Academia.edu no longer supports Internet Explorer.
To browse Academia.edu and the wider internet faster and more securely, please take a few seconds to upgrade your browser.
2019, TAHAP IMPLEMENTASI PROGRAM PELATIHAN MENGGUNAKAN MODEL ADDIE
Kegiatan belajar yang bertujuan untuk mengembangkan potensi serta kemampuan seseorang tidak hanya didapatkan melalui bangku sekolah saja karena belajar itu berlaku sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat (Long-life Education) digunakan untuk menjelaskan suatu kenyataan, kesadaran, asas, dan harapan baru bahwa proses dan kebutuhan pendidikan berlangsung sepanjang hayat manusia. Dengan slogan tidak ada kata "terlambat", "terlalu tua", atau "terlalu dini" untuk belajar (Hadikusumo, 1996). Proses belajar sepanjang hayat tersebut juga mampu direalisasikan melalui program pendidikan dan pelatihan. Selain individu, lembaga juga membutuhkan program diklat agar lembaga tersebut dapat berkembang menjadi lebih baik. Oleh karena itu, dalam setiap lembaga dibutuhkan suatu unit yang bertugas untuk mengembangkan program diklat yang baik dan benar. Model yang banyak digunakan untuk mengembangkan program diklat adalah model ADDIE. Kepanjangan dari model ADDIE adalah Analyze-Design-Development-Implementation-Evaluation. Model ini banyak digunakan karena pengembangan dari tiap-tiap tahapnya akan mempengaruhi satu sama lain. Model berfungsi untuk menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Implementasi atau penyampaian materi diklat merupakan langkah keempat dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Setelah pertemuan sebelumnya membahas mengenai analisis, desain, dan pengembangan maka makalah ini akan membahas lebih mendalam mengenai tahap implementasi. Sehingga harapannya penyusunan makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam mengimplementasikan program diklat yang sedang dikembangkan. B. Pembahasan 1
Model desain pelatihan ADDIE pada dasarnya adalah generik yang sistematis,langkah demi langkah kerangka kerja yang digunakan oleh Desainer Instruksional,pengembang dan pelatih untuk memastikan kursus pengembangan tidak terjadi dengan cara acak.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh implementasi model ADDIE dan kompetensi kewirausahaan dosen terhadap motivasi wirausaha mahasiswa, baik pengaruh secara parsial maupun simultan. Sampel diambil sejumlah 30 orang secara acak dari 2 kelas yang berbeda yang pernah mengambil mata kuliah kewirausahaan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Data kemudian dianalisis dengan metode kuantitatif yaitu analisis regresi linier berganda. Berdasarkan uji asumsi klasik, tidak ditemukan masalah asumsi klasik dalam model regresi. Berdasarkan hasil uji t, ditemukan bahwa variabel implementasi model ADDIE tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi wirausaha mahasiswa, sedangkan variabel kompetensi kewirausahaan dosen berpengaruh signifikan terhadap motivasi wirausaha mahasiswa. Adapun hasil uji F menunjukkan kedua variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap motivasi wirausaha. Berdasarkan uji R 2 menunjukkan kontribusi variabel implementasi Model ADDIE dan kompetensi kewirausahaan dosen, kecil pada variabel motivasi wirausaha pada mahasiswa. Rekomendasi berdasarkan hasil penelitian adalah lembaga perguruan tinggi perlu mempertimbangkan aspek kompetensi kewirausahaan dosen dalam hal menetapkan dosen pengampu matakuliah kewirausahaan. Kata Kunci: Model ADDIE, Kompetensi Wirausaha Dosen, Motivasi Wirausaha.
