Lompat ke isi

Samarium

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Sm)
62Sm
Samarium
Samarium murni berukuran 8×15 mm
Garis spektrum samarium
Sifat umum
Pengucapan/samarium/[1]
Penampilanputih keperakan
Samarium dalam tabel periodik
Perbesar gambar

62Sm
Hidrogen Helium
Litium Berilium Boron Karbon Nitrogen Oksigen Fluorin Neon
Natrium Magnesium Aluminium Silikon Fosforus Belerang Klorin Argon
Kalium Kalsium Skandium Titanium Vanadium Kromium Mangan Besi Kobalt Nikel Tembaga Seng Galium Germanium Arsen Selenium Bromin Kripton
Rubidium Stronsium Itrium Zirkonium Niobium Molibdenum Teknesium Rutenium Rodium Paladium Perak Kadmium Indium Timah Antimon Telurium Iodin Xenon
Sesium Barium Lantanum Serium Praseodimium Neodimium Prometium Samarium Europium Gadolinium Terbium Disprosium Holmium Erbium Tulium Iterbium Lutesium Hafnium Tantalum Wolfram Renium Osmium Iridium Platina Emas Raksa Talium Timbal Bismut Polonium Astatin Radon
Fransium Radium Aktinium Torium Protaktinium Uranium Neptunium Plutonium Amerisium Kurium Berkelium Kalifornium Einsteinium Fermium Mendelevium Nobelium Lawrensium Ruterfordium Dubnium Seaborgium Bohrium Hasium Meitnerium Darmstadtium Roentgenium Kopernisium Nihonium Flerovium Moskovium Livermorium Tenesin Oganeson


Sm

Pu
prometiumsamariumeuropium
Lihat bagan navigasi yang diperbesar
Nomor atom (Z)62
Golongangolongan n/a
Periodeperiode 6
Blokblok-f
Kategori unsur  lantanida
Berat atom standar (Ar)
  • 150,36±0,02
  • 150,36±0,02 (diringkas)
Konfigurasi elektron[Xe] 6s2 4f6
Elektron per kelopak2, 8, 18, 24, 8, 2
Sifat fisik
Fase pada STS (0 °C dan 101,325 kPa)padat
Titik lebur1345 K (1072 °C, 1962 °F)
Titik didih2067 K (1794 °C, 3261 °F)
Kepadatan mendekati s.k.7,52 g/cm3
saat cair, pada t.l.7,16 g/cm3
Kalor peleburan8,62 kJ/mol
Kalor penguapan165 kJ/mol
Kapasitas kalor molar29,54 J/(mol·K)
Tekanan uap
P (Pa) 1 10 100 1 k 10 k 100 k
pada T (K) 1001 1106 1240 (1421) (1675) (2061)
Sifat atom
Bilangan oksidasi0,[2] +1,[3] +2, +3 (oksida agak basa)
ElektronegativitasSkala Pauling: 1,17
Energi ionisasike-1: 544,5 kJ/mol
ke-2: 1070 kJ/mol
ke-3: 2260 kJ/mol
Jari-jari atomempiris: 180 pm
Jari-jari kovalen198±8 pm
Lain-lain
Kelimpahan alamiprimordial
Struktur kristal rombohedron
Struktur kristal Rhombohedral untuk samarium
Kecepatan suara batang ringan2130 m/s (suhu 20 °C)
Ekspansi kalor(s.k.) (α, poli) 12,7 µm/(m·K)
Konduktivitas termal13.3 W/(m·K)
Resistivitas listrik(s.k.) (α, poli) 0,940 µΩ·m
Arah magnetparamagnetik[4]
Suseptibilitas magnetik molar+1.860,0×10−6 cm3/mol (291 K)[5]
Modulus Youngbentuk α: 49,7 GPa
Modulus Shearbentuk α: 19,5 GPa
Modulus curahbentuk α: 37,8 GPa
Rasio Poissonbentuk α: 0,274
Skala Vickers410–440 MPa
Skala Brinell440–600 MPa
Nomor CAS7440-19-9
Sejarah
Penamaandari mineral samarskit (ia sendiri dinamai dari V. Samarsky-Bykhovets)
Penemuan dan isolasi pertamaLecoq de Boisbaudran (1879)
Isotop samarium yang utama
Iso­top Kelim­pahan Waktu paruh (t1/2) Mode peluruhan Pro­duk
144Sm 3,08% stabil
145Sm sintetis 340 hri ε 145Pm
146Sm sintetis 6,8×107 thn α 142Nd
147Sm 15,00% 1,06×1011 thn α 143Nd
148Sm 11,25% 7×1015 thn α 144Nd
149Sm 13,82% stabil
150Sm 7,37% stabil
151Sm sintetis 90 thn β 151Eu
152Sm 26,74% stabil
153Sm sintetis 46,284 jam β 153Eu
154Sm 22,74% stabil
| referensi | di Wikidata

Samarium adalah sebuah unsur kimia dengan lambang Sm dan nomor atom 62. Samarium merupakan logam berwarna keperakan yang cukup keras dan perlahan mengalami oksidasi di udara. Sebagai anggota khas deret lantanida, samarium umumnya memiliki bilangan oksidasi +3. Senyawa samarium(II) juga diketahui, terutama monoksida SmO, monokalkogenida SmS, SmSe, dan SmTe, serta samarium(II) iodida.

Ditemukan pada tahun 1879 oleh kimiawan Prancis Paul-Émile L. de Boisbaudran, samarium diberi nama berdasarkan mineral samarskit, tempat unsur tersebut diisolasi. Mineral tersebut dinamai berdasarkan seorang pejabat pertambangan Rusia, Vassili Y. Samarsky-Bykhovets, yang dengan demikian menjadi orang pertama yang namanya digunakan untuk menamai suatu unsur kimia, meskipun secara tidak langsung.

Samarium ditemukan dengan konsentrasi hingga 2,8% dalam beberapa mineral, termasuk serit, gadolinit, samarskit, monasit, dan bastnäsit. Dua mineral terakhir merupakan sumber komersial unsur ini yang paling umum. Mineral-mineral tersebut ditemukan terutama di Tiongkok, Amerika Serikat, Brasil, India, Sri Lanka, dan Australia; Tiongkok merupakan negara yang jauh memimpin dunia dalam penambangan dan produksi samarium.

Penggunaan komersial utama samarium adalah dalam magnet samarium–kobalt, yang memiliki magnetisasi permanen hanya berada di bawah magnet neodimium. Namun, senyawa samarium mampu bertahan pada suhu yang jauh lebih tinggi, yaitu di atas 700 °C (1.292 °F), tanpa kehilangan sifat magnet permanennya. Radioisotop 153Sm merupakan komponen aktif obat samarium (153Sm) leksidronam (Quadramet), yang digunakan untuk membunuh sel kanker pada kanker paru-paru, kanker prostat, kanker payudara, dan osteosarkoma. Isotop lainnya, 149Sm, merupakan penyerap neutron yang kuat sehingga ditambahkan ke batang kendali reaktor nuklir. Isotop ini juga terbentuk sebagai produk peluruhan selama pengoperasian reaktor dan menjadi salah satu faktor penting yang dipertimbangkan dalam desain dan pengoperasian reaktor. Kegunaan samarium lainnya meliputi katalisis reaksi kimia, penanggalan radioaktif, dan laser sinar-X. Secara khusus, samarium(II) iodida merupakan agen pereduksi yang umum digunakan dalam sintesis kimia.

Samarium tidak memiliki peran biologis; beberapa garam samarium bersifat sedikit beracun.[6]

Sifat fisik

[sunting | sunting sumber]

Samarium merupakan unsur tanah jarang yang memiliki kekerasan dan densitas yang mirip dengan seng. Dengan titik didih 1.794 °C (3.261 °F), samarium merupakan lantanida ketiga yang paling mudah menguap setelah iterbium dan europium. Dalam hal ini, samarium memiliki sifat yang sebanding dengan timbal dan barium; sifat tersebut membantu proses pemisahan samarium dari bijihnya.[7][8] Saat baru diperoleh, samarium memiliki kilau berwarna keperakan, tetapi akan tampak lebih kusam ketika teroksidasi di udara. Samarium diperkirakan memiliki salah satu jari-jari atom terbesar di antara unsur-unsur kimia. Jari-jari atomnya sekitar 238 pm, dan hanya kalium, praseodimium, barium, rubidium, dan sesium yang memiliki jari-jari lebih besar.[9]

