PUBLIC PERCEPTION OF EX QUARRY LAND UTILIZATION (QUARRY) AS
BUSSINESS PLACE OF FLOATING NET CAGES CULTURE (FNC) IN TANJUNG
RAMBUTAN VILLAGE KAMPAR DISTRICT KAMPAR REGENCY
RIAU PROVINCE
By
Jalisman1); Ir. Kusai, M.Si2); and Lamun Bathara, [Link], M.Si2)
ABSTRACT
This research was conduted on 27th May to 3th June 2013 in Tanjung Rambutan Village,
district of Kampar that located in regent of Kampar Riau Province. This research was determined
purposively with survey method. The respondents was taken by simple random sampling.
The purpose of this study was to describe public characteristics are age, education, income
and number of dependents. Analyzed publics perception of ex quarry land utlization and know how
much the relationship public perception characteristics Tanjung Rambutan village between the ex
quarry land utilization (Quarri) used the Spearman Rank Correlation Coefficienttest.
The results of this study indicated that the public perception of the ex quarry land utilization
as a whole was in the category of "Good", with a score of 1496, which is in the range 1283-1795.
Internal factor did not have significant affect to respondents percepcion in Tanjung Rambutan village
(age, education, occupation and income). While number of dependents had significant correlanced to
respondents percepcion about quarri land utilization in Tanjung Rambutan.
Keyword: Perception, Tanjung Rambutan Village, Ex quarry land (Quarri)
1 Student of Faculty of Fisheries and Marine Science University of Riau
2 Lecturer of Faculty of Fisheries and Marine Science University of Riau
PENDAHULUAN
Kabupaten Kampar, secara geologi
merupakan daerah yang berpotensi
memiliki bahan galian yang cukup berarti,
seperti bahan galian logam, non logam,
batubara dan bahan galian lainnya.
Di Desa Tanjung Rambutan
terdapat galian batu (quarri) yang berada
dikawasan Sungai mati atau Sungai
Oxbow. Hal ini disebabkan oleh
peninggalan salah satu perusahaan
penambangan batu dan meninggalkan
bekas bekas galian berupa kolam-kolam.
Jumlah kolam bekas galian batu
yang ada Di Desa Tanjung Rambutan
berjumlah10 kolam. Bentuk kolam persegi
panjang dan luas kolam bervariasi, mulai
dari 250 m2 sampai dengan 500 m2
dengan kedalaman antara 3 4 meter.
Usaha budidaya Keramba Jaring
Apung (KJA) dibekas galian batu sudah
dimulai semenjak tahun 2012.
Pada
awalnya di desa ini hanya terdapat 3
keramba, yang permodalannya dibantu
oleh pemerintah setempat sebesar Rp
30.000.000,- untuk satu kelompok dengan
anggota 10 orang.
Pada saat sekarang (Desember
2013) pembudidaya ikan sudah mencapai
10 orang dan sudah terdapat 16 keramba. 3
pembudidaya diantaranya adalah penerima
bantuan dan bertambah 7 pembudidaya
yang permodalannya dari diri sendiri. Hal
ini akan menimbulkan persepsi masyarakat
terhadap pemanfaatan kolam bekas galian
batu.
Tujuan Penelitian
Untuk
mendeskripsikan
karakteristik masyarakat pembudidaya
yang
meliputi
umur,
pendidikan,
pendapatan dan jumlah tanggungan, Untuk
mengukur dan menganalisis persepsi
masyarakat Desa Tanjung Rambutan,
Untuk
mengetahui
seberapa
besar
hubungan karakteristik dengan persepsi
masyarakat Desa Tanjung Rambutan
terhadap pemanfaatan lahan bekas galian
batu (quarri).
METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Mei 2013, bertempat di Desa
Tanjung Rambutan Kecamatan Kampar
Kabupaten Kampar Provinsi Riau.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada
penelitian ini adalah metode survei yaitu
penelitian dilakukan untuk memperoleh
fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan
keterangan-keterangan secara faktual.
Analisis Data
data
Data yang telah dikumpulkan baik
primer maupun data sekunder
ditabulasikan, dikelompokkan, disusun dan
dianalisis dalam bentuk uraian.
