0% found this document useful (0 votes)
671 views12 pages

Clay Therapy's Impact on Stroke Patients

1. This study examined the effects of clay therapy on muscle strength in stroke patients in Tegalmade Village, Mojolaban, Indonesia. 2. 32 stroke patients participated, divided into a treatment group that received clay therapy and a control group. 3. The results found no significant improvement in muscle strength from clay therapy, as the p-value of 0.559 was greater than 0.05.

Uploaded by

Iin Wahyuni
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
671 views12 pages

Clay Therapy's Impact on Stroke Patients

1. This study examined the effects of clay therapy on muscle strength in stroke patients in Tegalmade Village, Mojolaban, Indonesia. 2. 32 stroke patients participated, divided into a treatment group that received clay therapy and a control group. 3. The results found no significant improvement in muscle strength from clay therapy, as the p-value of 0.559 was greater than 0.05.

Uploaded by

Iin Wahyuni
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

PENGARUH CLAY THERAPY TERHADAP KEKUATAN OTOT PENDERITA STROKE DI

KELURAHAN TEGALMADE MOJOLABAN

Sri Partini1), Ika Subekti Wulandari 2)*, Gatot Suparmanto 3)


1)
Mahasiswa Prodi Sarjana Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
[email protected]
2) 3)
Dosen Prodi Sarjana Keperawatan STIKes Kusuma Husada
[email protected]

ABSTRACT

The mortality rate due to non-communicable diseases (NCDs) in the world is still high. The NCDs
include coronary heart disease, stroke, hypertension, heart failure, diabetes mellitus, etc. The World
Health Organization (WHO) estimates about 15 million people suffer from stroke each year. One of
the effects that occur in stroke patients is that one part of their body feels weak. Therefore, stroke
patients require rapid and precise rehabilitation of range of motion (ROM) exercises. To stimulate
hand movements, one of which is holding exercises which are hand functional ones. Exercise therapy
using clay therapy can be performed either in active way or in assistive way. The objective of this
research is to investigate the effect of clay therapy on muscular strength of stroke patients at
Tegalmade Ward, Mojolaban.
This research used the pre-experimental research method with one group pretest and posttest
design. Population sampling was used to determine its samples. They consisted of 32 respondents.
The data were analyzed by using the Wilcoxon’s test.
The result of the research shows that the clay therapy did not have any significant effect on the
improvement of muscular strength of the stroke patients at Tegalmade Ward, Mojolaban as indicated
by the p-value = 0.559 which was greater than 0.05.
Thus, there was not any effect of the administration of clay therapy on the muscular strength of
stroke sufferers in Tegalmade Ward as indicated by the p value=0.559 which was greater than 0.05.

Keywords: stroke, clay therapy, improvement of muscular strength


References: 23 (2007-2017)

ABSTRAK

Angka kematian akibat penyakit tidak menular (PTM) di dunia masih tinggi. Penyakit tidak
menular tersebut antara lain, penyakit jantung koroner, penyakit stroke, hipertensi, gagal jantung, DM
(diabetes melitus) dan lain-lain. World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 15 juta
orang terserang stroke setiap tahunnya. Salah satu dampak yang terjadi pada pasien stroke mengalami
kelemahan di salah satu sisi tubuh. Oleh karena itu, pasien stroke memerlukan rehabilitasi latihan
rentang gerak (ROM) secara cepat dan tepat. Latihan untuk menstimulasi gerak tangan salah satunya
berupa latihan menggenggam yang merupakan latihan fungsional tangan. Terapi latihan menggunakan
clay therapy dapat dilakukan baik secara aktif-asistif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh latihan clay therapy terhadap peningkatan kekuatan otot pada penderita stroke di Kelurahan
Mojolaban.
Jenis penelitian ini pre eksperimen dengan rancangan one group pre-post test design jumlah
sampel 32 responden dengan menggunakan teknik populasi sampling dan menggunakan uji wilcoxon.
Hasil penelitian tidak terdapat pengaruh yang signifikan dimana nilai p=0,559 α>0,05, sehingga
tidak ada pengaruh clay therapy terhadap peningkatan kekuatan otot penderita stroke di kelurahan
Tegalmade Mojolaban.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat pengaruh dari pemberian clay therapy
terhadap kekuatan otot pada penderita stroke di Kelurahan Tegalmade, dengan nilai p value=0,559
α>0,05.