Pada kondisi lingkungan, samarium memiliki struktur rombohedral (bentuk α). Ketika dipanaskan hingga 731 °C (1.348 °F), simetri kristalnya berubah menjadi struktur padat heksagon (hcp), meskipun suhu transisi sebenarnya bergantung pada kemurnian logam tersebut. Pemanasan lebih lanjut hingga 922 °C (1.692 °F) mengubahnya menjadi fase kubus berpusat-badan (bcc). Pemanasan hingga 300 °C (572 °F) disertai tekanan sebesar 40 kbar menghasilkan struktur padat heksagon ganda (dhcp). Tekanan yang lebih tinggi, dalam kisaran ratusan hingga ribuan kilobar, menyebabkan serangkaian transformasi fase. Secara khusus, fase tetragonal mulai muncul pada tekanan sekitar 900 kbar.[10] Dalam suatu penelitian, fase dhcp dapat dihasilkan tanpa kompresi, dengan menggunakan proses penganilan nonekuilibrium yang melibatkan perubahan suhu secara cepat antara sekitar 400 °C (752 °F) dan 700 °C (1.292 °F). Hal ini mengonfirmasi sifat sementara dari fase samarium tersebut. Lapisan tipis samarium yang diperoleh melalui deposisi uap dapat mengandung fase hcp atau dhcp pada kondisi lingkungan.[10]

Samarium dan seskuioksidanya bersifat paramagnetik pada suhu kamar. Momen magnet efektif keduanya, yang berada di bawah 2 μB, merupakan yang terendah ketiga di antara lantanida (dan oksidanya), setelah lantanum dan lutesium. Logam samarium berubah menjadi keadaan antiferomagnetik ketika didinginkan hingga 14,8 K.[11][12] Atom samarium secara individual dapat diisolasi dengan mengenkapsulasinya di dalam molekul fulerena.[13] Atom-atom tersebut juga dapat disisipkan ke dalam ruang antarmolekul C60 dalam jumlah besar sehingga membentuk larutan padat dengan komposisi nominal Sm3C60, yang bersifat superkonduktif pada suhu 8 K.[14] Pendopingan samarium pada superkonduktor berbasis besi—suatu kelas superkonduktor suhu tinggi—meningkatkan suhu transisi menuju keadaan konduktivitas normal hingga 56 K, yang merupakan nilai tertinggi yang telah dicapai sejauh ini dalam kelompok material tersebut.[15]

Sifat kimia

[sunting | sunting sumber]

Di udara, samarium teroksidasi secara perlahan pada suhu kamar dan dapat menyala secara spontan pada suhu 150 °C (302 °F).[6][8] Bahkan ketika disimpan di dalam minyak mineral, samarium secara bertahap mengalami oksidasi dan membentuk lapisan serbuk berwarna abu-abu kekuningan yang merupakan campuran oksida dan hidroksida pada permukaannya. Penampilan logam samarium dapat dipertahankan dengan menyimpannya dalam wadah tertutup yang berisi gas lengai, seperti argon.

Samarium cukup elektropositif dan bereaksi secara perlahan dengan air dingin, sedangkan dengan air panas reaksinya berlangsung cepat dan menghasilkan samarium hidroksida:[16]

2Sm(s) + 6H2O(l) → 2Sm(OH)3(aq) + 3H2(g)

Samarium mudah larut dalam asam sulfat encer dan menghasilkan larutan yang mengandung ion Sm(III) berwarna kuning[17] hingga hijau pucat. Ion-ion tersebut berada dalam bentuk kompleks [Sm(OH2)9]3+:[16]

2Sm(s) + 3H2SO4(aq) → 2Sm3+(aq) + 3SO2−4(aq) + 3H2(g)

Samarium merupakan salah satu dari sedikit unsur lantanida yang memiliki bilangan oksidasi +2 yang relatif mudah dicapai, selain europium dan iterbium.[18] Ion Sm2+ dalam larutan berair memiliki warna merah darah.[19]

Rumus Warna Simetri Grup ruang No. Simbol Pearson a (pm) b (pm) c (pm) Z Densitas,
g/cm3
Sm keperakan segitiga[10] R3m 166 hR9 362,9 362,9 2621,3 9 7,52
Sm keperakan heksagonal[10] P63/mmc 194 hP4 362 362 1168 4 7,54
Sm keperakan tetragonal[20] I4/mmm 139 tI2 240,2 240,2 423,1 2 20,46
SmO keemasan kubik[21] Fm3m 225 cF8 494,3 494,3 494,3 4 9,15
Sm2O3 segitiga[22] P3m1 164 hP5 377,8 377,8 594 1 7,89
Sm2O3 monoklinik[22] C2/m 12 mS30 1418 362,4 885,5 6 7,76
Sm2O3 kubik[23] Ia3 206 cI80 1093 1093 1093 16 7,1
SmH2 kubik[24] Fm3m 225 cF12 537,73 537,73 537,73 4 6,51
SmH3 heksagonal[25] P3c1 165 hP24 377,1 377,1 667,2 6
Sm2B5 abu-abu monoklinik[26] P21/c 14 mP28 717,9 718 720,5 4 6,49
SmB2 heksagonal[27] P6/mmm 191 hP3 331 331 401,9 1 7,49
SmB4 tetragonal[28] P4/mbm 127 tP20 717,9 717,9 406,7 4 6,14
SmB6 kubik[29] Pm3m 221 cP7 413,4 413,4 413,4 1 5,06
SmB66 kubik[30] Fm3c 226 cF1936 2348,7 2348,7 2348,7 24 2,66
Sm2C3 kubik[31] I43d 220 cI40 839,89 839,89 839,89 8 7,55
SmC2 tetragonal[31] I4/mmm 139 tI6 377 377 633,1 2 6,44
SmF2 ungu[32] kubik[33] Fm3m 225 cF12 587,1 587,1 587,1 4 6,18
SmF3 putih[32] ortorombik[33] Pnma 62 oP16 667,22 705,85 440,43 4 6,64
SmCl2 cokelat[32] ortorombik[34] Pnma 62 oP12 756,28 450,77 901,09 4 4,79
SmCl3 kuning[32] heksagonal[33] P63/m 176 hP8 737,33 737,33 416,84 2 4,35
SmBr2 cokelat[32] ortorombik[35] Pnma 62 oP12 797,7 475,4 950,6 4 5,72
SmBr3 kuning[32] ortorombik[36] Cmcm 63 oS16 404 1265 908 2 5,58
SmI2 hijau[32] monoklinik P21/c 14 mP12
SmI3 oranye[32] segitiga[37] R3 63 hR24 749 749 2080 6 5,24
SmN kubik[38] Fm3m 225 cF8 357 357 357 4 8,48
SmP kubik[39] Fm3m 225 cF8 576 576 576 4 6,3
SmAs kubik[40] Fm3m 225 cF8 591,5 591,5 591,5 4 7,23

Oksida samarium yang paling stabil adalah seskuioksida Sm2O3. Seperti banyak senyawa samarium lainnya, Sm2O3 memiliki beberapa fase kristalin. Bentuk segitiga diperoleh melalui pendinginan secara perlahan dari leburannya. Titik lebur Sm2O3 cukup tinggi (2345 °C) sehingga biasanya senyawa ini tidak dileburkan melalui pemanasan langsung, melainkan menggunakan pemanasan induksi melalui kumparan frekuensi radio. Kristal Sm2O3 dengan simetri monoklinik dapat ditumbuhkan menggunakan metode fusi nyala (proses Verneuil) dari serbuk Sm2O3. Metode ini menghasilkan bongkahan kristal berbentuk silinder dengan panjang hingga beberapa sentimeter dan diameter sekitar satu sentimeter. Bongkahan kristal tersebut bersifat transparan jika murni dan bebas cacat, sedangkan jika terdapat pengotor atau cacat, warnanya menjadi oranye. Pemanasan Sm2O3 segitiga yang metastabil hingga 1.900 °C (3.450 °F) mengubahnya menjadi fase monoklinik yang lebih stabil.[22] Sm2O3 kubik juga telah dilaporkan.[23]

Samarium merupakan salah satu dari sedikit lantanida yang dapat membentuk monoksida, SmO. Senyawa ini memiliki tampilan berkilau dengan warna kuning keemasan. SmO diperoleh dengan mereduksi Sm2O3 menggunakan logam samarium pada suhu tinggi (1000 °C) dan tekanan di atas 50 kbar. Jika tekanannya diturunkan, reaksi yang terjadi menjadi tidak sempurna. SmO memiliki struktur kisi kristal kubik tipe garam batu.[21][41]

Kalkogenida

[sunting | sunting sumber]

