0% found this document useful (0 votes)
36 views6 pages

Pengaruh Seleksi Bobot Sapih Dan Bobot Setahun Terhadap Laju Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole Di Foundation Stock

This document summarizes a study on the effect of weaning weight and yearling weight selection on the growth rate of Peranakan Ongole cattle in a foundation stock in Indonesia. The study found that selecting cattle based on their weight at 365 days old resulted in higher adult body weights (540 days) compared to selection at 205 days old. Selection at 365 days also had higher correlation and determination levels than selection at 205 days. Therefore, selection done at 365 days of age will provide more consistent and better population results.

Uploaded by

Mulyati Iskandar
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
36 views6 pages

Pengaruh Seleksi Bobot Sapih Dan Bobot Setahun Terhadap Laju Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole Di Foundation Stock

This document summarizes a study on the effect of weaning weight and yearling weight selection on the growth rate of Peranakan Ongole cattle in a foundation stock in Indonesia. The study found that selecting cattle based on their weight at 365 days old resulted in higher adult body weights (540 days) compared to selection at 205 days old. Selection at 365 days also had higher correlation and determination levels than selection at 205 days. Therefore, selection done at 365 days of age will provide more consistent and better population results.

Uploaded by

Mulyati Iskandar
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007

PENGARUH SELEKSI BOBOT SAPIH DAN BOBOT


SETAHUN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN SAPI
PERANAKAN ONGOLE DI FOUNDATION STOCK
(Effect of Weaning Weight and Yearling Weight Selection on Growth Rate of
Peranakan Ongole Cattle in Foundation Stock)
DIDI BUDI WIJONO

Loka Penelitian Sapi Potong, Jl. Pahlawan No. 2, Grati, Pasuruan 67184

ABSTRACT

Beef cattle selection based on live weight is an effort to get good offspring with high growth rate
(productivity) requires the right time and is expected not to eliminate good genetic factor due to
environmental effect. The study was conducted to select cattle based on live weight with optimal growth rate.
Thirty three offspring from 60 PO cows were used as foundation stock at Beef Cattle Research Station.
Offsprings were weighed every 2 3 months. Live weight was converted to live weight at 205, 365, 450 and
540 days and analyzed with t test and continued with regression-correlation analysis. Results indicated that
selection based on weaning age (205 day) resulted in lower adult body weight (540 days) than selected at 365
days, (167.87 kg vs 175.27 kg), moreover the population reaching the same adult body weight (540 days)
decreased by 33.33%. The weight at 365 days old age was under the value of average weight of foundation
stock population. The correlation level and determination level of selection of live weight 365 day were
higher (r = 0.79 of R2 = 0.63) than that of selection at 205 days (r = 0.59 and R2 = 0.35). Therefore selection
done at 365 day of age will give consistent result and better population.
Key Words: Selection, Growth Rate, Age, PO Cattle

ABSTRAK

Seleksi sapi potong berdasarkan bobot hidup merupakan upaya untuk mendapatkan keturunan yang
memiliki laju pertumbuhan (produktivitas) yang tinggi, diperlukan waktu yang tepat dan diharapkan tidak
menghilangkan faktor genetik yang baik akibat pengaruh lingkungan yang tidak menguntungkan. Penelitian
dilakukan untuk mendapatkan seleksi berdasarkan bobot hidup dengan laju pertumbuhan yang optimal.
Materi yang digunakan adalah sapi potong PO di foundation stock Loka Penelitian Sapi Potong sebanyak 33
ekor dari kelahiran 60 ekor induk. Pengumpulan data dilakukan terhadap parameter bobot hidup secara
berkelanjutan dengan jarak penimbangan 2 3 bulan sekali. Bobot hidup dikonversi ke dalam bobot hidup
205, 365, 450 dan 540 hari. Analisis data digunakan uji beda t dan dilanjutkan analisis regresi-korelasi. Hasil
pengamatan menunjukkan bahwa seleksi berdasarkan umur sapih (205 hari) mendapatkan berat badan dewasa
(540 hari) lebih rendah dibanding seleksi pada umur 365 hari yaitu 167,87 dan 175,27 kg, disamping itu pada
seleksi 205 hari terjadi penurunan jumlah ternak sebanyak 33,33% untuk mencapai bobot hidup dewasa yang
sama (540 hari). Demikian pula pada saat umur mencapai 365 hari memiliki bobot hidup dibawah nilai rataan
populasi kelompok foundation stock. Disamping itu tingkat korelasi dan diterminasi tertinggi pada seleksi
bobot hidup 365 hari (r = 0,79 dan R2 = 0,63) dibanding seleksi 205 hari (r = 0,59 dan R2 = 0,35). Sehingga
seleksi yang dilakukan pada umur 365 hari akan memberikan hasil yang lebih baik dan konsisten
populasinya.
Kata Kunci: Seleksi, Laju Pertumbuhan, Umur, Sapi PO

