0% found this document useful (0 votes)
67 views40 pages

Obesitas dan Risiko OSA pada Remaja

This document summarizes a study that analyzed the correlation between obesity and risk of obstructive sleep apnea (OSA) in teenagers. The study found that 46% of students at a high school in Purwokerto, Indonesia were obese. It also found that 43% of students were at risk for OSA. The results showed a correlation between obesity and risk of OSA (p=0.000). Obesity can increase the risk of OSA in teenagers due to excess fat deposits narrowing the airways during sleep. Left untreated, obesity and OSA in teenagers can lead to health problems that continue into adulthood.

Uploaded by

Abdul Aziz
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOC, PDF, TXT or read online on Scribd

Topics covered

  • Obesity Prevalence,
  • Youth Health,
  • Teen Health,
  • Sleep Apnea Treatment,
  • Research Methodology,
  • Nutritional Education,
  • Statistical Analysis,
  • Physical Activity,
  • Chi-Square Test,
  • Sleep Disorders
0% found this document useful (0 votes)
67 views40 pages

Obesitas dan Risiko OSA pada Remaja

This document summarizes a study that analyzed the correlation between obesity and risk of obstructive sleep apnea (OSA) in teenagers. The study found that 46% of students at a high school in Purwokerto, Indonesia were obese. It also found that 43% of students were at risk for OSA. The results showed a correlation between obesity and risk of OSA (p=0.000). Obesity can increase the risk of OSA in teenagers due to excess fat deposits narrowing the airways during sleep. Left untreated, obesity and OSA in teenagers can lead to health problems that continue into adulthood.

Uploaded by

Abdul Aziz
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOC, PDF, TXT or read online on Scribd

Topics covered

  • Obesity Prevalence,
  • Youth Health,
  • Teen Health,
  • Sleep Apnea Treatment,
  • Research Methodology,
  • Nutritional Education,
  • Statistical Analysis,
  • Physical Activity,
  • Chi-Square Test,
  • Sleep Disorders

Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No.

1, Februari 2012

HUBUNGAN OBESITAS DENGAN RISIKO OBSTRUCTIVE SLEEP


APNEA (OSA) PADA REMAJA
Usep Basuki Rahman1, Handoyo2, Pujo Rohadi 3
1,
Jurusan Keperawatan Unsoed Purwokerto
2
Prodi Keperawatan Purwokerto, Poltekkes Kemenkes Semarang
3
RSUD Banyumas

ABSTRACT
The positive effect of the development process is to increase quality and
wealth live index. That situation has an impact of obesity frequency by year.
Meanwhile, obesity cases during teenagers could continue to their live. That
situation has influence of development chronically diseases and some health
problems. One of disease that commonly develops for people who have obesity is
obstructive sleep apnea (OSA). OSA become chronically situation if obesity is not
detected in the early developed.
The aim of this study is to analyze correlation of obesity with risk of
obstructive sleep apnea in teenagers. This is a non experimental research with
analytic survey design by Cross sectional method that located in SMA Negeri 1
Purwokerto. Obesity frequency was determined by Body Height (BH) and Body
Weight (BW) of student in SMA Negeri 1 Purwokerto, sample collected that were
100 students, who randomly selected. Obesity criteria was determined by IMT
score more than or same as 25 kg/m2. BH was measured by stature meter and BW
was measured by body scale with gradation of 0,1 kg, Risk of obstructive sleep
apnea (OSA) by using Berlin questioner. Data analysis were using
Chi-square test.
Obesity frequency of SMA Negeri 1 Purwokerto student was 46%.
meanwhile, frequency of obstructive sleep apnea (OSA) risk was 43%. Research
result showed that there was correlation of obesity with risk of obstructive sleep
apnea (OSA) (p=0,000).

Keywords: Obesity, Obstructive sleep apnea (OSA), Teenagers.


