.

Gambar 2. Morfologi Ikan Gabus

Ikan gabus diketahui mengandung senyawa-senyawa penting yang berguna


bag8 tubuh, diantaranya protein, dan beberapa mineral (Sediaoetama, 1985). Kadar
protein ikan gabus bias mencapai 25,5 %, yang berarti Iebih tinggi dibanding dengan
protein ikan bandeng (20,O %), ikan emas (16,O %I, ikan kakap (20,O %I, rnaupun
ikan sarden (21,I %). Kadar albumin ikan gabus bisa mencapai 6,22%, dan daging
ikan gabus mengandung mineral seng dengan kadar 1,74 mg/100 gram (Carvalo,
1998).
lkan gabus telah diknal dan dipercaya oleh masyarakat sebagai rnakanan
yang dapat mempercepat proses penyembtlhan luka. Ibu yang habis melahirkan, anak
yang baru dilrhitan, dmjuga pasien pasca operasi biasanya dianjurkan rnengkonsumsi
daging ikan gabus untuk rnempercepat penyembuhan (kering) iuka. Anjuran tersebut
sangat terkait dcngan komponen gizi (protein, albumin) ymg terkandung datam
daging ikan gabus. Di masyarakat telah dikenal berbagai produk berbahan baku ikan
gabus, diantaranya tablet, krim, dan ekstrtik ikan gabus. Komposisi gizi ikan gabus
disajikan pada Tabel I.
Sebagaimana protein ikan urnumnya, ikan gabus mengandung tiga jenis
protein yaitu protein larut (yang mudah dihilangkan dengan cara ekstraksi), protein
stroma jaringan ikat, dan protein kontraktil. Sarkoplasma merupalran cairan yang ada
di antara miofibril (deMan, 1997). Protein sarkoplasma disehut juga miogen,
termasuk dalam protein ini adalah albumin, mioalbumin, mioprotein, globulin-X dan
miostromin. Albumin, mioalbumin dan mioprotein mempunyai sifat mudah larut
dalam air. Globulin dan miastromin sukar larut dalm air tetapi mudah larut dalam
larutan basa atau asam lernah. Protein ini larut. dalam air dan Iamtan garam
berkekuatan ion rendah (konsentrasi garam 4 5 %), dapat digumpalkan dengan suhu
tinggi (90' C).

Romponen Kimia Jenis


Ikan Gabus Segar Ran Gabus Kering
Protein (g) 25,2 58,O
Lemak (g) 1,7 4,o
Besi (mg) Q,9 0,7
Kalsium (mg) 62 15
Fosfor (mg) 176 100
Vit. A (SJ) 150 I00
Vit, B 3 (mg) 0,04 0,lO
Air 69 24
I I i
Sumber: Sediauetarna, 1985
Kadar protein sarkoplasma berbeda pada setiap jenis ikan bahkan
berbeda antara jenis daging rnerah dm daging putih. Ikan berdaging putih
mengandung protein sarkoplasma yang lebih tinggi dibanding yang merah. Rahayu
(1992) menjelaskan bahwa proses rigor (kekakuan) dapat menurudmn kadar protein
sarkopiasma. Hal ini disebabkan proses dgormortis akan rnenyebabkan protein
sarkoplasma mengalami perubahan sifat: rnenjadi tidak. larut air. Perbedaan komposisi
fraksi protein ikan disajikan dalam Tabel 2.

Tabei 2. Komposisi fraksi protein beberapa spesies ikan

I Fraksi Protein

Kod (laut) 21 76 3
Mas (tawar) 23-25 70-72 5
I
Sumber :Rahayu, 1992.
Kadar albumin ikan gabus dapat disebandingkan dengan bahan makanan
sumber albumin lainnya, misainya telur. Kadar albumin ikan gabus dm beberapa
bahan makanan disajikan dalam Tabel 3.
Tabs1 3. Kadsr Albumin beberapa bahan Makanan

Bahan Makanan Kadar


Albumin (% TP) Protein (%)
Kedelai 10 39
Kacang tanah 15 24.8
Peas 21 25.7
Beras 10.8 7.4
h3W2 4.0 9.2
Oats 20.2 12.6
Gandum 14.7 11.2
Putih telur (Oval dm Conal) 73 10,6
&an gabus 24 25,2

2.2. Ebtrak Ikan Gabus dan aplikasinya dalam Diet


Ekstrak ikan gabus merupakan cairan yang didapat dari ekstraksi daging ikan
gabus. Prinsip dasar pernbuatan ekstrak ikan gabus adalah ekstraksi protein plasma
&an gabus. Beberapa metode pengolahan ekstrak ikan gabus telah dikenal oIeh
masyarakat, diantaranya adalah pengepresan langsung hancuran daging ikan gabus,
pengukusan, ekstraksi vakum, dan ekstraksi dengan pengontrolan suhu. Albumin
merupakan protein yang rentan terhadap panas, sehingga. suhu dan mekanisme proses
harus diperhatikan dengan baik dan benar. Dari penelitian diketahui bahwa ekstraksi
pada suhu 70 OC memberikan rendemen terbaik. Proses yang baik akan menghasiikan
ekstrak ikan gabus yang berwarna putih kenuningan, tidak banyak endapan, dan
berarorna khas ikan gabus (tajam), diln tidak amis. Untuk meningkatkan cita rasa
ekstrak ikan gabus sering d i t a m b e a n brbagai jenis rempah dalam pengolahnnya.
Hal-ha1 Penting yang harus diperhatikan dalam pembuatan ekstrak ikan gabus,
adalab kualitas daging ikan gabus, ukuran potongan daging ymg diekstraksi, dan suhu
ekstraksi. Ikan gabus sebagai bahan baku pembuatan ekstrak ikan hams mempunyai
kualitas yang baik, j i b memungkinkan berasal dari ikan ymg masih hidup atau
belum mengalami proses rigor. Rahayu (1992) menjelaskan bahwa proses rigor mortis
dapat rnenurunkan kandungan protein plasma, karena sebagian protein yang Iarut
dalam air akan berubah menjadi protein yang tidak larut air. Perubahm kelmtan ini
akan berdarnpak pada rendernen. Perubahan protein karena rigor rnortis disajikan
dalam Tabel 4.

Tabel 4. Komposisi fraksi protein dan keadaan ikan

Keadaan Ikm Tipe daging Sarkoplasma (%) Miofibril(%)


Pra rigor Merah 29.0 62.4
Putih 3 7.4 59.2
Pasca rigor Merah 22.5 66.1
Putih 32.8 61.3
Surnber :Rahayu, 1992
Jika tidak rnemungkinkan untuk mendapatkan ikan yang masih hidup sebelum
proses, maka hams dipastikan bahwa ikan bermutu baik dengan tanda-tanda
sebagaimana terangkum dalam Tabel 5. Ikan gabus yang telah mengalami kerusakan
akan menghasilkan ekstrak ikan dengan aroma amis. Aroma amis ini relative sulit
dihilangkan atau dinetralisir. Aroma arnis disebablcan kslrena terbentuknya trirnetil
atnin oksida (TMAO). TMAO mempunyai sifat larut air, sehingga daIam proses
ekstrak senyawa ini akan ikut terekstrak.

Parmeter Ikan bermutu baik Ikan mengalami kerusakan

Mata Jernih dan cembung Keruh dan masuk ke dalam


-
Insang Merah dan tidak busuk Merahicoklat gelap dan busuk
Lendir Encer dan aroma segar Kental dan aroma busuk
Sisikkulit Sisik kuat dan mengkilat Sisik mudah dicabut dan
kusam
KelenturanJkenyal Lenturkenyal Lembek dan berair
h m a Segar Busuk

Pernotongan daging dimaksudkan untuk: rnernperkecil ukuran sehingga Iuas


permukaan a k a semakin besar. Semakin besar luas permukaan daging yang
bersinggungm dengan panas dnn air, semakin tinggi laju ekstriiksi. Tidak dianjurkan
untuk menghancurkan daging ikan gabus, karena dapat mernpercepat penggumpalan
seiama ekstraksi @emanasan)sehingga rnenghambat pengeluaran plasma dari daging.
Albumin, sebagaimana protein umumnya sangat rentan terhadap pengaruh
suhu, sehingga penerapan suhu yang tepat sangat diperlukan dalam proses untuk
menghasilkan sari ikan yang berhalitas baik. Karena pemanasan akan mempengaruhi
permiabilitas dinding sel sehingga proses pengeluaran plasma dari jaringan bisa lebih
cepat. Penerapan yang terlalu tinggi dapat rnengkoagulasikan protein plasma. Suhu
koagulasi beberapa albumin disajikan dalam Tabel 6. Protein plasma yang
terkoagulasi &an menempel pada protein rniofibril (benang daging), sehingga dapat
menghalangi keluamya protein plasma dari daging, Penerapan suhu proses antara 70
- 80 OC memberikan basil yang baik. Pemanasan pada suhu 90 "C selama 10 menit
telah dapat menggumpalkan sebagain besar protein plasma sehingga tidak bisa
diekstrak.

Tabel 6. Suhu koagulasi beberapa albumin

Sumber albumin
I Suhu koagulasi ("C)
I
Albumin telur
I
56 f
Albumin serum (sapi)
Albumin Susu @pi) 72
Sumber : de Man, 1997

Para praktisi gizi-kesehatan telah memanfaatkan ekstrak ikan gabus sebagai


makanan tambahan (menu ekstra) untuk penderita terindikasi hipoalbuminemia, luka
bakar, dan diet setelah operasi. Dari berbagai studi kasus dan penelitian diketahi
bahwa ekstrak ikan gabus secara nyata dapat meningkatkan kadx albumin pada
kasus-kasus alburninernia clan mempercepat proses penyembuhan luka pada kasus
pasca operasi (Asikin, 1999; Sugihastutik, 2002; Nilasanti, 2003). Suprayitno (2003)
telah mengungkapkan pemanfaatan ekstrak &an gabus sebagai pengganti serum
albumin yang biasanya digunakan unhk menyembuhkan luka operasi. Mudjiharto
(2007) rnenjelaskan bahwa ikan gabus merupakan bahan surnber albumin yang
potensial. Albumin ikan gabus dapat digunakan sebagai biofarma dan bahan subtitusi
albumin manusia. Agustini (2006) rnenyebutkan bahwa albumin ikan gabus s e c m
nyata dapat meningkatkan kadar albumin s e m d m mempercepat penutupan luka
pada tikus percobaan.
2.3. Albumin

Albumin merupaksrn fraksi u t m a protein plasma berbentuk elips dengan


panjang 150 A, mernpmyai berat moIekul dan pH isoelektfk bewariasi tergantung
spesies. Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telor 44.000, dan di
dalam daging mamalia adalah 63.000 (Murray, 1995, Montgomery, 1993). PH
isoelektrik albumin bervariasi antara 4,6 (albumin telor) sampsti 4,9 (albumin serum).
Albumin rnanusia yang matur terdiri dari suatu rantai polipeptida. Albumin kaya
akan asam amino lisin, arginin, asam glutamat, dm asam aspartat diatur dalam serial
a - k l i k dengan 17 jembatan sulfida(Gambar 3). Dengan enzirn protease albumin
dapat: dipecah menjadi 3 domain sebagaimana tersaji pada Gmbar 4.

Gambar 3. Lokasi ikatan -SN dalam molekul albumin

Domain

Garnbar 4. Pembagian Domain albumin

Albumin rnempunyai bent& elips, yang berxti protein ini tidak banyak
rneningkatkan viskositas plasma. Albumin mempunyai struktur yang Ientur (karena
adanya perubahan disulfida) dan mudah berubah benhtk sesuai dengan variasi kondisi
lingkungan dm dengan pengikatan Iigan (Murray, et al, 1999 ;Sunatria, 2003). Letak
ikatan -SH dalarn rnolekul albumin yang dikaitkan dengan sifat pengikatan albumin
dengan logam atau radikal (Garnbar 4).
Albumin merupakan protein sederhana, berstruktur globular yang tersusun
dari ikatan polipeptida tunggal dengan susunan asam amino sebagaimana ditunjukan
pada Tabel 7. Albumin mencakup semua protein yang larut dalam air bebas ion, dan
ammonium sulfat 2,03 mol / L, Fraksi protein plasma ini dapat diendapkan dengan
penambahan ammonium sulfat berkonsentrasi tinggi (70 - 100%) atau pengaturan pH
sampai mencapai pH iso elektriknya.
Albumin rnernpunyai Iima karakter penting yaitu lanit dalam 2,03 mol A,
ammonium sulfat, dapat didialisa dengan air destiiat, keeepatan gerak dalam
elektroforesa adalah 6,0 didalam buffer berkekuatan ion 0,l pH 8,6, berat molekulnya
berkisar 66.000 KD, bebas karbohidrat, dan merupakan fraksi protein normal dalam
semm manusia. Kadar aibumin antara suatu spesies dengan spesies lainnya berbcda
sebagaimana ditunjukan pada Tabel 8. Salah satu faktor yang rnenentukan kadar
albumin dalam jaringan adalah nutrisi. Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar
albumin adalah nutrisi, lingkungan, harmon dan ada tidaknya suatu penyakit. A s m
amino rnernpunyai peranan yang sangat penting bagi sintesa albumin dalam jasingan.

Tabel 7. Komposisi asam amino albumin

Asam Amino Albumin serum (g M I 0 0 g protein)


Glisin
Alanin 633
Valin 539
Leusin 12,3
Isoleusin 2,6
Serin 4,2
Treonin 538
Sistein !4 650
Metionin 038
FeniIalanin 0,6
Tirosin 531
Prolin 438
Asam Aspartat 10,9
Asam Glutamat 16,5
Lisin 12,9
Arginin 5,9
Histidin
Sumber : de M m (1 997)

Albumin dapat terkoagulasi oleh pmas sebagaimana sifat umum protein


dengan suhu koagulan yang berbeda tergantung dari jenis albuminya sebagai mana
ditunjufian dalam Tabel 6. Perbedaan suhu koagulasi albumin dalam beberapa
sumber albumin tersebut erat kstitannya dengan kandungan asam amino sistin dan
sistein dalam albumin tersebut (Montgomery, 1993; de Man, 1997).

Tabel 8. Kandungan atburnin pada beberapa organisme

Organisme Albumin (% Protein plasma)


Sapi 34,3
Kuda 29,3
Kera 5 0,O
Kelinci 63,3
Anjing 39,6
Kucing 41,4

Afbwnin mempunyai fungsi yang sangat banyak, di antaranya adalah fungsi


pengikatan dan transport, pengatwan tekanan osmotik, penghambatan pembentukan
flatelet dan anti trombosit, permiabilitas seI dan fungsi sebagai antioksidan (Sunatrio,
2003). Albumin mencakup hampir 50 % dari protein plasma dan bertanggung jawab
atas 75 - 80 % dari tehnan osmotik pada plasma rnanusia (Murray, et al, 1999).
Montgomery (1 993) menjeiaskan bahwa albumin mempunyai dua fungsi utama yaitu
mengangkut molekul-moiekul kecil meIewati plasma dan cairn sel, serta memberi
tekanan osmotik didalam kapiler.
Fungsi pertama albumin sebagai pembawa molekul-molekul kecil erat
kaitannya dengan bahan metaboiisme dm berbagai macam obat yang kurang larut.
Bahan metaboIisrne tersebut adalah asam-asam lemak bebas dan bilirubin. Dua
senyawa kimia tersebut kurang dapat larut dalam air tetapi hams diangkut melalui
dstrah dari organ satu Ice organ lain agar dapat dirnetabolisme atau diekskresi.
Albumin berperan membawa senyawa kimia tersebut, dan perm ini disebut protein
pengangkut non spesifik. Jenis obat-obatan yang tidak mudah larut air yang
memerlukan peran albumin adaiah aspirin, antikaagulan, dan obat-obat tidur. Selain
itu albumin juga berperan sebagai pengikat anion dan kation kecil, diantaranya adalah
kalsium (Ca). Dan sebagian tembaga plasma terikat dengan aIbumin
Fungsi albumin Iainnya adaIah menyediakan 80 % pengaruh osmotik plasma.
Hal ini disebabkan albumin merupakan protein dalam plasma, yang jika dihitung atas
dasar berat rnernpunyai jumlah paling besar dm stibumin memiliki berat molekul
rend& dibanding fraksi protein plasma lainnya Montgomery (19931, dan Murray, et
al, (1999) menginformasikan bahwa preparat albumin digunakan dalam terapi syok
hemorahgik dan Iuka bakar.
Albumin dapat berperan sebagai antioksidan (Papas, 1998: Turninah 2000).
Albumin mempunyai ikatan sulfhidrii yang dapat berfbngsi sebagai pengikat radikal,
dan struktur ini rnempunyai peranan penting dalam kasus sepsis. Albumin terlibat
daIam pernbersihan radikal bebas oksigen yang diimplikasikan dalam patogenesis
infiamasi. Lamtan fisiologis albumin serum manusia tefah diperlihatkan menghambat
produksi radikal bebas oleh leukosit polimorfonuklear. Kernampuan pengikatan ini
berhubungan dengan rnelirnpahnya gugus sulfhidril (-SH) dalam albumin (Sunatrio,
2003).
Kondisi hipaalbuminemia kerap dijumpai pada sirosis hati. Hal ini disebabkan
oleh penurunan mekanisme sintesis karena disfungsi liver atau diet protein rendah,
peningkatan kataboIisme atburnin, serta adanya asites. Indikasi terapi albumin pada
sirosis hati adalah adanya asites, sindrom hepatorenal, adanya SBP, dan kadar
albumin di bawah 2,5 gYo. fenggunaan albumin dimaksudkan untuk mernelihara
colloid oncotic pressure (COP), mengikat dan menyalurkan obat, dan sebagai
penangkap radikal bebas. Albumin juga memiIiki efek antikoagulan, efek
prokoagulatori, efek pemeabilitas vaskular, serta ekspansi volume plasma, Pungsi
albumin sebagai antioksidan juga disebutkan oleh Chen, et a!, (2001). Chen
menyebutkan bahwa albumin mempunyai efek antioksidan, dan berperan dalam
penangkapan radikal, bebas pada proses pembentukan urolithiasis dan asam sialik.

2.4. Anatorni dan fisiologis Hati


Hati merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh yang terletak di bagian
teratas dalam abdomen sebelah kanan dan di bawah diafragma (Pearce, 1987;
Junqueira, 1988). Hati mempunyai berat sekitar 1,3 kg atau 2 % berat badan orang
dewasa, dengan ukwan 12 - 15 cm (Price, 2006). Hati memiliki pemukaan superior
yang cembung dan terletak dibawah kubah kanan diafragma dan sebstgian kubah kiri.
Bagian bawah hati berbentuk cekung dan merupakan atap dari ginjal kanan, lambung,
pancreas, sebagaimanaterlihat pada Gambar 5.
Transuerse Colon

Dcscend~nnColon

Asutndtng Cdon

Gambar 5. Letak organ hati dalam tubuh

Hati memiliki dua lobus utama yaitu kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi
menjadi segmen anterior dan posterior oleh fisura segementalis kanan yang tidak
terlihat dari luar. Lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh
ligamenturn falsiformis yang GrIihat dari iuar. Ligamentus falsiformis berjalan dari
hati ke diafiagma dm dinding depan abdomen. Pemukaan hati diliputi oleh
peritoneum viseralis kecuali daerah kecil pada pemukaan posteriar yang melekat:
langsung pada diahgma. Garnbaran anatomi hati disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Anatomi Hati

Secara lebih rinci hati terbagi menjadi empat lobus yang tersusun dari bagian-
bagian berbentvk segi enam yang disebut lobulus. Skema lobulus hati disajikan pada
Gambar 7.
Gambar 7. Lobulus hati

Jika jaringan hati dipotong melintang akan terlihat (dengan pengamatan


mikroskopis) setiap Iobulus berbentuk segi enam. Di tengah lobufus terdapat
pernbuluh darah. Setiap lobus hati terbagi menjadi struktut-struktur yang disebut
dengan bbulus, yang merupakan unit mikroskopis d m hgsional organ. Lobulus hati
membentuk massa poligonal prismatis jaringan hati dengan ukuran sekitar 0,7 x 2
mm (Junqueira, 1988). Lobuius-lobulus tersusun radial rnengetilingi vena sentralis
yang mengalirkan darah dari lobulus. Diantara lempengan sel hati terdapat kapiler-
kapiler yang disebut dengan sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan arteria
hepatika. Sinusoid dibatasi oleh sel-sei fagositik atau sel kupffer (Price, 2006). Sel
kupffer merupakan sistern monosit mnkrufag yang hngsi utamanya adalah menelan
bakteri atau benda-benda asing. Pada binatang tertentu lobulus-lobulus dipisahkan
satu sama lain dan dibatasi dengan jelas oleh lapism jaringan penyambung. Hal ini
tidak terdapat pada hati manusia. Potongan rnelintztng jaringan hati disajikan pada
Gambar 8.

Gambar 8. Potongan meIintang jaringan hati


Hati rnempunyai dua surnber suplai darah. Dari saluran cerna dan limpa
melalui venaporta hepatika, dan dari aorta melalui arteria hepatika. Sekitar sepertiga
darah yang masuk ke hati adaiah darah Heria, dan dua pertiganya adalah darah vena
dari vena porta. Vena porta di dalarn jslringan hati menempel melingkari lobulus hati,
kemudian mempercabangkan vena-vena interloburafis yang mengalir diantm
lobulus-lobulus hati. Vena-vena lobulus ini selstnjutnya membentuk sinusoid yang
berada diiempengan hepatosit dan bermtlara daiam vena sentralis. Vena sentralis dari
beberapa lobulus bersatu membentuk vena sublobularis yang selanjutnya membentuk
vena hepatika.

