Hari Selasa yang lalu saya pas kebetulan berada di Jakarta. Hari Seninnya kan dibawa libur setelah 17 Agustusan. Jadi hari Selasa adalah hari pertama bekerja. Nah, pas sorenya saya pulang ke daerah Kokas, macetnya luar biasa. Dari SCBD ke Kokas mall itu membutuhkan waktu 1 jam dengan taksi.
Kemarin – hari Kamis – saya di Bali untuk acara Coinfest Asia 2025. Ini nanti harusnya jadi cerita yang terpisah. Saya memilih menginap di daerah Seminyak. Sementara acaranya di daerah Luna Beach. Acara dimulai siang hari, sementara saya putuskan untuk berangkat pagi saja. Melihat situasi, saya putuskan untuk naik motor go-ride saja. Dan ternyata memang pilihan yang pas. Muaceeettt luar biasa. Daerah Canggu yang menurut saya macetnya paling parah. Akhirnya sampai juga ke sana.
Yang lebih parahnya adalah pulangnya. Dari Luna Beach itu ke Seminyak, saya pilih lagi naik motor go-ride. Ternyata lebih dari 1 jam!!! Pantat ini sampai tepos. Padahal itu juga sudah melewati jalan-jalan tikus. Kalau tidak, bisa-bisa 2 jam naik motor. Luar biasa lah kemacetannya.
Melihat situasi ini, saya jadi teringat kembali kenapa saya tidak suka Jakarta. Macetnya. Sama, ternyata saya jadi tidak suka Work from Bali karena kemacetannya ini. Sudahlah di Bandung saja. Eh, Bandung juga sudah macet lho. Tapi masih belum segila Jakarta dan Bali. Phew.
Dua hari yang lalu kita merayakan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 80. Nah keramaian apa yang terjadi di seputaran lingkungan Anda? Kalau di saya ada pawai anak-anak dari satu RW. Ramai-ramai jalan ke atas (melewati rumah saya) dan kemudian kumpul di SD di atas. Katanya ada lomba-lomba. Ini katanya karena saya sendiri tidak ikutan ke sana.
Saya sendiri malah kumpul-kumpul dengan komunitas makan-makan dan main musik saya. Acaranya santai saja; ya makan-makan dan main musik. Tapi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tetap kita menyadari pentingnya kemerdekaan ini. Oh iya, lupa. Ada juga lomba-lomba. Yang standar lah. Lomba makan kerupuk. Hi hi hi. Tapi itu saja. Ada lomba-lomba lain tapi tidak standar.
Sekarang mesin-mesin AI sudah jagoan dalam membuat tulisan. Kalau dulu, AI hanya dapat mengenali sesuatu. Sekarang AI dapat menghasilkan “karangan”. Ini gara-gara kemampuan dari Generative AI. Ke depannya akan semakin bagus lagi karangan mesin AI ini.
Jadi mikir. Apakah saya perlu pertahankan menulis di blog lagi? Toh semuanya bisa dibuat oleh mesin. Setelah mikir-mikir, saya putuskan untuk tetap menulis. Alasannya hanya karena saya “anti mainstream” saja. Ha ha ha. Kalau orang ke Utara, saya ke Selatan. Pokoknya gak mau sama. Memang ini alasan yang tidak masuk akal. Justru itu. Kalau masuk akal, itu sudah ranahnya AI. Saya yang malah nyleneh. he he he.
Oleh karena daripada itu, maka saya harus makin rajin menulis. Soal kualitas? Itu nomor 73. Yang penting, nulis dulu. Lah kalau gak nulis, sudah jelas gak ada kualitasnya dong.
Belakangan ini saya melihat ada banyak tanyangan di YouTube atau kanal-kanal lain yang merupakan rekaman dari acara TV. Saya sudah tidak melihat acara TV Indonesia lagi, jadinya tidak tahu acara sesungguhnya. Yang menjadi perhatian saya ada beberapa hal.
Yang pertama, ada beberapa orang yang menurut saya sangat cerdas dan sudah cukup terkenal tetapi masih mencari spotlight dengan melakukan hal-hal yang kurang baik dari kacamata saya. Misalnya, dia mengumpat-umpat, mengeluarkan kata-kata kasar, meremehkan orang lain, dan seterusnya. Yang membuat saya heran adalah bahwa sebetulnya dia tidak perlu melakukan hal itu. Untuk apa? Kita – setidaknya saya – sudah mengakui kecerdasannya, opininya, dan seterusnya. Kenapa kok malah jadi counter productive ya?
