Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1.
April 2018
Penanganan Permasalahan Transportasi Perkotaan
di Perbatasan Kota Yogyakarta-Kabupaten Sleman-
Kabupaten Bantul: Sekretariat Bersama Kartamantul
Ani Meidiani1, Siti Malkhamah2, Imam Muthohar3
1
Program Studi Magister Sistem dan Teknik Transportasi
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Jalan Grafika No. 2 Kampus UGM Yogyakarta 55281, Indonesia
Email: [email protected], [email protected]
2
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Jalan Grafika No. 2 Kampus UGM Yogyakarta 55281, Indonesia
Email: [email protected]
2
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Jalan Grafika No. 2 Kampus UGM Yogyakarta 55281, Indonesia
Email: [email protected]
ABSTRACT
Transportation problems which have cross-regional externalities are impossible to
handle by the region itself, but it is important to have coordination between regions.
Coordination between local governments of Yogyakarta City, Sleman Regency, and Bantul
Regency within the scope of Yogyakarta Urban Area has been executed through the Joint
Secretariat of Kartamantul. This study was aimed to identify urban transportation problems in
the border area of Yogyakarta-Sleman-Bantul which was focused in the area of Jalan Godean
(Jatikencana-Demak Ijo) and how the problems were handled through the Joint Secretariat of
Kartamantul. The method used in this study was descriptive qualitative. Data collection was
conducted through semi structured in-depth interviews, study documents, and observations. The
sampling techniques were purposive sampling and snowball sampling. Data validity was done
through triangulation of data collection techniques. Data was analyzed by using interactive
model of data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The results show
that urban transportation problems in the area of Jalan Godean (Jatikencana-Demak Ijo) are
traffic congestion at peak hours and inadequate urban transport condition (Trans Jogja Route
8), and the problems are handled through traffic management and engineering (controlling the
traffic movement by simulations) and improving infrastructure capacity (building new link,
maintaining alternative roads, and synchronizing road status).
Keywords. Joint Secretariat of Kartamantul, Border Area, Handlings, Urban Transportation.
2885
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
PENDAHULUAN Perkembangan pariwisata serta
Kota Yogyakarta merupakan pusat pembangunan di Perkotaan Yogyakarta mulai
kegiatan pemerintahan, perekonomian, dari pemukiman, hotel, pusat-pusat
pendidikan, dan pariwisata berbasis budaya. perbelanjaan, dan pusat-pusat kuliner
Urbanisasi di kota Yogyakarta ditandai menyebabkan potensi-potensi kemacetan
dengan perkembangan jumlah penduduk mulai terlihat. Munawar dalam UGM (2013)
yang tinggi. Menurut BPS Provinsi DIY menyebutkan bahwa tingkat kemacetan dari
(2016), pada tahun 2015 jumlah penduduk seluruh ruas jalan utama Perkotaan
DIY mencapai 3.679.176 jiwa dengan Yogyakarta tiap harinya mencapai 7% dan
kepadatan penduduk tercatat 1.555 jiwa per akan meningkat 45% pada tahun 2023
km. Kepadatan tertinggi terjadi di Kota sehingga perlu diambil langkah serius.
Yogyakarta, mencapai 12.699 jiwa per km Permasalahan transportasi menjadi
dengan luas wilayah yang hanya 1,02% dari kompleks ketika terjadi di wilayah perbatasan
luas wilayah DIY. Dampaknya, terjadi luapan dan bersifat lintas batas administratif. Isu
kegiatan di kota menuju ke arah wilayah transportasi secara alamiah menjadi isu
pinggiran perkotaan (urban fringe) yang regional (kewilayahan) karena berbagai
berbatasan dengan wilayah administratif Kota permasalahan transportasi seperti kemacetan
Yogyakarta. lalulintas, polusi udara, dan manajemen
Wilayah Kota Yogyakarta secara kecelakaan tidak dapat diatasi secara efektif
fungsional telah tumbuh dan berkembang jika dilakukan oleh pemerintah setempat
melampaui batas wilayah administratifnya secara individual. Permasalahan transportasi
sehingga membentuk suatu sistem perkotaan yang memiliki eksternalitas lintas daerah
yang menyatu dalam lokasi atau kawasan tidak mungkin dilakukan dan ditangani oleh
tertentu (aglomerasi) yang disebut sebagai daerah sendiri, diperlukan koordinasi dan
Kawasan Perkotaan Yogyakarta, meliputi kolaborasi antar daerah karena urusan
Kota Yogyakarta, sebagian wilayah tersebut akan lebih efisien dan optimal jika
Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul dikelola bersama sebagai satu sistem tanpa
yang berbatasan dengan Kota Yogyakarta. melihat batas wilayah administratif.
Fenomena aglomerasi dimana perkem- Koordinasi dan kolaborasi antara
bangan perkotaan Yogyakarta telah melebihi Pemerintah Daerah yang wilayahnya saling
batas wilayah administratif dan pesatnya berbatasan yaitu Pemerintah Kota
pertumbuhan daerah-daerah pinggiran di Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman,
Kawasan Perkotaan Yogyakarta menim- dan Pemerintah Kabupaten Bantul dalam
bulkan berbagai permasalahan khas suatu konteks aglomerasi (Kawasan Perkotaan
wilayah perkotaan yaitu menyangkut Yogyakarta/KPY) dilakukan melalui
pelayanan infrastruktur perkotaan, terutama Sekretariat Bersama (Sekber) Kartamantul.
pada sektor tata ruang, persampahan, air Sekretariat Bersama Kartamantul merupakan
bersih, air limbah, dan transportasi. Sektor sebuah forum yang terorganisir dengan rapi,
transportasi menjadi sorotan akhir-akhir ini, dibentuk oleh Pemerintah Kota Yogyakarta,
dimana kondisi perkotaan Yogyakarta yang Pemerintah Kabupaten Sleman, dan
semakin padat menuntut perhatian lebih pada Pemerintah Kabupaten Bantul melalui
penanganan sektor transportasi. Keputusan Bersama Bupati Bantul, Bupati
Sleman, dan Walikota Yogyakarta Nomor
2886
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
04/Perj/Bt/2001, Nomor 38/Kep.KDH/2001, (Pemerintah Pusat, Provinsi, kecamatan desa,
dan Nomor 03 Tahun 2001 tentang masyarakat, dan komunitas). Fungsi fasilitasi
Pembentukan Sekretariat Bersama dilaksanakan untuk mewadahi atau
Pengelolaan Prasarana dan Sarana Perkotaan menampung dan menyalurkan berbagai
antara Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, masukan, usulan, aduan permasalahan, atau
dan Kota Yogyakarta. Terdapat 6 sektor yang permintaan dari stakeholders. Selanjutnya,
dikerjasamakan yaitu meliputi persampahan, melalui fungsi koordinasi, dilakukan
air limbah, transportasi, jalan, drainase, dan pembahasan bersama untuk mencari solusi
air bersih. Dalam sektor transportasi, atau penanganan yang disepakati oleh semua
Sekretariat Bersama Kartamantul bertujuan pihak. Fungsi mediasi dilaksanakan ketika
untuk mensinkronisasikan program dan terjadi konflik atau perselisihan, yaitu dengan
kegiatan pengelolaan prasarana dan sarana menjadi wadah bagi pihak yang berselisih
transportasi di Kawasan Perkotaan untuk berkumpul dan bermusyawarah
Yogyakarta. Sementara itu dalam sektor jalan, menyelesaikan perselisihan sehingga
bertujuan untuk mewujudkan kondisi diperoleh kesepakatan bersama.
prasarana dan sarana jalan yang baik di Koordinasi dan kolaborasi sektor
wilayah perbatasan Kabupaten Bantul, transportasi diformalkan melalui Perjanjian
Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Kerja Sama antara Pemerintah Kabupaten
Sektor jalan tentunya tidak dapat dipisahkan Bantul, Pemerintah Kabupaten Sleman, dan
dengan sektor transportasi karena jalan Pemerintah Kota Yogyakarta Nomor
merupakan bagian dari sistem transportasi. 10/Perj/Bt/2001, Nomor 08/PK.KDH/2001,
Sekretariat Bersama Kartamantul dan Nomor 05/PK/2001 tentang Pengelolaan
merupakan salah satu contoh wadah Prasarana dan Sarana Sistem Transportasi,
koordinasi antar daerah yang berhasil di dengan tujuan terciptanya sinkronisasi
Indonesia dan berhasil meraih penghargaan program, kegiatan pengelolaan prasarana dan
pada IMP Award Tahun 2003 dari Departemen sarana transportasi di wilayah perkotaan
Dalam Negeri-World Bank. Selain itu, Yogyakarta. Ruang lingkup perjanjian
Sekretariat Bersama Kartamantul juga meliputi pengelolaan prasarana dan sarana
menjadi salah satu best-practice kerja sama transportasi di wilayah perkotaan Yogyakarta
pengelolaan prasarana perkotaan dan wilayah dan pengelolaan sistem transportasi.
aglomerasi perkotaan di Indonesia. Mendukung sektor transportasi adalah
Sesuai dengan misi Sekretariat Bersama sektor jalan yang diwujudkan dalam
Kartamantul, tiga fungsi utama Sekretariat Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah
Bersama ini adalah menjalankan fasilitasi, Kabupaten Bantul, Pemerintah Kabupaten
koordinasi, dan mediasi (fungsi FKM) bagi Sleman, dan Pemerintah Kota Yogyakarta
Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Nomor 18/PK/Bt/2014, Nomor 62.1/PK.