PENDAHULUAN sarapan dan lebih suka
Obesitas dapat diartikan mengkonsumsi fast food, serta
sebagai penimbunan jaringan lemak cenderung sedentary life style,
tubuh secara berlebihan yang membuat remaja berisiko untuk
memberi efek buruk pada kesehatan. menderita obesitas (Intan, 2008).
Kondisi ini dapat dialami oleh setiap Obesitas mulai menjadi
golongan umur baik laki-laki masalah kesehatan di seluruh dunia,
maupun perempuan, akan tetapi bahkan WHO menyatakan bahwa
remaja dan dewasa merupakan obesitas sudah merupakan suatu
kelompok yang paling sering terjadi. epidemi global, pada negara-negara
Gaya hidup remaja saat ini yang maju dan negara berkembang seperti
sering melewatkan di Indonesia, terutama di daerah
44
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
perkotaan. Obesitas sudah yang relatif berlebihan bila
merupakan suatu problem kesehatan, dibandingkan dengan usia atau tinggi
sehingga harus segera ditangani badan remaja sebaya, sebagai akibat
(WHO Technical Report Series, terjadinya penimbunan lemak yang
2000). berlebihan dalam jaringan lemak
Negara Indonesia mengalami tubuh. Obesitas yang terjadi pada
peningkatan kemakmuran masa remaja perlu mendapatkan
masyarakat yang diikuti oleh perhatian, sebab obesitas pada remaja
peningkatan pendidikan, sehingga bila kemudian berlanjut hingga
dapat mengubah gaya hidup dan pola dewasa akan sulit diatasi secara
makan dari pola makan tradisional ke konvensional (diet dan olah raga).
pola makan-makanan praktis dan Obesitas pada remaja tidak hanya
siap saji yang dapat menimbulkan menjadi masalah bagi kesehatan di
mutu gizi yang tidak seimbang. Hal kemudian hari, tetapi juga membawa
tersebut terutama terlihat di kota masalah bagi kehidupan sosial dan
-kota besar di Indonesia. Pola makan emosi yang cukup berarti pada
tersebut jika tidak dikonsumsi secara remaja. Remaja yang mengalami
rasional mudah menyebabkan obesitas akan menghadapi
kelebihan masukan kalori yang akan diskriminasi dalam banyak hal
menimbulkan obesitas (MFDU., (MFDU., 2006).
2006). Obstruktif sleep apnea
Obesitas merupakan salah (OSA) pertama kali
satu penyebab yang dapat dipublikasikan pada tahun 1956 oleh
menurunkan kualitas sumber daya Sidney Burwell, lebih dari 50 tahun
manusia di masa mendatang, yang yang lalu dan
merupakan perioritas pembangunan kepentingan klinisnya saat ini
nasional. Hal ini karena obesitas semakin dikenali. OSA
merupakan prediktor dari beberapa merupakan gangguan tidur
penyakit degeneratif (Hanah, 2002). berupa gangguan pernafasan saat
Kegemukan (obesitas) selain dapat tidur yang paling sering
menyebabkan meningkatnya angka terjadi, yang didefinisikan
kesakitan dan kematian juga sebagai ketiadaan aliran udara
meskipun terdapat usaha
menyebabkan timbulnya berbagai
ventilasi yang ditandai dengan
penyakit degeneratif, seperti
adanya kontraksi otot
hipertensi, penyakit jantung koroner,
sleep apnea, osteoartritis, gout, pernafasan (diafragma). Kelainan ini
dislipidemia, batu empedu, dan lain- dapat disebabkan oleh penyempitan
lain (Mustofa, 2010). dan penutupan saluran nafas bagian
atas saat tidur. Obstruktif sleep apnea
Akhir-akhir ini kasus gizi
sering dikaitkan dengan
lebih pada remaja banyak terjadi peningkatan morbiditas dan
terutama di kota-kota besar. mortalitas kardiovaskular.
Kegemukan pada remaja ditandai Akibat psikomotor pada
dengan berat badan obstruktif sleep apnea adalah
rasa kantuk berlebihan dan lelah
45
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
pada siang hari serta kualitas tidur pernafasan saat tidur merupakan
yang buruk karena pasien sering gangguan pernafasan abnormal
terbangun saat tidur (Saimak, 2009). secara luas yang memiliki
OSA terjadi pada remaja karakteristik berupa berhentinya
obesitas yang berperan dalam nafas secara berulang selama tidur.
penyempitan jalan nafas akibat Walaupun gangguan ini sering terjadi
penimbunan lemak yang berlebihan pada populasi masyarakat, namun
sehingga terjadi disfungsi di bawah kebanyakan tidak terdiagnosa (Lavie,
diafragma dan di dalam dinding dada 2007).
yang bisa menekan paru-paru, Masalah tidur yang paling
mengganggu upaya ventilasi saat berbahaya saat ini adalah sleep
tidur dan jaringan lemak pada leher apnea yang ditandai dengan
dan lidah menurunkan diameter mendengkur dan kantuk berlebih.
saluran nafas yang merupakan Kita juga tahu bahwa orang yang
predisposisi terjadinya penutupan gemuk rata-rata tidur mendengkur.
prematur saat jaringan otot relaksasi Henti nafas saat tidur, akan
waktu tidur, sehingga timbul menyebabkan penderitanya
gangguan pernafasaan dan sesak terbangun-bangun (tanpa tersadar)
nafas. Biasanya gangguan pernafasan dalam tidur. Akibatnya ia akan selalu
itu terjadi pada saat tidur dan berada dalam kondisi kurang tidur,
menyebabkan terhentinya pernafasan walaupun sudah tidur cukup, gejala
untuk sementara (tidur apnea), OSA berupa rasa mengantuk atau
sehingga pada siang hari penderita rasa lelah, merupakan gejala yang
sering merasa ngantuk, kurang umum dijumpai di dalam populasi.
perhatian, konsentrasi menurun dan Tidak heran jika penderitanya mudah
ingatan terganggu (Omidvari, 2000 sekali mengantuk. Sayangnya henti
dan sarwono, 2003). Menurut Iis nafas ini, di mata orang awam hanya
(2003), Salah satu masalah terburuk dikenali sebagai ngorok atau
untuk obesitas adalah "obstructive mendengkur, bahkan di tenaga
sleep apnea" (nafas terhenti sesaat kesehatan termasuk dokter sangat
saat tidur). Hal ini dalam sejumlah jarang sadar akan kondisi pasien
kasus dapat menyebabkan masalah yang memiliki risiko OSA ini yang
