Carcass Growth of Local Male Lambs
Carcass Growth of Local Male Lambs
ABSTRACT
Quantity and quality of carcass can be used to measure productivity of meat animal because carcass is the
part of animal slaughter yield which has high economic. Local lamb which were used as subject research
were from Temanggung, i.e. healthy male lamb, aged 1.5−12 months were slaughtered at 6 categories
slaughter weight with range 5−30 kg. The objective of the research was to study the growth of carcass and its
components (meat, fat and bone) with allometric model Y = aXb. The results showed that local male lamb
with body weight of 6.80 to 31.40 kg (the average 17.99 ± 8.40 kg) yielded 36.60 to 49.41% of carcass (the
average 44.29 ± 3.71%). Carcass with weight 3,22 to 14.80 kg yielded carcass muscle, carcass fat and carcass
bone were 56.03 to 65.23% (the average 62.23 ± 2.34%), 3.93 to 21.13% (the average 12.66 ± 4.53%), and
17.59 to 29.21% (the average 21.94 ± 3.02%), respectively. Meat and fat (without kidney fat & pelvis fat)
were 66.69 to 78.3% (the average 73.63 ± 3.71%) and meat-bone ratio was 2.28 to 4.45 (the average 3.43 ±
0.60). The growth of carcass components that was relatif to empty body weight and carcass weight showed
that carcass weight fixed, carcass muscle fixed, carcass bone decreased, and carcass fat increased with the
increasing of empty body weight and carcass weight. The growth of fat depot that was relatif to total carcass
fat weight showed that subcutaneous fat weight increased, intermuskular fat and kidney fat and pelvis fat
fixed with the increasing of total carcass fat weight. It was concluded that local male lamb in Temanggung
generated high carcass containing fat and the development of this carcass fat concentrated in subcutaneous fat
stimultaneously increasing of body weight.
Key Words: Local Lamb, Carcass Component, Growth
ABSTRAK
Kuantitas dan kualitas karkas dapat digunakan sebagai tolok ukur produktivitas ternak potong sebab
karkas merupakan bagian dari hasil pemotongan ternak yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Domba lokal
yang digunakan sebagai subyek penelitian diperoleh dari daerah Temanggung, yaitu domba jantan sehat umur
1,5−12 bulan sebanyak 18 ekor, yang dipotong pada 6 kategori bobot potong dengan kisaran 5−30 kg.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tumbuh kembang karkas dan komponennya (daging, lemak,
dan tulang) dengan menggunakan persamaan allometrik Huxley Y = aXb. Hasil penelitian menunjukkan,
bahwa domba lokal jantan dengan bobot potong antara 6,80−31,40 kg (17,99 ± 8,40 kg) menghasilkan karkas
36,60−49,41% (44,29 ± 3,71%). Karkas dengan bobot antara 3,22−14,80 kg (7,99 ± 3,96 kg) tersebut
menghasilkan otot 56,03−65,23% (62,23 ± 2,34%), lemak 3,93−21,13% (12,66 ± 4,53%) dan tulang
17,59−29,21% (21,94 ± 3,02%). Daging dan lemak (tanpa lemak ginjal dan pelvis) antara 66,69−78,30%
(73,63 ± 3,17%) dan rasio daging-tulang 2,28−4,45 (3,43 ± 0,60). Pertumbuhan karkas dan komponen karkas
relatif terhadap bobot tubuh kosong dan karkas, menunjukkan bobot karkas tetap, otot tetap, tulang berkurang
dan lemak bertambah dengan bertambahnya bobot tubuh kosong dan bobot karkas. Pertumbuhan depot lemak
relatif terhadap lemak karkas, menunjukkan bobot lemak subkutan bertambah, lemak intermuskuler dan
lemak ginjal serta pelvis tetap dengan meningkatnya bobot lemak karkas. Disimpulkan, bahwa domba lokal
jantan di Temanggung cenderung membentuk lebih banyak lemak dan perkembangan lemak karkas tersebut
mengarah ke lemak subkutan dengan bertambahnya bobot tubuh.