Kabupaten Sleman, dan Pemerintah KDH/A/2014, dan Nomor 51/Perj.YK/2014
Kabupaten Bantul. Fungsi FKM digunakan tentang Pengelolaan Prasarana dan Sarana
untuk mewadahi, merespon, mensinkronkan, Jalan di Wilayah Perbatasan. Perjanjian kerja
mengharmonisasikan, dan menangani sama ini dimaksudkan untuk mewujudkan
berbagai masukan, usulan, dan aduan sinkronisasi pengelolaan prasarana dan sarana
permasalahan dari tiga Kabupaten/Kota dan jalan di wilayah perbatasan Kabupaten
juga dari berbagai stakeholders terkait Bantul, Kabupaten Sleman, dan Kota
2887
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Yogyakarta dan bertujuan untuk mewujudkan Dari 7 kawasan tersebut, sesuai dengan
kondisi prasarana dan sarana jalan yang baik porsinya, Sekretariat Bersama Kartamantul
di wilayah perbatasan Kabupaten Bantul, mengambil fokus koordinasi pada kawasan
Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. yang berbatasan yaitu kawasan Kotagede
Objek perjanjian kerja sama meliputi (perbatasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten
pengelolaan prasarana dan sarana jalan di Bantul), Kawasan Jalan Godean dari
wilayah perbatasan Kabupaten Bantul, Jatikencana sampai Demak Ijo (perbatasan
Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan
Wilayah kegiatan kerja sama meliputi Kabupaten Bantul), Kawasan Kranggan atau
kecamatan-kecamatan di wilayah Kabupaten Jetis (perbatasan Kota Yogyakarta dan
Bantul, Kabupaten Sleman, dan Kota Kabupaten Sleman), dan Kawasan Terban
Yogyakarta yang berbatasan dan termasuk (perbatasan Kota Yogyakarta dan Kabupaten
dalam kawasan perkotaan Yogyakarta. Sleman). Untuk kawasan Jalan Godean, telah
Program kerja dan kegiatan sektor disusun DED Kawasan Jatikencana-Demak
transportasi Sekretariat Bersama Kartamantul Ijo oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan
pada tahun 2014-2017 mengacu pada studi Informatika DIY pada tahun 2014, dan sampai
yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah, dengan saat ini masih dilakukan koordinasi
evaluasi kegiatan tahun sebelumnya, dan dan pembahasan di Sekretariat Bersama
usulan atau request dari Organisasi Perangkat Kartamantul terkait kawasan ini.
Daerah atau masyarakat. Studi yang diacu
oleh Sekretariat Bersama Kartamantul dalam A. Tujuan Penelitian
penyusunan program dan pelaksanaan 1. Mengetahui permasalahan transportasi
kegiatan sektor transportasi tahun 2014-2017 perkotaan di perbatasan Kota
adalah Road Map Transportasi Perkotaan DIY Yogyakarta-Kabupaten Sleman-
yang disusun pada tahun 2012 oleh Dinas Kabupaten Bantul yaitu pada kawasan
Perhubungan Komunikasi dan Informatika Jalan Godean (Jatikencana-Demak
D I Y. Tu j u a n d a r i s t u d i i n i u n t u k Ijo).
mengidentifikasi permasalahan transportasi 2. Mengetahui upaya penanganan yang
di Kota Yogyakarta dan wilayah aglomerasi- dilakukan melalui Sekretariat Bersama
nya sehingga dapat diusulkan penanganan Kartamantul.
manajemen lalu lintasnya untuk kondisi
eksisting maupun yang akan datang yang
B. Batasan Penelitian
sifatnya aplikatif, dan kawasan yang dikaji
1. Lokus permasalahan transportasi
meliputi:
perkotaan di wilayah perbatasan Kota
a. Kawasan Malioboro
Yogyakarta-Kabupaten Sleman-
b. Kawasan Keraton Kabupaten Bantul adalah pada
c. Kawasan Kotagede kawasan Jalan Godean (Jatikencana-
d. Kawasan Jalan Godean (Jatikencana- Demak Ijo). Lokus ini dipilih karena
Demak Ijo) memiliki catchment area yang luas
e. Kawasan Kranggan (Jetis) yaitu meliputi kawasan perbatasan
f. Kawasan Terban-UGM-Jalan Kaliurang yang melintasi tiga wilayah
g. Kawasan Seturan-Babarsari administratif (Kota Yogyakarta –
2888
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Kabupaten Sleman – Kabupaten jalan/persimpangan dan pengendalian
Bantul) sehingga mewakili sifat lintas pergerakan lalu lintas. Usulan alternatif
wilayah dan multi-stakeholders. penanganan lalu lintas terpilih harus
2. Penanganan adalah upaya yang dibahas disimulasikan sebelum ditetapkan
dan dilakukan oleh stakeholders menjadi skema penanganan lalu lintas
melalui koordinasi di Sekretariat terpilih (Peraturan Menteri
Bersama Kartamantul dalam kurun Perhubungan Nomor PM 96 Tahun
waktu 2013-2017. 2015).
5. Peningkatan kapasitas prasarana jalan
C. Landasan Teori di perkotaan dapat dilakukan dengan
Landasan teori dalam konteks pembenahan sistem jaringan jalan dan
penelitian ini berfungsi membantu peneliti sistem hirarkhi serta pembangunan
untuk membuat berbagai pertanyaan jalan terobosan baru dapat dilakukan di
penelitian dan memandu bagaimana perkotaan untuk menghindari
mengumpulkan data dan analisis data penyempitan, terutama untuk
(Sugiyono, 2016). memperbaiki daerah sumber
1. Isu transportasi pada dasarnya bersifat kemacetan yang banyak terjadi di
regional karena kemacetan lalu lintas, jaringan jalan di daerah perkotaan
polusi udara, manajemen kecelakaan (Tamin, 2000).
dan isu-isu lain tidak dapat ditangani 6. Pembenahan sistem jaringan jalan dan
secara efektif jika dilakukan oleh satu sistem hirarkhi dapat dilakukan melalui
wilayah/institusi secara individual. Isu- pembangunan jalan terobosan baru
isu ini bersifat lintas wilayah sehingga untuk melengkapi sistem jaringan jalan
memerlukan pendekatan koordinatif yang telah ada dan pembenahan sistem
dengan melibatkan banyak hirarkhi jalan supaya tidak terjadi
pihak/stakeholders (Briggs, 2001). penyempitan. Terutama terlihat pada
2. Kemacetan lalu lintas dan belum daerah perbatasan dengan daerah
memadainya kualitas pelayanan administrasi lain. Karena tidak ada
angkutan umum termasuk dalam koordinasi yang baik antara kedua
permasalahan transportasi perkotaan Pemerintah Daerah, pembangunan
(Dirjen Perhubungan Darat, 2014). sistem jaringan jalan tersebut, terutama
pada daerah perbatasan, tidak sinkron
3. Meningkatkan pertumbuhan prasarana
sehingga menimbulkan penyempitan
transportasi melalui pembangunan
(Tamin, 1999 dan Tamin, 2000).
jalan baru dan peningkatan kapasitas
prasarana, serta melakukan manajemen
dan rekayasa lalu lintas, dapat menjadi METODE PENELITIAN
alternatif pemecahan permasalahan Penelitian ini menggunakan metode
transportasi perkotaan (Tamin, 2000). deskriptif kualitatif karena bermaksud untuk
4. Manajemen dan rekayasa lalu lintas mengungkapkan fakta-fakta sesuai dengan
dilakukan dengan optimasi tujuan penelitian dan batasan penelitian.
penggunaan jaringan jalan dan gerakan Pengumpulan data dilakukan melalui
lalu lintas melalui optimasi kapasitas wawancara mendalam semiterstruktur, studi
2889
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
dokumen, dan observasi. Teknik sampling Kawasan Jalan Godean yang masuk
yang digunakan adalah purposive sampling dalam ruang lingkup kegiatan penanganan
dan snowball sampling. Validitas data yaitu dimulai dari kawasan Jatikencana
dilakukan melalui trianggulasi teknik sampai Demak Ijo. Jalan Godean
pengumpulan data. Analisis data merupakan jalur utama arus dari arah barat
menggunakan interactive model meliputi (Sleman, Kulon Progo) menuju kota
data reduction (reduksi data), data display Yogyakarta. Berdasarkan hasil observasi
(penyajian data), dan conclusion dan analisis, profil geometrik dan
drawing/verification (penarikan kesimpulan). administratif Jalan Godean mulai dari
Simpang Tiga Jatikencana sampai dengan
HASIL DAN PEMBAHASAN Simpang Empat Demak Ijo ditunjukkan
dalam Tabel 1 dan Gambar 1.