2012
Training program is aimed to provide trainees with a certain kind of skill, knowledge,and attitude. Those can be used to improve trainees' performance in doing a specific job. It is necessary to design the program to meet the optimum outcomes. Training design in this matter should be designed systematically and holistically This article will explore the use one of the useful approaches, ADDIE, used in designing an effective and efficient training program. The ADDIE approach consists of several systematic phases --- analysis, design, development, implementation, and evaluation. Implementing these phases properly will ensure the achievement of effective and efficient training program
Makalah ini mengupas tentang proses reka bentuk modul pengajaran dengan berteraskan model ADDIE. Modul pengajaran merupakan salah satu asas utama dalam proses pengajaran & pembelajaran (P&P) sesuatu subjek. Maka, reka bentuknya perlu kepada satu teori model reka bentuk yang memperincikan fasa-fasa prosesnya dengan teliti dan sistematik. Justeru, makalah ini bertujuan untuk mengupas penggunaan model ADDIE dalam reka bentuk modul pengajaran dengan mengambil subjek bahasa Arab untuk tujuan khas di Universiti Sains Islam Malaysia sebagai contoh. Ini keran, model ADDIE merupakan antara model rekabentuk yang sistematik dan efektif yang terdiri daripada lima fasa iaitu analisis, reka bentuk, pembangunan, perlaksanaan dan penilaian. Hasil daripada penggunaan model ADDIE dalam reka bentuk sesuatu modul pengajaran, akan terbina satu modul pengajaran yang mencapai objektif pengajaran & pembelajaran (P&P) dengan efektif serta pendekatan yang sistematik seiring dengan citarasa dan keperluan pelajar.
1st International Teacher Education Conference on Teaching Practice, 2016
Artikel ini menjelaskan aplikasi model ADDIE dalam pembangunan Modul Awal Literasi (Modul A-Lit). Artikel ini juga menerangkan kandungan Modul A-Lit yang memfokuskan perkembangan awal literasi kanak-kanak TASKA. Pengkaji telah membentuk sebuah kumpulan penyelidik untuk membangunkan Modul A-Lit yang diketuai oleh pengkaji sendiri dan terdiri daripada 2 orang pelajar Sarjana Pendidikan (Pendidikan Awal Kanak-kanak), dan 10 orang pelajar Ijazah Sarjana Muda Pendidikan (Pendidikan Awal Kanak-kanak). Melalui kumpulan penyelidik tersebut, pengkaji telah menjalankan beberapa siri perbincangan, taklimat, dan bengkel untuk menyiapkan Modul A-Lit yang mengambil masa lebih kurang lima bulan (Januari hingga Mei 2015). Seterusnya, Modul A-Lit yang dihasilkan telah mendapat kesahan kandungan daripada 4 orang penilai luar yang berpengalaman dalam bidang pendidikan awal kanak-kanak. Dapatan menunjukkan pembangunan Modul A-Lit melibatkan semua peringkat model ADDIE, iaitu (i) Analisis (Analysis); (ii) Reka Bentuk (Design); (iii) Pembangunan (Development); (iv) Pelaksanaan (Implementation); dan (v) Penilaian (Evaluation). Akhirnya, pengkaji telah berjaya menghasilkan Modul A-Lit yang menekankan lima komponen utama perkembangan awal literasi iaitu; (i) bahasa dan komunikasi; (ii) konsep cetakan dan cetakan persekitaran; (iii) fonemik dan fonetik; (iv) bacaan dan kefahaman naratif; dan (v) tulisan awal untuk kanak-kanak TASKA berumur 2+, 3+, dan 4+ tahun.