dalam belajar dan ingatan. pada akhirnya banyak pasien yang
Setiap individu menghabiskan menderita gangguan ini tidak
30% dari hidupnya dengan tidur. terdiagnosis dan tidak diterapi. Hasil
Sejak tahun 1970, para ahli telah studi penelitian yang dilakukan tahun
meneliti konsekuensi gangguan tidur 1993 menunjukkan, 9% perempuan
yang disebabkan pola pernafasan dan 24% laki-laki memiliki apnea-
abnormal yang didefinisikan sebagai hypopnea index lebih dari 5/jam. The
gangguan pernafasan saat tidur. National Commision on Sleep
Gangguan Disorder Research menemukan 42%
hingga 54% dari kecelakaan yang
terjadi terkait dengan kejadian OSA
46
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
(Dement, 2010 dan Hartenbaum ditemukan 6,2% dan pada umur 17-
2006). 21 tahun sebanyak 11,4%. Kasus
OSA di negara-negara maju obesitas pada anak remaja ini banyak
diperkirakan mencapai 2-4% pada ditemukan pada remaja putri (10,2%)
pria dan 1-2% pada wanita. 14 -17 dibandingkan dengan remaja putra
pria lebih sering mengalami OSA dan (3,1%) (Sjarif, 2002).
seringkali juga menderita obesitas. Damayanti (2004)
Prevalensi menurut data dari menunjukkan dalam hasil
National heart, Lung and Blood penelitiannya bahwa pada tahun
Institutie menyebutkan bahwa 12 juta 2002, dari 2270 sampel murid
penduduk dewasa Amerika menderita sekolah dasar, diketahui prevalensi
OSA. Sedangkan menurut National obesitasnya adalah 27,5%. Sebanyak
Sleep Pundation diperkirakan 33,1% murid sekolah dasar
mencapai 18 juta orang. Sayangnya menderita hiperkolesterolemia,
di Indonesia belum ada penelitian 28,7% mempunyai nilai LDL-
berskala nasional yang kolesterol yang meningkat, dan 20%
memperhatikan gangguan tidur yang murid menderita hipertensi diastolik.
fatal ini. Mengingat struktur rahang Prevalensi obesitas pada tahun 2003,
Ras Asia yang lebih sempit, dicurigai dari 917 sampel diketahui bahwa
Indonesia memiliki lebih banyak prevalensi obesitas mencapai 20,9%,
penderita sleep apnea (Pang, 2005 sejumlah 10,8% sampel diantaranya
dan Saimak, 2009). menderita sindrom obstructive sleep
Prevalensi obesitas makin apnea. Tahun 2004, dari 486 sampel,
meningkat, hampir setengah milyar prevalensi obesitasnya mencapai
penduduk dunia saat ini tergolong 21%.
overweight atau obesitas dan paling Menurut Riset Kesehatan
sedikit ada 300 juta orang yang Dasar (RISKESDAS) tahun 2008
masuk kategori obesitas. Amerika Prevalensi obesitas umum di provinsi
Serikat dan negara-negara maju di Jawa Tengah pada laki-laki sebesar
Eropa Barat misalnya, hampir dua 11,5%, dan perempuan 21,7%.
per tiga penduduk mengidap Kabupaten Banyumas prevalensi
kegemukan (Rossner, 2002). berat badan berlebih pada usia 6-14
Direktorat Bina Gizi Masyarakat tahun 7.3 % overweight dan 2.6 %
Departemen Indonesia mencatat dari obesitas, pada anak laki-laki sebesar
perkiraan 200 juta penduduk 6,6% dan 4,6% pada anak
Indonesia pada tahun 2000, jumlah perempuan. Remaja usia 15 tahun ke
penduduk yang overweight atas prevalensi berat badan berlebih
diperkirakan 76,7 juta (17,5%) dan 8,8% overweight dan 12,0% obesitas.
penderita obesitas berjumlah lebih SMAN 1 Purwokerto
dari 9,8 juta (4,7%). Berdasarkan merupakan salah satu sekolah negeri
penelitian yang dilakukan pada tahun ternama yang ada di Kota
2000 di Jakarta, tingkatan prevalensi Purwokerto, lokasi SMAN 1 cukup
obesitas pada masa remaja 6-12 strategis berada di daerah pusat Kota
tahun Purwokerto. Hasil
47
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
survai pendahuluan didapatkan data sampel menggunakan rancangan
sebesar 10% siswa mempunyai status Random (Probability Sampling)
gizi lebih. Kemungkinan hal ini dengan desain Simple Random
disebabkan pola konsumsi dan Sampling. Penelitian ini termasuk
pemilihan makanan yang kurang jenis penelitian non ekperimental
baik, dari hasil wawancara pada 10 yaitu untuk mengetahui hubungan
orang siswa yang kelebihan berat antara obesitas dengan risiko
badan mengatakan 8 diantaranya obstructive sleep apnea (OSA). Jenis
sering merasa lelah saat bangun tidur penelitian menggunakan metode
dan ketika beraktivitas cepat lelah penelitian survey analitik, yaitu
bahkan sewaktu mengendarai merupakan suatu penelitian
kendaraan sering merasa mengantuk, kuantitatif dengan menggunakan
dan sebagian diantaranya mengalami pertanyaan terstruktur atau sistematis
gangguan tidur mendengkur dan yang sama kepada banyak orang,
nafas terasa sesak. untuk kemudian seluruh jawaban
Siswa yang mengalami yang diperoleh penulis dicatat,
kelebihan berat badan mengeluhkan, diolah, dan dianalisis (Prasetyo dan
mereka merasa terganggu saat Lina, 2005).
pelajaran berlangsung karena sering Rancangan penelitian dengan
merasa mengantuk bahkan ada yang pendekatan cross-sectional, karena
sampai tertidur pada jam pelajaran data yang digunakan dalam
tertentu. Siang harinya, seusai penelitian ini dikumpulkan dan
sekolah selesai diantara mereka tidak diukur dalam sekali waktu/sekaligus
aktif mengikuti kegiatan pada suatu saat (Notoatmojdo, 2005).
exstrakulikuler dengan alasan merasa Penelitian cross-sectional dapat
lelah, cepat cape, kurang percaya diri mencari, menjelaskan suatu
dan malas. Berdasarkan hal tersebut hubungan, memperkirakan, menguji
dan belum pernah dilakukan dengan menggunakan teori yang ada
penelitian mengenai hubungan (Nursalam, 2003). Menurut
obesitas dengan risiko obstructive Notoatmodjo (2005), populasi
sleep apnea (OSA) pada remaja, merupakan keseluruhan objek
khususnya di Kota Purwokerto maka penelitian atau objek yang diteliti.