Kata kunci : Stroke, Clay Therapy, Peningkatan Kekuatan Otot


Daftar pustaka : 26 (2007-2017)

1. Pendahuluan di Kabupaten Jepara sebesar 15 kasus


Angka kematian akibat penyakit tidak (Riskesdas, 2013).
menular (PTM) di dunia masih tinggi. Manifestasi klinis stroke tergantung dari
Penyakit tidak menular tersebut antara lain, sisi atau bagian mana yang terkena, rata-rata
penyakit jantung koroner, penyakit stroke, serangan, ukuran lesi dan adanya sirkulasi
hipertensi, gagal jantung, DM (diabetes kolateral. Seperti kelumpuhan wajah atau
melitus) dan lain-lain. World Health anggota badan sebelah (hemiparesis) yang
Organization (WHO) memperkirakan sekitar timbul secara mendadak, gangguan
15 juta orang terserang stroke setiap sensibilitas pada satu atau lebih anggota
tahunnya. Stroke menjadi penyebab kematian badan, afasia (kesulitan dalam berbicara),
utama urutan kedua pada usia diatas 60 tahun, disatria (bicara cedal atau pelo), gangguan
dan urutan kelima penyebab kematian pada penglihatan (diplopia), ataksia, vertigo (nyeri
usia 15-59 tahun (Wahyu dalam Irfan, 2012). kepala terkadang diselingi mual muntah) dan
Peningkatan jumlah stroke terbilang sangat bahkan penurunan kesadaran (Tarwoto, dkk,
tinggi. Penyakit stroke tertinggi di Indonesia 2007).
terjadi pada kelompok umur > 75 tahun Penatalaksanaan apabila terjadi gejala-
dengan prevalensi penderita stroke sebesar gejala awal stroke seperti mempertahankan
43, 1‰ dan prevalensi orang yang memiliki nutrisi yang sehat dan adekuat, program
gejala stroke sebesar 67, 0‰ seiring dengan managemen bladder dan bowel,
bertambahnya umur. Penyakit stroke tidak mempertahankan keseimbangan tubuh dan
hanya menyerang orang lanjut usia saja. rentang gerak sendi (ROM), mempertahankan
Penderita stroke sudah mulai dari kelompok integritas kulit, mempertahankan komunikasi
usia 15-24 tahun dengan prevalensi 0,2‰, yang efektif, dan istirahat yang cukup apabila
usia 25-34 tahun sebanyak 0,6‰, usia 35-44 terjadi gejala stroke. Selama belum terjadi
tahun sebanyak 22,5‰ dan usia 45-54 tahun kelumpuhan atau keparahan dapat
sebanyak 10,4‰. Jumlah kasus stroke di Jawa diaplikasikan kegiatan terapi latihan
Tengah tahun 2013 sebanyak 40.972 terdiri (Luklukaningsih, 2009).
dari stroke hemoragik sebanyak 12.542 dan Clay therapy digunakan sebagai salah satu
stroke non hemoragik sebanyak 28.430 kasus. teknik dalam proses terapeutik pada terapi
Dengan jumlah kasus stroke tertinggi di Kota pribadi dan kelompok (Sholt & Gavron dalam
Magelang sebesar 14.459 kasus dan terendah Wirastania, 2016). Media yang dapat
digunakan dalam clay therapy adalah clay
(tanah liat), play dough atau plastisin (lilin pre eksperimen. Desain penelitian one group
mainan). Dengan media plastisin sebagai pre test and post test design with control
sarana terapi untuk memberikan rangsangan group. Pada penelitian ini terdapat kelompok
ke jari-jari khususnya tangan untuk terus kontrol dan kelompok perlakuan, kemudian
berlatih bergerak dan meningkatkan kekuatan dibandingkan antara hasil sebelum dan
otot tangan. Membantu untuk melatih otot- sesudah pemberian perlakuan maupun kontrol
otot jari tangan untuk tetap bergerak, dengan (Notoatmodjo, 2012). Kelompok kontrol yang
cara latihan menggenggam dan membentuk dinilai sebelum dan sesudah diberikan terapi
plastisin untuk menstimulasi gerak tangan. ROM (Range of Motion) dan clay therapy,
Yang berefek terhadap otot menaikan sedangkan pada kelompok kontrol yang
temperatur otot, menaikkan kekuatan otot dan dinilai sebelum dan sesudah diberikan terapi
