ANALISIS PRAKTIK KEPERAWATAN PADA AN.
A POST OP
THORAKOTOMIPEMASANGAN WSD DENGAN DIAGNOSIS
EFUSI PLEURA DENGANINTERVENSI INOVASI TERAPI
SLOW DEEP BREATHINGDENGANMENIUP
BALING–BALING TERHADAP PENURUNAN
SKALANYERI DENGAN TINDAKAN
PROSEDUR INVASIFDI RUANG
PICU RSUD ABDUL WAHAB
SJAHRANIE
TAHUN 2018
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
DISUSUN OLEH:
DISUSUN OLEH:
CINDY APRILIZA
17111024120014
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KALIMANTAN TIMUR
PROGRAM PROFESI NERS 2017-2018
i
i
Analysis of Practice Nursing Procedure at An. A Post OP Thoracotomy Installation of WSD
with Diagnosis of Pleural Effusion Intervention Innovation Therapy Slow Deep Breathing
with Blowing the Propeller of Pain Scale with Action Invasive
in the PICU Room of RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Year 2018
ABSTRACT
Cindy Apriliza1, Fatma Zulaikha2
Background: Invasive Procedure Precautions cause pain. Pain is a common experience in children,
either because there is actual tissue damage or not. The pain felt by each child varies for a number of
reasons, the nurse often has difficulty performing an invasive procedure because the child is crying and
refuses to be acted. The effect can not be seen when the underlying breath of deep breathing is
inherently ineiling the propeller so that it reduces the strain.
The objective of research :analysis to know the effect of Slow Deep Breathing therapy by playing
blowing vane to decrease of pain scale caused by invasive action which done in room PICU RS AWS
Samarinda
Method: nursing analysis used is to provide therapy Slow Deep Breathing by playing blowing
propeller, analysis time on 2-4 july 2018 room PICU RS AWS Samarinda.
Results: analysis of pain intensity assessment using Wong-Baker Faces Pain Rating Scale, on the first
day of intervention obtained pain scale felt in children 10 to 8 and second day from scale 8 to 6, and
third day fixed on scale 6.
Conclusion: Based on the results of the analysis can be concluded that the results of the intervention
there is the influence of therapy slow slow breathing by blowing the vane to the pain response, both
from vital signs and scale of client expression
Keywords: SDB, blowing propeller, pain
1. College Student NERS Universitas muhammadiyah Kalimantan Timur
2. Lecturer Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
ii
Analisis Praktik Keperawatan pada An. A Post OP Thorakotomi Pemasangan WSD dengan
Diagnosis Efusi Pleura dengan Intervensi Inovasi Terapi Slow Deep Breathing
dengan Meniup Baling – Baling terhadap Penurunan Skala
NyeridenganTindakan Prosedur Invasif di Ruang PICU
RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Tahun 2018
Cindy Apriliza1, Fatma Zulaikha2
INTISARI
Latar belakang : Tindakan Prosedur Invasifsering menimbulkan rasa nyeri. Nyeri merupakan
pengalaman yang umum terjadi pada anak-anak, baik karena ada kerusakan jaringan aktual maupun
tidak. Nyeri yang dirasakan oleh setiap anak-anak berbeda-beda karena beberapa alasan, perawat sering
kesulitan melakukan prosedur tindakan invasif dikarenakan anak yang menangis dan menolak untuk
dilakukan tindakan.Efek relaksasi didapat pada saat terapi slow deep breathing pada saat anak meniup
baling-baling sehingga dapat mengurangi nyeri.
Tujuan : analisa untuk mengetahui pengaruh terapi Slow Deep Breathing dengan bermain meniup
baling-baling terhadap penurunan skala nyeri akibat tindakan invasif yang dilakuakan diruang PICU RS
AWS Samarinda.
Metode: analisa keperawatan yang digunakan adalah dengan memberikan terapi Slow Deep Breathing
dengan bermain meniup baling-baling, waktu analisis pada tanggal 2-4 juli 2018 diruang PICU RS
AWS Samarinda.
Hasil: analisa penilaian intensitas nyeri menggunakan Wong-Baker Faces Pain Rating Scale,pada hari
pertama intervensididapatkan skala nyeri yang dirasakan pada anak 10 menjadi 8 dan hari kedua dari
skala 8 menjadi 6, dan hari ketiga tetap pada skla 6.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulakan bahwa hasil intervensi terdapat pengaruh
terapi slow deep breathing dengan meniup baling-baling terhadap respon nyeri, baik dari tanda-tanda
vital maupun skala ekspresi klien
Kata Kunci :SDB, meniup baling-baling, nyeri
1s
Mahasiswa Program Studi Profesi Ners UMKT Samarinda
2
Dosen UMKT Samarinda
iii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas anugerah, rahmat,
dan nikmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir Ners
(KIA-N) dengan judul “Analisis Praktik Keperawatan Intervensi Inovasi Terapi Slow
Deep Breathing Dengan Meniup Baling-Baling Terhadap Penurunan Skala Nyeri
Dengan Tindakan Prosedur Invasif Pada Pasien An. A Dengan Diagnosis Efusi Pleura
Di Ruang PICU RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Tahun 2018.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak,
sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir Ners (KIA-N)
ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan
bantuan serta bimbingan yaitu kepada:
1. Bapak Dr. Rachim Dinata Marsidi,Sp.B, FINAC, M.Kes., selaku Direktur RSUD
A.W.Sjahranie Samarinda
2. Bapak Prof. Dr. Bambang Setaji., selaku Rektor UMKT Samarinda.
3. Bapak Ghozali MH, M.Kes., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik UMKT
Samarinda.
4. Ibu Murti Handayani, Amd.Kep, selaku Kepala Ruang PICU Direktur RSUD
A.W. Sjahranie Samarinda
5. Ibu Dwi Rahmah,F.M.Kep., selaku Ketua Program Studi S1 Ilmu Keperawatan
UMKT Samarinda
iv
6. Ibu Siti Khoiroh Muflihatin,M.Kep., selaku Koordinator MK. Elektif UMKT
Samarinda
7. Ibu Ns. Herlina Susanti, S.Kep,. selaku Penguji I.
8. Ibu Ni Wayan Wiwin A, S.Kep, M.Pd., selaku Penguji II
9. Ibu Fatma Zulaikha, M.Kep,. selaku penguji III sekaligus sebagai pembimbing
penulis dalam melakukan penyelesaain KIA-N ini.
10. Dosen dan Karyawan UMKT Samarinda yang memotivasi dalam menyusin KIA-
N ini.
11. Kedua orang tua saya. Yang selalu berada dihati saya dan menjadi penyemangat
hidup saya, walaupun kita sudah terpisah untuk selamanya.
12. Mama Sri Ramadaniyah, om Tri Gunawan yang sudah membesarkan saya dan
selalu mendukung dan menyemangati agar bisa tersusunnya KIA-N ini.
13. Widya nur kartika sari, Wanda siti wardana,Nurul huda, Wahyu Rinda Aprilia
yang selalu memberikan masukan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga Allah SWT memberikan kemurahan atas segala budi baik yang telah
diberikan.Penulis telah berusaha semaksimal mungkin demi kesempurnaan penulisan
KIA-N ini, namun masih banyak terdapat kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang
bersifat membangun sangat diharapkan.Penulis berharap agar penelitian ini dapat
bermanfaat secara maksimal untuk semua pihak dan dapat digunakan sebagaimana
mestinya.
Wassalammu’alaikum Wr.Wb
Samarinda, Agustus 2017
Penulis
v
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ............................................................................... i
HALAMAN JUDUL................................................................................... i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ....................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iv
ABSTRACT ................................................................................................ v
INTISARI ................................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ................................................................................ vii
DAFTAR ISI ............................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................. 3
C. Tujuan Penelitian .............................................................. 3
D. Manfaat Penelitian ............................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Paru-Paru ............................................................ 6
B. Kapasitas Paru-Paru .......................................................... 10
C. Faktor yang mempengaruhi Paru-Paru ............................ 12
D. Konsep Penyakit................................................................. 14
E. Konsep Nyeri .................................................................. 22
F. Konsep intervensi dan inovasi .......................................... 29
G. Konsep anak usia pra sekolah............................................. 33
H. Reaksi Anak terhadap Hospitalisasi................................... 36
I. Konsep Askep.................................................................... 37
BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
A. Identitas Klien ................................................................... 47
B. Data Khusus ...................................................................... 48
C. Analisa Data ...................................................................... 55
vi
D. Daftar Diagnosa ................................................................ 57
E. Intervensi keperawatan...................................................... 57
F. Intervensi Inovasi .............................................................. 60
G. Implementasi keperawatan ................................................ 61
H. Implementasi Inovasi ........................................................ 66
I. Evaluasi Keperawatan ....................................................... 67
BAB IV ANALISA SITUASI
A. Profil Lahan Praktik .......................................................... 71
B. Analisa masalah keperawatan dengan konsep terkait dan kasus
terkait ...................................................................... 72
C. Analisis salah satu intervensi dengan konsep dan penelitian
terkait ................................................................ 75
D. Alternatif Pemecahan yang dapat dilakukan .................... 77
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................... 78
B. Saran .......................................................................... 79
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
vii
DAFTAR TABEL
2.1 Nanda international 2015-2017, NOC dan NIC Classification ......... 44
3.1 Hasil Laboratorium .......................................................................... 54
3.2 Terapi Medis.............. ........................................................................ 55
3.3 Analisa Data ...................................................................................... 55
3.4 Intervensi Keperawatan....................................................................... 57
3.5 SOP Inovasi ........................................................................................ 60
3.6 Implementasi Keperawatan ................................................................ 61
3.7 Implementasi Inovasi ......................................................................... 66
3.8 Evaluasi keperawatan ......................................................................... 67
4.1 Evaluasi Terapi .................................................................................. 76
viii
DAFTAR GAMBAR
2.1 Anatomi Paru-Paru .......................................................................... 7
2.2 Pathway Efusi Pleura ............................................................................. 21
2.2 Fisiologi Nyeri .......................................................................................26
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Sumatri (2008), dalam Yuningsih (2017), Efusi pleura adalah
penumpukan cairan pada pleura Terjadi apabila produksi meningkat
minimal 30 kali normal atau adanya gangguan pada absorbsinya.