Samarium membentuk sulfida, selenida, dan telurida trivalen. Selain itu, telah diketahui pula kalkogenida divalen SmS, SmSe, dan SmTe yang memiliki struktur kristal kubik tipe garam batu. Kalkogenida tersebut mengalami perubahan dari keadaan semikonduktor menjadi logam pada suhu kamar ketika diberi tekanan.[42] Pada SmSe dan SmTe, perubahan tersebut berlangsung secara bertahap dan terjadi pada tekanan sekitar 20–30 kbar. Sebaliknya, pada SmS, perubahan berlangsung secara tiba-tiba dan hanya memerlukan tekanan sekitar 6,5 kbar. Efek ini menyebabkan perubahan warna yang sangat mencolok pada SmS, dari hitam menjadi kuning keemasan, ketika kristal atau lapisan tipisnya digores atau dipoles. Perubahan tersebut tidak mengubah simetri kisi kristal, tetapi menyebabkan penurunan volume kristal yang tajam, yaitu sekitar 15%.[43] Fenomena ini menunjukkan histeresis, yaitu ketika tekanan dilepaskan, SmS kembali ke keadaan semikonduktor pada tekanan yang jauh lebih rendah, sekitar 0,4 kbar.[6][44]

Samarium triklorida

Logam samarium bereaksi dengan semua halogen dan membentuk trihalida:[45]

2 Sm (s) + 3 X2 (g) → 2 SmX3 (s) (X = F, Cl, Br, atau I)

Reduksi lebih lanjut terhadap trihalida menggunakan logam samarium, litium, atau natrium pada suhu tinggi (sekitar 700–900 °C) menghasilkan dihalida.[34] Samarium diiodida juga dapat dibuat dengan memanaskan samarium triiodida, atau dengan mereaksikan logam samarium dengan 1,2-diiodoetana dalam tetrahidrofuran anhidrat pada suhu kamar:[46]

Sm (s) + ICH2-CH2I → SmI2 + CH2=CH2.

Selain dihalida, proses reduksi juga menghasilkan berbagai halida samarium nonstoikiometri dengan struktur kristal yang terdefinisi dengan baik, seperti Sm3F7, Sm14F33, Sm27F64,[33] Sm11Br24, Sm5Br11, dan Sm6Br13.[47]

Halida samarium dapat mengalami perubahan struktur kristal ketika satu jenis anion halida digantikan oleh jenis lainnya. Perilaku ini tidak umum ditemukan pada sebagian besar unsur lainnya, misalnya aktinida. Banyak halida memiliki dua fase kristal utama untuk satu komposisi, yaitu satu fase yang jauh lebih stabil dan satu fase metastabil. Fase metastabil tersebut dapat terbentuk melalui kompresi atau pemanasan, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan cepat hingga kembali ke kondisi lingkungan. Sebagai contoh, samarium diiodida yang umumnya memiliki struktur monoklinik, jika diberi tekanan kemudian tekanannya dilepaskan, akan berubah menjadi struktur ortorombik tipe PbCl2 dengan densitas 5,90 g/cm3.[48] Perlakuan serupa juga menghasilkan fase baru samarium triiodida dengan densitas 5,97 g/cm3.[49]

Penyinteran serbuk samarium oksida dan boron dalam kondisi vakum menghasilkan serbuk yang mengandung beberapa fase borida samarium. Perbandingan antara fase-fase tersebut dapat dikendalikan melalui proporsi pencampuran bahan awal.[50] Serbuk tersebut dapat diubah menjadi kristal borida samarium berukuran lebih besar menggunakan teknik peleburan busur atau peleburan zona, dengan memanfaatkan perbedaan suhu lebur/kristalisasi antara SmB6 (2580 °C), SmB4 (sekitar 2300 °C), dan SmB66 (2150 °C). Semua material tersebut merupakan padatan berwarna abu-abu gelap, keras, dan getas, dengan tingkat kekerasan yang meningkat seiring bertambahnya kandungan boron.[29] Samarium diborida terlalu mudah menguap untuk diproduksi menggunakan metode tersebut. Oleh karena itu, pembentukannya memerlukan tekanan tinggi (sekitar 65 kbar) dan suhu rendah antara 1.140 dan 1.240 °C untuk menstabilkan pertumbuhannya. Peningkatan suhu menyebabkan pembentukan SmB6 secara lebih dominan.[27]

Samarium heksaborida

[sunting | sunting sumber]

Samarium heksaborida (SmB6) merupakan senyawa valensi antara yang khas, di mana samarium terdapat dalam bentuk ion Sm2+ dan Sm3+ dengan perbandingan 3:7.[50] SmB6 termasuk dalam kelompok insulator Kondo. Pada suhu di atas 50 K, sifatnya menyerupai logam Kondo, dengan konduktivitas listrik logam yang ditandai oleh hamburan elektron yang kuat. Sementara itu, pada suhu yang lebih rendah, SmB6 berperilaku sebagai insulator nonmagnetik dengan celah pita sempit sekitar 4–14 meV.[51] Transisi logam–insulator pada SmB6 yang dipicu oleh pendinginan disertai dengan peningkatan tajam pada konduktivitas termal, yang mencapai puncaknya pada sekitar 15 K. Peningkatan tersebut terjadi karena pada suhu rendah, elektron tidak lagi memberikan kontribusi terhadap konduktivitas termal. Konduktivitas termal pada kondisi ini didominasi oleh fonon. Namun, berkurangnya konsentrasi elektron menyebabkan laju hamburan elektron–fonon menurun, sehingga konduktivitas termal meningkat.[52]

Senyawa anorganik lainnya

[sunting | sunting sumber]
Satu tabung samarium sulfat
Samarium sulfat, Sm2(SO4)3

Karbida samarium dibuat dengan meleburkan campuran grafit dan logam samarium dalam atmosfer lengai. Setelah proses sintesis, senyawa tersebut tidak stabil di udara sehingga perlu dipelajari dalam kondisi atmosfer lengai.[31] Samarium monofosfida (SmP) merupakan semikonduktor dengan celah pita sebesar 1,10 eV, sama seperti silikon, dan memiliki konduktivitas listrik tipe-n. SmP dapat dibuat dengan melakukan penganilan pada suhu 1.100 °C (2.010 °F) terhadap ampul kuarsa yang telah divakum dan berisi campuran serbuk fosforus dan samarium. Fosforus sangat mudah menguap pada suhu tinggi dan dapat meledak, sehingga laju pemanasan harus dijaga jauh di bawah 1 °C/min.[39] Prosedur serupa digunakan untuk membuat samarium monoarsenida (SmAs), tetapi suhu sintesisnya lebih tinggi, yaitu 1.800 °C (3.270 °F).[40]

Berbagai senyawa biner kristalin diketahui terbentuk dari samarium dan salah satu unsur golongan 14, 15, atau 16, dengan X = Si, Ge, Sn, Pb, Sb, atau Te. Selain itu, paduan logam samarium juga membentuk kelompok senyawa yang besar. Semua senyawa tersebut dibuat dengan melakukan penganilan terhadap campuran serbuk unsur-unsur penyusunnya. Banyak senyawa yang dihasilkan bersifat nonstoikiometri dan memiliki komposisi nominal SmaXb, dengan perbandingan b/a bervariasi antara 0,5 hingga 3.[53][54]

Senyawa organologam

[sunting | sunting sumber]

Samarium membentuk siklopentadienida Sm(C5H5)3 serta turunannya yang mengandung klorin, yaitu Sm(C5H5)2Cl dan Sm(C5H5)Cl2. Senyawa-senyawa tersebut dibuat dengan mereaksikan samarium triklorida dengan NaC5H5 dalam tetrahidrofuran. Berbeda dengan siklopentadienida dari sebagian besar lantanida lainnya, pada Sm(C5H5)3 beberapa cincin C5H5 saling menjembatani dengan membentuk ikatan melalui verteks cincin η1 atau sisi cincin η2 menuju atom samarium lain yang berdekatan. Hal ini menghasilkan rantai polimer.[19] Turunan klorin Sm(C5H5)2Cl memiliki struktur dimer, yang secara lebih tepat dapat dituliskan sebagai (η(5)−C5H5)2Sm(−Cl)2(η(5)−C5H5)2. Pada struktur tersebut, atom-atom klorin yang berfungsi sebagai jembatan dapat digantikan, misalnya, oleh iodin, hidrogen, atau nitrogen, maupun oleh gugus CN.[55]

Ion (C5H5) dalam siklopentadienida samarium juga dapat digantikan oleh cincin indenida (C9H7) atau siklooktatetraenida (C8H8)2−, sehingga menghasilkan Sm(C9H7)3 atau KSm(η(8)−C8H8)2. Senyawa terakhir memiliki struktur yang mirip dengan uranosena. Terdapat pula siklopentadienida samarium divalen, Sm(C5H5)2, yang berbentuk padatan dan dapat menyublim pada suhu sekitar 85 °C (185 °F). Berbeda dengan ferosena, cincin C5H5 dalam Sm(C5H5)2 tidak tersusun sejajar, melainkan miring dengan sudut sekitar 40°.[55][56]

Reaksi metatesis dalam tetrahidrofuran atau eter menghasilkan senyawa alkil dan aril samarium, misalnya:[55]

SmCl3 + 3LiR → SmR3 + 3LiCl
Sm(OR)3 + 3LiCH(SiMe3)2 → Sm{CH(SiMe3)2}3 + 3LiOR

Dalam persamaan tersebut, R merupakan gugus hidrokarbon dan Me = metil.

