0% found this document useful (0 votes)
28 views8 pages

Hazardous Waste Management in Sekaran

The article discusses hazardous and toxic waste management in the Sekaran area near Semarang State University (UNNES). It notes there are sources of hazardous and toxic waste both inside and outside the campus from laboratories, businesses, and household activities. Proper supervision of this waste is needed due to risks of environmental contamination. The university needs to ensure the physical environment is preserved in line with its conservation vision. Outreach to the community and businesses on hazardous waste types is urgently needed, as well as field research to identify all waste sources to inform conservation efforts.

Uploaded by

yasfiyandzar
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
28 views8 pages

Hazardous Waste Management in Sekaran

The article discusses hazardous and toxic waste management in the Sekaran area near Semarang State University (UNNES). It notes there are sources of hazardous and toxic waste both inside and outside the campus from laboratories, businesses, and household activities. Proper supervision of this waste is needed due to risks of environmental contamination. The university needs to ensure the physical environment is preserved in line with its conservation vision. Outreach to the community and businesses on hazardous waste types is urgently needed, as well as field research to identify all waste sources to inform conservation efforts.

Uploaded by

yasfiyandzar
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No.

1 - Juni 2012 Konservasi Nilai dan warisan Budaya - Maman Rachman

MENGAWAL LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN


BERACUN DI KAWASAN SEKARAN UNTUK MASA
DEPAN YANG LEBIH BAIK

Suhadi
Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang
Email: suhadi_fh_unnes@[Link]

ABSTRACT

The other side that needs attention as the development of Semarang State University (SSU) advancing
very fast these past four years is the waste management, especially for hazardous and toxic waste . In
Sekaran area, there are some hazardous and toxic waste sources. These sources come from activities in-
side and outside campus. Those coming from inside campus are from practicum inside the laboratory,
and some other business services inside campus. Those coming from outside campus created by modern
household activities and various growing and developing business services around Sekaran area such as
laundry, copy center, photography, printing, automotive workshop, etc. These hazardous and toxic waste
shall be supervised appropriately for its potential in contaminating the environment. It is urgent to do the
socialization for types of hazardous and toxic waste to the society, service providers and laboratory man-
agers. It is also needed to carry out a field research to outline the waste sources around Sekaran area com-
prehensively. This is fundamental for one of conservation aspects that belong to SSU’s vision is physical
conservation. The University needs to make sure that physical environment is preserved and therefore
various cases of environmental contamination and destruction shall be minimalized.

Keywords: hazardous and toxic waste

ABSTRAK

Sisi lain yang perlu mendapat perhatian seiring dengan perkembangan Universitas Negeri Semarang yang
sangat pesat dalam 4 tahun terakhir ini adalah pengelolaan limbah, terutama limbah bahan berbahaya
dan beracun (B3). Di kawasan Sekaran terdapat beberapa sumber limbah B3. Sumber limbah ini berasal
dari aktivitas dalam kampus dan luar kampus. Sumber limbah dari dalam kampus berasal dari aktivitas
praktikum di laboratorium dan berbagai usaha jasa di dalam kampus. Sumber limbah di luar kampus
berasal dari aktivitas rumah tangga yang semakin “modern”, dan berbagai usaha dan jasa yang tumbuh
berkembang di kawasan Sekaran mulai dari pencucian pakaian, foto kopi, fotografi, percetakan, bengkel
motor dan mobil. Limbah B3 ini perlu dikawal secara tepat, karena berpotensi merusak lingkungan.
Sosialisasi tentang ragam limbah bahan berbahaya dan beracun kepada masyarakat, penyedia jasa dan
pengelola laboratorium perlu dilakukan. Penting juga dilakukan penelitian lapangan untuk memetakan
sumber limbah di Kawasan Sekaran secara komprehnsif. Hal ini penting sebab salah satu aspek konser-
vasi yang menjadi visi unnes adalah konservasi fisik. Lingkungan fisik harus terjamin kelestariannya, dan
karena itu berbagai pencemaran dan perusakan lingkungan harus diminimalisir.

