2008 Jak
2008 Jak
JAKARIA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI
Jakaria
NRP. D061020011
ABSTRACT
Sapi pesisir Sumatera Barat merupakan salah satu sumber daya genetik
sapi lokal yang memiliki bentuk dan ukuran tubuh paling kecil dibandingkan sapi
lainnya di Indonesia, seperti sapi aceh, sapi madura, sapi bali dan sapi peranakan
ongole (PO). Keunikan sapi pesisir menjadi salah satu alasan dasar atas kajian
molekuler terhadap gen hormon pertumbuhan (GH) yang diduga sebagai salah
satu gen utama (major gene) yang berperan penting dalam proses pertumbuhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman, sekuens unik dan hubungan
polimorfisme gen GH dengan bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh baik pada
sapi pesisir maupun pada sapi bali, sapi limousin dan sapi simmental sebagai
pembanding.
Data bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh serta sampel darah sapi pesisir
diambil berdasarkan metode otoritas. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 220
ekor yang terdiri atas sapi pesisir dari Kabupaten Pesisir Selatan 98 ekor dan
Kabupaten Padang Pariaman 35 ekor. Sebagai pembanding bangsa sapi lain,
diambil sampel sapi bali dari Pulau Bali 47 ekor, sapi limousin dan sapi
simmental dari BIB Singosari Malang, masing-masing 22 ekor dan 18 ekor.
Isolasi DNA total dilakukan dengan menggunakan metode yang disarankan oleh
Sambrook et al. (1989) yang dimodifikasi (Duryadi 1994). Isolasi DNA total,
PCR (Polymerase Chain Reaction) dan RFLP (Restriction Fragment Length
Polymorphism) dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, Pusat Penelitian
Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi LPPM IPB, sedangkan sekuenss DNA
dilakukan di Laboratorium Bioteknologi R&D PT Charoen Pokphand Jakarta.
Penelitian berlangsung sejak September 2004 s/d Juli 2006. Deteksi polimorfisme
gen GH dilakukan melalui teknik PCR-RFLP. Keragaman gen GH ditentukan
dengan analisis frekuensi gen, nilai heterozigositas pengamatan (Ho) dan nilai
heterozigositas harapan (He) serta nilai Polymorphic Informative Content (PIC).
Keseimbangan genotipe gen GH dalam populasi diuji dengan uji χ2 (chi-square),
sedangkan sekuens unik atau ada tidaknya mutasi yang terjadi pada gen GH
dilakukan perunutan atau sekuensing. Selain itu, untuk mengetahui hubungan
antara polimorfisme (genotipe) gen GH dengan bobot badan dan ukuran tubuh
dihitung berdasarkan uji t.
Hasil analisis fragmen gen GH MspI diperoleh tiga macam genotipe yaitu
genotipe +/+ (dua pita), +/- (heterozigot tiga pita) dan -/- (satu pita) dengan total
panjang sekuens lebih kurang 327 pasang basa (bp) yang terletak di intron 3
parsial dan exon 4 parsial. Fragmen gen GH AluI juga diperoleh tiga macam
genotipe yaitu genotipe LL (dua pita), LV (hetezigot tiga pita) dan VV (satu pita)
dengan total panjang sekuens 211 pasang basa (bp) yang terletak di intron 4
parsial dan exon 5 parsial. Suhu annealing yang digunakan untuk mengamplifikasi
kedua fragmen tersebut masing-masing 53oC dan 55oC selama 45 detik.
Frekuensi genotipe -/- dan alel (-) tinggi pada sapi pesisir yang terdapat di
Kabupaten Pesisir Selatan maupun di Kabupaten Padang Pariaman dan tidak
terdapat perbedaan yang berarti pada kedua lokasi tersebut. Frekuensi genotipe -/-
dan alel (-) tinggi juga ditemukan pada sapi bali, sebaliknya rendah pada sapi
limousin, dan sapi simmental. Frekuensi genotipe LL dan alel L tinggi ditemukan
pada semua bangsa sapi yang dianalisis baik sapi pesisir di Kabupaten Pesisir
Selatan maupun di Kabupaten Padang Pariaman, termasuk sapi bali, sapi
limousin, dan sapi simmental. Genotipe -/- dan LL atau alel (-) dan L merupakan
genotipe atau alel yang terfiksasi pada sapi bali karena tidak ditemukan genotipe
atau alel lain. Berbeda dengan sapi pesisir, pada sapi limousin dan sapi simmenal
masih terdapat genotipe +/+, +/-, dan -/- atau genotipe LL, LV, dan VV, kecuali
genotipe VV termasuk genotipe langka pada sapi pesisir dan sapi limousin seperti
halnya pada sapi bali. Hasil analisis keseimbangan genotipe dalam populasi
terhadap fragmen gen GH MspI dan AluI mengindikasikan status dalam keadaan
seimbang (equlibrium status), kecuali pada populasi sapi pesisir yang terdapat di
Kabupaten Padang Pariaman mengindikasikan tidak seimbang untuk fragmen gen
GH MspI.
Nilai heterozigositas Ho dan He untuk fragmen gen GH MspI tinggi
ditemukan pada sapi pesisir, sapi limousin, dan sapi simmental, sebaliknya rendah
pada sapi bali. Nilai heterozigositas Ho dan He untuk fragmen gen GH AluI tinggi
pada sapi limousin, dan sapi simmental, sebaliknya rendah pada sapi pesisir dan
sapi bali. Hal yang sama juga ditemukan berdasarkan hasil pendugaan nilai PIC
yang menunjukkan bahwa fragmen gen GH MspI tinggi pada sapi pesisir, sapi
limousin, dan sapi simmental, sebaliknya rendah pada sapi bali, masing-masing
dengan nilai 0,276, 0,276, 0,178, dan 0,000. Adapun pendugaan nilai PIC untuk
fragmen gen GH AluI tinggi pada sapi limousin dan sapi simmental, sebaliknya
rendah pada sapi pesisir dan sapi bali masing-masing dengan nilai 0,260, 0,334,
0,015, dan 0,000. Dengan demikian, penciri PCR-RFLP MspI gen GH memiliki
keragaman tinggi (polimorfik) pada sapi pesisir, sapi limousin, dan sapi
simmental, sebaliknya rendah (monomorfik) pada sapi bali. Adapun penciri PCR-
RFLP AluI memiliki keragaman tinggi (polimorfik) pada sapi limousin dan sapi
simmental, sebaliknya rendah (monomorfik) pada sapi pesisir dan sapi bali.
Hasil analisis sekuens fragmen gen GH MspI dan AluI memiliki kesamaan
yang tinggi dengan sekuens gen GH yang terdapat di GenBank masing-masing
dengan nilai 96-97% dan 98-99%. Mutasi yang terjadi pada sekuens gen GH
diduga adalah antara basa sitosin (C) menjadi timin (T) untuk situs MspI,
sedangkan mutasi sitosin (C) menjadi guanin (G) untuk situs AluI. Hasil analisis
pohon genetik (genetic tree) berdasarkan gabungan antara fragmen MspI dan AluI
gen GH diperoleh pengelompokan (clustering) yang terpisah antara sapi pesisir,
sapi bali, sapi limousin, dan sapi Simmental. Hal ini mengindikasikan terdapat
perbedaan sekuens gen GH baik pada sapi pesisir, sapi bali, sapi limousin, dan
sapi simmental.
Hasil analisis hubungan antara genotipe fragmen gen GH MspI dan AluI
dan bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh menunjukkan tidak terdapat hubungan
nyata. Kedua fragmen gen GH tidak ada bukti kuat dapat dijadikan sebagai alat
penciri genetik untuk program seleksi baik pada sapi pesisir, sapi limousin, dan
sapi simmental.
JAKARIA
Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Ilmu Ternak
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
Penguji pada Ujian Tertutup : Dr. Ir. Cece Sumantri, M.AgrSc.
Disetujui
Komisi Pembimbing
Diketahui
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maka Kuasa, karena
atas rahmat dan karunia-Nya karya ilmiah ini dapat disusun dan diselesaikan
dengan judul “Keragaman Genetik Gen Hormon Pertumbuhan pada Sapi Pesisir
Sumatera Barat”.
Penelitian ini dilakukan atas dasar, yaitu (1) sapi pesisir yang terdapat di
Sumatera Barat merupakan salah satu ternak lokal yang masih terbatas informasi
molekulernya terutama mengenai gen hormon pertumbuhan (GH) dan (2) sapi
pesisir unik dibandingkan dengan sapi lokal lainnya, karena memiliki bentuk dan
ukuran tubuh terkecil dibandingkan dengan sapi lokal lainnya di Indonesia. Atas
dasar tersebut, penulis berharap agar informasi yang diperoleh dari hasil penelitian
ini mungkin dapat bermanfaat dan memperkaya khasanah ilmu pemuliaan dan
genetika ternak di Indonesia.
UCAPAN TERIMA KASIH
Jakaria
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Handil Barabai, Kecamatan Anjir Muara
Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan pada tanggal 05 Januari 1966.
Penulis merupakan anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan ayah
Muhammad Thabrani (alm) dan Ibu Juhriah.
Pendidikan dasar diselesaikan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Setuju
Handil Barabai pada tahun 1981, pendidikan menengah pertama di Madrasah
Tsanawiyah Negeri (MTsN) Anjir Muara pada tahun 1984, pendidikan menengah
atas di Sekolah Pertanian Pembangunan (SNAKMA) Negeri Pelaihari pada tahun
1988. Pada tahun 1988 penulis diterima di Politeknik Pertanian IPB program
Diploma III (DIII) dan selesai pada tahun 1991, kemudian pada tahun 1992
penulis melanjutkan program alih jenjang program Sarjana (S1) di Program Studi
Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor, selesai pada
tahun 1996. Pada tahun 1997 penulis melanjutkan studi S2 di Program Studi Ilmu
Ternak Program Pascasarjana IPB dan selesai pada tahun 2000. Pada tahun 2002,
penulis kembali melanjutkan studi S3 pada program studi yang sama dengan
bantuan beasiswa BPPS Dirjen Depdiknas RI.
Saat ini penulis bekerja sebagai staf pengajar di Fakultas Peternakan
IPB sejak tahun 2000, sebelumnya penulis sebagai teknisi peternakan di
Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Ternak, Fakultas Peternakan IPB. Selama
mengikuti studi program doktor, penulis telah mendapat kesempatan sebagai
Visiting Researcher Fellowship di Animal Genome Project, Tsukuba-Japan pada
tahun 2002 dan Training Course: Molecular Characterization Using DNA
Microsatellite Markers di Chinese Academy of Agricultural Science (CAAS),
Beijing-Cina pada tahun 2007 masing-masing selama tiga bulan.
Penulis menikah dengan Dian Herawati pada tahun 1997 dan telah
dikaruniai satu orang putra Hafidz Azhar Jakaria dan satu orang putri Galuh
Samia Zahra.
