Menghidupi Nilai "Melayani" di Era Digital: Transformasi Peran IKBIM UKI Menuju Indonesia Emas 2045
Jakarta, Cawang — Universitas Kristen Indonesia (UKI) bukan sekadar institusi pendidikan tinggi. Ia adalah monumen sejarah yang berdiri tegak sejak 1953, membawa mandat luhur untuk mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Di tengah derap langkah ribuan mahasiswa dan kesibukan para akademisi di Kampus Cawang dan Diponegoro, terdapat sebuah detak jantung yang hangat dan konstan: Ikatan Keluarga Besar Ibu dan Mitra (IKBIM) UKI.
Organisasi ini, yang beranggotakan para istri dosen, istri tenaga kependidikan, dan karyawati perempuan UKI, memiliki peran yang jauh melampaui sekadar pertemuan sosial. IKBIM UKI adalah garda terdepan dalam menjaga "ruh" dari motto universitas: Melayani, Bukan Dilayani (Matius 20:28). Di era disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat ini, bagaimanakah IKBIM UKI merevitalisasi perannya?
"Kehebatan sebuah universitas tidak hanya diukur dari tingginya gedung rektorat, tetapi dari dalamnya fondasi kekeluargaan yang menopangnya."
1. Fondasi Teologis dan Historis: Warisan yang Hidup
Sejak awal berdirinya, UKI dirancang untuk menjadi "Universitas Perjuangan". Para pendiri menyadari bahwa intelektualitas tanpa moralitas adalah kehancuran. IKBIM UKI berdiri di atas kesadaran ini. Kami memahami bahwa tugas mendukung suami dan institusi adalah bentuk ibadah (leitourgia).
Dalam setiap pertemuan rutin, baik itu ibadah bulanan maupun perayaan Paskah dan Natal, IKBIM UKI selalu menekankan nilai-nilai: Rendah Hati (Humility), Berbagi (Sharing), dan Peduli (Caring). Kami percaya bahwa karakter pemimpin pelayan (*Servant Leader*) yang diharapkan lahir dari lulusan UKI, haruslah terlebih dahulu tercermin dalam kehidupan keluarga-keluarga di lingkungan UKI itu sendiri.
2. Sinergi Kesehatan dan Pendidikan: Keunggulan Khas UKI
Mengingat reputasi Fakultas Kedokteran UKI yang sangat kuat dan sejarah Rumah Sakit UKI, IKBIM UKI memiliki fokus khusus pada isu kesehatan keluarga. Kami menyadari bahwa kesehatan fisik dan mental adalah modal utama produktivitas akademik.
IKBIM UKI secara rutin menyelenggarakan program "UKI Sehat, Keluarga Kuat". Program ini mencakup seminar deteksi dini kanker payudara dan serviks, edukasi gizi untuk pencegahan stunting (yang masih menjadi isu nasional), hingga lokakarya kesehatan mental bagi ibu bekerja. Kami berkolaborasi dengan para pakar dari internal FK UKI untuk memastikan informasi yang diberikan berbasis bukti ilmiah (evidence-based) namun disampaikan dengan bahasa kasih yang mudah dipahami.
3. Menyongsong Era "UKI Hebat" dengan Literasi Digital
Visi "UKI Hebat" menuntut adaptasi di segala lini, termasuk organisasi pendukungnya. IKBIM UKI menolak untuk menjadi gagap teknologi. Peluncuran situs ikbimuki.com ini adalah manifestasi dari transformasi digital kami. Kami ingin memastikan bahwa silaturahmi tidak terputus oleh jarak dan macetnya Jakarta.
Lebih dari itu, IKBIM UKI mendorong anggotanya untuk menjadi "Smart Mom" di era digital. Kami mengadakan pelatihan penggunaan perangkat lunak produktivitas, manajemen keuangan keluarga berbasis aplikasi, hingga etika bermedia sosial. Tujuannya adalah agar para ibu di lingkungan UKI mampu menjadi pendamping yang relevan bagi anak-anak mereka (Generasi Z dan Alpha) yang merupakan *digital natives*.
4. Diakonia: Tangan Tuhan yang Terulur
Tidak ada iman tanpa perbuatan. Sesuai motto universitas, pelayanan IKBIM UKI meluas ke masyarakat yang terpinggirkan (*the least, the last, and the lost*). Lokasi kampus di Cawang yang strategis namun dikelilingi kantong-kantong pemukiman padat memberikan peluang pelayanan yang besar.
Kami rutin mengadakan bakti sosial berupa pengobatan gratis, pembagian sembako kasih, dan beasiswa bagi anak-anak pegawai golongan I dan II di lingkungan UKI. Kami ingin memastikan bahwa tidak ada anak dari keluarga besar UKI yang putus sekolah karena biaya. Ini adalah bentuk solidaritas konkret; "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing".
5. Peran Perempuan dalam Perspektif Kristen
IKBIM UKI juga menjadi ruang diskursus mengenai peran perempuan. Kami meyakini bahwa perempuan diciptakan setara sebagai penolong yang sepadan (*ezer kenegdo*). Dalam konteks ini, IKBIM UKI mendorong para anggotanya untuk terus mengembangkan diri, baik melalui pendidikan formal lanjutan maupun kursus keterampilan.
Kami bangga melihat banyak anggota IKBIM UKI yang tidak hanya sukses mengurus rumah tangga, tetapi juga berkarier cemerlang sebagai dosen, dokter, pengacara, dan wirausahawan. Kesuksesan ganda ini menjadi inspirasi bagi mahasiswi UKI bahwa perempuan Kristen bisa berkarya tanpa batas.
6. Menatap Indonesia Emas 2045
Tahun 2045, satu abad kemerdekaan Indonesia, bukanlah waktu yang lama. Generasi yang akan memimpin saat itu adalah anak-anak yang kita didik hari ini. IKBIM UKI berkomitmen untuk mempersiapkan ekosistem keluarga yang kondusif bagi lahirnya generasi emas tersebut.
Kami mengajak seluruh elemen wanita di UKI—baik yang berada di Cawang, Diponegoro, maupun unit-unit lainnya—untuk merapatkan barisan. Mari kita jadikan IKBIM UKI sebagai "Rumah Bersama". Rumah di mana kita saling menguatkan saat lelah, saling mendoakan saat bergumul, dan saling merayakan saat berhasil.
Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja dan Pemilik Universitas ini, senantiasa memberkati setiap langkah pelayanan kita. Syalom!
Untuk informasi keanggotaan dan jadwal kegiatan Ibadah Awal Bulan, silakan hubungi Sekretariat IKBIM UKI di Gedung Rektorat UKI Lt. 1, Jl. Mayjen Sutoyo No. 2, Cawang, Jakarta Timur.