Kata kunci: limbah bahan berbahaya dan beracun

Indonesian Journal of Conservation


Vol. 1 No. 1 - Juni 2012 [ISSN: 2252-9195]
Hlm. 87—94
48 87
Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No. 1 - Juni 2012

PENDAHULUAN 25.000.000 orang, menarik pelaku bisnis


menyediakan berbagai layanan jasa. Rumah
Undang-Undang Dasar Negara Repub- kost, rumah makan, foto kopi, bengkel tum-
lik Indonesia Tahun 1945menyatakan bahwa buh sangat pesat. Di satu sisi, pertumbuhan
lingkungan hidup yang baik dan sehat meru- ini sangat menggembirakan karena geliat
pakan hak asasi dan hak konstitusional bagi ekonomi tumbuh sangat pesat, tetapi di sisi
setiap warga negara Indonesia. Oleh karena lain juga berpotensi menimbulkan limbah
itu, negara, pemerintah, dan seluruh pe- yang dapat menyebabkan terjadinya pence-
mangku kepentingan berkewajiban untuk maran dan atau perusakan lingkungan. Lim-
melakukan perlindungan dan pengelolaan bah yang dihasilkan oleh pelaku usaha di ka-
lingkungan hidup dalam pelaksanaan pem- wasan Sekaran dapat berupa limbah bahan
bangunan berkelanjutan agar lingkungan berbahaya dan beracun.
hidup Indonesia dapat tetap menjadi sumber Kiprah Unnes dalam menghijaukan
dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia kawasan kampus, kawasan sekitar kampus,
serta makhluk hidup lain (Penjelasan Umum dan kawasan lain di Kota Semarang dan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009). Jawa Tengah sudah terbukti. Tulisan ini ber-
Oleh karena itu, lingkungan hidup Indonesia maksud untuk melihat hal lain yakni ke-
harus dilindungi dan dikelola dengan baik beradaan limabh bahan berbahaya dan
berdasarkan asas tanggung jawab negara, beracun. Untuk keperluan itu maka tulisan
asas keberlanjutan, dan asas keadilan. ini akan di awali dengan ketentuan tentang
Pengelolaan lingkungan hidup harus dapat limbah bahan berbahaya dan beracun dalam
memberikan kemanfaatan ekonomi, sosial, peraturan perundang-undangan, dilanjutkan
dan budaya yang dilakukan berdasarkan dengan potensi sumber limbah bahan berba-
prinsip kehati-hatian, demokrasi lingkungan, haya dan beracun di kawasan Sekaran dan
desentralisasi, serta pengakuan dan penghar- menawarkan alternatif pencegahan secara
gaan terhadap kearifan lokal dan kearifan dini. Hal ini sejalan dengan visi Unnes seba-
lingkungan. gai universitas konservasi yang kehadirannya
Lingkungan hidup yang baik dan sehat diharapkan benar-benar membawa kemasla-
sebagai hak konstitusional warga negara hatan bagi banyak orang.
dalam kenyataannya belum dapat dipenuhi
secara baik. Seiring dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang secara nyata PENGATURAN LIMBAH B3 DALAM
telah meningkatkan kualitas hidup dan me- PERATURAN PERUNDANGAN
ngubah gaya hidup manusia, pembangunan
juga menimbulkan dampak yang dapat me- Di dalam Peraturan Peraturan Peme-
rugikan warga negara. Pemakaian produk rintah Nomor 18 tahun 1999 disebutkan
berbasis kimia telah meningkatkan produksi bahwa limbah bahan berbahaya dan beracun
limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). (limbah B3), adalah sisa suatu usaha dan/
Limbah ini apabila dibuang ke dalam media atau kegiatan yang mengandung bahan ber-
lingkungan hidup dapat mengancam ling- bahaya dan beracun. Bahan berbahaya dan
kungan hidup, kesehatan, dan kelangsungan beracun yang ( B3) adalah zat, energi, dan/
hidup manusia serta makhluk hidup lain. atau komponen lain yang karena sifat, kon-
Sejalan dengan pemahaman bahwa sentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara
pembangunan berpotensi menimbulkan dam- langsung maupun tidak langsung, dapat
pak, perkembangan Universitas Negeri Se- mencemarkan dan/atau merusak lingkungan
marang yang sangat pesat juga menimbulkan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan
dampak baik positif maupun negative. Dam- hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup
pak positif antara lain nampak dari semakin manusia dan makhluk hidup lain. Peraturan
terbukanya kawasan Sekarang terhadap ber- Pemerintah ini dibuat untuk menjalankan
bagai inovasi, geliat ekonomi yang bertum- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 ten-
buh pesat, dan akses yang semakin mudah tang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam
bagi masyarakat ke daerah lain. Unnes yang perkembangannya Undang-Undang 23 tahun
memiliki mahasiswa tidak kurang dari 1997 telah diganti dengan Undang-Undang