A. Permasalahan Transportasi Perkotaan
di Perbatasan Kota Yogyakarta-
Kabupaten Sleman-Kabupaten Bantul:
Kawasan Jalan Godean (Jatikencana-
Demak Ijo)
Tabel 1 Profil Geometrik dan Administratif Jalan Godean (Jatikencana-Demak Ijo)
Profil Keterangan
Panjang, tipe jalan 2.370 m (2,37 km), 2/2 UD
Lebar jalur lalu lintas 9 meter (lebar lajur lalu lintas: 4,5 meter)
Bahu ada
Median tidak ada
Alinyemen jalan datar
Status dan fungsi 1. Simpang Tiga Jatikencana ke barat-Batas Kota (Patok Perbatasan PBU 040)
berstatus jalan kota dengan fungsi sebagai jalan arteri sekunder (Keputusan
Walikota Yogyakarta No. 214/KEP/2013 tentang Penetapan Ruas-Ruas Jalan
Menurut Kelasnya di Kota Yogyakarta)
2. Batas Kota (Patok Perbatasan PBU 040)-Simpang Empat Demak Ijo berstatus jalan
provinsi (Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor
118/KEP/2016 tentang Penetapan Status Ruas Jalan Provinsi) dengan fungsi
sebagai jalan kolektor 2 (Keputusan Gubernur DIY Nomor 117/KEP/2016 tentang
Penetapan Fungsi Jalan Kolektor 2 dan Jalan Kolektor 3 dalam Sistem Jaringan
Jalan Primer)
Administratif perbatasan tiga wilayah administratif dalam KPY, yaitu melintasi sebagian wilayah:
1. Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta, segmen dari Simpang Tiga Jatikencana-
Patok Perbatasan PBU 040, panjang segmen 200 meter.
2. Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul, segmen dari Patok Perbatasan PBU 040-
ujung timur Jembatan Kajor, panjang segmen 400 meter.
3. Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, segmen dari ujung timur Jembatan Kajor-
Simpang Empat Demak Ijo, panjang segmen 1770 meter.
2890
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Gambar 1 Kawasan Jalan Godean yang Ditinjau (Jatikencana-Demak Ijo)
1. Kemacetan Lalu Lintas di Jalan Soragan) serta kendaraan tidak
a. Karakteristik Umum bermotor (andong, becak, dan sepeda),
Karakteristik lalu lintas di Jalan sehingga hal ini juga menjadi salah satu
Godean secara umum adalah terjadinya penyebab rumitnya kondisi lalu lintas
kepadatan lalu lintas yang tinggi pada jam khususnya pada saat jam puncak.
puncak pagi dan jam puncak sore. Pada Berdasarkan hasil observasi, diketahui
pagi hari perjalanan didominasi oleh bahwa kemacetan di Jalan Godean
pergerakan anak sekolah menuju sekolah berkarakteristik temporal atau sementara
dan pekerja menuju tempat bekerjanya yaitu terjadi pada saat jam puncak, antara
masing-masing. Pada sore hari, pukul 06.30-08.00 dan 15.30-17.30,
karakteristik lalu lintas hampir mirip setelah melewati jam puncak konsentrasi
dengan karakteristik di pagi hari. Lalu volume kendaraan cenderung berangsur-
lintas bersifat mixed traffic, pergerakan angsur menurun karena perjalanan pada
arus lalu lintas didominasi oleh sepeda titik puncak untuk pergi ke atau pulang dari
motor dan kendaraan ringan (mobil), sekolah dan bekerja sudah berakhir.
namun juga dilalui oleh kendaraan berat Kondisi tersebut ditunjukkan dalam
seperti truk barang/truk tronton (terdapat Gambar 2, Gambar 3, dan Gambar 4.
area pergudangan di sebelah selatan, yaitu
2891
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Gambar 4 Jalan Godean (Depan Mirota
Godean) Sore: 16.00 WIB
b. Penggunaan Lahan di Kawasan
Pesatnya pertumbuhan kegiatan
perekonomian dan pemukiman di kawasan
Jalan Godean menjadi salah satu
penyumbang kemacetan lalu lintas di Jalan
Godean karena kapasitas jalan terbatas
namun aktivitas di sisi kanan dan kiri jalan
serta di sekitar kawasan tinggi dan
Gambar 2 Jalan Godean (Depan Mirota
kompleks. Menurut Saputra (2017),
Godean) Pagi: 07.00 WIB komposisi penggunaan lahan sepanjang
koridor jalan didominasi oleh kegiatan
komersial sebesar 50,28% dan
perkantoran sebesar 20,85% (lainnya
adalah untuk hunian 6,12%, institusional
1,88%, jasa komersial 8,13%, pelayanan
dan jasa kendaraan 7,75%, Ruang Terbuka
Hijau 5%).
Daerah penyangga yaitu Kecamatan
Tegalrejo, Kecamatan Gamping, dan
Kecamatan Kasihan merupakan kawasan
berkembang pesat karena sesuai dengan
Perda DIY No. 2 Tahun 2010 tentang
Gambar 3 Jalan Godean (Depan Mirota Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Godean) Siang: 12.30 WIB DIY Tahun 2009-2029 termasuk dalam
K a w a s a n P e r k o t a a n Yo g y a k a r t a
(Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta)
2892
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
dengan arahan pengembangan sebagai d. Kinerja Simpang
kawasan strategis nasional dan kawasan Kinerja tiga simpang yang berada di
strategis provinsi, serta zonasi Pusat koridor Jalan Godean menunjukkan
Kegiatan Nasional (PKN). Berdasarkan kinerja yang tidak optimal karena
Perda RTRW Kabupaten/Kota, kawasan memiliki tundaan yang tinggi
ini diperuntukkan sebagai kawasan sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 3.
strategis pertumbuhan ekonomi, terutama Pada saat jam puncak pagi dan jam puncak
untuk kegiatan perdagangan jasa, sore, sesuai Peraturan Menteri
pendidikan, dan pemukiman. Perhubungan No. PM 96 Tahun 2015,
Simpang Tiga Jatikencana memiliki
c. Kinerja Ruas Jalan tingkat kinerja D karena kondisi tundaan
Jalan Godean termasuk dalam ruas lebih dari 25 detik sampai dengan 40 detik
jalan dengan kinerja E, ditunjukkan dalam perkendaraan (tingkat pelayanan yang
Tabel 2, karena memiliki angka derajat diinginkan pada persimpangan pada ruas
kejenuhan yang tinggi pada jam puncak jalan arteri sekunder dalam jaringan jalan
pagi dan sore sehingga melebihi nilai yang sekunder sekurang-kurangnya C); dan
dapat diterima yaitu 0,75 untuk jalan Simpang Empat Patran serta Simpang
perkotaan berdasarkan MKJI 1997. Empat Demak Ijo memiliki tingkat kinerja
Peraturan Menteri Perhubungan No. PM F karena kondisi tundaan lebih dari 60
96 Tahun 2015 menyebutkan bahwa detik perkendaraan (tingkat pelayanan
tingkat kinerja E mengindikasikan bahwa yang diinginkan pada persimpangan pada
kondisi di ruas jalan tersebut berada pada ruas jalan kolektor primer dalam jaringan
arus yang mendekati tidak stabil, volume jalan primer sekurang-kurangnya B).
lalu lintas mendekati kapasitas jalan,
kepadatan lalu lintas tinggi, dan mulai
terjadi kemacetan-kemacetan durasi
pendek.
Tabel 2 Kinerja Ruas Jalan Godean (Depan GIANT Swalayan) Tahun 2017
Volume Lalu Lintas
Kapasitas (smp/jam) V/C RATIO
Jam Puncak (smp/jam)
Nama Arah ke Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore V/C
Tingkat
Jalan RATIO
Kinerja
06.30- 12.00- 16.30- 06.30- 12.00- 16.30- 06.30- 12.00- 16.30- Maksimum
07.30 13.00 17.30 07.30 13.00 17.30 07.30 13.00 17.30
Jalan Godean Timur 1.683 1.110 1.215
(depan GIANT 2.903 3.305 3.094 0,92 0,64 0,86 0,92 E
Swalayan) Barat 975 1.009 1.440
Sumber: Dinas Perhubungan DIY (2017)
2893
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Tabel 3 Kinerja Simpang di Jalan Godean (Jatikencana-Demak Ijo) Tahun 2017
No Pagi Siang Sore
Nama Tingkat
Simpang Jam DS Tundaan Jam DS Tundaan Jam DS Tundaan Kinerja
Puncak D (det/smp) Puncak D (det/smp) Puncak D (det/smp)
1. Simpang Tiga 07.00- 0,53 26,97 12.00- 0,48 26,99 15.30- 0,57 29,03 D
Jati-kencana 08.00 13.00 16.30
2. Simpang Empat 06.45- 0,80 163,78 11.15- 0,80 75,45 16.30- 0,94 228,64 F
Patran 07.45 12.15 17.30
3. Simpang Empat 07.00- 0,96 74,85 12.00- 0,91 45,50 16.15- 1,00 376,18 F
Demak Ijo 08.00 13.00 17.15
Sumber: Dinas Perhubungan DIY (2017), diolah
e. Pertumbuhan Kendaraan Bermotor di sebesar 6,02%. Dari Tabel 4 juga diketahui
DIY bahwa dalam kurun waktu 5 tahun terakhir
Jumlah kendaraan bermotor di DIY jumlah kendaraan bermotor memiliki
selalu meningkat dari tahun ke tahun. kecenderungan (tren) meningkat (Gambar
Tabel 4 memberikan gambaran tentang 5) dan porsi jenis kendaraan bermotor
pertumbuhan kendaraan bermotor di DIY didominasi oleh sepeda motor sebesar
dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, yaitu 87% pada tahun 2015 (Gambar 6). Kondisi
pertumbuhan sepeda motor rata-rata ini menggambarkan bahwa tingkat
sebesar 7,74%, pertumbuhan kendaraan motorisasi di DIY masih cukup tinggi
ringan rata-rata sebesar 9,78%, dan dengan moda pilihan favorit masyarakat di
pertumbuhan kendaraan berat rata-rata DIY adalah sepeda motor.