2.5. Fungsi hsti dalam tubuh


Hati merupakan pabrik kimia terbesar dalarn tubuh dan mempunyai suplai
darah yang besar (1 - 1,s liter per menit) (Gibson, 2002). Hati rnempunyai hiingsi
yang sangat banyak. Hati sangat penting untuk mernpertahankan hidup dan perperan
dalam hampir setiap fungsi metabolik hbuh yang terutama bertanggung jawab atas
iebih dari 500 aktivitas berbeda. (Price, 2006). Secara garis besar hati berfungsi
dalam aktivitas sintesis, ekskretoris, dan fungsi metabolik (Chandrasoma, 2006).
Hati merupakan sumber albumin plasma, globulin, dan banyak protein.
Protein-protein tersebut disintesis daIam retihlum endoplasma. Berbeda dengan sel-
sel pada kelenjar lain, hepatosit tidak menyimpan protein dalam sitoplasmnya tetapi
secara lambat mengeluarkan protein yang telah disintesisnya ke dalam darah. Sekitar
5 % protein yang dikeluarkan hnti dihasilkan oleh sei-sel sistem makrofag (KupEer),
dan sisanya dihasilkan oleh hepatosit (Junqueira, 1988). Disamping sintesis protein
hati juga berperan dan sekresi empedu, bilirubin, dan transport beberapa mt warna.
Lipid dan karbohidrat disimpan dalam hati &lam bentuk lemak dan glikogen.
Kernampurn menyimpan metabolit-metabolit energitik ini sangat penting karena hati
terkait dengan suplai energi antara selang waktu makan. Hati juga berperan sebagai
tempat penyimpanan utama vitamin-vitamin.
Hati berperan penting dalam berbagsri hngsi metabolik, diantaranya
metabolism lemak, karbohidrat, protein, s e m dalam detoksifikasi. Asam lemak bebas
dari jaringan adiposa dan asam lemak rantai sedang atau pendek yang diserap di usus
diangkut ke hati. Trigliserida, kolesterol, dan fosfolipid disintesis di hati dari asarn
lemak dm berikan secara kompleks dengan protein akseptor Iemak spesifik
mernbentuk lipoprotein berdensitas rendah yang memasuki plasma. Hati juga terlibat
dalarn proses rnetabolisme lipoprotein berdensitas sedang dan rendah.
Dalam rnetabolisrne karbobidrat, hati merupakan sumber utama glukosa
plasma. Setelah makan, glukosa diperoleh dari absorbsi usus. Pada keadmn puasa
glukosa diperoleh dari proses glikogenolisis dan glukoneogenesis di dalam hati. Hati
merupakan tempat penyimpanan glikogen utama dalarn tubuh, jika tubuh mengalami
defisiensi glukosa hati memetabolisme asam lemak rnenjadi badan keton yang
berperan sebagai sumber energi alternatif bagi jaringan.
Daiam metabolisme protein-sebagai tambahan bagi b g s i sintesisnya- hati
adalah organ katabolisme protein. Urea disekresi oleh hati ke dalam plasma untuk
dikeluarkan melalui ginjal, Sebagian besar degradasi asam amino dimulai di dalam
hati melalui proses demninasi. Ammonia yang dihasilkan kemudian disintesis menjadi
urea dan diekskresikan oleh ginjaZ d m usus (Price, 2006; Chandrasoma, 2006).
Dalam rnekanisme detoksifikasi, hati berperan sangat penting. Fungsi
detoksifikasi dilakukan oleh enzim-enzim hati melalui proses oksidasi, reduksi,
hidralisis, dan konjugasi, serta mengubahnya menjadi zat yang secara fisiologis tidak
berbahaya bagi tubuh. Zat-zat endogen (seperti indol, skatol, dn fenol) dan zat-zat
eksogen (obat-obatan) didetoksifikasi oleh hati dengan mekanisme beragam tersebut.
Enzim-enzim yang berperan dalam proses detoksifikasi ini diduga terutama terdapat
dalam retikulum endoplasma, diantaranya adalah Glukoronil tranferase yang berperan
dalam banyak metaboIisme obat. Secara umum metabolisme obat dalam tubuh dibagi
menjadi dua fase, yaitu fase fungsionalisasi yang meliputi reaksi oksidasi, reduksi,
hidrolisis, hidrasi, detioasetilasi, dan isomerasi, serta fase dua yang meliputi reaksi
glukoronidasi, sulfas, metilasi, asetilasi, serta konjugase dan kondensasi (Gibson,
2006; Junqueria, 1998).

2.6. Kerusakan Hati


Hati rnerupakan organ yang potensial,mengalami kerusakan karma merupakan
organ pertama setelah saluran pencemaan yang terpapar oleh bahan-bahan yang
bersifat toksik. Sebagai organ detoksifikasi hati sangat rentan oleh serangan radikal-
radikal bebas. Proses detoksifikasi memungkinkan terbentuknya senyawa-senyawa
yang bersifat lebih toksik dibanding senyawa asalnya @ewi, 2007).
Mekanisme kerusakan diawali dengan pemaparan taksin atau radikal bebas
yang dapat menyebabkan cidera hati. Pada &hap berikutnya akan terjadi inflamasi
hati, fibroblas dan pada akhirnya sirosis hati. Rangkaian kerusakan hati disajikan pada
Gambar 9. Kerusakan hati dapat disebabkan oleh beberapa ha], di antaranya oleh
infeksi oleh virus hepatitis A, B, C, E dan non-A non-B, cytomegalovirus, herpes
simplex virus, Epsteins-Barr), Obat-obatan (parasetamol, isoniazid, monoamin oksida
inhibitor, ekstasi, non steroidal anti inflarnatory), Kelainan rnetabolik seperti penyakit
Wilson, Penyakit kardiavaskuler fiskemik hepatitis), perlemakan hati karena berbagai
faktor.

"fihmcytax"

dmtrucllan

Gambar 9. Rangkaian kerusakan Hati

Beberapa toksikan dapat menyebabkan berbagai jenis kerusakan organel


dalam sel hati sebagaimana disajikan dalarn Tabel 9. Kerusakan hati dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa tipe, yaitu perlemakan hati (steatusis), nekrosis
hati, kolestasis, dan sirosis (Lu, 2006). Perlemakan hati adalah keadaan hati yang
rnengandung lemak febih dari 5 %. Beberapa toksikan (seperti tetrasiklin) dapat
menyebabkan banyak butiran lernak dalam sel hati, sedang toksikan lainnya (etanot)
menyebabkan butiran lemak yang besar sehingga menggantikan sel hati. Etanol dapat
menyebabkan kerusakan hati dengan membentuk blebs akibat terganggunya stnbilitas
membrane yang mernpengamhi kestabilan siioskelet. Mekanisrne umum kemsakan
hati tipe perlemakan ini adalah rusaknya pelepasan trigliserida dari hati ke plasma,
sehingga terjadi penimbunan lernak dalam sel hati.
Kematian sel yang bersamaan dengan pecahnya membran plasma dapat
menyebabkan perubahan morfologik antara lain edema sitoplasrna, dilatasi retikulum
endoplasma, dan disagregasi polisom, serta akumulasi trigliserida d a l m sel. Bebempa
toksikan yang dapat menyebabkan nekrosis adalah Carbon Tetraklorida (CCb),
dimana CC4 akan berikatan secara kovalen dengan protein dan Iipida tidak jenuh
sehingga menyebabkan peroksidasi lipida.
Nekrosis hati adalah kematian hepatosit. Nekrosis merupakan rnanifestasi
toksik yang sangat berbahaya, tetapi tidak selalu kritis karena sel hati mempunyai
kemmpuan pertumbuhan yang luar biasa (Lu, 2006). Banyak obat-obatan dapat
rnenyebabkan nekrosis hati. Asetaminofen merupakan contoh obat yang dapat
menyebabkan nekrosis hati. Asetaminofen secara normal dimetabolisme oleh sistem
glutation redukase. Pada dosis berlebih glutation menjadi jenuh dan alur metabolism
altematif (sistern PdS0)menghasiIkan bahan toksik. Bahan toksik (NAPQI) inilah yang
dapat menyebabkan nekrosis hati (Candrasoma, 2006).
Kalestasis adalah jenis kerusakan hati yang biasanya bersifat akut.
Menumnnya aktifitas ekskresi empedu pa& membran halikuius merupakan
mekanisme utama kolestasis. Kolestasis disebabkan oleh steroid anabolic, kontrasepsi
oral, fenotiazin, dan antidiabetik oral.

Tabel 9. Efek Toksikan pada organel sub sel hati


-
Organel Fungsi Efek Contoh Toksikan
Membran sel Pemasukan, Kebocoean Faloidin
sekresi enzirn

Inti sel Kontrol sel Mutasi Aflatoksin, berilium,


dimetil nitrosamin
Mitokondria Respirasi sef Bengkak CC14, Dimeti1
nitrosamin, fosfor
Lisosom Penyimpanan Akumulasi
pp
Berilium, CC14, fosfor
Retikulum E. -Sintesa
' Degranulasi, CC14, dimetil nitrosarnin,
prolifemsi fosfor

Kanalikuli Empedu Sekresi Dilatasi Litokolat, taurokolat


empedu
Peroksisom Oksidasi Proliferasi Triclor etiien, lemak
tinggi
Sumber :Lu, 2006

Sirosis hati ditandai oleh adanya septa koiagen yang tersebar disebagian besar
hati. Kurnpulan hepatosit muncul sebagai nodul yang dipisahkan oleh lapisan berserat:
(kolagen) tersebut, Senyawa toksikan yang bersifat karsinogen seperti CC4 pada
jangka panjang dapat menyebabkan sirosis pada hewan, dan pada rnanusia
penyebabkan sirosis adanya konsurnsi kronis minuman beralkohol (Lu,2006).
Wati yang sehat berwarna cokelat kemerahan dengan struktur jaringan
(parenkim) yang rata. Kerusakan jaringan hati akan mengubah penampakan faal dan
jaringm hati sebagaimana divisualisasikan pada Gambar 10.

Gambar 10. Perubahan faal dan struktur hati

2.7. Deteksi disfungsi hati

Hati memerankan berbagai fungsi metabolik, maka banyak pula metode yang
dipergunakan untuk mengetahui normal dan tidaknya fungsi hati. Lebih dari 100jenis
uji yang diterapkan untuk mengukur faal hati, namum sebenarnya hanya beberapa
jenis uji saja yang benar-benar dapat mengukur faal hati. Diantaranya jenis uji
tersebut tidak ada uji tunggal yang efektif mengukur faal hati secara keseluruhan
(Satyawirawan, 1983). Pada pengujian kemsakan hati, gangguan biokimia ymg
terlihat adalah peningkatan permiabiiitas dinding sel, berkwrangnya kapasitas sintesis,
gangguan ekskresi, penurunan kapasitas penyimpanan, serta gangguan pada fungsi
detoksifikasi.
Penanda biokmia untuk gangguan hngsi hati seperti GOT dan GPT (AST dan
ALT) menunjukkan adanya kerusakan hepatosit (Anonimous, 2002). GOT dan GPT
merupakan enzim-enzim intrstseluler hati, sehingga akan meningkat kadarnya dalam
darah jika terjadi kerusakan hati. Biasanya GPT meningkat lebih tinggi dari GOT
pada kerusakan hati akut, sebaliknya GOT akan meningkat lebih tinggi pada
kerusakan hati yang lanjut. Hal ini disebabkan GPT merupakan enzim yang hanya
terdapat dalam sitoplasma, sedangka GOT terdapat dalam sitoplasma dan mitokondria
(Satyawirawan, 1983). Enzim-enzim ini terdapat dalam konsentrasi tinggi di otot,
hati, dan otak. Kenaikan konsentrasi enzirn-enzim ini di dalam dwah menunjukkan
adanya nekrosis atau kerusakan khususnya pada ketiga organ tersebut, terutama organ
hati (Murray, et al, 1999).
Indikasi gangguan fungsi hati yang Iebih lmjut adalah penurunan kadar
albumin darah. Albumin menrpakan bagian protein plasma yang disintesis di hati.
Sintesis albumin mengalami penekanan pada sejumlah penyakit khususnya penyakit
hati. Plasma darah penderita penyakit hati seringkali memperlihathn penurunan rasio
albumin terhadap globulin. Penurunan albumin juga terjadi pada keadaan malnutrisi,
seperti kwashiorkor (Murray, ef a/,1999)
Di dalam aplikasi klinik, SherIock menpsufkan pola tes-tes fungsi hati pada
beberapa jenis kelainan hepatobiler. Untuk diagnose iherus diusulkannya uji alkali
fosfatase, elektroforesa protein serum, dan enzirn amino tranferase (GOTdan GPT).
Penilaian berat-ringannya kerusakan hati dilakukan dengan memeriksa secara serial
bilirubin serum, albumin, amino transferase, dan massa protrombin setelah pemberian
vitamin K. kerusakan sel hati yang minimal didiagnosa dengan kenaikan kadar
bilirubin serum dan aktivitas arninitranferase, tetapi jika dikaitkan dengan alkohol
dilakukan dengan analisis GGT.Untuk pemeriksaan penyaring, Schmidt rnengusulkan
perneriksaan tiga macam enzim, yaitu GFT untuk kemsakan hati, GGT untuk
kolestasis, dan kholin esterase untuk fail sintesis hati (Satyawirawan, 1983).
Analisis histologi (hati) sangat rnenunjang adanya dugaan kerusakan jaringan
hati. Secara normal sel merupakan mikrokosmos yang berdenyut tanpa henti, secara
tetap mengubah struktur dan kngsinya untuk memberi reaksi terhadap tantangan dan
tekanan yang selalu berubah. Trauma, panas atau dingin yang luar biasa, perubahan
tekanan atmosfir yang rnendadak, radiasi, listrik, dan senyawfa-senya~va
radikal dapat
menyebabhn kerusakan pada sel terlebih lagi sel-sel hati. Radikal bebas dapat
rnenyebabkan peroksidasi lernak daiam selaput organel sampai merusak retikulurn
endoplasma, mitokondria dan komponen lain. Hubungan silang asam amino dengan
senyawa radikal juga dapat menyebabkan kerusakan sel secara Iuas, misalnya
terjadinya inaktiviasi enzim. Interaksi senyawa radikal dengan asam nukleat dapat
rnenyebabkan mutasi pada kode genetik yang jika tidak bisa diperbaiki berakibat
gangguan pada sel Wobbins, 1995).

23. ParasetamoI
Parasetamol atau asetaminofen adalah bentuk aktif dari fenasitin. Perbedam
parasetamol dengan fenasitin adaiah parasetamol tidak menunjukkan sifat
karsinogenik sebaimana fenasitin. Parasetain01 dipergunakan sebagai analgesik dan
antipiretik sebagaimana aspirin, tetapi parasetamot tidak seefektif aspirin dalam hat
penanganan inflamasi. Rumus kimia parasetmol adalah CsH9NU2 dengan berat
molekul 151,17 glmol, krdensitas 1,263 glcm3,bertitik didik 169 OC,dan mempunyai
keiarutan daIam air 0,l - 0,5 g/lOO mi pada suhu 20 OC. Parasetam01 memiliki cincin
benzene dengan satu p g u s hidroksil dan satu atom nitrogen pada gugus amida.
Struktur kimia parasetamol disajikan pada Gambar 1f

Gambar I. 2 . Struktur Kirnia Paracetamol

Metabotisrne parasetmol di hati dengan rnekanisme sulfat dan glukoronat


konjugase. Hanya beberapa bagian kecil (5 %) secara normal parasetamol
dietabolisme rnelalui sistem sitokrom Pd50. Konjugase dengan glukoronat dan sulfat
akan menghasilkm asam merkapturat yang dapat diekskresikan rnelalui ginjal.
Metabolism melalui sitokrom P450&an menghasiIkan N-ace@-p-bemo-qztinone-
imine (NAPQI). NAPQI bersifat iebih reaktif dibandingkan dengan parasetamol.
Gambaran metabolisme parasetamol disajihn pada Gambar 12.
Parasetarnal dosis toksik dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Kerusakan
hati teijadi bukan karena reaksi antam parasetamol dengan jaringan hati, tetapi reaksi
antara hasil metabolik parasetamol If.TAPQI) dengan sel-sel hati. Mekanisme
kerusakan hati karena NAPQT diawali dengan penumnan enzim glutation hati.
Penumnan glutation juga berkaitan dengan adanya stress oksidatif yang berhubungan
dengan gangguan produksi ATP. Penurunan glutation menyebabkan NAPQI bereaksi
dengan membran s d yang pada akhirnya menyebabkan kemsakan membran. Dosis
toksik parasetarnol untuk anak adalah 200 mg/kg bbhari, sedangkan untuk manusia
dewasa 150 mg/kg bbkari. Pemberian parasetamol dosis 250 mg/kb BBhari selama 5
minggu per oral secara nyata dapat menyebabkan kerusakan hati yang ditandai
dengan adanya degenerasi hidrofik, degenerasi melernak, dan nekrosis (Suarsana,
2005).

Glucuronld%
conjugatr Prsrecdamol

Hz-
Cna
C S O ~ O - W a

4"
Marcap*u r l c aeld
ccbrrJugrrttax < t 4 9 0 >
excreta& In urlna

Gambar 12. Metabolisme Parasetamot

2.9. Antiohidan dan Hepatopratektor


Antioksidan adaIah zat yang mampu memperfatnbat atau mencegah proses
oksidasi, dimana dengan penghambatan proses oksidasi tersebut kerusakan oksidatif
suatu target dapat diicurangi atau dihentikan . Ditinjau dari rnekanisme kerja
antioksidan ddapat dikelornpokkarr rnenjadi antioksidan primer dan antioksidan
sekunder. Antioksidan primer bereaksi dengan senyawa radikal dan atau
mengubahnya rnenjadi produk yang stabil, sedangkan antioksidan sekunder
rnengwangi laju reaksi awal (tahap inisiasi) reaksi oksidasi (Schuler, 1990 ;Gordon,
1990).
Antioksidan dapat berasal dari dalam tubuh (endogen) maupun dari makanan
(eksogen). Antioksidan dengan berat moIekul kecil ditemukan di dalam makanan,
seperti vitamin E, vitamin C, d m karotenoid. Antioksidan dapat disintesis di dahm
sel, seperti glutation dan superoksida dismutase. Zat gizi memerankan peranan
penting dalam menjaga pertahanan enzirn tubuh terhadap radikal bebas. Beberapa
mineral dilibatkan dalam susunan atau aktivitas enzim-enzim antioksidan tubuh.
KaiEan zat gizi dengan antioksidan tubuh disajikan daiam Tabel 10.
Antioksidan mempunyai keterkaitan yang erat dengan kerusakan sel-sel hati.
Fungsi fisioIogis antioksidan adalah mencegah kerusakan komponen seiuier akibat
radikal bebas, sedangkan produksi radikal bebas terjadi secara terus menerus di dalam
sel (Dewi, 2007). Keberadaan antioksidan dapat melindungi sel-sel hati dari
senyawa-senyawa radikal baik yang berasal dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh.

Tabel 10. Zat Gizi dan antioksidan tubuh

I Zat Gizi
I
Peranan terkait dengan antioksidan tubuh

Besi Hemoglobin, katalase, dan perbaikan fungsi mitokondria


MI, Cu, Zn Cu, Zn- SOD, eaeuropiasmin, stabilisasi strzlktur membran
Protein Sintesis GSN, SOD, kataiase, peroksidase, transport logam
Riboflavin Glutation reduktase, perbaikan fungsi mitokondria, sistesis
FMN dan FAD
Perlindungan terhadap oksidasi lipid, dm stabilisasi IFungsl
membran sel
Vitamin C Hidroksilase, pengikatan nitrosamine, daur ulang
I antioksidan vitamin E I
( Pernberih singlet 0,pengikat radikal peroksil, pengharnbat I
/ peroksidasi lipid I
I Sintesis NAD, NADH, NADPH unNk sintesis Glutation (
I
Sumber :Tuminah, 2000
reduktase.

Beberapa jenis tanaman secara nyata dapat berfungsi sebagai hepatoprotektor.