88 88
Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No.
Mengawal Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Kawasan Sekaran … - Suhadi
1 - Juni 2012

Nomor 32 Tahun 2009. walikota wajib mencantumkan persyaratan


Undang-Undang Nomor 32 Tahun lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaaan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola lim-
Lingkungan Hidup, Bab VII telah mengatur bah B3 dalam izin. (6) Keputusan pemberian
secara cukup pengelolaan bahan berbahaya izin wajib diumumkan. (7) Ketentuan lebih
dan beracun serta limbah bahan berbahaya lanjut mengenai pengelolaan limbah B3 dia-
dan beracun. Pasal 58 menyebutkan (1) tur dalam Peraturan Pemerintah.
Setiap orang yang memasukkan ke dalam Pengelolaan limbah B3 merupakan
wilayah Negara Kesatuan Republik Indone- rangkaian kegiatan yang mencakup pengu-
sia, menghasilkan, mengangkut, mengedar- rangan, penyimpanan, pengumpulan, peng-
kan, menyimpan, memanfaatkan, mem- angkutan, pemanfaatan, dan/atau pengola-
buang, mengolah, dan/atau menimbun B3 han, termasuk penimbunan limbah B3. Ke-
wajib melakukan pengelolaan B3. Ketentuan wajiban untuk melakukan pengelolaan B3
ini mewajibkan kepada setiap orang untuk merupakan upaya untuk mengurangi terja-
melakukan pengelolaan B3. Kewajiban dinya kemungkinan risiko terhadap ling-
pengelolaan B3 ini bukan saja dibebankan kungan hidup yang berupa terjadinya pence-
kepada orang yang menghasilkan, mengang- maran dan/atau kerusakan lingkungan
kut, mengedarkan, menyimpan, memanfaat- hidup, mengingat B3 mempunyai potensi
kan, membuang, mengolah, dan/atau me- yang cukup besar untuk menimbulkan dam-
nimbun, tetapi juga dibebankan kepada pak negatif. Tujuan pengelolaan B3 adalah
orang yang memasukkan B3 ke dalam untuk mencegah dan menanggulangi pence-
wilayah Indonesia. Dari rumusan pasal ini maran atau kerusakan lingkungan hidup
sangat terlihat asas penting dalam perlin- yang diakibatkan oleh limbah B3 serta mela-
dungan dan pengelolaan lingkungan hidup, kukan pemulihan kualitas lingkungan yang
yakni asas tanggung jawab Negara. Di dalam sudah tercemar sehingga sesuai dengan
asas ini terkandung 3 hal penting, yakni (a) fungsinya kembali.
negara menjamin pemanfaatan sumber daya Peraturan perundangan yang disusun
alam akan memberikan manfaat yang sebesar untuk melaksanakan dan menjabarkan lebih
-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup lanjut ketentuan-ketentuan yang terdapat
rakyat, baik generasi masa kini maupun ge- dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun
nerasi masa depan, (b) negara menjamin hak 2009 sebagaian adalah aturan yang dibuat
warga negara atas lingkungan hidup yang pada saat berlakunya Undang-Undang No-
baik dan sehat, dan (c) negara mencegah dila- mor 23 Tahun 1997. Namun demikian sesuai
kukannya kegiatan pemanfaatan sumber dengan asas peraturan perundangan sebelum
daya alam yang menimbulkan pencemaran adanya peraturan yang baru maka peraturan
dan/atau kerusakan lingkungan hidup lama masih berlaku. Beberapa peraturan
(Penjelasan Pasal 2 huruf a UU 32 Tahun yang dibuat dalam kaitannnya dengan
2009). pengelolaan limbah bahan berbahaya dan
Pasal 59 Undang-Undang Nomor 32 beracun adalah: Pertama, Peraturan Pemerin-
Tahun 2009 mengatur lebih lanjut tentang tah No.18 Tahun 1999 jo. PP No.85 Tahun
pengelolaan limbah B3. Di dalam Pasal ini 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan
dinyatakan bahwa (1) Setiap orang yang Berbahaya dan Beracun sebagai revisi dari
menghasilkan limbah B3 wajib melakukan Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 1994 jo.
pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya. PP No.12 Tahun 1995 Tentang Pengelolaan
(2) Dalam hal B3 telah kedaluwarsa, penge- Limbah B3.
lolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan Kedua, Peraturan Menteri Negara Ling-
limbah B3. (3) Dalam hal setiap orang tidak kungan Hidup Nomor 30 Tahun 2009 ten-
mampu melakukan sendiri pengelolaan lim- tang Tata Cara Pemulihan Lahan Terkon-
bah B3, pengelolaannya diserahkan kepada taminasi Limbah B3. Peraturan Menteri
pihak lain. (4) Pengelolaan limbah B3 wajib Lingkungan Hidup ini ditandatangani tang-
mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau gal 5 Oktober 2009, dan diharapkan semua
bupati/walikota sesuai dengan kewenang- kegiatan pemulihan lahan akibat pencemaran
annya. (5) Menteri, gubernur, atau bupati/ limbah B3 pelaksanaannya mengacu pada