DAFTAR PUBLIKASI
α : alpha
A : adenine
BLAST : basic local alignment search tool
bp : base pair
C : cytosine
cm : centimeter
DNA : deoxyribonucleic acid
dNTP : deoxythymidine triphosphate
EDTA : ethylenediaminetetra-acetic acid
g : gram
G : guanine
GH : growth hormone
He : expected heterozygosity
Ho : observed heterozygosity
kDa : kilodalton
kg : kilogram
mA : milliamphere
MAS : marker assisted selection
MEGA : molecular evolutionary genetic analysis
mg : milligram
ml : milliliter
mM : millimolar
μl : microliter
n : number
nm : nanometer
PCR : polymerase chain reaction
pH : logarithm of reciprocal of hydrogen ion
concentration
PIC : polymorphic informative content
pmol : picomole
QTL : quantitative trait loci
RFLP : restriction fragment length polymorphism
RNAse : ribonuclease
SE : standard error
T : thymine
Taq : thermos aquaticus
TBE : tris-borac acid-EDTA
TE : tris-EDTA
UV : ultraviolet
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman
Halaman
Halaman
Latar Belakang
Tujuan
Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu informasi dasar dalam
upaya perbaikan mutu genetik, strategi pengembangan, dan penentuan kebijakan
mengenai pemanfaatan secara berkelanjutan khususnya pada sapi pesisir Sumatara
Barat dan umumnya ternak lokal di Indonesia.
5
Kerangka Pemikiran Penelitian
SAPI PESISIR
Pemecahan Masalah
Fenotipe Genotipe
Gen GH
PCR-RFLP Sekuensing
Prospek Pemanfaatan
Marker Assisted Selection
Gambar 2 Tipe-tipe sapi domestikasi yang terdapat di Asia, Afrika, dan Eropa
(MacHugh 1996).
Gambar 3 Rute penyebaran sapi di Asia, Afrika, dan Eropa (MacHugh 1996).
Sapi di Sumatera Barat, menurut catatan sejarah terdiri atas sapi lokal,
sapi zebu dan sapi eropa (Merkens 1926). Sejak tahun 1907 telah dimasukkan
sapi-sapi zebu (Ongole dan Hissar) untuk meningkatkan mutu genetik sapi lokal.
Setelah kemerdekaan, kembali dimasukkan sapi ongole di Sumatera Barat dalam
rangka Program Ongolisasi. Terbatasnya sarana perhubungan di bagian selatan
Sumatera Barat terutama di Kabupaten Pesisir Selatan, Program Ongolisasi tidak
berjalan sebaik di daerah bagian utara dan tengah, seperti di Kabupaten Agam,
Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar. Oleh karena itu, sejak
zaman penjajahan Belanda masih terdapat sapi asli di Kabupaten Pesisir Selatan
yang tidak terkontaminasi oleh Program Ongolisasi (Saladin 1983).
Ciri-ciri sapi lokal Sumatera Barat adalah tubuh kecil, badan pendek, dan
kaki kecil (Merkens 1926). Sapi pesisir memiliki pola warna bulu tunggal yang
dikelompokkan atas lima warna utama, yaitu merah bata (34,35%), kuning
(25,51%), cokelat (19,96%), hitam (10,91%), dan putih (9,26%) (Sarbaini 2004).
10
Selain itu, sapi pesisir juga dikenal bertemperamen jinak sehingga mudah
dikendalikan dalam pemeliharaan. Karakteristik lain adalah berpunuk kecil
sampai sedang, tanduk pendek dan mengarah ke luar, seperti tanduk kambing
(Saladin 1983) (Gambar 4).
Sapi lokal jantan Sumatera Barat memiliki rataan tinggi pundak 115 cm
dan sapi betina 105 cm (Merkens 1926), sedangkan Saladin (1983) mendapatkan
rataan tinggi pundak umur 4 tahun 114 cm dan betina 109 cm. Demikian pula
Sarbaini (2004) mendapatkan rataan tinggi pundak pada sapi pesisir jantan dewasa
pada setiap subpopulasi sapi pesisir, yaitu di daerah Kabupaten Pesisir Selatan,
Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Agam masing-masing 99,9 cm,
108,7 cm, dan 101,8 cm, sedangkan ukuran betinanya masing-masing 99,2 cm,
108,2 cm, dan 101,7 cm. Dibandingkan dengan sapi bali dan sapi ongole, sapi
pesisir memiliki bobot badan dan ukuran tubuh lebih kecil baik pada jantan
maupun pada betina (Saladin 1983) (Tabel 1). Hal yang sama juga ditemukan
oleh Sarbaini (2004) bahwa bobot badan sapi pesisir lebih rendah dibandingkan
dengan sapi madura, sapi bali, sapi aceh, dan peranakan ongole (PO) pada umur
0,5-1,0 tahun baik jantan maupun betina.
11
Tabel 1 Bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh dewasa (3-6 tahun) sapi pesisir,
sapi bali, dan sapi ongole
Peubah Berdasarkan
Sapi Pesisir **1-2 Sapi Pesisir* Sapi Bali* Sapi Ongole*
Jenis Kelamin
Jantan :
Bobot badan (kg) 162,2 203,1 294,5 395,6 510,0
Tinggi pundak (cm) 99,9 108,7 110,2 126,0 135,0
Panjang badan (cm) 112,2 119,3 114,8 132,0 133,0
Lingkar dada (cm) 124,2 142,3 142,0 193,0 169,0
Betina :
Bobot badan (kg) 149,1 199,9 256,5 302,5 420,0
Tinggi pundak (cm) 99,2 108,2 110,0 115,0 122,0
Panjang badan (cm) 109,4 118,3 117,0 120,0 132,0
Lingkar dada (cm) 125,5 140,1 138,0 168,0 162,0
Sumber : Sarbaini (2004)**, 1= Kabupaten Pesisir Selatan, 2= Kabupaten Padang Pariaman
Saladin (1983)*
Hormon Pertumbuhan
Nutrisi – NA/A +
Somatomedin – 5TH +/-
Stres – (+) Hipotalamus Asetilkolin +
Androgen (+) Prostaglandin +/-
T4/T3 +/-
Kelenjar Hipofisa
Hormon Pertumbuhan
+/-
Metabolisme Lemak Pertumbuhan
Lipolisis ↑ + Tulang rawan ↑
Lipogenesis ↓ Otot ↑
Trigliserida ↓ Hati ?
?
Disimpan
Somatomedin ↑
+ +
Pelepasan Hormon Produksi Susu
Insulin ↑ + ?+ Laktosa ↑
Glukokortikoid ↑ Lemak ↑
T4/T3 ↓
Keterangan :
TRH = thyrotrophin releasing hormone, GRF = growth hormone releasing factor, SRIF =
somatostatin inhibitory releasing factor, T3 = triiodothyronine, T4 = thyroxine, NA = non
adrenaline, A = adrenaline, 5HT = 5-hydroxytryptamine, ↑ = meningkat, ↓ = menurun.
Kelenjar Hipofisa
IGF-1
Tulang
Otot
Semua gen terdiri atas rangkaian DNA, namun tidak semua rangkaian
DNA identik dengan gen atau dengan kata lain ada bagian DNA yang bukan
merupakan gen. DNA yang bukan gen dapat diidentifikasi, dikarakterisasi dan
ditentukan posisinya pada genom. Segmen-segmen DNA yang bukan gen dapat
diketahui dalam bentuk minisatelit, mikrosatelit, short interspersed nucleotide
element (SINE) dan long interspersed nucleotide element (LINE)(Brown 1999).
Gen adalah bagian segmen DNA termasuk semua nukleotida yang
ditranskripsi ke dalam mRNA yang akan ditranslasi menjadi protein (Nicholas
1996; Brown 1999; Muladno 2002). Bagian gen yang mengkode asam amino dan
18
menghasilkan protein disebut daerah penyandi (coding sequence) (CDS). Selain
itu, terdapat pula bagian segmen depan (leader segment) dan segmen belakang
(trailer segment) yang mengapit daerah CDS. Beberapa gen pada eukaryot
bersifat tidak kontinyu karena adanya exon (pengkode protein) dan intron (spacer
internal antara pengkode protein). Pada saat transkripsi, bagian intron hilang
(splicing), sehingga proses translasi berjalan baik (Brown 1999).
Woychick et al. (1982) dan Gordon et al (1983) menyatakan bahwa gen
hormon pertumbuhan (GH) pada sapi Bos taurus memiliki panjang sekuens
nukleotida 2856 bp dengan bagian open reading frame-nya 1800 bp (Gambar 8)
(Lampiran 1). Selanjutnya dinyatakan bahwa gen GH terdiri atas lima exon dan
dipisahkan oleh empat intron dengan panjang sekuens nukleotida yang berbeda
antara exon dan intron (Gambar 9). Gen GH merupakan gen yang menyandi
hormon pertumbuhan sebagai produknya dan terletak di kromosom 19 pada ternak
sapi (Hediger et al. 1990). Gen GH berdasarkan data PCR-RFLP telah diketahui
memiliki keragaman yang tinggi (Cowan et al. 1989) dan polimorfisme untuk
enzim pemotong MspI yang terletak di intron tiga (Zhang et al. 1992) dan enzim
pemotong AluI di exon lima, yaitu terjadi transversi dari nukleotida cytosine (C)
menjadi guanine (G) pada posisi asam amino 127 yang menyebabkan asam amino
berubah dari leucine menjadi valine (Lucy et al. 1993).
Mutasi (polimorfisme) yang terjadi pada gen GH secara intensif telah
diteliti karena diduga mungkin berpengaruh pada ekspresi fenotipe. Beberapa
hasil penelitian dilaporkan bahwa genotipe +/+ dan +/- fragmen gen GH MspI
berpengaruh positif pada sifat bobot badan dan kualitas daging (Unanian et al.
2000; Garcia et al. 2003; Di Stasio et al. 2005). Schlee (1994) menyatakan bahwa
polimorfisme fragmen gen GH AluI yang bergenotipe LL diduga kuat
berhubungan dengan tingkat plasma hormon pertumbuhan. Genotipe VV menurut
Growchowska et al. (1997) memiliki konsentrasi GH yang lebih tinggi
dibandingkan dengan genotipe LV dan LL. Sebaliknya Reis et al. (2001)
menyatakan bahwa genotipe LL berhubungan dengan konsentrasi sirkulasi yang
lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe LV pada hormon pertumbuhan.
19
Keterangan : huruf kecil = segmen depan atau belakang, huruf besar = daerah CDS (coding
sequence).
Gambar 8 Sekuens gen hormon pertumbuhan (bGH) pada sapi Bos taurus yang
diakses di GenBank (Gordon et al. 1983).
5’ 3’
Exon 1 Exon 2 Exon 3 Exon 4 Exon 5
intron 1 intron 2 intron 3 intron 4
Flanking Flanking
region 5’ region 3’
Keterangan :
Lokus = BOVGH
Panjang = 2856 bp
Gen = 649-723, 971-1131, 1359-1475, 1703-1864, 2138-2439
Sekuen depan = 648 = 648 bp
Exon 1 = 649-723 = 75 bp Intron 1 = 724- 970 = 247 bp
Exon 2 = 971-1131 = 161 bp Intron 2 = 1132-1358 = 227 bp
Exon 3 = 1359-1475 = 227 bp Intron 3 = 1476-1702 = 227 bp
Exon 4 = 1703-1864 = 162 bp Intron 4 = 1865-2137 = 273 bp
Exon 5 = 2138-2439 = 302 bp Sekuen ujung = 2440-2865 = 382 bp
Teknik RFLP yang dikombinasikan dengan teknik PCR telah secara luas
digunakan untuk mendapatkan variasi pada setiap daerah atau lokasi DNA, baik
pada daerah yang bersifat penyandi (coding region) pada genom maupun pada
daerah yang tidak penyandi atau daerah non-coding (Vasconcellos et al. 2003).
Tingkat polimorfisme dan mutasi yang tinggi di daerah non-coding diduga dapat
mempengaruhi ekspresi gen secara tidak langsung (Funk 2001).