Yang kedua, mirip seperti yang pertama tapi bedanya adalah terlalu menampilkan kekayaan atau kemewahan. Ada banyak orang yang baik-baik – dalam artian kelakuannya baik, tidak melakukan kejahatan seperti korupsi, dll. – tetapi malah menampilkan kekayaannya. Kalau yang laki-laki, menampilkan mobil mewah, misalnya. Kenapa mereka melakukan itu ya? Padahal kita – lagi-lagi, setidaknya saya – sudah respect kepada yang bersangkutan. Dengan cara gini kok malah jadi menyebalkan.
Saya sering ditanyakan tentang buku-buku pilihan saya, atau buku yang pantas untuk dibaca. Ternyata ini merupakan hal yang tidak mudah. Saya banyak membaca buku tetapi banyak yang sudah lupa. Nampaknya perlu saya catatkan buku-buku yang menarik bagi saya. Tentu saja selera akan sangat mempengaruhi pilihan saya ini.
Masing-masing buku seharusnya dibahas dengan lebih rinci. Nanti saya coba membahas masing-masing buku tersebut. Untuk halaman ini hanya nama pengarang, judul, dan mungkin sedikit informasi tentang buku tersebut (misalnya kenapa saya suka buku ini). Seharusnya buku-buku ini dibuat kelompok (grouping), tetapi lagi-lagi belum sempat.
Berikut ini adalah beberapa buku pilihan saya. Urutan tidak menentukan pentingnya, tetapi yang teringat oleh saya saja. (Ini akan saya update secara berkala.)
Malcom Gladwell, Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference dan Blink: The power of thinking without thinking. Kedua buku ini memang menjadi karya klasik dari Gladwell. Wajib untuk dibaca.
Michael Lewis, The New-new Thing. Seperti Malcom Gladwell, Michael Lewis juga banyak menulis buku. Bedanya kalau Michael Lewis biasanya menggunakan kacamata orang lain (orang yang dijadikan subyek dari tulisannya). Sementara Gladwell cukup percaya diri untuk menuliskan dari kacamata dia. Buku ini tentang Jim Clark, seorang entrepreneur yang memulai bisnis dari Silicon Graphics, Netscape, dan seterusnya. Saya suka buku ini karena saya pas hadir (di Canada, North America) ketika ini sedang kejadian. Jadi saya mengalaminya.
Chris Anderson, The Long Tail: Why the Future of Business Is Selling Less of More. Ini menjelaskan model bisnis yang sangat niche. Ini saya gunakan untuk pembenaran toko musik digital saya.
Peter Thiel, Zero to One: Notes on Startups, or How to Build the Future. Ini bisa dianggap sebuah bacaan wajib bagi yang ingin memulai sebuah usaha (startup). Dari tiada (zero) menjadi ada (one).
Yang BAGUS tapi tidak wajib
Ini adalah dafar buku yang menurut saya (sangat) bagus, tetapi tidak wajib dibaca. Saya suka buku-buku di bawah ini.
Eric Berger, Liftoff. Menceritakan tentang bagaimana SpaceX dikembangkan. Lengkap dengan cerita-cerita horornya. Ini mengingatkan saya kepada tim perusahaan saya.
Yuval Noah Harari, Nexus. Cerita tentang AI tetapi dari kacamata yang agak negatif. Mungkin ini tidak wajib dibaca, tapi sangat disarankan. Sebetulnya buku ini bisa masuk ke kategori wajib baca juga.
Water Rover adalah nama yang saya berikan untuk alat sensor (IoT) yang kami pasang di Pulo Aceh. Alat ini berada di laut dan mengumpulkan data disekitarnya. Data tersebut dikirimkan secara real-time ke server kami di internet.
Ini adalah foto dari Water Rover kami.
Mengapa namanya Water Rover? Nama ini terinspirasi dengan Mars Rover, sebuah mesin yang dikirimkan ke planet Mars untuk mengambil data dan mengirimkannya ke bumi. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Water Rover, namun dengan kondisi dan skala yang berbeda.