89
Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No. 1 - Juni 2012

peraturan ini. limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi


Ketiga, Permen Nomor 30 Tahun 2009 menjadi tiga, yaitu (a) limbah B3 dari sumber
Tata Laksana Perizinan dan Pengawasan spesifik; (b) limbah B3 dari sumber tidak spe-
Pengelolaan Limbah B3 Serta Pengawasan sifik; dan (c) limbah B3 dari bahan kimia ka-
Pemulihan Akibat Pencemaran Limbah B3 daluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan
Oleh Pemerintah Daerah. Keempat, Peraturan buangan produk yang tidak memenuhi spesi-
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 fikasi. Sedangkan golongan limbah B3 yang
Tahun 2009 tentang Pengelolaan Limbah di berdasarkan karakteristik ditentukan dengan
Pelabuhan yang merupakan pengganti Pera- mudah meledak; pengoksidasi; sangat mu-
turan Menteri Negara Lingkungan Hidup dah sekali menyala; sangat mudah menyala;
Nomor 3 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pe- mudah menyala; amat sangat beracun; sa-
ngumpulan dan Penyimpanan Limbah B3 di ngat beracun; beracun; berbahaya; korosif;
Pelabuhan, sebagai upaya meminimalisasi bersifat iritasi; berbahaya bagi lingkungan;
pencemaran media lingkungan pesisir, pantai karsinogenik; teratogenik; mutagenik.
dan perairan oleh limbah dan memudahkan ([Link]/i/art/pdf_1054679307, 6
pengawasan transboundary movement limbah Desember 2010).
di pelabuhan maka semua limbah yang diha- Berdasarkan Peraturan Pemerintah
silkan dari operasional kapal dilarang No.18 Tahun 1999 jo. PP No.85 Tahun 1999
dibuang ke perairan secara langsung dan pi- Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berba-
hak pelabuhan mempunyai kewajiban untuk haya dan Beracun sebagai revisi dari PP
menyediakan fasilitas penampungan limbah No.19 Tahun 1994 jo. PP No.12 Tahun 1995
dari kapal. Tentang Pengelolaan Limbah B3, dinyatakan
Kelima, Permen 18 Tahun 2009 Ten- bahwa limbah diidentifikasi sebagai limbah
tang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Lim- B3 apabila memenuhi salah satu atau lebih
bah B3. Untuk melaksanakan ketentuan karakteristik limbah B3 sebagai berikut. Per-
Pasal 40 ayat (1) huruf a dan ayat (2) Pera- tama, limbah mudah meledak adalah limbah
turan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 ten- yang pada suhu dan tekanan, standar (250C,
tang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya 760 mmHg) dapat meledak atau melalui
dan Beracun, perlu menetapkan Peraturan reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasil-
Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang kan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang
Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah dengan cepat dapat merusak lingkungan seki-
Bahan Berbahaya dan Beracun. Peraturan tarnya.
Menteri ini merupakan perkembangan lebih Kedua, limbah mudah terbakar adalah
lanjut dari Keputusan Kepala Badan Pengen- limbah-limbah yang mempunyai salah satu
dalian Dampak Lingkungan Nomor: Kep- sifat sebagai berikut: (1) Limbah yang berupa
dal.68/Bapedal/05/1994 Tentang Tata Cara cairan yang mengandung alkohol kurang dari
Memperoleh Izin Penyimpanan, Pengumpu- 24 % volume dan atau pada titik nyala tidak
lan, Pengoperasian Alat Pengolahan, Pengo- lebih dari 600 C (1400 F) akan menyala apa-
lahan dan Penimbunan Akhir Limbah Bahan bila terjadi kontak dengan api, percikan api
Berbahaya dan Beracun yang sudah tidak atau sumber nyala lain pada tekanan udara
sesuai dengan perkembangan keadaan. 760 mmHg; (2) Limbah yang bukan berupa
Keenam, Surat Edaran Menteri Dalam cairan, yang pada temperatur dan tekanan
Negeri Nomor 660.2/2176/SJ, Kepada Gu- standar (250 C, 760 mmHg) dapat mudah
bernur dan Bupati/Walikota untuk segera menyebabkan kebakaran melalui gesekan,
menyusun Peraturan Daerah dan melakukan penyerapan uap air atau perubahan kimia
koordinasi dan konsultasi dengan kemente- secara spontan dan apabila terbakar dapat
rian yang mempunyai tugas, kewenangan menyebabkan kebakaran yang terus menerus;
dan tanggung jawab terhadap urusan penge- (3) Merupakan limbah yang bertekanan yang
lolaan limbah bahan berbahaya dan beracun. mudah terbakar; (4) Merupakan limbah pen-
Menurut Kementerian Lingkungan goksidasi.
Hidup, limbah B3 digolongkan ke dalam 2 Ketiga, limbah yang bersifat reaktif
(dua) kategori, yaitu (1) berdasarkan sumber, adalah limbah-limbah yang mempunyai
dan (2) berdasarkan karakteristik. Golongan salah satu sifat-sifat sebagai berikut: (1) Lim-