peneliti ingin mengetahui “Apakah Populasi dalam penelitian ini adalah
ada hubungan antara obesitas dengan siswa-siswi yang duduk di bangku
risiko obstructive sleep apnea (OSA) kelas 1 dan kelas 2 SMAN 1
pada remaja di SMAN 1 Purwokerto tahun 2010. Populasi
Purwokerto”. siswa-siswi kelas 1 dan 2 berjumlah
657 siswa.
METODE PENELITIAN Sampel adalah sebagian dari
Desain penelitian yang keseluruhan objek yang diteliti dan
digunakan adalah kuantitatif dengan dianggap mewakili seluruh populasi
pendekatan cross-sectional dan cara (Notoatmodjo, 2005). Sampel pada
pengambilan penelitian ini adalah: siswa-siswi di
SMAN 1 Purwokerto yang duduk di
48
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
kelas 1 dan kelas 2. Pengambilan untuk terpilih menjadi sampel
sampel menggunakan rancangan (Pratiknya, 2007). Menurut Kasjono
dan Yasril (2009), penentuan besar
Random (Probability Sampling) sampel pada data yang bersifat
dengan desain Simple Random kategorik dapat ditentukan dengan
Sampling yaitu pemilihan sampel menggunakan perhitungan rumus
yang memungkinkan tiap subyek
sebagai berikut:
dalam populasi mendapat
kemungkinan (kans) yang sama
Z2 .P1 PN
d 2 (N 1)  Z2 .P(1 
n= P)
1,962 .0,5(1  0,5)657
0,102 .(657 1) 1,962.0,5(1
n = 0,5)
630,72
n=
7,52
n = 83,9
Jadi sampel minimal adalah 84 orang.
Keterangan:
n : Besar sampel minimal
P : Proporsi penelitian sebelumnya (jika tidak diketahui digunakan 0,5)
d : Presisi mutlak 10 % = 0,1
Zα : Nilai distribusi normal baku Berdasarkan derajat kepercayaan 95%
pada α 0,05 = 1,96
N : Jumlah populasi
Berdasarkan perhitungan rumus untuk diketahui hubungannya
tersebut maka besar sampel minimal (Nursalam, 2001). Variabel bebas
adalah sebanyak 84 responden. pada penelitian ini yaitu obesitas.
Sementara itu untuk membuat hasil Variabel terikat (dependent variable)
dalam penelitian ini lebih valid maka adalah variabel respon atau output
sampel yang didigunakan berjumlah yang akan muncul sebagai akibat dari
100 responden. Variabel adalah manipulasi suatu variabel-variabel
sesuatu yang digunakan sebagai ciri, independen (Nursalam, 2001).
sifat, atau ukuran yang dimiliki atau Variabel terikat pada penelitian ini
didapatkan oleh satuan penelitian yaitu risiko obstructive sleep apnea
tentang suatu konsep pengertian pada remaja. Variabel perancu adalah
tertentu (Notoatmodjo, 2005) . jenis variabel yang berhubungan
Variabel bebas (independent (asosiasi) antara variabel bebas dan
variable) adalah suatu stimulus terikat tetapi bukan merupakan
aktivitas yang dimanipulasi oleh variabel antara (Nursalam, 2001).
peneliti untuk menciptakan suatu Variabel perancu pada penelitian ini
dampak pada dependen variable. yaitu jenis kelamin, faktor risiko
Variabel bebas biasanya di penyakit, faktor keturunan,
manipulasi, diamati, dan diukur
49
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
ukuran dan bentuk jalan nafas, Index (BMI). Seseorang dinyatakan
kebiasaan merokok dan minum berisiko tinggi OSA bila memenuhi
alkohol. paling sedikit 2 kriteria/bagian
Pelaksanaan pengumpulan tersebut (Sharma et al., 2006).
data dimulai dengan memberi arahan Metode pengumpulan data dengan
dan penjelasan seputar penelitian cara yang kedua adalah menghitung
kepada calon tenaga pengumpul data. tinggi badan dan berat badan
Asisten peneliti melakukan menggunakan rumus IMT yang
pembagian lembar kuesioner pada kemudian hasilnya di bandingkan
siswa-siswi untuk mengetahui risiko pada tabel klasifikasi IMT apakah
obstructive sleep apnea (OSA). termasuk obesitas atau tidak obesitas.
Responden ditimbang berat badan Termasuk obesitas jika IMT ≥ 25 dan
dan di ukur tinggi badan, kemudian dikategorikan tidak obesitas jika nilai
di hitung dengan rumus IMT, IMT < 25. Alat yang digunakan
hasilnya dibandingkan dengan tabel untuk mengetahui tinggi badan
klasifikasi Indeks Massa Tubuh adalah metline dan untuk mengetahui
untuk menentukan reponden berat badan adalah timbangan.
termasuk dalam kategori normal atau Analisis Bivariat dilakukan terhadap
obesitas. Alat pengumpul data dapat dua variabel yang diduga
berupa kuesioner atau angket, berhubungan atau berkorelasi
observasi, wawancara, dan gabungan (Notoatmodjo, 2005). Masing-
ketiganya (Arikunto, 1998). Dalam masing variabel bebas (independent)
penelitian ini menggunakan 2 alat yaitu obesitas kemudian dicari
yaitu: Kuesioner Berlin dapat korelasinya dengan variabel terikat
mengukur intensitas risiko (dependent) yaitu risiko obstructive
kemungkinan menderita obstructive sleep apnea .
sleep apnea (OSA). Penelitian ini tahap analisis
Kuesioner Berlin bertujuan Bivariatnya menggunakan uji
untuk mengetahui responden Chi Square.
mempunyai risiko tinggi menderita
OSA. Panjang pertanyaan 10 HASIL DAN BAHASAN
pertanyaan yang terdiri dari 3 bagian Penelitian ini merupakan
yaitu bagian pertama berisi tentang penelitian cross sectional untuk
apakah mereka mendengkur, melihat hubungan antara obesitas
seberapa keras, seberapa sering dan dengan risiko
apakah sampai mengganggu orang Obstructive Sleep Apnea (OSA) pada
lain. Bagian kedua berisi tentang remaja di SMA Negeri 1 Purwokerto.
kelelahan setelah tidur, seberapa Pengambilan data diperoleh dari
sering merasakan lelah dan pengukuran tinggi badan dan berat
pernahkah tertidur saat berkendaraan. badan, pengukuran risiko
Bagian ketiga berisi tentang riwayat Obstructive Sleep Apnea (OSA)
hipertensi, berat badan, tinggi badan, responden dengan kuesioner Berlin
umur, jenis kelamin dan Body Mass dan data hasil dihitung dengan rumus
indeks massa tubuh
50
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012