Ini adalah foto dari Mars Rover.
Sebetulnya ada kata-kata yang menyedihkan dari Mars Rover yang sangat mengena ke saya.
My battery is low and it’s getting dark
Duh sedih banget mendengarnya. Itu adalah kata-kata perpisahan dari Mars Rover. Situasi ini terjadi karena bagian dari rangkaian yang menghasilkan daya (listrik) – yang kemungkinan terkait dengan batre atau solar panel – rusak sehingga dia tidak dapat men-charge dirinya sendiri. Batrenya mulai habis. Dan mulai gelap pula. Maka dia akan mati. Hik hik hik.
Jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia nampaknya tidak ramah pejalan kaki. Tidak ada trotoar. Akibatnya orang terpaksa berjalan di bahu / pinggir jalan. Ini ngeri-ngeri sedap karena ada banyak kendaraan yang lalu lalang.
Jl. Ranggamalela di Bandung. Typical street in cities in Indonesia.
Memang ada beberapa tempat yang ada trotoarnya, tetapi ini bukan menjadi kelaziman. Nampaknya desainer kota beranggapan bahwa lebih baik berkendaraan daripada berjalan kaki. Padahal jalan kaki juga menyehatkan. (Dengan asumsi bahwa kualitas udaranya baik.) Mungkin juga bukan desainer kotanya, tetapi implementasinya dan masyarakatnya. Berarti kita semua. Jika saja kita berkorban mau untuk mengurusi jalan atau trotoar di depan rumah kita, maka semuanya menjadi indah. Apakah ini hanya impian saya saja?
Di internet semuanya ada. Mau yang bilang A yang benar, ada. Yang bilang B yang benar, juga ada. Jadi tinggal kita pilih saja. Kalau kita cenderung cocok dengan C yang benar, maka kita cari informasi yang mengatakan C itu benar. Jadi sebetulnya yang kita lakukan adalah mencari pembenaran, bukan kebenaran. Ha ha ha.
Fonts – atau lebih tepatnya typeface – Times New Roman pertama kali diperkenalkan pada edisi The Times (koran Inggris) tanggal 3 Oktober 1932 oleh perusahaan Monotype Corporation. Font ini dirancang oleh Stanley Morison bersama dengan Victor Lardent, seorang desainer dari The Times. Victor Lardent bertugas menggambar sketsa awal huruf-hurufnya dengan tangan, berdasarkan arahan Morison. Desain ini kemudian disempurnakan oleh tim Monotype untuk diadaptasi ke dalam teknologi mesin cetak logam (hot metal typesetting).
Font ini dikembangkan agar lebih mudah dibaca (estetika) dan hemat tempat dalam cetakan. Times New Roman terinspirasi oleh jenis huruf tradisional dari era Renaissance, khususnya desain tipografi abad ke-16 seperti karya Claude Garamond dan Robert Granjon.
Times New Roman mulai tersedia di komputer pada tahun 1983 dengan dirilisnya sistem operasi Microsoft Windows 1.0. Pada era 1970-an dan awal 1980-an, beberapa printer dot matrix dan printer daisy wheel juga menyediakan font berbasis Times dalam ROM mereka, meskipun dengan keterbatasan resolusi.
Microsoft memperoleh lisensi dari Monotype untuk menggunakan font ini sebagai bagian dari sistem operasinya. Sejak Windows 3.1 (1992), Times New Roman menjadi font default untuk banyak aplikasi, termasuk Microsoft Word. Sebelum itu, komputer menggunakan font bitmap atau vektor sederhana, dan font seperti Times New Roman lebih umum ditemukan di mesin cetak dan sistem typesetting.
Fonts Times New Roman masuk kategori “Serif“. (Lawannya adalah “Sans Serif“.) Selain Times New Roman masih ada banyak fonts lain yang masuk kategori serif ini dan memiliki tampilan yang mirip, seperti misalnya Georgia, Garamond, Palatino, Bookman Old Style, dan lain-lain. Banyak orang yang sering salah mengidentifikasi fonts.
Referensi.
Morison, S. (1936). A Tally of Types. Cambridge University Press. Buku ini ditulis oleh Stanley Morison, yang menjelaskan sejarah dan perkembangan berbagai jenis huruf, termasuk Times New Roman.