Kata Kunci: Domba Lokal, Komponen Karkas, Tumbuh-Kembang
487
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
488
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daun kaliandra, daun lamtoro (Leucaena
tumbuh kembang karkas dan komponennya leucocephala) dan daun sengon laut
(daging, lemak, dan tulang) pada domba lokal (Paraserieanthes falcataria). Konsentrat yang
jantan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diberikan berupa bekatul, gaplek dan kulit
sebagai pijakan dalam penerapan manajemen kopi. Domba tersebut dipotong dengan teknik
pemeliharaan domba lokal dalam rangka pemotongan beruntun (BUTTERFIELD, 1988)
menghasilkan daging domba yang sehat sesuai pada 6 kategori bobot potong dengan kisaran
dengan tuntutan konsumen saat ini. 5−30 kg, yakni 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 kg
sehingga ada 3 ekor domba sebagai ulangan
pada setiap bobot potong.
MATERI DAN METODE
Peralatan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah seperangkat alat untuk memotong
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
ternak dan mengurai karkas, plastik untuk
Ilmu Ternak Potong dan Kerja, Fakultas
membungkus karkas, freezer untuk menyimpan
Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
karkas, dan timbangan untuk menimbang
Pemotongan dan penguraian karkas domba
ternak, karkas dan bagian-bagiannya.
dilakukan selama 6 minggu.
Timbangan untuk menimbang ternak adalah
Domba lokal jantan sehat sebanyak 18 ekor
timbangan gantung (Hanging Scales) merk five
dengan umur 1,5−12 bulan yang digunakan goats buatan China dengan kapasitas 50 kg dan
sebagai subyek penelitian diperoleh dari ketelitian 200 g, timbangan untuk menimbang
Kelompok Tani Ternak “Ngudi Raharjo” di karkas dan bagian-bagiannya adalah timbangan
desa Pagergunung, kecamatan Pringsurat, elektronik (Electronic Scale) merk smart weigh
kabupaten Temanggung, untuk mendapatkan dengan kapasitas 15 kg dan ketelitian 2 g serta
bangsa ternak dan latar belakang nutrisi yang timbangan elektronik merk adventurer OHAUS
sama. Ciri-ciri domba yang dipelihara: warna tipe AR1530 dengan kapasitas 150 g dan
bulunya umumnya putih dan ada beberapa ketelitian 0,001 g.
yang bertotol-totol hitam, dan bentuk ekor: Pemotongan domba sesuai dengan bobot
bagian atas agak gemuk, kemudian ke bawah potong yang telah ditentukan dilakukan secara
mengecil. Domba ini diduga merupakan halal setelah dipuasakan terhadap pakan
keturunan persilangan domba Jawa Ekor Kurus selama 22 jam. Tujuan pemuasaan domba
(JEK) dan domba Ekor Gemuk (DEG). Sistem sebelum pemotongan adalah untuk
pemeliharaan ternak dengan cara dikandangkan. memperkecil variasi bobot potong akibat isi
Pakan diberikan 2 kali sehari dan hijauan yang saluran pencernaan dan untuk mempermudah
diberikan oleh peternak domba tergantung dari pelaksanaan pemotongan. Air minum diberikan
ketersediaan hijauan yang ada di lapang, secara ad libitum.
sedangkan konsentrat relatif sama. Pakan Pemotongan ternak dimulai dengan
hijauan yang diberikan peternak untuk domba memotong leher hingga vena jugularis,
pada bulan November-Januari berupa rumput oesophagus, dan trachea terputus (dekat tulang
gajah (Pennisetum purpureum), rumput rahang bawah) agar terjadi pengeluaran darah
benggala (Panicum maximum), daun gliricidae yang sempurna. Kemudian ujung oesophagus
(Gliricidia sepium), daun kaliandra diikat agar cairan rumen tidak keluar apabila
(Calliandra colothyrsus) dan rumput pahit ternak tersebut digantung. Kepala dilepaskan
(Axonopus compressus), pada bulan Februari- dari tubuh pada sendi occipito-atlantis. Kaki
April berupa rumput lapangan (areng- depan dan kaki belakang dilepaskan pada sendi
areng/rumput gamba/Andropogon gayanus carpo-metacarpal dan sendi tarso-metatarsal.