Cairan pleura berupa eksudat, transudat dan chylus. Pada cairan pleura
eksudat protein rasionya >0,60. Sedangkan chylus warnanya putih seperti
susu dan mengandung lemak. Eksudat disebabkan oleh karena adanya
kerusakan pada capillary bed di paru, pleura dan jaringan sekitarnya.
Transudat disebabkan oleh tekanan hidrostatik yang meningkat atau tekanan
osmotik yang menurun. Sedangkan pada absorbsi terhambat disebabkan
adanya gangguan kemampuan kontraksi saluran lymphe, infiltrasi pada
kelenjar getah bening dan kenaikan tekanan vena sentral tempat masuknya
saluran lymphe (Hariadi, 2010).
Adapun penatalaksanaan pada efusi pleura mencegah penumpukan
kembali cairan, menghilangkan ketidaknyamanan serta dispnea. Jika
torakosentesis tidak berhasil maka dilakukan Water Seal Drainage (WSD),
(Yuningsih, 2017).
Tindakan pemasangan Water seal Drainage sering menimbulkan rasa
nyeri. Nyeri merupakan pengalaman yang umum terjadi pada anak-anak,
baik karena ada kerusakan jaringan aktual maupun tidak. Nyeri yang
dirasakan oleh setiap anak-anak berbeda-beda karena beberapa alasan,
perawat sering kesulitan melakukan prosedur tindakan invasif dikarenakan
1
2
anak yang menangis dan menolak untuk dilakukan tindakan (Lewis, 2011
dalam Rahmawati, 2017).
Manajemen nyeri pada anak dapat memberikan dampak yang cukup
berarti, dalam manajemen nyeri pada anak terdapat dua cara yaitu
farmakologi dan nonfarmakologi. Penggunaan metode nonfarmakologi
untuk mengatasi nyeri pada anak lebih mudah dan dapat dilakukan oleh
perawat (Prasetyo, 2010).
Metode nonfarmakologi salah satunya adalah terapi slow deep breathing
dengan meniup baling-baling adalah terapi relaksasi dan terapi distraksi
merupakan teknik manajemen nyeri non farmakologis yang umum
digunakan oleh para profesional perawatan kesehatan dan orang tua untuk
mengurangi nyeri prosedural. Terapi Distraksi yang dilakukan dengan
meniup baling-baling bertujuan untuk mengalihkan fokus anak ke sesuatu
yang menarik dan menarik kemampuannya untuk memperhatikan
rangsangan yang menyakitkan terhambat dan berefek kepada relaksasi,
sehingga mengurangi rasa sakit (Hussien, 2015).
Anak-anak sering mengalami prosedur yang tidak dapat diprediksi dan
parah terkait dengan rasa sakit di rumah sakit yang dapat dikaitkan dengan
implikasi emosional dan psikologis negatif. Prosedur medis ini juga
menyebabkan kecemasan, ketakutan, dan gangguan perilaku pada anak-anak
dan keluarga mereka, semakin mengintensifkan rasa sakit mereka dan
mengganggu prosedur. Prosedur medis, terutama penyisipan jarum, adalah
salah satu pengalaman yang paling ditakuti yang dilaporkan oleh anak-anak.
3
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2015), telah
dilakuakan pemberian terapi slow deep breathing dengan bermain meniup
baling-baling selama 5 menit berpengaruh terhadap intensitas nyeri pada
anak yang dilakukan penyuntikan anestesi sirkumsisi.
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di ruang PICU AWS
Samarinda pada tanggal 26 Juni 2018 terdapat 5 anak yang memiliki tingkat
kesadaran compos mentis, pada saat dilakukan tindakan invasif seperti
pengambilan darah menyebabkan nyeri dan anak menjerit-jerit menangis
ketakutan.
Dari fenomena tersebut peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
guna mengetahui apakah terapi slow deep breathing dengan meniup baling-
baling sebelum dan pada saat pengambilan darah dan tindakan invasif
lainnya, dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh anak akibat
tindakan prosedur invasif.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka pertanyaan yang akan
diteliti Adakah pengaruh terapi Slow Deep Breathing dengan meniup
baling-baling terhadap penurunan skala nyeri akibat tindakan invasif yang
dilakuakan diruang PICU RS AWS Samarinda.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh terapi Slow Deep Breathing dengan
meniup baling-baling terhadap penurunan skala nyeri akibat tindakan
invasif yang dilakuakan diruang PICU RS AWS Samarinda.
4
2. Tujuan Khusus
a. Menganalisis kasus kelolaan pada klien dengan diagnosa Efusi
Pleura.
b. Menganalisis intervensi Slow Deep Breathing dengan meniup
baling-baling pada saat tindakan invasif guna penurunan skala nyeri
pada klien kelolaan dengan diagnosa Efusi Pleura.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Aplikatif (pelayanan keperawatan)
a. Bagi Pasien
Diharapkan intervensi terapi slow deep breathing dengan
meniup baling-baling dapat diterapkan oleh pasien maupun keluarga
pasien sebagai salah satu tindakan alternatif untuk nyeri pada saat
tindakan prosedur infasif.
b. Bagi perawat
Diharapkan intervensi terapi slow deep breathing dengan
meniup baling-baling dapat menerapkan kesetiap intervensi untuk
mengurangi rasa nyeri pada pasien anak.
2. Manfaat Teoritis
a. Bagi penulis
Dapat meningkatkan kemampuan penelitian dalam melakukan
analisa pengaruh intervensi inovasi terapi slow deep breathing
dengan meniup baling-baling terhadap penurunan skala nyeri dengan
tindakan prosedur invasif.
5
b. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil KIAN ini dapat digunakan sebagai bacaan dan acuan
untuk mahasiswa/ mahasiswi dalam melakukan penelitian
selanjutnya yang berhubungan dengan terapi slow deep breathing
dengan meniup baling-baling dengan penurunan skala nyeri dengan
tindakan prosedur tindakan invasif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatami paru-paru
Paru-paru merupakan organ pernafasan yang dibentuk oleh struktur-
struktur yang ada di dalam tubuh, seperti: arteri pulmonaris, vena
pulmonaris, bronkhus, arteri bronkhailis, vena bronkhailis, pembuluh limfe
dan kelenjar limfe (Guyton & Hall, 2008). Struktur paru-paru seperti spon
yang elastis dengan daerah permukaan dalam yang sangat lebar untuk
pertukaran gas. Di dalam paru, bronkiolus bercabang-cabang halus dengan
diameter ± 1 mm, dindingnya makin menipis dibandingkan dengan bronkus.
Bronkiolus tidak mempunyai tulang rawan, tetapi rongganya masih
mempunyai silia dan di bagian ujung mempunyai epitelium berbentuk kubus
bersilia. Pada bagian distal kemungkinan tidak terdapat silia. Bronkiolus
berakhir pada kantong udara yang disebut dengan alveolus. Alveolus
terdapat pada ujung akhir bronkiulus berupa kantong kecil yang salah satu
sisinya terbuka sehingga menyerupai busa atau mirip sarang tawon.
Alveolus berselaput tipis dan terdapat banyak muara kapiler darah sehingga
memungkinkan adanya difusi gas pernasafan didalamnya.
Menurut Irman Somantri (2008), paru-paru terbagi menjadi dua bagian
yaitu paru kanan yang terdiri dari tiga lobus sedangkan paru kiri terdiri dari
dua lobus. Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi beberapa sub bagian
menjadi sekitar sepuluh unit terkecil yang disebut bronchopulmonary
segments. Paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut
mediastinum. Dimana jantung, aorta, vena cava, pembuluh paru-paru,
6
7
esofagus, bagian dari trakea dan bronkhus, serta kelenjar timus terdapat
pada mediastinum.
Gambar 2.1 anatomi paru-paru
(Sumber: Frank H. Netter, 2006)
Selaput yang membungkus paru disebut dengan Pleura. Menurut
(Anonim, 2015), pleura adalah lapisan tisu tipis yang menutupi paru-paru
dan melapisi dinding bagian dalam rongga dada. Melindungi dan
membantali paru-paru, jaringan ini mengeluarkan sejumlah kecil cairan
yang bertindak sebagai pelumas, yang memungkinkan paru-paru untuk
bergerak dengan lancar di rongga dada saat bernapas.
Menurut Price dan Wilson (2006), ada 2 macam pleura yaitu pleura
parietalis dan pleura viseralis. Pleura parietalis melapisi toraks atau rongga
8
dada sedangkan pleura viseralis melapisi paru- paru. Kedua pleura ini
bersatu pada hilus paru. Dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara
kedua pleura ini yaitupleura viseralis bagian permukaan luarnya terdiri dari
selapis sel mesotelial yang tipis (tebalnya tidak lebih dari 30 μm). Diantara
celah - celah sel ini terdapat beberapa sel limfosit. Di bawah sel-sel
mesotelia ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit.
Seterusnya dibawah ini (dinamakan lapisan tengah) terdapat jaringan
kolagen dan serat-serat elastik.
Pada lapisan terbawah terdapat jaringan intertitial subpleura yang
sangat banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari A. Pulmonalis dan
A. Brankialis serta pembuluh getah bening. Keseluruhan jaringan pleura
viseralis ini menempel dengan kuat pada jaringan parenkim paru. Pleura
parietalis mempunyai lapisan jaringan lebih tebal dan terdiri dari sel-sel
mesotelial juga dan jaringan ikat (jaringan kolagen dan serat-serat elastik).
Dalam jaringan ikat, terdapat pembuluh kapiler dari A. Interkostalis dan
A. Mammaria interna, pembuluh getah bening dan banyak reseptor saraf-
saraf sensorik yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur.
Sistem persarafan ini berasal dari nervus intercostalis dinding dada.
Keseluruhan jaringan pleura parietalis ini menempel dengan mudah, tapi
juga mudah dilepaskan dari dinding dada di atasnya.
