Merajut Kebersamaan dalam Semangat Humanum di Bumi Parahyangan
Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) bukan sekadar menara gading akademik yang berdiri megah di Ciumbuleuit. Ia adalah sebuah ekosistem hidup yang bernapas, di mana nilai-nilai kemanusiaan (humanum), keberagaman (pluralisme), dan kecintaan pada ilmu pengetahuan berpadu dalam harmoni. Di tengah dinamika kampus tertua di Jawa Barat ini, hadirlah IKBIM UNPAR (Ikatan Keluarga Besar Ibu & Mitra UNPAR) sebagai simpul perekat yang menjalin kehangatan di antara civitas akademika.
Berbeda dengan organisasi struktural kampus yang fokus pada manajemen akademik, IKBIM UNPAR bergerak di ranah kultural dan sosial. Kami menyadari bahwa "Manusia UNPAR" yang utuh tidak hanya terbentuk di ruang kelas, tetapi juga dari dukungan keluarga yang solid di rumah. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana IKBIM UNPAR menerjemahkan sesanti luhur pendiri universitas ke dalam aksi nyata yang relevan dengan tantangan zaman.
"Humanum bukanlah sekadar konsep filsafat di UNPAR, melainkan cara hidup. IKBIM UNPAR hadir untuk memastikan bahwa nilai kemanusiaan itu dimulai dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga."
1. Akar Sejarah dan Filosofi Dasar
Sejak berdirinya UNPAR pada tahun 1955, semangat pelayanan telah menjadi DNA universitas ini. Para pendiri, Mgr. P.M. Arntz, OSC dan Prof. Dr. N.J.C. Geise, OFM, menanamkan nilai bahwa ilmu pengetahuan haruslah diabdikan kepada Tuhan melalui pelayanan pada masyarakat. IKBIM UNPAR lahir dari kesadaran para istri dosen, istri karyawan, dan staf perempuan bahwa mereka memiliki peran strategis dalam mendukung misi besar ini.
Nama "Parahyangan" sendiri membawa makna "Tempat para Hyang (Dewa)", yang dalam konteks budaya Sunda menyiratkan kesucian, keindahan, dan harmoni dengan alam. IKBIM UNPAR mengadopsi nilai keluhuran budaya Sunda ini—silih asah, silih asih, silih asuh—sebagai landasan interaksi antaranggota. Kami adalah komunitas yang inklusif, merangkul anggota dari berbagai latar belakang suku dan agama, mencerminkan wajah UNPAR yang Bhineka Tunggal Ika.
2. Peran Perempuan dalam Ekosistem Pendidikan Katolik
Dalam pandangan pendidikan Katolik, peran ibu dan perempuan sangatlah sentral sebagai pendidik pertama (primary educator). IKBIM UNPAR memfasilitasi pemberdayaan perempuan melalui berbagai program yang bertujuan meningkatkan kapasitas intelektual dan emosional anggotanya.
Kami rutin mengadakan seminar bertajuk "Women for Others", yang mengadaptasi semangat Man for Others. Topik yang dibahas sangat beragam, mulai dari psikologi perkembangan anak di era digital, manajemen keuangan keluarga di masa resesi, hingga teologi feminis yang mendudukkan perempuan sebagai mitra sejajar dalam karya penciptaan. Tujuannya adalah menciptakan sosok perempuan UNPAR yang cerdas, beriman, dan berdaya tahan.
3. Implementasi Sindhunata: Spiritualitas yang Membumi
Spiritualitas UNPAR (Sindhunata) mengajarkan kita untuk peka terhadap tanda-tanda zaman. Di tahun 2026 ini, IKBIM UNPAR melihat bahwa tantangan terbesar keluarga adalah krisis ekologi dan kesehatan mental.
Merespons ensiklik Laudato Si' tentang perawatan bumi sebagai rumah bersama, IKBIM UNPAR mempelopori gerakan "Keluarga Hijau UNPAR". Kami mengedukasi anggota untuk mempraktikkan gaya hidup zero waste, mengelola sampah rumah tangga menjadi kompos, dan membuat kebun pangan mandiri di pekarangan rumah. Ini adalah bentuk konkret dari "Bhakti" kepada masyarakat dan alam ciptaan.
Selain itu, isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa (Gen Z) menjadi perhatian kami. IKBIM UNPAR bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Humaniora (LPH) menyediakan layanan konseling sebaya dan menjadi "Ibu Asuh" bagi mahasiswa rantau yang membutuhkan sandaran emosional. Kami ingin mahasiswa UNPAR merasa bahwa Bandung adalah rumah kedua mereka yang hangat.
4. Aksi Sosial: Dari Ciumbuleuit untuk Indonesia
Kepedulian sosial IKBIM UNPAR tidak terbatas pada tembok kampus. Melalui program "Tali Kasih Parahyangan", kami rutin menyalurkan beasiswa bagi anak-anak tenaga kependidikan (satpam, petugas kebersihan, staf administrasi) yang berprestasi namun terkendala biaya. Kami percaya bahwa pendidikan adalah eskalator sosial terbaik untuk memutus rantai kemiskinan.
Kami juga aktif dalam tanggap darurat bencana. Ketika Jawa Barat dilanda musibah, relawan IKBIM UNPAR turun langsung ke lapangan, tidak hanya membawa logistik, tetapi juga memberikan trauma healing bagi ibu dan anak-anak korban bencana. Semangat belarasa (compassion) inilah yang menjadi ciri khas gerakan kami.
5. Menyongsong Masa Depan dengan Identitas yang Kuat
Di tengah arus globalisasi yang sering kali menggerus identitas lokal, IKBIM UNPAR berkomitmen untuk tetap menjadi penjaga gawang budaya. Kegiatan membatik, angklung, dan apresiasi sastra Sunda menjadi agenda rutin untuk merawat akar budaya kita.
Namun, kami juga tidak menutup mata terhadap teknologi. Website ikbimunpar.com ini adalah bukti transformasi digital organisasi. Melalui platform ini, kami ingin menyebarkan inspirasi lebih luas, menjangkau alumni yang tersebar di seluruh dunia, dan membangun jejaring dengan organisasi perempuan internasional.
Kesimpulan
Menjadi bagian dari IKBIM UNPAR adalah sebuah panggilan hati. Ini adalah perjalanan untuk menemukan makna di setiap perjumpaan, untuk memberi lebih banyak daripada menerima, dan untuk terus bertumbuh dalam iman dan ilmu.
Semoga semangat Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti terus menyala dalam setiap langkah para ibu dan perempuan di Universitas Katolik Parahyangan. Mari bergandengan tangan, mewujudkan masyarakat yang lebih adil, manusiawi, dan beradab.
***
Untuk informasi lebih lanjut mengenai jadwal kegiatan, donasi sosial, atau pendaftaran anggota baru, silakan hubungi Sekretariat IKBIM UNPAR di Gedung Rektorat UNPAR Lt. 2, Jalan Ciumbuleuit No. 94, Bandung.