Samarium yang terdapat secara alami terdiri dari lima isotop stabil, yaitu 144Sm, 149Sm, 150Sm, 152Sm, dan 154Sm, serta dua radioisotop dengan umur sangat panjang, yaitu 147Sm (t1/2 = 1,066×1011 tahun) dan 148Sm (6,3×1015 tahun). Di antara isotop-isotop tersebut, 152Sm merupakan yang paling melimpah, dengan kelimpahan sekitar 26,75%.[57] Berbagai sumber mencantumkan 149Sm sebagai isotop stabil,[57][58] tetapi beberapa sumber menyatakan bahwa isotop tersebut bersifat radioaktif;[59] batas bawah waktu paruhnya diperkirakan mencapai 2×1015 tahun.[57] Beberapa isotop samarium yang secara pengamatan dianggap stabil diperkirakan dapat meluruh menjadi isotop neodimium.[60] Isotop berumur panjang 146Sm, 147Sm, dan 148Sm (serta 149Sm jika ternyata mengalami peluruhan) mengalami peluruhan alfa menjadi isotop neodimium. Isotop samarium yang lebih ringan dan tidak stabil terutama mengalami penangkapan elektron menjadi prometium, sedangkan isotop yang lebih berat mengalami peluruhan beta menjadi europium.[57] Isotop samarium yang telah diketahui memiliki nomor massa mulai dari 129Sm hingga 168Sm.[61] Waktu paruh 151Sm dan 145Sm masing-masing adalah 94,6 tahun dan 340 hari. Semua radioisotop lainnya memiliki waktu paruh kurang dari 2 hari, dan sebagian besar memiliki waktu paruh kurang dari 48 detik.[57] Samarium alami memiliki radioaktivitas sekitar 127 Bq/g, yang sebagian besar berasal dari 147Sm.[62] Peluruhan alfa 147Sm menjadi 143Nd digunakan dalam metode penanggalan samarium–neodimium.[63][64] 146Sm merupakan radionuklida yang telah punah, dengan waktu paruh 9,20×107 tahun.[65] Para ilmuwan telah mencari keberadaan 146Sm sebagai nuklida primordial, karena waktu paruhnya cukup panjang sehingga sejumlah kecil unsur tersebut secara teoretis masih dapat bertahan hingga sekarang.[66] Isotop ini dapat digunakan dalam penanggalan radiometrik.[67]

149Sm merupakan isotop samarium yang secara pengamatan dianggap stabil dan merupakan salah satu produk dari rantai peluruhan hasil fisi 149Nd, dengan hasil fisi sekitar 1,0888%. 149Sm merupakan penyerap neutron yang signifikan dalam reaktor nuklir. Efeknya sebagai racun neutron merupakan salah satu faktor terpenting dalam desain dan pengoperasian reaktor, hanya berada di bawah 135Xe dalam hal pentingnya.[68][69] Penampang lintang neutron 149Sm untuk neutron termal adalah sekitar 41.000 barn.[70] Karena 149Sm tidak radioaktif dan tidak berkurang melalui peluruhan, perilakunya menimbulkan masalah yang agak berbeda dari 135Xe. Konsentrasi kesetimbangan 149Sm, dan akibatnya efek peracunannya, terbentuk selama pengoperasian reaktor dan mencapai nilai kesetimbangan dalam waktu sekitar 500 jam (sekitar tiga minggu). Hal ini terjadi karena isotop tersebut secara praktis tidak menghilang, kecuali melalui penangkapan neutron.[71]

Struktur kimia samarium (153Sm) leksidronam
Struktur kimia Sm-EDTMP

153Sm merupakan pemancar beta dengan waktu paruh 46,285 jam. Isotop ini digunakan untuk membunuh sel kanker pada kanker paru-paru, kanker prostat, kanker payudara, dan osteosarkoma. Untuk tujuan tersebut, 153Sm dikelat dengan etilenadiamina tetrametilena fosfonat (EDTMP) dan kemudian diberikan melalui suntikan intravena. Proses pengelatan tersebut mencegah penumpukan samarium radioaktif di dalam tubuh yang dapat menyebabkan paparan radiasi berlebihan dan pembentukan sel kanker baru.[6] Obat yang menggunakan 153Sm ini memiliki beberapa nama, salah satunya samarium (153Sm) leksidronam, dengan nama dagang Quadramet.[72][73][74]

Lecoq de Boisbaudran
Paul-Émile L. de Boisbaudran, penemu samarium

Penemuan samarium dan unsur-unsur terkait diumumkan oleh beberapa ilmuwan pada paruh kedua abad ke-19. Namun, sebagian besar sumber memberikan penghargaan utama kepada kimiawan Prancis Paul-Émile L. de Boisbaudran.[75][76] Pada tahun 1879 di Paris, Boisbaudran mengisolasi samarium oksida dan/atau hidroksida dari mineral samarskit ((Y,Ce,U,Fe)3(Nb,Ta,Ti)5O16) dan mengidentifikasi adanya unsur baru melalui garis-garis absorpsi optik yang tajam.[8] Kimiawan Swiss Marc Delafontaine sebelumnya mengumumkan penemuan unsur baru bernama desipium pada tahun 1878. Nama tersebut berasal dari bahasa Latin decipiens, yang berarti "menipu" atau "menyesatkan".[77][78] Namun, pada tahun 1880–1881, Delafontaine menunjukkan bahwa desipium sebenarnya merupakan campuran beberapa unsur, salah satunya ternyata identik dengan samarium yang ditemukan oleh Boisbaudran.[79][80] Meskipun samarskit pertama kali ditemukan di Pegunungan Ural, Rusia, pada akhir tahun 1870-an mineral tersebut telah ditemukan di berbagai tempat lain sehingga dapat diteliti oleh banyak ilmuwan. Kemudian diketahui bahwa samarium yang diisolasi oleh Boisbaudran juga belum murni dan mengandung europium dalam jumlah yang cukup besar. Samarium(III) oksida murni baru berhasil diperoleh pada tahun 1901 oleh Eugène-Anatole Demarçay,[81][82][83] sedangkan pada tahun 1903, Wilhelm Muthmann berhasil mengisolasi unsur samarium.

Boisbaudran menamai unsur tersebut samarium, berdasarkan nama mineral samarskit, yang pada gilirannya dinamai untuk menghormati Vassili Samarsky-Bykhovets (1803–1870). Sebagai Kepala Staf Korps Insinyur Pertambangan Rusia, Samarsky-Bykhovets memberikan izin kepada dua ahli mineralogi Jerman, Gustav dan Heinrich Rose, untuk mempelajari sampel mineral dari Pegunungan Ural.[84][85][86] Dengan demikian, samarium menjadi unsur kimia pertama yang namanya diambil dari nama seseorang.[81][87] Istilah samaria terkadang digunakan untuk menyebut samarium(III) oksida, dengan pola penamaan yang serupa dengan itria, zirkonia, alumina, seria, holmia, dan sebagainya. Lambang Sm diusulkan untuk samarium, tetapi lambang alternatif Sa juga sering digunakan hingga sekitar tahun 1920-an.[81][88]

Sebelum munculnya teknologi pemisahan menggunakan pertukaran ion pada tahun 1950-an, samarium murni belum memiliki kegunaan komersial. Namun, hasil samping dari pemurnian neodimium melalui kristalisasi fraksional berupa campuran samarium dan gadolinium yang kemudian dikenal sebagai Lindsay Mix, berdasarkan nama perusahaan yang memproduksinya. Campuran ini digunakan untuk batang kendali nuklir pada beberapa reaktor nuklir generasi awal.[89] Saat ini, produk komersial serupa dikenal sebagai konsentrat "samarium–europium–gadolinium" (SEG).[87] Konsentrat ini dibuat melalui ekstraksi pelarut dari campuran lantanida yang diperoleh dari bastnäsit atau monasit. Lantanida yang lebih berat memiliki afinitas lebih tinggi terhadap pelarut yang digunakan sehingga dapat diekstraksi dari campuran utama dengan menggunakan jumlah pelarut yang relatif kecil. Tidak semua produsen unsur tanah jarang yang mengolah bastnäsit melakukan pemisahan komponen hingga skala yang cukup besar untuk menghasilkan SEG. Konsentrat SEG biasanya hanya mencakup sekitar 12% dari bijih awal. Oleh karena itu, produsen tersebut biasanya menghasilkan SEG untuk kemudian dijual kepada perusahaan pemroses khusus. Dengan cara ini, europium yang bernilai tinggi dalam bijih dapat dipulihkan untuk digunakan dalam pembuatan fosfor. Setelah europium dipisahkan, dilakukan pemurnian samarium. Hingga 2012, karena terjadi kelebihan pasokan, samarium oksida memiliki harga komersial yang relatif murah dibandingkan dengan kelimpahan alaminya dalam bijih.[90]