Tabel 4 Rata-Rata Pertumbuhan Kendaraan Bermotor di DIY dalam 4 Tahun
Sepeda Motor
Kendaraan Ringan (Light Vehicle/LV) Kendaraan Berat (Heavy Vehicle/HV)
(Motorcycle/MC)
Mobil
penum-
Tahun Sepeda
pang
motor, Pertum- Pertum- Pertum-
(sedan, Deli- Mikro Truk
scooter, buhan Pick-up Jumlah buhan Bus Jumlah buhan
station very van Bus Barang
kendaraan (%) (%) (%)
wagon,
roda 3
mini bus,
jeep)
2011 1.423.147 138.537 31.020 56 8.350 177.963 2.637 13.920 16.557
2012 1.537.534 8,04% 152.178 33.490 91 8.447 194.206 9,13% 2.572 14.607 17.179 3,76%
2013 1.673.903 8,87% 169.962 36.220 150 8.555 214.887 10,65% 2.613 15.856 18.469 7,51%
2014 1.831.982 9,44% 194.249 39.792 162 8.816 243.019 13,09% 2.622 17.532 20.154 9,12%
2015 1.916.666 4,62% 206.658 42.388 239 8.918 258.203 6,25% 2.640 18.261 20.901 3,71%
Rata-rata
pertumbu- Rata-rata pertumbuhan HV
7,74% Rata-rata pertumbuhan LV (%) 9,78% 6,02%
han MC (%)
(%)
Sumber: BPS Provinsi DIY (2012-2016), diolah
2894
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Gambar 5 Tren Jumlah Kendaraan Bermotor di DIY (2011-2015)
Sumber: DIY dalam Angka, BPS Provinsi DIY (2012-2016), diolah
Jalan Godean (Jatikencana-Demak Ijo)
diakses oleh kendaraan dari Kota
Yogyakarta dan berbagai wilayah di luar
Kota Yogyakarta (Sleman, Bantul, Kulon
Progo) dan sampai dengan saat ini belum
dilakukan upaya peningkatan kapasitas
jalan (pelebaran jalan, perbaikan bahu
jalan). Dengan volume lalu lintas yang
semakin tinggi (dilihat dari pertumbuhan
dan tren jumlah kendaraan bermotor di
DIY yang meningkat setiap tahun), maka
kinerja atau tingkat pelayanan Jalan
Godean, terutama saat jam puncak,
dikhawatirkan tidak akan semakin
Gambar 6 Porsi Jenis Kendaraan Bermotor membaik jika tidak dilakukan
di DIY (2015) penanganan.
Sumber: DIY dalam Angka, BPS Provinsi
DIY (2016), diolah
2895
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
2. K o n d i s i A n g k u t a n P e r k o t a a n a. Load Factor
Yogyakarta (Trans Jogja Jalur 8) Hasil analisis data sekunder dari Dinas
Trans Jogja yang melintasi koridor Perhubungan DIY (Juli-Desember 2017)
Jatikencana-Demak Ijo adalah Trans Jogja menunjukkan bahwa Load factor rata-rata
Jalur 8 (merupakan salah satu dari 17 jalur tiap halte Trans Jogja Jalur 8 tertinggi
baru Trans Jogja yang mulai beroperasi adalah pada ruas halte Ahmad Yani
pada April 2017), dengan jumlah armada (Benteng Vredenburg)-KH Dahlan 1
pada awalnya sebanyak 3 bus dan menjadi sebesar 23,06% dan terendah adalah pada
5 bus mulai November 2017. Rute ruas halte TPB Jogokaryan Kimia Farma
meliputi: Terminal Jombor – Simpang 1-MT Haryono (SMA 7) sebesar 4,31%,
Empat Jombor – Ring road utara – ditunjukkan dalam Gambar 7.
Simpang Empat Demak Ijo – Jalan Godean
– Simpang Tiga Jatikencana – Jalan HOS
Cokroaminoto – Jalan Pembela Tanah Air
– Simpang Empat Badran – Jalan Jlagran
Lor – Jalan Pasar Kembang – Jalan Abu
Bakar Ali – Simpang Tiga Jembatan
Kewek – Jalan Abu Bakar Ali – Simpang
Tiga Hotel Garuda – Jalan Malioboro –
Jalan Margo Mulyo – Simpang Empat Nol
Kilometer – Jalan Kyai Haji Ahmad
Dahlan – Simpang Empat Ngabean – Jalan
KH. Wahid Hasyim – Terminal Ngabean –
Jalan Kyai Haji Wahid Hasyim – Jalan
Bantul (PASTHY) – Simpang Empat Gambar 7 Grafik Load Factor Rata-Rata
Dongkelan – Ring road Selatan – Simpang Tiap Halte
Empat Druwo – Jalan Parangtritis – Trans Jogja Jalur 8
Simpang Empat Pojok Beteng Wetan –
Jalan Mayjend. Sutoyo – Jalan MT.
Haryono – Simpang Empat Pojok Beteng
Kulon – Jalan Kyai Haji Wahid Hasyim – Untuk ruas-ruas halte di koridor
Terminal Ngabean – Simpang Empat Jatikencana-Demak Ijo memiliki load
Ngabean – Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan factor sebagai berikut, TPB Simpang
– Simpang Empat RS PKU Demak Ijo-Giant Jalan Godean: 12,28%,
Muhammadiyah – Jalan Bayangkara – TPB Giant Jalan Godean-Soragan 2:
Jalan Gandekan – Simpang Tiga Pasar 13,01%, TPB Soragan 1-TPB Dentes
Kembang – Jalan Jlagran Lor – Simpang (Ruko Godean): 9,82%, dan TPB Dentes
Empat Badran – Jalan Pembela Tanah Air – (Ruko Godean)-TPB Total Security
Jalan HOS Cokroaminoto – Simpang Tiga (Simpang Demak Ijo): 8,39%, ditunjukkan
Jatikencana – Jalan Godean – Simpang dalam Gambar 8.
Empat Demak Ijo – Ring road utara –
Simpang Empat Jombor – Terminal
Jombor.
2896
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Gambar 8 Grafik Load Factor Rata-Rata Gambar 9 Grafik Headway Rata-Rata Tiap
Trans Jogja Jalur 8 di Tiap Halte Koridor Halte
Jatikencana-Demak Ijo Trans Jogja Jalur 8 (Menit)
Load factor Trans Jogja Jalur 8 belum Untuk halte di koridor Jatikencana-
memenuhi standar load factor ideal yaitu Demak Ijo memiliki headway sebagai
70% (Keputusan Direktur Jenderal berikut, TPB Giant Jalan Godean: 49
Perhubungan Darat No. menit, TPB Soragan 2: 49 menit, TPB
SK.687/AJ.206/DRDJ/2002 tentang Soragan 1: 51 menit, Dentes (Ruko
Pedoman Teknis Penyelenggaraan Godean): 51 menit, ditunjukkan dalam
Angkutan Umum di Wilayah Perkotaan Gambar 10.
dalam Trayek Tetap dan Teratur) dan load
factor maksimum yaitu 100% (Peraturan
Menteri Perhubungan No. 98 Tahun 2013
tentang Standar Pelayanan Minimal
Angkutan Orang dengan Kendaraan
Bermotor Umum dalam Trayek). Hal ini
dapat mengindikasikan bahwa animo
masyarakat masih rendah untuk
menggunakan layanan Trans Jogja dari
atau menuju kawasan Jatikencana-Demak
Ijo.
Gambar 10 Grafik Headway Rata-Rata
b. Headway Trans Jogja Jalur 8 (Menit) di Halte Koridor
Hasil analisis data sekunder dari Dinas Jatikencana-Demak Ijo
Perhubungan DIY (Juli-Desember 2017),
menunjukkan bahwa headway rata-rata Headway rata-rata Trans Jogja Jalur 8
tiap halte untuk Trans Jogja Jalur 8 belum memenuhi standar headway ideal
terendah adalah 25 menit di Halte Ngabean yaitu 5-10 menit (Keputusan Direktur
dan untuk halte-halte yang lain adalah rata- Jenderal Perhubungan Darat No.
rata 50 menit, ditunjukkan dalam Gambar SK.687/AJ.206/DRDJ/ 2002 tentang
9. Pedoman Teknis Penyelenggaraan
2897
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Angkutan Umum di Wilayah Perkotaan Berdasarkan hasil observasi, masing-
dalam Trayek Tetap dan Teratur) dan masing titik TPB tersebut dapat melayani
headway tidak puncak yaitu maksimum 30 atau dijangkau oleh beberapa pusat
menit (Peraturan Menteri Perhubungan bangkitan dan tarikan perjalanan di jarak
No. 98 Tahun 2013 tentang Standar 400 meter (buffer zone) karena di dalam
Pelayanan Minimal Angkutan Orang buffer zone tersebut merupakan kawasan
dengan Kendaraan Bermotor Umum komersial (pusat perbelanjaan/
dalam Trayek). Semakin besar nilai perdagangan dan jasa, seperti Mirota
headway mengindikasikan semakin lama Godean, Ruko Green Plaza, Supermarket
waktu tunggu penumpang. Giant, Rukan Gading Mas), pemukiman/
perumahan, dan pendidikan (diantaranya
c. Jarak berjalan kaki menuju tempat ASMI Santa Maria dan AKPER
henti Notokusumo di Jalan Bener, serta Sekolah
Untuk kawasan Jatikencana-Demak Ijo Tinggi Pertanahan Nasional dan
terdapat 4 titik halte portable atau Tempat Politeknik Kesehatan Kementerian
Pemberhentian Bus (TPB) Trans Jogja Kesehatan Yogyakarta di Jalan Tata
yang terdekat yaitu 1) TPB Giant Jalan Bumi). Namun, tidak tersedia fasilitas bagi
Godean, 2) TPB Dentes (Ruko Godean), 3) pejalan kaki (trotoar) yang memadai,
TPB Soragan 1, dan 4) TPB Soragan 2 aman, dan nyaman di kawasan buffer zone
(Gambar 11). sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar
12 dan Gambar 13.