Tabel 4 Jumlah ternak sapi pesisir, sapi bali, sapi limousin, dan sapi simmental
yang digunakan dalam penelitian
Jenis Kelamin
No. Bangsa Sapi Jumlah Asal
Jantan Betina
------------(ekor)----------
1. Pesisir 22 76 98 Kab. Pesisir Selatan
1 34 35 Kab. Padang Pariaman
2. Bali 47 - 47 P3 Bali Pulau Bali
3. Limousin 22 - 22 BIB Singosari Malang
4. Simmental 18 - 18 BIB Singosari Malang
Total 110 110 220
27
P3 Bali, Pekutatan
Kecamatan Pangianan
Kabupaten Negara, Bali
Gambar 10.b Lokasi pengambilan sampel sapi simmental dan limousin di BIB
Singosari Malang, Jawa Timur, serta sapi bali di P3 Bali, Pulau
Bali.
29
Bahan dan Alat Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan sampel darah sapi menggunakan bahan pengawet darah
berupa etanol absolut (PA), alkohol 70%, dan kapas, sedangkan alat yang
digunakan venoject multi , tube holder, vacutainer, spuit dispossible, dan alat-alat
tulis, serta alat penyimpan darah.
\
30
Bahan dan Alat Analisis PCR-RFLP
Bahan yang digunakan dalam analisis PCR-RFLP (Polymerase Chain
Reaction-Fragment Length Polymorphism) adalah produk PCR fragmen gen
hormon pertumbuhan MspI dan AluI, deionized water, buffer enzim pemotong
/restriksi dan enzim pemotong MspI dan AluI 10 unit/μl. Peralatan yang
digunakan dalam analisis PCR-RFLP adalah pipet tip Axygen, mikro pipet 10 P,
20 P dan 200 P Gilson, mikro tube eppendorf Axygen ukuran 0,2 ml, dan
o
inkubator suhu 37 C (Hereues Instruments-Germany).
1. F 5’-CCC ACG GGC AAG AAT GAG GC-3’ Mitra et al. (1995)
R 5’-TGA GGA ACT GCA GGG GCC CA-3’
2. F 5’-GCT GCT CCT GAG GGC CTT C-3’ Reis et al. (2001)
R 5’-CAT GAC CCT CAG GTA CGT CTC CG-3’
Keterangan : F = Forward, R = Reverse.
Fragmen gen GH MspI memiliki satu situs pemotong enzim MspI dengan
panjang produk PCR 329 bp terdapat pada posisi inton 3 parsial dan exon 4 parsial
(Gambar 11). Adapun fragmen GH AluI juga memiliki satu situs pemotong enzim
AluI dengan panjang produk PCR 211 bp terdapat pada posisi intron 4 parsial dan
exon 5 parsial (Gambar 12).
2041 gc tgctcctgag
2101 ggcccttcgg cctctctgtc tctccctccc ttggcaggAG CTggaagatg gcaccccccg
2161 ggctgggcag atcctcaagc agacctatga caaatttgac acaaacatgc gcagtgacga
2221 cgcgctgctc aagaactacg gtctgctctc ctgcttccgg aaggacctgc ataagacgga
2281 gacgtacctg agggtcatg
Bahan pereaksi yang digunakan untuk PCR adalah templet DNA, buffer
10x, 10 mM dNTP, 50 mM MgCl2, primer Forward dan Reverse masing-masing
30 pmol, dan 2,5 unit Tag DNA Polymerase (Promega PCR Core System USA)
dengan total volume reaksi 50 μl. Adapun komposisi bahan untuk volume reaksi
35
50 μl adalah 5 μl buffer PCR 10x bebas MgCl2, 2 μl MgCl2, 1 μl dNTP, 1,5 μl
masing-masing primer Forward dan Riverse, 1,5 μl sampel DNA, dan 0,25 μl
enzim Tag DNA Polymerase dan sisanya deionized water 37,25 μl. Sebelum
bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam mesin PCR, terlebih dahulu diputar
sebentar (spin down) dengan mikro sentrifuge.
⎛ ⎞
⎜ 2 n ii + ∑ n ij ⎟
⎜ ⎟
⎝ j≠ i ⎠
xi =
2n
Keterangan :
xi = frekuensi alel ke-i,
nii = jumlah individu bergenotipe AiAi,
nij = jumlah individu bergenotipe AiAj,
n = jumlah total sampel.
( obs − exp)
2
χ ∑
2
=
exp
Keterangan :
χ2 = uji Chi-square,
Obs = jumlah pengamatan genotipe ke-i,
Exp = jumlah harapan genotipe ke-i.
N 1ij
Ho = ∑
i≠ j N
Keterangan :
Ho = frekuensi heterozigositas pengamatan,
N1ij = jumlah individu heterozigot pada lokus ke-1,
N = jumlah individu yang dianalisis.
n
H e = 1 − ∑ p1i
2
1=1
Keterangan :
He = heterozigositas harapan,
p1i = frekuensi alel ke-i pada lokus 1,
n = jumlah alel pada lokus ke-1.
39
V s1 ( H e ) =
2
2 n (2 n − 1)
{ 3
(
2(2 n − 2 ) ∑ xi − (∑ x ) )+ ∑ x − (∑ x ) }
i
2 2
i
2
i
2 2
Keterangan :
Vsl (He) = ragam heterozigositas harapan,
xi = frekuensi gen ke-1.
n n −1 n
PIC = 1 − ∑ pi − ∑ ∑2p
2 2
i p 2j
i =1 i =1 j = i +1
Keterangan :
pi = frekuensi alel ke-i,
n = jumlah alel per penciri (marker)
Hasil sekuens fragmen gen GH MspI dan AluI sapi pesisir, sapi bali, sapi
limousin, dan simmental dianalisis kesamaannya (homology) dengan sekuens
yang terdapat di GenBank menggunakan perangkat lunak (software) komputer
program Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) (Altchul et al. 1997)
[www.ncbi .nhl.nih.gov./BLAST] yang bertujuan untuk memastikan bahwa
sekuens yang dianalisis adalah fragmen gen GH. Selain mendapatkan kesamaan
sekuens antar-bangsa, juga dapat diduga posisi ada tidaknya mutasi yang terjadi
pada gen GH dan sekuens basa nukleotida spesifik yang dianalisis. Kesamaan
suatu sekuens tinggi apabila score yang didapat >200 bits. Hasil sekuens fragmen
gen GH MspI dan AluI pada sapi pesisir, sapi bali, sapi limousin, dan sapi
simmental yang diperoleh dibuat pohon kekerabatannya (phylogenetic trees)
dengan menggunakan software komputer program Molecular Evolutionary
Genetic Analysis (MEGA4) dengan metode Neighbor-Joining berdasarkan
bootstrap 1000 pengulangan (Kumar dan Tamura 2006).
Perbedaan bobot badan dan ukuran tubuh antar-genotipe fragmen gen GH
MspI dan AluI dianalisis dengan menggunakan uji t (Mendenhall 1987) :
40
=
x −x
1 2
t 1 1
s +
n n 1 2
∑ (x i − x 1) + ∑ (x i − x 2)
n 2 n 2
s = i =1 i =1
n +n −2 1 2
Keterangan :
x1 dan x2 = rataan sifat produksi genotipe 1 dan 2
n1 dan n2 = jumlah individu genotipe 1 dan 2
= x standar
x i − terkoreksi
x xpengamatan ke −i
x pengamatan
Keterangan :
x i − terkoreksi
= data yang telah dikoreksi
x standar
= rataan data yang dijadikan standar
x pengamat an
= rataan data yang akan dikoreksi
x pengamatanke −i
= data yang akan dikoreksi ke-i
Adapun prosedur tahapan data terkoreksi untuk sapi pesisir (xi): (1) koreksi
pertama dilakukan terhadap umur 2,0-2,5 tahun, semua data umur < 2,0 tahun
atau > 2,5 tahun dikoreksi menurut rataan umur 2,0-2,5 tahun pada setiap jenis
kelamin dan lokasi berbeda, (2) koreksi kedua dilanjutkan terhadap jenis kalamin
betina, semua data jenis kelamin jantan dikoreksi terhadap jenis kelamin betina
pada setiap lokasi berbeda, dan (3) koreksi ketiga dilakukan terhadap lokasi di
Kabupaten Pesisir Selatan, maka semua data di Kabupaten Padang Pariaman
dikoreksi terhadap lokasi di Kabupaten Pesisir Selatan. Koreksi data juga
dilakukan pada bangsa sapi bali, sapi limousin, dan sapi simmental dengan
prosedur yang sama akan tetapi tidak dilakukan koreksi terhadap jenis kelamin
dan lokasi. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak komputer program
microsoft Excel 2003.
41
HASIL DAN PEMBAHASAN
…5’CGCAC*CGGCC’3.… …5’AGGAG*CTGAA’3.…
327 bp 211 bp
Gambar 13 Posisi fragmen gen GH MspI dan AluI serta situs pemotong enzimnya.
500 bp
300 bp 327 bp
200 bp
100 bp
500 bp
300 bp
200 bp 211 bp
100 bp
M K+ 1 2 3 4 5 6
500 bp
300 bp 327 bp
200 bp 222 bp
100 bp 105 bp
M 1 2 3 4 5 6 7 8
500 bp
300 bp
200 bp 211 bp
100 bp 160 bp
50 bp 51 bp
Genotipe: LL LL LL LL LL VV LV LV
Keterangan :
M (marker) = ladder 100 bp
No. 1, 2, 3, 4, 5 = individu homozigot LL
No. 6 = individu homozigot VV
No.7, 8 = individu heterozigot LV
Tabel 8 Frekuensi genotipe dan alel fragmen gen GH MspI pada sapi pesisir di
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman
Genotipe Alel
No. Lokasi n
+/+ +/- -/- (+) (-)
1. Pesisir Selatan 98 0,031 0,327 0,643 0,194 0,806
2. Padang Pariaman 35 0,114 0,229 0,657 0,229 0,771
Total 133 0,053 0,301 0.647 0,203 0,797
Keterangan : n = jumlah individu
Tabel 9 Frekuensi genotipe dan alel fragmen gen GH MspI pada sapi bali, sapi
simmental, dan sapi limousin
Genotipe Alel
No. Bangsa n
+/+ +/- -/- (+) (-)
1. Bali 47 0,000 0,000 1,000 0,000 1,000
2. Limousin 22 0,409 0,454 0,136 0,636 0,364
3. Simmental 18 0,773 0,222 0,000 0,889 0,111
Keterangan : n = jumlah individu
46
100%
100%
Proporsi alel fragmen gen GH MspI
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Pesisir Selatan Padang Bali Limousin Simmental
Pariaman
Bangsa Sapi
Gambar 19 Proporsi alel fragmen gen GH MspI pada sapi pesisir, sapi
bali, sapi limousin, dan sapi simmental.
47
Pada Gambar 18 dan 19 tampak bahwa proporsi genotipe dan alel
fragmen gen GH MspI antara sapi pesisir baik yang berasal dari Kabupaten Pesisir
Selatan maupun dari Kabupaten Padang Pariaman dan sapi bali memiliki proporsi
genotipe -/- atau alel (-) tinggi, sebaliknya pada sapi limousin dan sapi simmental
rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan proporsi genotipe dan
alel antara sapi pesisir dan sapi bali dengan sapi impor (sapi limousin dan sapi
simmental) untuk fragmen gen GH MspI. Perbedaan tersebut mungkin disebabkan
oleh kondisi lingkungan tropis (ekstrim) yang membentuk sapi pesisir dan sapi
bali, berbeda dari sapi impor (sapi limousin dan sapi simmental) yang
berkembang di daerah temperet sehingga diduga dapat mengubah proporsi
genotipe atau alel fragmen gen GH MspI. Selain itu, mungkin juga peran sapi bali
telah memberikan proporsi yang besar terhadap pembentukan sapi pesisir
sehingga memiliki proporsi genotipe -/- atau alel (-) fragmen gen GH MspI yang
tinggi karena sapi bali hanya memiliki genotipe -/- atau alel (-) atau bersifat
monomorfik.