Keterjadian dan produksi

[sunting | sunting sumber]
Samarskit
Samarskit

Konsentrasi samarium dalam tanah bervariasi antara 2 hingga 23 ppm, sedangkan air laut mengandung sekitar 0,5–0,8 ppt.[6] Nilai median kelimpahan samarium di kerak Bumi yang digunakan oleh CRC Handbook adalah 7 ppm,[91] sehingga samarium menempati urutan ke-40 sebagai unsur yang paling melimpah.[92] Distribusi samarium di dalam tanah sangat bergantung pada bentuk kimianya dan bersifat sangat tidak merata. Pada tanah berpasir, konsentrasi samarium di permukaan partikel tanah sekitar 200 kali lebih tinggi dibandingkan konsentrasinya di air yang terperangkap di antara partikel tersebut. Pada tanah liat, perbandingan ini bahkan dapat melebihi 1.000 kali.[93]

Samarium tidak ditemukan dalam bentuk bebas di alam. Seperti unsur tanah jarang lainnya, samarium terdapat dalam berbagai mineral, antara lain monasit, bastnäsit, serit, gadolinit, dan samarskit. monasit (yang mengandung samarium hingga sekitar 2,8%)[8] dan bastnäsit merupakan sumber samarium yang paling banyak digunakan secara komersial. Sumber daya samarium dunia diperkirakan mencapai sekitar 2 juta ton, yang sebagian besar terdapat di Tiongkok, Amerika Serikat, Brasil, India, Sri Lanka, dan Australia. Produksi tahunannya diperkirakan sekitar 700 ton.[6] Namun, data produksi tiap negara biasanya dilaporkan sebagai produksi seluruh logam tanah jarang secara gabungan. Tiongkok merupakan produsen terbesar dengan sekitar 120.000 ton per tahun, diikuti Amerika Serikat dengan sekitar 5.000 ton[93] dan India dengan sekitar 2.700 ton.[94] Samarium biasanya diperdagangkan dalam bentuk samarium oksida, yang dengan harga sekitar US$30/kg termasuk salah satu oksida lantanida yang relatif murah.[90] Sementara itu, mischmetall—campuran logam tanah jarang yang mengandung sekitar 1% samarium—telah lama digunakan. Samarium yang relatif murni baru berhasil diperoleh dalam beberapa waktu terakhir melalui proses pertukaran ion, ekstraksi pelarut, dan pengendapan elektrokimia. Logam samarium umumnya dibuat melalui elektrolisis campuran leburan samarium(III) klorida dengan natrium klorida atau kalsium klorida. Samarium juga dapat diperoleh dengan mereduksi oksidanya menggunakan lantanum. Produk tersebut kemudian didistilasi untuk memisahkan samarium dari lantanum. Samarium memiliki titik didih sekitar 1.794 °C, sedangkan lantanum memiliki titik didih sekitar 3.464 °C.[76]

Sangat sedikit mineral yang menjadikan samarium sebagai unsur paling dominan. Mineral yang mengandung samarium sebagai unsur utama antara lain monasit-(Sm) dan florensit-(Sm). Mineral-mineral tersebut sangat langka dan biasanya juga mengandung unsur lain, terutama serium atau neodimium.[95][96][97][98] Samarium juga dapat terbentuk melalui penangkapan neutron oleh 149Sm. Proses ini berkaitan dengan penggunaannya pada batang kendali reaktor nuklir. Oleh karena itu, isotop, 151Sm dapat ditemukan dalam bahan bakar nuklir bekas dan limbah radioaktif.[93]

Pemisahan samarium dari mineralnya merupakan proses yang sangat kompleks, yang dapat melibatkan hampir 100 tahap pemrosesan serta penggunaan asam yang sangat kuat.[99]

Geopolitik

[sunting | sunting sumber]

Militer negara-negara Barat di seluruh dunia bergantung pada satu-satunya fasilitas produksi samarium di La Rochelle, Prancis, sejak tahun 1970-an hingga fasilitas tersebut ditutup pada tahun 1994.[99] Fasilitas tersebut memperoleh bahan baku samariumnya dari Australia.[99] Upaya pemerintah Amerika Serikat senilai US$1 miliar untuk membuka kembali tambang tanah jarang yang telah ditutup di Mountain Pass, California, justru menyebabkan fasilitas tersebut mengalami kebangkrutan.[99]

Hingga 2025, Tiongkok memproduksi seluruh samarium yang dapat digunakan di dunia, dengan kegiatan pemurnian terkonsentrasi di Baotou.[99] Pemerintahan Joe Biden menandatangani dua kontrak untuk pembangunan fasilitas produksi samarium di Amerika Serikat, tetapi keduanya tidak terealisasi.[99] Pada masa perang tarif periode kedua pemerintahan Donald Trump, Tiongkok memberlakukan pembatasan ketat terhadap ekspor samarium, bersama dengan beberapa logam tanah jarang lainnya. Pembatasan ini merupakan bagian dari sengketa perdagangan tanah jarang yang telah berlangsung lama dan juga bagian dari perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.[99]

Salah satu kegunaan penting samarium adalah dalam pembuatan magnet samarium–kobalt, yang secara umum memiliki komposisi SmCo5 atau Sm2Co17.[100] Magnet ini memiliki magnetisasi permanen yang sangat tinggi, sekitar 10.000 kali lipat dibandingkan besi, dan berada di urutan kedua setelah magnet neodimium. Namun, magnet samarium–kobalt memiliki keunggulan dalam hal ketahanan terhadap demagnetisasi. Magnet ini tetap stabil pada suhu di atas 700 °C (1.292 °F), sedangkan magnet neodimium umumnya stabil pada kisaran 300–400 °C. Magnet samarium-kobalt digunakan pada berbagai perangkat, seperti motor berukuran kecil, penyuara jemala, serta pickup magnetik berkualitas tinggi untuk gitar dan alat musik sejenis.[6] Sebagai contoh, magnet tersebut digunakan pada motor pesawat listrik bertenaga surya seperti Solar Challenger, serta pada pickup gitar dan bas elektrik Samarium Cobalt Noiseless.

Karena memiliki ketahanan terhadap suhu tinggi, magnet samarium juga digunakan dalam aplikasi militer dan diperlukan dalam pembuatan pesawat modern serta rudal.[99] Sebagai gambaran, satu unit pesawat tempur F-35 mengandung sekitar 50 pon (23 kg) magnet samarium.[99]

Pereaksi kimia

[sunting | sunting sumber]
Reaksi Barbier menggunakan samarium diiodida
Reaksi Barbier menggunakan SmI2

Samarium dan senyawanya berperan penting sebagai katalis dan pereaksi kimia. Katalis samarium dapat membantu proses dekomposisi plastik, deklorinasi polutan seperti bifenil poliklorinasi (PCB), serta dehidrasi dan dehidrogenasi etanol.[8] Samarium(III) triflat, Sm(OTf)3 atau Sm(CF3SO3)3, merupakan salah satu katalis asam Lewis yang sangat efektif untuk reaksi Friedel–Crafts yang dipromosikan oleh halogen dengan alkena.[101] Sementara itu, samarium(II) iodida merupakan salah satu agen pereduksi dan kopling yang sangat umum digunakan dalam sintesis organik. Samarium(II) iodida digunakan dalam berbagai reaksi, antara lain reaksi desulfonilasi; anulasi; sintesis total Taxol Danishefsky, Kuwajima, Mukaiyama, dan Holton; sintesis total striknina; reaksi Barbier, serta reaksi reduksi menggunakan samarium(II) iodida lainnya.[102]

Dalam bentuk teroksidasinya, samarium juga ditambahkan ke keramik dan kaca untuk meningkatkan kemampuan material dalam menyerap radiasi inframerah. Sebagai komponen minor dalam mischmetall, samarium digunakan dalam perangkat pemantik berbentuk "rijang" pada berbagai pemantik api dan obor.[6][8]

Penyerap neutron

[sunting | sunting sumber]

149Sm memiliki penampang lintang tangkapan neutron yang sangat tinggi (41.000 barn), sehingga digunakan sebagai penyerap neutron pada batang kendali reaktor nuklir. Keunggulan samarium dibandingkan bahan lain seperti boron dan kadmium adalah kestabilan kemampuan penyerapannya. Sebagian besar produk hasil penangkapan neutron oleh 149Sm merupakan isotop samarium lain yang juga memiliki kemampuan menyerap neutron. Sebagai contoh, penampang lintang penangkapan neutron 151Sm adalah 15.000 barn, sedangkan untuk 150Sm, 152Sm, dan 153Sm, nilainya berada pada kisaran ratusan barn, dan untuk samarium alami (campuran berbagai isotop) nilainya sekitar 6.800 barn.[8][93][103]