yaitu dengan membagi berat responden ≥25 maka


badan (Kg) dengan tinggi badan dikategorikan obesitas.
(meter) kuadrat, jika IMT
Hubungan Obesitas dengan Purwokerto dalam penelitian ini
Risiko Obstructive Sleep adalah menggunakan uji Chi-
Apnea (OSA) pada Remaja di square. Berdasarkan pengujian
SMAN 1 Purwokerto dengan Chi-square maka
Uji statistik untuk didapatkan data sebagai berikut
mengetahui adanya hubungan :
antara obesitas dengan risiko
OSA pada remaja SMAN 1
Tabel 1 Hubungan obesitas dengan risiko OSA pada remaja di SMA
Purwokerto
Penilaian
Kuesioner Berlin
X2 X2 tabel
Responden Risiko Tidak Total hitung chisquare P value Keterangan
Risiko
OSA
OSA
Obesitas 41 5 46 70,516 3, 48 0,000 Ho ditolak
Tidak 2 52 54
Obesitas
Sumber: Data primer terolah, 2011.
Data tabel 1 terlihat hasil tonsil, dan posisi relatif rahang atas
analisis data diperoleh nilai Chi dan bawah. Penelitian epidemiologik
square hitung (Continuity correction) menunjukkan ada hubungan kuat
sebesar 70,516> Chi square tabel antara obesitas dan OSA. Insidens
0.05 (3.48), dan mempunyai nilai p OSA di antara pasien obesitas adalah
0.000<0.05, maka Ho ditolak yang 12 sampai 30 kali lebih tinggi
berarti terdapat hubungan yang dibandingkan populasi lain, lingkar
signifikan antara obesitas dengan leher, merupakan prediktor kuat
risiko OSA pada remaja di SMAN 1 untuk sleep-disorder breathing
Purwokerto. Penderita diantara penelitian antropomorfik,
Obstructive Sleep Apnea (OSA) sehingga obesitas tubuh bagian atas
dengan gangguan tidur yang berarti dibandingkan dengan distribusi
henti nafas saat tidur yang gejala lemak tubuh secara keseluruhan,
utamanya mendengkur, pada waktu lebih berpengaruh terhadap
tidur aktivitas otot dilator faring terjadinya OSA. Penurunan berat
relatif tertekan (relaksasi) sehingga badan harus dianjurkan pada pasien
ada kecenderungan lumen faring OSA, termasuk juga mereka yang
menyempit pada saat inspirasi. dengan peningkatan berat badan.
Faktor-faktor yang mengurangi Kombinasi diet sangat rendah kalori
dimensi statik lumen sehingga dengan pengaturan kebiasaan adalah
menjadi lebih sempit atau menutup aman dan hemat sebagai penanganan
pada waktu tidur. Faktor yang paling utama OSA
berperan adalah obesitas,
pembesaran
51
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
(Juhendro, 2010). Penelitian ini Hasil menunjukkan bahwa
menunjukkan adanya hubungan kuat peningkatan risiko di kalangan
antara obesitas dan risiko OSA. remaja kelebihan berat badan dan
Remaja dengan kelebihan berat obesitas mungkin disebabkan
badan (Obesitas), dapat menjadi perkembangan perubahan seperti
gambaran kemungkinan adanya pengurangan dalam nada saluran
faktor genetik dalam kasus nafas atas
mendengkur yang menandakan dan perubahan struktur
adanya kemungkinan OSA. anatomi. Waktu tidur,
Penelitian sebelumnya menunjukkan mekanisme pernafasan
adanya hubungan genetik dengan mengalami perubahan saat
munculnya OSA (Hartenbaum et al., inspirasi. Otot-otot dilator faring
2006). Hasil penelitian ini berkontraksi 50 mili-detik
menunjukkan IMT ≥25 memiliki sebelum kontraksi otot
hubungan yang signifikan dengan pernafasan, sehingga lumen
kemungkinan OSA. Menurut faring tidak kolaps akibat
kepustakaan sekitar dua per tiga tekanan intrafaring yang negatif oleh
penderita OSA memiliki berat badan karena kontraksi otot dinding dada
20% diatas berat badan normal. dan diafragma. Saat tidur aktivitas
Orang dengan berat badan berlebih otot dilator faring yang strukturnya
terjadi penumpukkan lemak pada sangat lentur relatif tertekan
viscera abdomen, anggota tubuh (relaksasi)
bagian atas terutama leher yang dapat sehingga ada kecenderungan
menekan saluran nafas atas lumen faring menyempit pada
(Hartenbaum et al., 2006). Semakin saat inspirasi. Saat inspirasi,
tekanan intralumen menjadi
besar nilai IMT atau berat badan
negatif guna menyedot udara
bertambah maka kemungkinan untuk
dari luar kedalam paru. Tekanan
mengalami OSA semakin tinggi.
negatif cenderung menyebabkan
Obesitas merupakan penyebab utama
kolaps otot-otot saluran nafas atas.
penurunan kapasitas latihan fisik dan
Di sisi lain, tekanan negatif
gangguan pernafasan pada saat tidur pula yang mengaktivasi otot
(Obstructive Sleep Apnea Syndrome fasik (genioglossus) untuk
(OSAS). Sebagian kecil penderita melawan kolaps sehingga jalan
obesitas morbid mengalami hipoksia nafas tetap terbuka ketika
dan hipekarbia kronik tanpa adanya ekspirasi. Tekanan negatif pada
kelainan parenkim paru (Obesity- saluran nafas mengaktivasi
Hypoventilation Syndrome (OHS). mekanoreseptor yang terletak
Menurut Kohler (2009), pada laring. Kemudian,
menunjukkan bahwa kelebihan berat menghantarkan rangsang aferen ke
badan atau obesitas meningkatkan saraf laringeal superior. Selanjutnya,
risiko untuk mengembangkan apnea diteruskan ke motorneuron
tidur obstruktif (OSA) pada remaja. hipoglossus sehingga otot
genioglossus berkontraksi membuka
jalan nafas. Seseorang dengan
mengalami OSA, lumen saluran