Di antara pleura terdapat ruangan yang disebut spasium pleura, yang
mengandung sejumlah kecil cairan yang melicinkan permukaan dan
memungkinkan keduanya bergeser secara bebas pada saat ventilasi. Cairan
tersebut dinamakan cairan pleura. Cairan ini terletak antara paru dan
9
thoraks. Tidak ada ruangan yang sesungguhnya memisahkan pleura
parietalis dengan pleura viseralis sehingga apa yang disebut sebagai rongga
pleura atau kavitaspleura hanyalah suatu ruangan potensial. Tekanan dalam
rongga pleura lebih rendah daripada tekanan atmosfer sehingga mencegah
kolaps paru.
Jumlah normal cairan pleura adalah 10-20 cc. Cairan pleura berfungsi
untuk memudahkan kedua permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis
bergerak selama pernapasan dan untuk mencegah pemisahan toraks dan
paru yang dapat dianalogikan seperti dua buah kaca obyek yang akan saling
melekat jika ada air. Kedua kaca obyek tersebut dapat bergeseran satu
dengan yang lain tetapi keduanya sulit dipisahkan. Cairan pleura dalam
keadaan normal akan bergerak dari kapiler di dalam pleura parietalis ke
ruang pleura kemudian diserap kembali melalui pleura viseralis. Hal ini
disebabkan karena perbedaan tekanan antara tekanan hidrostatik darah yang
cenderung mendorong cairan keluar dan tekanan onkotik dari protein
plasma yang cenderung menahan cairan agar tetap di dalam. Selisih
perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura viseralis lebih besar
daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan
permukaan pleura viseralis lebih besar dari pada pleura parietalis sehingga
dalam keadaan normal hanya ada beberapa mililiter cairan di dalam rongga
pleura.
10
B. Kapasitas paru-paru
Menurut Guyton & Hall (2008), kapasitas vital paru adalah volume
cadangan inspirasi ditambah volume tidal dan volume cadangan ekspirasi,
volume ini merupakan jumlah maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang
dari paru setelah terlebih dahulu penghisapan secara maksimum. Kapasitas
vital rata- rata pada pria muda dewasa kira- kira 4,6 liter, dan pada wanita
muda dewasa kira- kira 3,1 liter. Meskipun nilai itu jauh lebih besar pada
beberapa orang dengan berat badan yang sama pada orang lain. Orang yang
memiliki postur tubuh yang tinggi dan kurus biasanya mempunyai kapasitas
paru yang lebih besar daripadaorang yang gemuk dan seorang atlet yang
terlatih baik, mungkin mempunyai kapasitas vital 30- 40 % diatas normal
yaitu 6-7 liter. Dalam keadaan yang normal, kedua paru-paru dapat
menampung udara sebanyak -5 liter. Waktu ekspirasi, di dalam paru-paru
masih tertinggal ±3 liter udara. Pada saat kita bernapas biasa udara yang
masuk ke dalam paru-paru 2.600 cm3 (21/2 liter). Menurut Rahmah (2008),
kapasitas paru-paru dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Kapasitas Vital (Vital Capacity/VC)
Volume udara yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi
maksimum setelah inspirasi maksimum. Atau jumlah udara maksimum
pada seseorang yang berpindah pada satu tarikan napas. Kapasitas ini
mencakup VT, IRV,dan ERV. Nilainya diukur dengan menyuruh
individu melakukan inspirasi maksimum kemudian menghembuskan
sebanyak mungkin udara di dalam parunya ke alat pengukur.
11
b. Kapasitas Inspirasi (Inspiratory Capacity/IC)
Volume udara yang dapat diinspirasi setelah akhir ekspirasi
normal. Besarnya sama dengan jumlah VT dengan IRV.
c. Kapasitas Residu Fungsional (Functional Residual Capacity/FRC)
Kapasitas residu fungsional adalah jumlah udara yang masih tetap
berada dalam paru setelah ekspirasi normal. Besar FRC sama dengan
jumlah dari RV dengan ERV.
d. Kapasitas Vital Paksa (Forced Expiratory Capacity/FVC)
Jumlah udara yang dapat dikeluarkan secara paksa setelah
inspirasi secara maksimal, diukur dalam liter.
e. Kapasitas Vital Paksa 1 detik (Forced Expiratory Capacity in One
Second/FEV1)
Jumlah udara yang dapat dikeluarkan dalam waktu 1 detik, diukur
dalam liter. Bersama dengan FVC merupakan indikator utama fungsi
paru-paru. FEV1/FVC merupakan rasio FEV1/FVC. Pada orang dewasa
sehat nilainya sekitar 75% - 80%.
Sementara menurut Hood (2005), ada dua macam kapasitas vital paru
berdasarkan cara pengukurannya:
a. Vital Capacity (VC)
Pada pengukuran jenis ini individu tidak perlu melakukan aktivitas
pernapasan dengan kekuatan penuh.
b. Forced Vital Capacity (FVC)
Pada pengukuran ini pemeriksaan dilakukan dengan kekuatan
maksimal. Pada orang normal tidak ada perbedaan antara kapasitas vital
12
dan kapasitas vital paksa, tetapi pada keadaan dengan gangguan
obstruktif terdapat perbedaan antara kapasitas vital dan kapasitas vital
paksa. Kapasitas vital merupakan refleks dari kemampuan elastisitas
jaringan paru, atau kekakuan pergerakan dinding toraks. Kapasitas vital
yang menurun dapat diartikan adanya kekakuan jaringan paru atau
dinding toraks, dengan kata lain kapasitas vital mempunyai korelasi
yang baik dengan compliance paru atau dinding toraks. Pada kelainan
obstruksi yang ringan kapasitas vital hanya mengalami penurunan
sedikit atau mungkin normal.
C. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Paru-Paru
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kapasitas vital paru
seseorang, yaitu:
1. Usia
Dalam keadaan yang normal kedua paru-paru dapat menampung
sebanyak ± 5 liter. Saat ekspirasi terjadi, di dalam paru-paru masih
tertinggal ± 3 liter udara. Pada waktu bernafas biasa udara yang masuk
ke dalam paru-paru 2600 cc (2,5 liter) jumlah pernafasan. Dalam
keadaan normal:
a. Orang Dewasa : 16-18 kali per menit
b. Anak-anak : 24 kali per menit
c. Bayi kira-kira : 30 kali per menit
Walaupun pada pernapasan pada orang dewasa lebih sedikit daripada
anak-anak dan bayi, akan tetapi kapasitas vital paru orang dewasa
lebih besar dibandingkan dengan anak-anak dan bayi. Dalam keadaan
13
tertentu dapat berubah misalnya akibat dari suatu penyakit, pernafasan
bisa bertambah cepat atau sebaliknya (Trisnawati, 2007). Umur
merupakan variabel yang penting dalam hal terjadinya gangguan
fungsi paru. Semakin bertambahnya umur, terutama yang disertai
dengan kondisi lingkungan yang buruk serta kemungkinan terkena
suatu penyakit, maka kemungkinan terjadinya penurunan fungsi paru
dapat terjadi lebih besar. Seiring dengan pertambahan umur, kapasitas
paru juga akan menurun.Kapasitas paru orang berumur 30 tahun keatas
rata-rata 3.000 ml sampai 3.500 ml, dan pada orang yang berusia 50
tahunan kapasitas paru kurang dari 3.000 ml.
Secara fisiologis dengan bertambahnya umur maka kemampuan organ-
organ tubuh akan mengalami penurunan secara alamiah tidak
terkecuali gangguan fungsi paru dalam hal ini kapasitas vital paru.
Kondisi seperti ini akan bertambah buruk dengan keadaan lingkungan
yang berdebu atau faktor-faktor lain seperti kebiasaan merokok serta
kebiasaan olahraga/aktivitas fisik yang rendah. Rata-rata pada usia 30
– 40 tahun seseorang akan mengalami penurunan fungsi paru yang
dengan semakin bertambah umur semakin bertambah pula gangguan
yang terjadi (Guyton & Hall, 2008).
2. Jenis kelamin
Kapasitas vital paru berpengaruh terhadap jenis kelamin seseorang.
Volume dan kapasitas paru pada wanita kira-kira 20 sampai 25 % lebih
kecil dari pada pria (Guyton & Hall, 2008). Menurut Tambayong (2001)
disebutkan bahwa kapasitas paru pada pria lebih besar yaitu 4,8 L
14
dibandingkan pada wanita yaitu 3,1 L. Frekuensi pernapasan pada laki-
laki lebih cepat dari pada perempuan karena laki-laki membutuhkan
banyak energi untuk beraktivitas, berarti semakin banyak pula oksigen
yang diambil dari udara hal ini terjadi karena lelaki umumnya
beraktivitas lebih banyak dari pada perempuan.
D. Konsep Penyakit Efusi Pleura
1. Pengertian
Pleura merupakan membran serosa yang melingkupi parenkim
paru, mediastinum, diafragma serta tulang iga; terdiri daripleura viseral
dan pleura parietal. Rongga pleura terisi sejumlah tertentu cairan yang
memisahkan kedua pleura tersebutsehingga memungkinkan pergerakan
kedua pleura tanpa hambatan selama proses respirasi.
Cairan pleura berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler pleura,
ruang interstitial paru, kelenjar getah bening intratoraks, pembuluh
darah intratoraks dan rongga peritoneum. Jumlah cairan pleura
dipengaruhi oleh perbedaan tekanan antara pembuluh-pembuluh kapiler
pleura dengan rongga pleura sesuai hukum Starling serta kemampuan
eliminasi cairan oleh sistem penyaliran limfatik pleura parietal.
Tekanan pleura merupakan cermin tekanan di dalam rongga toraks.
Perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh pleura berperan penting
dalam proses respirasi.
Efusi pleura merupakan keadaan terdapat cairan dalam jumlah
berlebihan didalam rongga pleura. Pada kondisi normal, rongga ini
hanya berisi sedikit cairan (5 sampai 15 ml) ekstrasel yang melumasi
15
permukaan pleura. Peningkatan produksi atau penurunan pengeluaran
cairan akan mengakibatkan efusi pleura (Kowalk, 2011).