Kristal kalsium fluorida yang didoping samarium digunakan sebagai medium aktif dalam salah satu laser wujud padat pertama yang dirancang dan dibuat oleh Peter Sorokin (salah satu penemu laser pewarna) dan Mirek Stevenson di laboratorium penelitian IBM pada awal tahun 1961. Laser samarium ini menghasilkan pulsa cahaya merah dengan panjang gelombang 708,5 nm. Laser tersebut harus didinginkan menggunakan helium cair, sehingga tidak menemukan aplikasi praktis.[104][105] Laser berbasis samarium lainnya menjadi laser sinar-X jenuh pertama yang beroperasi pada panjang gelombang kurang dari 10 nm. Laser ini menghasilkan pulsa selama 50 pikodetik pada panjang gelombang 7,3 dan 6,8 nm, yang sesuai untuk digunakan dalam holografi, mikroskopi resolusi tinggi pada spesimen biologis, deflektometri, interferometri, dan radiografi plasma berdensitas tinggi yang berkaitan dengan fusi terkungkung dan astrofisika. Operasi dalam kondisi jenuh berarti bahwa daya maksimum yang mungkin dapat diekstraksi dari medium laser, sehingga menghasilkan energi puncak yang tinggi, yaitu sekitar 0,3 mJ. Medium aktifnya berupa plasma samarium yang dihasilkan dengan mengiradiasi kaca berlapis samarium menggunakan laser Nd-kaca inframerah berpulsa dengan panjang gelombang sekitar 1,05 μm.[106]

Fosfor penyimpan

[sunting | sunting sumber]

IPada tahun 2007, diketahui bahwa BaFCl:Sm3+ nanokristalin yang dibuat melalui metode kopresipitasi dapat berfungsi sebagai fosfor penyimpan sinar-X yang sangat efisien.[107] Proses kopresipitasi menghasilkan nanokristalit berukuran sekitar 100–200 nm Sensitivitasnya sebagai fosfor penyimpan sinar-X meningkat secara luar biasa, hingga sekitar 500.000 kali, dibandingkan dengan sampel mikrokristalin yang dibuat melalui penyinterian pada suhu tinggi. Peningkatan ini disebabkan oleh susunan dan kepadatan pusat cacat yang spesifik dalam material tersebut.[108] Mekanismenya didasarkan pada reduksi Sm3+ menjadi Sm2+ melalui penangkapan elektron yang terbentuk ketika material BaFCl terkena radiasi pengion. Garis luminesensi f–f 5DJ7FJ dapat dieksitasi dengan sangat efisien melalui transisi 4f6→4f55d yang diperbolehkan oleh aturan paritas pada sekitar 417 nm. Panjang gelombang tersebut ideal untuk eksitasi yang efisien menggunakan dioda laser biru-ungu, karena transisinya diperbolehkan secara dipol listrik sehingga intensitasnya relatif tinggi (400 L/(mol⋅cm)).[109] Fosfor ini berpotensi digunakan dalam dosimetri personal, dosimetri dan pencitraan dalam radioterapi, serta pencitraan medis.[110]

Penggunaan nonkomersial dan potensial

[sunting | sunting sumber]
  • Perubahan resistivitas listrik pada samarium monokalkogenida dapat dimanfaatkan sebagai sensor tekanan atau perangkat memori yang dapat berpindah antara kondisi resistansi rendah dan resistansi tinggi akibat tekanan eksternal.[111] Perangkat semacam ini sedang dikembangkan untuk penggunaan komersial.[112] Samarium monosulfida juga dapat menghasilkan tegangan listrik ketika dipanaskan hingga sekitar 150 °C (302 °F), sehingga berpotensi digunakan dalam konverter energi termoelektrik.[113]
  • Analisis konsentrasi relatif isotop samarium dan neodimium, yaitu 147Sm, 144Nd, dan 143Nd, amemungkinkan penentuan usia dan asal batuan serta meteorit melalui metode penanggalan samarium–neodimium. Kedua unsur tersebut merupakan lantanida dan memiliki sifat fisik serta kimia yang sangat mirip. Oleh karena itu, penanggalan Sm–Nd relatif tidak sensitif terhadap pemisahan unsur-unsur penanda selama berbagai proses geologi, atau proses pemisahan tersebut dapat dipahami dan dimodelkan dengan baik berdasarkan jari-jari ion dari unsur-unsur tersebut.[114]
  • Ion Sm3+ berpotensi digunakan sebagai aktivator dalam LED yang menghasilkan cahaya putih hangat. Material ini menawarkan efikasi cahaya yang tinggi karena memiliki pita emisi yang sempit. Namun, efisiensi kuantum yang umumnya rendah serta penyerapan yang terlalu kecil pada wilayah spektrum UV-A hingga biru menghambat penerapannya secara komersial.[115]
  • Samarium digunakan dalam pengujian ionosfer. Sebuah roket menyebarkan samarium monoksida dalam bentuk uap merah pada ketinggian tinggi. Para peneliti kemudian mengamati bagaimana atmosfer menyebarkan material tersebut dan bagaimana keberadaannya memengaruhi transmisi radio.[116][117]
  • Samarium heksaborida, SmB6, baru-baru ini diketahui sebagai insulator topologis yang berpotensi digunakan dalam komputasi kuantum.[118][119][120][121]

Peran biologis dan pencegahan

[sunting | sunting sumber]
Samarium
Bahaya[122]
Piktogram GHS GHS02: Mudah terbakar
Keterangan bahaya GHS {{{value}}}
H261
P231+P232, P280, P370+P378, P501