Kunth, berokan/rumput bunga putih/Asystasia Ternak tersebut digantung pada tendo-achiles
gangetica (L.) T. Anderson, grinting/rumput pada kedua kaki belakang, kemudian kulitnya
bermuda/Cynodon dactylon, lulangan/rumput dilepas.
blabakan/Brachiaria distachya (L.) Stapf, Karkas segar diperoleh setelah semua organ
sinyal/Brachiaria decumbens Stapf dan tubuh bagian dalam dikeluarkan, yaitu hati,
lorodan/Centotheca latifolia (Osbeck) Trinius), limpa, jantung, paru-paru, trachea, alat
daun gliricidae dan daun kaliandra, dan pada pencernaan, empedu, dan pancreas kecuali
bulan Mei-Oktober berupa daun gliricidae, ginjal. Bobot yang diperoleh dari selisih bobot
489
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
potong (bobot tubuh puasa) dengan bobot 1981). Apabila nilai t hitung lebih kecil dari t
darah, kepala, kaki, kulit, organ tubuh bagian tabel, maka b = 1,0 dan apabila t hitung lebih
dalam (selain ginjal), dan alat reproduksi besar dari tabel, maka b<1,0 atau b>1,0. Nilai
disebut bobot karkas segar (bobot karkas b = 1 artinya persentase Y konstan dengan
panas). Karkas segar ini dipotong ekornya, bertambahnya bobot X, sedangkan b>1,0 atau
kemudian dibelah secara simetris sepanjang b<1,0 artinya persentase Y bertambah atau
tulang belakangnya dari leher (Ossa vertebrae berkurang dengan bertambahnya bobot X.
cervicalis) sampai sakral (Ossa vertebrae Besar nilai b juga menunjukkan urutan
sarcalis) dan ditimbang bobotnya (bobot pertumbuhan dari organ atau komponen karkas.
karkas segar kiri dan kanan). Karkas sebelah
kiri dimasukkan ke dalam kantong plastik yang
diikat erat lalu disimpan dalam alat pendingin HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan suhu 2−3oC selama semalam untuk
Domba dengan kategori bobot potong (BP)
diuraikan menjadi komponen karkas (tulang,
5 kg sulit diperoleh di lokasi penelitian,
daging, dan lemak) keesokan harinya agar
sehingga BP paling kecil 6,80 kg. Hasil
lemaknya mudah diuraikan.
selengkapnya produksi karkas dan
Karkas kiri yang telah dikeluarkan dari alat
komponennya pada setiap rataan kategori BP
pendingin ditimbang bobotnya (bobot karkas
disajikan pada Tabel 1. Umur domba pada
dingin kiri). Karkas kiri tersebut selanjutnya
setiap kategori BP adalah sekitar 1,5; 3; 5; 7; 9
diuraikan menjadi tulang, otot, lemak
dan 12 bulan dengan rerata BP masing-masing
subkutan, lemak intermuskuler, lemak ginjal
7,07; 10,13; 15,13; 20,27; 25,20 dan 30,13 kg.
dan pelvis serta jaringan ikat, kemudian
masing-masing ditimbang bobotnya untuk
mengetahui bobot komponen karkas. Bobot potong, produksi karkas dan
Penguraian dilakukan dengan petunjuk komposisi karkas
BUTTERFIELD (1963).
Hasil pemotongan 18 ekor domba lokal
Variabel dan analisis data penelitian jantan dengan bobot potong antara 6,80–31,40
kg (rata-rata 17,99−8,40 kg) diperoleh bobot
Variabel yang diamati dalam penelitian ini karkas yang berkisar antara 3220-14800 g
adalah bobot potong, bobot tubuh kosong dengan rata-rata 7995,56 ± 3963,06 g. Dalam
(bobot potong dikurangi isi saluran persen terhadap bobot potong diperoleh rataan
pencernaan), bobot karkas, bobot komponen sebesar 44,29% atau berkisar antara 36,60-
karkas (tulang, daging, lemak subkutan, lemak 49,41% (Tabel 1). Angka persentase ini
intermuskuler, lemak ginjal dan pelvis serta bertambah dengan meningkatnya bobot tubuh.