Efusi pleura merupakan pengumpulan cairan dalam ruang pleural
yang terletak diantara permukaan visceral dan parental, adalah proses
penyakit primer yang jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit
sekunder terhadap penyakit lain, secara normal ruang pleura
mengandung sejumlah kecil cairan (5-15 ml) berfungsi sebagai pelumas
yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi
(Smeltzer&Bare, (2002) dalam Putri, (2016)).
2. Etiologi
Menurut Berta &Puspita, (2015),Kriteria klasifikasi dari penyebab efusi
pleura merupakan :
a. Efusi Tuberkulosis
Efusi pleura didiagnosis sebagai tuberkulosis apabila terdapat 1
dari kriteria sebagai berikut:
1) terdapat nekrosis perkijuan pada biopsi pleura,
2) pewarnaan Ziehl – Neelsen atau kultur Lowenstein dari cairan
pleura positif,
3) Pada pemeriksaan histologditemukan granuloma tanpa
nekrosis perkijuan dengan pemeriksaan sputum BTA positif.
b. Efusi Parapneumoni
Didefinisikan sebagai efusi pleura disertai demam dan batuk dan
terdapat efusi pleura bersifat eksudatif.
16
c. Efusi Maligna
Efusi maligna didiagnosis dengan analisis sitologi atau histologi
terdapat Sel adenocarcinoma atau sel mesentelial.
d. Efusi Cardiac
Efusi cardiac terdiagnosis apabila carian bersifat transudat serta
terdapat tanda klinis gagal jantung pada pasien.
e. Efusi sirosis hepatis
Efusi sirosis terdiagnosis apabila cairan bersifat transudat serta
terdapat tanda klinis sirosis hepatis pada pasien.
f. Efusi uremik
Efusi uremik terdiagnosis pada penderita dengan gagal ginjal dan
ureum tinggi, atau pada pasien dengan ureum tinggi tanpa
penyebab yang jelas.
g. Efusi SLE (Systematic Lupus Eritematous)
Efusi pada SLE adalah efusi yang terjadi pada pasien penderita SLE
dengan kultur bakteri negati
3. Patofisiologi
Efusi pleura merupakan suatu keadaan dimana terjadi akumulasi
cairan pleura akibat dari transudasi atau eksudasi yang berlebihan pada
paru interstisial, pleura parietal atau cavum peritoneum atau absorbsi
yang terganggu dari pleura parietal limfatik. Pleura parietal yang
melapisi rongga thorak sedangkan pleura visceral yang menutup setiap
paru-paru. Cairan pleura seperti selaput tipis ada diantara pleura parietal
dan pleura visceral yang memungkinkan kedua permukaan tersebut
17
bergesekan satu sama lain selama respirasi dan mencegah pemisahan
thorak dan paru-paru.(Safitri, 2010)Penimbunan cairan dalam rongga
pleura disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, tuberkulosis atau
penyakit kardiovaskuler seperti gagal jantung, sindroma nefrotik bisa
juga disebabkan oleh keganasan dan perdarahan karena trauma atau
terapi anti koagulan. (Wirawan, 2015)
Jenis efusi pleura dibagi menjadi dua kelompok, hal ini penting untuk
mengenali penyebabnya. (Iran JP, 2016) Klasifikasi efusi pleura :
a. Efusi pleura transudat
Akumulasi cairan non inflamasi dalam ruang interstisial atau
rongga pleura yang disebabkan oleh perubahan faktor sistemik
yang terjadi dalam paru-paru akibat dari perubahan tekanan
hidrostatik dan atau tekanan koloid atau penimbunan cairan, bukan
akibat dari perubahan permeabilitas pembuluh darah. Perubahan ini
berhubungan dengan penyakit jantung kongestif, sirosis hepatis,
sindroma nefrotik dan hipoalbuminemia pada pasien malnutrisi dan
malabsorbsi.
Ciri-ciri cairan transudat:
Cairan jernih, warna kuning muda, berat jenis < 1.015, tidak
berbau, bekuan (-) / negatif, ph > 7,31, protein < 3 g%, glukosa =
plasma darah, kadar LDH < 200 I U, rivalta (-) / negatif, hitung sel
PMN sedikit, pewarnaan Gram (-) / negatif, BTA (-) /negatif,
kultur kuman (-) / negatif.(Hardjoeno, 2007)
18
b. Efusi pleura eksudat
Cairan radang ekstravaskuler yang mempunyai berat jenis tinggi (>
1.015) dengan kandungan protein yang lebih tinggi dari transudat.
Cairan radang ini dapat membeku karena mengandung fibrinogen
(Agus Fahmi Siregar, 2013). Penyakit yang bisa menyebabkan
terjadinya eksudat seperti infeksi, neoplasma atau keganasan,
trauma atau kondisi inflamasi.(Hamidie Ronald Daniel,2015)
Ciri-ciri cairan eksudat:
Cairan keruh, warna kuning kehijauan/merah coklat/putih susu,
berat jenis > 1.015, berbau, bekuan (+) /positif, ph < 7,31, protein >
3 g%, glukosa < plasma darah, kadar LDH > 200 I U, rivalta (+)
/positif, hitung sel PMN banyak, pewarnaan Gram (+) /positif.
4. Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar,
untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk
menghilangkan ketidaknyamanan serta dipsnea. Pengobatan spesifik
ditujukan pada penyebab dasar (misal gagal jantung kongestif,
pneumonia, seosis)
Torakosintesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk
mendapatkan specimen guna keperluan analisis, dan untuk
menghilangkan dipsnea. Namun bila penyebab dasar adalah malignansi,
efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu.
Torasentesis berulang menyebabkan nyeri, penipisan protein dan
elektrolit, dan kadang pneumotoraks. Dalam keadaan ini pasien
19
mungkin diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang
dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan untuk
mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru.
Agens yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin,
dimasukkan ke dalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural
dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. Setelah agens dimasukkan,
selang dada diklem dan pasien dibantu untuk mengambil berbagai
posisi untuk memastikan penyebaran agens secara merata dan untuk
memaksimalkan kontak agens dengan permukaan pleural. Selang
dilepaskan klemnya sesuai yang diresepkan, dan drainase dada biasanya
diteruskan beberapa hari lebih lama untuk mencegah reakumulasi cairan
dan untuk meningkatkan pembentukan adhesi antara pleural viseralis
dan parietalis.
Modalitas penyakit lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk
radiasi dinding dada, bedah pleurektomi, dan terapi diuretic. Jika cairan
pleura merupakan eksudat, posedur diagnostic yang lebih jauh
dilakukan untuk menetukan penyebabnya. Pengobatan untuk penyebab
primer kemudian dilakukan (Zulkarnain, 2011).
20
WOC EFUSI PLEURA
Gagal jantung Gagal ginjal Fungsi hepar ↓
Infeksi
kongestif
( pleuritis, TB) Kerusakan nefron
Jantung gagal
Permeabilitas memompa Partikel besar mudah keluar
kapiler ↑ (protein)
Hipertensi
hipoalbumin
Mengalami perpindahanpembuluh darah
cairan intrasel ke Tekanan onkotik
↑Tekanan
interstitisial
hidrostatik
Efusi Pleura
Produksi cairan
pleura
Proses Peradangan
Akumulasi cairan
pada rongga
yang berlebihan di
pleura
rongga pleura
Penurunan Bradikinin
ekspansi paru serotonin Pengeluaran
prostaglandin endrogen dan
Inspeksi diaktifkan pirogen
ICS sakit melebar
Deviasi tracea ke sisi sehat
Sesak
Sub febris — Febris
RR>20x/menit
Pernafasan cuping hidung Merangsang
Retraksi otot bantu nosiseptor Demam, suhu>37,8˚C
Auskultasi nyeri
Vesikuler melemah
Palpasi hipertermi
Fremitus raba ↓
Perkusi Nyeri
redup
Pe O2
Ketidak
efektifan pola
nafas
21
Penurunan O2 di
perifer
kelemahan
Intoleransi
Aktifitas
Penatalaksanaan
Pungsi pleura WSD
(torakosintesis)
Ansietas
Aspirasi Cairan
Terputus
pleura melalui
jaringan kulit
jarum
Nosiceptor ↑ Jalan masuk
kuman
Resiko
Infeksi
Nyeri Resiko infeksi
Gambar 2.2 Pathway Efusi Pleura
22
E. Konsep Nyeri
Nyeri didefenisikan sebagai pengalaman sensori dan emosional yang
tidak menyenangkan bersifat subyektif berhubungan dengan kerusakan
jaringan aktual dan potensial yang menggambarkan kondisi kerusakan
(International Association for the Study of Pain (IASP), dalam Hariyanto &
Sulistyowati, 2015).
Menurut Berman dan Snyder (2012), nyeri merupakan bagian dari
kehidupan seseorang yaitu kondisi ketidaknyamanan lebih dari sekedar
sensasi tungga yang disebabkan oleh stimulus tertantu dan secara sujektif
individu yang mempunyai pengalaman mendalam dan tidak dapat dirasakan
oleh orang lain.
1. Klasifikasi Nyeri
a. Berdasarkan durasi
Menurut Huang et al (2012) dalam Rahmawati (2017),
berdasarkan durasinya nyeri dapat dikelompokan menjadi nyeri
akut dan nyeri kronis . ketika nyeri itu hilang hanya dalam
beberapa periode yang diharapkan maka nyeri itu disebut nyeri
akut, baik terjadi tiba-tiba ataupun lambat, tanpa menghiraukan
intensitas nyerinya. Nyeri kronis diketahui sebagai nyeri yang
persisten dan berlangsung lama, biasanta kembali dan berakhir
setelah 3 bulan lebih.
23
b. Berdasarkan Etiologi
Kayle dan Carman (2014), membagi du nyeri berdasarkan
etiologi yaitu nosiseptif menggambarkan nyeri akibatstimulus
berbahaya yang merusak jaringan normal, atau berpotensi merusak
jaringan normal jika nyeri berlangsung lama. Contoh luka bekar
lama, terbakar matahari, terpotong, apendiksitis, dan distensi
kandung kemih.