Halaman ini untuk mendokumentasikan kejadian jatuhnya IHSG. Kronologisnya adalah pada tanggal ? bulan Maret 2025, IHSG jatuh lebih dari 6% sehingga perdagangan saham sempat dihentikan.
Ada yang mengatakan bahwa kejatuhan ini dipengaruhi oleh ekonomi global. Namun pada saat yang sama, bursa saham di Asia tidak ada yang anjlok sebagaimana IHSG. Jadi meskipun ada pengaruh dari ekonomi global, namun kemungkinan tebesar memang spesifik Indonesia. Ada beberapa analisis alasan kenapa IHSG jatuh, antara lain:
Jatuhnya nilai mata uang Rupiah
Keberadaan Danantara
Isyu Menteri Sri Mulyani akan mengundurkan diri. Hal ini nanti dibantah (dengan mengadakan acara klarifikasi) sehingga kejatuhan IHSG terkoreksi menjadi ??? (3,* %).
Masing-masing poin di atas perlu mendapat penjabaran yang lebih panjang lagi. Dokumen ini belum selesai dan akan diperbaharui secara berkala.
Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak manusia Indonesia, tetapi sayangnya tidak banyak yang mengajari bagaimana cara menggunakannya dengan baik dan benar. Akibatnya sering terjadi perdebatan yang tidak perlu. Berikut ini adalah panduan yang saya gunakan di media sosial.
Tidak semua komentar (tanggapan) harus dikomentari. Ketika tulisan kita diberi komentar, maka tidak semuanya harus kita tanggapi. Ini bertentangan dengan pendapat umum. Biasanya orang menanggapi kembali untuk mendapatkan engagement yang tinggi. Supaya viral. Supaya banya ditonton dan seterusnya. Namun untuk diri kita, sesungguhnya ini malah menimbulkan efek negatif. Kita menjadi ketakutan tidak dianggap. Jika memang apa yang kita sampaikan penting, maka tidak perlu kita menggunakan ukuran engagement tingga atau tidak.
Kebanyakan yang komentar adalah orang yang lewat saja. Jika komentar mereka kita tanggapi pun, mereka sudah tidak akan membaca lagi. Jadi ini orang yang lewat, beri komentar, kemudian pergi lagi. Tidak akan kembali lagi membaca tulisan kita. Namanya juga orang yang sedang lewat. Komentarnya adalah impulsif. Orang yang lewat ini biasanya menggunakan userid yang generik, misal “user001” atau sejenisnya. Bukan nama orang yang sebenarnya.
Tidak perlu menanggapi serapah. Kalau banyak yang marah-marah, biarkan saja. Tidak perlu ditanggapi. Seringkali banyak yang tidak dapat menangkap apa yang kita katakan. Kalaupun kita tanggapi akan percuma karena mereka sudah tidak akan membaca lagi. (Lihat poin sebelum ini.) Namun ini memang membutuhkan tingkat kesabaran yang cukup tinggi.
Tunggu tiga (3) hari baru menanggapi. Ini adalah saran praktis yang saya sarankan untuk digunakan. Tunda 3 hari sebelum memberikan tanggapan. Jika setelah 3 hari masih ingin memberikan tanggapan, silahkan. Biasanya setelah satu atau dua hari, maka kemarahan atau kekesalan sudah turun. Topik bahasan juga sudah tidak populer lagi sehingga sudah “kadaluwarsa”. Tidak penting lagi.
Saat ini sedang ramai (kembali) dibahas soal palsu atau tidaknya ijazah pak Jokowi. Tulisan ini tidak membahas itu, karena bagi saya itu sudah selesai. Yang ini bagaimana? Nampaknya juga masih “keleru”. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.
Abraham Maslow di 1966 menulis “I suppose it is tempting, if the only tool you have is a hammer, to treat everything as if it were a nail.” Maksudnya adalah seseorang mendekati sebuah hal (kasus, isyu) dengan interpretasinya sendiri berdasarkan kemampuan dan pengalaman yang dilaluinya. Sebagai contoh bagi seorang yang sejak lahir telah menggunakan handphone dan aplikasi peta di dalamnya maka tidak mengerti bahwa dahulu peta itu berbentuk kertas (yang kadang dilipat-lipat karena saking besarnya). Jika kita menggunakan komputer, maka pikiran kita dari jaman dahulu orang menggunakan komputer. Padahal boleh jadi ada banyak hal yang dilakukan tanpa menggunakan komputer.