PENDAHULUAN inbreeding, pemotongan sapi berkualitas dan


betina produktif, disamping faktor manajemen
Isu klasik bahwa sapi potong lokal telah terutama kekurangan gizi pakan secara terus-
mengalami penurunan mutu yang diperkirakan menerus (TOELIHERE, 2002). Guna mendukung
akibat terjadinya seleksi negatif yaitu penyediaan bibit berkualitas selayaknya

264
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007

dibentuk kelompok-kelompok pembibitan yang Bobot 365 = (BH akhir BH awal)/(jumlah


diharapkan mampu bertindak sebagai penyedia hari) x 160 + Bobot 205.
sapi potong bakalan sebagi calon bibit (cow- Bobot 450 = (BH akhir BH awal)/(jumlah
calf-operation). hari) x 85 + Bobot 365.
Perbibitan merupakan salah satu upaya Bobot 540 = (BH akhir BH awal)/(jumlah
pengembangan penyediaan bibit yang pada hari) x 90 + Bobot 450.
dasarnya kurang menarik bagi pengusaha dan
ekonomi cow-calf operation kurang Bobot hidup (BH) awal dan bobot hidup
menguntungkan, yang diakibatkan oleh hasil (BH) akhir adalah bobot hidup saat
produksi yang diharapkan berjalan cukup lama penimbangan awal dan akhir diantara umur
dan populasi besar disamping kebutuhan faktor 365, 450 dan 540 hari, bobot hidup (BH) sapih
finansial yang besar pula (HUSODO,. 2000). penimbangan dilakukan saat penyapihan,
Pengembangan perbibitan dengan segala sedangkan jumlah hari adalah selisih tanggal
keterbatasannya masih sangat diperlukan guna penimbangan awal dan akhir dan hasil baginya
mempertahankan sapi potong lokal yang merupakan pertambahan bobot harian.
memiliki produktivitas yang tinggi dan telah Kriteria seleksi yang digunakan berdasarkan
berkembang dengan baik pada kondisi daerah kepada kelompok bobot hidup di atas dan di
tropis yang memiliki lingkungan yang berat. bawah rataan sampel di setiap kelompok umur.
Untuk itu diperlukan alternatif pendukung Data hasil pengamatan dilakukan analisis beda
dalam melakukan pemilihan atau seleksi t antar kelompok dan dilanjutkan dengan uji
dengan populasi yang terbatas akan tetapi regresi.
memiliki hasil dengan produktivitas yang lebih
tinggi sehingga pembibitan yang dilakukan HASIL DAN PEMBAHASAN
lebih efisien.
Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu Korelasi umur seleksi
faktor pertumbuhan yang dapat digunakan
sebagai parameter seleksi yaitu seleksi Seleksi merupakan suatu tindakan
berdasarkan berat badan dan umur optimal pemilihan ternak berdasarkan tampilan
untuk mendapatkan laju pertumbuhan yang morfologi untuk mendapatkan sapi potong
maksimal. yang memiliki laju pertumbuhan yang tinggi
dan mendukung pembentukan kelompok sapi
MATERI DAN METODE potong unggul. Sebagaimana diketahui bahwa
fenotipe dipengaruhi oleh faktor genetik dan
Penelitian dilakukan di Loka Penelitian lingkungan diantaranya penyakit, suplai pakan,
Sapi Potong dengan memanfaatkan sapi potong temperatur lingkungan dan faktor lain yang
Peranakan Ongole yang dikembangkan sebagai dialami sejak lahir sampai menjelang mati
kelompok dasar (foundation stock) dan (WARWICK et al., 1983; LASLEY, 1978).
pengamatan dilakukan sejak tahun 2004 Demikian pula sifat morfologi dapat digunakan
2006. Materi yang digunakan sebanyak 33 ekor sebagai faktor seleksi terhadap pengaruh sifat
pedet yang dilahirkan dari induk hasil yang tidak menguntungkan dan dapat diketahui
penjaringan sebanyak 60 ekor. Penimbangan lebih awal (FRIES dan RUVINSKY, 1999).
bobot hidup yang digunakan sebagai parameter Hasil penelitian terhadap perlakukan seleksi
pertumbuhan dilakukan secara berkelanjutan 2 yang dilakukan berdasarkan bobot hidup sapih
3 bulan sekali untuk mendapatkan bobot yang dikonversi yaitu pada umur 205 hari
hidup yaitu bobot lahir yang ditimbang kurang (sapih) dan umur 365 hari menunjukkan bahwa
dari 24 jam, bobot hidup umur 205 hari, 365 seleksi yang dilakukan pada saat umur sapih
hari (yearling), 450 hari dan 540 hari (dewasa). sebesar 104 kg dan pada saat umur 540 hari
Faktor koreksi bobot hidup yang digunakan (dewasa) bobot hidup yang dicapai sebesar
untuk: 167,87 kg dengan pertambahan bobot hidup
Bobot 205 = (BH sapih BH awal)/(jumlah sebesar 61,42%. Sedangkan sapi pedet yang
hari) x 205 + Bobot lahir. diseleksi pada umur 365 hari memiliki bobot
hidup saat seleksi 133,56 kg dan berat badan
dewasa yang dicapai lebih tinggi sebesar