Yang kedua nyeri neuropati akibat malfungsi sistem syaraf
perifer dan syaraf pusat. Nyeri ini dapat berlangsung secara terus-
menerus atau intermiten dan biasanya dijelaskan sebagai nyeri
terbakar, contoh cedera syaraf pasca trauma atau pembedahan,
neuropati metabolik, setelah amputasi, dan pasca stroke.
c. Berdasarkan sumber atau lokasi
Kayle dan Carman (2014), juga membagi nyeri berdasarkan
lokasi menjadi dua yaitu somatik dan nyeri viseral.
Nyeri somatik adalah nyeri yang terjadi pada jaringan, nyeriini
kemudian dibagi menjadi dua yaitu superfisial atau sering disebut
kuntaneus dan profunda atau spasme.
Nyeri viseral adalah nyeri yang terjadi dalam organ seperti
hati, paru-paru, empedu, ginjal, dan pankreas, nyeri biasanya difus
dan terlokalisasi buruk serta dijelaskan sebagai nyeri dalam atau
sensasi tajam dan menusuk yang mungkin menyebar ke area lain.
24
2. Fisiologi Nyeri
Menurut Anas Tamsuri, (2006) dalam Bahrudin (2017),
Mekanisme timbulnya nyeri didasari oleh proses multipel yaitu
nosisepsi, sensitisasi perifer,perubahan fenotip, sensitisasi sentral,
eksitabilitas ektopik, reorganisasi struktural, dan penurunan inhibisi.
Antara stimulus cedera jaringan dan pengalaman subjektif nyeri
terdapat empat proses tersendiri : tranduksi, transmisi, modulasi, dan
persepsi.
Transduksi adalah suatu proses dimana akhiran saraf aferen
menerjemahkan stimulus (misalnya tusukan jarum) ke dalam impuls
nosiseptif. Ada tiga tipe serabut saraf yang terlibat dalam proses ini,
yaitu serabut A-beta, A-delta, dan C. Serabut yang berespon secara
maksimal terhadap stimulasi non noksius dikelompokkan sebagai
serabut penghantar nyeri, atau nosiseptor. Serabut ini adalah A-delta
dan C. Silent nociceptor, juga terlibat dalam proses transduksi,
merupakan serabut saraf aferen yang tidak bersepon terhadap stimulasi
eksternal tanpa adanya mediator inflamasi.
Transmisi adalah suatu proses dimana impuls disalurkan menuju
kornu dorsalis medula spinalis, kemudian sepanjang traktus sensorik
menuju otak. Neuron aferen primer merupakan pengirim dan penerima
aktif dari sinyal elektrik dan kimiawi.Aksonnya berakhir di kornu
dorsalis medula spinalis dan selanjutnya berhubungan dengan banyak
neuron spinal.
25
Modulasi adalah proses amplifikasi sinyal neural terkait nyeri (pain
related neural signals). Proses ini terutama terjadi di kornu dorsalis
medula spinalis, dan mungkin juga terjadi di level lainnya. Serangkaian
reseptor opioid sepertimu, kappa,dan delta dapat ditemukan di kornu
dorsalis. Sistem nosiseptif juga mempunyai jalur desending berasal dari
korteks frontalis, hipotalamus, dan area otak lainnya ke otak tengah
(midbrain) dan medula oblongata, selanjutnya menuju medula spinalis.
Hasil dari proses inhibisi desendens ini adalah penguatan, atau bahkan
penghambatan (blok) sinyal nosiseptif di kornu dorsalis.
Persepsi nyeri adalah kesadaran akan pengalaman nyeri. Persepsi
merupakan hasil dari interaksi proses transduksi, transmisi, modulasi,
aspek psikologis, dan karakteristik individu lainnya. Reseptor nyeri
adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri.
Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf
bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang
secaara potensial merusak.Reseptor nyeri disebut juga Nociseptor.
Secara anatomis, reseptor nyeri ( nociseptor ) ada yang bermiyelin dan
ada juga yang tidak bermiyelin dari syaraf aferen.
26
Gambar 2.3 fisiologi nyeri
3. Skala Penilaian Nyeri
Menurut Truba dan Hoyle (2014), skla nyeri adalah gambaran
tentanng seberapa parah nyeri dirasakan individu, pengukuran intensitas
nyeri sangat subjektif dan individual seta kemungkinan nyeri dalam
intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang
berbeda. Kedalaman dan kompleksitas teknik untuk penilaian nyeri
bervariasi, ideal, cara untuk penilaian ini mudah digunakan, mudah
dimengerti oleh pasien, dan valid, sensitif serta dapat dipercaya.
Penilaian intensitas nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan
skala sebagai berikut (Potter & Perry, 2006 dalam Supriadi, 2016 ) :
a. Skala Deskriptif
Skala deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan
nyeri yang lebih objektif. Skala pendeskritif verbal (Verbal
Descriptor Scale) merupakan sebuah gari yang terdiri dari tiga
sampai disepanjang garis. Pendeskripsi ini dirangkin dari “ tidak
terasa nyeri” sampai “ nyeri yang tidak tertahankan”. Perawat
27
menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk
memilih intensitas nyeri terbaru yang ia rasakan.
b. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale
Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang
berbeda, dimulai dari senyuman sampai menangis karena
kesakitan. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan
komunikasi, seperti anak-anak, orang tua, pasien yang kebingungan
atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal
setempat.
c. Numerical Rating Scale (NRS)
Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan
menunjukkan angka 0 – 5 atau 0 – 10, dimana angka 0
menunjukkan tidak ada nyeri, angka 1-3 menunjukan nyeri ringan,
angka 4-6 menunjukan nyeri sedang dan angka 7-10 menunjukkan
nyeri berat.
28
4. Penatalaksanaan Nyeri
Kyle dan Carman (2014), mengatakan pengurangan nyeri
merupakan kebutuhan dasar dan hak untuk setiap anak.
Penatalaksanaan nyeri yang efektif membutuhkan tenaga kesehatan
yang mau mencoba berbagi intervensi untuk memperoleh hasil yang
optimum. Penatalaksanaan nyeri dibagi menjadi dua, yaitu secara non
farmakologi dan farmakologi.
Penatalaksaan nyeri secara non-farmakologi didasari oleh nyeri
yang sering dihubungkan dengan akut, cemas, dan stress. Sejumlah
tehnik nonfarmokologi, seperti bimbingan antisipasi, hipnotis, distraksi,
relaksasi, imajinasi terbimbing, dan stimulasi kutaneus dapat diberikan
pada anak.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri pada anak
Perry, Hockenberry, Lowdermilk, dan Wilson (2014),
mengungkapkan nyeri merupakan suatu hal yang kompleks, banyak
faktor yang mempengaruhi nyeri individu. Perawat harus
mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri yang
dirasakan pasien. Hal ini sangat penting untuk memastiakan bahwa
29
perawat menggunakan pendekatan yang holistik dalam pengkajian dan
perawatan klien yang mengalami nyeri.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi nyeri pada anak selama
prosedur yaitu umur, jenis kelamin, budaya, makna nyeri, perhatian,
kecemasan, keletihan, pengalaman sebelumnya, gaya koping dan
dukungan keluarga.
F. Konsep intervensi dan inovasi
1. Slow Deep Breathing
Slow deep breathingmerupakan tindakan yang disdari untuk
mengatur pernafasan dalam dan lambat yang dapat menimbulkan efek
relaksasi (Tarwoto, 2012). Slow deep breathing mencegah atelektasi
paru, meningkatkan efisiensi batuk mengurangi stress fisisk maupun
emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan
kecemasan. Sedangkan manfaat yang dirasakan oleh klien setelah
melakukan teknik relaksasi nafas dalam adalah dapat menghilangkan
nyeri dan berkurang kecemasan.
Tujuan nafas dalam adalah untuk mencapai ventilasi yang lebih
terkontrol dan efisien serta mengurangi kerja bernafas, meningkatan
inflasi alveolar maksimal, meningkatkan relaksasi otot, menghilangkan
ansietas, mengurangi udara yang terperangkap serta ,mengurangi kerja
bernafas (Suddarth & Brunner, 2014 dalam Budiansyah,2015).
30
2. Terapi Slow Deep Breathing dengan meniup baling-baling dalam
mengatasi nyeri
Menurut Sutini (2011) dalam Wahyuni (2015), bahwa bermain
meniup dapat dianalogikan dengan latihan nafas dalam (slowdeep
breathing) yang merupakansuatu permainan atau aktifitas yang
memerlukan inhalasi lambat dan dalam untuk mendapatkan efek
terbaik.
Wahyuni (2015), menjelaskan anak-anak dapat diperintahkan untuk
meniup balon atau membayangkan mereka meniup balon. Slow
deepbreathing untuk anak berusia lebihdari 3 tahun dapat mengurangi
rasa sakit yaitu dengan meniup gelembung, dan distraksi dengan
meniup baling-baling. Orang tua atau peneliti dapat memotivasi anak
melakukan slow deep breathing selama prosedur injeksi. Saat anak
bermain meniup baling-baling terjadi proses distraksi yaitu anak
terfokus atau konsentrasi pada permainan yang dilakukan dan pada saat
anak meniup memberikan efek relaksasi. Melalui permainan meniup
baling-baling dapat mengurangi nyeri pada saat dilakukan penyuntikan
anestesi sirkumsisi.
Data hasil penelitian dari Wahyuni (2015), menunjukkan
penurunan intensitas nyeri setelah mendapatkan intervensi berupa terapi
slow deep breathing dengan bermain meniup baling-baling, sehingga
diharapkan hal tersebut dapat membantu mengurangi nyeri pada anak
yang dilakukan penyuntikan anestesi sirkumsisi. Berdasarkan hal
tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh terapi slow
31
deepbreathing dengan bermain meniupbaling-baling terhadap intensitas
nyeri pada anak yang dilakukan anestesi sirkumsisi.