Untuk mengukur data persepsi
responden
berpedoman
dengan
menggunakan skala likert yaitu skala
persepsi positif dan negatif. Pokok
pokok skala persepsi positif (+) yaitu skala
yang mempunyai nilai :
A. Sangat Setuju (SS) :
B. Setuju (S)
:
C. Tidak Setuju (TS) :
3
2
1
Pokok pokok skala persepsi negatif (-)
yaitu skala yang mempunyai nilai :
A. Sangat Setuju (SS) :
B. Setuju (S)
:
C. Tidak Setuju (TS) :
1
2
3
Dari total pokok-pokok skala
tersebut dikelompok menjadi 3 kategori
yaitu : Sangat Baik; Baik dan Tidak Baik.
Kemudian seluruh skore dikumpulkan dan
dijumlahkan dengan rumus :
Skor maksimum Skor minimum
Jumlah Kategori
Dengan jumlah indikator 35, skor
3 dan terendah 1 maka kisaran skornya
adalah 22. Tingkatan nilai pada masing
masing responden mengenai persepsi
masyarakat tentang pemanfaatan lahan
bekas galian batu di bagi 3 kelompok :
a. Sangat Baik = jika persepsi
responden memiliki skor 81
105 artinya bahwa responden
berpersepsi bahwa lahan bekas
galian batu sangat baik dan
dapat dimanfaatkan
untuk
dijadikan
usaha
budidaya
Keramba Jaring Apung (KJA).
b. Baik = jika persepsi responden
memiliki skor 58 80 artinya
bahwa responden berpersepsi
bahwa lahan bekas galian batu
masih baik dimanfaatkan untuk
dijadikan
usaha
budidaya
Keramba Jaring Apung (KJA).
c. Tidak Baik = jika persepsi
responden memiliki skor 35
57 artinya bahwa responden
berpersepsi bahwa lahan bekas
galian
batu
tidak
dapat
dimanfaatkan untuk dijadikan
usaha budidaya Keramba Jaring
Apung (KJA).
Untuk mengetahui ada atau
tidaknya hubungan beberapa faktor-faktor
karakteristik
masyarakat
Tanjung
Rambutan seperti umur, pendidikan,
pendapatan dan jumlah tanggungan maka
digunakan koefisien Rank Spearman.
Untuk perhitungan koefisien Rank
Sperman menggunakan rumus :
rs
= 1
6 i=1di2
n(n2-1)
keterangan : rs = koefisien korelasi Rank
Spearman
di = perbandingan ranking
n = banyaknya subjek
Dengan menggunakan koefisien korelasi
Rank Spearman dapat diketahui erat atau
tidaknya kaitan masing masing variabel
(Nugroho, 2005).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Karakteristik
responden
yang
dimaksud dalam penelitian ini meliputi
karakteristik sosial masyarakat petani ikan
aktif dan masyarakat Desa Tanjung
Rambutan yang terdiri dari umur, jumlah
tanggungan dan tingkat pendidikan.
Umur responden memperlihatkan
bahwa sebagian besar berada pada kategori
produktif sebanyak 15 jiwa (68,18%) dan
kategori kurang produktif sebanyak 7 jiwa
(31,82%). Hal ini seharusnya berdampak
baik
terhadap
kemajuan
dan
perkembangan usaha budidaya ikan
keramba di daerah ini, karena responden
yang masih muda dan tergolong produktif
lebih cepat menerima hal-hal yang baru
dan juga bisa diharapkan dalam
menunjang usaha pembangunan dan
perekonomian.
Pendidikan
responden
memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan
responden sebagian besar berada pada
kategori sedang sebanyak 17 jiwa
(77,27%) dan tingkat pendidikan terendah
berada pada kategori tinggi yaitu 5 jiwa
(22,73%) dengan pendidikan SD dan SMP.
Dilihat dari tingkat pendidikan, sebagian
besar responden tergolong sedang. Hal ini
sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Bangun (2004), bahwa tingkat pendidikan
akan mempengaruhi pola pikir masyarakat
baik yang diperoleh melalui jenjang
pendidikan formal maupun informal.