Komponen dalam tanaman tersebut dapat memberikan perlindungan jaringan hati
terhadap senyawa-senyawa kimia yang bersifat hepatotoksik, misalnya karbon
tetraklorida (CC14), parasetarnol, dan jamur pada hewan percobaan (Simon, et al.,
2000). Diantara tanaman sumber hepatoprotektor tersebut adalah kunyit (Curcuma
dontestica Vahl), dan temulawak (Curcurnu xanthorrhiza Roxb) dengan komponen
aktifnya bernama kurkuminoid (Kiso et al., 1983 ; Atmaja et al., 1997). Tanaman
suku Zingiberaceae dapat befingsi sebagai hepatoprotektor dengan komponen
aktifnya gingerol, sogaol dan diarilheptanoid (Hikino, 1985). Senyawa lain yang
mempunyai aktifitas hepatoprotektor adalah ekstrak bawang putih (Hidayati, 2003).
Komponen terlarut dalam bawang putih dapat digwakan sebagai hapatoprotektor
dengan cam menetralisir radikal bebas (oksidan) dalam sei tubuh dan melindungi
mikrosom hati tikus dari peroksidasi Iipida. Bawang putih mengandung komponen
organosulhr yang dapat berfungsi sebagai kemopreventif terhadap hepatotoksisitas.
Ekstrak rimpang bangle (Arafah, at al, 2004) dapat befingsi sebagai hepatoprotehor
dan anti inflamasi yang secara nyata dapat mereduksi kerusakan hati tikus yang
diinduksi oIeh CC4. SacogoIotis gabonensis (Maduka, 2005) berfungsi sebagai
hepatoprotektor dengan komponen aktifnya berupa antioksidan j3 - karoten,
purpuragolin, tokoferoi, eugenol, dm berbagai mineral (Fe, Zn, Mn, Cu) yang dapat
rnencegah terjadinya kerusakan sel dan proteksi dari keracunan hati. Lesitin dapat
melindungi terjadinya hepatotoksisitas pa& hati tikus yang diinduksi dengan CC4
dengan mekanisme mencegah terjadinya peroksidasi Iipida /sebagai antioksidan
@ewi, 2007). Dari penulusuran pustaka diketahui bahwa sebagaian besar komponen
yang berfungsi sebagai hepatoprotektor bersifat antioksidan.
Pernanfmtan kurkurnin secara lebih rinci dijelaskan oleh Penelitian Sugiharto
(2003). Dalam penelitian Sugiharto tersebut dijelaskan bahwa infus rimpang
temuiawak mengandung bahan aktif curczrmin, minyak atsiri, flavonoid, serta
beberapa kation (Fe, Ca, Na, K). Inhs rimpang temu fawak dapat menaikkan kembali
kadar hemoglobin, nilai PCV dan MCHC (walaupun peningkatan nilai PCV dan
MCHC menunjukkan hasii tidak berbeda nyata) pada tikus putih yang diberi farutan
timbal. Kandungan bahan aktif i n k s rimpang temulawak (terutama curcumin) d q a t
meningkatkan aktivitas dm sintesis enzim detoksikasi dalam hati. Timbal yang
diabsorbsi dari saluran pencemaan akan ditransporksikan oleh sistem vena porta
hepatika menuju hati, kemudian dinetralisir atau ditingkatkan ekskresinya sehingga
dapat rnencegah atau menghilangkan efek toksiknya. Curcztmin dapat beperan
sebagai zat anti oksidan dan detoksikasi dengan cam meningkatkan aktivitas enzim
Gluthatione S-tuamferme (GST) serta kelompok enzim Glutharione lain (GS-x)
dalam hati. Curcunzin dapat meningkatkan aktivitas dan sintesis protein haptoglobin
dan hemopexin yang terdapat dalam hati. Sehingga timbal yang berikatan dengan
hemoglobin dapat didestruksi dan dinetralisir di hati. Hemopexin adalah protein yang
berfungsi mengikat heme dan membawa heme bersirkuiasi ke hati, sedangkan protein
haptoglobin berfungsi antara lain untuk mengikat hemoglobin, peningkatan aktivitas
enzim peroksidase, serta reaksi inflamasi. Kurkurni dan ion-ion (Fe, Ca, Na, K)yang
terkandung daiam infus rimpangtemulawak, berperan sebagai agen preventif dengan
cara rneningkatkan kompetisi terhadap timbsti sebab absorbsi timbal &lam saluran
pencernaan melalui jalur y m g sama dengan penyerapan ion yang lain. Peningkatan
kandungan ion (terutama Fe) akan meningkatkan cadangan protein transferin d a l m
hati dan sumsum tulang untuk digunakan kembali dalam biosintesis hemoglobin dm
eritrosit.
Mekanisrne proteksi senyawa-senyawa hepatoprotektor adalah dengan cam
melindungi hati dari pengaruh radikal bebas. Toksikan bersifat radikal bebas yang
cenderung mengambil partikel atau menempel pada molekul lain sehingga
rnenyebabkan ketidakstabilan bahkan kenrsakan malekul tersebut. Kerusakan hati
merupakan salah satu akibat dari semngan radikal bebas dalam tubuh. Antioksidan
diperlukan oleh tubuh untuk rnenangkal bahaya radikal bebas yang dihasilkan oleh
metabolisme tubuh maupun dari luar tubuh.
Aktivitas hepatoprotecror suatu senyawa atau kompanen dapat diketahui
dengan rnenpkur perubahan (penurunan) kadar SGOT dan SGPT yang rnerupakan
enzim spesifik didalam jaringan hati, dan perneriksaan histopatofogis hewan
percobaan yang terpapar oleh senyawa hepatotoksik. Peningkatan kadar SGOT dan
SGPT darah menunjukkan adanya kerusakan jaringan hati.

2.10. Degenermi dan Sel Radang


Jaringan tubuh tersusun oleh sei-sel parenkirn yang dikhususkan untuk fimgsi
tertentu pada jaringan, dan unsur jaringan pengikat yang bekerja sebagai kerangka
penopang jaringan tersebut. Berbagai tekanan dapat menyebabkan perubahan
morfologi pada sel, diantaranya karena hipoksi, bahan kirnia dan obat, pengaruh fisik,
mikroorganisrne, mekanisme imun, ketidakseimbangan zat gizi, dan penuaan
(Robbins, 1995). Dijelaskan oleh Chandrasoma (2006) bahwa kerusakan rnernbran
sel dapat disebabkan oleh radikal bebas dalam tubuh, aktivitas sistern komplernen,
lisis oleh enzirn, lisis oleh virus, dan lisis oleh senyawa kimia d m tekanan fisik.
Radihl-radikal bebas dapat berikatan dengan membran seI (lipid) yang menyebabkan
peroksidasi lipid. Peroksidasi iipid menyebabkan kerusakan membmn sel. Rasil
metabolisrne obat (parasetamol) dapat berikatan dengan biomakromolerkuler (protein)
pada membran yang pada akhirnya merusakan memberan sel tersebut.
Kerusakan biokimia - akibat pengamh agen-agen pencedera sel - dapat
menyebabkan perubahan s t m h r dan fungsi sel. Degenerasi sel merupakan tahap
awal perubahan sel akibat pegstruh agen-agen pencedera seI. Degenemsi sel dapat
bersifat reversibel tetapi apabila cedera sel berlanjut dm proses perbaikan tidak baik
dapat menyebabkan nekrosis. Jika sel-sel mengalami cedera tetapi tidak mati, sel-sel
tersebut sering rnenunjukkan manifestasi perubahan morfologik, Bentuk penrbahan
degenerasi sel yang paling sering dijumpai adalah penimbunan air di daIam sel. Hal
ini disebabkan sei mengalami ganggum pengatwan voIurne pada bagian-bagian sel.
Akibat penimbunan air ini adalah pembengkakan seluler (cloudy swelling). Jika aliran
air yang masuk sangat besar dan menyerang organel sitoplasma seperti retikulum
endoplasma, maka pada pemeriksaan mikroskopis akan tampak sitoplasma yang
bervakuola yang disebut dengan perubahan hidrofik. Pembahan selanjutnya adalah
penimbunan Iipid intra seluler di dalam sei-sel yang mengalami degenerasi. Pada
pengamatan mikroskopis sel-sel yang mengalami degenerasi bervakuola dan berisi
minyak. Jenis perubahan ini adalah perubahan berlernak ahu steatosis (Lorraine,
2006).
Respon lain yang terjadi pada sel-sel yang mengalami kerusakan adalah
pengurangan masa sel atau atrofi. Dalam perjalanan menjadi atrofi, sel hams
lnengabsorbsi diri sendiri. Bila organel sitoplasma rusak, organel. tersebut diasingkan
di dalam vakuola sitoplasma dan dicernakan secara enzimatis. Proses ini cenderung
meninggalkan bekas-bekas yang tidak tercerna yang sedikit-demi sedikit tertimbun di
dalam sel.
Jika pengaruh buruk pada sef tidak dapat dihentikan, maka sel akan
mengalami kernatian. Semua sel memiliki enzirn di dalamnya. S e w a h sel hidup,
enzirn-enzim ini tidak menimbulkan kerusakan sel, tetapi pada sel yang mengalami
kerusairan (kematian) enzim-enzim ini dapat menyerang dan melarutkan berbagai
unsur di dalam sel. Kerusalcan (kematian) sel ini akan menyababkan perubahan
biokimia dan memancing adanya respon dari sei-sel hidup diseki&mya. Aktivitas
peradangan merupakan bagian dari respan terhadap cedera (degenerasi) sei ini.
Peradangan adalah reaksi lokal pada vaskuler dan unsur-unsur pendukung
jaringan terhadap cedera. Peradangan mempakan respon protektif sistem imun
nonspesifik yang bekerja untuk melokalisasi, menetralisasi, atau menghancurkan agen
pencedera dalam persiapan untuk proses penyembuhan. Sel-sel yang terlibat dalam
proses peradangan adalah leukosit fagositik (neutrofil, makrofag, eosinofii), trombosit
d m limfosit. Keluarnya sel-sel dari pembuluh darah pada peradangan akut diawali
dengan pengeluaran neutrofil, kemudian makrofag, dan jika berlanjut didominasi oleh
limfosit (Price, 2006).
Penyembuhan sel dad cedera (regenerasi) menrpakan serangkaian langkah
yang dipicu oleh beberapa fitktor, diantaranya adalah suplai darah yang baik ke sel
yang mengalami cedera, usia, ketersediaan zat gizi, dan kngsi leukosit serta respon
peradangan yang normal. Pergantian sel-sel parenkim yang hilang dengan
pembelahan sel parenkirn disekitarnya dapat puia memuIitrkan jaringan yang
mengalami cedera. Kernampuan regenerasi sel ditentukan oleh kemampuan sel untuk
membelah diri, jumlah sel-sel viable yang bertahan, dan keberadaan kerangka
jaringan ikat.
Berkurangnya suplai darah ke sel yang mengalami peradangan sangat
berpengaruh terhadap proses penyembuhan. Individu yang mengalami kerusakan
jaringan, dm tidak mampu memproduksi eksudat seluler akan menyebabkan
terjadinya infeksi yang berat.
Proses penyembuhan sangat bergantung pada proliferasi seluler dan aktivibs
sintetik. Aktivitas sintetik sangat dipengamhi oleh ketersediaan zat-zat gizi. Pada
individu yang mengalami kekurangan gizi penyembuhan luka tidak akan optimal
(Lorraine, 2006). Kekurangan salah satu faktor diet menyebabkan gangguan
metabotisme yang pada akhirnya rnenyebabkan gangguan pada proses penyembuhan
luka.
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 8 bulan dimulai pada bulan April 2008 sampai
dengan Desember 2008 dengan tahapan sebagai berikut :
a. Tahap satu dengan fokus analisis komponen kimia ekstrak ikan gabus di
Laboratorium pangan Jurursan Gizi Poltekkes Malang untuk persiapan contoh dan
Laboratorium K i i a FakuItas Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah
Malang untuk pengujian kadar mineral (Cu, Fe, Zn), fraksi protein, serta aktivitas
antioksidan (DPPH).
b. Tahap dua pengujian potensi ekstrak ikan gabus sebagai hepatoprotector di
Laboratorium Pangan Jurusan Gizi Poltekkes Malang untuk perlakuan tikus
percobaan dan Laboratorium Klinik Pattimura Malang untuk analisis kimia dm&
serta Laboratorium Histologi FKH IPB Bogor untuk analisis histologi

3.2. Bahan dan Aiat


Bahan penelitian meliputi :
1. Ekstrak ikan gabus. Pengolahan ekstrak ikan gabus mengacu pada proses yang
dilakukan oleh penyedia ekstrak ikan gabus Instalasi Gizi Rumah Sakit Saifid
Anwar Malang. femilihan ekstrak ikan gabus dari Instalasi Gizi RSSA Malang
didasarkan pada alasan bahwa mulai tahun 1999 ahli gizi di RSSA Malang telah
mempelajari dan memanfmtkan ekstrak ikan gabus untuk penanganan berbagai
kasus terutama kasus-kasus terindikasi hipoalbuminemia. Skerna ekstraktor yang
dipergunakan untuk ekstraksi ikan gabus disajikan pada Gambar 13. Dan alir
pengolahan ekstrak ikan gabus disajikan pada Gambar 14.
2. Parasetamol sirup dengan kadar 24 mdml dipergunakan untuk memapar tikus
sehingga didapatkan tikus dengan gangguan fungsi hati.
3. Reagen-reagen kimia yang disesuai dengan analisis kimia,
4. Ransum tikus standar
-
5. Tikus percobaan dari galur Wistar Jantan dengan umur 8 9 minggu
Peralatan penelitian disesuaikan dengan jenis analisis yang diambil.
Tutup alat

- -
~engaturpanas
Alat sarifig
Ekemen pemanas
alr

Gambar 13. Skema Alat Pengolahan Ekstrak &an Gabus

IKAN GABUS SEGAR


u
PEMBERSEf-IAN SISIK DAN IS1 PERUT
u
PENCUCIAN
u
PNGECILAN UKURAN
(potongan melintang dengan ketebalan * 1 cm)
U
PROSES EKSTRAKSI
*
(suhu 70 2,5 OC selama 4 jam)
u
(dengan kain saring berlapis (4 lapis))
u
PEMANASAN PADA SUHU 50 'C SELAMA 15 MENIT
u
PENGEMASAN (DALAM BOTOL)
u
EKSTRAK IKAN GAfSUS

Gambar 14. Alir proses pengolahan ekstrak ikan gabus


3.3. Ftarrcangan =set
Penelitian dibagi menjadi dua tahap, yaitu analisis komponen kimia ekstrak
ikan gabus dan pengujian pengaruhnya terhadap perlindungan fungsi dm faal hati.
Garis besar afir penelitian disajikan pada Gambar 15.

I Esktak lkan Gabus


I
I Analisis Zat Gizi dan DPPH

I Tikus Model

+
Pengelornpokan secara acak 1

Setelah 7 hari perlakuan, kelompok7tiga,empat, [!ma dan enam disonde


dengan parasetarnol dosis 500 mglkg BBIhari selama 7 hari
-
1.

Hari ke - 8 pengambilan darah dan hati I


SGPT Albumin dan DPPH

hrnbar 15. Diagram Aiir Penelitian

Tahap satu (analisis komponen gizi ekstrak ikan gabus) menggunakan


sampling secara acak dengan 3 ulangan, kemudian dilakukan analisa kadar protein
total, albumin, mineral seng, tembaga, besi, dm aktivibs antioksidan (DPPH). Ilata
kadat Albumin, seng, tembaga, besi, dan aktivitas antioksidan ekstrak ikan gabus
dianalisis dengan statistika deskriptif.
Tahap dua (pengujian ekstrak ikan gabus sebagai hepatoprotector)
menggunakan rancangan acak lengkap @AL) yang terdiri dari 5 kelompok perIakuan
dengan 5 ulangan, sehingga diperlukan 25 tikus putih jantan galur Wistar dengan
umur 8 - 9 minggu. Pemeliharaan tikus percobaan dilakukan pada kandang
pemeliharaan (bukan kandang metabolik) dengan pelaksanaan :
1. Setiap tikus ditempatkan pada kandang terpisah
2. Pakan diberikan secara adlibifunr,dilakukan 2 hari sekali @agi jam 8 - 9, dan
sore jam 16 - 17).
3. Pergantian sekam dilakukan setiap 2 hark sekali
4. Suhu ruangan berkisar berkisar 25 OC
5. Penerangan ruangan menggunakan Iampu dan jendela yang cukup.
6. Air minurn.
Pengelompokan pada tahap 2 adalah sebagai berikut :
6 Kelompok satu (EIG30). Tikus diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 30
mYkg bbhari secara sonde tanpa diinduksi dengan parasetamol dosis 500 mgkg
BBhari
Kelompok dua (ETG30PCT). Tikus diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus
30 mVkg BBhari secara sonde serta diinduksi dengan parasetamol dosis 500
mgkg bb/hari
+ Kelompok tiga (EIG60PCT). Tilcus diberi ransum standar dan ekstrak ikm gabus
60 ml/kg bblhari secara sonde serta diinduksi dengan parasetamol dosis 500
mgkg bb/hari
6 Kelompok empat (KRPCT). Tikus diberi ransum standar d m kurkumino 30
mgkg bbhari secara sonde serta diinduksi dengan parasetamol dosis 500 mgkg
bbhari
+ Kelompok lima (KT). Tikus diberi ransum standar tanpa ekstrak ikan gabus
maupun kurkumino dan diinduksi dengan parasetamol dosis 500 m a g bb/hari
Tndwksi parasetamol dosis 500 mgkg bbhari diI&ukan selama 7 hari berturut-
turut melalui sonde. Pada hari ke 8 (24 jam setelah perlakuan terakhir) dilakuan
pernbiusan dan pembedahan untuk pengambilan darah dan pengangkatan hati.
Pembedahan dimulai jam 8 pagi. Pembiusan menggunakan kloroform. Darah
disentrihgasi dengan kecepatan 3500 rpm seIama 10 menit untuk mendapatkan serum
yang kemudian dilakukan analisis albumin, SGOT,SGPT, dan aktivitas antioksidan.
Organ hati dicuci dengan larutan fisiologis kemudian difiksasi dengan larutan
formalin 10 % untuk persiapan pembuatan preparat histologi. Organ terfiksasi
distoping point dengan alkohol 70 % dan dilanjutkan dengan dehidmsi, penjernihan
dengan silo], infiltrasi dan embedding dalam parafin. Setelah pemotongan dengan
mikrotom setebal 5 pm, sediaan diwarnai dengan pewarnaan Wematoksilin-Eosin
(HE) d m dianalisis seeara kualitatif tingkat degenerasi sel yang terjadi, dan dihitung
jumlah sel-sel radang yang t e r h u l a s i dalam jaringan hati tikus percobaan.
Data SGOT, SGPT, albumin, aktivitas antioksidan serum, dan jumlah sel-se1
radang dlam jaringan hati dianalisis dengan uji Statistik Anova satu arah
menggunakan model Liner Yij = p + Ai + Eu. Apabila analisis ANOVA

menunjukkan perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (p < 0.05) atau sangat
nyata (p < 0.01) terhadap respon pengarnatan, maka perlu diIanjutkan dengan uji
beda Ianjut BNT. Tingkat degenerasi sef-sel jaringan hati dianalisis s e e m kualitatif
dengan membandinghn besar kecjlnya tingkat degenerasi pada jaringan hati tikus.

3.4. Jenis dan Metode Pengambilan Data

Berbagai data yang diperlukan dalam penelitian, dan metode pengambiian


datanya di jabarkan sebagai berikut :

1. Analisis Kadar Mineral Seng (Vogel, 1985)

Reagensia yang diperlukan untuk analisis seng adaIah larutan seng standar ,
lanrtan diklorofluoresein standar, Larutan gom arab 2 %, dan larutan arnonium asetat
2 M .Mekanisme kerja dimulai dengan memipet Ianttan dengan menggunakan buret
yang terkalibrasi sebanyak 5,0 ; 10,O; 3.5,O; 20; dan 25,O mf larutan seng standar d m
dialirkan ke dalam labu-labu volurnetri 100 ml. Ke dalam masing-masing Iabu
ditarnbahkan 10 ml larutan amonium asetat, 4 ml larutan gom arab, dan encerkan
menjadi 45 rnl dengan aquades. Kemudian menambahkan dengan tepat 0,4 ml larutan
contoh menggunakan mikro pipet, dan kocok perlahan-lahan, memindakan larutan
ke fiurometer untuk diukur flueresensinya, dengan standar diklorofluoresein, dimulai
dari Iarutan dengan kadnr seng tertinggi.
Kadar mineral seng dalam contoh dihitung dengan turnus :

C Absorban Contoh
Absorban Standar
X Konsentrasi Standar

Volume (ml) Contoh 1


2. Analisis Kadar Mineral Tembaga (Vogel, 1985)

Reagensia yang diperlukan adalah larutan bisikloheksanon oksaliidhidrazon,


dan larutan standar. Mekanisme k e j a analisis mineral tembaga dimulai dengan
memipet dengan cermat 1 ml contoh, masukkan dalam erlemeyer 150 ml, kemudian
menambahkan 5 ml asam klorida pelcat, dan 5 ml asam nitrat pekat, kemudian
memanaskan dengan lembut. Menambahkan SO ml aquades, kemudian 10 ml
larutan asam, dan secara hati-hati menambahkan 10 ml larutan ammonia pekat.
Mendinginkan larutan dalarn suhu kamar, kemudian mengencerkannya sampai 100 ml
(dengan labu volumetri). Memipet 10 ml aliquot d m memasukkannya ke dalam Iabu
volurnetri 100 ml, kemudian menambahkan 20 ml reagensia tembaga, mengencerkan
menjadi 100 ml, dan memindahkannya ke dalam gelas piala 100 ml. Larutan
dibiarkan pada suhu kamar selama l-menit, kelnudian mengukur abosorbansinya
pada panjang gelombang 570 run. Kadar mineral tembaga dalam contoh dihitung
dengan rumus :

1 Absorban Contoh
Absorban Standar
X Konsentrasi Standar
Volume (mi) Contoh 1
3. Analisis Kadar Mineral Besi (Vogel, 1985)
Prinsip analisis mineral besi adaiah mengkonversi bentuk fero menjadi feri
menggunakan oksidator, kemudian direaksikan dengan Potasium tiosianat sehingga
mernbentuk feri-tiosianat yang berwarna rnerah. Warna yang terbentuk intensitasnya
dapat diukur absorbansinya dengan panjang gelombang 480 nm. Kadar Mineral Besi
dalam contoh dohitsng dengan rumus :

C
Absorban Contoh
Absorban Standar
X Konsentrasi Standar

Volume (ml) Contoh J


1
4. Analisis Total Protein Serum (Harahap, 2001)
Reagensia yang diperiukan untuk analisis kadar total protein adafah Sodium
hidroksida 200 mmolfl, Potasium sodium tartarat 23 mmolfl, Tembaga sulfat 12
mmoV1, Potasium iodida 30 mmoV1, dan Larutan protein standar 8 g/dl dengan
mekanisme kerja sebagai berikut. Memipet larutan dengan skema pada Tabel I I.

Tabel 11. Analisis Kadar Protein

Larutan Balanko ContoWStandar


Lamtan contoh/standar ----- 20 yl
Reagensia 1000 pl 100 p1

mencampur larutan dengan baik, dan dibiarkan pada suhu kamar selama 30 menit,
kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 520 nm. Kadar Protein
dalam contoh dihitung dengan rumus :
Absorban Contoh
X Konsentrasi Protein Standar
Absorban Standar

5. Analisis Kadar Albumin Serum (Harahap, 2002)


Reagensia yang diperlukan adalah pereaksi albumin (BCG), larutan standar
albumin. Metode kerja sebagai berikut, memipet larutan dengan skema pada Tabel 12.

Tabel 12. Analisis Kadar Albumin

Larutan Blanko Contohfstandar


Larutan contoh/stmdar ----- 0,01 ml
Reagensia 2 ml 2 ml
aquades 0,01 rnl -----
mencampur larutan dengan baik, dan dibiarkan pada suhu kamar selama 30 menit,
kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 632 nm. Kadar albumin
dalam contoh dihitung dengan rumus :
Absorban Contoh
X Konsentrasi Albumin Standar
Absorban Standar
6. Analisis SGOT ( Serum Glutamat Oksaloasetat Transarninase) (Harahap, 2001)
Reagensia yang diperlukan berupa substrat GOT (L-Alanin 200 mM,
a-Ketoglutarat 2 mM), Larutan 2,4-Dinitropenylhydrmin ImM, Laruan NaOH 0,4
N, dan larutan standar Pymvat 4 mM. Metode kerja analisis SGOT dimulai dengan
rnenyiapkan 4 tabung reaksi, kemudian melakukan pengambilan reagen, contoh, dan
standar serta aquadest dengan urutan sebagaimana disajikan Tabel 13.