Model desain pembelajaran ADDIE adalah salah satu model desain pembelajaran yang menguatamakan tahapan-tahapan dasar dalam sistem pembelajaran yang sederhana dan mudah dipelajari. Model desain pembelajaran ini lahir di tahun 1990-an dengan fungsi utamanya yakni menjadi pedoman dalam membangun perangkat serta infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis, dan mendukung kinerja pelatihan tersebut. Model desain pembelajaran ADDIE dalam penerapannya memiliki beberapa tahapan, yakni : Analysis, Design, Develop, Implement, dan Evaluate. Yang akan kami bahas dalam tulisan ini ialah tahap yang pertama, tahap analisis. Tahapan ini berisi apa saja yang harus dipersiapkan di dalam suatu pembelajaran sebelum merancang pembelajaran, dalam hal ini pendidikan dan pelatihan B. Pembahasan Menurut KBBI, Evaluasi (Evaluation) merupakan upaya penilaian secara teknis dan ekonomis terhadap suatu cebakan bahan galian untuk kemungkinan pelaksanaan penambangannya. Evaluasi merupakan tahapan akhir setelah dilakukan beberapa tahapan lain, diantaranya yaitu tahap analisa (analiysis), perancangan (design), pengembangan (development), pelaksanaan (implemetation). Pada dasarnya, evaluasi dapat dilakukan sepanjang pelaksanaan kelima langkah model ADDIE. Disamping itu, evaluasi juga dapat
Jurnal Inovasi Pendidikan Agama Islam (JIPAI)
Seorang guru atau learning designer perlu menguasai 2-5 model desain pembelajaran. Oleh karena itu, dikenal beberapa desain pembelajaran yang salah-satunya bersifat instruksional. Dalam hal ini perlu diketahui tentang model generik dari suatu sistem desain pembelajaran, salah satunya model generik ADDIE. Model tersebut akan dikaitkan dengan pembelajaran PAI. Penulis melakukan pendekatan kualitatif dengan penelitian library research. Pada tulisan ini penuis menemukan bahwa ADDIE ini merupakan model generik yang dapat diterapkan dalam pendidikan. ADDIE sendiri merupakan akronim dari Analisys, Design, Development, Implementation dan Evaluation yang dapat diterapkan secara prosedural, siklikal dan integratif. Pendekatan yang dilakukan penulis menggunakan ADDIE procedural yang menuntut guru untuk melakukan langkah-langkah sesuai dengan urutan. Pembelajaran PAI dapat diketahui progres dan pembelajaran dapat tervalidasi dengan baik karena adanya langkah-langkah yang tersusun.
1 Disampaikan pada Seminar Penyusunan Draft Desain Kurikulum Diklat Manajemen Perkantoran pada Badan Diklat Propinsi DI Yogyakarta -25 Mei 2011 keterampilan, dan (4) integrasi keterampilan kedalam aktivitas nyata kehidupan sehari-hari. Keempat fase tersebut digambarkan sebagai berikut: Gambar Fase Pembelajaran (http://mdavidmerrill.com/Papers/firstprinciplesbymerrill.pdf) Dari model tersebut, ada beberapa tips yang bisa disarikan untuk efektivitas pelatihan, yaitu: 1. Pembelajaran akan mudah manakala trainee dilibatkan dalam memecahkan permasalahan sehari-hari; 2. Pembelajaran akan dimudahkan manakala pengetahuan yang dimiliki diaktivasi sebagai landasan pengetahuan yang baru; 3. Pembelajaran akan mudah manakala pengetahuan baru diperagakan/didemonstrasikan pada trainee; 4. Pembelajaran akan mudah manakala pengetahuan diterapkan oleh trainee; dan 5. Pembelajaran akan mudah manakala pengetahuan diintegrasikan dalam keseharian trainee. Ada banyak model desain instruksional yang telah berkembang selama ini. Misalnya, model Prinsip Pertama Instruksional dari Merrill, Model desain Instruksional Kemp, Sembilan Tahapan Gagne, Taksonomi Pembelajaran Bloom, Empat Level Evaluasi Pelatihan Kirkpatrick, Critical Even Model, Model ADDIE, dan banyak lain. Dalam pembahasan ini, penulis hanya akan menjelaskan satu model saja, yang terkait dengan judul makalah, yaitu model instruksional ADDIE.