Kajian distribusi fragmen gen GH MspI terhadap beberapa bangsa sapi di
dunia yang termasuk dalam kelompok bangsa sapi tidak berpunuk (humpless) dan
berpunuk (humped) menunjukkan bahwa frekuensi alel (-) lebih tinggi pada
kelompok sapi yang berpunuk (Bos indicus) dibandingkan dengan sapi tidak
berpunuk (Bos taurus) (Lagziel et al. 2000) (Tabel 10). Hasil penelitian ini juga
mengindikasikan bahwa frekuensi alel (-) tinggi pada sapi pesisir dan sapi bali.
Dengan demikian, tidak hanya sapi berpunuk (Bos indicus) yang memiliki
frekuensi alel (-) tinggi (Lagziel et al. 2000), akan tetapi juga sapi pesisir dan sapi
bali (Bos javanicus) memiliki frekuensi yang sama (tinggi frekuensi alel (-) dan
bukan termasuk kelompok sapi berpunuk). Hasil penelitian yang diperoleh
menambah informasi bahwa frekuensi alel (-) tinggi tidak hanya terdapat pada
kelompok sapi berpunuk (Bos indicus), tapi juga pada sapi bali sebagai ternak asli
Indonesia (Bos javanicus) dan sapi pesisir (Gambar 20). Adapun sapi impor (sapi
limousin dan sapi simmental) berdasarkan hasil yang diperoleh mendukung
pernyataan Lagziel et al. (2000), bahwa frekuensi alel (-) rendah pada kelompok
sapi berpunuk (Bos taurus).
48
Tabel 10 Distribusi frekuensi alel (-) fragmen gen GH MspI berdasarkan bangsa,
jumlah individu, asal bangsa, dan tipe bangsa
Frekuensi
Asal
Bangsa Sapi n Tipe Bangsa Alel
Bangsa
(-)
Angus 65 Scotlandia HL 0,40
Brown Carphatian 22 Ukraina HL 0,26
Charolais 7 Perancis HL 0,22
Gelbveih 15 Jerman HL 0,06
Gray Ukraina 22 Ukraina HL 0,33
Holstein 473 Belanda HL 0,00
Jersey 13 Jersey HL 0,15
Limousin 18 Perancis HL 0,39
N’Dhama 18 Guenia HL 0,00
Norwegian Red 32 Denmark HL 0,05
Red Danis 58 Denmark HL 0,19
Reggiana 26 Italia HL 0,52
Simmental 23 Switzerland HL 0,04
**)
Limousin 22 Perancis HL 0,36
**)
Simmental 18 Switzerland HL 0,11
Boran 4 Kenya H 0,88
Brahman 23 India H 0,65
Gir 18 India H 0,89
Nellore 20 India H 0,82
Siri 9 Bhutan H 0,45
*
Peranakan Ongole (PO) 114 Indonesia H 0,26
**)
Bali 47 Pulau Bali HL 1,00
**)
Pesisir 133 Sum-Bar H 0,80
*) **
Sumber : Lagziel et al. (2000), Sutarno et al. (2005), ) hasil penelitian.
Keterangan : HL = Humpless, H = Humped
49
Alel (-)
Alel (+)
Gambar 20 Distribusi alel (+) dan (-) fragmen gen GH MspI di dunia (Lagziel et al. 2000; Sutarno et al. 2005; Hasil Penelitian).
50
Pada Gambar 20 tampak bahwa distribusi frekuensi alel (-) tinggi di
daerah tropis yang memperkuat dugaan akan adanya kemungkinan yang
mendukung bahwa alel (-) merupakan alel spesifik untuk daerah tropis. Alel (-)
merupakan alel yang diduga mengalami mutasi pada situs pemotong enzim MspI
(Lampiran 4) sehingga sapi pesisir dan sapi bali merupakan populasi sapi yang
umumnya mengalami mutasi pada situs tersebut. Sebaliknya sapi limousin dan
sapi simmental merupakan populasi sapi yang tidak mengalami mutasi pada situs
pemotong enzim MspI (C*CGG) di gen GH.
Nei (1987) menyatakan bahwa mutasi dapat terjadi pada level DNA
akibat adanya perubahan basa-basa DNA (A = adenin, T = timin, G= guanin, S =
sitosin) dalam bentuk atau tipe mutasi substitusi, delesi, insersi, atau inversi.
Pada situs ini, sapi pesisir dan sapi bali diduga mengalami substitusi (tipe transisi)
dari basa sitosin (S) ke basa timin (T) (Lampiran 4). Laju mutasi pada DNA di
daerah coding relatif rendah, yaitu 4x10-5 per generasi, meskipun laju mutasi
merupakan parameter yang krusial karena tidak dapat diukur secara pasti. Brown
(1999) menyatakan bahwa penyebab mutasi terjadi karena adanya kesalahan
secara spontan pada saat replikasi atau adanya suatu mutagen yang dapat
menyebabkan terjadinya perubahan pada basa-basa tersebut.
Beberapa hasil penelitian terkini yang mendukung dan masih terkait
dengan frekuensi alel (-) fragmen gen GH MspI masih terus berlangsung.
Zakezadeh et al. (2006), Beauchemin et al. (2006), dan Sodhi et al. (2007)
melaporkan bahwa frekuensi alel (-) fragmen gen GH MspI masing-masing 0,45,
0,64, dan 0,87 pada sapi asli iran (mazandrani) (tidak berpunuk), sapi brahman,
dan sapi indian zebu (berpunuk). Hasil penelitian ini masih mendukung terhadap
hasil yang telah didapatkan oleh Lagziel et al. (2000) bahwa frekuensi alel (-)
fragmen gen GH MspI tinggi pada kelompok sapi berpunuk (Bos indicus) dan
rendah pada kelompok sapi tidak berpunuk (Bos taurus). Selanjutnya Lagziel et
al. (2000) menyatakan bahwa alel (-) merupakan pusat asal-usul alel yang
terdapat pada kelompok sapi zebu. Hasil ini juga diperkuat oleh hasil penelitian
sebelumnya Loftus et al. (1994) dan MacHugh (1996) yang menyatakan bahwa
sapi-sapi zebu (Bos indicus) berasal dari India sebagai salah satu pusat
terbentuknya domestikasi Bos indicus dan menyebar ke Asia dan Afrika.
51
b. Frekuensi Genotipe dan Alel Fragmen Gen GH AluI
Hasil analisis frekuensi genotipe (LL, LV, dan VV) dan frekuensi alel
(L,V) fragmen gen GH AluI pada sapi pesisir yang berasal dari Kabupaten Pesisir
Selatan maupun dari Kabupaten Padang Pariaman disajikan pada Tabel 11,
sedangkan sapi bali, sapi limousin, dan sapi simmental disajikan pada Tabel 12
serta Lampiran 3.
Tabel 11 Frekuensi genotipe dan alel fragmen gen GH AluI pada sapi pesisir di
Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman
Genotipe Alel
No. Lokasi n
LL LV VV L V
1. Pesisir Selatan 98 0,990 0,010 0,000 0,995 0,005
2. Padang Pariaman 35 0,971 0,029 0,000 0,986 0,014
Total 133 0,985 0,015 0,000 0,993 0,007
Keterangan : n = jumlah individu
Tabel 12 Frekuensi genotipe dan alel fragmen gen GH AluI pada sapi bali, sapi
simmental, dan sapi limousin
Genotipe Alel
No. Bangsa n
LL LV VV L V
1. Bali 47 1,000 0,000 0,000 1,000 0,000
2. Limousin 22 0,636 0,364 0,000 0,818 0,182
3. Simmental 18 0,500 0,389 0,111 0,694 0,306
Keterangan : n = jumlah individu
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Pesisir Selatan Padang Bali Limousin Simmental
Pariaman
Bangsa
100%
Proporsi alel fragmen gen GH AluI
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Pesisir Selatan Padang Bali Limousin Simmental
Pariaman
Bangsa
Alel L Alel V
Gambar 22 Proporsi alel fragmen gen GH AluI pada sapi pesisir, sapi
bali, sapi limousin, dan sapi simmental.
53
Gambar 21 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan pada sapi
pesisir dan sapi bali memiliki proporsi genotipe yang lebih tinggi dan bahkan
mengarah terjadinya fiksasi untuk genotipe LL dibandingkan dengan sapi
limousin dan sapi simmental. Kecenderungan yang sama juga ditunjukkan pada
Gambar 22 bahwa frekuensi alel L lebih tinggi pada sapi pesisir dan sapi bali,
sebaliknya rendah pada sapi limousin dan sapi simmental. Dengan demikian,
frekuensi genotipe dan alel fragmen gen GH AluI memiliki kecenderungan yang
sama tinggi, akan tetapi pada sapi pesisir dan sapi bali mengarah terjadinya fiksasi
(genotipe LL dan alel L) dibandingkan dengan sapi limousin dan sapi simmental.
Beberapa hasil penelitian lain juga menunjukkan kecenderungan yang sama
dengan hasil penelitian yang diperoleh bahwa frekuensi alel L tinggi, sebaliknya
rendah pada alel V terhadap semua kelompok sapi yang termasuk dalam
kelompok sapi tidak berpunuk (Bos taurus), sapi berpunuk (Bos indicus), maupun
silangannya (Tabel 13).
Tabel 13 Distribusi frekuensi alel fragmen gen GH AluI pada beberapa bangsa
sapi berpunuk, tidak berpunuk, dan silangannya
Tipe Frekuensi Alel
Bangsa Sapi n Sumber
Bangsa L V
FH Polish 109 HL 0,640 0,360 Grochowska et al. (2001)
FH Polish 177 HL 0,870 0,130 Zwierzchowski et al. (2002)
FH Polandia 1086 HL 0,815 0,185 Dybus (2002)
FH Hungaria 363 HL 0,930 0,070 Kovacs et al. (2006)
Mazandrani 97 HL 0,910 0,090 Zakezadeh et al. (2006)
Pedaging Portugis 195 HL 0,759 0,241 Reis et al. (2001)
Canchim Brazil 688 Silangan 0,870 0,130 Pereira et al. (2005)
Agus 527 HL 0,770 0,230 Barendse et al. (2006)
Shorthorn 500 HL 0,760 0,240 Barendse et al. (2006)
Brahman 324 H 1,000 0,000 Beauchemin et al. (2006)
Nellore 79 H 1,000 0,000 Curi et al. (2006)
½ Simmental 30 Silangan 0,717 0,283 Curi et al. (2006)
½ Angus 245 Silangan 0,992 0,080 Curi et al. (2006)
Limousin 22 HL 0,818 0,182 Hasil penelitian
Simmental 18 HL 0,694 0,306 Hasil penelitian
Pesisir 133 H 0,993 0,007 Hasil penelitian
Bali 47 HL 1,000 0,000 Hasil penelitian
Keterangan : n = jumlah individu, HL = humpless, H = humped
54
Tabel 13 memperlihatkan bahwa frekuensi alel L tinggi pada semua
kelompok bangsa sapi, sebaliknya rendah pada alel V. Terdapat kecenderungan
bahwa alel V pada kelompok sapi tidak berpunuk (Bos taurus) relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok sapi berpunuk (Bos indicus), sapi pesisir, dan sapi
bali. Langkanya alel V pada sapi pesisir dan sapi bali menarik untuk dikaji.