Tabel 13. Analisis Kadar SGOT

Larutan Tes Standar Blanko


Substrat (mi) 0,5 0,5 0s
Contoh (ml) 0,1 -- --
Standar (ml) -- 0, f --
Aquades (ml) -- 0,1

Semua larutan dicampur dengan baik, kemudian diinkubaskan pada suhu 37 OC


selama 30 menit, kernudian menambahkan pada masing-masing tabung 5 ml Iarutan
2,4-Dinitmpeenylhydrazin ImM, kemudian larutan dicampur dengan baik d m biarkan
pada suhu kamar selama 20 rnenit. Tahap berikutnya adalah menambahkan pada
masing-madng tabung reaksi 5 ml larutan NaOH 0,4 N, dicampur dengan baik dan
diinkubasikan pada suhu kamar selama 5 menit, kemudian dibaca absorbansinya pada
panjang gelombang 505 nm. Kadar SGOT daIam contoh dihitung dengan mmus :
Absorban Contoh
X Konsentrasi SGOT Standar
Absorban Standar

7. Analisis kadar SGPT (Serum Glutamat Pimvat Transarninase) (rr~rahap,2001)


Reagensia yang diperlukan berupa substrat GPT (L-Aspartat 200 mM,
a-Ketoglutarat 2 mEvl), Larutan 2,4-DinitropeenylhydrazinimM, Laruan NaOH 0,4
N, dan Standar Pyruvat 4 mM. Metode kerja analisis SGPT dimulai dengan
rnenyiapkan 4 tabung reaksi kernudian melakukan pengambifan reagen, contoh, dan
standar serta aquadest dengan urutan sebagaimana disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Analisis Kadar SGPT

Larutan Tes Standar Blanko


Substrat (ml)
Contoh (ml) 0,1 --
Standar (ml) --

Semua larutan dicampur dengan baik, kemudian diinkubaskan pada suhu 37 OC


selama 60 menit, kemudian menambahkan pada masing-masing tabung 5 mI larutan
2,4-Dinitropenylhydrazin ImM, kemudian larutan dicampur dengan baik dan biarkan
pada suhu kamar selama 20 menit. Tahap berikutnya adalah menambahkan pada
masing-masing tabung reaksi 5 ml larutan NaOH 0,4 N, dicmpw dengm baik dan
diinkubasikan pada suhu kamar selama 5 menit, kemudian dibaca absorbansinya
pada panjang gelombang 505 nm. Kadar SGPT contoh dihitung dengan rumus :
Absorban Contoh
X Konsentrasi SGPT Standar
Absorban Standar

8. Pengukuran aktivitas antioksidan dengan metode DPPH

Larutan DPPH (diphenyl picril hydrazil hydrate) 0.004% dalam etanol


(pereaksi standar) harus selalu daIam keadaan barn. Dua mi ekstrak ikan gabus
difarutkan dalam 4 ml air bebas ion, kemudian dimasukkan ke dalam larutan DPPH
(ImM, 1 ml). Campuran tersebut dikocok dan dibiarkan pada suhu kamar selama 30
menit, kemudian diukur absorbansinya. Absorbansi diukur dengan spektrofotometer
pada panjang gelombang 517 nm. Kemampuan contoh mereduksi DPPH dapat
dinyatakan dalam persentase yang dihihmng dengan rumus :

(1 - (Absorban Contoh/Absorban blanko) X 100 %

atau dengan kuantitas (rnmolfl) yang dihitung dengan rumus :


Aa - (Ab - Ac)
Aa
Dimana Aa adalah nilai absorban DPPH tanpa contoh, Ab adalah nilai absorban
DPPH+ contoh, dan Ac adalah nilai absorban contoh tanpa DPPH)
9. Histologi hatj dengan pewamaan Hematoksilin-Eosin
Organ hati yang telah diangkat, dicuci dengan larutan garam fisiologis dan
direndam dafarn larutan formalin 10 9%. Setelah 24 jam organ disayat-sayat dengan
pisau (silet) yang tajam secara melintang. Perendaman dalam formalin 10 %
dilakukan sampai dapatkkan warna organ yang seragarn, selanjutnya potongan organ
direndam dalam larutan alkohol 70 % (sampai waktu dehidrasi). Tahapan dehidrasi
dilakukan dalam larutan alkohol bertingkat, dimufai dari alkohol 80 % (selama 24
jam), alkohol 90 % (selama 24 jam), alkohol 85 % (selama 12 - 24 jam), alkohol
absolut 1 (selama I jam), alkohol absofut 2 (selama I jam), aikohol absolut 3 (sefama
1 jam). Setelah dehidrasi dilanjutkan dengan tahapan penjernihan dalam silol dengan
rincian silol 1 (selama 1jam), silol 2 (selama 1 jam), dan silol 3 (selama 1 jam), dan
dilanjutkan dengan infiltrasi dalam parafin dengan rincian parafin a (selama I jam),
parafin b (selama 1 jam), dan parafin c (selama 1 jam). Setelah infiltrasi dalam
parafin dilanjutkan dengm embedding dalam parafin dan dishpan dalam lemari
pendingin selama 24 jam kemudian dilekatkan pada balok kayu berukuran 1 X 1 X 1
cm. Organ dalam parafin yang telah dilekatkan pada balok kayu kemudian dipotong
dengan mikrotom dengan ketebalan rnaksirnal 5 pm. Setelah diinkubasi selama 24
jam, preparat diwarnai dengan metode HE.
Pewarnaan WE diawali dengan deparafinisasi daiam silol satu selama tiga
menit, kemudian silol dua selama tiga menit, dan silol tiga %lama 5 rnenit. Tahapan
berikutnya addah perendaman dafam alkohol bertingkat dimulau dari alkohol absoiut
tiga, absolut dua, absolut satu, alkohol 95 %, alkohol 90 %, alkohoi 80 % masing-
masing 3 menit, dan alkohol70 % selama 5 rnenit. Setelah perendaman dalam alkohol
dilanjutkan dengan perendaman dalam air kran d m aquades masing-masing selama 10
menit.
Perendaman daIam hematoksilin dilakukan setama 3,5 menit dilanjutkan
perendaman dalam air kran selama lebih dari 7 menit(sambi1 dipantau penyerapan
warna hematoksilin dengan rnikroskop), dan aquades selama 5 menit. Perendaman
dalam eosin dilakukan selama 5 menit, selanjutnya direndam dalam air kran dan
aquades masing-masing selama. 5 menit. Tahap akhir adalah clearing dalam larutan
afkohol bertingkat (70 %, 80 %, 85 %, 90 %, absolut 1, absolut 2, absolut 3) masing-
masing beberapa detik, kemudian silol 1, silol 2, dan silol 3 masing-maing I menit.
Preparat yang telah dijernihkan kemudian ditutup dengan gelas penutup yang
dilekatkan dengan entelan.
4. HASrL DAN PEfMBANASAN

4.1. Gambaran Umum Ekstrak Ikan Gabus (Chan?zastriata)

Ekstrak Ikan Gabus (Channa striata) diproses dari daging ikan gabus segar
dengan pemanasan bersuhu 70 f 2,5OC, menggunakan alat sebagaimana disajikan
pada Gambar 13, dan alir proses yang disajikan pada Gambar 14. Proses ekstraksi
dengan suhu 70 1 2,S°C dipilih karena dari penelitian sebelumnya (2001) diketahi
bahwa penerapan suhu 70 t- 2,5'C memberikan basil terbaik.
Ekstraksi dengan suhu di bawah 7Q°C menghasilkan ekstrak ikan yang
berwma merah keruh. Wama merah ini dapat disebabkan adanya sel-sel darah merah
(hemoglobin) yang belurn terkoagulasi yang ikut terekstrak, karena hemoglobin
rnernpunyai kelartltan yang sama dengan albumin yaitu larut drtlam air bebas garam.
Ekstrak ikan yang benvarna merah ini sangat mengganggu pernanfaatan ekstrak ikan
gabus sebagai makanadminuman. Ekstrak ikan yang benvarna rnerah tidak bisa
membentuk gel saat dishpan dalam suhu dingin, sedangkan ekstrak ikan yang baik
(benvarna kuning pucat) akan membentuk strukr gel saat disimpan di suhu dingin.
Ekstrak ikan yang berwarna merah sangat mudah terkoapiasi oleh pmas saat proses
pasteurisasi sebelum pengemasan.
Ekstraksi dengan suhu di atas 70°C menghasilkan esktrak ikan benvarnsr putih
keruh karena banyaknya endapan. Kekenrhan pada ekstrak ikan yang diproses dengan
suhu diatas 70°C dapat disebabkan oleh sebagian protein plasma yang terkoagulasi
oleh panas, sebagaimana dijelaskan oleh de Man (1997) bahwa suhu tinggi dapat
mengkoagulasikan protein plasma. Suhu koaguiasi protein plasma berbeda-beda
bergantung pada surnber albumin tersebut (TabeI 6). Radar albumin ekstrak ikan
yang diproses dengan suhu di atas 70°C lebih rendah (0,9 g/100 ml) dibandingkan
dengan esktrak ikan gabus yang diproses dengan suhu 70°C.Kemampuan ekstrak ikan
gabus yang diproses dengan suhu di atas 70 OC untuk membentuk gel juga lebih
lemah jika dibandingkan dengan ekstrak ikan gabus yang diproses dengan suhu 70 OC.
Hal ini dimungkinkan terkait dengan kadar albumin yang ada dalam ekstrak ikan
gabus tersebut.
Hasil ekstraksi berupa cairan berwarna kuning pucat yang jika didinginkan
akan mernbentuk struktur gel dan jika dikondisikan pada suhu ruang akan kembali
benvujud a i r . Kemampuan rnembentuk gel karena pendinginan ini dapat dijadikan
indikator fisik adanya albumin dalam ekstrak ikan gabus.
Ekstrak ikan gabus yang baik beraroma h a s ikan segar, tidak amis, &n tidak
beraroma daging ikan yang masak. Kualitas ikan gabus sebagai bahan b&u ekstrak
ikan sangat mempengaruhi aroma ekstrak ikan yang dihasikan. Ran yang telah
mengalami k e r u s h n akan menghasilkan ekstrak ikan yang beraroma amis. Aroma
amis ini dapat disebabkan adanya oksidasi terhadap senyawa bernitrogen yang
terekstrak bersama sarkoplasma. Peptida dan asam amino bebas serta asam Iemak
bebas seringkali dikaitkan dengan rasa dan aroma daging ikan. Senyawa-senyawa Iain
yang berperan dalam badaroma ikan adalah senyawa belerang atsiri, hidrogen sulfida,
metil merkaptan, metil disulfida dan gula yaitu ribosq glukosa dan glukosa 6 fosfat
(deMan ,1997)
Ekstrak ikan gabus yang baik berasa hambar. Ha1 ini dapat disebabkan oieh
rendahnya kadar lemak dalam ekstrak ikan gabus (0,77 g/100 ml). Rasa ikan sangat
dipengaruhi oleh kadar lemaknya. Disebutkan oleh Moeljanto (1990), bahwa Iemak
merupakan salah satu komponen yang menyebabkan rasa enak (gurih). Dari 1000 g
ikan gabus segar akan menghasilkan 600 g daging ikan yang siap diekstrak, dan dari
600 g daging tersebut dapat menghasilkan 150 ml ekstrak ikan gabus. Jumlah ekstrak
ikan yang dihasilkan akan meningkat jika suhu ekstraksi ditingkatkan, dan sebaliknya
akan menurun jika suhu ekstraksi diturunkan. Ikan yang telah mengalami rigor mortis
sebelum diproses &an menghasilkan ekstrak ikan yang lebih sedikit. HaI ini dapat
disebabkan rigor mortis rnenyebabkan perubahan kclarutan protein plasma. Protein
plasma dari daging ikan yang telah mengalami rigor mortis mempunyai kelarutan
yang rendah dalam air.

4.2. Komposisi Gui EEcstrak I h n Gabus

Dari hasil analisis kimia (penelitian tahap satu) diketahui bahwa ekstrak &an
gabus mengandung beberapa macam zat gizi. Protein merupakan zat gizi rnakro
terbanyak dalam ekstrak ikan gabus dengan h k s i terbesarnya adalah albumin. Zat
gizi makro lainnya adalah glukosa dan lipida dengan kadar yang sangat rendah (lebih
kecil dari 1 g/100 ml). Mineral seng (Zn), tembaga (Cu), dan besi (Fe), merupakan
sebagian mineral yang terkandung dalam ekstrak ikan gabus. Komposisi gizi ekstrak
ikan gabus disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Komposisi Gizi Esktrak &an Gabus
....

Zat Gizi Kadar

Protein (dl00 ml) 3,37 k 0,27


Albumin (g/100 ml) 2,17k 0,14
Zn (rng/100 ml) 3,43 1t 0,28
Cu (mg/lOO ml) 2,34 h 0,99
Fe (rnd100 ml) 0,8f 0,09

Hasil analisis komposisi zat gizi esktrak ikan gabus ini memberikan dukungan
informasi dan memperkuat hipotesis bahwa ekstrak ikan gabus mengandung berbagai
senyawa yang terkait dengan proses penyembuhan luka. Untuk sintesis jaringan
diperlukan energi dan protein yang cukup, serta dukungan vitamin dan mineral
khususnya mineral seng. Disebutkan (2006) bahwa ketersediaan zat gizi (protein,
vitamin, mineral) merupakan salah satu faktor yang mempercepat penyembuhan luka.
Ekstrak ikan gabus mengandung protein sebagai sumber asam amino dan cadangan
energi, d m juga mineral seng, tembaga, dan besi yang diperlukan untuk sintesis
jaringan.

4.2.1. Protein dan Albumin Elkstrak Ikan Gabus

Protein adalah salah satu zat gizi makro yang penting bagi tubuh. Protein
makanan merupakan sumber asam amino esensial bagi tubuh. Asam amino-asam
amino diperlukan tubuh untuk berbagai keperiuan diantaranya untuk sintesis jaringan
tubuh dan cadangan energi. Ditinjau dari bahan baku pembuatan ekstrak ikan gabus
(hewani), protein ekstrak ikan gabus tergolong protein lengkap karma tersusun dari
-
asam amino asam amino esensial. Ditinjau dari metode ekstraksi yang diterapkan,
protein ekstrak ikan gabus merupakan protein sarkopIasma, dimana albumin
merupakan fraksi protein terbesar dalam sarkoplasma. Kesimpulan ini diambil karena
sarkopfasma mempunyai sifat larut air atau larutan garam berkekuatan rendah (0,5
%), dan dapat diekstrak dengan teknologi sederhana Wngepresan). Rahayu (1992),
dan Montgomery (1 993), menyebutkan bahwa protein sarlroplasma dapat diekstrak
dari jaringan ikan dengan pengepresan biasa atau pengepresan mekanis atau dengan
menggunakan pelarut yang sesuai dengan sifat kelarutan protein tersebut.
Ekstrak ikan gabus mengadung protein dengan kadar yang sebanding dengan
kadar protein susu sapi (3,6 %), tetapi lebih rendah dibanding protein putih telur
(10,6 %). Albumin merupakan W s i protein terbesar daiam ekstrak &an gabus
(54,61 % total protein). Hasil ini menguatkan dugaan bahwa pada prinsipnya protein
ekstrak ikan gabus adalah protein sarkoplasma buk:an hancuran protein miofibril.
Ekstrak ikan gabus mengandung albumin dengan kadar yang cukup tinggi (2,17 i~

0,14 g/200 mi), lebih tinggi dibandingkan albumin dalam susu (0,166 g/IOO ml),
tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan albumin putih telur (7,74 g/IOO g).
Aplikasi ekstrak ikan gabus dalam diet (sebagai menu ekstra) bagi penderita
yang terindikasi hipoakbumin, secara nyata dapat meningkatkan kadar albumin serum
penderita Lebih cepat dibandingkan dengan pemberian menu ekstra dari putih telur
(cair putih teIur /CPT) sebagai sumber albumin (Sugihastutik, 2202). Hal ini dapat
disebabkm ekstrak ikan gabus pada prinsipnya adalah protein sarkoplasrna dm tidak
mengandung zat: antigizi. Putih telur mengandung albumin dengan kadar yang tinggi
tetapi juga mengmdung berbagai jenis zat anti gizi, seperti ovo rnzscin, ovo mucoid,
ovo tranferin, dan ovo inhibitor. Keberadaan zat anti gizi dalam putih telur
mengharuskan adanya penanganan yang baik (pengaturan suhu), sehingga zat anti gizi
telur dapat diinaktifkan tetapi tidak sampai rnerusak protein-khususnya albumin- yang
ada dalam putih telur. Selain itu, albumin dalam putih telur teribt dengan senyawa
b u h protein (karbohidrat). Fraksi albumin putih telur disajikan pada Tabei 16.
Tabel 16. Kornposisi Fraksi Protein Putih Telur

Fraksi Protein I %total I BM PH Iso Keterangan

Ovalburnin 32,2 % karbohidrat


Conalbumin mengkelat ion logam
Ovomucoid protein inhibitor (23 % KH)
Lyzozim penghambat viral hemaglutinin
Ovomucin rnengikat riboflavin
Flavoprotein menghambat protease (9,2 %
Ovoinhibitor KH)
Avidin mengikat biotin (10 % KW)

Sumber ;Belitz, 1
Pemberian ekstrak ikan gabus dengan dosis 3 mVkg bb/hari dan dengan
asupan protein yang baik, dapat meningkatkan kadar albumin serum sebesar 0,l 0,2 -
g/2 hari (kurnpuian laporan studi kasus). Suprayitno (2003) melaporkan bahwa
aplikasi ekstrak ikan gabus dalam diet penderita hipoalbumin dengan aturan
pemberian 2 kg ikan gabus (setara dengan 300 ml ekstrak ikan gabus) per hari selama
5 hari telah meningkatkan kadar albumin pasien hipoalbumin dari 1,8 g/100ml
menjadi normal (> 3,5 dl00 ml).
Aplikasi ekstrak ikan gabus sebagai menu ekstra bagi penderita pasca bedah
juga mernberikan hasii positic dimana ekstra ikan gabus dapat membantu percepatan
penutupan Xuka aperasi. Agustini (2004) melaporkan bahwa pemberian albumin ikan
gabus lebih baik d a l m mempercepat penutupan jaringan luka dibandingkan dengan
albumin ikan tengiri, ikan tongkol, maupun ikan kuniran. Hasil ini diduga terkait
dengan kadar albumin ikan gabus yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan jenis
lainnya (terutama ikan la&). Tkan gabus tergolong ikan air tawar berdaging putih dan
mempunyai kandungan albumin lebih tinggi dibandingkan ikan laut. Pemberian
ekstrak ikan gabus secara nyata dapat meningkatkan kadar albumin serum d m
peningkatan kadar albumin serum berkorelasi positif dengan proses penyembuhan
luka bedah. Kadar serum albumin berkorelasi secara signifikan dengan kecepatan
penyembuhan luka.
Albumin merupakan protein sederhana, berstruhr globular yang tersusun
dari ikatan polipeptida tunggal. Albumin manusia mempunyai berat molekul 66300
KD sampai dengan 69000 KD, terdiri dari 54 asam amino, yang temtama adalah asarn
aspartat dan glutamat, dan sangat sedikit triptofan. Albumin memenuhi hampir 50 %
dari protein plasma dan bertanggung jawab atas 75 - 80 % dari tekanan osmotik pada
plasma manusia (Murray, et al., 1995). Montgomery (1993) menjelaskan bahwa
albumin mempunyai dua h g s i utama yaitu mengangkut molekul-molekui kecil
melewati plasma d m cairan sel, serta memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Fungsi pertama albumin sebagai pembawa rnolekul-mokkul kecil erat
kaitannya dengan bahan metabolisme dan berbagai rnacam obat yang kurang larut.
Bahan metabolisme tersebut adalah asam-asam Iernak bebas d m bilirubin. Dua
senyawa kimia tersebut kurang dapat larut dalam air tetapi hams diangkui rnelalui
darah dari satu organ satu ke organ lain agar dapat dimetabolisme atau diekskresi.
Albumin berperan membawa senyawa kmia tersebut, dan perm ini disebut protein
pengangkut non spesifik. Jenis obat-obatan yang tidak mudah larut air yang
rnemerlukan peran albumin adaiah aspirin, antikaagulan, dan obat-obat tidur. Selain
im albumin juga berperan sebagai pengikat anion dan kation kecil, diantaranya adalah
kalsium (Ca). Dan sebagian tembaga plasma terikat dengan albumin
Fungsi utama albumin lainnya adalah menyediakan 80 % pengaruh osmotik
plasma. Hal ini disebabkan albumin merupakan protein dalam plasma, yang jika
dihitung atas dasar berat mempunyai jumlah paling besar dan albumin merniliki
berat: mojekul rendsth dibanding fraksi protein plasma lainnya Montgomery (1993).
Fungsi lain dari albumin adalah penghambatan pembentukan platelet dan anti
trombosit, permiabilitas seI, dan antioksidan (Sunatrio, 2003). Dari analisis korelasi
kadar albumin dengtn aktivitas antioksidan serum diketahui bahwa kadar albumin
serum berkarelasi positif [r = 0,603). Kemampuan albumin sebagai antioksidan
didasarkan pada banyaknya gugus ti01 dalam molekul albumin. Protein yang kaya
akan gums &pat berfungsi sebagai antiapoptosis dan mengurangi oksidasi iisosom
oleh radikal bebas. Lisosom merupakan sub organ yang sangat sensitif terhadap
oksidasi. Kerusakan lisosom menyebabkan pengeluaran enzim-enzim hidrolitik yang
pada tahap berikutnya menyebabkan kerusakan mitokondria dan nekrosis.
Meblotionin dan mineral seng dapat mencegah oksidasi lisosorn oleh radikal-radikal
bebas yang dihasilkan stres oksidatif (Bairds, er.aI, 2006).
Ketersediaan albumin-dengan berbagai macam fimgsi pentingnya bagi tubuh-
dalam esktrak ikan gabus memberikan jawaban atas hipotesis bahwa ekstrak ikan
gabus merupakan pangan sumber albumin yang baik d m Layak untuk diangkat
sebagai makanan kesehatan.