Hal ini dikarenakan terapi slow deep breathing dengan bermain
meniup baling-baling dapat memberikan fokus perhatian dan
konsentrasi anak pada stimulus lain yang akan menempatkan nyeri pada
kesadaran perifer sehingga toleransi nyeri individu meningkat. Upaya
pengalihan nyeri menyebabkan respon terhadap nyeri menurun.
Distraksi adalah memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain
pada nyeri. Distraksi dapat menurunkan persepsi nyeri dengan cara
menstimulasi sistem kontrol desenden, sehingga sedikit rangsangan
nyeri yang ditransmisikan ke otak. Efektifitas distraksi tergantung pada
kemampuan klien untuk menerima dan membangkitkan input sensori
selain nyeri. Efek relaksasi didapat pada saat terapi slow deep breathing
yangdianalogikan pada saat anak meniup baling-baling sehingga dapat
mengurangi nyeri.
a. Bahan dan Metoda
1) Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
a) Alat pengukur untuk menilai intensitas nyeri pada anak
(Faces Pain Rating Scale).
b) Instrumen prosedur terapi slow deep breathing dengan
bermain meniup baling-baling.
2) Prosedur pengumpulan data yang dilakukan adalah:
a) Melakukan sosialisasi rencana penelitian kepada
petugas kesehatan di Klinik
32
b) Memilih responden yang sesuai dengan kriteria dengan
cara memeriksa satu persatu untuk mendapatkan anak
sesuai dengan kriteria
c) Peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud
dan tujuan penelitian kepada orang tua.
d) Peneliti memberikan informasi tentang penelitian
kepada keluarga responden termasuk informasi
kesediaan untuk dilakukan penelitian selama 5 menit
pada anaknya saat dilakukan penyuntikan atau prosedur
invasif.
e) Menyiapkan prosedur dan mensosialisasikan kepada
tugas kesehatan tentang pemberian terapi slow deep
breathing dengan bermain meniup baling-baling yang
diberikan kepada responden.
f) Terapi slow deep breathing dengan bermain meniup
baling-baling diberikan 4 menit sebelum tindakan. Proses
penyuntikan membutuhkan waktu sekitar 1 menit.
Setelah intervensi mendapat terapi slow deep breathing
dengan bermain meniup baling-baling selama 5 menit.
g) Setelah diberikan terapi slow deep breathing dengan
bermain meniup baling-baling selama 5 menit kemudian
peneliti melakukan penilaian intensitas nyeri dengan
menggunakan skala peringkat nyeri wajah (faces pain
rating scale) yang telah ditetapkan segera setelah terapi
33
slow deep breathing dengan bermain meniup baling-
baling. Hasil pengukuran kemudian dicatat pada formulir
yang telah disediakan (Wahyuni, 2015).
G. Konsep Anak Usia Prasekolah
1. Pengertian anak usia prasekolah
Usia prasekolah adalah usia anak pada masa prasekolah dengan
rentang tiga hingga enam tahun (Potter dan Perry, 2009). Pengertian
yang sama juga dikemukakan oleh Hockenberry dan Wilson (2009)
bahwa usia pra sekolah merupakan usia perkembangan anak antara usia
tiga hingga lima tahun. Pada usia ini terjadi perubahan yang signifikan
untuk mempersiapkan gaya hidup yaitu masuk sekolah dengan
mengkombinasikan antara perkembangan biologi, psikososial, kognitif,
spiritual dan prestasi sosial. Anak pada masa prasekolah memiliki
kesadaran tentang dirinya sebagai laki-laki atau perempuan, dapat
mengatur diri dalam toilet training dan mengenal beberapa hal yang
berbahaya dan mencelakai dirinya (Mansur, 2011).
2. Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Usia Pra Sekolah
Anak usia prasekolah masih dalam peningkatan pertumbuhan dan
perkembangan yang berlanjut dan stabil terutama kemampuan kognitif
serta aktivitas fisik (Hidayat,2008). Selain itu anak berada pada fase
inisiatif dan rasa bersalah (inisiative vs guilty). Rasa ingin tahu
(courius) dan daya imajinasi anak berkembang, sehingga anak banyak
bertanya mengenai segala sesuatu di sekelilingnya yang tidak diketahui.
Selain itu anak dalam usia prasekolah belum mampu membedakan hal
34
yang abstrak dan tidak abstrak. Menurut Wong (2009.) proses
pertumbuhan dan perkembangan bersifat dinamis dinamis dimana
terjadi sepanjang siklus hidup anak. Anak pada masa prasekolah akan
mengalami proses perubahan baik dalam pola makan, proses eliminasi
dan perkembangan kognitif menunjukan proses kemandirian (Hidayat,
2008). Proses perkembangan pada anak:
a. Perkembangan biologis
Pada anak usia prasekolah akan mengalami pertumbuhan
dan perkembangan fisik yang melambat dan stabil. Dimana
pertambahan berat badan 2 -3 kg pertahun dengan rata - rata berat
badan 14,5 kg pada usia 3 tahun, 16,5 kg pada usia 4 tahun dan
18,5 kg pada usia 5 tahun. Tinggi badan tetap bertambah dengan
perpanjangan tungkai dibandingkan dengan batang tubuh. Rata-
rata pertambahan tingginya 6,5 - 9 cm pertahun. Pada anak usia 3
tahun, tinggi badan rata - rata adalah 95 cm dan 103 cm pada usia
4 tahun serta 110 cm pada usia 5 tahun (Wong et al, 2009). Pada
perkembangan motorik, anak mengalami peningkatan kekuatan
dan penghalusan keterampilan yang sudah dipelajari sebelumnya
seperti berjalan, berlari dan melompat. Namun pertumbuhan otot
dan tulang masih jauh dari matur sehingga anak mudah cedera
(Hockenberry dan Wilson, 2007).
b. Perkembangan kognitif
Anak usia pra sekolah pada perkembangan kognitif
mempunyai tugas yang lebih banyak dalam mempersiapkan anak
35
mencapai kesiapan tersebut. Serta proses berpikir yang sangat
penting dalam mencapai kesiapan tersebut (Wong, et al, 2009).
Pemikiran anak akan lebih kompleks pada usia ini, dimana
mengkategorikan obyek berdasarkan warna, ukuran maupun
pertanyaan yang diajukan (Potter dan Perry, 2009). Menurut
Marry (2005) tinjauan teori mengenai perkembangan kognitif
menggunakan tahap berpikir pra operasional oleh Piaget. Dimana
dibagi menjadi dua fase yaitu:
1) Fase pra konseptual (usia 2 - 4tahun) dimana pada fase ini
konsep anak belum matang dan tidak logis dibandingkan
dengan orang dewasa. Mempunyai pemikiran yang
berorientasi pada diri sendiri, dan membuat klasifikasi yang
masih relatih sederhana.
2) Fase intuitif ( 4 - 7 tahun): anak mampu bermasyarakat
namun belum dapat berpikir timbal balik. Anak biasanya
banyak meniru perilaku orang dewasa tetapi sudah mampu
memberi alasan pada tindakan yang dilakukan.
3. Perkembangan moral
Anak pada usia prasekolah mampu mengadopsi serta
menginternalisasi nilai - nilai moral dari orang tuanya.Perkembangan
moral anak berada pada tingkatan paling dasar. Anak mempelajari
standar perilaku yang dapat diterima untuk bertindak sesuai dengan
standar norma yang berlaku serta merasa bersalah bila telah
melanggarnya (Kohlberg, 1994 dalam Wong, 2009).
36
4. Perkembangan psikososial
Anak usia prasekolah menurut Hockenberry & Wilson (2009)
sudah siap dalam menghadapi dan berusaha keras mencapai tugas
perkembangan. Tugas perkembangan yang dimaksud adalah menguasai
rasa inisiatif yaitu bermain, bekerja serta mendapatkan kepuasan dalam
kegiatannya, serta merasakan hidup sepenuhnya. Konflik akan timbul
akibat rasa bersalah, cemas dan takut yang timbul akibat pikiran
berbeda dengan perilaku yang diharapkan.
H. Reaksi Anak terhadap Hospitalisasi
Penyakit dan hospitalisasi sering menjadi krisis pertama yang harus
dihadapi anak (Wong et al, 2009). Perawatan anak di rumah sakit
merupakan pengalaman yang penuh stress, baik bagi anak maupun orang tua
(Supartini, 2012). Pencetus terjadinya stress pada anak karena perubahan
lingkungan dan status kesehatan yang dialaminya (Ramdaniati et al, 2016).
Cemas yang dialami anak merupakan perasaan tidak nyaman atau ketakutan
yang tidak jelas dan gelisah disertai dengan respon otonom, sumber
terkadang tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu, perasaan yang
was - was untuk mengatasi bahaya (Nanda, 2012). Berdasarkan data WHO
(2012) bahwa 3 - 10 % anak dirawat di Amerika Serikat baik anak usia
toddler, prasekolah ataupun anak usia sekolah, sedangkan di Jerman sekitar
3 sampai dengan 7% dari anak toddler dan 5 sampai 10% anak prasekolah
yang menjalani hospitalisasi (Purwandari, 2013). Di Indonesia sendiri
jumlah anak yang dirawat pada tahun 2014 sebanyak 15,26% (Susenas,
2014).Anak usia prasekolah dan anak usia sekolah merupakan usia yang
37
rentan terhadap terkena penyakit, sehingga banyak anak usia tersebut yang
harus dirawat di rumah sakit dan menyebabkan populasi anak yang dirawat
dirumah sakit mengalami peningkatan yang sangat dramatis (Wong, 2009).
Reaksi anak terhadap penyakit dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin,
pengalaman dirawat dan lama dirawat. Reaksi anak terhadap penyakit dapat
berupa rasa cemas, takut akan sakit, kurang kontrol dalam emosi, marah,
tidak adaptif dan regresi (Potter & Perry, 2009). Reaksi hospitalisasi pada
anak usia prasekolah menunjukan reaksi tidak adaptif dimana dapat berupa
menolak untuk makan, sering bertanya, menangis, dan tidak kooperatif
terhadap petugas. Dirawat di rumah sakit memaksa anak untuk
meninggalkan lingkungan yang dicintai, keluarga, dan teman sehingga
menimbulkan kecemasan. Selain itu anak berada pada lingkungan rumah
sakit yang menyebabkan anak sulit beradaptasi. Reaksi yang sering
ditunjukan adalah menolak perawatan atau tindakan dan tidak kooperatif
dengan petugas.