Adanya beberapa dugaan terhadap kemungkinan langkanya alel V pada sapi
pesisir dan sapi bali berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu (1) alel V merupakan
alel spesifik untuk bangsa sapi yang termasuk dalam kelompok Bos taurus
sehingga sangat jarang ditemukan pada populasi sapi asli atau sapi lokal Indonesia
(Tabel 13) dan (2) mungkin saja alel V pada sapi pesisir dan sapi bali terkuras
akibat penjualan atau pemotongan terhadap sapi-sapi yang memiliki bobot badan
besar. Jika asumsi alel V memiliki hubungan dengan bobot badan besar, bisa jadi
langkanya alel tersebut pada ternak kita khususnya akibat hal tersebut.
Zwierzchowski et al. (2001) menyatakan bahwa genotipe VV memiliki bobot
badan dan pertambahan bobot badan harian yang lebih besar dibandingkan
genotipe LL dan LV pada sapi pedaging.
Sehubungan dengan keberadaan fragmen gen GH AluI, fragmen gen itu
saat ini sangat intensif diteliti dibandingkan dengan fragmen gen GH MspI. Hal
ini karena posisi situs AluI (AG*CT) berada pada exon 5 gen GH yang merupakan
daerah penyandi (coding region). Berdeda dengan situs MspI (C*CGG) yang
berada pada posisi intron 3 di gen GH yang bukan daerah penyandi (non-coding).
Perubahan yang terjadi pada situs AluI (AG*CT) dari basa sitosin (C) menjadi
guanin (G) dapat mengubah asam amino dari leusin menjadi valin (Lucy et al.
1993) sehingga diduga akan mengubah struktur hormon pertumbuhan yang
dihasilkan. Berbeda dengan posisi fragmen gen GH MspI bahwa situs MspI
(C*CGG) terletak pada intron 3 yang merupakan daerah bukan penyandi (non-
coding) sehingga perubahan atau mutasi pada situs tersebut tidak akan mengubah
struktur hormon pertumbuhan yang dihasilkan. Meskipun demikian, jika terjadi
perubahan atau mutasi pada situs tersebut dapat mencerminkan respon perbedaan
geografi antara kelompok sapi Bos taurus (humpless) dan Bos indicus (humped)
(Lagziel et al. 2000), serta kelompok sapi yang terdapat di Indonesia seperti sapi
pesisir dan sapi bali.
55
Keseimbangan Gen dalam Populasi
Hasil uji chi-square (χ2), terhadap genotipe fragmen gen GH MspI dan
AluI (Lampiran 4) menunjukkan bahwa frekuensi genotipe kedua fragmen gen
GH dalam keadaan seimbang (keseimbangan Hardy-Weinberg) pada populasi sapi
pesisir di Kabupaten Pesisir Selatan, sapi limousin, dan sapi simmental.
Ketidakseimbangan genotipe hanya terjadi pada populasi sapi pesisir yang
terdapat di Kabupaten Padang Pariaman untuk fragmen gen GH MspI.
Keseimbangan frekuensi genotipe pada populasi sapi bali tidak dilakukan analisis
karena frekuensi alel fragmen gen GH MspI dan AluI sama dengan satu.
Keseimbangan frekuensi genotipe yang terdapat pada populasi sapi pesisir, sapi
limousin, dan sapi simmental menunjukkan bahwa pada populasi tersebut tidak
terjadi seleksi terutama seleksi yang didasarkan pada genotipe gen GH.
Sebaliknya pada sapi pesisir yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman diduga
terjadi seleksi karena frekuensi gen GH MspI dalam populasi tersebut tidak
seimbang, meskipun hal ini perlu penelitian lanjut karena jumlah sampel yang
digunakan terbatas (35 sampel).
Suatu populasi dinyatakan dalam keadaan keseimbangan Hardy-
Weinberg, jika frekuensi genotipe (p2, 2pq dan q2) dan frekuensi alel (p dan q)
konstan dari generasi ke generasi, karena akibat penggabungan gamet yang terjadi
secara acak dalam populasi yang besar (Vasconcellos et al. 2003). Falconer dan
Mackay (1996), juga Noor (2004) menyatakan bahwa keseimbangan gen dalam
populasi terjadi jika tidak adanya seleksi, mutasi, migrasi, dan genetic drift.
Sebaliknya, jika terjadi akumulasi genotipe, populasi yang terbagi, mutasi, seleksi,
migrasi, dan perkawinan dalam kelompok/populasi yang sama (endogami) maka
dapat menimbulkan terjadinya ketidakseimbangan frekuensi genotipe atau alel
dalam populasi tersebut. Seleksi sebagai salah satu faktor yang dapat mengubah
keseimbangan dalam populasi secara cepat, umumnya tidak terjadi pada populasi
sapi pesisir, sapi limousin, dan sapi simmental. Hal itu karena pada populasi sapi
yang dianalisis mengindikasikan bahwa tidak ada seleksi yang didasarkan pada
kriteria genotipe baik pada fragmen gen GH MspI maupun pada fragmen gen GH
AluI. Keseimbangan dalam populasi dengan demikian dapat selalu terjaga, kecuali
56
pada populasi sapi pesisir yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman terutama
untuk penciri PCR-RFLP MspI.
Tabel 18 Mutasi basa nukleotida pada fragmen gen GH MspI dan AluI
Fragmen Sekuens Enzim Perubahan Basa Posisi
Tabel 19 Jarak genetik gabungan fragmen gen GH MspI (intron 3 parsial dan
exon 4 parsial) dan AluI (intron 4 parsial dan exon 5 parsial)
Bangsa Sapi 1 2 3 4 5 6
Pesisir 1 [1] 0,00
Pesisir 2 [2] 0,00 0,00
Pesisir 3 [3] 0,00 0,00 0,00
Bali [4] 4,00 4,00 4,00 0,00
Limousin [5] 4,00 4,00 4,00 6,00 0,00
Simmental [6] 6,00 6,00 6,00 8,00 2,00 0,00
Sapi Pesisir 1
78
Sapi Pesisir 3
Sapi Pesisir 2
Sapi Bali
97 Sapi Limousin
Sapi Simmental
Sapi Pesisir 1 TGAGTGGCAC CTCGGACCGA GGGAGCAGGG GACCTCCTTC ATCCTAAGTA GGCTGCCCCA GCTCTCCGCA CTGGGCCTGG GGCGGCCTTC TCCCCGAGGT [100]
Sapi Pesisir 2 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [100]
Sapi Pesisir 3 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [100]
Sapi Bali .......... .......... ..A....... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [100]
Sapi Limousin .......... ......A... ..A....... .......... .......... .......... .......... .C........ .......... .......... [100]
Sapi Simmental ...A...... ......A... ..A....... .......... .......... .......... .......... .C........ .......... .......... [100]
Sapi Pesisir 1 GGCGGAGGTT GTTGGATGGC AGTGGAGGAT GATGGTGGGC GGTGGTGGCA GGAGGTCCTC GGGCAGAGGC CGACCTTGCA GGGCTGCCCC AAGCCCGCGG [200]
Sapi Pesisir 2 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [200]
Sapi Pesisir 3 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [200]
Sapi Bali ..T....... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [200]
Sapi Limousin .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [200]
Sapi Simmental .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [200]
Sapi Pesisir 1 CACCCACCGA CCACCCATCT GCCAGCAGGA CTTGGAGCTG CTTCGCATCT CACTGCTCCT CATCCAGTCG TGGCTTGGGC CCTGGCAGTT CCCTAAACCT [300]
Sapi Pesisir 2 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [300]
Sapi Pesisir 3 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [300]
Sapi Bali .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [300]
Sapi Limousin .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [300]
Sapi Simmental .......... .......C.. .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... [300]
Sapi Pesisir 1 TGGCAGGAGC TGGAAGATGG CACCCCCCGG GCTGGGCAGA TCCTCA-GCA GACCTATGAC AAATTTGACA CAAACATGCG CAGTGACGAC GCGCTGCTCA [400]
Sapi Pesisir 2 .......... .......... .......... .......... ......-... .......... .......... .......... .......... .......... [400]
Sapi Pesisir 3 .......... .......... .......... .......... ......-... .......... .......... .......... .......... .......... [400]
Sapi Bali .......... .......... .......... .......... ......A... .........A C......... .......... .......... .......... [400]
Sapi Limousin .........G ....-..... .......... .......... ......A... .......... .......... .......... .......... .......... [400]
Sapi Simmental .........G ....-..... .......... .......... ......A... .......... .......... .......... .......... .......... [400]
Sapi Pesisir 1 AGAACTACGG TCTGCTCTCC TGCTTCCGGA AGGACCTGCA TAAGACGGAG ACGTACCCTG AGGGTCATGG A [471]
Sapi Pesisir 2 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... . [471]
Sapi Pesisir 3 .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... . [471]
Sapi Bali .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... . [471]
Sapi Limousin .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... . [471]
Sapi Simmental .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... . [471]
Keterangan : Æ = situs pemotong enzim MspI (CCGG) dan AluI (AGCT), (............) = sekuens basa yang sama.
huruf normal = fragmen gen GH MspI, huruf etalic = fragmen gen GH AluI.
Gambar 24 Alignment sekuens fragmen gabungan gen GH MspI (intron 3 parsial dan exon 4 parsial) dan AluI (intron 4 parsial dan exon 5
parsial) pada sapi pesisir, sapi bali, sapi limousin, dan sapi simmental.
63
Berdasarkan Gambar 24 diperoleh pengelompokan (cluster) yang
terpisah antara sapi pesisir, sapi bali, sapi limousin, dan sapi simmental. Hal ini
mengindikasikan bahwa sapi pesisir, sapi bali, sapi limousin, dan sapi simmental
berbeda pada sekuens gen GH-nya meskipun perbedaan pada kedua fragmen
tersebut relatif kecil (Tabel 19). Akan tetapi, perbedaan yang ada dapat memberi
arti penting kepada pengelolaan sapi pesisir dan sapi bali, khususnya sebagai salah
satu sumber daya genetik ternak di Indonesia yang harus dimanfaatkan dan
dipertahankan keberadaannya. Ponzoni (1997) menyatakan bahwa jarak genetik
adalah sebagai salah satu petunjuk awal dari stuktur populasi dan diferensiasi
suatu kelompok (rumpun) yang dapat digunakan dalam membuat suatu keputusan
atau kebijakan program konservasi.
Hasil analisis pohon genetik yang dibangun berdasarkan fragmen
gabungan gen GH MspI dan AluI dengan total panjang sekuens kurang lebih 471
bp cenderung memiliki kesamaan yang tinggi antarbangsa sapi yang dianalisis
(Gambar 24). Kesamaan sekuens yang tinggi antar bangsa sapi tersebut terjadi
mungkin disebabkan oleh posisi sekuens DNA yang terdapat di daerah penyandi
(coding region) yang merupakan sekuens DNA yang bersifat conserved. Berbeda
dari DNA yang terdapat di daerah bukan penyandi (non-coding region) seperti
DNA mikrosatelit misalnya memiliki variabilitas atau keragaman tinggi karena
laju mutasi yang terjadi lebih cepat dibandingkan dengan mutasi yang terjadi di
daerah penyandi atau gen. Pohon genetik yang dibangun berdasarkan fragmen
gabungan ini mungkin saja dapat berubah bentuk percabangannya karena nilai
persentase bootsrap tidak 100%, bahkan percabangan pada sapi bali dengan sapi
pesisir tidak memiliki nilai persentase bootsrap-nya. Selain itu, jumlah sampel
sekuens yang terbatas antarbangsa sapi yang dianalisis memungkinkan hasilnya
dapat berubah.