Jumlah Tanggungan Keluarga
responden tergolong rendah, ini dilihat dari
jumlah tanggungan keluargaresponden
berada pada kategori rendah dengan
jumlah responden 14 jiwa (63,64 %).
Jumlah tanggungan keluarga paling kecil 2
jiwa dan jumlah tanggungan keluarga
paling banyak 5 jiwa. Besar kecilnya
tanggungan
keluarga
mempengaruhi
kesejahteraan keluarga itu sendiri, dimana
semakin banyak jumlah tanggungan
keluarga maka semakin besar pula biaya
yang.
Pendapatan
responden
memperlihatkan bahwa sebanyak 12 orang
responden (54,55%) berada pada kategori
pendapatan
sedang,
dan
10orang
responden (45,45%) pada kategori
pendapatan tinggi.
Tinggi rendahnya pendapatan
masyarakat akan mempengaruhi daya beli
terhadap suatu barang, untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangganya. Menurut
Sayogyo (1991), pendapatan seseorang
sangat mempengaruhi dalam pemilihan
pangan yang akan dikonsumsi. Dengan
pendapatan tinggi maka kemampuan untuk
membeli bahan pangan akan semakin
beragam pula.
A. Persepsi Masyarakat Dalam
Pemanfaatan
Lahan
Bekas
Galian Batu (Quarri) Sebagai
Tempat
Usaha
Budidaya
Keramba Jaring Apung (KJA)
Di Desa Tanjung Rambutan
Kecamatan Kampar Kabupaten
Kampar Provinsi Riau.
bahwa kolam bekas galian batu dapat
dilanjutkan dan dikembangkan sebagai
tempat usaha budidaya keramba. Kondisi
ini di dukung oleh kondisi kolam bekas
galian batu dan kondisi perairan (sungai)
yang berpotensi.
Responden
bisa
menerima
keberadaan lahan bekas galian batu untuk
dijadikan tempat usaha Keramba Jaring
Apung (KJA) dan juga bermanfaat bagi
masyarakat tersebut seperti salah satunya
dijadikan sebagai tempat pemancingan.
Masyarakat juga berharap dengan adanya
usaha Keramba Jaring Apung, mereka bisa
membantu menambah pendapatan rumah
tangganya dalam memenuhi kebutuhan
ekonominya tersebut.
Tabel 1. Tingkat Persepsi Masyarakat dalam Pemanfaatan Lahan Bekas Galian
Batu (Aquari) sebagai Tempat Usaha Budidaya Keramba Jaring Apung
(KJA) di Desa Tanjung Rambutan.
No
1.
Uraian Persepsi
Kolam bekas galian batu dan
Potensinya
2.
Kondisi perairan (Sungai)
3.
Usaha budidaya KJA
4.
Peran
Pemerintah
(Dinas
Perikanan)
Jumlah
Sumber : Data Olahan
Persepsi
responden
dalam
pemanfaatan lahan bekas galian batu
(aquari) dibagi pada empat sub persepsi
yaitu: 1) persepsi masyarakat terhadap
keberadaan kolam bekas galian batu
(aquari) dan potensinya; 2) persepsi
masyarakat terhadap kondisi perairan
(sungai); 3) persepsi masyarakat terhadap
usaha budidaya Keramba Jaring Apung
(KJA) dan 4) persepsi masyarakat terhadap
peran serta Pemerintah (Dinas Prikanan).
Tabel 1 memperlihatkan bahwa
persepsi masyarakat dalam pemanfaatan
kolam bekas galian batu secara
keseluruhan berada pada kategori baik
yakni dengan nilai skor 1496, yang berada
pada kisaran 1283 1795. Hal ini berarti
Skor
262
447
572
214
Kategori Nilai
Baik
Baik
Baik
Tidak Baik
1496
1.
Persepsi Masyarakat Terhadap
Keberadaan Kolam Bekas Galian
batu dan Potensinya di Desa
Tanjung Rambutan Kecamatan
Kampar, Provinsi Riau.