Gambar 11 TPB Trans Jogja Terdekat di Kawasan Jatikencana-Demak Ijo
2898
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Untuk kawasan padat pemukiman dan
beberapa pusat pendidikan dan layanan
masyarakat di kawasan Bener utara (antara
lain SMA N 2 Yogyakarta, SD N Tegalrejo
I, Kantor Kelurahan Bener, Puskesmas
Pembantu Bener, Perumahan Kuantan
Regency 2) dan kawasan Tambak utara
(Perumahan Griya Indah, Rusunawa
Projotamansari II, dan STIE YKP
Yogyakarta) memiliki jarak antara 650
meter-1200 meter dengan titik TPB
terdekat yaitu TPB Soragan 1, sehingga
jarak berjalan kaki menuju tempat henti
belum memenuhi standar Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum No.
03/PRT/M/2014 tentang Pedoman
Perencanaan, Penyediaan, dan
Pemanfaatan Prasarana dan Sarana
Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan
Perkotaan, yaitu jarak maksimal berjalan
kaki untuk dapat mencapai halte adalah
400 meter. Aksesibilitas yang belum
memadai yaitu jarak berjalan kaki menuju
tempat henti yang cukup jauh dan
Gambar 12 Kondisi Fasilitas TPB Soragan didukung oleh fasilitas jalur pejalan kaki
1 (Atas) dan TPB Soragan 2 (Bawah) yang kurang nyaman dapat membuat
masyarakat enggan menggunakan layanan
transportasi publik.
B. P e n a n g a n a n P e r m a s a l a h a n
Transportasi Perkotaan di Perbatasan
Kota Yogyakarta-Kabupaten Sleman-
Kabupaten Bantul: Kawasan Jalan
Godean (Jatikencana-Demak Ijo)
1. Pengendalian Pergerakan Lalu Lintas
di Kawasan Jatikencana-Demak Ijo
Pengendalian pergerakan lalu lintas di
Gambar 13 Kondisi Fasilitas TPB Giant kawasan Jatikencana-Demak Ijo
(Kiri) dan dilaksanakan pada akhir tahun 2013,
TPB Dentes (Kanan) bertujuan untuk memperlancar pergerakan
arus lalu lintas di kawasan pada saat jam
2899
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
puncak. Kegiatan dilaksanakan di bawah b. Mengalihkan arus lalu lintas yang
koordinasi Forum Lalu Lintas dan menuju ke Jalan Godean dengan
Angkutan Jalan (LLAJ) DIY dan menutup jalan masuk di Simpang
dikarenakan pembahasan permasalahan di Demak Ijo (penutupan: 06.30 – 07.30
awal dilakukan di Sekretariat Bersama WIB), dilaksanakan pada 13 November
Kartamantul serta wilayah permasalahan 2013 (Gambar 15).
berada di kawasan perbatasan Yogyakarta-
Sleman-Bantul, Sekretariat Bersama
Kartamantul juga terlibat dan berperan
aktif dalam pelaksanaan kegiatan ini.
Berdasarkan hasil wawancara dengan
Dinas Perhubungan DIY dan Sekretariat
Bersama Kartamantul serta penelusuran
online, diketahui bahwa dilakukan uji coba
pengendalian pergerakan lalu lintas di
kawasan Jalan Godean (Jatikencana-
Demak Ijo) pada bulan Oktober-
November-Desember 2013, sebagai
berikut.
a. M e m a s a n g t r a f f i c c o n e y a n g
dihubungkan dengan tali di sekitar
Simpang Mirota Jalan Godean untuk
membatasi tindakan belok kanan di
tengah simpang, dilaksanakan pada 28
Oktober 2013 (Gambar 14).
Gambar 15 Uji Coba 13 November 2013
c. M e m a s a n g t r a f f i c c o n e y a n g
dihubungkan dengan tali di Simpang
Bener untuk menghalangi tindakan
belok kanan yang memotong arus di
simpang dan mengaktifkan kembali
traffic light Simpang Mirota Godean,
dilaksanakan 2 Desember 2013
(Gambar 16).
Gambar 14 Uji Coba 28 Oktober 2013
2900
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
c. Keberatan dari masyarakat, akibat
penutupan di Simpang Empat Demak
Ijo pengguna jalan dari arah barat harus
mengambil rute yang cukup jauh
melewati Ring road Utara dan Jalan
Yogyakarta-Wates untuk masuk ke
Kota Yogyakarta, serta pemasangan
pembatas berupa traffic cone yang
dihubungkan dengan tali di Simpang
Empat Mirota Godean menyulitkan
aktivitas warga sekitar terutama warga
Pedukuhan Tambak Desa Ngestiharjo.
d. Kondisi lalu lintas kembali seperti
semula karena tidak ada penjagaan
(penegakan hukum) dari aparat
kepolisian secara terus menerus
sehingga kepatuhan/kedisiplinan
pengguna jalan rendah.
e. Manajemen dan rekayasa lalu lintas
tidak dilanjutkan karena tidak dapat
mengatasi permasalahan.
2. K o o r d i n a s i Te r k a i t A n g k u t a n
Perkotaan Yogyakarta (Trans Jogja)
Kondisi angkutan perkotaan
Gambar 16 Uji Coba 2 Desember 2013 Yogyakarta (Trans Jogja) yang belum
optimal, pada kurun waktu 2013-2017
Hasil evaluasi uji coba pengendalian belum dibahas terkait hal-hal yang
pergerakan lalu lintas di kawasan Jalan menyentuh teknis di Sekretariat Bersama
Godean (Jatikencana-Demak Ijo) adalah Kartamantul, dan tidak mengkhususkan
sebagai berikut. pada Trans Jogja jalur tertentu namun
a. Tundaan di simpang Mirota Godean Trans Jogja secara umum/makro, serta
dari rata-rata 15 menit menjadi 5 menit belum dielaborasi secara mendalam.
pada uji coba 28 Oktober 2013 Pembahasan lebih bersifat diskusi/sharing
(Sekretariat Bersama Kartamantul, melalui rapat koordinasi untuk
2014). memperoleh informasi dan masukan bagi
b. Penumpukan arus dari arah timur yang pengembangan Trans Jogja. Sekretariat
semula lancar, dan tundaan akibat Bersama Kartamantul bersikap menunggu
diaktifkannya traffic light di Simpang ditetapkannya kebijakan Pemda DIY
Mirota Godean pada uji coba 2 (salah satunya adalah Rencana Induk
Desember 2013 (Sekretariat Bersama Transportasi DIY) yang lebih terarah
Kartamantul, 2014). untuk angkutan umum. Perbaikan layanan
2901
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
dan sarana-prasarana/fasilitas pendukung Dalam rangka memberikan alternatif
Trans Jogja diserahkan kepada Dinas penanganan dan didukung oleh
Perhubungan DIY untuk ditangani. Hasil masyarakat (mengapresiasi serta
diskusi/sharing di Sekretariat Bersama menindaklanjuti usulan dan inisiatif
Kartamantul diantaranya yaitu: masyarakat), Sekretariat Bersama
a. Penambahan jalur (rute) Trans Jogja Kartamantul mengkoordinasikan upaya
menjadi 17 jalur yang beroperasi di pembangunan jalan terobosan baru (jalan
perkotaan Yogyakarta pada tahun 2017, tembus), perbaikan jalan alternatif, dan
termasuk di wilayah perbatasan di sinkronisasi status jalan di kawasan yang
kawasan aglomerasi perkotaan. diharapkan dapat mengurangi kemacetan
b. Rencana transit point bus pariwisata di lalu lintas di kawasan Jalan Godean.
luar Kota Yogyakarta, kemudian
dikoneksikan dengan Trans Jogja. a. Jalan Terobosan Baru (Jalan Tembus)
Diharapkan dapat menjadi salah satu dari Jalan Manunggal Menuju Jalan
solusi untuk mengatasi kemacetan. Kyai Mojo
c. Konsep park and ride: diusulkan antara Jalan terobosan baru (jalan tembus)
lain di Terminal Giwangan, XT Square, dari Jalan Manunggal (selatan SMA N 2
Palbapang, Gabusan, dan Yogyakarta) menuju Jalan Kyai Mojo
Condongcatur. (sebelah timur Ruko Super Photo)
merupakan upaya untuk menindaklanjuti
3. Upaya Pembangunan Jalan Tembus, salah satu rekomendasi studi Road Map
Perbaikan Infrastruktur Jalan Transportasi Perkotaan Yogyakarta yaitu
Alternatif, dan Sinkronisasi Status perubahan bentuk simpang pada Simpang
Jalan di Kawasan Perbatasan Tiga Jatikencana menjadi Simpang Empat
Salah satu rekomendasi perencanaan dengan menggeser lengan pendekat Jalan
jangka panjang studi Road Map Bener ke sebelah timur.