Sapi pesisir yang terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan (sapi pesisir 1 dan
sapi pesisir 2) dan Kabupaten Padang Pariaman (sapi pesisir 3) berdasarkan hasil
analisis ini tidak berbeda (Gambar 23). Sebaliknya, Sarbaini (2004) menyatakan
bahwa sapi pesisir yang terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan berbeda dari sapi
pesisir yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman berdasarkan rekonstruksi
pohon genetik terhadap ukuran-ukuran tubuh sapi pesisir.
64
Hubungan Polimorfisme Gen GH dengan Sifat Bobot Badan dan
Ukuran-ukuran Tubuh
Secara umum hasil uji t antara genotipe (+/+, +/-, dan -/-) terhadap bobot
badan dan ukuran-ukuran tubuh yang dilakukan pada sapi pesisir, sapi limousin
dan sapi simmental tidak berbeda (P>0,05) (Tabel 20, 21 dan 22) (Lampiran 7 dan
8). Demikian pula hasil uji t antara genotipe (LL, LV, dan VV) terhadap bobot
badan dan ukuran-ukuran tubuh menunjukkan hasil tidak berbeda (P>0,05) pada
sapi limousin dan sapi simmental (Tabel 23 dan 24) (Lampiran 8). Hasil yang
diperoleh mengindikasikan bahwa tidak ada hubungan yang kuat antara genotipe
dengan sifat bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh yang dianalisis. Hal ini karena
sifat produksi merupakan sifat yang dikendalikan oleh banyak gen (polygenes)
dan pengaruh lingkungan sangat besar (Warwick et al. 1983; Falconer dan Macay
1996; Bourdon 1997; Noor 2004).
Tabel 20 Bobot badan dan ukuran tubuh dengan genotipe berbeda untuk fragmen
gen GH MspI pada sapi pesisir
Genotipe
Karakteristik
+/+ +/- -/-
(n=7) (n=36) (n=79)
Bobot badan (kg) 128,4 ± 14,39 128,5 ± 16,47 133,5 ± 17,42
Panjang badan (cm) 101,3 ± 4,89 102,6 ± 6,92 104,4 ± 5,42
Lingkar dada (cm) 120,0 ± 4,80 120,2 ± 5,98 120,2 ± 7,04
Tinggi pundak (cm) 97,4 ± 2,44 97,1 ± 3,85 97,4 ± 4,51
Keterangan : n= jumlah individu.
Tabel 21 Bobot badan dan ukuran tubuh dengan genotipe berbeda untuk fragmen
gen GH MspI pada sapi limousin
Genotipe
Karakteristik
+/+ +/- -/-
(n=9) (n=10) (n=3)
Bobot badan (kg) 855,3 ± 44,00 889,5 ± 28,35 851,0 ± 48,28
Panjang badan (cm) 181,1 ± 2,10 182,2 ± 4,13 176,7 ± 3,51
Lingkar dada (cm) 225,3 ± 4,80 227,8 ± 4,32 226,7 ± 4,73
Tinggi pundak (cm) 147,3 ± 3,20 151,3 ± 4,47 148,0 ± 1,73
Keterangan : n= jumlah individu.
65
Tabel 22 Bobot badan dan ukuran tubuh dengan genotipe berbeda untuk fragmen
gen GH MspI pada sapi simmental
Genotipe
Karakteristik
+/+ +/- -/-
(n=14) (n=14) (n=0)
Bobot badan (kg) 872,9 ± 74,47 898,5 ± 22,04 -
Panjang badan (cm) 179,2 ± 7,51 187,8 ± 5,56 -
Lingkar dada (cm) 224,5 ± 6,97 226,8 ± 2,87 -
Tinggi pundak (cm) 148,5 ± 5,03 153,5 ± 4,65 -
Keterangan : n= jumlah individu.
Tabel 23 Bobot badan dan ukuran tubuh dengan genotipe berbeda untuk fragmen
gen GH AluI pada sapi limousin
Genotipe
Karakteristik
LL LV VV
(n=14) (n=8) (n=0)
Bobot badan (kg) 863,4 ± 48,15 882,3 ± 17,90 -
Panjang badan (cm) 180,5 ± 3,70 181,9 ± 3,72 -
Lingkar dada (cm) 225,6 ± 5,17 228,4 ± 2,33 -
Tinggi pundak (cm) 148,4 ± 4,45 150,6 ± 3,07 -
Keterangan : n= jumlah individu
Tabel 24 Bobot badan dan ukuran tubuh dengan genotipe berbeda untuk fragmen
gen GH AluI pada sapi simmental
Genotipe
Karakteristik
LL LV VV
(n=9) (n=7) (n=2)
Bobot badan (kg) 871,6 ± 83,75 883,4 ± 50,23 893,5 ± 57,28
Panjang badan (cm) 182,3 ± 7,60 177,9 ± 8,32 187,0 ± 4,24
Lingkar dada (cm) 224,9 ± 8,36 224,9 ± 3,93 226,0 ± 4,24
Tinggi pundak (cm) 149,7 ± 6,16 148,3 ± 4,27 154,0 ± 2,83
Keterangan : n= jumlah individu.
Tabel 25 Hubungan genotipe fragmen gen GH MspI dengan sifat produksi pada
sapi pedaging
Genotipe
Sifat produksi Sumber
+/+ +/- -/-
Bobot lahir ↑ Unanian et al. (2000)
Bobot sapih ↑ Unanian et al. (2000)
Bobot badan umur 12-16 bulan ↑ Garcia et al. (2003)
Tenderness dan cooking losses ↑ Di Stasio et al. (2005)
Bobot badan ↑ Sutarno et al. (2005)
Pertumbuhan dan produksi karkas ↑ Thomas et al. (2006)
Pertumbuhan dan produksi karkas Tidak nyata Beauchemin et al. (2006)
Tabel 26 Hubungan genotipe fragmen gen GH AluI dengan sifat produksi pada
sapi pedaging
Genotipe
Sifat produksi Sumber
L/L L/V V/V
Bobot badan ↑ Chrenek et al. (1998)
Bobot hidup ↑ Reis et al. (2001)
Bobot badan umur 12 bulan ↑ Pereira et al. (2005)
Bobot badan dan kualitas karkas Tidak nyata Marshall dan Kim (2003)
Bobot karkas dan eye muscle area Tidak nyata Barendse et al. (2006)
Sapi pesisir sebagai salah satu ternak lokal Indonesia yang terdapat di
Sumatera Barat memiliki potensi genetik yang perlu dimanfaatkan secara
berkelanjutan (sustainable used) karena berbeda dari sapi lokal lain yang terdapat
di Indonesia. Bentuk dan ukuran tubuh terkecil dibandingkan dengan sapi lain di
Indonesia dan terkecil kedua di dunia menjadi salah satu keunikan bagi sapi
pesisir (genotipe spesialis) dan merupakan keunggulan komparatif yang tidak
dimiliki oleh bangsa sapi lainnya. Berdasarkan publikasi International Miniature
Breeders Society and Registry (IMBSR)(www.minicattle.com) yang berpusat di
USA, kategori sapi mini (full miniature) memiliki ukuran tinggi pundak kurang
dari 42 inch (106,68 cm), sedangkan kategori ukuran sedang (mid size miniature)
42 inch (106,68 cm) sampai dengan 48 inch (121,92 cm). Berdasarkan kategori
tersebut, sapi pesisir yang terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat
termasuk dalam kelompok sapi mini full miniature dengan rataan tinggi pundak
sapi jantan dewasa 100 cm dan betina 99 cm (Sarbaini 2004).
Mengacu pada program pemuliaan (breeding program) yang
dikembangkan dan diterapkan oleh International Miniature Breeders Society and
Registry (IMBSR) terhadap sapi-sapi mini yang dikomersialkan dengan nilai jual
yang sangat tinggi, yaitu melalui program pemuliaan yang bersifat tertutup (close
breeding program). Close breeding program sederhana mungkin bisa menjadi
salah satu model yang dapat diterapkan dalam pengembangan sapi pesisir agar
selalu terjaga keunikan atau kemurniannya (bobot badan dan ukuran tubuh, variasi
warna bulu, dan proporsi genotipenya), terutama pada sapi pesisir yang terdapat di
Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Upaya pemanfaatan sapi pesisir melalui close breeding program
sederhana dapat dilakukan melalui :
(1) Pengelolaan sapi pesisir dilakukan oleh masyarakat atau peternak sendiri.
(2) Adanya kebijakan Pemerintah Daerah (PEMDA) agar tidak menyilangkan
sapi pesisir dengan sapi bangsa lain dan kebijakan pewilayahan bahwa
Kabupaten Pesisir Selatan sebagai daerah pengembangan sapi pesisir
dengan daya dukung lahan yang ada.
68
(3) Adanya Perhimpunan Pencinta Sapi Pesisir sebagai lembaga swadaya
masyarakat atau pemerhati sapi mini khususnya di Sumatera Barat.
(4) Semua pihak dapat ikut serta berperan aktif menjaga kelestarian sapi pesisir
sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya genetik ternak lokal
dalam program pemuliaan ternak di Indonesia.
(5) Mempertahankan dan memberdayakan kearifan lokal yang dimiliki oleh
peternak.
(6) Program penelitian dan pengembangan sapi pesisir secara terarah dan
berkelanjutan.
Selain memiliki bentuk dan ukuran tubuh terkecil (minicattle), sapi
pesisir juga dapat dikembangkan berdasarkan variasi warna bulu yang masih
beragam dan dapat menjadi salah satu ciri khas sapi pesisir. Sarbaini (2004)
menyatakan bahwa sapi pesisir memiliki lima warna utama, yaitu putih, kuning,
merah bata, cokelat, dan hitam (Gambar 25) yang didominasi oleh warna merah
bata (34,36%), kuning (25,51%), cokelat (19,96%), hitam (10,91%), dan putih
(9,26%). Variasi warna bulu yang terdapat pada sapi pesisir penting artinya dalam
pengembangan ciri suatu bangsa ternak yang lebih terarah dan seragam pada
warna bulu tertentu. Selain menjadi ciri atau identitas suatu bangsa, warna bulu
juga dapat berpengaruh pada sifat produksi dan reproduksi. Fries dan Ruvinsky
(1999) menyatakan bahwa warna bulu selain menjadi ciri atau identitas suatu
bangsa ternak, juga dapat memberikan dampak pada sifat produksi dan reproduksi
terutama di daerah tropis dengan intensitas cahaya matahari yang tinggi. Selain
itu, warna bulu juga dapat mempengaruhi tinggi rendahnya harga (price discounts
or premiums).
Berdasarkan aspek pemasaran, pengembangan sapi pesisir sangat ideal
untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal (local market) karena harganya murah
sehingga dapat terjangkau oleh semua kalangan masyarkat. Selain untuk
memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat, sapi pesisir juga banyak digunakan
dalam acara-acara keagamaan seperti hari raya ’Idul Adha sehingga mejadi daya
saing tersendiri bagi keberadaan sapi pesisir.