Persepsi
masyarakat
terhadap
keberadaan kolam bekas galian batu
berada pada kategori Baik (kisaran 219
305) dengan skor 262 yang mana
keberadaan kolam bekas ini berpotensi
untuk lebih dikembangkan sebagai lokasi
atau tempat budidaya ikan dalam keramba.
Wilayah perairan bisa menjadi salah satu
potensi dan sumber untuk mendukung
pertumbuhan dan perkembangan ekonomi,
baik sebagai lahan mata pencaharian
sebagai sumber pendapatan warga.
Sumberdaya alam yang tidak dapat
diperbaharui seperti minyak dan bahan
tambang lainnya apabila diekstraksi harus
dalam perencanaan yang matang untuk
mewujudkan
proses
pembangunan
nasional
berkelanjutan.
Di
antara
keberlanjutan pembangunan tersebut yaitu
dapat terwujudnya masyarakat mandiri
setelah penutupan/pengakhiran tambang.
2.
Persepsi Masyarakat Terhadap
Kondisi Perairan (Sungai) di Desa
Tanjung Rambutan Kecamatan
Kampar Provinsi Riau
Persepsimasyarakat
terhadap
perairan (sungai) berada pada kategori
Baik (kisaran 403 563) dengan skor
447. Hal ini menunjukkan bahwa
responden berpandangan perairan (sungai)
memiliki
potensi
untuk
dapat
dimanfaatkan
tetapi
belum
bisa
dimaksimalkan sama sekali. Salah satu
yang bisa dimanfaatkan yaitu hasil dari
perikanannya dimana sungai yang ada
didesa tersebut cukup memiliki stok ikan.
Tetapi potensi perikanan yang ada tersebut
belum dimaksimalkan, hal ini bisa dilihat
dari sedikitnya masyarakat desa yang
bekerja dibidang penangkapan.
4.
Persepsi Masyarakat Terhadap
Usaha Budidaya Keramba Jaring
Apung (KJA) di Desa Tanjung
Rambutan Kecamatan Kampar
Provinsi Riau
Persepsi masyarakat terhadap usaha
budidaya Keramba Jaring Apung (KJA)
berada pada kategori Baik (kisaran 441
616)
dengan
skor
[Link]
ini
menunjukkan persepsi masyarakat tentang
usaha budidaya keramba tersebut dapat
diterima oleh masyarakat sebagai usaha
untuk menambah penghasilan rumah
tangga.
Usaha kearah pembudidayaan ikan
di perairan umum sangat diperlukan
sebagai penyeimbang dan membantu
pemenuhan produksi ikan yang selama ini
diperoleh dari hasil penangkapan yang
cenderung semakin menurun. Hal ini tidak
diimbangi dengan usaha budidaya dan
penebaran ikan (restocking) yang akan
mengakibatkan terganggunya kelestarian
sumber daya perairan (Sambas, 2010).
3. Persepsi Masyarakat Terhadap Peran
Pemerintah (Dinas Perikanan) di
Desa
Tanjung
Rambutan
Kecamatan Kampar Provinsi Riau
Persepsi masyarakat terhadap peran
Pemerintah (Dinas Perikanan) berada pada
kategori Tidak Baik (kisaran 132 218)
dengan skor 214. Hal ini menunjukkan
persepsi masyarakat terhadap peran
Pemerintah (Dinas Perikanan) tidak bagus
dan belum memuaskan.
Salah satu permasalahan pelaku
utama dalam rangka meningkatkan
produktifitas usahanya adalah lemahnya
pengetahuan mereka mengenai teknologi
baru. Penyuluh perikanan yang bertugas
sebagai fasilitator dan mediator serta ujung
tombak dilapangan dituntut mampu
menjadi perantara antara sumber teknologi
dengan pelaku utama (Ni Putu dk, 2013).
B. Hubungan
Faktor
Internal
Responden dengan Persepsi
Masyarakat di Desa Tanjung
Rambutan Tentang Pemanfaatan
lahan Bekas Galian Batu
(Quarri).