Transportasi Perkotaan DIY Tahun 2012 Melalui serangkaian koordinasi di
dan studi DED Kawasan Jatikencana- Sekretariat Bersama Kartamantul dan juga
Demak Ijo untuk Jalan Godean di internal Pemerintah Kota Yogyakarta,
(Jatikencana-Demak Ijo) adalah pelebaran dibahas pembangunan jalan tembus
badan jalan dari 9 meter menjadi 14 meter i n i s i a s i w a rg a K e l u r a h a n B e n e r
(dari tipe 2/2 UD menjadi 4/2 D) dan Kecamatan Tegalrejo (Kota Yogyakarta).
memasang divider atau median menerus Ditunjukkan dalam Gambar 17, jalan
mulai dari Simpang Jati Kencana sampai tembus ini dapat menghubungkan rencana
dengan Simpang Demak Ijo, serta Simpang Empat Jatikencana yang berada
perbaikan geometrik simpang di di Jalan Kyai Mojo timur Ruko Super
sepanjang Jatikencana-Demak Ijo. Photo (nomor 1) dengan Jalan Manunggal
Berdasarkan informasi dari Bappeda DIY, sebelah selatan SMA N 2 Yogyakarta
sampai dengan saat ini belum terdapat (nomor 2), Jalan Bener selatan-utara
perencanaan untuk menindaklanjuti (nomor 3), Jalan Bener timur-barat (nomor
rekomendasi tersebut. 4), dan Jalan Tambak timur-barat yang
masuk wilayah Kabupaten Bantul (nomor
5). Upaya pembangunan jalan tembus ini
2902
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
masih dalam proses terkait penyiapan yang masuk ke Jalan Bener, dapat
lahan (kontribusi masyarakat secara diterapkan Sistem Satu Arah (SSA) di
sukarela) yang dikoordinasikan dengan kawasan rencana Simpang Empat
masyarakat melalui LPMK Bener Jatikencana, yaitu mulai Jalan Bener
Kecamatan Tegalrejo. Kondisi existing sampai dengan Simpang Tiga SMA N 2
rencana jalan tembus ditunjukkan dalam Yogyakarta-Jalan Manunggal sebelah
Gambar 18. selatan SMA N 2 Yogyakarta-jalan tembus
di sebelah timur Ruko Super Photo
(Gambar 19).
Gambar 17 Letak Jalan Tembus Gambar 19 Sistem Satu Arah di Jalan
Tembus
Jalan tembus diharapkan dapat
melengkapi dan menambah kapasitas
jaringan jalan di kawasan untuk membantu
mengurangi kemacetan lalu lintas di Jalan
Godean saat jam puncak terutama
mengurai kepadatan di Simpang Tiga
Bener. Jalan tembus diperkirakan
memiliki kapasitas total sebesar 2.854
smp/jam (Gambar 20).
Gambar 18 Kondisi Existing Rencana Jalan
Tembus
Untuk mengurangi kepadatan lalu
lintas di Simpang Tiga Bener dan
membatasi pergerakan arus kendaraan
keluar dari Jalan Bener sehingga tidak
terjadi konflik dengan arus kendaraan
2903
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Gambar 21 Jalan Alternatif Tambak-
Jambon
Kondisi existing Jalan Blambangan
Gambar 20 Analisis Kapasitas Jalan (Pedukuhan Blambangan, Sleman)
Tembus menuju Jembatan Blambangan (Jalan
Jambon) kira-kira sepanjang 116 meter
b. Jalan Alternatif Menghubungkan Jalan memiliki lebar sekitar 2,5 meter (jalan
Tambak-Jalan Jambon lingkungan, perkerasan conblock, terdapat
tanah belum terbangun di sisi timur jalan),
Jalan alternatif ini berada di sebelah
ditunjukkan dalam Gambar 22.
utara Jalan Godean, dapat menghubung-
kan Jalan Tambak dan Jalan Jambon, dan
bermanfaat memberikan pilihan akses
bagi masyarakat Tambak, Bener, dan
sekitarnya supaya tidak perlu ke arah
selatan melewati Jalan Godean (Simpang
Empat Mirota Godean atau Simpang Tiga
Bener), melainkan dapat langsung ke arah
utara melewati Jalan Jambon, untuk
menuju Jalan Magelang atau Ring road
Barat (Gambar 21). Demikian juga dengan
masyarakat yang akan menuju kawasan
Tambak atau Bener, tidak perlu melewati
Jalan Godean, melainkan dapat melewati
Jalan Jambon dan masuk ke Jalan Gambar 22 Jalan Blambangan, Pedukuhan
Blambangan. Blambangan
2904
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Upaya penanganan dalam tahap c. Jalan Alternatif Menghubungkan Jalan
koordinasi usulan penyeragaman status HOS Cokroaminoto-Soragan Utara Rel
dan dimensi jalan antara Kabupaten Bantul KA-STPN-Ring road Barat
dan Kabupaten Sleman, yaitu sinkronisasi Jalan alternatif ini berada di sebelah
Jalan Blambangan (jalan lingkungan) selatan Jalan Godean yang dapat
dengan Jalan Tambak (jalan kabupaten, menghubungkan Jalan HOS
lebar 5 meter) di Kabupaten Bantul Cokroaminoto-Jalan Soragan sebelah
(Gambar 23), dan koordinasi dengan utara rel KA-Jalan Sumberan-Jalan Titi
Dinas PUP ESDM DIY untuk pengusulan Bumi Timur-Kampus STPN-Jalan
perbaikan infrastuktur. C o k r o w i j a y a n - R i n g ro a d B a r a t ,
sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar
24.
Gambar 24 Jalan Alternatif
Menghubungkan Jalan HOS Cokroaminoto-
Gambar 23 Jalan Tambak Berstatus Jalan Ring road Barat
Kabupaten
Berdasarkan hasil observasi, rata-rata
Dimungkinkan mengalihkan arus lebar jalan adalah 4 meter (aspal, dalam
kendaraan dari arah selatan (Jalan Tambak kondisi baik) dan dapat memanfaatkan
dan sekitarnya) menuju ke utara (Jembatan bahu jalan (terdapat bahu jalan di salah
Blambangan/Jalan Jambon) pada saat jam satu sisi jalan dengan lebar kira-kira 1
puncak untuk mengurangi beban lalu lintas meter-1,5 meter). Untuk Jalan
di Jalan Godean karena angka derajat Cokrowijayan menuju dan setelah
kejenuhan di ruas Jalan Jambon (depan Jembatan Cokrowijayan memiliki lebar
Sindu Kusuma Edupark) sesuai data Dinas yang representatif yaitu 6 meter. Kondisi
Perhubungan DIY (2017) masih rendah Jalan Sumberan di Pedukuhan Sumberan
yaitu 0,33 (06.30-07.30 WIB), 0,19 Desa Ngestiharjo Kecamatan Kasihan
(11.30-12.30 WIB), dan 0,21 (15.30-16.30 Kabupaten Bantul berupa perkerasan
WIB). conblock, kira-kira sepanjang 320 meter
dengan lebar rata-rata 3,5 meter ditambah
selokan tertutup (cor semen) di salah satu
sisinya selebar 1 meter (total lebar 4,5
meter), sebagaimana ditunjukkan dalam
Gambar 25.
2905
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Gambar 25 Gambaran Kondisi Jalan
Alternatif Menghubungkan Jalan HOS
Cokroaminoto-Ring road Barat
Jalan alternatif ini memiliki akses yang
cukup baik untuk dapat dimanfaatkan
dalam melakukan perjalanan menerus Gambar 26 Kerusakan di Jembatan
menuju Kota Yogyakarta (Jalan HOS Sumberan-Banyuraden
Cokroaminoto) atau Ring road Barat tanpa
Sumber: Sekretariat Bersama Kartamantul
melewati Jalan Godean, terutama tidak
perlu melewati Simpang Tiga Bener,
Simpang Empat Mirota Godean, dan Penanganan permasalahan dilakukan
Simpang Empat Patran. melalui survei untuk mengklarifikasi batas
wilayah administratif di jembatan, serta
Permasalahan utama di jalan alternatif
koordinasi dan mediasi antara pihak
ini adalah kerusakan di jembatan
Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman.
perbatasan Pedukuhan Sumberan Desa
Diperoleh kejelasan dan kesepakatan
Ngestiharjo (Kecamatan Kasihan
bahwa letak kerusakan jembatan masuk ke
Kabupaten Bantul) dan Desa Banyuraden
wilayah administratif Kabupaten Bantul
(Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman)
yaitu berada di tanah kas Desa Ngestiharjo
yaitu talud jembatan ambrol sehingga
Kecamatan Kasihan, selanjutnya
menyulitkan dan membahayakan
Pemerintah Kabupaten Bantul sepakat
kendaraan yang melintas, terutama mobil
melakukan perbaikan talud jembatan
(Gambar 26).
karena batas kewenangan sudah jelas.
Perbaikan talud dan drainase jembatan
dilakukan melalui kegiatan padat karya
2906
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
produktif dan infrastruktur pada Dinas d. Sinkronisasi Status Jalan di Kawasan
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Upaya sinkronisasi status jalan di
Bantul. Perbaikan selesai pada bulan kawasan dilakukan dalam rangka
November 2017 (Gambar 27). menjamin pemeliharaan dan terwujud
keseragaman dimensi jalan (bermanfaat
untuk menghindari penyempitan/ bottle
neck) sehingga diharapkan dapat
memperlancar pergerakan arus kendaraan
di kawasan. Temuan penelitian terkait
upaya penanganan melalui sinkronisasi
status jalan adalah sebagai berikut.