I. Konsep Askep
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar pertama atau langkah awal dasar
keperawatan secara keseluruhan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dan pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi suatu kesehatan pasien. Pada tahap ini
semua data dan informasi tentang klien yang dibutuhkan, dikumpulkan dan
dianalisa untuk menentukan diagnosa keperawatan. Tujuan dari pengkajian
adalah untuk mengumpulkan data, menganalisa data sehingga ditemukan
38
diagnosa keperawatan. Adapaun langkah-langkah dalam pengkajian ini
menurut Winugroho (2008) adalah sebagai berikut :
a. Identitas klien
Identitas pasien meliputi nama, umur, berat badan, dan jenis
kelamin, alamat rumah, suku, agama dan nama orang tua.
b. Riwayat penyakit
Riwayat penyakit sekarang meliputi sejak kapan timbulnya demam,
gejala lain serta yang menyertai demam (misalnya mual, muntah, nafsu
makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot, dan sendi dll), apakah anak
menggigil, gelisa atau letargi, upaya yang harus di lakukan.
Riwayat penyakit dahulu yang perlu ditanyakan yaitu riwayat
penyakit yang pernah diderita oleh anak maupun keluarga dalam hal ini
orang tua. Apakah dalam keluarga pernah memiliki riwayat penyakit
keturunan atau pernah menderita penyakit kronis sehingga harus
dirawat di rumah sakit.
Riwayat tumbuh kembang yang pertama ditanyakan adalah hal-hal
yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai
dengan kebutuhan anak sekarang yang meliputi motorik kasar, motorik
halus, perkembangan kognitif atau bahasa dan personal sosial atau
kemandirian.
Imunisasi yang ditanyakan kepada orang tua apakah anak
mendapatkan imunisasi secara lengkap sesuai dengan usia dan jadwal
39
pemberian serta efek samping dari pemberian imunisasi seperti panas,
alergi dan sebagainya.
c. Pemeriksaan fisik
1) Pola pengkajian
Pola fungsi kesehatan daat dikaji melalui pola Gordon dimana
pendekatan ini memungkinkan perawat untuk mengumpulkan data
secara sistematis dengan cara mengevaluasi pola fungsi kesehatan
dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus. Model
konsep dan tipologi pola kesehatan fungsional menurut Gordon :
a) Pola persepsi manajemen kesehatan
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan dan penanganan
kesehatan. Persepsi terhadap arti kesehatan, dan
penatalaksanaan kesehatan, kemampuan menyusun tujuan,
pengetahuan tentang praktek kesehatan
b) Pola nutrisi metabolik
Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan dan
elektrolit, nafsu makan, pola makan, diet, fluktasi BB dalam 6
bulan terakhir, kesulitan menelan, mual/muntah, kebutuhan
jumlah zat gizi, masalah penyembuhan kulit, makanan
kesukaan.
c) Pola eliminasi
Manajemen pola fungsi ekskresi, kandung kemih dan
kulit, kebiasaan defekasi, ada tidaknya masalah defekasi,
40
masalah miksi (oliguri, disuria, dll), penggunaan kateter,
frekuensi defekasi dan miksi, karakteristik urine dan feses,
pola input cairan, infeksi saluran kemih, masalah bau badan,
aspirasi berlebih, dll.
d) Pola latihan aktivitas
Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernapasan,
dan sirkulasi. Pentingnya latihan / gerakan dalam keadaansehat
dan sakit, gerak tubuh dan kesehatan berhubungan satu sama
lain. Kemampuan klien dalam menata diri apabila tingkat
kemampuan 0 : mandiri, 1 : dengan alat bantu, 2:dibantu orang
lain, 3 : dibantu alat dan orang lain, 4 : tergantung dalam
melakukan ADLs, kekuatan otot dan ROM, riwayat penyakit
jantung, frekuensi, irama dan kedalaman napas, bunyi napas,
riwayat penyakit paru.
e) Pola kognitif perseptual
Menjelaskan persepsi sensori kognitif. Pola persepsi
sensori meliputi pengkajian fungsi penglihatan, pendengaran,
perasaan, pembau, dan kompensasinya terhadap tubuh.
Sedangkan pola kognitif didalamnya mengandung kemampuan
daya ingat klien terhadap peristiwa yang telah lama terjadi dan
atau baru terjadi dan kemampuan orientasi klienterhadap
waktu, tempat, dan nama (orang, atau benda yang lain).
Tingkat pendidikan, persepsi nyeri dan penanganan nyeri,
kemampuan untuk mengikuti, menilai nyeri skala 0-10,
41
pemakaian alat bantu dengar, melihat, kehilangan bagian
tubuh atau fungsinya, tingkat kesadaran, orientasi pasien,
adakah gangguan penglihatan, pendengaran, persepsi sensori
(nyeri), penciuman dll.
f) Pola istirahat dan tidur
Menggambarkan pola tidur, istirahat dan persepsi
tentangenergi. Jumlah jam tidur pada siang dan malam,
masalah selama tidur, insomnia atau mimpi buruk.
g) Pola konsep diri persepsi diri
Menggambarkan sikap entang diri sendiri dan persepsi
terhadap kemampuan. Kemampuan konsep diri antara lain
gambaran diri, harga diri, peran, identitas dan ide diri sendiri.
Manusia sebagai sistem terbuka dimana keseluruhan bagian
sistem terbuka, manusia juga sebagai makhluk bio psiko sosio
kultural spiritual dan dalam pandangan secara holistik.
h) Pola peran hubungan
Mengambarkan dan mengetahui hubungan peran klien
terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat tingal klien.
Pekerjaan, tempat tinggal, tidak punya rumah, tingkah
lakuyang pasif agresif terhadap orang lain, masalah
keuangan, dll.
i) Pola reproduksi seksual
Menggambarkan kepuasan actual atau dirasakan dengan
seksualitas. Dampak sakit terhadap seksualitas, riwayat haid,
42
pemeriksaan mamae sendiri, riwayat penyakit, hubungan sex,
pemeriksaan genital.
j) Pola koping stres
Mengambarkan kemampuan untuk mengalami stress dan
penggunaan sistem pendukung. Penggunaan obat untuk
menangani stress, interaksi dengan oranng terdekat, menangis,
kontak mata, metode koping, yang biasa digunakan, efek
penyakit terhadap tingkat stres.
k) Pola keyakinan dan nilai
Menggambarkan dan menjelaskan pola nilai,
kenyakinan,termasuk piritual. Menerangkan sikap dan
kenyakinan klien dalam melaksanakan agama yang dipeluk
dan konsekuensinya,
2. Analisa data
Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan
berpikir rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan.
3. Perumusan masalah
Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah
kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat di intervensi dengan
asuhan keperawatan (masalah keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan
lebih memerlukan tindakan medis. Selanjutnya disusun diagnosis
keperawatan sesuai dengan prioritas. Prioritas masalah ditentukan
berdasarkan kriteria penting dan segera. Prioritas masalah juga dapat
ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu :
43
Keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam
kesehatan, persepsi tentang kesehatan dan keperawatan.
4. Diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan
respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu
atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi
dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan
menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (NANDA, 2015-2017).
Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul :
a. Ketidakefektifan pola nafas b/d keletihan otot pernafasan
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d Obstruksi Jalan Nafas
(mukus berlebih)
c. Nyeri akut b/d agen cedera fisik ( proses pembedahan)
d. Resiko infeksi dengan faktor resiko prosedur invasif
e. Ansietas b/d Perilaku ( gelisah)
5. Perencanaan keperawatan
Semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu
pasien beralih dari status kesehatan saat ini ke status kesehatan yang
diuraikan dalam hasil yang diharapkan (Gordon,1994, dalam Afita, 2016).
Rencana asuhan keperawatan yang dirumuskan dengan tepat memfasilitasi
kontinuitas asuhan perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya.
Sebagai hasil, semua perawat mempunyai kesempatan untuk memberikan
asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten. Rencana asuhan
keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam
44
laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup
kebutuhan pasien jangka panjang (Potter dan Perry,1997, dalam Afita,
2016).
Tabel 2.1 Nanda international 2015-2017, NOC dan NIC Classification
Tgl/ Diagnosa NOC NIC
jam Keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Keperawatan
2 juli Ketidakefektifan Status pernafasan Manajemen Jalan Nafas
2018/ pola nafas b/d Setelah dilakukan tindakan 1.1 Memposisikan pasien
14.30 keletihan otot keperawatan selama ...x... jam untuk memaksimalkan
pernafasan diharapkan dignosa ventilasi
1.2 Buang sekret dengan
keperawatan ketidakefektifan
memotivasi pasien untuk
pola nafas teratasi dengan melakukan batuk atau
indikator: menyedot lendir
1. Frekuensi pernafasan 1.3 Memotivasi pasien untuk
dari skala ... bernafas pelan, dalam,
ditingkatkan ke ... berputar dan batuk
2. Penggunaan otot bantu 1.4 Gunakan tekhnik yang
nafas dari skala ... menyenangkan untuk
ditingkatkan ke ... memotivasi bernafas
3. Batuk dari skala ... dalam kepada anak-anak
ditingkatkan ke ... ( misal meniup balon
4. Saturasi oksigen dari atau kincir, peluit,
skala ... ditingkatkan ke harmonika )
... 1.5 Mengkelola nebulizer
sebagaimana mestinya
Ket skala : Monitor Pernafasan
1. Sangat Berat
2. Berat 1.6 monitor kecepatan,
3. Cukup irama, kedalaman dan
4. Ringan kesulitan bernafas
5. Tidak ada 1.7 catat pergerakan dada,
catat adanya otot bantu
nafas, catat
ketidaksimetrisan
1.8 Monitor suara tambahan
1.9 Monitor pola nafas
1.10 Monitor saturasi oksigen
1.11 Auskultasi suara
nafas,catat area dimana
adanya ventilasi dan
keberadaan suara
tambahan
2 juli Ketidakefektifan Status Pernafasan : Monitor Pernafasan
2018/ bersihan jalan kepatenan jalan nafas 2.1 memonitor kecepatan,
14.30 nafas b/d Setelah dilakukan tindakan irama, kedalaman dan
Obstruksi Jalan keperawatan selama ...x... jam kesulitan bernafas
Nafas (mukus diharapkan dignosa
berlebih) keperawatan ketidakefektifan 2.2 Monitor suara tambahan
bersihan jalan nafas teratasi
2.3 Monitor pola Nafas
dengan indikator :
45
1. Freueknsi penafasan dari 2.4 berikan bantuan terapi
skala ... ditingkatkan ke nafas jika diperlukan
...