265
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007

175,27 kg akan tetapi dilihat dari bobot sapih hari sehingga hasil seleksi yang mampu
(205 hari) lebih rendah yaitu 95,40 kg. mencapai laju pertumbuhan yang diharapkan
Rendahnya pengaruh lingkungan pakan menjadi 63,67%, sedangkan seleksi setelah 363
terhadap laju pertumbuhan setelah lepas sapih hari tidak terjadi perubahan hasil. Hal ini
memberikan peluang terhadap perlakuan menunjukkan bahwa pemilihan bobot hidup
seleksi lepas sapih untuk mendapatkan diatas rataan pada umur sapihan masih
ketepatan yang lebih mendekati realita didapatkan sapi yang memiliki kemampuan
peningkatan bobot hidup yang memadai. ROY laju pertumbuhan yang rendah dan sebaliknya
(1980) mengemukakan bahwa pola pemberian masih didapatkan sapi yang memiliki bobot
pakan pada sapi tidak berpengaruh terhadap yang rendah akan tetapi memiliki potensi yang
kemampuan pencernaan bahan pakan baik memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Pedet
berbentuk hay, konsentrat atau keduanya yang baru disapih masih dalam proses biologis
setelah berumur 4 bulan 2 tahun. Demikian terhadap perkembangan fungsi organ
pula menurut BURNHAM et al (2000) bahwa pencernaan sehingga fungsi organ pencernaan
pertambahan bobot hidup dan konsumsi pakan sapi lepas sapih belum maksimal terutama
sapi dara dan pejantan muda mulai umur 9 25 rumen dan reticulum sehingga belum mampu
bulan tidak menunjukkan adanya perbedaan menjadi ruminan sejati (TILLMAN et al., 1998;
yang signifikan. LEIBHOIZ, 1975).
Walaupun demikian berdasarkan hasil Menurut BARKER et al. (1979) bahwa
pengamatan menunjukkan bahwa bobot hidup bobot lahir, pertambahan bobot hidup prasapih
dan umur pada saat pelaksanaan seleksi dengan dan bobot sapih dipengaruhi oleh faktor
bobot hidup dewasa (540 hari) memiliki genetik dengan nilai heritabilitas secara
keeratan hubungan yang tinggi, sehingga target berurutan sebesar 0,40; 0,30; dan 0,30.
seleksi akan berbicara lain. Seleksi yang Sedangkan faktor lingkungan yang
dilakukan pada saat umur sapih (205 hari) berpengaruh antara lain induk terhadap
memiliki tingkat korelasi yang tinggi (r = 0,59) kemampuan produksi susu, iklim (musim) dan
akan tetapi memiliki koefisien determinasi tata laksana pemeliharaan yaitu masing-masing
yang rendah (R2 = 0,35), menunjukkan sebesar 0,60, 0,70 dan 0,70. Hal ini
keberhasilannya masih lebih besar dipengaruhi menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan
faktor lain antara lain morfologi ternak. sangat tinggi terhadap laju pertumbuhan
Seleksi yang dilakukan setelah berumur dibandingkan dengan pengaruh genetik dan
365 hari menunjukkan korelasi yang lebih semakin tinggi dengan bertambahnya umur.
tinggi yaitu r = 0,79, demikian pula koefisien WIJONO et al. (2005) mendapatkan bahwa
determinasi yang dihasilkan lebih tinggi (0,63), terdapat korelasi positif yang sangat tinggi
sehingga keberhasilannya akan lebih tinggi pada hubungan bobot sapih dengan bobot
dengan lebih rendahnya pengaruh lain. hidup 365 hari sebesar r = 74 dan hubungan
Kemungkinan faktor genetik turut berperan yang rendah dengan bobot lahir r = 0,22.
dalam mempengaruhi laju pertumbuhan saat Percepatan seleksi dengan memanfaatkan
disapih sampai berat badan dewasa, menurut bobot sapih dapat dilakukan dengan
DALTON (1980) bahwa tampilan luar (fenotipe pertimbangan faktor lain yang tampak dari
dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan morfologinya dan memiliki sifat genotipe yang
dan interaksi keduanya. tinggi, heritabilitas yang besar akan membawa
Untuk menghasilkan bobot hidup yang faktor keturunan yang sesuai. Sebagaimana
sama (540 hari) yaitu sebesar 175,27 kg pada dinyatakan HINOJOSA et al. (2003) bahwa
perlakuan seleksi umur sapihan (205 hari) bobot sapih yang tinggi nantinya akan
terjadi pengurangan sapi sebanyak 33,33% menghasilkan sapi dengan pertumbuhan dan
(6 ekor) atau pedet yang memiliki bobot hidup perkembngan berikutnya yang lebih baik.
dibawah nilai rataan pada saat berumur 365