4.2.2. Mineral Seng (Zn)Ekstrak Xkan Gabus


Mineral seng banyak terdapat dalam tanaman, rnikroorganisme, dan hewan.
Pada tubuh manusia dewasa d i t e m u h kandungan seng dengan kisaran 1,4 sampai
2,3 g. Mineral seng dalam plasma berkisar 100 mg/100 ml. Kebutuhan mineral seng
manusia dewasa adalah 15 mghari. Dengan kadar 3,43 mg/100 mi, maka pemberian
3 mVkg bbkari ekstrak ikan gabus dalam diet mempunyai kontribusi asupan mineral
seng sebesar 31,98 % per hari. Dengan kontribusi asupan sebesar 31,98 % tersebut,
ekstrak ikan gabus dikatagorikan sebagai makman sumber mineral seng yang baik.
Kadar mineral seng ekstrak ikan gabus lebih tinggi dibandingkan kadar mineral seng
telur (1,O mg/100 g), sosis sapi (1,8 mg/100 g), daging kalkun (2,l mg/100 g), kacang
buncis (1,O rng/100 g), tetapi Iebih rendah jika dibandingkan dengan kadar mineral
seng hati sapi (6,l mg/100 g), d m daging sapi (6,2 mg/100 g).
Sebagai bagian dari banyak metaloenzim, mineral seng sangat dibutuhkan
dalam hampir semua aspek metabolisme seluler. Seng juga mempengaruhi berbagai
aspek dalam sistem imun, mulai dari sistem pertahanan oleh kulit sampai regulasi gen
pada limfosit. Seng merupakan komponen penting pada struktur d m fungsi membran.
Seng dapat berfungsi sebagai antioksidan, suplementasi seng dapat rnembatasi
kerusakan membran akibat radikal bebas selama inflamasi. Terkait dengan sintesis
protein (jaringan) mineral seng berperan dalam regulasi gen dan menjaga integritas
membm sel, biologis. Mineral seng juga diperlukan untuk menjaga integritas struktur
kulit terdiri dari jaringan-jaringan ikat yang tersusun dari protein. Hendrarto (2007)
menjelaskan bahwa kemampuan seng mempercepat penyembuhan luka disebabkan
seng mempunyai peranan yang penting dalam sintesis protein dan proses replikasi
sel-sel tubuh. Mineral seng juga berperan dalam menurunkan kejadian apoptosis
karena pengaruh stress oksidatif. (Baird, at.al, 2006).
Defisiensi seng dikaitkan dengan perubafian fbngsi sistem imun seperti
menurunnya fungsi sel 3 dan sel T, menurunnya reaksi hipersensitifitas, menurunnya
fagositosis dan menurumya produksi sitokin. Defisiensi seng juga menyebabkan
gangguan penghancuran mikroba, dan juga menyebabkan penghambatan
penyembuhan luka. Samman (2007) menyebutkan bahwa kekurangan mineral seng
dapat menyebabkan kerentanan terhadap infeksi, kerusakan kulit, dan gangguan
proses penyembuhan luka.
Defisiensi mineral seng juga dikaitkan dengan gangguan indera pengecap.
Anak-anak yang mempunyai kandungan seng yang rendah dalam rambut mempunyai
keiainan dalam indera pengecap. Kelainan ini dapat disembuhkan dengan pemberian
suplementasi mineral seng (Piliang, 2006). Samman (2007) melaporkan bahwa
pemberian suplemen mineral seng dapat mengurangi anoreksia pada an& yang
mengalami gangguan pehmbuhan di Etiopia. Dari laporan berbagai studi kasus
diketahui bahwa pemberian ekstrak ikan gabus pada anak dapat lneningkatkan selera
makan an&. Hai ini dapat dikaitkan dengan ketersediaan mineral seng dalam ekstrak
ikan gabus.
HasiX penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak ikan gabus mempakan
pangan sumber mineral seng yang baik. Ketersediaan mineral seng dalam ekstrak ikan
gabus memberikan jawaban atas hipotesis bahwa ekstrak ikan gabus mengandung
mikromineral yang sangat berperan dalam proses penyembuhan luka dan dapat
diapiikasikan juga untuk meningkatkan selera makan pada anak.
4.2.3. Mineral Tembaga (Cu)Ekstrak Ikzm Eabus
Mineral tembaga (Cu) dianggap merupakan suatu komponen yang terkait
dengan mineral besi (Fe) karena sifat dan peranannya yang hampir sama. Mineral
tembaga disimpan di dalam hati. DaXam jumlah sedikit mineral ternbaga ditemukan
dalam otak, sumsum tulang, limpa, jantung, dan ginjal (Piliang, dan Soewondo,
2006). Anak-anak memerlukan mineral tembaga 0,08 mgkgbb, dan jika telah dewasa
memerlukan tembaga 0,03 mg/ kg bb. Pemberian 3 mVkg bbhari ekstrak ikan gabus
rnemberikan kontribusi asupan mineral tembaga sebesar 3,228 mg per hari dan telah
memenuhi kebutuhan tubuh &an mineral tembaga sehari. Dengan dernikian ekstrak
ikan gabus dapat dikatgorikan ke dalam makanan sumber tembaga yang baik.
Mineral tembaga memegang perman yang sangat penting daiam beberapa
enzim temtarna mine oksidase dan piridoksal fosfat. Mineral tembaga dikaitkan
dengan penyatuan kolagen dan elastin. Hewan-hewan percobaan yang diberi ransum
defisiensi mineral tembaga dilaporkan mengalami gangguan kerja otot jantung yang
dimungkinkan terkait dengan tidak terjadinya penyatuan jaringan kolagen d m elastin
(Piliang, 2006). Mineral ternbaga juga berperan daiam menjaga integritas selaput
myelin, pembentukan tulang dan jaringan pengikat, pembentukan pigmen melanin
dalam kulit dan rambut, fingsi reproduksi dan juga fbngsi jantung.
Defisensi mineral tembaga dikaitkan juga dengan gangguan respon imun,
gangguan fungsi retikulo endotelial dan aktivitas rnikrobial sel fagositosit. Hal ini
berhubungan dengan peran tembaga dalam sistem superoksida dismutase (SOD) dan
sitokrom oksidase. Defisiensi mineral tembaga juga dapat menyebabkan penmnan
respon antibodi terhadap antigen T dependen. Keberadaan mineral tembaga dalam
ekstrak ikan gabus memberikan dukungan informasi tentang keterkaitan ekstrak ikan
gabus dengan proses penyembuhan luka.

4.2.4. Mineral Besi (Fe) Ekstrak Ikan Gabus


Mineral besi (Fe) rnerupnkan jenis mineral mikro dengan kadar dalam tubuh
35 mg/kgbb. Mineral besi dalam tubuh sebagian besw terletak dalam sel-sel darah
merah sebagai heme. Mineral besi juga ditemukan dalam sel-sel otot khususnya dalam
mioglobin. Mineral besi pangan dapat dikelompokkan menjadi mineral besi heme
(pangan hewani) dan non heme (pangan nabati). Mineral besi jenis heme (hewani)
mempunyai bioavabilitas yang lebih baik dibanding non heme. Ditinjau dari bahan
pembuatan ekstrak ikan gabus, mineral besi dalarn ekstrak ikan gabus digotongkan
dalam besi heme yang bioavabilitasnya dapat disejajarkan dengan besi dari daging.
*
Kadar mineral besi ekstrak ikan gabus 0,81 0,09 mg/100 ml, Iebih tinggi j i b
dibandingkan dengan susu sapi segar (0,2-0,4 mg/100 ml), tetapi lebih rendah jika
dibandingkan dengan Fe telur (3,3 mg/100 g). Dengan pemberian 30 ml/kg bbkari,
ekstrak ikan gabus berkontribusi memberikan asupan Fe sebesar 737 % AKG per
hari, sehingga ekstrak ikan gabus bukan merupakan sumber Fe yang baik.
Mineral ksi dikaitkan dengan hemoglobin yang terdapat dalam sel-sel darah
rnerah, transferin , dm feritin. Fungsi ut-ama mineral ini adalah pembawa oksigen
untuk fungsi oksidasi tubuh, sehingga ketersediaan mineral besi yang menentukan
aktivitas metaboIisme. Defisiensi mineral besi dihubungkan dengan anemia. Anemia
mernpunyai kaitan yang sangat erat dengan proses metabofisme.

4.3. Aktivitas Antiohidan Ekstrak I h n Gabus


Antioksidan adalah suatu senyawa yang dapat menghambat atau mencegah
proses oksidasi. Berbagai metode dapat diterapkan untuk mengukur aktivitas
antioksidan, diantamnya adalah dengan uji DPPH (Diphenylpiclyl hydrmyl ). DPPH
adalah salah satu contoh senyawa radikal yang stabil, yang akan menghasilkan radikal
bebas aktif bila dilarutkan dalam afkohol. Radikal bebas tersebut stabil dengan
absorpsi maksimum pada panjang gelombang 517 nrn dm dapat direduksi oIeh
senyawa antioksidan.
Ekstrak ikan gabus mempunyai kemampuan rnereduksi DPPH (aktivitas
antioksidan) sebesar 0,14 * 0,002 mmaV1, dan jika dibandingkan dengan aktivitas
antioksidan vitamin E (0,12 mmoVl), maka antivitas antioksidan vitamin E lebih baik
(labih efektif) dibandingkan dengan ekstrak ikan gabus. Kernampuan ekstrak ikan
gabus mereduksi DPPEI (antioksidan) dapat dikaitkan dengan komponen albumin d m
mineral yang ada di dalamnya. Albumin merupakan protein yang mampu melakukan
pengikatan dengan radikal bebas di dalam plasma. Molekul albumin mempunyai 17
ikatan disulfida yang menghubungkan asam amino - asam amino yang mengandung
sulfir (sistin, sistein, metionin). Posisi ikatan sulfida dalam BSA ada pada (1) 77-86;
(2) 99-1 15; (3) 114-125; (4) 147-192; (5) 191-200; (6) 223-269; (7) 268-276; (8) 288-
302; (9) 301-312; (10) 339-384; (11) 383-392; (12) 415-461; (13) 460-471; (14) 484-
500; (15) 499-510; (16) 537-582; (17) 581-590. Skema posisi disulfida dalam albumin
yang diusulkan oleh He dan Carter (1992) disajikan pada Gambar 16. Keberadaan
ikatan disulfida dalam albumin ekstrak ikan gabus inilah yang dirnungkinkan
berikatan dengan DPPH dan menyebabkan tingginya kapnsitas antioksidan ekstrak
ikan gabus. (Sunatrio, 2002 ;Arief, 2008).
Faktor lain yang dimungkinkan menjadi penyebab tingginya aktivitas
antioksidan ekstrak ikan gabus adalah mineral-mineral. MineraI Zn, Cu, dm Fe
menxpakan logam bemuatan positif yang mudah bereaksi dengan atom atau senyawa
fain termasuk DPPH. Zn merupakan logam bernomor atom 30, berkonfigurasi 2-8-
18-2, dan dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi +2, sehingga Zn mudah
mengalami oksidasi. Cu rnerupakan logam bernomor atom 29, berkonfigurasi electron
2-8-1 8-1, dan dalam senyawa mempunyai bilmgan oksidasi 4-2 dm +1, sehingga Cu
mudah mengalami oksidasi sebagaimana Zn. Fe rnerupakan iogam bernomor atom 26,
berkonfigurasi electron 2-8-14-2, dan dalam senyawa mempunyai bilangan oksidasi
+2 dan +3, sehingga Fe rnudah mengalami oksidasi sebagairnana Zn dan Cu (Sunardi
,2007).

Subdo main Oubdcr main D

Gambar 16. StrukfxrKirnia Albumin

4.4. fengarub Pernberian Ekstrak Lbn Gabus terhadap Fungsi Hati

4.4.1. Pertambahan Berat Badan Tikus


Pertambahan berat badan mempakan salah satu parameter kesehatan. Pada
masa pertwnbuhan dm perkembangan yang normal, sernakin bertambah umur
sernakin bertambah berat badannya. Berat badan akan bertarnbah jika aktivitas
anabolisme lebih besar dibandingkan katabolisme tubuh. Keseimbangnn energi dapat
dicapai bila energi yang masuk ke dalstm tubuh sarna dengan energi yang dikeluarkan
oleh tubuh. Keadaan yang seimbang ini akan menghasilkan berat badan yang ideal.
Pertambahan berat badan tikus setelah perlahan disajikan pada Gambar 17.

PCT

Keterangan : EIG30 rtdatah kefompok tikus yang diberi ransum standar clan elcstrak ikan gabus 30
mYkg bWfiari rip diinduksi den- parasetam01 dosis tinmi, EIG30PCT adalah kefompok tikus
yang diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 30 mlkg bbhari dan diinduksi dengan parasetarnal
dosis tinggi, EIG60PCT addah kelompok tikus yang diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 60
mlkg bbhnri dm diinduksi dengan parasetamol dosis tinggi, KRPCT adalah kelampok tikus yang
diberi ransum standar dan kurkurnino 30 mgkg bb/fistri dan diinduksi dengn parasetarnot dosis tinggi,
dm PCT adalah kelompok tikus yang diberi ransum standar dan diinduksi dengan parasetnmol dosis
tinggi. Natasi diatas diagram batang ymg berbeda, menunjukkan adanya perbedaan yang nyata
(~<0,05)

Gambar 17. Pextambahan BB Tikus Percobaan

Dari analisis Anova diketahui bahwa perlakuan memberi pengaruh yang nyata
@<0,05) terhadap pertambahan berat badan tikus, dan dari uji lanjut BNT diketahui
pertambahan berat badan kelompok PCT mempunyai pertambahan berat badan paiing
kecil dan berbeda secara nyata (p < 0,051 dibanding keiompok lainnya. Pertambahan
berat badan berbesar terjadi pada kelompok KRPCT (pernbanding). Pertambahan
berat badan kelompok W C T tidak berbeda nyata dibandingkan dengan kelotnpok
EIG60PCT, tetapi berbeda nyata jika dibandingkan dengan kelompok EIG30PCT.
Perkmbahan berat badan kelompok EIG30PCT tidak berbeda nyata jika
dibandingkan dengan kelornpok EIG30, tetapi berbeda nyab jika dibandingkan
dengan kelompok EIG60PCT dan KlZPCT. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian
parasetarno1 dosis 500 mgkg bbkrtri seIma 7 hari berturut-turut dapat menghambat
pertambahan berat badan tikus percobaan, dan pemberian ekstrak ikan gabus dapat
memperkecil hambatan perlambahan berat badan tikus percobaan akibat parasetamol
(perbandingan PCT,EIG30, dan EIG30PCT). Peningkatan dosis pemberian ekstrak
ikan gabus dapat lebih memperkecil hambatan pertambahan bemt badan tikus
percobaan (perbandigan EIG30PCT dengan EIG60PCT).

,,
*I.,

5:, '
",..
I ".. #,>

C
,;
.r .l
,
;=
.. \

$: ;,'. ... F. : . ., " ':-,


5,; 2 ., . . , ;i
\\r,-i.:? ,-. -
,: . ..il' ;

< , >,." , - ,
< 3 < * * ; :
%:
iz
. ,
' , -<:;-;
k, >+
>:.3 .-.. ..;
s'\
,-: ,> f"---.
a,.
,,,>,,- . ? ! '! ,
"-...-. ' - .. ."
+'
.
Kecilnya pertambahan berat badan kelompok PCT dapat dikaitkan dengan
besarnya aktivitas katabolisme unmk metabolisasi obat pada tikus kelompok PCT
dibandingkan kelompok yang lain. Keterkaitan metabolisme parasetamol dosis tinggi
dengan rendahnya pertambahan berat badan tikus dijabarkan sebagai berikut :
e Metabolisme parasetamol dosis tinggi akan menghasilkan NAPQI yang
bersifat radikai bebas.
e Perlekatan NAPQI dengan sistein menyebabkan gangguan transport cairan
sef, dan mernerlukan ATP lebih besar untuk rne~npertahankankeseimbangan
cairan sel. Kebutuhan ATP (energi) yang Iebih tinggi pada kekompok PCT
inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab kecilnya pertambahan berat
badan tikrrs kelompok PCT.
e Metabolisme normal parasetamof memerlukan glukoronat konjugase, dimana
sintesisnya memerlukan energi d m protein. Kekurangan asupan protein
menyebabkan terganggunya enzim-enzim pemetabolisme obat. Gangguan
enzim pemetabolisme obat h n berdatnpak peningkatan radikal bebas dalam
darah. Gibson (2006) menjelaskan bahwa tikus yang diberi ransum dengan
kadar protein 5 % akan teijadi penurunan kapasitas enzirn pemetabolisasi obat
ohidatif, dan jika diberikan ransum dengan kadar protein 20 %, kapasitas
enzim pemetabolisasi obat akan kembali normal.
a Faktor-faktor lain yang mempengmuhi kapasitas enzim pemetabolisasi obat
adaiah penurunan aktivitas enzim dalam hati, perubahan aliran darah hepatik,
dan hipoalbuminemia. Adanya gangguan metabolisme yang besar pada
kelompok PCT dapat dikaitkan dengan rendahnya kadar albumin serum.
Kadar albumin kelompok PCT paling rendah dibandingkan dengan kelompok
lainnya (Gambar 19). Hasil analisis kadar albumin serum ini memberikan
dukungan bahwa kelompok PCT mengalami gangguan pada aktivitas
metabolisasi obat paling besar, sehingga kemampuan sintesis jaringan lebih
kecil dibandingkan dengan kelompok lainnya. Kelompok BIG baik EIG30,
EIG30 PCT, maupun ETGBO PCT rnendapatkan asupan protein, albumin, dan
mineral mineral yang dapat befingsi sebagai sumber cadangan energi dan
asam amino serta antioksidan. Ketersediaan energi dan protein serta
antioksidan, akan mendukung aktivitas metabolisasi obat d m reduksi senyawa
radikal yang dihasilkan oleh metabolisme obat tersebut. Kelompok KR PCT
mendapat asupan kurkurnino yang dapat mereduk-si senyawa radikal bebas
hasil metabolisme obat.
o Dengan tingginya aktivitas metabolisasi obat pada tikus kelompok kontrol
positif, sedangkan asupan zat gizi dan juga antioksidan yang terbatas (lebih
rendah disbanding kelompok EXG maupun KRPCT) maka pertambahan berat
badan akan kecil.
Ekstrak ikan gabus mengandung protein yang diperlukan untuk sintesis
jaringan dan cadangan energi. Ekstrak ikan gabus juga mengandung mineral seng,
tembaga, dan besi, serta mempunyai aktivitas antioksidan tinggi. Keberadaan protein,
mineral seng tembaga, dan besi, serta adanya aktivitas antioksidan menyebabkan
tikus yang mendapatkan tambahan ekstrak ikan gabus mempunyai pertambahan berat
badan yang lebih banyak dibanding kelompok PCT.