menaikkan produksi asam laktat. ROM (Range of Motion) tanpa dilakukan clay
Kecamatan Mojolaban terdapat 15 desa therapy.
dengan 1 puskesmas induk, dan 15 poliklinik Teknik pengambilan sampel dilakukan
desa. Kelurahan Tegalmade merupakan salah menggunakan teknik populasi sampling yaitu
satu kelurahan di Kecamatan Mojolaban seluruh pengunjung di Puskesmas Tegalmade
dengan penderita stroke yang cukup tinggi. Mojolaban yang memiliki penyakit stroke
Hasil rekapitulasi dari Puskesmas Mojolaban dalam kurun waktu bulan Desember sampai
selama tiga tahun terakhir adalah sebanyak 15 Januari 2018. Didapatkan responden
kunjungan penderita stroke pada tahun 2015, penelitian sebanyak 32 responden dibagi
kemudian pada tahun 2016 mengalami menjadi kelompok kontrol dan kelompok
peningkatan sebanyak 79 kunjungan dan pada intervensi dengan masing-masing 16
tahun 2017 sebanyak 105 kunjungan. Dapat responden pada setiap kelompok.
disimpulkan dari data tersebut dalam tiga Pelaksanaan Intervensi
tahun terakhir jumlah kunjungan penderita Peneliti menggunakan pelaksanaan intervensi
stroke mengalami peningkatan. dari penelitian Wirastania (2016), tahapan
Pemaparan data di atas, mendorong sebagai berikut :
peneliti untuk melakukan penelitian tentang 1) Tahap 1 (Pembukaan)
“Pengaruh Clay Therapy terhadap Kekuatan Tahap pertama dengan waktu 5
Otot Penderita Stroke di Kelurahan menit, membuka kegiatan apa dan
Tegalmade, Mojolaban”. mengemukakan tema dari permainan
dengan menggunakan media clay yang
2. Metodologi akan dilakukan. Kemudian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan mempersiapkan bahan dan alat-alat yang
Tegalmade pada bulan Februari sampai Maret digunakan.
2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dengan menggunakan rancangan
2) Tahap 2 (Inti) 5 responden (31,3%) pada kelompok
Langkah inti ini dilakukan dengan perlakuan maupun kelompok kontrol.
waktu selama 10 menit, menjelaskan Hasil ini selaras dengan hasil penelitian
mengenai cara-cara dalam pengolahan oleh Olvian, Mahdalena & Rahmawati
plastisin. Selanjutnya plastisin siap (2017) yang menyatakan usia terbanyak
dibentuk sesuai dengan tema yang telah responden berusia 56-65 tahun sebanyak
ditentukan. 11 orang (37%) dan hasil penelitian oleh
3) Tahap 3 (Penutup) Prok, Gessal & Angliadi (2016) bahwa
Tahap penutupan ini dilakukan mayoritas responden sebanyak 10 (55,6%).
selama 5 menit, mendiskusikan hasil Usia sangat mempengaruhi seseorang
permainan yang telah dilakukan dan untuk terkena serangan stroke termasuk
pencapaian hasil kegiatan. usia 56-65 tahun, sebab resiko stroke
meningkat seiring pertambahan usia
3. Hasil Dan Pembahasan setelah umur memasuki 55 tahun keatas,
3.1 Analisa Univariat resiko stroke meningkat dua kali lipat
3.1.1 Karkteristik responden berdasarkan setiap kurun waktu 10 tahun (Suiraoka,
usia 2012). umur merupakan salah satu faktor
Tabel 3.1 Karakteristik responden yang berkontribusi terhadap timbulnya
berdasarkan usia gejala stroke misalnya paralisis. Setelah
Kelompok umur beranjak dewasa kekuatan otot
Karakteristik Perlakuan Kontrol semakin menurun dengan disertai
Usia N % N % beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
a. 36-45 3 18, 4 25,0
berkurangnya kekuatan otot. Faktor-faktor
tahun 8% %
(dewasa yang dapat mempengaruhi pemeliharaan
akhir)
otot yaitu hereditas atau kecenderungan
b. 46-55 3 18, 5 31,3
tahun 8% % genetik, nutrisi atau asupan protein,
(lansia vitamin dan mineral. Memberikan tekanan
awal)
c. 56-65 5 31, 5 31,3 untuk melatih otot agar tetap kuat dan