iii Dedikasi Teristimewa untuk Baba, Cik dan Cik yang sentiasa mendoakan kejayaan dan kebahagiaan, Buat isteri tersayang yang selalu memberi sokongan dan semangat, Dan Untuk anakanda tercinta Muhamad Shakireen dan Muhamad Syafi Imtiaz, Semoga sentiasa menjadi anak-anak yang berbakti kepada ibu dan bapa serta mendapat keberkatan dan kejayaan di dalam kehidupan. Juga Kepada keluarga dan rakan-rakan yang benyak membantu. iv Penghargaan Alhamdulillah, segala pujian di rafa'kan ke hadrat Allah s.w.t kerana dengan limpah dan izinNya projek ini dapat disempurnakan. Saya dengan seikhlas hati ingin merakamkan setinggi-tinggi penghargaan khususnya kepada penyelia projek, Prof. Dr. Zaitun Bt. Hj. Sidin di atas segala bimbingan, teguran, tunjuk ajar, nasihat dan panduan yang telah dihulurkan sepanjang tempoh penyelidikan projek ini dijalankan. Ribuan terima kasih kerana terus memberi nasihat, teguran dan bimbingan tampa jemu-jemu sehingga projek ini sempurna dilaksanakan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelakasanaan program Tahfidz di MA Mazro’atul Ulum Citiis Pagelaran, penerapan model ADDIE pada mata pelajaran Tahfidz, perbedaan intensitas menghafal peserta didik pada Mata Pelajaran Tahfidz. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen bentuk nonequivalent control group design. Populasi pada penelitian ini adalah kelas XI MA Mazro’atul Ulum Citiis. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 60 orang (30 peserta didik dari kelas eksperimen dan 30 orang dari kelas kontrol). Instumen penelitian yang digunakan adalah angket sebanyak 30 untuk mengetahui intensitas menghafal, dan tes lisan dan tes tulis sebanyak 30 soal untuk mengetahui kemampuan hafalan peserta didik. Data kuantitatif dianalis menggunakan uji statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Disecovery Laerning masih memiliki kekurangan-kekurangan yang menjadi hambatan kepada peningkatan intensitas menghafal dan kemampuan hafalan peseta didik, sedangkan model ADDIE relevan diterapkan dalam proses pembelajaran Tahfidz, karena mampu meningkatkan rata-rata intensitas menghafal sebesar 12,7 dan meningkatkan rata-rata kemampuan hafalan sebesar 3,43.
Desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Desain pembelajaran sangat dibutuhkan dan berguna dalam pengembangan dan pelatihan, untuk pembelajaran yang efektif, efesien dan menarik. Salah satu model desain sistem pembelajaran yang memperlihatkan tahapan-tahapan dasar sistem pembelajaran yang sederhana dan mudah dipelajari adalah model ADDIE. Model pembelajaran ADDIE ini juga salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar peserta pelatihan Model pembelajaran ADDIE ini terdiri dari lima fase yaitu;(1) analysis/analisis, (2) design/desain, (3) development/pengembangan, (4) implementation/implementasi, (5) evaluation/evaluasi. Analisis, merupakan tahapan melakukan analisa tentang beberapa hal yang perlu diketahui sebelum kegiatan pelatihan dilakukan, seperti tujuan dari penyelenggaraan pelatihan, siapa peserta dan apa yang dibutuhkan peserta pelatihan terkait dengan materi, metode teknik pembelajaran, dan lain-lain. Pada tahap analisis biasanya meliputi pelaksanaan analisis kebutuhan, identifikasi masalah dan merumuskan tujuan (A Robbert Raiser & John Depsey). Desain, pada tahap desain seorang perancang perlu melakukan perancangam awal program pelatihan/pembelajaran, merancang materi pelatihan dan merancang evaluasi pelatihan secara konseptual yang nantinya akan dijadikan dasar dalam tahapan pengembangan. Pengembangan, tahap ini kegiatan dilakukan dengan merealisasikan konsep yang sudah dibuat pada tahap desain yang sudah dilakukan sebelumnya. Dalam kegiatan pengembangan ini merealisasikan kerangka yang dibuat dalam bentuk materi pelatihan, persiapan peralatan yang akan digunakan dalam pelatihan, dan pembuatan evaluasi pelatihan. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang sedang kita kembangkan. Implementasi, tahap impelementasi sering diasosiasikan dengan penyelenggaraan program pembelajaran itu sendiri yaitu adanya penyampaian materi pembelajaran dari atau instruktur kepada siswa. Tujuan utama tahap implementasi, yang merupakan langkah realisasi desain dan pengembangan yaitu membimbing siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran untuk kompetensi, memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran siswa perlu memiliki kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan. Pada tahap akhir yaitu, evaluasi. Pada tahap evaluasi, meliputi dua bentuk evaluasi formatif dan sumatif kemudian dilakukan revisi apabila diperlukan. Sebenarnya tahap
Pengembangan perangkat desain pembelajaran terdapat beberapa model, salah satunya adalah Model ADDIE. Model ADDIE adalah salah satu model desain pembelajaran yang memperlibatkan tahapan – tahapan dasar sistem pembelajaran yang sederhana dan mudah di pelajari. Dalam desain model pembelajaran ini identitas dari desain model pembelajaran ADDIE Yaitu: Tempat : Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Medan Sasaran : Taruna Teknik Listrik Bandara Angkatan XII Semester II Mata Kuliah : Fisika Teknik Alokasi waktu : 100 menit Langkah-Langkah dari Desain Pembelajaran ADDIE Yaitu: 1. Analysis Analysis merupakan tahap awal yang digunakan dalam desain pembelajaran. Tahap ini merupakan suatu tahapan yang menjelaskan mengenai hal-hal yang harus dipelajari oleh peserta didik. Analisis ini juga digunakan untuk mengklarifikasi apakah ada masalah yang akan dihadapi sehingga nantinya dapat menemukan solusi yang tepat untuk menghadapi masalah dalam penyelenggaraan program pembelajaran. Analysis yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Langkah analisis melalui dua tahap yaitu : a. Analisis Kinerja Analisis Kinerja dilakukan untuk mengetahui dan mengklarifikasi apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran atau perbaikan manajemen. Contoh: Kurangnya pengetahuan dan keterampilan menyebabkan rendahnya kinerja individu dalam organisasi atau perusahaan, hal ini diperlukan solusi berupa penyelenggaraan program pembelajaran.