Garam samarium dapat merangsang metabolisme, tetapi belum diketahui secara pasti apakah efek tersebut disebabkan oleh samarium atau oleh lantanida lain yang terdapat bersamanya. Jumlah total samarium dalam tubuh orang dewasa adalah sekitar 50 μg, yang sebagian besar terdapat di hati dan ginjal, dengan sekitar ~8 μg/L berada dalam keadaan terlarut di dalam darah. Samarium tidak diserap oleh tumbuhan dalam konsentrasi yang dapat diukur sehingga umumnya bukan merupakan bagian dari makanan manusia. Namun, beberapa jenis tumbuhan dan sayuran dapat mengandung samarium hingga sekitar 1 ppm. Garam samarium yang tidak larut bersifat tidak beracun, sedangkan garam samarium yang larut hanya memiliki tingkat toksisitas yang rendah.[6][123] Ketika tertelan, hanya sekitar 0,05% garam samarium yang diserap ke dalam aliran darah, sedangkan sisanya dikeluarkan dari tubuh. Dari samarium yang masuk ke dalam darah, sekitar 45% menuju hati dan 45% tersimpan pada permukaan tulang, tempat samarium tersebut dapat bertahan selama sekitar 10 tahun. Sementara itu, sekitar 10% sisanya dikeluarkan dari tubuh.[93]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. (Indonesia) "Samarium". KBBI Daring. Diakses tanggal 17 Juli 2022.
  2. Yttrium and all lanthanides except Ce and Pm have been observed in the oxidation state 0 in bis(1,3,5-tri-t-butylbenzene) complexes, see Cloke, F. Geoffrey N. (1993). "Zero Oxidation State Compounds of Scandium, Yttrium, and the Lanthanides". Chem. Soc. Rev. 22: 17–24. doi:10.1039/CS9932200017. and Arnold, Polly L.; Petrukhina, Marina A.; Bochenkov, Vladimir E.; Shabatina, Tatyana I.; Zagorskii, Vyacheslav V.; Cloke (2003-12-15). "Arene complexation of Sm, Eu, Tm and Yb atoms: a variable temperature spectroscopic investigation". Journal of Organometallic Chemistry. 688 (1–2): 49–55. doi:10.1016/j.jorganchem.2003.08.028.
  3. SmB6- cluster anion has been reported and contains Sm in rare oxidation state of +1; see Paul, J. Robinson; Xinxing, Zhang; Tyrel, McQueen; Kit, H. Bowen; Anastassia, N. Alexandrova (2017). "SmB6 Cluster Anion: Covalency Involving f Orbitals". J. Phys. Chem. A 2017, 121, 8, 1849–1854. 121 (8): 1849–1854..
  4. Lide, D. R., ed. (2005). "Magnetic susceptibility of the elements and inorganic compounds". CRC Handbook of Chemistry and Physics (PDF) (Edisi 86). Boca Raton (FL): CRC Press. ISBN 0-8493-0486-5.
  5. Weast, Robert (1984). CRC, Handbook of Chemistry and Physics. Boca Raton, Florida: Chemical Rubber Company Publishing. hlm. E110. ISBN 0-8493-0464-4.
  6. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Emsley, John (2001). "Samarium". Nature's Building Blocks: An A–Z Guide to the Elements. Oxford, Inggris, Britania Raya: Oxford University Press. hlm. 371–374. ISBN 0-19-850340-7.
  7. J.A. Dean, ed. (1999). Lange's Handbook of Chemistry (Edisi 15). New York, NY: McGraw-Hill. Section 3; Table 3.2 Physical Constants of Inorganic Compounds. ISBN 978-0-07016384-3.
  8. 1 2 3 4 5 6 7 Hammond, C. R. (29 Juni 2004). "The Elements". Handbook of Chemistry and Physics (Edisi 81). Boca Raton New York Washington: CRC press. hlm. 4–27. ISBN 978-0-8493-0481-1.
  9. Clementi, E.; Raimond, D. L.; Reinhardt, W. P. (1967). "Atomic Screening Constants from SCF Functions. II. Atoms with 37 to 86 Electrons". Journal of Chemical Physics. 47 (4): 1300–1307. Bibcode:1967JChPh..47.1300C. doi:10.1063/1.1712084.
  10. 1 2 3 4 Shi, N.; Fort, D. (1985). "Preparation of samarium in the double hexagonal close packed form". Journal of the Less Common Metals. 113 (2): 21. doi:10.1016/0022-5088(85)90294-2.
  11. Lock, J. M. (1957). "The Magnetic Susceptibilities of Lanthanum, Cerium, Praseodymium, Neodymium and Samarium, from 1.5 K to 300 K". Proceedings of the Physical Society. Series B. 70 (6): 566. Bibcode:1957PPSB...70..566L. doi:10.1088/0370-1301/70/6/304.
  12. Huray, P.; Nave, S.; Haire, R. (1983). "Magnetism of the heavy 5f elements". Journal of the Less Common Metals. 93 (2): 293. doi:10.1016/0022-5088(83)90175-3.
  13. Okazaki, T.; Suenaga, Kazutomo; Hirahara, Kaori; et al. (2002). "Electronic and geometric structures of metallofullerene peapods". Physica B. 323 (1–4): 97. Bibcode:2002PhyB..323...97O. doi:10.1016/S0921-4526(02)00991-2.
  14. Chen, X.; Roth, G. (1995). "Superconductivity at 8 K in samarium-doped C60". Physical Review B. 52 (21): 15534–15536. Bibcode:1995PhRvB..5215534C. doi:10.1103/PhysRevB.52.15534. PMID 9980911.
  15. Wu, G.; Xie, Y. L.; Chen, H.; et al. (2008). "Superconductivity at 56 K in Samarium-doped SrFeAsF". Journal of Physics: Condensed Matter. 21 (14) 142203. arXiv:0811.0761. Bibcode:2009JPCM...21n2203W. doi:10.1088/0953-8984/21/14/142203. PMID 21825317. S2CID 41728130.
  16. 1 2 "Chemical reactions of Samarium". Webelements. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  17. Greenwood, hlm. 1243
  18. Stephen T. Liddle; David P. Mills; Louise S. Natrajan, ed. (2022). The lanthanides and actinides: synthesis, reactivity, properties and applications. London. hlm. 213. ISBN 978-1-80061-015-6. OCLC 1251740566.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  19. 1 2 Greenwood, hlm. 1248
  20. Vohra, Y.; Akella, Jagannadham; Weir, Sam; Smith, Gordon S. (1991). "A new ultra-high pressure phase in samarium". Physics Letters A. 158 (1–2): 89. Bibcode:1991PhLA..158...89V. doi:10.1016/0375-9601(91)90346-A.
  21. 1 2 Leger, J.; Yacoubi, N.; Loriers, J. (1981). "Synthesis of rare earth monoxides". Journal of Solid State Chemistry. 36 (3): 261. Bibcode:1981JSSCh..36..261L. doi:10.1016/0022-4596(81)90436-9.
  22. 1 2 3 Gouteron, J.; Michel, D.; Lejus, A. M.; Zarembowitch, J. (1981). "Raman spectra of lanthanide sesquioxide single crystals: Correlation between A and B-type structures". Journal of Solid State Chemistry. 38 (3): 288. Bibcode:1981JSSCh..38..288G. doi:10.1016/0022-4596(81)90058-X.
  23. 1 2 Taylor, D. (1984). "Thermal Expansion Data: III Sesquioxides, M2O3, with the corundum and the A-, B- and C-M2O3 structures". British Ceramic Transactions and Journal. 83 (4): 92–98.
  24. Daou, J.; Vajda, P.; Burger, J. (1989). "Low temperature thermal expansion in SmH2+x". Solid State Communications. 71 (12): 1145. Bibcode:1989SSCom..71.1145D. doi:10.1016/0038-1098(89)90728-X.
  25. Dolukhanyan, S. (1997). "Synthesis of novel compounds by hydrogen combustion". Journal of Alloys and Compounds. 253–254: 10. doi:10.1016/S0925-8388(96)03071-X.
  26. Zavalii, L. V.; Kuz'ma, Yu. B.; Mikhalenko, S. I. (1990). "Sm2B5 boride and its structure". Soviet Powder Metallurgy and Metal Ceramics. 29 (6): 471. doi:10.1007/BF00795346. S2CID 138416728.
  27. 1 2 Cannon, J.; Cannon, D.; Tracyhall, H. (1977). "High pressure syntheses of SmB2 and GdB12". Journal of the Less Common Metals. 56: 83. doi:10.1016/0022-5088(77)90221-1.
  28. Etourneau, J.; Mercurio, J.; Berrada, A.; Hagenmuller, P.; Georges, R.; Bourezg, R.; Gianduzzo, J. (1979). "The magnetic and electrical properties of some rare earth tetraborides". Journal of the Less Common Metals. 67 (2): 531. doi:10.1016/0022-5088(79)90038-9.
  29. 1 2 Solovyev, G. I.; Spear, K. E. (1972). "Phase Behavior in the Sm-B System". Journal of the American Ceramic Society. 55 (9): 475. doi:10.1111/j.1151-2916.1972.tb11344.x.
  30. Schwetz, K.; Ettmayer, P.; Kieffer, R.; Lipp, A. (1972). "Über die Hektoboridphasen der Lanthaniden und Aktiniden". Journal of the Less Common Metals. 26: 99. doi:10.1016/0022-5088(72)90012-4.
  31. 1 2 3 Spedding, F. H.; Gschneidner, K.; Daane, A. H. (1958). "The Crystal Structures of Some of the Rare Earth Carbides". Journal of the American Chemical Society. 80 (17): 4499. Bibcode:1958JAChS..80.4499S. doi:10.1021/ja01550a017.
  32. 1 2 3 4 5 6 7 8 Greenwood, hlm. 1241
  33. 1 2 3 4 Greis, O. (1978). "Über neue Verbindungen im system SmF2_SmF3". Journal of Solid State Chemistry. 24 (2): 227. Bibcode:1978JSSCh..24..227G. doi:10.1016/0022-4596(78)90013-0.
  34. 1 2 Meyer, G.; Schleid, T. (1986). "The metallothermic reduction of several rare-earth trichlorides with lithium and sodium". Journal of the Less Common Metals. 116: 187. doi:10.1016/0022-5088(86)90228-6.
  35. Bärnighausen, H. (1973). "Revue für anorganic Chemie". Revue de chimie minérale. 10: 77–92.