jaringan ikat). Untuk mempelajari tumbuh- Persentase karkas hasil penelitian ini lebih
kembang karkas dan komponennya digunakan tinggi apabila dibandingkan dengan penelitian
persamaan allometrik Huxley Y = aXb PURBOWATI et al. (1996) yang menggemukkan
(MCDONALD et al., 1988) yang dalam domba secara feedlot dengan pakan dasar
penggunaannya terlebih dahulu rumput gajah menghasilkan karkas 43,44%
ditransformasikan ke dalam bentuk persamaan dari bobot potong.
logaritma Log Y = log a + b log X. Analisis Karkas merupakan bagian terpenting dari
data dengan regresi linear sederhana (STEEL ternak potong dan mendapat perhatian khusus.
dan TORRIE, 1991). Cara ini menurut TULLOH Hal ini karena produksi daging dan nilai
dalam HERMAN (1983) adalah sah (valid), ekonomis ternak ditentukan oleh komposisi
karena komposisi tubuh sangat erat dan produksi karkasnya. Dari bobot karkas
hubungannya dengan bobot tubuhnya, yang dihasilkan, yakni 3220 sampai 14800 g
dibandingkan dengan umur dan pakan. Nilai b (rata-rata 7995,56 g), diperoleh persentase otot
(koefisien pertumbuhan relatif) dari organ Y antara 56,03 sampai 65,23%, persentase lemak
terhadap organ X, diuji besarnya terhadap nilai antara 3,93 sampai 21,13%, persentase tulang
1,0 dengan uji t pada tingkat kepercayaan 17,59 sampai 29,21%, dan jaringan ikat 1,40
untuk 95% dan derajat bebas n-2 (ISWARDONO, sampai 3,48%. Rataan persentase komponen
karkas tersebut adalah 62,23% untuk otot,
490
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
21,94% untuk tulang, 12,66% untuk lemak dan komponen karkas ini dapat dilihat bahwa
2,28% untuk jaringan ikat. Daging (otot dan daging merupakan produksi utama dari karkas,
lemak, tanpa lemak ginjal dan pelvis) berkisar kemudian diikuti oleh tulang, lemak dan
antara 66,69 sampai 78,30% dengan rataan jaringan ikat. Hasil penelitian ini sesuai dengan
73,63%. Rasio daging dan tulang berkisar hasil para peneliti sebelumnya (HERMAN,
antara 2,28 sampai 4,45 dengan rataan sebesar 1983; COLOMER-ROCKER et al., 1992).
3,43. Berdasarkan gambaran komposisi
Tabel 1. Rata-rata bobot potong, karkas dan komponennya pada setiap kategori bobot potong
CV
Uraian Bobot potong (BP) Rerata Sd
(%)
BP (g) 7070,00 10130,00 15130,00 20270,00 25200,00 30130,00 17988,89 8403,21 46,71
Karkas (g) 3326,67 4120,00 6960,00 8360,00 11026,67 14180,00 7995,56 3963,06 49,57
Karkas (%)a 47,12 40,66 46,07 41,19 43,62 48,64 44,29 3,71 8,38
Separuh karkas (g) 1605,33 2004,00 3344,67 3977,20 5261,33 6821,33 3835,61 1903,33 49,62
Recovery (g) 1583,44 1983,96 3312,67 3921,23 5187,67 6701,92 3781,82 1868,36 49,40
Susut karena 2,74 2,85 2,04 2,07 1,90 1,51 2,19 0,93 42,60
penguraian (%)
Otot (g) 997,71 1248,57 2001,93 2515,72 3150,77 4170,82 2347,59 1155,10 49,20
b
Otot (%) 63,00 62,94 60,28 64,07 60,87 62,87 62,23 2,34 3,77
Tulang (g) 375,32 500,58 765,54 823,90 1020,77 1239,80 787,65 310,74 39,45