Antoni Bagas Setiawan, 2019
Desain pembelajaran model ADDIE adalah salah satu desain pembelajaran yang berorientasi sistem, yakni sebuah desain yang menghasilkan sistem pembelajaran yang mencakup seluruh komponen pembelajaran. ADDIE merupakan akronim dari Analyze, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. (menganalisis, merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi). (Branch, Instructional Design : The ADDIE Approach, 2009) Model pengembangan ADDIE merupakan model desain pembelajaran yang berlandasan pada pendekatan sistem yang efektif dan efisien serta prosesnya yang bersifat interaktif yakni hasil evaluasi setiap fase dapat membawa pengembangan pembelajaran ke fase selanjutnya. Hasil akhir dari suatu fase merupakan produk awal bagi fase berikutnya. Model ini terdiri atas 5 fase atau tahap utama yaitu 1) Analysis (Analisis), 2) Design (Desain), 3) Development (Pengembangan), 4) Implementation (Implementasi), 5) Evaluation (Evaluasi). (Ibrahim, 2019)
Vivi Marlina dan Dadan Suryana, 2021
Kurikulum penting untuk diimplementasikan dan dikembangkan secara baik dan berkelanjutan yang memacu para pelaksana kurikulum di sekolah yang siap pakai, aktif, dan kreatif serta mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi lembaga pendidikan yang ada di dalamnya. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan suatu sistem kurikulum yang efektif dan efisien pada setiap program kegiatan pendidikan.Prinsip-prinsip pengembangan/perencanaan kurikulum menunjuk pada pengertian tentang berbagai hal yang harus dijadikan sebagai patokan dalam menentukan berbahai hal yang terkait dengan pengembangan kurikulum, terutama dalam fase perencanaan kurikulum yang pada dasarnya prinsip-prinsip tersebut merupakan ciri dan hakikat kurikulum itu sendiri. Esensi dari pengembangan kurikulum adalah proses identifikasi, analisis, sintesis, evaluasi, pengambilan keputusan dan kreasi elemen-elemen kurikulum
2018
Banyak terdapat karyawan PT. Sanofi Indonesia yang tidak memiliki sertifikat Professional Medical Representative. Terdapat beberapa pelatihan yang dilaksanakan tidak berdasarkan kebutuhan karyawan. PT. Sanofi menggunakan model pelatihan ADDIE dalam menyusun perencanaan kegiatan pelatihan. Kegiatan Training need analysis di PT. Sanofi Indonesia kurang efektif 75% karyawan tidak lulus mengikuti tes dari kegiatan pelatihan PEDFI. TNA dianggap membuang-buang waktu. Pada tahap analisis pengelola dan karyawan di PT. Sanofi melakukan proses kegiatan needs assessment (penilaian kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang dihasilkan adalah berupa karakteristik atau profil calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menggambarkan, dan mengukur keberhasilan kegiatan training need analisis...