nafas lebih sempit daripada orang
normal. Lumen yang
52
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
sempit mengakibatkan tekanan Juhendro, 2010 menyatakan bahwa
negatif yang lebih besar sehingga Obstructive Sleep Apnea
diperlukan tenaga yang lebih besar (OSA) adalah sebuah gangguan tidur
untuk melawan efek kolaps akibat yang berarti henti nafas saat tidur
tekanan negatif. Sayangnya ketika dengan gejala utama mendengkur.
pasien OSA tidur, upaya kontraksi Faktor yang paling berperan pada
genioglossus tidak cukup melawan kasus obstructive sleep apnea ini
tekanan negatif sehingga berakibat adalah obesitas. OSA sering dijumpai
obstruksi (Felix, 2008). Remaja pada orang obesitas dengan kejadian
dengan kelebihan berat badan 1/100 dengan gejala mendengkur.
(obesitas) sewaktu tidur otot faring Penyebabnya adalah penebalan
relatif tertekan (relaksasi) sehingga jaringan lemak didaerah dinding dada
ada kecenderungan lumen faring dan perut yang mengganggu
menyempit pada saat inspirasi, pergerakan dinding dada dan
sehingga timbul suara mendengkur diafragma, sehingga terjadi
timbul akibat turbulensi aliran udara penurunan volume dan perubahan
pada saluran nafas atas akibat pola ventilasi paru serta
sumbatan. Sumbatan terjadi akibat meningkatkan beban kerja otot
kegagalan otot-otot faring pernafasan. Penurunan tonus otot
berelaksasi, lidah dan platum jatuh dinding dada yang disertai penurunan
kebelakang sehingga obstruksi. saturasi oksigen dan peningkatan
Obstruksi yang diperberat oleh kadar CO2, serta penurunan tonus
timbunan lemak berlebih dan edema otot yang mengatur pergerakan lidah
karena vibrasi yang terjadi pada yang menyebabkan lidah jatuh ke
waktu mendengkur dapat berperan arah dinding belakang faring yang
pada progresivitas mendengkur mengakibatkan obstruksi saluran
menjadi henti nafas (sleep apnea). nafas intermiten dan menyebabkan
Obstructive sleep apnea tidur gelisah terjadi pada saat tidur,
(OSA) ditandai dengan kolaps sehingga keesokkan harinya anak
berulang dari saluran nafas atas baik remaja cenderung mengantuk dan
komplit atau parsial selama tidur, hipoventilasi. Gejala ini berkurang
sehingga aliran udara pernafasan seiring dengan penurunan berat
berkurang (hipopnea) atau terhenti badan (Syarif, 2003).
(apnea) sehingga terjadi desaturasi Menurut Syahrial (2007),
oksigen (hipoksemia) dan terjadi dalam Konferensi Pers di FKUI
secara berulang (arousal). Kombinasi Salemba, menjelaskan mendengkur
hipoksemia dan partial arousal yang merupakan suara getaran yang
disertai dengan peningkatan aktivitas muncul pada saat tidur yang
adrenergik menyebabkan takikardi dihasilkan terutama waktu bernafas
dan hipertensi sistemik (Kotecha and dan disebabkan oleh getaran langit-
Shneerson, 2003). Hal ini sesuai langit lunak (palatum mole) dan pilar
dengan hasil penelitian dari yang membatasi rongga orofaring
(bagian tengah faring). Mendengkur
menunjukkan
53
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
adanya obstruksi (sumbatan) pada akibat dari OSA semata, masih
sebagian saluran nafas atas, yang mungkin ada faktor kelelahan
berasal dari usaha udara untuk ataupun kondisi medis lainnya, meski
melewati saluran yang menyempit demikian gangguan tidur
atau tersumbat akibat timbunan mendengkur pada remaja obesitas
lemak berlebih di bagian leher, dada merupakan gejala yang mudah
dan perut pada orang obesitas, hal ini dikenali pada penderita OSA.
bisa merupakan gejala penyakit Berdasarkan uraian tersebut maka
Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau obesitas mempunyai risiko yang
berhentinya nafas saat tidur, sehingga tinggi dengan terjadinya penyakit
bisa membahayakan jiwa. OSA OSA. Hal ini dibuktikan dengan hasil
didefinisikan sebagai berhentinya penelitian yang mempunyai
aliran udara pernafasan selama 10-45 hubungan yang signifikan antara
detik, yang disebabkan oleh obesitas dengan risiko obstructive
sumbatan jalan nafas. OSA selain sleep apnea dengan derajat kevalidan
dapat menurunkan kualitas hidup 95%, Chi square hitung (Continuity
juga dapat memicu timbulnya correction) sebesar 70,516 > Chi
sejumlah penyakit berbahaya seperti square tabel 0.05 (3.48), dan
hipertensi, jantung koroner, stroke, mempunyai nilai p=0,000<0,05.
disfungsi seksual bahkan kematian
mendadak. Hasil penelitian ini SIMPULAN
didapatkan, hampir sebagian besar Berdasarkan hasil penelitian
responden Remaja obesitas sewaktu dan pembahasan tentang hubungan
tidur cenderung mengalami obesitas dengan risiko obstructive
gangguan tidur mendengkur, sleep apnea (OSA) pada remaja di
walaupun sebagian besar diantaranya SMAN 1 Purwokerto, maka peneliti
mengatakan dengkuran sedikit lebih dapat menarik kesimpulan dan
berisik dari bernafas dan memberikan saran sebagai berikut:
mengeluhkan hal ini terjadi satu Terdapat hubungan yang signifikan
sampai dua kali per minggu. antara obesitas pada remaja dengan
Keadaan mendengkur saat tidur risiko Obstructive Sleep Apnea
tentunya belum bisa dikatakan (OSA) di SMAN 1 Purwokerto.
sebagai