4.4.2. Kadar SGOT dan SGPT Serum


Hati mempunyai hngsi yang sangat banyak, salah satunya adaIah hngsi
detoksifikasi. Hati bertanggung jawab atas biotransfomasi zat-zat berbahaya
(rnisainya obat) menjadi zat-zat yang tidak berbahaya yang kemudian dieksresikan
oleh ginjal. Gangguan fungsi hati dapat dideteksi dengan pengukuran kadar SGOT
dan SGPT. SGOT dan SGPT merupakan enzim intrasel (jantung, hati) yang
dilepaskan dari jaringan yang rusak. Jika hati mengalami gangguan maka kadar
SGOT dm SGPT dalam darah &an mengaiami kenaikm. Kisaran kadar S W T
normal untuk tikus berkisar 17,OO - 30,20 U/1, sedangkan kadar SGPT berkisar 45,7 -
80,8 U/l. Rata-rata kadar SGOT dan SGPT tikus percobaan disajikan pada Gambar
1%.
Dari Gambar 18 diketahui bahwa pemberian parasetarno1 dosis 500 mgkg
BB/hari selama 7 hari berturut-turut melalui sonde secara nyata (p < 0,05)
rneningkatkan kadar SGOT. Peningkatan kadar SGOT d m SGFT menandakan
adanya gangguan fungsi hati pada tikus percobaan. Dari analisis Anova diketahui
bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (p < 0,05) terhadap kadar SGOT,
tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata pada kadar SGPT. Dari uji lanjut BNT
diketahui rata-rata kadar SGOT kelompok PCT paling tinggi d m berbeda secara nyata
(p<0,05) dibmdingkan dengan kelompok lainnya. Rata-rata kadar SGOT terendah
terdapat pada kelompok ETG60PCT. Rata-rata kadar SGOT kelornpok EIG30,
EIG30PCT, dm KRPCT tidak menunjukkan perbedam yang nyata. Hasil inj
menunjukkan bahwa pemberim ekstrak: ikan gabus dapat menahan peningkatan kadar
SGOT dan SGPT akibat pernberian parasetamol dosis 500 mgkg bblhari seIama 7
hari bertumt-brut, sebagaimana kurkumino (pembanding). Peningkatan dosis
pemberian ekstrak ikan gabus secara nyaw (p < 0,051 dapat meningkatan kemampuan
menahan kenaikan kadar SGOT akibat pernberian parasetamol dosis tinggi.
Kemampuan ekstrak ikan gabus menahan kenaikan kadar SGOT secara tidak langung
mencenninkan kemampuan ekstrak ikan gabus rnelindungi jaringan hati
fiepatoprotectou) akibat parasetamol dosis tinggi.

iI ~ S G O T SGPT

!
140.0
i; 120.0 102.2(b) 109.2(b)
1 Kadar 100.0
i
SGOT-SGPT 80.0 2
I tU/LI 60.0
/ 40.0
20.0
0.0
CIGSOPCT EIG60PCT KRPCT PCT

kelompak Perlakuan

Keterangan : EIG30 adalah kelompok tikus yang diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 30
mlkg bblhari tanpa diinduksi dengan parasetamol dosis tinggi, EIGSOPCT adafah keiompok tikus
yang diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 30 mllkg bb/hari dan diinduksi dengan parasetamol
dosis tinggi, ElGdOPCT adalah keiompak tikus yang diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 60
mllkg bblhnri dan diinduksi dengan pmsetamol dosis tinggi, KRPCT adalah kelompok tikus diberi
yang diberi ransum standar dm kurkumino 30 mgkg bbhari dan diindulcsi dengan parasetamol dosis
tinggi, dan PCT adalah kelompok tikus yang diberi ransum standar dan diinduksi dengan parasetamol
dosis tinggi. Notasi diatss diagram batang yang hrbeda, menunjukkan adanya perbedaan yang nyata
(p<0,051
Gambar 18. Kadar SGOT dan SGPT serum Tikus Percobm

Kenaikan SGPT tidak setinggi SGOT, ha1 ini disebabkan karena induksi
parasetamof dibecikm secara berkelitnjutan. Disebutkan oleh Kozer et al, (2003)
bahwa pemberian parasetamol dosis tinggi yang berkelanjutan dapat menurunkan
kadar glutation. Penunrnan kadar glutation berdampak pada peningkatan kejadian
kerusakan sel karena serangan radikal bebas. Sehingga diduga pemberian parasetamol
dosis tinggi selama 7 hari berturut-htrut pada tikus tefah menyebabkan kerusakan hati
yang cukup besar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Jawi, st al, (2008)
tentang efek parasetamol terhadap kadar SGOT dan SGPT darah mencit yang diberi
alkohol akut dan alkohol kronis. Dari peneIitian Jawi tersebut diketahui adanya
peningkatan SGOT yang lebih mencolok dibanding dengan peningkatan SGPT, dan
dari analisisjaringan hati didapatkan adanya nekrosis pada sel-sel hati. Satyawirawan
(1983) menjelaskan bahwa GOT terdapat dalam sitoplasma dan mitokondria yang
akan mengalami peningkatan Iebih tinggi daripada GPT pada kerusakan hati yang
lebih dalam dari sitoplasma sel. Keadaan ini ditemukan pada kerusakan hati yang
menahun.
Mekanisme gangguan fhngsi hati oleh parasetamol yang ditandai dengan
peningkatan kadar SGOT dan SGPT diawali dengan kejenuhan jaiur sulfat dan
giukoronat konjugase yang mempakan jalur normal metaboiisme parasetamol.
Kejenuhan jalur suifat dan glukoronat konjugase menyebabbn parasetamol
dimetabolisme inelalui mekanisme sitokrom P450yang mengkonversi parasetamol
menjadi N-acetyl-p-benzo-quinoneimine (NAPQI). NAPQI mempunyai sifat yang
lebih reaktif (lebih radial) dibanding parasetamol. Berkaitan dengan sifatnya yang
sangat tidak stabii dan reaktif, maka untuk memperoleh pasmgan elektron, radikal
bebas akan menyerang secara acak. Radikal bebas dapat menyerang lemak, gula,
protein dan DNA meldui mekanisme rantai reaksi seliingga dapat menimbulkan
kerusakan membran sei, perubahan sifat dan struktur protein, deaktivasi enzirn dan
kerusakan DNA.
NAPQI yang terbentuk dapat berikatan dengan cystein group protein
membentuk acetaminophen-protein adduts baik dengan enzim maupun protein dalam
set, dan dalam mitokondria, sehingga terjadi gangguan fingsi yang pada akhimya
terjadi kerusakan seI (Jawi, et al, 2008). Kerusakan membran sel akan
rnengakibatkan enzim-enzim yang berada dalam sel keluar menuju peredaran darah.
GPT dan GOT merupakan enzim-enzim intraseluler yang akan keluar menuju
peredaran darah jika terjadi kebocoran membran sel. NAPQI juga berpotensi
meningkatkan stress oksidatif karena berhubungan dengan menurunnya glutation
dalam tubuh. Peningkatan stress oksidatif dapat berakibat pada gangguan
keseimbangan pompa, sehingga tubuh memerlukan ATP yang lebih banyak unt-uk
menjaga keseimbangan ion kalsium intra dan ebtra seluler. Dilaporkan oleh Kozer
(2003) bahwa pemberian parasetamol dapat menumnkan kadar glutation dalam darah
yang memicu peningkatan stress oksidatif.
Terkait dengan stress oksidatif, gangguan fungsi membran sel (akibat
perlekatan NAPQI) dapat mengganggu aliran ATP yang pada tahap selanjutnya
mengganggu transport kalsium ke dalam sel. Gangguan tranpor kalsium menyebabkan
stress oksidatif. Sees oksidatif yang diakibatkan oleh peningkatan ion kalsium
intmeluler dapat terjadi melalui 3 mekanisme utama, yaitu:
1. Meningkatnya ion kalsium intraseluler akan meningkatkan aktivitas enzim
fosfolipase yang selanjutnya akan meningkatkan konsentrasi asam arakidonat
dan produksi radikal bebas meialui metabolisme asam lemak
2. Meningkatnya ion kalsiurn intraseluler akan menyebabkan sistem transport
elektron dalarn mitokondria terganggu sehingga menimbulkan kebocoran
elektron dan menyebabkan terbentuknya radikal bebas anion superoksida
3. Meningkatnya ion kalsium intraseluler akan meningkatkan ROS yang
menimbulkan dampak kerusakan terhadap sel yang lebih besar
Ditinjau dari dugaan adanya stress oksidatif yang terjadi, kelompok PCT
berpotensi mengalami stress obidatif paling besar. Kemungkinan adanya stress
oksidatif yang besar pada kelompok PCT juga dapat dikaitkan dengan aktivitas
antioksidan serum tikus percobaan (Gambar 20). Dari gambar 20 diketahui bahwa
tikus kelompok PCT mempunyai aktivitas antioksidan serum terendah, dan dari uji
korelasi diketahui bahwa terdapat korelasi yang negatif - femahantara kadar SGOT
dan SGPT dengan aktivitas antioksidan serum. HasiX anaiisis regresi ini menunjukkan
bahwa aktivitas antioksidan serum mempunyai peranan (keci1) dalam menahan
peningkatan kadar SGOT dan SGPT akibat pemberian perasetamol dosis tinggi.
Pemberian ekstrak ikan gabus (EIG) baik dosis 30 m&g bbihari EIG3OPCT
maupun dosis 60 rnl/kg bblhari EIGSOPCT secara nyata (p<0,05) dapat melidungi hati
dari keracunan parasetamol. Hal ini terlihat dari rendahnya kadar SGOT dan SGPT
kelompok EIG dibandingkan dengan kelompok PCT. Mekanisme perlindungan yang
diberikan oleh ekstrak ikan gabus terhadap keracunan hati akibat parasetamol dosis
tinggi ini diduga terkait dengaa ketersedian protein yang merupakan swnber cadangan
energi yang dibutuhkan untuk pernbentukan ATP, asam amino (tenttama bergugus
tioi), albumin yang merupakan media traspor bagi mineral, dan mineral-mineral yang
bersifat antioksidan (Zn, Cu). ATP dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga
keseirnbangan ion akibat gangguan membran sel oleh NAPQI, sehingga kejadian
stress oksidatif dapat ditekan. Albumin diperlukan untuk mengikat asetaminofen
sehingga tidak terbentuk ikatan asetaminofen dangan protein (sisten) pada jaringan.
Albumin dan mineral-mineral antioksidan diperlukan untuk menetralisir radikat bebas
temasuk NAPQI hasil metabolisme parasetamot dosis tinggi. DiIaporkan oleh Zhang
(2008) bahwa albumin merupakan kornponen antiapoptosis dan antioksidan.
Pengujian laboratorium membuktikan bahwa pemberim albumin 5 % mengakibatkan
penurunan aktivitas apoptosis di paw-paru dan Iuka terbuka.
Dari analisis kadar albumin (Gambar 19) dan aktivitas antioksidan serum
(Gambar 20) diketahui bahwa kadar albumin dan aktivitas antioksidan kelompok PCT
paling rendah. Dari analisis korelasi diketahui bahwa aktivitas antioksidan semm
berkorelasi positif (r = 0,61) dengan kadar albumin serum, artinya sekitar 61 %
aktivitas antioksidan serum diperankan oleh albumin. Kadar albumin serum akan
berpengaruh terhadap besar kecihya kerusakan (dishngsi) hati. Aktivitas antioksidan
serum berkorelasi negatif dengan kadar SGOT dan kadar SGPT. Hasil ini
membuktikan bahwa ketersediaan antioksidan sangat mempengaruhi kadar SGOT dan
SGPT yang merupakan tanda awal gangguan fungsi hati, dan albumin sebagai salah
sahr jenis antioksidan yang terkandung dalam ekstrak ikan gabus berperan penting
dalam pengendalian kadar SGOT dan SGPT.
Faktor lain yang menjadi penyebab rendahnya kadar SGOT pada kelompok
yang diproteksi dengan ekstrak ikan gabus adalah adanya mineral seng, tembaga, dan
juga besi dalam ekstrak ikan gabus. Mineral seng dapat berfbngsi sebagai antioksidan
(Sharon Hu, 2003). Mineral seng bersama-sama dengan protein dapat melindungi
Xisosom dari reaksi oksidasi oleh senyawa radikal bebas. Lisosom sangat sensitif
terhadap oksidasi. Kerusakan lisosom menyebabkan pengeluaran enzim-emim
hidroiitik yang pada tahap berikutnya menyebabkan kerusakan mitokondria dan
nekrosis. Mineral seng dan protein dapat mencegah oksidasi Iisosom oieh radikal-
radikal bebas yang dihasilkan stress oksidatif Pairds, etal, 2006). Terkait dengan
perbaikan mekanisme pompa KATP,Prost (2004) melaparkan bahwa mineral seng
intra seluler sangat berperan dalam pengatvran pompa KATP.
Dari paparan keterkaitm pemberian parasetamoi dosis tinggi, ekstrak ikan
gabus dan kadar SGOT-SGPT diatas diketahui bahwa pemberian ekstrak ikan gabus
dapat menahan kenaikan kadar SGOT-SGPT. Kemampuan ekstrak ikan gabus
menahan kenaikan SGOT dan SGPT tersebut secara tidak langsung menggambarkan
kemampuan ekstrak ikan gabus mefindungi jaringan hati dari keracunan parasetamoI
(hepatoprotector).

4.4.3. Kadar Albumin Serum


Albumin merupakan protein plasma yang disintesis di hati. Kadar albumin
semm ditentukan oleh fungsi laju sintesis, laju degradasi, d m distribusi antara
komparteman intravaskuler dan ekstravaskuler. Laju sintesis albumin 12 - 25 ghari.
Pada keadaan norma! hanya 20 - 30 % hepatosit yang memproduksi albumin. Akan
tetapi Iaju sintesis ini bervariasi tergantung ada tidaknya gangguan hngsi hati
(penyakit), ketersediaan zat-zat gizi, dan lingkungan osmotik serta hormonal yang
sesuai (r-rasan, 2008). Sintesis albumin mengalami penekanan pada sejumIah keadaan
misalnya pada malnutrisi protein (kwashiorkor) dan pada penyakit hati. Batas normal
kadar albumin adatah 3,5 - 5,5 g/100 ml. Rata-rata kadar albumin serum tikus
percobaan setelah perlakuan disajikan pada Gambar 19.

CiG30 CIG3OPCT CIGGOPCT KRPCT PCT

kelornpok perlakuan

Keterangan : EIG30 adalah kelornpok tikus yang diberi ransum standar dm ekstrak ikan gabus 30
mllkg bblhari tanpa diinduksi dengan parasetrun01 dosis tinggi, EIG30PCT adalah kelornpok tikus
yang diberi ransum standar dan eksbrak ikan gabus 30 mllkg bbhari dan diinduksi dengan parasetamol
dosis tinggi, EIG60PCT adalah kelompok tikus yang diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 60
mfkg bblhslri dan diinduksi dengan parasetarno1 dosis tinggi, KRPCT adalah kelompok tikus diberi
ymg diberi rmsurn stnndar d m hrkumino 30 mgkg bblhari dan diinduksi dengan pmasetmol dosis
tinggi, dan PCT adalah kelompok tikus ynng diberi ransum standar dan diinduksi dengan parasetamoI
dosis tinggi. Notasi diatas diagram batang yang berbeda, rnenunjukkan adanya perbedaan yang nyata
(~<0,05)

Gambar 19. Kadar Albumin Serum Tikus Percobaan

Dari analisis Anova diketahui bahwa perlakuan memberikan pengamh yang


nyata (p < 0,05) terhadap kadar albumin serum.Dari uji lanjut BNT (Lampiran 3)
diketahui kefompok PCT mempunyai rata-rata kadar albumin serum yang paling
rendah dan berbeda secara nyata (p < O,05) dibmdingkm dengan keiompok iainnya.
Kelompok WCPCT (pembanding) mempunyai kadar albumin tertinggi. Rata-rata
kadar albumin serum kelompok KRPCT (pembanding) tidak berbeda nyata
dibandingkan dengan kelompok EIG60PCT, tetapi berbeda nyata jika dibandingkan
dengan kelompok EIG30PCT dan EIG30. HasiI ini menunjukkan bahwa pemberian
parasetamol dosis 500 mg/kg bb/hari seIama 7 Rari dapat rnenurunkan kadar aibumin
serum meskipun tidak melewati ambang bawah (deplesi albumin). Pemberian ekstrak
ikan gabus dau kurkurnino dapat menahan penurunan kadar albumin akibat
parasetam01 dosis tinggi tersebut, Peningkatan dosis pemberian ekstrak ikan gabus
dari 30 mVkg bbthari menjadi 60 ml/kg bblhari memberikan pengaruh yang nyata
terhadap perubahan kadar albumin serum.
Rendahnya kadar albumin kelompok PCT dapat dikaitkan dengan gangguan
fungsi hati akibat radikal bebas NAFQI hasil metabolisme parasetamof dosis tinggi.
Untuk rnereduksi NAPQI diperluan energi, protein d m antioksidan, dan di sisi lain
kelornpok PCT merupakan keIompok yang paling rendah dalam kadar albumin dan
antioksidan (Gambar 19 dan Garnbar 20). Dampak dari rendahnya aktivitas
antioksidan dalam serum kelompok PCT adalah termanfaatkannya albumin serum
untuk rnereduksi NAPQI, sehingga kadar didalam serum akan berkurang. Dijelaskan
oleh Murray, et al, (1995) bahwa penurunan kadar albumin serum terjadi karena
keadaan rnalnutrisi protein atau penyakit hati yang kronis. Jika penyakit hati sudah
merusak sel dan berjalan lebih dari tiga minggu akan rnenyebabkan tertekannya
sintesis albumin yang menyebabkan rendahnya kadar albumin di dalam darah.
Pemberian ekstrak ikan gabus secara nyata dapat: menahan penurunan kadar
albumin karena pemberian parasetamol dosis tinggi. Ha1 ini disebabkan daiarn eks&
ikan gabus rnengandung protein (albumin), mineral seng, mineral tembaga dan
ekstrak ikan gabus mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. Protein dan albumin
diperlukan untuk cadangan energi dan sintesa albumin serum. Albumin bersama-sama
dengan mineral seng diperlukan untuk menetralisasi radikal bebas termasuk NAPQI
yang dihasiikan dari metabolisme parasetarno! dosis tinggi.

4.4.4. Aktivitas Antioksidan Serum


Metabolisme tubuh akan selaiu menghasilkan radikal-radikal bebas. Tubuh
memerlukan antioksidan untuk menetralisir radikal bebas, baik yang dihasilkan obh
metabolisme (endogen) maupun radikal yang berasal dari luar hbuh (eksogen).
Pemberian parasetanal dosis 500 mgkg bblhari selama 7 hari berturut-turut secara
nyata mcnurunkan aktivitas antioksidan dalam serum tikus. Aktivitas antioksidan
serum tikus percobm disajikan pada Gambar 20.
f

I
1
20
IS 16.5 (C)
--
11
i
f Aktivilas
Ii
I
Antioksidnn 10 i
(Yo) I
I
I1
I CIG30 tlC30PCT TIGGOPCT KRPCT PCT
1
k e l o m p o k perlokuan

Keterangan : EIG3O adalah kelompak t i h s ymg diberi ransum standar dm eeirstrak ikm gabus 30
mVkg bblhari tanpa diinduksi dengan parasetamol dosis tinggi, EIG30PCT adatah kelompak tikus
yang diberi ransurn standar dan ekstrak ikan gabus 30 mlkg bblbari dan diinduksi dengan parasetamol
dosis tinggi, EIG60PCT adalah kelompok t i h s yang diberi ransum standar dan ekstrak ikan gabus 60
mVkg bblhari dm diinduksi dengan parasetamol dosis tinggi, KRPCT adalah kelompok tikus diberi
yang diberi ransum sbndar h n kurkumino 30 mg/kg bbhari dan diinduksi dengan parasetamol dosis
tinggi, dan PCT adalah kelompk tikus yang diberi ransum standar dan diinduksi dengan parasetamol
dosis tinggi. Nomi diam diagram batnng yang berbedn, rnenunjukkan adanya perbedaan yang nyata
@-=0,05)
Gambar 20. Aktivitas antioksidan serum

Dari analisis Anova diketahui bahwa perlakuan berpengaruh nyata (p<0,05)


terhadap aktivitas antioksidan serum, dan dari uji lanjut BNT diketahui bahwa
kelompok PCT rnempunyai aktivitas antioksidan serum terendah dan berbeda secara
nyata dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum kelompok lainnya, Keiornpok
KRPCT (pembanding) mempunyai aktivihs antioksidan serum tertinggi d m berbeda
nyata jika dibandingkan dengan aktivitas antioksidan serum kelornpok EN330 dm
aktivitas antioksidan serum kelompok EIG30PCT, tetapi tidak berbeda nyata jika
dibandingkan dengan akivitas antioksidan serum kelompok EIG60PCT. Aktivitas
antioksidan serum kelompok EIG30 lebih tinggi dan berbeda nyata jika dibandingkan
dengan aktivitas antioksidan serum kelompok EIG30PCT. Hasil ini rnenunjukkan
bahwa pemberian parasetam01 dosisi SO0 mgkgbblhari selama 7 hari meialui sonde
dapat menumnkan aktivitas antioksidan serum.Pernberian ekstrak ikan gabus dapat
menahan penumnan aktivitas antioksidan serum akibat pemberian parasetamol dosis
tinggi. Peningkatan dosis pemberian ekstrak ikan gabus dari 30 mlkg bbhari menjadi
60 rnl/kgbb/hari dapat menahan penunrnan aktivitas antioksidan serum akibat
parasetamol dosis tinggi secara bermakna.
Kernampuan ekstnk ikan gabus menahan penurunan aktivitas antioksidan
serum akibat pemberian parasetamol dosis tinggi dapat disebabkan oleh beberapa
faktor diantaranya adatah ketersediaan albumin d m mineral daiarn ekstrak ikan gabus.
Albumin memegang peranan penting dalam mempertahan aktivitas antioksidm
serum. Dari hasil analisis regresi diketahui bahwa aktivitas antioksidan serum
berkorelasi positif (r = 0,61) dengan kadar albumin serum. Ha! ini rnenunjukkan
bahwa aibumin merupakan salah satu senyawa dalam darah yang yang mempunyai
peranan terkait dengan aktivitas antioksidan serum. Disebutkan oIeh Chuang eta[.,
(2006) bahwa albumin merupakan salah satu antioksidan plasma yang penting.
Senyawa-senyawa lain dalam serum yang merupakan antioksidan tubuh antara lain
asam urat, bilirubin, vitamins A, C dan E.
Kcterkaitan albumin dengan aktivitas antioksidan serum disebabkan pada
molekul albumin terdapat 17 ikatan disulfida yang menghubungkan asam-asam amino
yang mengandung sulfur (Gambar 16). Keberadaan ikatan disulfida dalam albumin
inilah yang berikatan dengan radikal bebas @PPH) dan menyebabkan tingginya
aktivitas antioksidan serum tikus yang mendapat mmakanan tambahan ekstrak ikan
g a b s dan kurkumino.
Aktivitas antioksidan serum berperan dalam pengendalian kadar SGOT dan
SGPT. Peningkatan kadar SGOT dan SGPT disebabkan adanya gangguan pada faaI
hati yang salah satu penyebabnya adalah serangan radikal bebas termasuk NAPQI
hasil metabolisme parasetamol dosis tinggi. Ketersediaan antioksidan dalam tubuh
(darah) sangat diperlukan untuk menehalisir radikal-radikal bebas tersebut. Dari hasit
analisis regresi diketahui bahwa terdapat korefasi yang negatif antara kadar SGOT
(r = - 0,051) dan SGPT (r = - 0,251 dengan aktivitas antioksidan serum, Minya
semakin tinggi aktivitas antioksidan serum samakin rendah kadar SGOT dan SGPT.
Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa aktivitas antioksidan serum mempakan salah
satu faktor (keciVlemah) yang dapat menahan kenaikan kadar SGOT dan SGFT akibat
pemberian parasetamol dosis tinggi.

4.5. Gambaran Hlstologi Hati Tikus Perlakuan


Detoksifikasi merupakan saiah satu fungsi penting hati bagi tubuh. Hati sangat
berperan dalarn pertahanan tubuh melawan invasi bakteri dan senyawa-senyawa
beracun lainnya. Metabolisme parasetamol berlangsung di hati. Pemberian
parasetarno1 dosis toksik (diatas 150 mgkg bb/hari) menghasilkan N-ace@I-p-benzo-
quinone imine (NAPQI) yang bersifat radial bebas. NAPQI dapat berikatan dengan
protein pada membran sel sehingga mengakibatkan gangguan fungsi dan kerusakan
sel-set hati. Jika sel mengalami cedera tetapi tidak mati, sei-se1 tersebut mengalami
perubahan rnorfologis yang dapat dikenali. Perubahan-pentbahan subletal ini bersifat
reversibei, yaitu jika rangsangan yang menyebabkan cedera dapat dihentikan rnaka
sel-sel tersebut &pat kembali sehat, dan sebaliknya jika rangsangan penyebab cedera
tidak dihentikan kemsakan sel akan bertambah parah smpai pada akhirnya terjadi
kematian jaringan (Price, 2006). Dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE) akan
dapat diketahui sel-sel yang mengalami degenerasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan pemberian parasetamol dosis 500 mgkg
bbkari selama 7 hari berturut-turut dapat menyebabkan terjadhya degenerasi sel hati
dan peningkatan jumlah sel radang pada jaringan hati tikus (Gambar 21). Degenerasi
sel-sel hati akibat keracunan parasetamol dapat disebabkan adanya perlekatan
NAPQI dengan protein (sistein). NAPQI bersifat radikal bebas, sehingga perlekatanya
dengan sei-sel hati dapat menyebabkan perubahan fungsi sel yang pada akhirnya
menyebebkan kerusakan sel (Jawi, et al.,2007). Hasil pengamatan tingkat degenerasi
sel dan perhitungan jumlah sef radang pada jaringan hati tikus percobaan disajikan
pada Tabel 17.