Learning is an interactive process between teachers and learners, where teaching is a teacher's job. As a teacher, the creativity of a teacher in creating a design instructional will help achieve learning outcomes that are appropriate to the learning objectives. In making the design instructional there are several models that can be chosen by a designer (teacher), one of which design instructional is model ADDIE. Writing this journal aims to explain the design of learning model ADDIE including the stages to develop this model, the writing of this journal is done through literature study from various local and international sources. ADDIE is acronim for Analyze, Design, Develop, Implement, and Evaluate, this acronim as well as a step in applying the ADDIE model in instructional design. The systematic model of ADDIE design makes this model a simple, effective and efficient model that is easy to apply. Pembelajaran merupakan proses interaktif antara guru dan peserta didik, dimana mengajar merupakan tugas seorang guru. Sebagai seorang guru, kreatifitas seorang guru dalam membuat sebuah desain pembelajaran akan membantu mencapai hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dalam membuat desain pembelajaran terdapat beberapa model yang dapat dipilih oleh seorang perancang (guru), salah satunya adalah desain pembelajaran model ADDIE. Penulisan jurnal ini bertujuan memaparkan desain pembelajaran model ADDIE termasuk tahapan pengembangannya, penulisan jurnal ini dilakukan melalui studi pustaka dari berbagai sumber lokal dan internasional. ADDIE merupakan singkatan dari Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate, singkatan ini juga sekaligus sebagai tahapan dalam menerapkan model ADDIE dalam desain pembelajaran. Desain model ADDIE yang sistematis menjadikan model ini termasuk model yang sederhana, efektif serta efisien sehingga mudah untuk diterapkan. Kata Kunci : Pembelajaran, desain pembelajaran, model ADDIE.
1. Tahapan pengembangan model ADDIE dan ASSURE a. Pengembangan Model ADDIE Model pengembangan ADDIE merupakan model desain pembelajaran yang berlandasan pada pendekatan sistem yang efektif dan efisien serta prosesnya yang bersifat interaktif yakni hasil evaluasi setiap fase dapat membawa pengembangan pembelajaran ke fase selanjutnya. Hasil akhir dari suatu fase merupakan produk awal bagi fase berikutnya. Model ini terdiri atas 5 fase atau tahap utama yaitu: 1) Tahap Analisa (Analyze) Tahap analisis biasanya meliputi pelaksanaan analisis kebutuhan, identifikasi masalah dan merumuskan tujuan. Pada tahap analisis, pengembang mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi pembelajar saat ini seperti pengetahuan, keterampilan dan perilaku dengan hasil yang diinginkan. Selain itu juga penting untuk mempertimbangkan karakteristik pembelajar. Tujuan, pengalaman dan bagaimana hal ini dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Pada tahap ini dilakukan analisis tujuan sesuai dengan kebutuhan yang dicapai. Tahap analisis merupakan suatu proses yang akan mendefinisikan apa yang akan dipelajari pelajar maka untuk mengetahui atau menentukan apa yang harus dipelajari kita harus mengetahui beberapa kegiatan, diantaranya adalah melakukan analisis kebutuhan, mengidentifikasi masalah, melakukan analisis tugas oleh karena itu keluaran (output) yang akan dihasilkan adalah beberapa karakteristik pembelajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan, dan analisis tugas yang rinci berdasarkan kebutuhan.
Jurnal Pendidikan West Science
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan pengembangan media pembelajaran berbasis video simulasi mengajar keterampilan penguatan untuk calon guru. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan menjabarkan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation). Hasil penelitian yang diperoleh yaitu : 1) Tahap Analyze terdiri dari analisis siswa dan analisis kinerja media; 2) Tahap Design yaitu merancang prototipe video simulasi mengajar berupa naskah dan story board sesuai dengan analisis awal; 3) Tahap Development yaitu mengembangkan prototipe video menjadi produk asli dan dilakukan uji validasi kelayakan; 4) Tahap Implementation yaitu menerapkan video simulasi mengajar kepada calon guru sebagai uji coba terbatas; 5) Tahap Evaluation yaitu pemberian feedback dari mahasiswa calon guru. Berdasarkan penjabaran dari penerapan model ADDIE di atas, diperoleh bahwa model ADDIE dapat digunakan untuk pengembangan media pembelajaran be...
Loading Preview
Sorry, preview is currently unavailable. You can download the paper by clicking the button above.