266
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007

Tabel 1. Rataan bobot hidup seleksi, korelasi dan determinasi sapi potong PO

Pertambahan
Umur Bobot hidup Sampel Umur 540 hari r R2
bobot hidup
Seleksi
205 hari 104,00 11,35 18 167,87 31,17 63,87 (61,42%) 0,59 0,35
365 hari 133,56 11,60 16 175,27 32,52 79,86 (45,56%) 0,79 0,63
Tidak seleksi
205 hari 70,83 12,42 15 137,27 34,59 - - -
365 hari 100,46 12,83 17 133,91 26,18 - - -

Laju pertumbuhan yang pada awalnya tergantung kepada induk


dan beralih kepada kemampuan sendiri.
Laju pertumbuhan sapi PO yang DONAHUE et al. (1985) menyatakan bahwa
mengalami seleksi masing-masing pada saat umur saat terjadinya transisi dari periode pre
disapih (umur 205 hari) dan umur satu tahun ruminan menjadi ruminansia sejati bevariasi
(Tabel 2), tampak bahwa bobot hidup yang cukup luas tergantung kepada pola pakan untuk
sama pada umur 205, 365 dan 540 hari, merangsang perkembangan mikroba rumen dan
demikian pula pertambahan bobot hidup perkembangan volume rumen telah sempurna
hariannya menunjukkan perbedaan yang terjadi saat umur 3 bulan. BURNHAM et al.
signifikan P < 0,05; kecuali pertambahan bobot (2000) mengungkapkan bahwa pertambahan
hidup setelah diseleksi pada umur yang sama bobot hidup dan konsumsi pakan sapi dara dan
(365 hari). Hal ini menunjukkan bahwa seleksi pejantan muda pada umur kurang dari 9 bulan
pada umur 365 hari memberikan respon positif masih berfluktuatif tergantung kemampuan
terhadap pertumbuhan dewasa dibandingkan individu. Dengan demikian pengaruh pakan
dengan seleksi yang dilakukan pada saat umur tidak signifikan dibanding akibat kemampuan
sapih; seleksi pedet sapihan walaupun pedet beradaptasi terhadap perubahan
memberikan bobot hidup sapih yang lebih lingkungan yang mempengaruhi karakteristik
tinggi akan tetapi mengalami laju pertumbuhan biologis ternak setelah 9 bulan.
yang lebih rendah (0,19 kg/hari). Laju Maka dibutuhkan waktu adaptasi oleh sapi
pertumbuhan pada umur yang sama yaitu umur pedet akibat penghentian kecukupan pakan
365 hari untuk mencapai umur yang sama yaitu yang berasal dari susu sebagai sumber nutrien
540 hari mempunyai laju pertumbuhan yang dan selanjutnya tergantung kemampuan
sama dan tidak menunjukkan perbedaan yang individu mencukupi kebutuhan pakan untuk
signifikan yaitu 0,24 dan 0,23 kg/hari. kebutuhan pertumbuhannya; hal ini tidak
Tampaknya setelah disapih terjadi terjadi pada sapi yang diseleksi setelah
penurunan bobot hidup yang dimungkinkan berumur 365 hari.
adanya fase transisi pemenuhan gizi pakan