Korelasi Rank Spearman akan
memperlihatkan hubungan secara terpisah
antara masing-masing variable faktor
internal responden di Desa Tanjung
Rambutan dengan persepsi mereka dalam
pemanfaatan lahan bekas galian batu.
Hasil analisa dari memperlihatkan
bahwa tingkat pendidikan responden
dengan tingkat persepsi memiliki nilai rs
(rank spearman) -0,088berarti hubungan
antara pendidikan dengan persepsi
Hasil analisa memperlihatkan
masyarakat terhadap keberadaan kolam
bahwa umur responden dengan tingkat
bekas galian batu (Quarri) dan potensinya
persepsi memiliki nilai rs (Rank
tergolong
lemah,
dan
mempunyai
Spearman) 0,315hal ini memberikan arti
hubungan yang tidak searah (-) dengan
bahwa umur memiliki hubungan yang
persepsi, artinya jika tingkat pendidikan
tidak nyata terhadap persepsi, ini ditandai
tinggi maka tingkat persepsi responden
dengan tingkat probabilitas P(0,154) >
akan menjadi rendah atau sebaliknya.
0,05dan mempunyai hubungan yang
Dengan tingkat signifikan sebesar 0,697
searah (+) dengan persepsi, artinya jika
hal ini memberikan arti bahwa tingkat
umur responden semakin tinggi maka
pendidikan memiliki hubungan yang tidak
nyata terhadap persepsi.
Tabel 2. Nilai Korelasi Rank Spearman masing-masing Faktor Internal Responden
dengan Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan Kolam Bekas Galian
Batu (Quarri) dan Potensinya
1. Hubungan Antara Umur Dengan
Persepsi Masyarakat Terhadap
Keberadaan Kolam Bekas Galian
Batu (Quarri) dan Potensinya.
No
1.
Faktor Internal
Umur
2.
Pendapatan
3.
Jumlah Tanggungan
4.
Pendidikan
Nilai
Korelasi
Sig.(2-tailed)
N
Korelasi
Sig.(2-tailed)
N
Korelasi
Sig.(2-tailed)
N
Korelasi
Sig.(2-tailed)
N
0.315
0.154
22
0,328
0,136
22
0,548
0,008
22
-0,088
0,697
22
Sumber : Data Olahan
tingkat persepsi responden juga semakin
tinggi. Berdasarkan besaran nilai rs berarti
hubungan antara umur dengan persepsi
masyarakat terhadap keberadaan kolam
bekas galian batu (Quarri) dan potensinya
tergolong lemah.
2.
Hubungan Antara Pendidikan
Dengan
Persepsi
Masyarakat
Terhadap
Keberadaan
Kolam
Bekas Galian Batu (Quarri) dan
Potensinya.
3.
Hubungan Antara Pendapatan
Dengan Persepsi Masyarakat
Terhadap Keberadaan Kolam
Bekas Galian Batu (Quarri) dan
Potensinya.
Hasil
analisa memperlihatkan
bahwa hubungan pendapatan responden
dengan persepsi memiliki nilai rs (Rank
Spearman)
0,328
dan
mempunyai
hubungan yang searah (+) dengan
persepsi,
artinya
jika
pendapatan
responden semakin tinggi maka tingkat
persepsi juga akan semakin tinggi. Dengan
tingkat signifikan sebesar 0,136 hal ini
memperlihatkan arti bahwa pendapatan
memiliki hubungan yang tidak nyata
terhadap persepsi, ini ditandai dari tingkat
probabilitas P(0,136) > 0,05. Berdasarkan
besaran nilai rs berarti hubungan antara
pendapatan dengan persepsi masayarakat
terhadap keberadan kolam bekas galian
batu (quarri) dan potensinya tergolong
lemah.
4.
Hubungan
Antara
Jumlah
Tanggungan Dengan Persepsi
Masyarakat
Terhadap
Keberadaan Kolam Bekas Galian
Batu (Quarri) dan Potensinya.
Hasil analisis memperlihatkan
bahwa jumlah tanggungan keluarga
responden dengan tingkat persepsi
memiliki nilai rs (Rank Spearman) 0,548
dan mempunyai hubungan yang searah (+)
dengan persepsi, artinya jika jumlah
tanggungan responden semakin tinggi
maka tingkat persepsi juga semakin tinggi.