Kembali ke soal ijazah.
Pada jaman dahulu, teknologi komputer masih terbatas sehingga kemampuan typesetting-nya pun masih terbatas. Saya masih ingat di tahun 1980-an menggunakan komputer dengan printer dot matrix. Tulisan yang dihasilkan oleh printer dot matrix-pun kalah halus dengan laser jet (atau kalau jaman dulu printer PostScript) yang nantinya muncul. Printer dot matrix dahulu memang masih dapat digunakan untuk membuat kartu ucapan selamat (greeting cards) dalam bentuk sederhana. Ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan. Tapi sangat jauh kualitasnya dari ukuran profesional atau formal.
Selain kualitas printer masih terbatas, harga untuk membuat sebuah tulisan menjadi mahal. Misal kita ingin membuat undangan untuk sebuah acara pernikahan. Ada banyak undangan yang harus dibuat. Puluhan atau ratusan undangan. Harga satuan undangan yang terbuat dari kertas printer – mana hasilnya jelek – akan lebih mahal daripada kalau kita cetak. Ya betul, sudah ada “teknologi” percetakan. Printing press.
Kalau untuk membuat sebuah undangan, sertifikat – dan juga ijazah – yang jumlahnya banyak, maka percetakan lebih masuk akal. Apalagi jika desainnya tidak terlalu membutuhkan desain yang aneh-aneh. Banyak dokumen formal yang desainnya sudah standar. Sertifikat bentuknya standar. Undangan juga standar. Ijazah juga standar. Sampul buku tugas akhir, skripsi, thesis, disertasi juga sudah distandarkan. Maka ini akan lebih murah dan lebih bagus jika mereka dicetak. Nanti untuk personalisasi, misalnya untuk nama yang tertera pada sertifikat atau ijazah, ditulis tangan saja.
Ada juga situasi dimana kita menggabungan keduanya. Hybrid. Ini bisa kita lakukan dengan membuat dokumen skripsi, tugas akhir, atau disertasi yang isinya dicetak dengan printer dot matrix atau bahkan menggunakan mesin ketik biasa. Namun nanti sampulnya (cover-nya) dicetak menggunakan printing press. Format dari sampulnya sama hanya judul dan pengarangnya yang berbeda. Dicetak dalam jumlah sedikit, misal 5 buku, juga tidak apa-apa. Toh ini adalah buku (maha?) karya kita ketika menjadi mahasiswa. Itu yang banyak dilakukan orang. Kelihatan bagus.
Oh ya. Soal keributan ijazah yang katanya palsu karena menggunakan fontsTimes New Roman yang katanya belum ada di komputer pada waktu itu (ini juga fakta yang salah sebetulnya) salah arah. Kalau dia dicetak dengan menggunakan printing press, maka tidak ada hubungannya dengan komputer dan fonts di komputer tersebut. (Catatan: sekarang printing press sudah lebih hebat.)
Iseng-iseng, sebagian dari gambar ijazah itu – yang ada banyak tulisannya, banyak penggunaan fonts-nya – saya berikan ke beberapa mesin AI (Artificial Intelligence yang menggunakan LLM – Large Language Model yang sedang ngetop). Apakah ini dari komputer atau printing press? Berikut ini jawabannya.
Ini jawaban ChatGPT:
Dari Deepseek
Ini dari Perplexity.ai:
Ini dari Claude.ai:
Nampaknya aklamasi: printing press. Jadi kesimpulannya?
Dulu saya tidak paham seberapa hebohnya efek yang ditimbulkan oleh kode program. Saya memang suka dan bisa memprogram. Itu hobby saya. Bahkan saya tahu juga bahwa program memang dapat membuat perubahan yang signifikan, tetapi mengubah dunia? Ini mungkin terlalu bombastis. Memang benar bahwa algoritma yang kita tanamkan dalam program itu bisa melakukan sesuatu. Contohnya algoritma yang digunakan untuk menampilkan postingan di Facebook atau video di YouTube itu dapat mengubah pendapat seseorang. Mengubah kultur.