90 90
Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No.
Mengawal Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Kawasan Sekaran … - Suhadi
1 - Juni 2012

bah yang pada keadaan normal tidak stabil Keenam, limbah bersifat korosif adalah
dan dapat menyebabkan perubahan tanpa limbah yang mempunyai salah satu sifat se-
peledakan; (2) Limbah yang dapat bereaksi bagai berikut: Menyebabkan iritasi (terbakar)
hebat dengan air; (3) Limbah yang apabila pada kulit, Menyebabkan proses pengkaratan
bercampur dengan air berpotensi menimbul- pada lempeng baja (SAE 1020) dengan laju
kan ledakan, menghasilkan gas, uap atau korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun de-
asap beracun dalam jumlah yang membaha- ngan temperatu pengujian 550C, dan Mem-
yakan bagi kesehatan manusia dan ling- punyai pH sama atau kurang dari 2 untuk
kungan; (4) Merupakan limbah Sianida, Sul- limbah bersifat asam dan sama atau lebih
fida atau Amoniak yang pada kondisi Ph besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.
antara 2 dan 12,5 dapat menghsilkan gas, Karakteristik limbah B3 secara detail
uap atau asap beracun dalam jumlah yang diuraikan dalam PP No 74/2001 pasal 5 ayat
membahayakan kesehatan manusia dan ling- (1) sebagai berikut, mudah meledak
kungan; (5) Limbah yang dapat mudah mele- (explosive); pengoksidasi (oxidizing); sangat
dak atau bereaksi pada suhu dan tekanan mudah sekali menyala (extremely flammable);
standar (250C, 760 mmHg); (6) Limbah yang sangat mudah menyala (highly flammable);
menyebabkan kebakaran karena melepas mudah menyala (flammable); amat sangat
atau menerima oksigen atau limbah organik beracun (extremely toxic); sangat beracun
peroksida yang tidak stabil dalam suhu (highly toxic); beracun (moderately toxic); berba-
tinggi. haya (harmful); korosif (corrosive); bersifat iri-
Keempat, limbah beracun adalah lim- tasi (irritant); berbahaya bagi lingkungan
bah yang mengandung pencemar yang bersi- (dangerous to the environment); karsinogenik
fat racun bagi manusia atau lingkkungan (carcinogenic); teratogenik (teratogenic);
yang dapat menyebabkan kematian atau sakit mutagenik (mutagenic). Adapun penjelasan
yang serius apabila masuk kedalam tubuh mengenai karakteristik limbah B3 sebagai
melalui pernafasan, kulit atau mulut. Penen- berikut. Pertama. mudah meledak (explosive),
tuan sifat racun untuk identifikasi limbah ini adalah bahan yang pada suhu dan tekanan
dapat menggunakan baku mutu konsentrasi standar (250C, 760 mmHg) dapat meledak
TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Proce- atau melalui reaksi kimia dan atau fisika da-
dure) pencemar organik dan anorganik dalam pat menghasilkan gas dengan suhu dan te-
limbah sebagaimana yang tercantum dalam kanan tinggi yang dengan cepat dapat meru-
Lampiran II Peraturan Pemerintah ini. Apa- sak lingkungan di sekitarnya. Pengujiannya
bila limbah mengandung salah satu pence- dapat dilakukan dengan menggunakan Differ-
mar yang terdapat dalam Lampiran II Pera- ential Scanning Calorymetry (DSC) atau Differ-
turan Pemerintah ini, dengan konsentrasi ential Thermal Analysis (DTA), 2,4-
sama atau lebih besar dari nilai dalam Lam- dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida sebagai
piran II Peraturan Pemerintah ini, maka lim- senyawa acuan. Dari hasil pengujian tersebut
bah tersebut merupakan limbah B3. Bila nilai akan diperoleh nilai temperatur pemanasan.
konsentrasi zat pencemar labih kecil dari Apabila nilai temperatur pemanasan suatu
nilai ambang batas pada Lampiran Peraturan bahan lebih besar dari senyawa acuan, maka
Pemerintah ini maka dilakukan uji toksiko- bahan tersebut diklasifikasikan mudah mele-
logi. dak.
Kelima, limbah yang menyebabkan in- Kedua, pengoksidasi (oxidizing). Pengu-
feksi yaitu bagian tubuh manusia yang diam- jian bahan padat yang termasuk dalam krite-
putasi dan cairan dari tubuh manusia yang ria B3 pengoksidasi dapat dilakukan dengan
terkena infeksi, limbah dari laboratorium metoda uji pembakaran menggunakan ammo-
atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman nium persulfat sebagai senyawa standar. Se-
penyakit yang dapat menular. Limbah ini dangkan untuk bahan berupa cairan, se-
berbahaya karena mengandung kuman pe- nyawa standar yang digunakan adalah laru-
nyakit seperti hepatitis dan kolera yang ditu- tan asam nitrat. Dengan pengujian tersebut,
larkan pada pekerja, pembersih jalan dan suatu bahan dinyatakan sebagai B3 pengoksi-
masyarakat di sekitar lokasi pembuangan dasi apabila waktu pembakaran bahan terse-
limbah. but sama atau lebih pendek dari waktu pem-
91
Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No. 1 - Juni 2012