tahun 3% % hormon yang dapat mempengaruhi laju
(lansia
akhir) produksi energi ke otot (Rosdahl, 2014).
d. >65 tahun 5
31, 2 12,5 3.1.2 Karakteristik responden berdasarkan
(manula) 3% %
Total 16 100 16 100 jenis kelamin
% % Tabel 3.2 Karkteristik responden berdasarkan
Berdasarkan tabel 3.1 mayoritas
jenis kelamin
penderita stroke usia 56-65 tahun
Kelompok
sebanyak 10 responden (31,2%) dengan
Perlakuan Kontrol
masing-masing kelompok yaitu sebanyak
Jenis N % N % 3.1.3 Kekuatan otot pre test pada
Kelamin
kelompok perlakuan dan kelompok
a. Laki- 9 56,2 10 62,
kontrol di Kelurahan Tegalmade
laki % 5%
Mojolaban
b. Peremp 7 43,8 6 37, Tabel 3.3 Kekuatan otot pre test pada
uan % 5%
kelompok perlakuan dan kelompok
Total 16 100 16 100 kontrol di Kelurahan Tegalmade
% %
Mojolaban
Berdasarkan Tabel 3.2 menunjukkan Pre Test
Kekuatan Perlakuan Kontrol
bahwa jenis kelamin mayoritas responden Otot
pada kelompok perlakuan dan kontrol N % N %
Lumpuh 0 0% 0 0%
adalah laki-laki sebanyak 19 responden total
(59,4%) dan perempuan sebanyak 13
Otot sedikit 0 0% 0 0%
responden (40,6%). berkontraksi
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil tanpa
perubahan
penelitian dari Prok, Gessal & Angliadi ROM
(2016) responden yang terbanyak adalah
Otot sedikit 0 0% 0 0%
laki-laki yakni sebanyak 14 responden berkontraksi
(77,8%) dan hasil penelitian oleh Prok, tidak
mampu
Gessal & Angliadi (2016) bahwa melawan
mayoritas responden sebanyak 10 (55,6%). tahanan
Secara teori serangan stroke lebih
Melawan 4 25,0% 3 18,8%
banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan gaya berat
Melawan 12 75,0% 13 81,3%
wanita. Menurut Bull (2007) pada
gaya dan
perempuan memiliki hormon esterogen mengatasi
tahanan
yang dapat mempertahankan kekebalan
Normal 0 0% 0 0%
tubuh yang di produksi sampai menopause
Total 16 100% 16 100%
dan sebagai proteksi atau pelindung pada
proses aterosklerosis. Sedangkan pada Berdasarkan tabel 3.3 diketahui
laki-laki terdapat hormon testosteron, dari hasil pre test pada kelompok
dimana hormon ini dapat meningkatkan perlakuan paling banyak adalah
kadar LDL, apabila kadar LDL tinggi
melawan gaya dan mengatasi tahanan
maka dapat meningkatkan kadar kolesterol
sebanyak 12 responden (75,0%) dan
dalam darah yang merupakan faktor resiko
pada kelompok kontrol adalah
terjadinya penyakit degeneratif seperti
sebanyak 13 responden (81,3%).
stroke.
Hasil pre test penelitian Astrid menyebabkan kerusakan jaringan
(2011) dimana pada kelompok otak karena otak kekurangan pasokan
perlakuan dan kelompok kontrol oksigen dan nutrisi.
menunjukkan hasil p value=0,000 Menurut Irfan dalam Dirga (2017)
(α<0,05). Hal ini berarti bahwa stroke juga dapat mengakibatkan
latihan ROM berpengaruh terhadap berbagai gangguan seperti penurunan
peningkatan kekuatan otot pasien tonus otot, hilangnya sensibilitas pada
stroke. Penelitian sebelumnya yang sebagian anggota tubuh yang dapat
dilakukan oleh Tseng, Chen, Wu, & menurunkan kemampuan fungsi
Lin (dalam Journal Advanced tubuh dikendalikan oleh jaringan
Nurshing, 2007) juga tersebut dan kematian jaringan otak.
mengungkapkan hasil yang sama Jika ada bagian otak yang terkena lesi
bahwa latihan ROM dapat maka dapat mengakibatkan
meningkatkan kemampuan fungsi kelemahan pada ekstremitas yang
aktivitas pasien stroke yang sangat mengganggu kemampuan dan
dilakukan selama 7 hari. aktivitas sehari-hari.
Dan sesuai dengan penelitian dari Efek fisiologis exercise therapy
Dirga (2017) menunjukkan hasil atau terapi latihan menurut
sebelum dilakukan intervensi, rata- Luklukaningsih (2010) terhadap