Tulang (%)b 23,71 25,34 22,94 21,31 19,84 18,51 21,94 3,02 13,78
Lemak (g) 159,70 149,75 453,97 459,40 863,05 1121,58 534,57 400,07 74,84
b
Lemak (%) 10,07 7,45 13,94 11,53 16,27 16,71 12,66 4,53 35,80
Jaringan ikat (g) 29,94 44,63 56,65 94,63 135,36 187,54 91,46 59,20 64,73
Jaringan ikat (%)b 1,90 2,25 1,71 2,40 2,64 2,81 2,28 0,54 23,64
Lemak subkutan 56,62 52,05 174,23 178,65 344,59 465,17 211,88 185,83 87,70
(g)
Lemak subkutan 34,36 30,57 37,34 36,75 37,89 40,28 36,20 9,66 26,68
(%)c
Lemak 82,86 83,98 250,15 226,68 441,80 538,01 270,48 187,88 69,46
intermuskular (g)
Lemak 52,95 59,28 55,42 50,98 52,06 49,40 53,35 9,10 17,06
intermuskular (%)c
Lemak ginjal (g) 16,04 9,34 18,80 40,09 60,94 84,20 38,23 33,34 87,19
Lemak ginjal (%)c 9,65 7,24 4,60 9,14 8,11 7,25 7,67 3,29 42,93
Lemak pelvis (g) 4,79 4,38 10,78 13,98 15,73 34,20 13,98 11,06 79,14
c 3,04 2,90 2,63 3,12 1,94 3,07 2,78 0,94 33,80
Lemak pelvis (%)
Rasio dagingd- 3,03 2,79 3,21 3,55 3,84 4,18 3,43 0,60 17,44
tulang
Rasio daging 2,66 2,51 2,63 3,05 3,08 3,36 2,88 0,38 13,16
tanpa lemak-
tulang
a
% bobot potong; b% recovery; c% lemak karkas; ddaging dengan lemak (tanpa lemak ginjal dan pelvis)
Sd = standar deviasi, CV = koefosien variasi
491
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
492
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
Lemak karkas yang terdiri dari lemak Ternak Potong yang telah memberikan
subkutan, lemak intermuskular, lemak ginjal dukungan sepenuhnya pada penelitian ini.
dan lemak pelvis, relatif terhadap bobot lemak
karkas memperlihatkan nilai b masing-masing
DAFTAR PUSTAKA
sebesar 1,21 (b>1); 0,91 (b = 1) dan 0,86 (b =
1). Analisis ini menunjukkan, bahwa BERG, R.T. dan R.M. BUTTERFIELD. 1976. New
persentase lemak subkutan meningkat dan Conceps of Cattle Growth. Sydney University
lemak intermuskular dan ginjal serta pelvis Press, Sydney.
relatif tetap dengan meningkatnya bobot lemak
karkas. Urutan pertumbuhan komponen lemak BLAKELY, J. dan D.H. BADE. 1994. Ilmu Peternakan.
Edisi Keempat. Diterjemahkan oleh: Bambang
karkas adalah lemak ginjal dan pelvis, lemak
Srigandono. Gadjah Mada University Press,
intermuskular dan lemak subkutan. Dari hasil Yogyakarta.
penelitian ini dapat dikatakan, bahwa
perkembangan lemak karkas domba lokal BUTTERFIELD, R.M. 1963. Estimation of carcass
jantan mengarah ke lemak subkutan dengan composition. The Anatomical Approach-
Symposium on Carcass Composition and
bertambahnya bobot tubuh. Apabila
Apprasial of Meat Animals. Melbourne. pp.
dibandingkan dengan pertumbuhan relatif 4−1; 4−13.
lemak karkas domba Priangan mengarah ke
jaringan lemak sekitar ginjal (HERMAN, 2004), BUTTERFIELD, R.M. 1988. New Concepts of Sheep
sedangkan pada domba Ekor Gemuk sama Growth. The Departement of Veterinary
yaitu mengarah ke jaringan lemak subkutan Anatomy. University of Sydney, Sydney.
(HERMAN, 2003). COLOMER-ROCKER, F., A.H. KIRTON, G.J.K.