Dengan tingkat signifikan sebesar 0,008
hal ini memberikan arti bahwa jumlah
tanggungan keluarga masyarakat memiliki
hubungan yang nyata terhadap persepsi, ini
ditandai dengan tingkat probabilitas
P(0,008) < 0,01. Berdasarkan besaran nilai
rs berarti hubungan antara jumlah
tanggungan keluarga masyarakat dengan
persepsi masayarakat terhadap keberadaan
kolam bekas galian batu dan potensinya
tergolong sangat kuat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Karakteristik masyarakat dalam
pemanfaatan lahan bekas galian batu di
Desa Tanjung Rambutan ini sebagian
besar berada pada usia produktif sebesar
(68,18%).
Tingkat
pendidikan
respondensebagian besar adalah sedang
(77,27 %) yaitu antara 7 12 tahun masa
pendidikan. Jumlah tanggungan keluarga
responden yang dominan rendah yaitu 1
3 orang sebesar (63,64 %) dan pendapatan
keluarga pada kategori sedang sebesar
54,55%.
Persepsi
masyarakat
dalam
pemanfaatan lahan bekas galian batu di
Desa Tanjung Rambutan memiliki skor
secara
keseluruhan
sebesar
1527
memperlihatkan
bahwa
persepsi
masyarakat dalam pemanfaatan kolam
bekas galian batu secara keseluruhan
berada pada kategori baik artinya
masyarakat berpresepsi bahwa kolam
bekas galian batu di Desa Tanjung
Rambutan berpotensi untuk dikembangkan
untuk dijadikan tempat usaha budidaya
ikan.
Adapun hubungan antara faktor
internal dengan persepsi responden di
Desa Tanjung Rambutan yaitu berupa
umur,
pendidikan,
pekerjaan,
dan
pendapatan, tidak adanya faktor internal
yang berhubungan nyata dengan persepsi
responden.
Sedangkan
tanggungan
keluarga memiliki hubungan nyata dengan
persepsi
responden
tentang
usaha
pemanfaatan kolam bekas galian batu
(quarri) di Desa Tanjung Rambutan.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah diperoleh maka dapat disarankan :
Pemerintah hendaknya melihat potensi
lahan bekas galian batu yang terdapat di
Kabupaten Kampar, karena di Kabupaten
Kampar banyak terdapat lahan bekas
galian batu atau quarri. Salah satunya
adalah dapat dijadikan sebagai tempat
usaha budidaya Keramba Jaring Apung
(KJA). Diharapkan kepada pemerintah
terutama dari Dinas Perikanan untuk
mendatangkan penyuluh penyuluh
khususnya di Desa Tanjung Rambutan,
karena usaha budidaya Keramba Jaring
Apung (KJA) di kolam bekas galian batu
yang ada didesa tersebut masih tergolong
baru dan diharapkan juga kepada
Pemerintah memberikan bantuan berupa
bantuan modal kepada pembudidaya atau
warga yang ingin berusaha dibidang
budidaya tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Gibson, J. 1986. Organisai Perilaku,
Struktur
dan
Proses.
Diterjemahkan oleh Djoeban
Wahid. Erlangga. Jakarta.
Nugroho,
F. 2005. Statistik Non
Parametrik dan Aplikasinya.
Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Riau.
Pekanbaru. 73 hal.
Saldi S, 2010. http/Pemanfaatan Aliran
Sungai untuk Usaha Budidaya
Ikan Nila Gesit dalam Keramba
Jaring
Tancap
di
Desa
Semperiuk Kecamatan Jawai
Selatan Kabupaten Sambas
(PKMK 2010).13
November
2013 09.30 WIB.
Sayogyo, P. 1998. Peran Wanita Dalam
Pembangunan Masyarakat Desa.
Gramedia. Jakarta
Ridwan. 2007. Pengantar Statiska, untuk
Penelitian Pendidikan, Sosial,
Ekonomi Komunikasi dan Bisnis.
Alfabeta Bandung. 368 hal.