rata kekuatan otot pasien adalah 2,44 kekuatan otot diharapkan mampu
yang artinya gerakan tidak dapat menaikkan temperatur otot,
melawan gaya gravitasi tetapi dapat meningkatkan kekuatan otot, dan
melakukan gerakan sendi. meningkatkan produksi asam laktat
Menurut Ikawati dalam Dirga (sebagai sumber tenaga untuk
(2017) stroke dapat menyebabkan menggerakkan otot).
kerusakan neurologis yang Dari hasil observasi dan uraian
disebabkan adanya sumbatan total data penelitian yang telah dilakukan
atau parsial pada satu atau lebih didapatkan bahwa rata-rata responden
pembuluh darah serebral sehingga yang menderita stroke sebelum
menyumbat aliran darah ke otak. diberikan terapi latihan kekuatan
Hambatan tersebut umumnya ototnya mampu melawan gaya tetapi
disebabkan oleh pecahnya pembuluh berat. Sehingga setelah diberikan
darah/penyumbatan pembuluh darah terapi latihan (ROM dan clay
oleh gumpalan (clot), yang therapy) kekuatan otot dapat
dipertahankan atau dapat Berdasarkan tabel 3.4 diketahui dari
meningkatkan kekuatan otot. hasil pre test pada kelompok perlakuan
Dari hasil observasi dan uraian paling banyak adalah melawan gaya
data penelitian telah didapatkan dan mengatasi tahanan sebanyak 7
bahwa rata-rata responden yang responden (43,3%) dan pada kelompok
kekuatan ototnya mampu melawan kontrol adalah sebanyak 11 responden
(gravitasi) tetapi berat untuk (68,8%).
menggenggam/mengepal. Penelitian dari Dirga (2017)
3.1.4 Kekuatan otot post test pada mendapatkan hasil setelah diberikan
kelompok perlakuan dan kelompok intervensi terapi aktif menggenggam
kontrol di Kelurahan Tegalmade bola karet rata-rata kekuatan otot
Mojolaban pasien stroke non hemoragik adalah
Tabel 3.4 Kekuatan otot post test pada 3,81 dan standar deviasi 0,655. Hasil
kelompok perlakuan dan kelompok penelitian ini menunjukkan bahwa
kontrol di Kelurahan Tegalmade setelah dilakukan intervensi berupa
Mojolaban terapi aktif menggenggam bola karet
Post Test rata-rata kekuatan otot pasien adalah
Kekuatan Perlakuan Kontrol
Otot 3,81 yang artinya gerakan otot tidak
N % N % dapat melawan gravitasi dan tahanan
Lumpuh 0 0% 0 0%
total ringan. Kondisi ini menunjukkan
bahwa setelah dilakukan terapi aktif
Otot sedikit 0 0% 0 0%
berkontraksi menggenggam bola karet, responden
tanpa
perubahan mengalami kemajuan dalam
ROM melakukan aktivitas fisik terutama
Otot sedikit 0 0% 0 0% mengangkat tangan melawan gravitasi
berkontraksi
tidak
tanpa membawa beban. Apabila
mampu membawa beban ringan, responden
melawan
tahanan masih belum mampu melawan
gravitasi.
Melawan 4 25,0% 3 18,8%
gaya berat Peningkatan kemampuan otot yang
Melawan 7 43,8% 11 68,8%
gaya dan dialami responden sedikit banyak
mengatasi disebabkan karena adanya intervensi
tahanan
Normal 5 31,3% 2 12,5% aktif berupa menggenggam bola karet.
Total 16 100% 16 100% Menurut Saryono dalam Dirga (2017)
faktor penting yang dapat Tabel 3.5 Hasil analisa wilcoxon pada
meningkatkan kekuatan otot adalah kelompok perlakuan
dengan pelatihan. Dengan pelatihan P Value Z
secara teratur akan menimbulkan Pre 0,025 -2,236
dan
hypertrofi fibril otot. Semakin banyak
Post
pelatihan yang dilakukan maka
Hasil uji wilcoxon pada kelompok
semakin baik pula pembesaran fibril
perlakuan menunjukkan nilai p value
otot itulah yang menyebabkan adanya
= 0,025 yang nilai α < 0,05 dan
peningkatan kekuatan otot. Untuk
dengan kekuatan hubungan -2,236 <
mencapai peningkatan kekuatan otot
1,96 (Ztabel) sehingga terdapat
yang baik, diperlukan pelatihan yang
perbedaan kekuatan otot antara