TabeI 17. Hasil fengamatan Mikroskopis Tingkat Degenerasi Sel dan Perhitungan
Sel Radang pada Jaringan Hati Tikus Percobaan

1 ( I
Kelornpok Perlakuan
I
I
Rata-rata Skor
Degenerasi
I
I
Rata-rata Jumlah Sel-sel Radang
per lapang pandang pada
emb be saran 200 x
EIG 30 I 170 37,44 A 9,4lD
EIG 30 PCT
EIG 60 PCT
KR PCT
PCT
Keterangan :
EIG30 : kelompok ekstrok ikan gabus 30 mUkg bb/hari tanpa parasemol
EfG30PCT : keiompok ekstrak Ikan Gabus dosis 30 mykg b h r i + PCT 500 m&g bblhari
EIG60PCT : kelompok ehtnk Ik;in Gabus dosis 60 mWg b b h n + PCT 500 mgkg bbkari
KRPCT : kelompokkurkurnino dosis 30 mVkb bMari + PCT 500 m a g bbhari
PCT :kelompok paetamol dosis 500 rn&g bb/hari tanpa proteksi
Skor 4, jika degenemsi sel mencapri 100 %, Skor 3, jika dcgegencnsi seI berkisar 75-100 ?4% Skor 2 jika degenemsi sel berkisar
50-75 %, Skor 1, jika degenensi sel berkisar25-50 %, dan Skor 0, jika degenemi sel kurangdan 25 %.
Superskripyang behala pada kolom ynng m a menunjukkan adanya pedxdaan yang nyata.
Keterangan :
NG30 : &us diberi EIG 30 ml/kgbb/hari
EIG30PCT :tikus diberi EIG 30 rnlkgbbhari +
PCT
EIG60PCT : tikus diberi EIG 60 mvkgbbhari +
PCT
KRPCT : tikus diberi kurkumino 30 mg
Ikgbblhati +PCT
PCT : tih-s diberi PCT tanpa proteksi
M :Makrofag
D : Sd ymg mensalami degenerasi
L : Lidosit

Gambar 2 1. Foto Mikrograf Jaringan Hati Tikus Percobaan dengan Pewal-riaan HE


Pembesaran 200 x

Degenerasi sel pada jaringan hati tikus akibat parasetarnol telah banyak
dilaporkan, dimtaranya oleh Mi, at al, (20031, Linawati et al, (2003), Suarsana
(20051, dan Jawi et al, (2007). Pemberian parasetarnol dosis tunggal 2500 mg/kg bb
secara intraperitonial dapat menyebabkan nekrosis sentroiobuler (Linawati, et al,
2006). Suarsana (2005) melaporkan bahwa pemberiatl parasetamol 250 m a g
BBhari secara oral selama lima minggu menyebabkan adanya degenerasi hidrofik,
degenerasi rnelemak dan nekrosis pada ayam Broiler strain Sturbro urnur satu buIan.
Jawi, et al, (2007) melaporkan bahwa pemberian parasetam01 dan alkohol dengan
dosis 800 mg/kb bbhari seiama 14 hari menyebabkan degenerasi dan nekrosis hati
tikus.
Dari Tabel 17 diketahui bahwa jaringan hati tikus kelompok yang diinduksi
parasetamol dosis 500 mgkg bbkari saja (PCT) menunjukkan adanya tingkat
degenerasi sel yang paling tinggi dibandingkan kelompok iainnya. Tingkat degenerasi
sei-sel pada jaringan hati tikus kelompok yang diinduksi parasetarnol dosis 500 mgkg
bbkari dan mendapat tambahan ekstrak ikan gabus dosis 60 rnl/kg bb/hari (EIG60
PCT) lebih rendah dibandingkan tingkat degenerasi sel pada jaringan hati kelompok
PCT, dan relatif sama jika dibandingkan dengan tingkat degenerasi sel pada jaringan
hati kelompok EIG30, serta rnendekati tingkat degenerasi sel pada jaringan hati
keiompok pembanding (KRPCT). Ha1 ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak
ikan gabus dapat melindungi jaringan hati tikus dari degenerasi sel akibat
parasetamol. Peningkatan dosis pemberian ekstrak ikan gabus dapat menurunkan
tingkat degenerasi sel pada jaringan hati tikus. Hal ini terlihat dari lebih rendahnya
tingkat degenerasi sel pada jaringan hati tikus kelompok EIG60PCT dibandingkan
dengan tingkat degenerasi pada jaringan tikus kelompok EIG30PCT.

Dari perhitungan jumlah sel radang (Tabel 17) diketahui bahwa jumlah sel
radang pada jaringan hati tikus kelompok yang diinduksi parasetamol dosis 500
rng/kg bb/hari saja (PCT) paling tinggi dan berbeda nyata (p< 0,05) dibandingkan
dengan kelompok lainnya. Jumiah sel radang pada jaringan hati tikus kelompok yang
diinduksi parasetarno1 dosis 500 mgkg bbhari dan mendapat tambahan ekstmk ikan
gabus dosis 60 mlkg bbfhari (EIG6OPCT) tidak berbeda nyata dibandingkan dengan
jumlah sel-sel radang dalam jaringan hati tikus kelompok KRFCT maupun jumlah
sel-sel radang pada jaringan hati tikus kelornpok EIG30. Hal ini menunjukkan
pemberian ekstrak ikan gabus dapat menekan terjadinya akumulasi sel-sel radang
pada jaringan hati tikus akibat parasetamol dosis tinggi. Pemberian ekstrak ikan gabus
dengan dosis 60 m a g bbfhari dapat menekan akumulasi sel-sel radang pada jaringan
hati tikus Iebih baik dibandingkan dengan pemberian ekstrak ikan gabus dosis 30
mi/kg bbkari .
Keberadaan sel-sel radang pada jaringan hati kelompok EIG30 menunjukkan
bahwa secara normal sel-sel radang dalarn jumlah sedikit ada pada beberapa organ
(termasuk hati). Keberadaan sel-sel radang pada jaringan termasuk jaringan hati
merupakan respon endogen terhadap proses peradangan (Price, 2006). Dilihat dari
posisi sel-sel radang pada ja~ingan hati tikus, secara umum sei-sel radang
terakumulasi di sekitar vena sentral, dan khusus pada jaringan hati tikus kelompok
PCT sef-sel radang sudah menyebar di sebagian jaringan hati (Gambar 22). Hal ini
mununjdi2a.n bahwa jaringan hati tikus kelompok PCT mengalami tingkat degenerasi
sel yang lebih tinggi (sesuai hasil analisis degenerasi sel) dengan letak sel yang
mengalami degenerasi sel lebih luas (menjauhi vena sentral), sehingga setsel radang
pada jaringan hati tikus ketompok PCT lebih tersebar dan tidak hanya terakumulasi di
sekitar vena sentral. Pemberian ekstrak ikan gabus dapat menekan tingkat degenerasi
sel pada jaringan hati tikus dan hanya terjadi degenerasi sel di sekitar vena sentral.
Hasil ini rnununjukkan bahwa pemberian ekstrak ikan gabus dapat rnelindungi
jaringan hati dari serangan radikal bebas yang dihasilkan dari metabolisme
parasetamol dosis tinggi, sehingga tingkat degenerasi sel. pada jaringan hati tikus
dapat ditekan dan degenerasi sel pada jaringan hati hanya terjadi di sekitar vena
sentral.
Makrofag merupakan salah satw jenis sel radang yang relatif banyak
ditemukan di jaringan hati tikus percobaan. Malrrofag merupakan seI ymg bergerak
aktif, yang berespons terhadap rangsangan kemotaktik yang bersifat fagositik aktif.
Makrofag rnampu membunuh serta mencerna berbrrgai agen yang membahayakan
tubuh. Makrofag dapat bertahan berminggu-mingy bahkan berbulan-bulan dalam
jaringan. Pemberian ekstrak ikan gabus dapat menekan jwnlafi sel-sel radang pada
jaringan hati tikus yang diinduksi dengan parasetamof dosis toksik. Keterkaitan
pemberian parasetamol dan ekstrak ikan gabus dengan peningkatan jumlah sei-sel
radang dalarn jaringan hati tikus percobaan dapat dijeiaskan sebagai berikut.
Pemberian parasetamol dosis 500 mgkg bbhari selama 7 hari dapat menyebabkan
degenerasi sel pada jaringan hati tikus (Tabel 17, Gambar 21). Degenerasi sel yang
terjadi dapat menyebabkan perubahan f h g s i dan sifat sel. Perubahan sifat sel tersebut
&an berespon dengan sel-sel radang, sehingga sel-sel radang akan terkonsentrasi
disekitar sel yang mengalami degenerasi. laringan hati yang mengalami degenerasi
lebib tinggi rnemiliki sel-sel radang dengan jurnlah yang lebih banyak. Pemberian
ekstrak ikan gabus PIG) dapat menekan kejadian degenerasi sel pada jaringan hati
tikus. Penurunan tingkat degenerasi sel pada jaringan hati tikus yang mendapatkan
ekstrak ikan gabus (HG)berdampak pada iebih sedikitnyajumlah sel-sel radang pada
jaringan hati tikus tersebut. Peningkatan dosis pemberian ekstrak ikan gabus dapat
rnenurunkan tingkat degenerasi sel dan jumlah sel-sel radang pada jaringan hati tikus.
Hasil penelitian h i menunjukkan babwa pernberian ekstrak ikan gabus dapat
mengurangi terjadinya degenerasi sel-sel pada jaringan hati. Kernampuan ekstrak ikan
gabus melindungi seI-sel pada jaringan hati diduga terkait dengan kemampuan
ekstrak ikan gabus sebagai antioksidan (hasil penelitian tahap satu), keberadaan
protein terutama albumin, mineral seng, tembaga, dan besi.
Ekstralc ikan gabus mempunyai aktivitas antioksidan, dan pernberian ekstrak
ikan gabus dapat meningkatkan kernampuan antioksidan serum (Gambar 20).
Antioksidan sangat diperlukan untuk menangkai radikal bebas termasuk NAPQI yang
dihasilkan dari metabolisme parasetamol dosis tinggi. Jika jumlah radikal bebas
daiarn tubuh berada dalam jumlah yang berlebihan sedangkan antioksidan seluler
tetap atau lebih sedikit, maka kelebihan radikal bebas tidak dapat dinetralisir dm
dapat menyebabkan kerusakan sel. Antioksidan dapat dihasilkan oleh tubuh sendiri,
seperti superoksida disrnutase dan glutation peroksidase. Antioksidan juga dapat
diperofeh dari luar tubuh seperti rnakanan atau obat-obatan. Ketersediaan antioksidan
yang cukup dalam tubuh dapat melindungi organ temasuk jaringan hati dari serangan
radikai bebas sehingga kejadian degenerasi sel dapat ditekan.
Keberadaan albumin dalam ekstrak ikan gabus merupakan salah satu faktor
yang rnenyebabkan ekstrak ikan gabus dapat melindungi jaringan hati. Ekstrak ikan
gabus mempunyai kadar albumin yang lebih tinggi dibanding susu sapi tetapi lebih
rendah dibanding putih telur (hasil penelitian tahap satu). Albumin dapat bel-fungsi
sebagai antioksidan (Papas, 1998 ; Tuminah, 2000). Kernampuan albumin sebagai
antioksidan dikaitkan dengan adanya gugus ti01 dalam struktur albumin (Gambar 16).
Bairds, ef al., (2006) menyebutkan bahwa protein yang kaya akan gugus ti01 dapat
berfungsi sebagai anti apoptosis dan mengurangi oksidasi lisosom oleh radikal bebas
(antioksidan). Hasil analisis aktivitas antioksidan serum menunjukkan bahwa
pemberian ekstrak ikan gabus dapat menahan penurunan aktivitas antioksidan serum
akibat pemberian parasetamol dosis tinggi (Gambar 20), dimana antioksidan serum
sangat: diperlukan untuk menetralisir radikal bebas, termasuk NAPQI yang dihasilkan
dari metabolisrne parasetano1 dosis tinggi. Disebutkan oleh Arif (2007) bahwa
albumin merupakan antioksidan kuat dalam plasma. Fungsi albumin sebagai
antioksidan juga disebutkan oleh Chen, et al, (2001). Chen menyebutkan bahwa
albumin mempunyai efek antioksidan, dan berperan dafam penangkapan radikal bebas
p d a proses pembentukao urolithiasis dan asam sialik. Dari penjabaran fungsi
albumin sebagai antioksidan tersebut menguatkan dugaan bahwa albumin yang
terkadung dalam ekstrak ikan gabus rnempakan salah saw faktor penyebab dapat
difungsikannya ekstrak ikan gabus sebagai pelindung jaringan hati (hepatoprotector)
dari kejadian degenerasi sel-seI hati akibat parasefamol dosis tinggi.
Faktor lain yang diduga menjadi penyebab dapat difungsikanya ekstrak ikan
gabus sebagai hepatoprotector adalah adanya mineral seng dan tembaga. Ekstrak ikan
gabus merupakan pangan sumber mineral seng dan tembaga yang baik (hasit
peneIitian &hap satu). Ketersediaan minerat seng dan tembaga dalarn makanan dapat
menjamin ketersediaan seng dan tembaga tubuh. DiLjelaskan oleh Samman (2007)
bahwa rendahnya asupan mineral seng dari diet merupakan penyebab utama
kekurangan minerai seng. Rendahnya asupan mineral seng tubuh dapat disebabkan
kadar mineral seng daIam diet yang rendah atau kecilnya mineral seng yang dapat
diserap oleh tubuh.
Mineral seng dapat berfbngsi sebagai antioksidan, sehingga ketersediaan
mineral seng dalam tubuh akan mernperkuat sistem pertahanan tubuh rnenghadapi
radikal bebas, termasuk NAPQI hasil metabolisme parasetamol dosis tinggi.
Dijelaskan oleh Sharon Hu (2003) bahwa mineral seng dapat berhngsi sebagai
antioksidan yang setidaknya memiliki dua mekanisme. Mekanisme pertama adalah
mineral seng melindungi senyawa bergugus sulfhidril dari serangan oksidasi.
Keterikatan 2nZ+ dapat menstabilkan gugus sulfhidril. Mekanisme kedua adalah
mineral seng rnencegah terbentuknya radikal bebas (HO* dan 02') yang dihasilkan
ofeh proses transisi ion logam. Pada mekanisme kedua tersebut mineral seng
berkompetisi dengan mineral besi untuk berikatan dengan ligan yang mengandung
sistein. Ikatan sistein dengan Fe dapat mentransfer elektron kepada Oz dm
menghasiikan HO*, keberadaan mineral seng dapat menghambat pembentukan HO*.
Ketersediaan mineral seng dalam tubuh juga berdampak pada penguatan
sistem antioksidan endogen seperti glutation peroksidase, dan Cu-Zn SOD.
Ketersediaan mineral seng dan tembaga dalam bbuh menyebabkan tubuh mempunyai
kemampuan mensintesis Zn, dan Cu- SOD yang sangat diperlukan untuk menetralisir
radikal bebas termasuk NAPQI hasil metabolisrne parasetarno1 dosis tinggi.
Dilaporkan oleh Gusau, et al, (1890) bahwa penderita gangguan fingsi hati kronis
mempunyai kecenderungan mempunyai kadar mineral seng yang rendah.
Kemampuan tubuh mensintesis Cu-ZnSOD sangat terkait dengan ketahanan tubuh
menghadapi serangan radikal bebas (termasuk NAPQI). Dilaporkan oleh Lei, et al,
(2006) bahwa tikus yang kekurangan Cu-ZnSOD lebih rentan terhadap keracunan
asetaminofen. Dilaporkan oleh Long Hu,er al, (2007) bahwa pemberian suplemen
mineral seng dengan dosis 50 mgkb bbhari selama lima hari dapat memperbaiki
konsentrasi mineral seng tubuh, menghambat peroksidasi lipid, perbaikan sintesis
protein tubuh dan perbaikan h g s i hati. Terkait dengan sfxes ohidatif, teIah
dilaporkan oleh Zhou et af, (2005) bahwa pemberian suplemen mineral seng dapat
melindungi jaringan hati tikus yang dipapar dengan atkol~oljangka panjang (12
minggu), dengan cara menghambat akumulasi reaktif oksigen spesies (ROS), dan
dilaporkan oleh Kang et a17 (2008) bahwa pemberian suplemen mineral seng dapat
meningkatkan aktivitas regenerasi sel-sel hati pada tikus yang mengalami kerusakan
hati akibat pemberian etanol jangka panjang. Dari paparan keterkaitan minerai seng
dengan penyakit hati dan parasetamol tersebut diatas diketahui bahwa asupan mineral
seng (dan juga mineral tembaga) yang baik sangat diperlukan, dan ekstrak ikan gabus
dapat dijadikan salah satu alternatif pangan sumber mineral seng dan tembaga.
Ekstrak ikan gabus sangat mungkin dijadikan sumber mineral seng dan tembaga yang
baik, karena selain kadar mineral seng dan tembaga yang relatif tinggi juga
merupzzkan pangan hewani yang secara umum mempunyai bioavabilitas mineral seng
tinggi.
Ketersediaan atbumin, mineral seng dan tembaga secara bersamaan (dalam
satu produk) merupakan faktor lain yang mendukung dapat difungsikannya ekstrak
ikan gabus sebagai Irepatoprotector, ha1 ini disebabkan adanya keterkaitan yang era$
antara albumin dengan mineral seng dan tembaga dalam proses metabolisme tubuh.
Dijelaskan oleh Montgomery (1393) dan Sunatrio (2003) bahwa albumin plasma
mempunyai fungsi yang banyak, diantaranya pengaturan tekananan osmotik, dimana
albumin plasma bertangung jawab atas 75 - 80 % tekanan osmotik, penghambatan
pembentukan flatelet, pengaturan perrniabilitas membran sel, antioksidan, dan hngsi
pengikatan dan transport. Fungsi albumin sebagai pembawa molekul-molekul kecii
erat kaitannya dengan bahan metabolisme yang mempunyai sifat kurang larut dafam
air. Anion dan kation-termasuk mineral seng d m tembaga- memerlukan albumin
untuk transportasi di dalam tubuh. Dijelasakan Stewart at al, (2003) dan Lu, et al,
(2007) bahwa atbumin plasma mempunyai fungsi mengikat beberapa senyawa
esensial dan logam-logam babahaya, diantaranya adalah Ca (II), Co (19,
Cu (In, Zn
GI), dan Cd (TI). Albumin merupakan senyawa pembawa yang utama bagi mineral
seng dalam tubuh. Albumin plasma mempunyai peranan penting dalam memfasilitasi
transportasi mineral seng ke endotelial sel. Visualisasi pengikatan mineral seng dan
tembaga oleh albumin (Rowe, 20001,disajikan pada Gambar 22

Gambar 22. Ikatan antam albumin dengan mineral seng dan tembaga

Ketersediaan albumin dan mineral (seng dan tembaga) dapat menstabilkan


fungsi membran sel dari pengaruh stress oksidatif. Dilaporkan oleh Zhou, et al,
(2002) bahwa ketersediaan albumin dan mineral seng dalam tubuh dapat melindungi
kerusakan hati karena pengaruh alkohol. Terkait dengan stress oksidatif, Prost, et al,
(2004) melaporkan bahwa mineral seng berperan dalam pengaturan pompa kalium
seluler, dan bahwa mineral seng bersarna protein secara nyata menurunkan apoptosis
akibat stress oksidatif (Baird, et at, 2005). Armin (2005) menjelaskan bahwa mineral
seng dapat menstabilkan hngsi membran dan memodidkasi fungsi membran dengan
cam berinteraksi dengan oksigen, nitrogen, ligan sulfur makro molekuler hidrofifxlik.
Mineral seng dapat melindungi membran sel dari agensia penginfeksi dan dari
peroksidasi lemak.
Dari perjelasan hasil analisis kimia ekstrak ikan gabus, analisis kimia darah
tikus percobstan dan histologi, serta penjetasan keterkaitan komponen kimia ekstrak
ikan gabus dengan kejadian degenerasi sel menguatkan hipotesis bahwa ekstrak ikan
gabus dapat difungsikan sebagai hepatoprotector.Ketersediaan albumin, mineral seng
dan tembaga, serta kemampuan ekstrak ikan gabus sebagai aktioksidan merupakan
faldor penting yang mendukung dapat difungsikannya ekstrak ikan gabus sebagai
hepatoprotector.
Dari serangkaian penelitian yang telah dilaksanakan &pat ditarik kesimpulan
bahwa di dalam ekstrak ikan gabus (Channa striata) terkandung beberapa zat gizi yang
berperan d a l m proses perlindungan dm pembentuIckanjaringan, serta berpotensi sebagai
hepatoprotector. Secma lebih rinci kesimpulan dari penelitan ini add& :
1. Ekstrak ikan gabus merupakan pangan sumber protein temtama albumin.
2. Kadar mineral seng ekstrak ikan gabus mencapai 3,43 mg/100 ml dan dapat
dikatagorikan sebagai pangan sumber mineral seng yang baik.
3. Kadar mineral tembaga ekstrak ikan gabus mencapai 2,34 mg/100 rnl dm dapat
dikatagorikan sebagai pangan sumber mineral tembaga yang sangat baik.
4. Kadar mineral besi ekstrak ikan gabus mencapai 0,81 mg/100 ml.
5. Aktivitas antioksidan ekstrak ikan gabus 0,14 m V L , atau sebanding dengan
90,93 % aktivitas mtioksidan vitamin E.
6. Pemberian ekstrak ikan gabus dapat menekan kejadian degenerasi sel-sel pada
jaringan hati tikus percobaan yang diinduksi parasetamol dosis tinggi.
7. Pemberian ekstrak ikan gabus dapat menekan peningkatan jumlah sel-sel radang
pada jarhgan hati tikus percobaan yang diinduksi parasetamol dosis thggi.
8. Peningkatan dosis pemberian ekstrak &an gabus dari dari 30 mVkg bbhari menjadi
60 mlkg bbkari dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap jaringan
hati tikus percobaan