DAFTAR PUSTAKA
Adul, 2009. Obesitas. Terdapat Anonim, 2004. Obesitas Pada
dalam [Link] / Remaja. Terdapat dalam
2009/04/11/OBESITAS Adul2008's [Link] /bali post
[Link] diakses 16 Oktober 2010. cetak / 2004/3/7/[Link]. diakses 2
Oktober 2010
Angkat, N.D., 2009. Hubungan
Antara Kualitas Tidur DengaN
Tekanan Darah Pada
Remaja Usia 15-17 Tahun
Di SMA Negeri 1
Tanjung Morawa.
[Link].

Hartenbaum, N., Collop N.,


Rosen IM., et al., 2006. Sleep
apnea and commercial motor
vehicle. JOEM; 48: 14-37.
54
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 8, No. 1, Februari 2012
Activity, P., 2003.
Arikunto, S. and Mencega Drazen
1998. Lifestyle h dan JM.,
Prosedur Changes. Mengatas 2002.
Penelitian The i Sleep
Suatu Physician Kegemuk apnea
Pendekatan and an Pada syndro
Praktek (Ed. Sportsme Balita. me.
Rev. IV). dicine; Jakarta: The
Jakarta: 28(11): Puspa New
Rhineka 51-58. Swara. Englan
Cipta. d
Damayant Dixon Journal
Anwar, M., i R.S., J.B., of
2005. Studi 2004. Schachter Medici
Sekresi Childhoo L.M. and ne;
Leptin O’Brien 346(6):
d Obesity
Sebagai P.E., 390-
in
Dasar Diet 2001. 392.
Indonesia
Penurunan in Sleep
Berat Badan disturban Elvira,
Abstract
Secara ce and S. D,
Book of 2
Fisiologis. obesity. 2007.
and Asian
Terdapat Arch Penang
Congress
dalam Internatio anan
of
http//[Link] nal psikolo
Pediatric
.[Link]/. Medicine gik
Nutrition,
diakses 29 Journal; Pada
Said Jaya
Agustus 161(6): Obesita
Hotel,
2010 102-106. s.
Jakarta: 1-
Cermin
4
Banno K. Estiningt Dunia
Desember
and Kryger yas, Kedokt
hal.25-27.
M.H. Sleep 2010. eran; 7:
Apnea: Faktor 17-20.
Dement,
clinical 2010. Resiko
investigation Obesitas Felix,
Sleep
in humans. pada 2008.
Disorder
Terdapat Remaja. Obstruc
Clinic.
dalam Tesis tive
Terdapat
Dorinda, sleep
dalam UNDIP
2010. apnea/h
[Link] Semarang
Penanganan ypopne
pclinicjak .
Penderita a
artatBl og-
Sleep Apnea syndro
SleepDiso
Dan me
rderClinic
Kebiasaan (OSAH
-
Mendengkur. S).
[Link]
Skripsi. Dalam
m/2010/04
USU. Majala
/. diakses
h
23
Farma
Bar-or, O., September
cia;
2000. 2010.
7(12):
Juvenile
20.
Obesity, Dina, A.
Physical dan Maria
Freedman, dalam
D.S., Kiess [Link]
W., Marcus [Link]
C., Wabitsch m/slep_ap
M., 2004. [Link]
Obesity in m diakses
Childhood 23
and September
Adolescence. 2010
Basel:
Karger AG. Hiestand,
D.M.,Brit
Gaharu, M. z P.,
dan Andreas Goldman
P., 2009. M.,
Sefalgia
pada and
Penderita Phillips
Obstructive B.2006.
Sleep Apnea Prevalenc
di e of
Laboratoriu sleep
m Tidur RS apnea in
Mitra the US
Kemayoran. population
Jakarta. ; 6: 780-
Cermin
793.
Dunia
Kedokteran
(CDK);
36(6): 399.
5
Hannah,
5
Hunter, A.
Kemper K.
and
Willoughby,
D., 2002.
Obesity: Big
Health gain
from little
Losses.
Clinicall
evellence for
nurse
practitioners
in Jurnal
iptek
olahraga;
7(3): 18-192.