disusun dan yang dilaksanakan dengan
sebelum dan sesudah diberikan clay
program pelatihan yang tepat. Agar
therapy pada kelompok perlakuan.
pelatihan yang dilakukan dapat
Adanya perbedaan kekuatan otot
mencapai hasil yang sesuai dengan
sebelum dan sesudah diberikan clay
yang diharapkan, program pelatihan
therapy disebabkan karena adanya
yang disusun untuk meningkatkan
rangsangan pada otot. Menurut Prok,
kekuatan otot harus memperhatikan
Gessal & Angliadi (2016) latihan
faktor-faktor tersebut.
menggenggam akan merangsang
Dari hasil observasi dan uraian data
serat-serat otot untuk berkontraksi,
penelitian didapatkan bahwa responden
hanya dengan sedikit kontraksi kuat
yang diberikan terapi ROM dan clay
setiap harinya dengan karakteristik
therapy mengalami peningkatan
latihan yang menggunakan bola karet
kekuatan otot. Kekuatan otot post test
dengan tekstur lentur dan halus akan
pada penelitian ini adalah mampu
melatih reseptor sensorik dan
melawan tahanan tetapi tidak maksimal
motorik. Respon akan disampaikan
dan full ROM pada kelompok kontrol
ke korteks sensorik di otak jalur
adalah mampu melawan gaya
sensorik melalui badan sel pada saraf
(gravitasi) tetapi berat untuk
C7-T1 secara langsung melalui
menggenggam /mengepal.
sistem limbik. Pengolahan rangsang
3.2 Analisa Bivariat
yang ada menimbulkan respon cepat
3.2.1 Kekuatan otot pre test dan post test
pada saraf untuk melakukan aksi atas
pada kelompok perlakuan di
rangsangan tersebut. Salah satu
Kelurahan Tegalmade Mojolaban
media latihan yang bisa digunakan (bedrest), dan immobilisasi anggota
yaitu penggunaan bola seperti bola tubuh.
karet. 3.2.3 Perbedaan kekuatan otot pada
3.2.2 Kekuatan otot pre test dan post test kelompok kontrol dan kelompok
pada kelompok kontrol di perlakuan di Kelurahan
Kelurahan Tegalmade Mojolaban Tegalmade Mojolaban
Tabel 3.6 Hasil analisa wilcoxon pada Tabel 3.7 Hasil analisa mann whitney
kelompok kontrol pada kelompok perlakuan dan
P Value Z kelompok kontrol
Pre 0,157 -1,414 Z P Value
dan
Post Post test - 0,559
kelompok 0,526
Hasil uji wilcoxon pada kelompok perlakuan
dan post
kontrol menunjukkan nilai p value = test
kelompok
0,157 yang nilai α > 0,05 dan dengan kontrol
kekuatan hubungan -1,414 < 1,96
Berdasarkan table 4.8 hasil Uji
(Ztabel) sehingga tidak terdapat
Mann Whitney menunjukkan bahwa
perbedaan kekuatan otot antara pre
nilai p value = 0,559 yang nilai α >
dan post diberikan clay therapy pada
0,05 dan dengan kekuatan hubungan -
kelompok kontrol.
0,526 < 1,96 (Ztabel) maka H0 diterima
Menurut Saryono (2011) bahwa
dan Ha ditolak yang artinya bahwa
otot skelet harus dirangsang oleh sel
tidak terdapat perbedaan antara
syaraf untuk berkontraksi. Satu unit
kelompok perlakuan dan kelompok
motor di inervasi oleh satu neuron.
kontrol.
Jika sel otot tidak dirangsang, sel
Hasil ini tidak sama dengan Dirga
akan mengecil (atrofi) dan mati,
(2017) dimana pada hasil penelitian
bahkan kadang kadang diganti
didapatkan Mean Difference -1,375
dengan jaringan konektif yang
dan signifikansi 0,000 sehingga dapat
irreversible ketika rusak. Gunakanlah
dinyatakan bahwa ada perbedaan
otot atau otot akan kehilangan
kekuatan otot sebelum dan sesudah
fungsinya kalau tidak digunakan.
dilakukan intervensi terapi aktif
Masalah akan timbul bagi pasien
menggenggam bola karet. Penelitian
yang menetap tanpa aktivitas
ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan kekuatan otot pada
penderita stroke non hemoragik Kekuatan otot post test pada
sebelum dan sesudah diberikan terapi kelompok perlakuan nilai kekuatan otot