5.2.Saran
Perlu adaya penelitian fanjutan tentang keterkaitan pemberian ekstrak ikan gabus
dengan enzim-enzim antioksidan tubuh (SOD), mekanisme perIindungan ekstrak ikan
gabus pada jaringan hati, dm pengujian potensi ekstrak &an gabus untuk mempexbaiki
faal hati (aspek kuratif dari kerusakan fad hati).
DAlFTAR PUST

Agustini, D. 2006. Pengaruh Pettzberian Fish Albumin ikan Gabus (Ophiocephalus


striatus), Tenggiri (Scomberomerus guttatus}, Tongkol (Euthynnus aflnis}
dan Ikan Kuniran (Lrpeneus sulphureus) Terhadap Penutupan Luka Pada
Hewan Uji Tikus Putih Wistar (Rattus novergicus) [Skripsi]. Unibraw.
Malang.
Akbar, N. 2003. Penggunaan Albzinzin Pada Pasien Sirosis hati, dalam Konsensus
Pemberian Albumin Pada Sirosis Hati. UI Press. Jakarta.
Ali, B.H., HM. Mousa, S. El-Mougy, 2005. The effect of a water extract and
Anthocyanins of HibicussabdariffaL. on Paracetamol induced Hepatotoxicity
in Rats. Phytotherap Res. 17(1): 56-59.
Anonim. 2002. Dislipidemia dan Penyakit Ginjal, Penyakit Hati Akut dan Kronis.
Informasi Laboaratoriurn 6: 1-7
Arafah, E., D. Muchtadi, F. Zakaria, ,T. Wresdiyati, 2004. Pengmh Perlindungan
Ekstrak Rimpang bangle (Zingiber cassumunar ROXB) terhadap k e r u s a h
hati Tikus yang diinduksi CCL4. J. Teknologi dan Industri Pangan
15(3):214-220
Armin, S.A., 2005.Zat Gizi Mikro Zink dari aspek mafekuler sampai pada Program
Kesehatan Masyarakat. Suplement 6 (3): 29 - 35
Ashshiddiqi, H., 1984. Al-Qur'an dan Terjemahannya. Departemen Agama RI.
Jakarta
Asikin A., 1999. Pengaruh Pemberian menu esktra$Itrat lkan Gabus pada penderita
pra dun pasca operasi di Rumah Sakit Sarful Anwar Malang. (Laporan
kasus). Unibraw. Malang
Baird, S.K., T. Kurz, T. Brunk, 2006. Metallothionein protects against oxidative stress
induced lysosomal destibilation. Biochem. .I15: 275 - 283
Belitz, 1987. Food Chemsw. Springer-VerIag.Heidelbex-g.Germany.
Berata, TK.,IBO. Wiyana., 2003. Pengaruh Penzberian ekstraksi akar alatlg-alang
(Imperata cylindrica) Terhadap Mencit yang Menderita Kelainan Patologis
Hati. http:llwww.ivetunud.com/archivesR0.[6 April 20053
Budiasa, KT., IN. Suarsana, 2005. Potensi Hepatoprotektif Ekstrak Mengkudz~Pada
Keracunan Parasetamol. http://w.ivetunud.com/archives/l18. 19
Desember 20053
Carvallo, 1998. Studi pro$l asam amino, albutnin dan mineral Zn pada ikan gabus
dan Tomang [Skripsi], Unibraw. Malang
Chandrasoma, P., CR. Taylor, 2006. Ringkasan Patologi Anatomi. Alih Bahasa R.
Soedoko. EGC. Jakarta
Dewi, L. 2007. Efek Protelctif dari Lesitin terhadap Hepatotoksisitas akibat induksi
Karbontetraklorida pada Tikus Putih (Rattus norvegius).
hrtg:ii:~dtn.lib.uniar.ac.idi [8 Februari 20071
De Man, 1997. Kimia Makanafi. ITB Press. Bandung
Gibson, G.G., P. Skett, 199 2 , Penguntar Mefubolisrtze Obaf (tejemahan oieh Aisyiah,
1-B),Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta
Gibson, J., 2002. Fisiologi dun Anatorni Modern untuk Peruwat, alih bahasa Bherta
Sugiarto. EEC. Jakarta.
Gillete, J.R., 1981, An Integrated Approach to the study of Chemically Reactive
Metabofites of Acetaminophen, Arch. Intern. Med., 141:375-379
Gusau, K.A., JA. Elegbede, JA. Idoko, SS. Wali, 1990. Zinc status in chronic liver
disease; studi in Nigerian patiens. WestAffican J. of Medicine 9(4):245-25 1
Hamilton, R.J., C. Kalu, E. Prisk, FB. Padley, EI. Pierce, 2997, Chemistry of Free
Radicals in Lipids, Food Chenzishy, 60 (2): 193-199
Harahap IP, H. Soewoto, M. Sadikjn, MMV. Kurnjaty, SJ. Wanadi, D. Retnq P.
Abadi, SWA. Jusman, R. Prijanti, 2001. Biokimia, eksperimen laboraturiurn.
Widya Medika. Jakarta.
Hasan, l., A. Titis, 2008. Peran AZbuntin daZam Penatalaksanaan Sirosis Hati.
Medicinus 21( 2): 3 - 7.
Hidayati, Sostjipto, A. Ma'ruf, 2003. Perman Antioksidan bawang Putih (AlIiz~~n
sativznn) sebagai Hepatoprotektor. .I
Penelitian Mediku Ehata 4 ( ) : 38 - 43.
Hu,S., 2003. Is Zinc an Antioxidant? http://www.heaIthcare.uiowa/corefasiIitiesr27
Februari 20031
Husni, E., S. Asmaedi, A. Reci, 2007. Analisis Zat Pengawet dan Protein dalam
Makanan Siap Saji Sosis. J Sains darz Teknologi Far~nasi12(2):108-1 11
Ibnu Qudamah. 1999. Minhajzd Qoshidin. Terjemah oXeh Kathur Suhardi. Pustaka Al-
Kautsar. Jakarta
Jawi, IM., A. Indrayani, IW. Sumardika, IWPS. Yasa, 2007. Garnbaran Histologi
Hepar serta Kadar SGOT dm SGPT Darah Mencit ymg diberikan Alkohoi
secara Akut dan Kronis. Dexa Medim 1 (20):23 - 25.
Junqueira, L., J. Carneiro, 1988. Histologi Dasar. Afih Bahasa Adji Dharma. EGC.
Jakarta
Handoko, T. f 978. Pengaruh asam GLukoronat pada tikus yang diberi parasetamol
dosis tinggi. Cermin Dzrnia Kedokterun 11: 3 1 - 33
Janbaz, K.H., AH. Gilani, 1998. Potential of paracetam01 and Carbon Tetraclorida-
induced Hepatotoxicity by the Food Additive Vanillin. Food and Chernical
Toxicologv 37(6) :603-607
Kang, X., S. Zhenyuan, J.Mc. Craig, 2. Zhanxiang, 2008. Zinc Suplementation
Enchaces Hepatic Regeneration bay Preserving Hepatocyte Nuclear Factor-
4a in Mice Subjected to Long-Term Ethanol Administration. American J. of
Pathology 172 (9):9 16-925
Kozer E., E. Sandra, B. Joseph, G. Revital, S. Ingrid, B. Mordechai, P. Irene, C.
Zehava, 2003. Glutathione, glutathione-dependent enzymes and antioxidant
status in erythrocytes from children treated with high-dose paracetamol. Br J
Clin Pharmacol. 55(3): 234-240.
Lei X-G., J-H. JP. Mc. CIung, M. Roneker, 2003 Mice Deficient in Cu,Zn-SOD are
Resistance acetaminophen toxicity. Biochern J. 1: 455 - 461
Linawati, Y., A. Apriyanto., E. Susanti, I. Wijayanti, LA. Donatus, 2003. Efek
Hepatoprotektif Rebusan Nerba Putri Malu Pada Tikus Terangsang
ParasetamoI .J. F 51 Indonesia 1(3):96-106
Atmaja LW., H. Gunawan, 1997. Daya antihepatotoksik kurkuminoid terhadap
nekrosis hepatosit dan aktifitas sel kupffertmakrofag pada proses peradangan
hati yang diinduksi dengan karbontetraklorida. Majalah Kedokteran bandung
28 (1):1-8
Lu, J., JS. Alan, JP. Teresa, AB. Claudia, 2008. Albumin as a zinc czrrier : properties
of its high-afinity zinc binding site, Biochetnical Society Transactions
36:1317-1321
Linder, M., 1992. Biokimia Nzitrisi dan Metabolisme. Alih bahasa Aminuddin
Parrakasi. Ui Press. Jakarta
Loho, T. 2003. Konsensus Pemberian Albumin Pada Sirosis Hati. FKUI. Jakarta.
Long Hu, H., C. Ren-Dun, M. Lian-Hu, 1992. Protective effect of zinc on liver injury
induced by D-galactosamine in rats. J Biological Trade Element Research 34
(1):27-33
Lu, FC., 2006. ToksikologiDasar, edisi Kedua. UI Press. Jakarta
Mattjik, AA., 2002. Perancangan Percobaan dengan uplikasi SAS dun Minitab. IPB
Bogor
Montgomery, R., 1993. Biokimia suatzr Pendekatan berorientasi Kasus, jilid 1 edisi 4.
Gadjah Mada Press. Yogjakarta.
Murray, R.K., DK. Granner, PA. Mayes, VW. Rorwel, 3 995. Biokimia Harper, Edisi
22. Alih babasa dr. Andry Hartono. EGC. Jakarta.
Moeljanto. 1892. Pengawetan dun Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Nilasanti, 1. 2003. Pemberian Menu Ekstra F'iltrcat Ikan Gabus dalam Diet Pasien
Hioalbuininernia di Ruang rawat Imp Bapelkes M U Ngudi Walzyo Wlingi-
BIitar (tugas akhir/skripssi).Poltekkes malang.
Nur, A., Adijuwana. 1989. Teknik Pernisahan dalarn Analisis Biologis. PAU IPB,
Bogor
Osband, AJ. 2004. Albumin Protects Against Gut-Induced Lung Injury Xn Vitro and
In Vivo. Ann Surg. 240 (2): 331-339
Price, S. AM. Wilson, 2006. Patofisiologi. AIih Bahasa B. Pendic dkk. EGC. Jakarta
Prost, A I., N. Hussy, R. Derand, M. Vivaudou, 2004. Zinc is both an intraceflular and
extracellular regulator of K ATP channel function. . Pjysiol. 15: 157 - 167
I
Roobin, Kurnar. 1995. Buku Ajar Patologi 1. Alih bahasa Jonathan Oswari. EGC.
Jakarta
Papas, A.M. 1998. Antioxidant Status, Diet, Nutrition and Health. CRC Press.
London
Pearce, E.C., 1987. Anatomi dan Fisiologi zintflkParumedis.cetakan KesembiIan. PT
GRAMEDIA. Jakarta
Piliang, WG., D. Soewondo, 2006. Fisiologi Nzttrisi Vol. 2. IPB Press, Bogor
Price, A., M. Lorraine, 2006. PATOFISIOLOGI. AIih bahasa dr. Brahm U., dr.
Huriawati., dr. Pita w., dan dr. Dewi Asih M. EGC. Jakarta
Rahayu, W.P., Maoen, Suliantari, S. Fardias, 1992. Teknologi Fermentasi Produk
Perikanan. PAU P B Bogor. Bogor
Rowe DJ., JB. Dennis, 2000. Afbumin Facilitates Zinc Acquisition by Endothelial
Cells. Proceeding of the sociev for Experimental Biology and Medicine
244:178-1 86
Samman, Samir. 2007. Zinc (Section2 : Key nutrient delivered by red meat in the
[01 September 20071
diet). http://~v~~w.accesmv1ibrary.co1~1
Sediaoetama, A.D., 1985. Ilmu Gizi Jilid I. Dim Rakyat. Jakarta
Soewoto, H., 2003. Biukiinia Albuntin, dulatn Konsensus Pemberian Alburnin Puda
Sirosis Hati. FKUI. Jakarta.
Simon HU., Haj-Yehia, Levi-SchafferF. 2000. Role reactive oxygen spesies (ROS) in
apoptosis induction. Apoptosis 5: 41 5-418
Siswono, 2006. Hepatitis C menginfeksi 7 Juta Orang Indonesia.
[12 Juli 20061
http://w.~vw..~izi.net/cpi-bin/berita/
Stewart, AJ., C. Blindauer, S. Berezenko, PJ. Sadier, 2003. Interdomain zinc site on
human albumin. Proceeding of the National of Sciences 100 (7):3701 -3706
Sugihastutik. 2002. Pemberian Menu ekstra Filtrat Ikan Gabus pada penerita
hipoalburnin di MUD Dr. Su bandi Jetn ber [laporan kasus]. Poltekkes
Malang.
Sudarmadji, S., B. Haryono, Suhardi. 2003. Analisa Bahan Makanan dun Pertanian.
Edisi 2. Liberty, Yogjakarta
Sugiharto, 2003. Penganth Infus Rimpang Temulawak (Curcurnaxanthorrhiza Roxb.)
Terhadap Kondisi Parameter Pemeriksaan Darah Tikus Putih yang Diberi
Larutan Timbal Anorganik. Jumnal Penelitian Medika Eksakta 4 (2): 129-
I37
Sunardi, 2007.116 Unsur Kimia. Yrama Widya. Bandung.
Sunatrio, S., 2003. Peran Albunlin pada Penyakit Kritis, dalam Konsensus
Pemberian Albumin Pada Sirosis Hatti. FKUI pess. Jakarta.
Suprayitno, E., 2003. AIbumin Ikan Gabus (Ophiocepalz~sstriatus) sebagai makanan
fungsional mengatasi gizi masa depan. httu://ttlww.antaraiatirn.com [30
Oktober 20081
Tedesco, D. C. Domeneghini, D. Scianniamanio, M. Tameni, S. Steidler, S.
Galfetti, 2004. Silymarin, a posible Hepatoprotector in Dairy Cows;
Bichemical and Histological Observation. Journal of Veterinary Medicine
Series A 51 (2): 85-89.
Tuminah, S. 2000. Radikal Bebas dan Antioksidan. Cermin Dunia Kedokteran 128
:49 - 51
Winamo, F.G.,2002. Kirnia Pangun dan Gizi. Gramedia Pustaka Utarna. Jakarta
Vogel. 1985. T e h Analisis Anorganik KuantitatifMakro dun Semimikro, Edisi V .
UI Press. Jakarta
Zhanxiang Z., X . Sun, JC. Lambert, JT. Saari, YI. Kang, 2002. Metallothionein-
Independent Zinc Protection from Alcoholic Liver Injury. Am J Puthol.
160(6): 2267-22 74.
Zbang, Y., L. Zhong-Yan, Z. Shao-Yang, H. Fang-Fang, Wei Wu, Yuan Gao, Zuo-
Bing, 2008. Albumin resuscitation protects against traumatic/hemorrhagic
shock-induced lung apoptosis in rats. J Zhejiang Univ Sci B. Y(11): 871-
878.
Zhou, Z., W. Lipeng, S. Zhenyuan, JT. Saari, J. Mc. Craig, J. Kang, 2005. Zinc
Suplementation Prevent Alcoholic Liver Injury in Mice through Attention
of Oxidative Stress.American J, of Pathology 166 : 1681- 1690
Lampiran 2. Nasif Analisis Kadar Protein, Albumin, Zn, Cu, Fe, dan DPPH

Ulangan

Zat Gizi 1 2 3 Rata- sd


rata

I 2 1 2 1 1 2

Protein ( d l 00 3,064 3,152 3,765 3,590 3,327 3,239 3,356 0,269


ml)

Albumin (g/100 2,245 2,213 2,282 2,271 1,931 2,065 2,168 0,141
m 1)

Zn(mg/lOOml) 30,699 31,92 37,69 36,93 34,80 3339 34,271 2,75

Cu (mg1100 ml) 22,79 22,57 1


24,05 24,37 22,56 24,47 23,,42 0,99

Fe (mgA 00 mi) 9,35 8,88 6,76 7,23 8,26 8,33 8,14 0,981
--------
DPPH (%) 84,31 84,OO 87,23 87,38 82.62 82,46 84,67 2,171

% Vitamin E 91,2 91 96,3 96,4 93 92,7 93,434 2,394


Lampiran 2. Rata-rata kadar kirnia darah(serurn) kelompok-kelompok percobaan

Perlakuan Kadar Albumin Kadar SGOT Kadar SGPT Nilai DPPH


(gldl) W/LI (UW ("/o)

EIG30 3,61&0 ~ 0 7 ~ 102,2& 21,34~ 55,2 f 6,57b l4,19 f O,flb

EIG30PCT *
3,58 k 0 ~ 1 7 ~ 109,6 -k. 20,40ab 62,4 6,87' 11$2 =k 1 , 0 3 ~

EIG6O PCT 3,73 0,1lC 96,4 f20,45~ 6 1,2 k 12,85' 17,37 f T,07'
1
KRPCT *
3,84 0,09C I 1 1,4* 13,02a 57,6* 4,2gb 19,47 f 5,59'

PCT 3,46 A O,Oga 141 + 44,6gC 70 + 12,32a 7,58 f 0,47e


Lampiran 3. Hasil Analisis Sidik Ragam Kadar Albumin

Tabel sidik ragam kadar albumin


-Sumber ] db I
- - K KT F hit F tabel
b0,14008 6,117 * 2,621
Galat 24 0,5492 0,0229
Total 29 1,2497
* = berbeda secara bermaha ( a =0,05)
Hasil analisis ianjut Beda Nyata Terkecil (BNT)

Perlakuan Rata-rata Nilai BNT


EIG 30 3,61b 0,1275 I
EIG30 PCT 3,523"
EIGSOPCT
KR PCT 3,84'
PCT 3,463
Keterangan : superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjuMcan adanya
perbedaan yang nyata pada a = 0,05
Lampiran 4. Hasil Analisis Sidik Ragam Kadar SGOT

Tabel sidik ragam kadar SGOT


Sum ber db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 5 6129,467 1225.894 10,6199* 2,621
Galat 24 1 2770,4 115,434
Total 29 1 8899,867
* = berbeda secara bermha ( a ~ 0 , 0 5 1
Hasil analisis ianjut Beda Nyata Terkecil (BNT)

Perlakuan Rata-rata SGOT Nilai BNT


EIG 30 102.2 a 1 9,0531

( PCT 141 1
Keterangan : superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya
perbedaan yang nyata pada a = 0,05
Lampiran 5. Hasil Analisis Sidik Ragam Kadar SGPT

Tabel sidik ragam kadar SGPT


Sumber db 3K KT 1 F hit 1 F tabel
Perlakuan
- - - 5 - - 982,567 196,5134 1 4,5665 *I 2,62 1
Galat 24 1032,800 43,0334
Total 29 20 15,367
* = berbeda secara bennakna ( a =0,05)
Hasil analisis lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT)

Perlakuan Rae-rata SGPT Nilai BNT


EIG30 55,2 a 5,5276
EIG30PCT 62,4
EXG6OPCT 61,2
KR PCT 57,6 '
--
-PCT L .-
70 I I
Keterangan : superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya
perbedaan yang nyata pada a = 0,05
Lampira 6 . Hasil Analisis Sidik Ragam Nilai DPPH

Tabei sidik ragam Nilai DPPH


Surnber db JK KT F hit F tabel
Perlakuan 5 467,028 93,406 16,1898 * 2,621
Galat 24 138,464 5,769
Total 29 605.492
* = berbeda secara bermakna ( a =0,05)
Hasil analisis lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT)

Perlakuan Rata-rata Nilai BNT


EIG 30 16,82 [ 0,12751
ElG30 PCT 19,47
EIG60PCT 17,37 Cd
KR PCT 11,82 "
7
PCT 7,58 a
Reterangan : superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan adanya
perbedaan yang nyata pada a = 0,05
Lampiran 7. Wasil Perhitungan Perbandingan Kadar SGOT/SGW
-
1 2 3 4 5 rata-rata

EIG 30 1.952 2.283 1.646 t ,806 1.529 1.843

EIG30PCT 2.678 1.294 1.143 2.132 1.847 1.819


-
EIG60PCT 1.763 I .633 1.554 1.518 1.424 1.578

KR PCT f -922 1.983 2.224 2.000 1.571 1.940

PCT 2.346 2.205 2.471 1,373 1.677 2.014


Lampiran 9. Hasil Analisis Sidik Ragam Sel Radang Pada Jaringan Hati Tikus
Percobaan
Lampran 10.Nasil analisis Kuafiatatif Tingkat Degenerasi Sel

ukuran sel relative normal dan kehadiran sel-sel radang


lebih sediit dibandingkan dengan AR, sehingga perlu
dipertanyakan penyebab depenerasi yang terjadi.
Kelompok EIG Tingkat degenerasi sedikit (lebih kecil disbanding AR) dm 1,s
30PCT dengan pembesaran 400 X didapatkan adanya sel-sel radang
yang secara halitatif sebanding dengan EIG 0. Sel-sef
radang lebih banyak terkumpul pada vena sentidis
Kelompok EIG Tingkat degenerasi sangat sedikit (lebih sedikit disbanding 1
SOPCT AR, EIG 0, maupun EIG 1), tetapi dengan epmbesaran 400
didapatkan adanya seX-sel radang yang sebanding dan setipe
dengan EIG 1 (lebih banyak didapatkan didaerah vena
sentraiis)
Kelompok Tigkat degenerasi sangat sedikit sebanding dengan EIG 2.
KRPCT Dengan pembesann 400 X didapatkan adanya sel-sel mdang
yang terkumpul disekitar vena sentrafis sebagaimana
kelompok ETG

You might also like