Harlita, D.,
2010. Sleep
apnea.
Terdapat
Tugas Asuhan Keperawatan Respiratory (Ns. Engkartini, M. Kep.)
HASIL TELAAH JURNAL “HUBUNGAN OBESITAS DENGAN RISIKO
OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA (OSA) PADA REMAJA”
1. Halaman Judul
a. Judul jurnal atau artikel jelas, singkat dan dari judul tersebut dapat
terungkap tujuan dari penelitian yang akan dilakukan, serta nama penulis
dan kantor atau institusi pun telah tercantum dalam jurnal di bawah judul.
b. Kekurangan : alamat kantor atau institusi, nomor telepone dan email
penulis belum tercantum dalam jurnal. Padahal, hal tersebut merupakan hal
penting yang digunakan untuk korespondensi dalam penerbitan artikelnya.
2. Abstrak
a. Abstrak menggunakan 1 bahasa saja yaitu Bahasa Inggris. Dimana didalam
abstrak, komponennya sudah tercantum di dalam jurnal, diantaranya yaitu :
1) Latar Belakang : obesitas yang terjadi pada remaja ini sangat beresiko
pada remaja tersebut untuk terkena obstructive sleep apnea (OSA). Hal
tersebut, sangat mempengaruhi indeks kualitas dan kesejahteraan hidup.
2) Metodologi : menggunakan Metode Kuantitatif dengan pendekatan
Cross Sectional Method dan dengan pemilihan sampel yang random
(Simple Random Sampling).
3) Pertanyaan dan Tujuan Penelitian : Menganalisis hubungan obesitas
dengan risiko obstructive sleep apnea (OSA) pada remaja.
4) Hasil Penelitian : Siswa pada SMA Negeri 1 Purwokerto yang beresiko
terkena OSA yaitu 43%, sedangkan 46% nya tidak.
5) Kesimpulan : Dari hasil penelitian, maka ada hubungan obesitas dengan
risiko obstructive sleep apnea (osa) pada remaja.
b. Kekurangan : Saran tidak dicantumkan bersamaan dengan kesimpulan.
3. Teks
a. Pendahuluan
1) Penelitian-penelitian sebelumnya sebelumnya telah tercantum dalm
jurnal, diantaranya yaitu Penelitian tahun 1993, Penelitian oleh The
National Commision on Sleep Disorder, Penelitian oleh National
Hearth, Lung and Blood Institutte kepada penduduk Amerika,
Penelitian oleh Direktorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Indonesia
tahun 2000, Penelitian Riskesdas tahun 2008 dan Damayanti tahun
2002 dan 2007.
2) Kontribusinya : Dengan mengetahui adanya hubungan antara obesitas
dengan risiko OSA pada remaja, maka dapat dilakukan deteksi dini
untuk mencegah adanya risiko OSA khususnya pada remaja dengan
pengendalian BB, pengubahan gaya hidup yang sedentary dan
mengurangi konsumsi fast food atau junk food.
3) Tujuan Penelitian : telah tercantum dalam kalimat terakhir yaitu untuk
mengetahui antara obesitas dengan risiko OSA pada remaja.
b. Metode dan Bahan
1) Lokasi : SMA Negeri 1 Purwokerto
2) Populasi dan Sampel : Siswa-siswi kelas 1 dan 2 SMA Negeri 1
Purwokerto tahun 2010, sebanyak 657 siswa. Cara pemilihan sampel
secara random (Simple Random Sampling).
3) Pengmpulan Data : Metode Kuantitatif dengan pendekatan Cross
Sectional Method (Metode Survey Analitik). Jenis penelitian yaitu
Penelitian Non Eksperimental, dimana penulis sendiri yang melakukan
pengumpulan data dan yang diteliti yaitu siswa SMA Negeri 1
Purwokerto.
4) Analisis Data : Variabel yang digunakan yaitu Veriabel Bebas, Terikat
dan Perancu dengan Program Statistik Uji Chi-Square. Caranya dengan
memberi arahan pada tenaga pengumpul, lalu peneliti memberikan
kuesioner yang berupa pertanyaan terstruktur kepada para siswa dan
jawabannya dikumpulkan, dicatat, diolah dan dianalisis oleh peneliti.
5) Kekurangannya : alasan dipilihnya lokasi, populasi dan sampel tidak
disebutkan atau dicantumkan dalam bab metode dan bahan, namu
disebutkan pada pendahuluan, jadi penempatannya kurang tepat dan
belum sesuai dengan pedoman pembuatan jurnal yang benar.
4. Hasil dan Pembahasan
a. Hasil Penelitian disajikan dalam bentuk Tabel, dan hubungan antara
obesitas dengan risiko OSA pada remaja dengan derajat kevalidan 95%.
Saran untuk mengurangi risiko OSA maka perlu dilakukan penurunan BB,
pengaturan gaya hidup dan kombinasi diet rendah kalori.
b. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara genetik
dengan munculnya OSA, juga telah dicantumkan dalam jurnal tersebut.
5. Daftar Pustaka
a. Daftar pustaka dan referensi telah tercantum dalam jurnal tersebut. Namun,
untuk ucapan terimakasih pada pihak-pihak terkait, kekurangan, kesalahan
dan keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian tidak dijelaskan dan
dicantumkan dalam jurnal tersebut.
b. Jurnal ini dapat diaplikasikan untuk mengetahui angka kejadian OSA dan
Hubungan antara obesitas dengan risiko OSA pada Remaja, sehingga dapat
mengurangi adanya peningkatan risiko OSA terutama pada remaja.

Nama : Erna Sari


Prodi : S1 Keperawatan IIB
NIM : 108115069

You might also like