bakaran senyawa standar. tentu.


Ketiga, sangat mudah sekali menyala Kedelapan, korosif (corrosive) sedangkan
(extremely flammable) adalah B3 baik berupa B3 yang bersifat korosif mempunyai sifat
padatan maupun cairan yang memiliki titik antara lain (1) menyebabkan iritasi (terbakar)
nyala dibawah 0 0C dan titik didih lebih ren- pada kulit; (2) Menyebabkan proses
dah atau sama dengan 35 0C. Keempat, sangat pengkaratan pada lempeng baja SAE 1020
mudah menyala (highly flammable) adalah B3 dengan laju korosi lebih besar dari 6,35 mm/
baik berupa padatan maupun cairan yang tahun dengan temperatur pengujian 55 0C;
memiliki titik nyala 00C - 210C. (3) Mempunyai pH sama atau kurang dari 2
Kelima, mudah menyala (flammable) untuk B3 bersifat asam dan sama atau lebih
mempunyai salah satu sifat sebagai berikut, besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.
(1) Bahan berupa cairan yang mengandung Kesembilan, bersifat iritasi (irritant).
alkohol kurang dari 24% volume dan atau Bahan baik padatan maupun cairan yang jika
pada titik nyala (flash point) tidak lebih dari terjadi kontak secara langsung, dan apabila
600C (1400 F) akan menyala apabila terjadi kontak tersebut terus menerus dengan kulit
kontak dengan api, percikan api atau sumber atau selaput lendir dapat menyebabkan
nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg. peradangan.
Pengujiannya dapat dilakukan dengan me- Kesepuluh, berbahaya bagi lingkungan
tode Closed-Up Test; (2) Berupa padatan, B3 (dangerous to the environment). Bahaya yang
yang bukan berupa cairan, pada temperatur ditimbulkan oleh suatu bahan seperti
dan tekanan standar (250C, 760 mmHg) den- merusak lapisan ozon (misalnya CFC),
gan mudah menyebabkan terjadinya ke- persisten di lingkungan (misalnya PCBs),
bakaran melalui gesekan, penyerapan uap air atau bahan tersebut dapat merusak
atau perubahan kimia secara spontan dan lingkungan.
apabila terbakar dapat menyebabkan ke- Kesebelas, Karsinogenik (carcinogenic)
bakaran yang terus menerus dalam 10 detik. adalah sifat bahan penyebab sel kanker,
Selain itu, suatu bahan padatan diklasifikasi- yakni sel liar yang dapat merusak jaringan
kan B3 mudah terbakar apabila dalam pengu- tubuh. Kedua belas, teratogenik (teratogenic)
jian dengan metode Seta Closed-Cup Flash adalah sifat bahan yang dapat mempengaruhi
Point Test diperoleh titik nyala kurang dari pembentukan dan pertumbuhan embrio.
400C. Ketiga belas mutagenik (mutagenic) adalah sifat
Keenam, beracun (moderately toxic). B3 bahan yang menyebabkan perubahan kromo-
yang bersifat racun bagi manusia akan me- som yang berarti dapat merubah genetika.
nyebabkan kematian atau sakit yang serius
apabila masuk ke dalam tubuh melalui per-
nafasan, kulit atau mulut. Tingkatan racun POTENSI SUMBER LIMBAH B3 DI KA-
B3 dikelompokkan sebagaimana tabel 1. WASAN SEKARAN
Ketujuh, berbahaya (harmful) adalah
bahan baik padatan maupun cairan ataupun Sebagaimana telah diuraikan pada
gas yang jika terjadi kontak atau melalui in- bagian pendahuluan, pesatnya perkemban-
halasi ataupun oral dapat menyebabkan ba- gan Unnes membawa perubahan besar di
haya terhadap kesehatan sampai tingkat ter- kawasan Sekaran. Hal ini berarti di dalam