Dulu juga saya membaca bahwa hukum dapat berubah dengan adanya kode program. Code is the law. Lagi-lagi saya percaya tapi masih belum dengan sepenuh hati.
Ini saya sedang membaca bukunya Harari yang berjudul “Nexus”. Ada satu kalimat yang dia tuliskan seperti ini:
“When we write computer code, we aren’t just designing a product. We are redesigning politics, society, and culture, and so we had better have a good grasp of politics, society, and culture. We also need to take responsibility for what we are doing.”
Mak jleb! Semakin percaya saya bahwa kode program memang semakin penting.
Ini masih melanjutkan eksplorasi tentang solar panel. Di tulisan sebelumnya saya melakukan eksplorasi dengan OpenMPPT. Sejak tulisan itu ada banyak eksplorasi lain yang sudah saya lakukan tapi belum saya dokumentasikan. Masih ada banyak keanehan lain. Misalnya, kenapa di malam hari statusnya adalah “charging”? Kan malam hari tidak ada cahaya matagari. Akhirnya saya terpaksa membuat “alat ukur” sendiri, yaitu rangkaian untuk memantau arus (current sensing) DC yang menuju batre. Ini untuk memastikan apakah batre disetrum (charged) atau tidak.
Rangkaian untuk mengukur arus DCMenguji rangkaian pengukur arus DC
Rangkaian tersebut saya hubungkan dengan sebuah board ESP8266 (lebih tepatnya Wemos D1 mini) yang dapat menunjukkan berapa arus yang terbaca. Data tersebut saya ambil secara berkala dan saya simpan di berkas CSV. Hasilnya kemudian saya tampilkan di layar seperti gambar di bawah ini.
Grafik dari tampilan ini lebih masuk akal buat saya. Lebih logis. Jadi arus yang menuju batre (artinya charging) positif dari jam 7:30-an pagi sampai sekitar jam 15:00-an (jam 3 sore). Artinya ketika cuaca cerah, batre disetrum (charged). Kalau malam arusnya negatif karena batre digunakan untuk memberikan daya ke dua buah Wemos D1 mini. Arusnya mendekati 200 mA. (Tinggal dikalikan dengan 5 Volt – eh atau 3,3 Volt ya? – untuk dayanya.)
Untuk siang hari, arus charging itu bahkan bisa sampai tinggi meskipun mungkin secara rata-rata(?) mendekati 200mA juga. Ini masih perlu saya hitung lagi dari data mentahnya. Berapa daya yang keluar dalam satu hari dan berapa daya yang masuk. Secara visual ini dapat dilihat dari luas (area) yang berada di bawah atau di atas garis 0 mA. Apakah secara keseluruhan sama? Balanced? Atau malah tekor (lebih banyak yang di bawah garis 0 mA)?
Arus “normal” satu siklus
Dalam penelitian seperti ini memang harus dilakukan beberapa siklus. Kali ini saya baru melakukannya dalam rentang waktu 3 hari. Memang alatnya juga baru saya rangkai 3 hari yang lalu. Sebagai catatan memang untuk melakukan pengujian (testing) itu harus dilakukan setidaknya 2 siklus proses (business process). Semakin banyak seharusnya semakin baik, tetapi setidaknya harus lebih dari satu kali. Ini masih mau saya pantau setidaknya dalam waktu 1 minggu dulu.
Salah satu masalah besar pada sistem berbasis IoT (Internet of Things) adalah energi listrik. Banyak tempat pemasangan IoT yang tidak memiliki akses ke listrik PLN, misalnya di laut dan di hutan. Untuk itu harus dicari sumber daya listrik lain. Salah satu solusinya adalah menggunakan batre (dan aki) yang kemudian diisi (di-charge) dengan menggunakan solar cell.
Ini adalah sedikit dokumentasi dari oprekan kami terkait dengan solar cell. Sistem yang digunakan untuk melakukan manajemen pengisian batre adalah dengan menggunakan OpenMPPT. Ini adalah sebuah usaha open source. (Tautan menyusul)
Sistem Solar Cell: di atas ada solar panel, di dalam box ada aki, perangkat OpenMPPT, ESP8266 (NodeMCU D1 mini), dan sensor DHT-22Isi kotak (dari kiri ke kanan): box OpenMPPT (yang berwarna hitam), rangkaian step down (yang ada LED-nya), dan aki motor (berwarna hijau)
Yang menarik dari OpenMPPT adalah adanya web server di boardnya (yang berbasis ESP32). Kita dapat melihat status dari batre. Berikut ini adalah contoh screenshot dari web servernya.
