Salah satu hal yang membuat kokoh atau rapuhnya sebuah hubungan adalah ego. Dalam pertemanan dan keluarga yang langgeng, ego ini dibuat menjadi sangat kecil, diperlemah, atau bahkan dihilangkan. Lihatlah dalam contoh pertemanan yang sangat erat, salah satu kawan menghina kawannya dan kawannya anteng alias cuek saja karena sudah tidak ada lagi ego. Tidak ada yang perlu dibahas bahwa saya lebih hebat dari dia atau sebaliknya. Sudah saling tahu. Tidak perlu dibahas. Maka jenis pertemanan seperti ini sangat tahan bantingan.
Dalam keluarga juga sama. Jika dalam sebuah keluarga, misalnya sang anak memecahkan gelas. Ibunya langsung memarahi anaknya, “kan sudah mama bilang!!!”. Apa manfaat memarahi ini? Padahal kalau ibunya langsung membantu membereskan pecahan gelas, maka sang anak juga tanpa dimarahi sudah tahu bahwa dia salah. Bahkan dia apresiasi bahwa sang ibu langsung mengambil inisiatif untuk memperbaiki situasi. Hal yang sama, jika ada kakak dari si anak yang memecahkan gelas itu langsung ambil sapu dan membantu membereskan pecahan gelas maka di situlah terjadi kekokohan keluarga. Tanpa perlu kata-kata. Di sini ego untuk menunjukkan bahwa saya benar dan kamu salah itu tidak membawa manfaat. Bahwa kalau ego itu dibuang, maka justru kekokohan hubungan semakin terjadi.
Salah satu cara untuk memperlemah ego adalah belajar bersabar. Sabar ini memang paling susah dipelajari dan diterapkan. Belajarnya susah dan ujiannya setiap hari.
Semakin kecil ego, semakin besar ketenangan.