Tabel 1. Urutan Racun B3

Urutan Kelompok LD50 (mg/kg)


1 Amat sangat beracun (extremely toxic) <1
2 Sangat beracun (highly toxic) 1 - 50
3 Beracun (moderately toxic) 51 - 500
4 Agak beracun (slightly toxic) 501 - 5.000
5 Praktis tidak beracun (practically non-toxic) 5001 - 15.000
6 Relatif tidak berbahaya (relatively harmless) > 15.000

92 92
Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No.
Mengawal Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Kawasan Sekaran … - Suhadi
1 - Juni 2012

dirinya sendiri Unnes berkembang, dan berbahaya, termasuk pula bekas tempatnya
perkembangan ini juga berpengaruh terhadap seperti bekas cat, tabung bekas pewangi ru-
perkembangan masyarakat di sekitar kampus. angan. Bahan-bahan tersebut digunakan
Dengan mengacu kepada karakteristik lim- dalam hampir seluruh kegiatan di rumah
bah B3 sebagaimana telah diuraikan sebelum tangga. Bahan-bahan yang dimaksudkan
bagian ini, potensi sumber limbah B3 di ka- antara lain pembersih saluran air, soda
wasan Sekaran dapat berasal dari dalam kaustik, semir, gas elpiji, minyak tanah, asam
kampus dan di luar kampus. cuka, kaporit atau disinfektan, spiritus / alko-
Sumber limbah B3 dari dalam kampus hol, obat-obatan, shampo anti ketombe, pem-
terutama berasal dari unit laboratorium dan bersih toilet, pembunuh kecoa, parfum, kos-
tempat yang sejenis untuk kepentingan prak- metik, kamfer, obat-obatan, hairspray, air
tikum dan riset. Limbah B-3 dari kegiatan freshener, pembunuh nyamuk, korek api, ba-
praktikum bersifat sangat toksik karena terai, cairan pembersih, pestisida dan insek-
umumnya dihasilkan dari berbagai macam tisida, pupuk, cat dan solven pengencer,
persenyawaan bahan kimia. Limbah B-3 dari perekat, oli mobil, aki bekas.
kegiatan dari unit laboratorium ini sulit un- Limbah B3 di kawasan Sekaran ini dari
tuk diidentifikasi secara spesifik dan volu- sumber limbah dapat mencemari lingkungan
menya dikarenakan banyak variasi kegiatan karena dibuang di media lingkungan. Dari
penelitian dan praktikum. Paling tidak di Un- media lingkungan inilah limbah B3 dapat
nes, laboratorium yang berpotensi menjadi tersebar ke berbagai tempat, dapat melalui
sumber limbah B3 terutama berada di Fakul- udara maupun air, yang akhirnya dapat me-
tas MIPA dan Fakultas Teknik. Selain nimbulkan dampak bagi masyarakat, baik
berupa laboratorium, potensi sumber limbah masyarakat yang dekat dengan sumber lim-
B3 dari dalam kampus adalah bengkel sepeda bah maupun yang jauh dari sumber limbah.
motor dan foto copy. Hal ini terjadi karena masyarakat dapat ter-
Sumber limbah B3 di luar kampus, kena kontak dengan sumber limbah baik me-
ragamnya lebih [Link] B3 ini antara lalui udara maupun air. Dampak yang ditim-
lain berasal dari percetakan dan fotografi. bulkan dapat berada pada skala ringan, se-
Produk samping proses percetakan yang dang, atau bahkan berat tergantung pada
dianggap berbahaya dan beracun adalah dari jenis dan kualitas limbah serta derajat kontak
limbah cair pencucian rol film, pembersihan masyarakat dengan sumber limbah.
mesin, dan pemrosesan film. Perbengkelan
juga menjadi salah satu sumber limbah B3.
Termasuk dalam kategori kegiatan perbeng- SIMPULAN
kelan ini yaitu bengkel sepeda motor, bengkel
mobil, cuci motor dan mobil, bengkel cat mo- Limbah B3 dapat mengancam ke-