2. Irama pernafasan ... (seperti Nebulizer)
ditingkatkan ke ...
3. Kemampuan untuk
mengeluarkan sekret dari
skala ... ditingkatkan ke
...
ket skala :
1. berat
2. cukup berat
3. sedang
4. ringan
5. tidak ada
2 Juli Nyeri Akut b/d Tingkat nyeri Manajemen nyeri
2018/ agen cedera Setelah dilakukan tindakan 3.1 lakukan pengkajian nyeri
14.30 fisik keperawatan selama ...x... jam komprehensif yang
diharapkan dignosa meliputi lokasi,
keperawatan nyeri akut karakteristik, durasi,
teratasi dengan indikator: frekuensi,kualitas,
1. Nyeri yang dilaporkan intensitas, faktor
dari skala ... pencetus.
ditingkatkan ke ... 3.2 observasi adanya
2. Mengerang dan
petunjuk nonverbal
menangis dari skala
ditingkatkan ke ... mengenai
3. Ekspresi nyeri wajah ketidaknyamanan
dari skala ... 3.3 pastikan perawatan
ditingkatkan ke ... analgetik bagi pasien
Ket skala : dilakukan dengan
1. Berat pemantauan yang
2. Cukup berat ketat
3. Sedang
3.4 gunakan strategi
4. Ringan
5. Tidak ada komunikasi terapeutik
untuk mengetahui
pengalaman nyeri dan
sampaikaan
penerimaan pasien
terhadap nyeri
3.5 ajarkan penggunaan
tekhnik non
farmakologi (seperti
relaksasi, hynosis,
bimbingan antisipatif,
terapi bermain, terapi
aktifitas, dll )
2 juli Resiko Infeksi Keparahan Infeksi Kontrol Infeksi
2018 dengan faktor Setelah dilakukan tindakan 4.1 bersihan lingkungan
/ resiko prosedur keperawatan selama ...x... jam dengan baik setelah
14.00 infasif diharapkan dignosa digunakan untuk setiap
pasien
46
keperawatan resiko infeksi 4.2 ganti peralatan
dapat terhindari dengan perawatan per pasien
indikator: sesuai protokol institusi
4.3 anjurkan pengunjung
1. kemerahan dari skala
untuk mencuci tangan
... ditingkatkan ke ...
pada saat memasuki da
2. demam dari skala ...
meninggalkan ruangan
ditingkatkan ke ...
pasien
3. nyeri dari skala ...
4.4 gunakan sabun
ditingkatkan ke ...
antimikroba untuk cuci
ket skala :
tangan yang sesuai
6. berat 4.5 pakai sarungtangan steril
7. cukup berat dengan tepat
8. sedang 4.6 jaga lingkungan aseptic
9. ringan yang optimal selama
10. tidak ada penusukan
4.7 pastikan teknik
keperawatan luka yang
tepat
4.8 ajarkan keluarga pasien
mengenai vagaimana
menghindari infeksi
2 juli Ansietas b/d Tingkat Kecemasan Pengurang Kecemasan
2018 Perilaku Setelah dilakukan tindakan 5.1 gunakan pendekatan
/ (gelisah) keperawatan selama ...x... jam yang tenang dan
14.00 diharapkan dignosa menyakinkan
5.2 dorong keluarga untuk
keperawatan tingkat
mendampingi klien
kecemasan dapat teratasi dengan cara yang tepat
dengan indikator: 5.3 jauhkan peralatan
1. perasaan gelisah dari perawatan dari
skala ... ditingkatkan ke pandangan klien
... 5.4 dengarkan klien
2. menegluarkan marah 5.5 piji/kuatkan perilaku
dengan cara berlebih yang baik secara tepat
dari skala ... ditingkatkan 5.6 kaji untuk tanda verbal
ke ... dan non verbal
ket skala : kecemasan
1. berat
2. cukup berat
3. sedang
4. ringan
5. tidak ada
BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
J. Identitas Klien ................................................................... 47
K. Data Khusus ...................................................................... 48
L. Analisa Data ...................................................................... 55
M. Daftar Diagnosa ................................................................ 57
N. Intervensi keperawatan...................................................... 57
O. Intervensi Inovasi .............................................................. 60
P. Implementasi keperawatan ................................................ 61
Q. Implementasi Inovasi ........................................................ 66
R. Evaluasi Keperawatan ....................................................... 67
BAB IV ANALISA SITUASI
E. Profil Lahan Praktik .......................................................... 71
F. Analisa masalah keperawatan dengan konsep terkait dan kasus
terkait ...................................................................... 72
G. Analisis salah satu intervensi dengan konsep dan
penelitian terkait ................................................................ 75
H. Alternatif Pemecahan yang dapat dilakukan .................... 77
SILAHKAN KUNJUNGI
PERPUSTAKAAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
KALIMANTAN TIMUR
80
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada BAB sebelumnya
dapat disimpulkan bahwa :
1. Gambaran umum klien dengan diagnosa efusi pleura dengan post op
thorakotomi pemasangan WSD memperlihatkan tanda-tanda seperti
sesak nafas dan adanya retraksi dinding dada, nyeri pada bagian dada
kanan.Diagnosis keperawatan yang dapat ditegakan pada An. A
adalah ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot
pernafasan, nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (proses
pembedahan), dan resiko infeksi dengan faktor resiko prosedur
invasif. Tujuan dan intervensi yang digunakan, Nursing outcome
classification (NOC) untuk masalah ketidakefektifan pola nafas
adalah Status pernafasan, dengan Nursing intervention classification
(NIC) ketidakefektifan pola nafas adalah Manajemen Jalan Nafas.
Nursing outcome classification (NOC) untuk masalah nyeri akut
adalah Tingkat nyeri, Nursing intervention classification (NIC) untuk
masalah nyeri akut adalah Manajemen nyeri. Nursing outcome
classification (NOC) untuk masalah resiko infeksi adalah Keparahan
Infeksi,Nursing outcome classification (NOC) untuk masalah resiko
infeksi adalah Kontrol Infeksi.
79
80
2. Intervensi inovasi adalah terapi slow deep breathing dengan meniup
baling-baling yang dilakukan selama 5 menit. Selama 3 hari
didapatkan Hasilnya menunjukan adanya pengaruh terapi slow deep
breathing dengan meniup baling-baling terhadap respon nyeri, baik
dari tanda-tanda vital maupun skala ekspresi klien.
B. Saran
1. Bagi Klien
Pemberian terapi slow deep breathing dengan meniup baling-baling
dapat diaplikasikan sebagai salah satu alternatif pada klien jika
mengalami atau dalam tindakan prosedur infasif untuk mengurangi
dan mengalihkan dari rasa nyeri.
2. Bagi Perawat
Diharapkan perawat dapat memberian terapi slow deep breathing
dengan meniup baling-baling guna mengurangi rasa nyeri pada pasien
anak.
3. Bagi Rumah Sakit
Pemberian terapi slow deep breathing dengan meniup baling-baling
sebaiknya dapat diterapkan kepada anak dengan diagnosa efusi pleura
post op thorakotomi pemasangan WSD untuk mengurangi rasa nyeri
dan disediakan alat bermainuntuk anak seprti baling-baling.
Daftar pustaka
Guyton & Hall. (2008). Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Hariyanto, A & Sulistyowati, R. (2015). Buku ajar keperawatan medikal bedah 1 :
dengan diagnosis NANDA international.Yogyakarta : AR- RUZZ MEDIA.
Hussein, (2015). Effect of Active and Passive Distraction on Decreasing Pain
Associated with Painful Medical Procedures among School Aged Children.World
Journal of Nursing Sciences 1 (2): 13-23.
Kyle, T., & Carman, S. (2014). Buku Praktik Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC
Lewis, SL. Dirksen,S.R(2011) medical surgical nursing : assessment and
management of clinical problem.8th edition.st.louis:Mosby.
Perry, A.G. & Potter, P. A. (2010). Fundamental Keperawatan, Buku 3, Edisi 7.
Jakarta: Salemba Medika Prasetyo, (2010). Konsep dan Proses Keperawatan
Nyeri. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Rahmawati, (2017). Pengaruh Pemberian EMLA Terhadap Penurunan Skala nyeri
Akibat tindakan prosedur invasif. UMKT Karya Ilmiah Akhir Ners
Somantri, Irman. 2008.Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Ganggua Sistem pernapasan / Irman Somantri. Jakarta :Salemba
Medika.
Tarwoto. (2011). Pengaruh latihan slow deep breathing terhadap intensitas nyeri
kepala akut pada pasien cedera kepala ringan. UI Tesis.
Truba, N., & Hoyle, J.D. (2014). Pediatric pain. Journal of Pain Management,
7(3), 235-248
Yuningsih, (2017). Pengaruh Latihan Nafas Dalam Terhadap Peningkatan
Saturasi Oksigen Pada Klien Terpasang Water Seal Drainage (WSD) DI RSUD
Kabupaten Tanggerang.Jurnal Keperawatan Komprehensif Vol. 3 No. 2
Wahyuni Hesti, (2015), Pengaruh Terapi Slow Deep Breathing Dengan Bermain
Meniup Baling-Baling Terhadap Intensitas Nyeri Pada Anak Yang Dilakukan
Penyuntikan Anestesi Sirkumsisi. Jurnal Skolastik Keperawatan. Vol. 1, No.2