MERCER dan D.M. DUGANZICH. 1992. Carcass
composition of New Zealand Saanen goats
KESIMPULAN slaughtered at different weights. Small
Ruminant Res. 7: 161−173
Domba lokal jantan di Temanggung
FORREST, R., E.D. ABERLE, H.B. HENDRICK, M.D.
membentuk lebih banyak lemak dan
JUDGE dan R.A. MERKELL. 1975. Principle of
perkembangan lemak karkas mengarah ke Meat Science. W.H. Freeman and Co., San
lemak subkutan sejalan bertambahnya bobot Francisco.
tubuh. Sebelum dipotong, domba lokal umur
sapih (bobot hidup sekitar 10 kg) sebaiknya GIBB, M.J., J.E. COOK dan T.T. TREACHER. 1993.
Performance of British Saanen, Boer X British
digemukkan dahulu untuk memperbaiki
Saanen and Anglo-Nubian castrated male kids
konformasi tubuhnya dan pemotongan from 8 weeks to slaughter at 28, 33 or 38 kg
disarankan pada bobot 20 kg (umur 7 bulan). live weight. Anim. Prod. 57: 263−271
HERMAN, R. 1982. Produksi daging dari domba
UCAPAN TERIMA KASIH Priangan muda. Media Peternakan. 7(3):
16−26.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada HERMAN, R. 1983. Produksi daging kambing
(1) Bagian Proyek Peningkatan Kualitas Kacang. Media Peternakan. 8(2): 1−19.
Sumberdaya Manusia, Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan HERMAN, R. 2003. Studi komposisi dan distribusi
Nasional, yang telah memberikan dana; (2) otot karkas domba Ekor Gemuk jantan
dewasa. J. Peternakan dan Lingkungan. 10
Ketua Lembaga Penelitian Universitas
(1): 64−71
Diponegoro beserta staf yang telah
memberikan kesempatan penulis untuk HERMAN, R. 2004. Komposisi dan distribusi otot
memperoleh dana penelitian tersebut; (3) karkas domba Priangan jantan dewasa muda.
Dekan Fakultas Peternakan beserta staf yang Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. 29
telah memberikan fasilitas untuk pelaksanaan (2): 57−64.
penelitian; (4) Aries Rudi Setiawan dan kawan- ISWARDONO S.P. 1981. Sekelumit Analisis Regresi
kawan yang membantu pelaksanaan penelitian; dan Korelasi. BPFE, Yogyakarta.
serta (5) Rekan-rekan di Laboratorium Ilmu
493
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005
LESTARIANA, W. 2003. Tinjauan Biokimiawi Pola OBERBAUER, A.M., A.M. ARNOLD and M.L.
Makan untuk Mencegah Penyakit Defisiensi THONNEY, 1994. Genetically size-scaled
dan Penyakit Degeneratif. Pidato Pengukuhan growth and composition of Dorset and Suffolk
Jabatan Guru Besar. Fakultas Kedokteran rams. Anim. Prod. 59: 223−234.
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
PURBOWATI, E., E. BALIARTI dan S.P.S. BUDHI.
MAHGOUB, O. dan G.A. LODGE, 1994. Growth 1996. Kinerja domba yang digemukkan secara
and body composition of Omani local sheep: feedlot dengan aras konsentrat dan pakan
1. Live-weight growth and carcass and non- dasar berbeda. BPPS-UGM, 9(3B): 359−371.
carcass characteristics. Anim. Prod. 58:365-
372. SOEPARNO. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
MCDONALD, P., R.A. EDWARDS dan J.F.D.
GREENHALGH. 1988. Animal Nutrition. Fourth SPEEDY, A.W. 1980. Sheep Production. Longman,
Edition. John Wiley & Sons, New York. London.
NATASASMITA. 1978. Body Composition of Swam STEEL, R.G.D. dan J.H. TORRIE. 1991. Prinsip dan
Buffalo (Bubalus bubalis), A Study of Prosedur Statistika. Edisi Kedua.
Development Growth and of Sex Differences. Diterjemahkan oleh: BAMBANG SUMANTRI. PT
PhD. Thesis. University of Melboure, Australia. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
494