bil. Limbah B-3 yang dihasilkan dari kegiatan lestarian lingkungan. Oleh karena itu limbah
tersebut umumnya berupa bahan pelarut, ba- ini perlu dikelola secara baik sehingga agar
han pengoksidasi, aki bekas, oli bekas serta tidak mengancam generasi kini dan generasi
lampu bekas. Sumber limbah di luar kampus masa depan. Hal ini sejalan dengan salah
yang lain adalah limbah rumah tangga. Ba- satu prinsip pembangunan berkelanjutan
nyaknya mahasiswa Unnes membawa yakni keadilan antar generasi. Di dalam prin-
implikasi tumbuhnya jasa pelayanan tempat sip ini ada 3 hal penting yaitu (1) conservation
tinggal mahasiswa (kost). Akibatnya jumlah of options yakni konservasi keragaman sumber
orang yang bertempat tinggal di kawasan daya lingkungan agar generasi mendatang
sekaran bertambah banyak, kepadatan se- memiliki pilihan sama banyak , conservation of
makin tinggi. Limbah B3 dari rumah tangga. quality, bahwa setiap generasi harus menjaga
Bahan sehari-hari yang digunakan di rumah kualitas lingkungan, dan conservation of acces,
tangga dewasa ini, khususnya di kota, tidak setiap generasi harus menjamin hak akses
terlepas dari penggunaan bahan berbahaya. yang sama. Sejalan dengan visi Unnes seba-
Bila bahan tersebut tidak lagi digunakan, gai universitas konservasi maka upaya-upaya
maka bahan tersebut akan menjadi limbah, perlindungan terhadap lingkungan meru-
yang kemungkinan besar tetap berkategori pakan keniscayaan. Mengingat di kawasan

93
Indonesian Journal of Conservation Vol. 1 No. 1 - Juni 2012

Sekaran terdapat sumber-sumber limbah B3, sebagai revisi dari PP No.19 Tahun 1994
maka Unnes dapat melakukan upaya-upaya jo. PP No.12 Tahun 1995 Tentang Pengel-
konstruktif. Sosialisasi tentang limbah B3 olaan Limbah B3.
kepada masyarakat dan pihak-pihak yang Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 30 Tahun 2009 tentang Tata Cara
menjadi sumber limbah B3 merupakan upaya
Pemulihan Lahan Terkontaminasi Limbah
yang paling mungkin dilakukan sebagai lang- B3.
kah preventif. Selain itu perlu dilakukan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
penelitian lapangan untuk memetakan sum- Nomor 05 Tahun 2009 tentang Pengel-
ber limbah B3 secara lebih komprehensif. olaan Limbah di Pelabuhan.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 03 Tahun 2007 tentang Fasilitas
DAFTAR PUSTAKA Pengumpulan dan Penyimpanan Limbah
B3 di Pelabuhan.
Kementerian Lingkungan Hidup. 2010. Pengel- Permen 18 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Perizi-
olaan dan Pengolahan Limbah B3. Diakses nan Limbah B3.
dari [Link]/i/art/ Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor
pdf_1054679307.pdf 6 Desember 2010 660.2/2176/SJ, Kepada Gubernur dan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Bupati/Walikota untuk segera menyusun
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Peraturan Daerah dan melakukan Koordi-
Hidup. nasi dan konsultasi dengan kementerian
Peraturan Pemerintah No.18 Tahun 1999 jo. PP yang mempunyai tugas, kewenangan dan
No.85 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan tanggung jawab terhadap urusan pengel-
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun olaan limbah bahan berbahaya dan
beracun.

94 94

You might also like