1) Disepakati Perjanjian Kerja Sama
antara Pemkab Bantul, Pemkab
Sleman, dan Pemkot Yogyakarta
No.18/PK/Bt2014, No.
62.1/PK.KDH/A/2014, dan No.
51/Perj.YK/2014 tentang Pengelolaan
Prasarana dan Sarana Jalan di Wilayah
Perbatasan, untuk mewujudkan
sinkronisasi pengelolaan prasarana dan
sarana jalan di wilayah perbatasan
Kartamantul.
2) Dilakukan sinkronisasi ruas Jalan
Tambak-Batas Kota dengan ruas Jalan
Bener (timur-barat) yang sudah
berstatus Jalan Kota (SK Walikota
Yogyakarta No. 214/KEP/2013 tentang
Penetapan Ruas-Ruas Jalan Menurut
Gambar 27 Jembatan Sumberan- Kelasnya di Kota Yogyakarta) melalui:
Banyuraden Setelah Penanganan a) peningkatan status ruas Jalan
Tambak-Batas Kota menjadi jalan
Dimungkinkan untuk mengalihkan kabupaten pada tahun 2014 (SK
arus kendaraan menuju Jalan HOS Bupati Bantul No. 355 Tahun 2014
Cokroaminoto pada saat jam puncak untuk tentang Status Jalan dan Jembatan
mengurangi beban lalu lintas di Jalan di Kab. Bantul, diperbarui dengan
Godean karena angka derajat kejenuhan di SK Bupati Bantul No. 315 Tahun
Jalan HOS Cokroaminoto sesuai data 2015) dan dilakukan pemeliharaan
Dinas Perhubungan DIY (2017) masih ruas jalan pada tahun 2015.
rendah yaitu 0,29 (06.30-07.30 WIB), 0,26 b) penetapan sebagai lokasi kerja sama
(11.45-12.45 WIB), dan 0,37 (16.00-17.00 pengelolaan prasarana dan sarana
WIB). jalan di wilayah perbatasan
Kartamantul, yaitu ruas Jalan
2907
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Bener: 827 meter (Kecamatan ke kawasan Jatikencana-Demak Ijo,
Tegalrejo Kota Yogyakarta) dan kendaraan pribadi masih menjadi moda
ruas Jalan Tambak-Batas Kota: 180 transportasi favorit bagi masyarakat.
meter (Kecamatan Kasihan
Kabupaten Bantul). 2. Diketahui bahwa melalui koordinasi di
3) Diusulkan sinkronisasi status dan Sekretariat Bersama Kartamantul,
dimensi Jalan Blambangan dengan penanganan permasalahan transportasi
Jalan Tambak. perkotaan di perbatasan Kota Yogyakarta-
Kabupaten Sleman-Kabupaten Bantul
KESIMPULAN DAN SARAN pada kawasan Jalan Godean (Jatikencana-
Berdasarkan hasil dan pembahasan, diperoleh Demak Ijo) yaitu kemacetan lalu lintas,
kesimpulan sebagai berikut. dilakukan dengan dua pendekatan yaitu:
1. Permasalahan transportasi perkotaan di a. Manajemen dan rekayasa lalu lintas
perbatasan Kota Yogyakarta-Kabupaten melalui uji coba pengendalian
Sleman-Kabupaten Bantul pada kawasan pergerakan lalu lintas di kawasan
Jalan Godean (Jatikencana-Demak Ijo) Jatikencana-Demak Ijo yang bertujuan
meliputi: untuk memperlancar pergerakan arus
a. Kemacetan lalu lintas pada saat jam kendaraan di kawasan pada saat jam
puncak yang diantaranya dipengaruhi puncak.
oleh kinerja ruas jalan dan simpang b. Peningkatan kapasitas prasarana di
yang tidak memadai, penggunaan lahan kawasan melalui upaya pembangunan
di kawasan sebagai pusat kegiatan jalan tembus dari Jalan Manunggal
perekonomian/komersial dan selatan SMA N 2 Yogyakarta menuju
pemukiman sehingga mendorong Jalan Kyai Mojo timur Simpang Tiga
tarikan dan bangkitan perjalanan yang Jatikencana/timur Super Photo untuk
tinggi di kawasan ini, pertumbuhan mengurangi kepadatan lalu lintas di
kendaraan bermotor di DIY yang Simpang Tiga Bener pada saat jam
meningkat setiap tahun tanpa puncak; upaya perbaikan infrastruktur
diimbangi dengan penambahan jalan alternatif di utara yang
kapasitas jalan, dan lalu lintas yang menghubungkan Jalan Tambak-Jalan
bersifat mixed traffic. Jambon dan di selatan yang meng-
b. K o n d i s i a n g k u t a n P e r k o t a a n hubungkan Jalan HOS Cokroaminoto-
Yogyakarta (Trans Jogja), khususnya Soragan utara rel KA-STPN-Ring road
Trans Jogja Jalur 8 yang melintasi Barat yang dapat dimanfaatkan sebagai
Jatikencana-Demak Ijo, belum jalur alternatif pengalihan arus untuk
optimal. Diantaranya ditunjukkan dari mengurangi kepadatan lalu lintas di
load factor yang rendah, headway yang Jalan Godean pada saat jam puncak;
besar, dan aksesibilitas yang belum serta upaya sinkronisasi status dan
memenuhi standar. Animo masyarakat dimensi jalan di perbatasan yang
masih rendah untuk menggunakan bermanfaat untuk menghindari
layanan Trans Jogja dari atau menuju penyempitan dan memperlancar
pergerakan arus lalu lintas di kawasan.
2908
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
3. Terkait kondisi angkutan perkotaan Kartamantul dapat memberikan aspek/
Yogyakarta (Trans Jogja), pembahasan pertimbangan baru dalam penanganan
sebatas dilakukan diskusi/sharing diantara permasalahan transportasi perkotaan di
stakeholders di Sekretariat Bersama wilayah perbatasan dalam kawasan
Kartamantul untuk memperoleh informasi aglomerasi dan bisa diimplementasikan di
dan masukan bagi pengembangan Trans lokasi lain dengan karakteristik
Jogja secara umum. permasalahan yang sama.
4. Salah satu kendala yang dihadapi dalam
penanganan permasalahan adalah tidak Saran yang dapat diberikan adalah sebagai
semua penggal jalan alternatif memiliki berikut.
dimensi yang seragam dan rata-rata 1. Penambahan kapasitas jalan dengan
memiliki lebar antara 3-4 meter. Jalan membuka link baru atau pelebaran jalan
alternatif ini dapat dimanfaatkan untuk dapat merangsang peningkatan
jenis kendaraan sepeda motor karena penggunaan kendaraan bermotor sehingga
kondisi transportasi Perkotaan Yogyakarta solusi ini sebaiknya dilakukan secara hati-
didominasi oleh kendaraan pribadi dengan hati dan perlu diperhatikan resiko terhadap
porsi paling banyak yaitu sepeda motor aspek keselamatan (safety) di jalan tembus
sehingga sepeda motor juga memberikan dan jalan alternatif mengingat jalan ini
kontribusi terhadap terjadinya kemacetan melewati kawasan pemukiman.
lalu lintas. Munawar dalam UGM (2013) 2. Mengintensifkan kembali pembahasan/
menyebutkan bahwa kondisi transportasi diskusi terkait angkutan publik (angkutan
perkotaan Yogyakarta didominasi oleh perkotaan dan angkutan perbatasan) di
kendaraan pribadi sebesar 81% dengan Sekretariat Bersama Kartamantul
porsi paling banyak yaitu 74% ditempati mengingat sudah pernah disepakati
oleh sepeda motor. Perjanjian Kerja Sama antara Pemerintah
5. Upaya penanganan yang dilakukan Kabupaten Bantul dan Pemerintah Kota
melalui koordinasi di Sekretariat Bersama Yogyakarta pada tahun 2010 tentang
Kartamantul belum dapat dilihat angkutan perbatasan, dan program
dampaknya terhadap kondisi lalu lintas kerja/kegiatan tahun 2004-2012 cukup
Jalan Godean (Jatikencana-Demak Ijo), banyak membahas tentang angkutan
dikarenakan proses penanganan masih perbatasan dan angkutan perkotaan,
dilakukan atau belum selesai. Namun, sehingga isu-isu tersebut berpeluang untuk
ketika rekomendasi pelebaran Jalan dapat dieksplorasi kembali.
Godean belum dapat dilaksanakan, 3. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut
Sekretariat Bersama Kartamantul mengenai aspek teknis jalan tembus dan
menyediakan alternatif penanganan bagi jalan alternatif supaya sesuai dengan
Pemerintah Daerah dan didukung oleh standar teknis jalan dan keselamatan oleh
masyarakat. Peran dan kontribusi OPD teknis atau yang terkait.
masyarakat tentunya diperlukan oleh 4. Perlu dilakukan manajemen dan rekayasa
Pemerintah Daerah dalam penanganan lalu lintas melalui simulasi/uji coba dalam
permasalahan transportasi di wilayah lingkup kawasan setelah jalan tembus dan
perbatasan. Model penanganan yang jalan alternatif terealisasi (melalui Forum
dilakukan oleh Sekretariat Bersama LLAJ DIY).