aktif menggenggam bola karet. Hasil 4 adalah mampu melawan tahanan, tetapi
tidak maksimal dan full ROM sebanyak
penelitian ini sesuai dengan
7 responden (43,8%) dan pada nilai
penelitian yang dilakukan oleh Prok,
kekuatan otot mampu melawan tahanan,
Gessal, & Angliadi (2016) yang
gravitasi dan full ROM sebanyak 4
menyimpulkan bahwa ada perbedaan
responden (25,0%) serta kembali normal
yang mana rata-rata kekuatan otot sebanyak 5 responden (31,3%). Pada
sebelum dan sesudah latihan kelompok kontrol dengan nilai kekuatan
menggenggam bola. otot (4) yaitu mampu melawan tahanan
tetapi tidak maksimal dan full ROM
4. Kesimpulan Dan Saran sebanyak 11 responden (68,8%) dan
Responden paling banyak adalah pada nilai kekuatan otot (3) mampu
berumur 56-65 tahun masing-masing melawan gaya berat berjumlah 3
sebanyak 5 responden (31,3%) baik pada responden (18,8%) serta nilai kekuatan
kelompok perlakuan maupun kelompok otot kembali normal sejumlah 2
kontrol. responden (12,5%).
Jenis kelamin responden paling Berdasarkan hasil penelitian dan
banyak adalah yaitu laki-laki baik pada pembahasan tentang Pengaruh
kelompok perlakuan maupun kelompok Pemberian Clay Therapy terhadap
kontrol. Jumlah kelompok perlakuan Penderita stroke di Kelurahan
sebanyak 9 responden (56,2%) dan pada Tegalmade Mojolaban tidak terdapat
kelompok kontrol sebanyak 10 pengaruh dari pemberian clay therapy
responden (62,5%). terhadap peningkatan kekuatan otot pada
Kekuaatan otot pre test pada Penderita stroke di Kelurahan
kelompok perlakuan sebanyak 12 Tegalmade Mojolaban, dengan p value =
responden (75,0%) dan sebanyak 4 0,559 yang nilai α > 0,05.
responden (25,0%) dengan nilai Bagi peneliti selanjutnya
kekuatan otot mampu melawan gaya diharapkan untuk megembangkan
berat sedangkan pada kelompok kontrol penelitian yang sama dengan variabel
sebanyak 13 responden (81,3%) dengan
yang sama maupun berbeda tetapi
nilai kekuatan otot 4 yaitu dapat
dengan pelaksanaan terapi yang
melawan gaya dan mengatasi tahanan
berbeda sehingga dapat menjadikan
serta sebanyak 3 responden (18,8%)
hasil yang berpengaruh.
dengan nilai kekuatan otot 3 yaitu
mampu melawan gaya berat.
Daftar Pustaka Di Ruang Rawat Inap Penyakit Syaraf
Astrid, Maria. (2011). Pengaruh (Seruni) RSUD Ulin Banjarmasin.
Latihan ROM Terhadap Kekuatan Dinamika Kesehatan, Vol. 8 No. 1,