Tabel 2. Bobot hidup hasil seleksi pada umur 205 hari dan 365 hari sampai umur 540 hari sapi potong PO

Pertambahan Bobot Hidup Harian


Bobot hidup (kg)
Umur seleksi (kg/hari)
205 hari 365 hari 540 hari 205 hari 365 hari
Seleksi 205 hari 103,99a 124,67a 167,86a 0,19a 0,24 a
Seleksi 365 hari 95,39b 133,56b 175,26b 0,23b 0,23 a
a, b
superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P < 0,05)

267
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007

BOYLES (2006) juga menyatakan adanya pertumbuhannya selalu lebih rendah dan bobot
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju hidup pada umur yang sama lebih rendah.
pertumbuhan yaitu penyesuaian temperatur
lingkungan yang panas akan diimbangi dengan 180
minum air yang banyak yang pada akhirnya 160
dapat menyebabkan ketidak seimbangan 140

Bobot hidup (kg)


120
mineral tubuh yang juga dapat berpengaruh 100
terhadap kemampuan konsumsi, metabolisme 80
tubuh dan laju pertumbuhan yang menurun. 60
Fluktuasi pertambahan bobot hidup setelah 40
20
dilakukan seleksi tampak pada kelompok 0
seleksi 365 hari memiliki laju pertumbuhan 1 205 365 450 540
konstan dan selalu lebih tinggi dari kelompok Umur (hari)
seleksi 205 hari. Pada saat sesama umur sapih
Kelompok atas rataan Kelompok bawah rataan
tampak yang disapih setelah berumur 365 hari
tidak menunjukkan penurunan bobot hidup
Gambar 2. Laju pertumbuhan seleksi diatas rataan
dibandingkan seleksi yang dilakukan pada saat
dan bawah rataan pada umur 205 hari
umur sapih (Gambar 1).

200
Bobot hidup (kg)

200
150 180
160
Bobot hidup (kg)

100 140
120
100
50 80
60
0 40
20
1 205 365 450 540 0
Umur (hari) 1 2 3 4 5
Seleksi 205hari Seleksi 365 hari Umur (hari)

Kelompok atas rataan Kelompok bawah rataan

Gambar 1. Laju pertumbuhan bobot hidup seleksi


Gambar 3. Laju pertumbuhan seleksi diatas dan
205 dan 365 hari
bawah rataan pada umur 365 hari
Pada Gambar 2 dan Gambar 3 tampak
Dengan demikian salah satu perlakuan
trend pertambahan bobot hidup pada kelompok
seleksi berdasarkan bobot hidup mampu
yang terseleksi memiliki laju pertumbuhan
memberikan respons yang baik untuk
yang lebih tinggi dibanding kelompok tidak
mendapatkan kelompok sapi potong yang
terpilih. Walaupun demikian tampak pada
berkualitas, dan menunjukkan laju pertumbuhan
Gambar 2 untuk seleksi pada umur 205 hari
relatif konstan.
menunjukkan ada trend naik pada kelompok
bawah rataan sampai umur 365 hari dan
pertambahan bobot berikutnya memiliki trend KESIMPULAN
yang sama fluktuasinya. Sedangkan pada
kelompok seleksi setelah berumur 365 hari Hasil penelitian menunjukkan:
tampaknya kelompok hasil seleksi memiliki 1. Pelaksanaan seleksi pada populasi yang
laju pertumbuhan positif, selalu meningkat terbatas idealnya dilakukan setelah berumur
dibandingkan dengan kelompok bawah rataan. 365 hari (setahun), memiliki tingkat
Fluktuasi pertumbuhan hasil seleksi pada pertumbuhan yang lebih baik dan memiliki
umur 365 memberikan respon pertumbuhan keeratan hubungan yang tinggi dengan
yang lebih baik daripada kelompok seleksi bobot hidup 540 hari (r = 79%), dan
pada umur 205 hari. Sedangkan kelompok selayaknya dilakukan dalam populasinya.
tidak terpilih (seleksi) didalam perjalanannya