Data dari web server itu saya ambil datanya dengan menggunakan program Python. (Kode akan saya simpan di github saya. Tautan menyusul.) Dari data yang ada, kemudian saya buatkan grafik-grafiknya. Berikut ini beberapa contoh tampilannya.
Yang pertama ini adalah tegangan di solar cell. Pada siang hari, tegangannya tinggi. Sebetunya ada perubahan dari solar panel yang saya gunakan. Pada awalnya saya hanya menggunakan solar panel yang 10 watt, kemudian diganti dengan yang 50 watt (yang lebih besar ukuran fisiknya). Ceritanya menyusul. Hasil dari solar panel yang 50 watt lebih besar tegangannya juga. Yang menarik juga adalah tegangan keluaran dari solar panel tersebut tidak menurun dengan landai sebagaimana saya pikirkan di awalnya, tetapi tiba-tiba menukik menjadi 0V. Dalam bayangan saya, seharusnya tegangannya menurun secara “analog”, landai dari katakannlah 20 Volt menjadi 0 Volt. Ternyata dia tiba-tiba langsung nol. (Ada grafik yang lebih jelas lagi.)
Grafik kedua adalah keluaran dari box OpenMPPT ini. Yang ini merupakan cerminan dari tegangan solar panel, hanya lebih kecil saja dan agak lebih “halus” sedikit. Ini nantinya yang diproses oleh box dan kemudian digunakan untuk meng-charge batre (aki). (Apakah benar demikian? Ataukah data “Temperature corrected charge end voltage” yang digunakan untuk meng-charge batre? Perlu membaca dokumentasinya lagi.)
Grafik berikutnya adalah tegangan di batre. Range tegangan di batre adalah antara 12,2 Volt sampai mendekati 12,8 Volt. Gambar grafik ini terlihat “drastis” karena range dari sumbu Y saja. Kalau dilihat dari datanya sih variasinya hanya 0,6 Volt saja.
Box OpenMPPT ini memiliki sensor yang ditempelkan ke batre sehingga dapat diukur temperatur (suhu) dari batrenya. Tegangan (daya?) yang digunakan untuk mengcharge aki. Gambar grafik di atas seharusnya menunjukkan “suhu dari batre”, tetapi dalam konfigurasi yang kami gunakan batre (aki) tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kotak (enclosure) sehingga suhu yang terukur bukan suhu batre tetapi suhu kotak ini (yang mungkin lebih panas daripada batrenya karena “terjemur”).
Gambar terakhir ini yang agak membingungkan. Ini adalah data status dari batre. Berapa persen kondisinya. Pada awal dari percobaan ini ada kondisi dimana batre yang awalnya mendekati 70% (kalau tidak salah tepatnya 66%) kemudian tiba-tiba anjlok drastis ke 22%. Ini belum diketahui sebabnya. Ada yang mengatakan bahwa kemungkinan alat konversi dari 12 Volt ke 5 Volt (step down) yang bermasalah (nyedot listirk), tetapi ini belum dapat dikonfirmasi. Alat (modul) yang sama tetap kami pakai dan hasil selanjutnya ok-ok saja. Jadi ini masih belum jelas.
Yang juga masih membingungkan adalah “charge” itu naik di malam hari juga! Awalnya saya pikir ini salah konfigurasi waktunya saja, tetapi data kemudian saya ambil secara manual di malam hari. Saya amati dan memang datanya naik. Ini masih belum jelas kenapanya. (???)
Ketika batre dalam kondisi lemah, sempat terpikirkan oleh saya untuk mengubah kodingan untuk pengambil data sensor (temperatur dan kelembaban) agar perangkan ESP8266-nya tidur (sleep) ketika tidak mengambil data. Namun sebelum ini saya laksanakan dan saya ganti solar panelnya dengan yang lebih besar, batre membaik. Jadinya saya belum melakukan modifikasi kodingan untuk mengambil data sensor.