Otot, Luas Gerak Sendi & Juli 2017.


Prok, W, Gessal, J & Angliadi, LS..
Kemampuan Fungsional Pasien
(2016). Pengaruh Latihan Gerak Aktif
Stroke di RS SINT Carolus
Menggenggam Bola Pada Pasien
Jakarta, Sarjana Keperawatan.
Stroke Diukur Dengan Handgrip
Jurnal Keperawatan dan
Dynamometer. Jurnal e-Clinic (eCl),
Kebidanan. Volume 4, Nomor 1, Januari-April
Bull E., Morrel J. (2007). Simple Guide : 2016.
Penanganan Penyakit Kolesterol. Rosdahl, Caroline Bunker & Kowalski,
Jakarta : Erlangga. Mary T. (2014). Buku Ajar
Daya, Dirga Adi. (2017). Pengaruh Keperawatan Dasar, Ed.10, Vol.1.
Terapi Aktif Menggenggam Bola Jakarta: EGC.
Karet Terhadap Kekuatan Otot Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
Pada Pasien Stroke Non (2013). Riset Kesehatan Dasar
Hemoragik Di Wilayah Kerja 2013. Litbangkes, Depkes RI,
Puskesmas Pengasih II Kulon 2013.
Progo Yogyakarta, Skripsi, Suiraoka IP. (2012). Penyakit
Sarjana Keperawatan. Degeneratif. Nuha Medika:
Irfan, Muhammad. (2012). Yogyakarta.

Fisioterapi bagi insan Stroke. Tarwoto, dkk. (2007). Keperawatan

Graha Ilmu : Yogyakarta. Medikal Bedah Gangguan Sistem


Luklukaningsih, Zuyina. (2009). Persarafan. Jakarta : Sagung Seto.
Sinopsis Fisioterapi untuk Terapi Tseng, C.N., Chen, C.C., Wu, S.C.,
Latihan. Mitra Cendikia : Jogjakarta. & Lin, L.C. (2007). Effects of
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). range-of-motion exercise
Metodologi Penelitian Kesehatan. programme.
Rineka Cipta : Jakarta. http://www.ncbi.nlm.nih.gov,
Olviani, Y, Mahdalena & Rahmawati, I. diperoleh pada bulan Juli 2017.
(2017). Pengaruh Latihan Range Of Wirastania, Aniek. (2016).
Motion (ROM) Aktif-Asistif
Penggunaan Clay Therapy Dalam
(Spherical Grip) Terhadap
Program Bimbingan Untuk
Peningkatan Kekuatan Otot
Peserta Didik Tingkat Sekolah
Ekstremitas Atas pada Pasien Stroke
Dasar. Jurnal Fokus Konseling.
Volume 2 No. 1.

You might also like