69
Simpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka ada beberapa hal yang perlu
disarankan yaitu :
1. Sapi pesisir perlu dilestarikan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan karena
memiliki keunikan pada gen GH-nya sebagai ciri khas sapi lokal Indonesia.
2. Identifikasi terhadap genotipe atau alel langka perlu dilakukan pada sapi
pesisir khususnya dengan jumlah sampel yang lebih besar atau pada kelompok
atau bangsa sapi lainnya (sapi bali, sapi madura, sapi aceh dan sapi PO) di
Indonesia .
3. Penelitian terhadap gen-gen lain (gen GH reseptor, IGF-1, dan Pit-1) yang
mengontrol pertumbuhan perlu dilakukan baik pada sapi pesisir, sapi bali, dan
sapi lokal lainnya di Indonesia.
4. Penelitian terhadap konsentrasi hormon pertumbuhan perlu dilakukan pada
sapi pesisir dan sapi lokal lainnya di Indonesia, serta sapi impor sebagai
pembanding.
DAFTAR PUSTAKA
Altschul SF, Gish W, Miller W, Mayers EW, Lipman DJ. 1990. Basic local
alignment search tool. J. Mol. Biol. 215:403-410.
Barendse W, Bunch RJ, Harrison BE, Thomas MB. 2006. The growth hormone 1
GH1:c.457C>G mutation is associated with intramuscular and rump fat
distribution in large sample of Australian feedlot cattle. Anim. Genet.
37:211-214.
Beauchemin VR, Thomas MG, Franke DE, Silver GA. 2006. Evaluation of DNA
polymorphisms involving growth hormone relative to growth and carcass
characteristics in Brahman steers. Genet. Mol. Res. 5:438-447.
Brown TA. 1999. Genome. Bios Sciencific Publisers Ltd.9 Newtec Place.
Magdalen Road. Oxford Ox4 1RE. United Kingdom.
BPS Dinas Peternakan Kabupaten Pesisir Selatan. 2002. Pesisir Selatan dalam
Angka. Dinas Peternakan Kabupaten Pesisir Selatan.
Burton JL, McBride BW, Block E, Glimm DR. 1994. A review of bovine growth
hormone. Can. J. Anim. Sci. 74:167-201.
Cowan CM, Dentine MR, Ax RL, Schuler LA. 1989. Restriction fragment length
polymorphism associated with growth hormone and prolactin gene in
Holstein bull: evidence for a novel growth hormone allele. Anim. Genet.
20:157.
Curi RA et al. 2006. Growth and carcass traits associated with GH1/AluI and
POU1F1/HinfI gene polymorphisms in Zebu and crossbred beef cattle.
Genet. Mol. Biol. 29:114-119.
Davis SK et al. 1998. The mapping of quantitative trait loci for birth weight in a
tropical beef herd. Proc. 6th World Cong. on Genet. Appl. to Livest. Prod.
Armidale, Australia. Papers 26:441-444.
FAO. 1995. World Watch List for Domestic Animal Diversity. 2nd Ed. FAO Rome.
FAO. 1999. The Global Strategy for The Management of Farm Animal Genetic
Resources. Rome.
Fries R, Ruvinsky A. 1999. The Genetics of Cattle. CABI Publishing. New York
USA.
Garcia MD, Thomas MG, Silver GA, Hallford DM, Enns RM. 2003. Relationship
of the growth hormone (GH) MspI RFLP to pituitary responseveness to
GHRH and growth trait in Angus and Brangus Bulls. Plant & Animal
Genomes XI Conference. San Deigo, CA.
Ge W, Davis ME, Hines HC, Irvin KM. 2003. Association of a single nucleotide
polymorphism in the growth hormone and growth hormone receptor
genes with blood serum insulin-like growth factor I concentration in
Angus cattle. J. Anim. Sci. 81:641-648.
75
Georges M et al. 1998. Positional candidate cloning of the bovine MH locus
identifies an allelic series of mutations disrupting the myostatin function
and causing doublemuscling in cattle. Proc. of the 6th World Cong. on
Genet. Appl. Livest. Prod. Armidale, NSW 26:195-205.
Gordon DF, Quick DP, Erwin RC. 1983. Nucleotide sequence of the bovine
growth hormone chromosomal gene. Mol. Cell Endocrinol. 33:81095.
Hartl DL, Clark AG. 1997. Principle of Population Genetic. Sinauer Associates,
Sunderland, MA.
Hediger R et al. 1990. Assigment of the growth hormone gene locus to 19q26
gter in cattle and to 11q25 qter in sheep by in-situ hybridization. Genome
8:171-174.
Hoj S, Fredholm M, Larsen NJ, Nielsen VH. 1993. Growth hormone gene
polymorphism associated with selection for milk fat production in lines
of cattle. Anim. Genet. 24:91-96.
Huges I, Lowden S. 1998. A possible genetic basis for false positive halotane
reactions in Australian pigs. J. Anim. Breed. Genet. 115:113-121.
Kemenes PA et al. 1999. κ-casein and β-lactoglobulin and growth hormone allele
frequencies and genetic distances in Nelore, GYR, Guzera, Caracu,
Charolais, Canchim and Santa Gertrudis cattles. Genet. Mol. Bio.
22:539-541.
Lawrence TLJ, Fowler VR. 2002. Growth of Farm Animals. Walling Ford: CAB
International.
Liron JP, Ripoli MV, De Luca JC, Garcia P, Giovambattista G. 2002. Analysis
genetic diversity and population structure in Argentine and Bolivian
Creole cattle using five loci related to milk production. Genet. Mol. Biol.
25:413-419.
Machado MA, Schuster I, Martinez ML, Campos AL. 2003. Genetic diversity of
four breed using microsatellite markers. Rev. Bras. De Zool. 32:93-98.
Meuwissen THE, Hayes B, Goddard ME. 2001. Prediction of total genetic value
using genome-wide dense marker maps. Genet. 157:1819-1829.
Meghen C, MacHugh DE, Bradley DG. 1995. Genetic characterization and west
African cattle. Department of Genetics, Trinity College, Dublin, Ireland.
Montaldo HH, Herrera CAM. 1998. Use of Molecular Markers and Major Genes
in The Genetic Improvement of Livestock. EJB Unversidad Catolica de
Valparaso-Chili.
Ohlson C, Bengtson BA, Isakson OGP, Andreassen TT, Slootweg MC. 1998.
Growth hormone and bone. Endoc. Rev. 19:55-79.
Park HB. 2004. Genetic analysis of Quantitative Traits Using Domestic Animals:
A Candidate Gene and Genome Scanning Approach. Dissertation
Uppsala University. Sweden.
Perkins D Jr. 1969. Fauna of Çatal Hüyük: Evidence for early cattle domestication
in Anatolia. Sci. 164:177-178.
Regitano LCA et al. 1999. Selection for breed specific growth hormone and IGF-
1 alleles in synthetic beef cattle cross, Canchim. Gen. Anim. Mol. Breed.
22:531-537.
Roith DL, Bondy C, Yakar S, Liu JL, Butler A. 2001. The somatomedin
hypothesis. Endoc. Rev. 22:53-74.
Sodhi M et al. 2007. MspI allelic pattern of bovine growth hormone gene in
indian zebu cattle (Bos indicus) breeds. Biochem. Genet. 45:145-153.
Steel RGD, Torrie JH. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika. Cetakan ke-2.
Gramedia, Jakarta.
Sutarno, Junaidi A, Tappa B. 2005. Polimorfisme MspI pada lokus 2 gen hormon
pertumbuhan sapi PO dan pengaruhnya terhadap capaian berat badan
harian. Biodiversitas 6:77-81.
Talib C et al. 2002. Survey of population and production dynamics of Bali cattle
and existing breeding programs in Indonesia. Bali cattle Workshop,
Udayana Bali.
Tambasco DD et al. 2003. Candidate genes for growth traits in beef cattle crosses
Bos taurus x Bos indicus. J. An. Breed. Genet. 120:51 (Abstract).
Thomas MG, Silver GA, Enns RM. 2006. Relationships of DNA polymorphisms
in growth hormone (GH) to growth and carcass traits observed in a
population of Brangus bulls with a larger number of sires. Int. Plant and
Animal Genome XIV: 526 (Abstract).
Unanian MM, Barreto CC, de Freitas AR, Cordeiro CMT, Josahkian LA. 2000.
Association between growth hormone gene polymorphism and weight
traits in Nellore Novines. Rev. Bras. Zootec. 29:1380-1386.
Utoyo DP. 2002. Management of the Farm Domestic Animal Genetic Resources
in Indonesia. Di dalam. Animal Genetic Resources Directorate Generale
of Livestock Services. Ministry of Agriculture Indonesia. Jakarta.
80
Van der Werf J. 2000. An overview of animal breeding programs. in Kinghorn B,
Van der Werf J, Edit. QTL course: Identifiying and incorporating genetic
markers and major genes in animal breeding programs. Armidile,
Australia; Univesity of New England.
Vasconcellos LPMK, Talhari DT, Pereira AP, Coutinho LL,. Regitano LCA.
2003. Genetic characterization of Aberdeen Angus cattle using
molecular markers. Genet. Mol. Biol. 26:133-137.
Vukasinovic, N., S.K. Denise and A.E. Freeman. 1999. Association of growth
hormone loci with milk yeild traits in Holstein Bulls. J. Dairy Sci.
82:788-798.
Weir BS. 1996. Genetic Data Analysis: Method for Discrete Population Genetic
Data. Second ed. Sinauer Associates. Sunderland, MA USA.
Woychick RP, Camper SA, Lyons R.H. 1982. Cloning and nucleotide
sequencing of the bovine growth hormone gene. Nucleic Acid Res.
10:7197-7210.
Zhang HM, Brown DR, Denise SK, Ax RL. 1992. Nucleotide sequence
determination of bovine somatotropin allele. J. Anim. Genet. 23:578.
Zhang HM, Brown DR, Denise SK, Ax RL. 1993. Rapid communication:
polymerase chain reaction-restriction fragment lenght polymorphism
analysis of the bovine somatotropin gene. J. Anim. Genet. 71:2276.
Lampiran 1 Sekuens gen hormon pertumbuhan (bGH) yang di akses di GenBank No.
57764 (Gordon et al. 1983).
Lampiran 2 Komposisi bahan pereaksi yang digunakan dalam isolasi DNA total
sampel darah.
Kode Pelarut Nama Bahan Satuan
A Lysis buffer Sukrosa 0,32 M
Triton X-100 1% v/v
MgCl2 5 mM
Tris-HCl pH 7
B Digestion buffer NaCl 200 mM
Tris-HCl pH 9 50 mM
EDTA pH 8 100 mM
SDS 10 v/v
Proteinase K 0,5 mg/ml
RNAse 0,1 mg/ml
C Rinse buffer NaCl 75 mM
EDTA 50 mM
D Larutan fenol Phenol kristal dipanaskan 250 g
Hyrdroxyquinaline 0,1%
Tris-HCl pH 8 0,5 M
Tris-HCl pH 8 0,1 M
Tris-HCl pH 8 0,1 M + 0,2%
mercaptoetanol
E Larutan CIAA Chloroform 24 bagian
Isoamil alkohol 1 bagian
F TE 1X EDTA 1 mM
Tris-HCl 10 mM
G TE 10X/ 1000 ml Tris-HCl 108 g
Boric acid 55 g
EDTA pH 8 10 mM
85
Lampiran 3 Proporsi genotipe fragmen gen GH MspI dan AluI pada sapi pesisir, sapi
bali, sapi limousin, dan sapi simmental.