268
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2007

2. Seleksi yang dipercepat yaitu saat disapih HUSODO, S.Y. 2000. Upaya HKTI dalam mendukung
diperlukan kehati-hatian karena Program Ketahanan Pangan Nasional dan
keberhasilannya cukup rendah (determinasi Agribis Peternakan. Pros. Seminar Nasional
35%), dan masih diperlukan masa transisi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 18 19
September 200. Puslitbang Peternakan. Bogor.
menyusu. hlm. 3 16.
3. Seleksi berdasarkan bobot hidup mampu
memberikan respon laju pertumbuhan yang LASLEY, J.F. 1978. Genetic of Livestock
memadai. Improvement. 3rd Ed. Prentice-Hall, Inc.
Englewood Cliffs, New Jersey.
LEIBHOLZ, J. 1975. The development of ruminan
DAFTAR PUSTAKA digestion in the calf. I. The digention of barley
and soy bean meal. Aust. J. Agric. Res. 26.
BARKER, J.S.P., D.J. BRETT, D.F. FREDERICK and L.J.
ROY, J.H.B. 1980. The calf. 4th Ed. Butterworth.
LAMBOURN. 1975. A Course Manual in London. Boston.
Tropical Beff Cattle Production. A.A.U.S.S.
TILLMAN, A.D., H. HARTADI, S. REKSOHADIPRODJO,
BOYLES, S. 2006. Heat stress and beef [Link] S. PRAWIROKUSUMO dan S. LEBDOSOEKOJO.
Extenton beef spescialst. INTERNET. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-4.
BURNHAM, D.L., R.W. PURDEAS and S.T. MORRIS. Gajah Mada University Press. Fapet UGM.
2000. The relationship between growth Yogyakarta.
performance and feed intake bulls and streers TOELIHERE, M.R. 2002. Increasing the succes rate
at pasture. Asian-Aus. J. Anim. Sci. 13: July and adoption of artificial insemination for
2000 Supplement:165. genetic improvement of Bali cattle. Aciar
DALTON, D.C. 1980. An Introduction to Practical Project AS2/2000/099. Strategies to improve
Animal Breeding. Granada. London. Bali cattle East Indonesia. Bali Cattle Work
Shop, Bali.
DONAHUE, P.B., C.G. SCWAB, J.D. QUIGLY, III and
W.E. HYLTON. 1985. Methyionine deficiency WARWICK, E.J., J.M. ASTUTIK dan W.
in early-weaned dairy calves fed pelleted HARDJOSUBROTO. 1983. Pemuliaan Ternak.
rations based on corn and alfafa or corn and Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
soybean. J. Dairy Sci. 68. WIJONO, D.B., HARTATI dan MARIYONO. 2006.
FRIES, R. dan A. RUVINSKY. 1999. The Genetics of Korelasi bobot sapih terhadap bobot lahir dan
Cattle. CABI Publishing. bobot hidup 365 hari pada sapi Peranakan
Ongole. Seminar Nasional Peternakan dan
HINOJOSA, A., A. FRANCO dan I. BOLIO. 2003. Veteriner. Bogor, 5 6 Septermber 2006.
Genetic and Enviromental Factors Affecting Puslitbang Peternakan, Bogor. hlm. 206 211.
Calving Interval in a Commercial Beef Herd
in a Semi-Humid Tropical Enviromrnt.
Htt://www. [Link]/Aga/ag/agap/FRG.

DISKUSI

Pertanyaan:
1. Mengapa menggunakan faktor korelasi umur pada ternak 205 dan 365 hari, padahal kita
ketahui pada umur 205 hari pertumbuhan ternak belum optimal sedangkan umur 365 hari
sudah mencapai puncak.
2. Mengapa tidak didasarkan pada umur biologisnya saja.

Jawaban:
1. Karena di dalam penelitian pemuliaan harus minimalkan pengaruh lingkungan sehingga data
yang di peroleh harus dikoreksi ke umur 205 dan 365 hari terlebih dulu agar data yang
diperoleh lebih valid.
2. Umur 205 dan 365 hari sudah merupakan standar.

269

You might also like