2909
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
5. Dapat dilakukan penelitian lebih lanjut Dishubkominfo DIY, 2014. Laporan Akhir
terkait sistem lalu lintas di kawasan Penyusunan DED Kawasan Jatikencana-
dengan adanya jalan tembus dan jalan Demak Ijo. Yogyakarta: Dishubkominfo
alternatif, misalnya dengan melakukan DIY.
pemodelan transportasi menggunakan
software, serta penelitian lain terkait Dinas Perhubungan DIY, 2017. Laporan
pengaruh/dampak, efektifitas, atau Akhir Studi Evaluasi Kinerja Ruas Jalan
kemanfaatan jalan tembus dan jalan dan Simpang Perkotaan Tahun 2017.
alternatif terhadap pengurangan Yogyakarta: Dinas Perhubungan DIY.
kemacetan lalu lintas di kawasan Jalan
Godean (Jatikencana-Demak Ijo). Dinas Perhubungan DIY, 2017. Laporan
Operasional Trans Jogja Tahun 2017
(Juli-Desember). Yogyakarta: Dinas
UCAPAN TERIMA KASIH Perhubungan DIY.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Jenderal Bina Marga, 1997.
Prof. Dr. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., Dr. Manual Kapasitas Jalan Indonesia
Eng. Imam Muthohar, S.T., M.T., Pemerintah (MKJI). Jakarta: Direktorat Jenderal Bina
Kabupaten Bantul, Sekretariat Bersama Marga.
Kartamantul, Dinas Perhubungan DIY, dan
para pihak lainnya yang telah membantu Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 2002.
penelitian ini. Keputusan Direktur Jenderal
Perhubungan Darat Nomor
DAFTAR PUSTAKA SK.687/AJ.206/DRDJ/2002 tentang
Pedoman Teknis Penyelenggaraan
BPS Provinsi D.I. Yogyakarta, 2012-2016. Angkutan Umum di Wilayah Perkotaan
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Trayek Tetap dan Teratur. Jakarta:
Dalam Angka 2012-2016. Yogyakarta: Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
BPS D.I. Yogyakarta.
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 2014.
Briggs, Valerie, 2001. Operations in a Pengembangan Sarana dan Prasarana
Regional Transportation Organization Transportasi Perkotaan. Disampaikan
Environment. Institute of Transportation d a l a m R a p a t K o o r d i n a s i Te k n i s
Engineers. ITE Journal; Jan 2001; 71, 1; Perhubungan Darat di Yogyakarta pada
ABI/INFORM Collection. pg. 32. bulan Oktober 2014. [Online] Available at:
http://hubdat.dephub.go.id [Accessed 17
Dishubkominfo DIY, 2012. Road Map August 2017].
Transportasi Perkotaan Daerah Istimewa
Yogyakarta. Yogyakarta: Dishubkominfo Kementerian Pekerjaan Umum, 2014.
DIY. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor 03/PRT/M/2014 tentang Pedoman
P e re n c a n a a n , P e n y e d i a a n , d a n
Pemanfaatan Prasarana dan Sarana
2910
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Nomor 10/Perj/Bt/2001, Nomor 08/
Perkotaan. Jakarta: Kementerian PK.KDH/2001, dan Nomor 05/PK/2001
Pekerjaan Umum. tentang Pengelolaan Prasarana dan
Sarana Sistem Transportasi.
Kementerian Perhubungan, 2013. Peraturan
Menteri Perhubungan Nomor 98 Tahun Pemerintah Kabupaten Bantul, Pemerintah
2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Kabupaten Sleman, dan Pemerintah Kota
Angkutan Orang dengan Kendaraan Yogyakarta, 2014. Perjanjian Kerja Sama
Bermotor Umum dalam Trayek. Jakarta: antara Pemerintah Kabupaten Bantul,
Kementerian Perhubungan. Pemerintah Kabupaten Sleman, dan
Pemerintah Kota Yogyakarta Nomor
Kementerian Perhubungan, 2015. Peraturan 18/PK/Bt/2014, Nomor 62.1/
Menteri Perhubungan Nomor PM 96 PK.KDH/A/2014, dan Nomor 51/Perj.YK/
Ta h u n 2 0 1 5 t e n t a n g P e d o m a n 2014 tentang Pengelolaan Prasarana dan
Pelaksanaan Kegiatan Manajemen dan Sarana Jalan di Wilayah Perbatasan.
Rekayasa Lalulintas. Jakarta:
Kementerian Perhubungan. Pemerintah Provinsi DIY, 2010. Peraturan
Daerah Provinsi Daerah Istimewa
Pemerintah Kabupaten Bantul, 2014. Yogyakarta Nomor 2 Tahun 2010 tentang
Keputusan Bupati Bantul Nomor 355 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Tahun 2014 tentang Status Jalan dan Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009-
Jembatan di Kabupaten Bantul. Bantul: 2029. Yogyakarta: Pemerintah Provinsi
Pemerintah Kabupaten Bantul. DIY.
Pemerintah Kabupaten Bantul, 2015. Pemerintah Provinsi DIY, 2016. Keputusan
Keputusan Bupati Bantul Nomor 315 Gubernur DIY Nomor 117/KEP/2016
Tahun 2015 tentang Status Jalan dan tentang Penetapan Fungsi Jalan Kolektor
Jembatan di Kabupaten Bantul. Bantul: 2 dan Jalan Kolektor 3 dalam Sistem
Pemerintah Kabupaten Bantul. Jaringan Jalan Primer. Yogyakarta:
Pemerintah Provinsi DIY.
Pemerintah Kota Yogyakarta, 2013.
Keputusan Walikota Yogyakarta Nomor Pemerintah Provinsi DIY, 2016. Keputusan
214/KEP/2013 tentang Penetapan Ruas- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
Ruas Jalan Menurut Kelasnya di Kota Nomor 118/KEP/2016 tentang Penetapan
Yogyakarta. Yogyakarta: Pemerintah Kota Status Ruas Jalan Provinsi. Yogyakarta:
Yogyakarta. Pemerintah Provinsi DIY.
Pemerintah Kabupaten Bantul, Pemerintah Saputra, Okta Fajar, 2017. Simulasi Landuse
Kabupaten Sleman, dan Pemerintah Kota d a n Tr a n s p o r t a s i M a s s a l U n t u k
Yogyakarta, 2001. Perjanjian Kerja Sama Pemodelan Pelayanan Jalan di Koridor
antara Pemerintah Kabupaten Bantul, Jalan Godean. Tesis. Yogyakarta: UGM.
Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta
2911
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
Sekretariat Bersama Kartamantul, 2014. Tamin, Ofyar Z., 1999. Konsep Manajemen
Rekayasa Lalu Lintas Jalan Godean: Kebutuhan Transportasi (MKT) Sebagai
Mengurai Kemacetan Simpang Mirota- Alternatif Pemecahan Masalah
B e n e r . [ O n l i n e ] Av a i l a b l e a t : Transportasi Perkotaan di DKI Jakarta.
http://kartamantul.jogjaprov.go.id/?p=10 Jurnal PWK. Vol. 10, No. 1/Maret 1999.
[Accessed 25 November 2017].
Tamin, Ofyar Z., 2000. Perencanaan dan
Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Pemodelan Transportasi. Edisi Kedua.
Manajemen, Pendekatan: Kuantitatif, Bandung: Penerbit ITB.
Kualitatif, Kombinasi (Mixed Methods),
Penelitian Tindakan (Action Research), UGM, 2013. Kemacetan di Ruas Jalan Kota
Penelitian Evaluasi. Bandung: Alfabeta. Yogyakarta Bisa Capai 45 Persen.
[Online] Available at:
http://www.ugm.ac.id/id/post/page?
id=5370 [Accessed 16 July 2017].
2912
Jurnal Riset Daerah Vol. XVII, No.1. April 2018
BIODATA PENULIS
Ani Meidiani adalah mahasiswa pada Program Studi Magister Sistem dan Teknik
Transportasi Universitas Gadjah Mada.
1. Riwayat pendidikan: S1 Ilmu Hubungan Internasional, FISIPOL, Universitas Gadjah
Mada
2. Riwayat pekerjaan: Analis Kerjasama pada Bagian Kerjasama dan Pengembangan
Potensi Daerah Setda Kabupaten Bantul (2009-2016), Pegawai Negeri Sipil Tugas
Belajar pada Bagian Administrasi Perekonomian Setda Kabupaten Bantul (2017-
sekarang)
Prof. Dr. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D. adalah Dosen pada Departemen Teknik Sipil dan
Lingkungan Universitas Gadjah Mada.
1. Riwayat pendidikan:
Ir.: Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
M.Sc.: Transport Planning and Engineering, Leeds University, United Kingdom
Dr.: Transport Planning and Engineering, Leeds University, United Kingdom
2. Bidang keahlian: Transport Planning and Engineering
3. Membership: HPJI, PPI, Global Road Safety Partnership Indonesia, FSTPT (Forum
Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi), MASKA (Masyarakat Perkeretaapian
Indonesia), DRD (Dewan Riset Daerah) DIY
Dr. Eng. Imam Muthohar, S.T., M.T. adalah Dosen pada Departemen Teknik Sipil dan
Lingkungan Universitas Gadjah Mada.
1. Riwayat pendidikan:
S.T.: Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
M.T.: MSTT, Teknik Sipil, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Dr. Eng.: Department of Urban and Environmental Engineering, Kyushu University,
Jepang
2. Bidang keahlian: Transport Planning, Transport Policy, Economic Transport, Railway
Engineering
3. Membership: MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia), FSTPT (Forum Studi
Transportasi antar Perguruan Tinggi), EASTS (The Eastern Asia Society for Transport
Student), Pendidik Profesional Bidang Ilmu Teknik Sipil
2913