Lampiran 3a Proporsi genotipe fragmen gen GH MspI pada sapi pesisir di Kabupaten Pesisir
Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman.
Genotipe Individu (ekor)
No. Bangsa Sapi n
+/+ +/- -/-
1. Pesisir Selatan 98 3 32 63
2. Padang Pariaman 35 4 8 23
Jumlah 133 7 40 96
Lampiran 3b Proporsi genotipe fragmen gen GH MspI pada sapi bali, sapi limousin, dan
sapi simmental.
Genotipe Individu (ekor)
No. Bangsa Sapi n
+/+ +/- -/-
1. Bali di P3 Bali 47 0 0 47
2. Limousin di BIB Malang 22 9 10 3
3. Simmental di BIB Malang 18 14 4 0
Lampiran 3c Proporsi genotipe fragmen gen GH AluI pada sapi pesisir di Kabupaten Pesisir
Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman.
Genotipe Individu (ekor)
No. Bangsa Sapi n
LL LV VV
1. Pesisir Selatan 98 97 1 0
2. Padang Pariaman 35 34 1 0
Jumlah 133 132 2 0
Lampiran 3c Proporsi genotipe fragmen gen GH MspI pada sapi bali, sapi limousin, dan sapi
simmental.
Genotipe Individu (ekor)
No. Bangsa Sapi n
LL LV VV
1. Bali di P3 Bali 47 47 0 0
2. Limousin di BIB Malang 22 14 8 0
3. Simmental di BIB Malang 18 9 7 2
86
Lampiran 5 Sekuens fragmen gen GH MspI dan AluI pada sapi pesisir, sapi bali, sapi limousin, dan sapi simmental.
Lampiran 5a.1. Hasil analisis sekuens fragmen gen GH MspI pada sapi pesisir 1*.
Lampiran 5a.2. Hasil analisis sekuens fragmen gen GH MspI pada sapi pesisir 2*.
Lampiran 5a.3. Hasil analisis sekuens fragmen gen GH MspI pada sapi pesisir 3*.
Lampiran 5b Hasil analisis sekuens fragmen gen GH MspI pada sapi bali
93
Lampiran 5c Hasil analisis sekuens fragmen gen GH MspI pada sapi limousin
94
Lampiran 5d Hasil analisis sekuens fragmen gen GH MspI pada sapi simmental
95
Lampiran 5e.1. Hasil analisis sekuens fragmen gen GH AluI pada sapi pesisir 1*
Lampiran 5e.2. Hasil analisis sekuens fragmen gen GH AluI pada sapi pesisir 2*
Lampiran 5e.3. Hasil analisis sekuens fragmen gen GH AluI pada sapi pesisir 3*
Lampiran 5f Hasil analisis sekuens fragmen gen GH AluI pada sapi bali
99
Lampiran 5g Hasil analisis sekuens fragmen gen GH AluI pada sapi limousin
100
Lampiran 5h Hasil analisis sekuens fragmen gen GH AluI pada sapi simmental
101
Lampiran 6 Alignment sekuens fragmen gen GH MspI dan AluI dengan gen GH di GenBank.
Lampiran 6a Alignment sekuens fragmen gen GH MspI sapi pesisir dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 446 bits (225), identitas = 274/285 (96%), gaps = 4/285.
102
Lampiran 6b Alignment sekuens fragmen gen GH MspI sapi bali dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 460 bits (232), identitas = 274/284 (96%), gaps = 3/284.
103
Lampiran 6c Alignment sekuens fragmen gen GH MspI sapi limousin dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 476 bits (240), identitas = 276/284 (97%), gaps = 3/284.
104
Lampiran 6d Alignment sekuens fragmen gen GH MspI sapi simmental dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 470 bits (237), identitas = 278/285 (97%), gaps = 3/285.
105
Lampiran 6e Alignment sekuens fragmen gen GH AluI sapi pesisir dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 301 bits (152), identitas = 169/172 (98%), gaps = 2/172.
Lampiran 6f Alignment sekuens fragmen gen GH AluI sapi bali dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 301 bits (152), identitas = 169/171 (98%), gaps = 0/171.
106
Lampiran 6g Alignment sekuens fragmen gen GH AluI sapi limousin dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 301 bits (152), identitas = 170/172 (99%), gaps = 1/172.
Lampiran 6h Alignment sekuens fragmen gen GH AluI sapi simmental dengan sekuens gen bGH GenBank
Keterangan : nilai score= 317 bits (160), identitas = 170/171 (99%), gaps = 0/171.
107
Lampiran 7 Hasil uji t antara genotipe dan bobot badan serta ukuran tubuh fragmen gen
GH MspI dan AluI.
Lampiran 7a Rataan, ragam dan uji t genotipe gen GH MspI pada sapi pesisir
Genotipe Nilai t
Karakteristik +/+ +/- -/- +/+ +/+ +/-
vs vs vs
x S2 x S2 x S2 +/- -/- -/-
Bobot badan (kg) 128.4 207.0 128.5 271.1 133.5 303.5 -0.001 -0.741 -1.447
Panjang badan (cm) 101.3 23.0 102.6 48.0 104.4 29.3 -0.427 -1.448 1.441
Lingkar data (cm) 120.0 23.0 120.2 35.7 120.2 49.5 -0.080 -0.079 0.005
Tinggi pundak (cm) 97.4 6.0 97.1 14.8 97.4 20.3 0.211 0.021 -0.388
2
Keterangan : n genotipe +/+ = 7, +/- = 36, -/- = 79 , x = rataan, S = ragam.
Lampiran 7b Rataan, ragam dan uji t genotipe gen GH MspI pada sapi limousin
Genotipe Nilai t
Karakteristik +/+ +/- -/- +/+ +/+ +/-
vs vs vs
x S2 x S2 x S2 +/- -/- -/-
Bobot badan (kg) 855 1933 889 803 851.0 2331 -2.037 1.773 0.145
Panjang badan (cm) 181.1 4.4 182.2 17.1 176.7 12.3 -0.694 2.026 2.730
Lingkar data (cm) 225.3 22.8 227.8 18.6 226.7 22.3 -1.185 0.391 -0.420
Tinggi pundak (cm) 147.3 10.3 151.3 20.0 148.0 3.0 -2.201 1.215 -0.337
2
Keterangan : n genotipe +/+ = 9, +/- = 10, -/- = 3 , x = rataan, S = ragam.
Lampiran 7c Rataan, ragam dan uji t genotipe gen GH MspI pada sapi simmental
Genotipe Nilai t
Karakteristik +/+ +/- -/- +/+ +/+ +/-
vs vs vs
x S2 x S2 x S2 +/- -/- -/-
Bobot badan (kg) 872.9 5545.3 898.5 485.6 - - -0.665 - -
Panjang badan (cm) 179.2 56.34 187.8 30.9 - - -2.096 - -
Lingkar data (cm) 224.5 48.58 226.8 8.25 - - 0.619 - -
Tinggi pundak (cm) 148.5 25.35 153.5 21.67 - - 1.776 - -
2
Keterangan : n genotipe +/+ = 14, +/- = 4, -/- = 0 , x = rataan, S = ragam.
108
Lampiran 7d Rataan dan ragam genotipe gen GH AluI serta hasil uji t pada sapi limousin
Genotipe Nilai t
Karakteristik LL LV VV LL LL LV
vs vs vs
x S2 x S2 x S2 LV VV VV
Bobot badan (kg) 863.4 2318.0 882.3 320.5 - - -1.055 - -
Panjang badan (cm) 180.5 13.7 181.9 13.8 - - -0.837 - -
Lingkar data (cm) 225.6 26.7 228.4 5.4 - - -1.405 - -
Tinggi pundak (cm) 148.4 19.8 150.6 9.4 - - -1.233 - -
2
Keterangan : n genotipe LL = 14, LV = 8, x = rataan, S = ragam.
Lampiran 7e Rataan dan ragam genotipe gen GH AluI serta hasil uji t pada sapi Simmental
Genotipe Nilai t
Karakteristik LL LV VV LL LL LV
vs vs vs
x S2 x S2 x S2 LV VV VV
Bobot badan (kg) 871.6 7014 883.4 2522.6 893.5 3280.5 -0.330 -0.234 -0.345
Panjang badan (cm) 182.3 57.8 177.9 69.1 187.0 18.0 1.122 -1.449 -0.817
Lingkar data (cm) 224.9 69.9 224.9 15.5 226.0 18.0 0.009 -0.358 -0.177
Tinggi pundak (cm) 149.7 38.0 148.3 18.2 154.0 8.0 0.504 -1.538 -0.941
2
Keterangan : n genotipe LL = 10, LV = 8, x = rataan, S = ragam.
109
Lampiran 8 Ringkasan uji t genotipe fragmen gen GH MspI dan AluI terhadap bobot
badan dan ukuran tubuh.
Lampiran 8a Hasil ringkasan uji t genotipe fragmen gen GH MspI terhadap bobot badan
dan ukuran tubuh pada sapi pesisir, sapi limousin, dan sapi simmental
Bangsa Sapi Karakteristik Perbandingan Genotipe db Uji t
Pesisir Bobot badan +/+ vs +/- 41 tn
+/+ vs -/- 84 tn
+/- vs -/- 113 tn
Panjang badan +/+ vs +/- 41 tn
+/+ vs -/- 84 tn
+/- vs -/- 113 tn
Lingkar dada +/+ vs +/- 41 tn
+/+ vs -/- 84 tn
+/- vs -/- 113 tn
Tinggi pudak +/+ vs +/- 41 tn
+/+ vs -/- 84 tn
+/- vs -/- 113 tn
Limousin Bobot badan +/+ vs +/- 17 tn
+/+ vs -/- 10 tn
+/- vs -/- 11 tn
Panjang badan +/+ vs +/- 17 tn
+/+ vs -/- 10 tn
+/- vs -/- 11 tn
Lingkar dada +/+ vs +/- 17 tn
+/+ vs -/- 10 tn
+/- vs -/- 11 tn
Tinggi pudak +/+ vs +/- 17 tn
+/+ vs -/- 10 tn
+/- vs -/- 11 tn
Simmental Bobot badan +/+ vs +/- 16 tn
Panjang badan +/+ vs +/- 16 tn
Lingkar dada +/+ vs +/- 17 tn
Tinggi pudak +/+ vs +/- 17 tn
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata, db = n-2, ttabel α 5% = 1,645, α 1% = 2,326
110
Lampiran 8b Hasil ringkasan uji t genotipe framgen gen GH AluI terhadap bobot badan
dan ukuran tubuh pada sapi limousin dan sapi simmental
Bangsa Sapi Karakteristik Perbandingan Genotipe db Uji t
Limousin Bobot badan LL vs LV 20 tn
Panjang badan LL vs LV 20 tn
Lingkar dada LL vs LV 20 tn
Tinggi pundak LL vs LV 20 tn
Simmental Bobot badan LL vs LV 14 tn
LL vs VV 9 tn
LV vs VV 7 tn
Panjang badan LL vs LV 14 tn
LL vs VV 9 tn
LV vs VV 7 tn
Lingkar dada LL vs LV 14 tn
LL vs VV 9 tn
LV vs VV 7 tn
Tinggi pundak LL vs LV 14 tn
LL vs VV 9 tn
LV vs VV 7 tn
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata, db = n-2, ttabel α 5% = 1,645, α 1% = 2,326