  36. Zachariasen, W. H. (1948). "Crystal chemical studies of the 5f-series of elements. I. New structure types". Acta Crystallographica. 1 (5): 265. Bibcode:1948AcCry...1..265Z. doi:10.1107/S0365110X48000703.
  37. Asprey, L. B.; Keenan, T. K.; Kruse, F. H. (1964). "Preparation and Crystal Data for Lanthanide and Actinide Triiodides" (PDF). Inorganic Chemistry. 3 (8): 1137. doi:10.1021/ic50018a015.
  38. Brown, R.; Clark, N. J. (1974). "Composition limits and vaporization behaviour of rare earth nitrides". Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry. 36 (11): 2507. doi:10.1016/0022-1902(74)80462-8.
  39. 1 2 Meng, J.; Ren, Yufang (1991). "Studies on the electrical properties of rare earth monophosphides". Journal of Solid State Chemistry. 95 (2): 346. Bibcode:1991JSSCh..95..346M. doi:10.1016/0022-4596(91)90115-X.
  40. 1 2 Beeken, R.; Schweitzer, J. (1981). "Intermediate valence in alloys of SmSe with SmAs". Physical Review B. 23 (8): 3620. Bibcode:1981PhRvB..23.3620B. doi:10.1103/PhysRevB.23.3620.
  41. Greenwood, hlm. 1239
  42. Bakar, Abu; Afaq, A.; Khan, M. Faizan; ul Aarifeen, Najm; Imran Jamil, M.; Asif, Muhammad (1 Januari 2020). "Insight into the structural, vibrational and thermodynamic properties of SmX (X = S, Se, Te) chalcogenides: First-principles investigations". Physica B: Condensed Matter (dalam bahasa Inggris). 576 411715. doi:10.1016/j.physb.2019.411715. ISSN 0921-4526. S2CID 204206623.
  43. Beaurepaire, E. (2006). Magnetism: a synchrotron radiation approach. Berlin: Springer. ISBN 978-3-540-33242-8. OCLC 262692720.
  44. Jayaraman, A.; Narayanamurti, V.; Bucher, E.; Maines, R. (1970). "Continuous and Discontinuous Semiconductor-Metal Transition in Samarium Monochalcogenides Under Pressure". Physical Review Letters. 25 (20): 1430. Bibcode:1970PhRvL..25.1430J. doi:10.1103/PhysRevLett.25.1430.
  45. Greenwood, hlm. 1236, 1241
  46. Greenwood, hlm. 1240
  47. Baernighausen, H.; Haschke, John M. (1978). "Compositions and crystal structures of the intermediate phases in the samarium-bromine system". Inorganic Chemistry. 17: 18. doi:10.1021/ic50179a005.
  48. Beck, H. P. (1979). "Hochdruckmodifikationen der Diiodide von Sr., Sm und Eu. Eine neue PbCl2-Variante?". Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie. 459 (1): 81. Bibcode:1979ZAACh.459...81B. doi:10.1002/zaac.19794590108.
  49. Beck, H. P.; Gladrow, E. (1979). "Zur Hochdruckpolymorphie der Seltenerd-Trihalogenide". Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie. 453 (1): 79. Bibcode:1979ZAACh.453...79B. doi:10.1002/zaac.19794530610.
  50. 1 2 Nickerson, J.; White, R.; Lee, K.; Bachmann, R.; Geballe, T.; Hull, G. (1971). "Physical Properties of SmB6". Physical Review B. 3 (6): 2030. Bibcode:1971PhRvB...3.2030N. doi:10.1103/PhysRevB.3.2030.
  51. Nyhus, P.; Cooper, S.; Fisk, Z.; Sarrao, J. (1995). "Light scattering from gap excitations and bound states in SmB6". Physical Review B. 52 (20): 14308–14311. Bibcode:1995PhRvB..5214308N. doi:10.1103/PhysRevB.52.R14308. PMID 9980746.
  52. Sera, M.; Kobayashi, S.; Hiroi, M.; Kobayashi, N.; Kunii, S. (1996). "Thermal conductivity of RB6 (R=Ce, Pr, Nd, Sm, Gd) single crystals". Physical Review B. 54 (8): R5207–R5210. Bibcode:1996PhRvB..54.5207S. doi:10.1103/PhysRevB.54.R5207. PMID 9986570.
  53. Gladyshevskii, E. I.; Kripyakevich, P. I. (1965). "Monosilicides of rare earth metals and their crystal structures". Journal of Structural Chemistry. 5 (6): 789. Bibcode:1965JStCh...5..789G. doi:10.1007/BF00744231. S2CID 93941853.
  54. Smith, G. S.; Tharp, A. G.; Johnson, W. (1967). "Rare earth–germanium and –silicon compounds at 5:4 and 5:3 compositions". Acta Crystallographica. 22 (6): 940. Bibcode:1967AcCry..22..940S. doi:10.1107/S0365110X67001902.
  55. 1 2 3 Greenwood, hlm. 1249
  56. Evans, William J.; Hughes, Laura A.; Hanusa, Timothy P. (1986). "Synthesis and x-ray crystal structure of bis(pentamethylcyclopentadienyl) complexes of samarium and europium: (C5Me5)2Sm and (C5Me5)2Eu". Organometallics. 5 (7): 1285. doi:10.1021/om00138a001.
  57. 1 2 3 4 5 Kondev, F.G.; Wang, M.; Huang, W.J.; Naimi, S.; Audi, G. (2021). "The NUBASE2020 evaluation of nuclear properties" (PDF). Chinese Physics C. 45 (3): 030001. doi:10.1088/1674-1137/abddae.
  58. "Chart of the nuclides". Laboratorium Nasional Brookhaven. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Juli 2017. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  59. Holden, Norman E. "Table of the isotopes" dalam Lide, D. R., ed. (2005). CRC Handbook of Chemistry and Physics (Edisi 86). Boca Raton (FL): CRC Press. ISBN 0-8493-0486-5.
  60. Belli, P.; Bernabei, R.; Danevich, F. A.; Incicchitti, A.; Tretyak, V. I. (2019). "Experimental searches for rare alpha and beta decays". European Physical Journal A. 55 (140): 4–6. arXiv:1908.11458. Bibcode:2019EPJA...55..140B. doi:10.1140/epja/i2019-12823-2. S2CID 201664098.
  61. Kiss, G. G.; Vitéz-Sveiczer, A.; Saito, Y.; et al. (2022). "Measuring the β-decay properties of neutron-rich exotic Pm, Sm, Eu, and Gd isotopes to constrain the nucleosynthesis yields in the rare-earth region". The Astrophysical Journal. 936 (107): 107. Bibcode:2022ApJ...936..107K. doi:10.3847/1538-4357/ac80fc. hdl:2117/375253. S2CID 252108123.
  62. Radiation Protection and NORM Residue Management in the Production of Rare Earths from Thorium Containing Minerals (PDF) (Report). Safety Report Series. Badan Tenaga Atom Internasional. 2011. hlm. 174. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  63. Depaolo, D. J.; Wasserburg, G. J. (1976). "Nd isotopic variations and petrogenetic models" (PDF). Geophysical Research Letters. 3 (5): 249. Bibcode:1976GeoRL...3..249D. doi:10.1029/GL003i005p00249.
  64. McCulloch, M. T.; Wasserburg, G. J. (1978). "Sm-Nd and Rb-Sr Chronology of Continental Crust Formation". Science. 200 (4345): 1003–11. Bibcode:1978Sci...200.1003M. doi:10.1126/science.200.4345.1003. PMID 17740673. S2CID 40675318.
  65. Chiera, Nadine M.; Sprung, Peter; Amelin, Yuri; Dressler, Rugard; Schumann, Dorothea; Talip, Zeynep (1 Agustus 2024). "The 146Sm half-life re-measured: consolidating the chronometer for events in the early Solar System". Scientific Reports. 14 (1). doi:10.1038/s41598-024-64104-6. PMC 11294585.
  66. Macfarlane, Ronald D. (1960). "Natural Occurrence of Samarium-146". Nature. 188 (4757): 1180–1181. Bibcode:1960Natur.188.1180M. doi:10.1038/1881180a0. ISSN 0028-0836. S2CID 4217617.
  67. Samir Maji; et al. (2006). "Separation of samarium and neodymium: a prerequisite for getting signals from nuclear synthesis". Analyst. 131 (12): 1332–1334. Bibcode:2006Ana...131.1332M. doi:10.1039/b608157f. PMID 17124541.
  68. DOE Fundamentals Handbook: Nuclear Physics and Reactor Theory (PDF). Departemen Energi Amerika Serikat. Januari 1993. hlm. 34, 67. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 Maret 2009.
  69. K., Khattab (2005). "Comparison of xenon-135 and samarium-149 poisoning in the Miniature Neutron Source Reactor" (dalam bahasa Arab).
  70. Espinosa, Carlos E.; Bodmann, Bardo E.J. Modeling and simulation of nuclear fuel in scenarios with long time scales. 19. ENFIR: meeting on nuclear reactor physics and thermal hydraulics (dalam bahasa Inggris).
  71. DOE Handbook, hlm. 43–47.
  72. "Centerwatch About drug Quadramet". Diarsipkan dari asli tanggal 9 Oktober 2008. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  73. Pattison, John E. (1999). "Finger doses received during 153Sm injections". Health Physics. 77 (5): 530–5. Bibcode:1999HeaPh..77..530P. doi:10.1097/00004032-199911000-00006. PMID 10524506.
  74. Finlay, I. G.; Mason, M. D.; Shelley, M. (2005). "Radioisotopes for the palliation of metastatic bone cancer: a systematic review". The Lancet Oncology. 6 (6): 392–400. doi:10.1016/S1470-2045(05)70206-0. PMID 15925817.
  75. Greenwood, hlm. 1229
  76. 1 2 Samarium, Encyclopædia Britannica online.
  77. Delafontaine, Marc (1878). "Sur le décepium, métal nouveau de la samarskite". Journal de pharmacie et de chimie (dalam bahasa Prancis). 28: 540.
  78. Delafontaine, Marc (1878). "Sur le décepium, métal nouveau de la samarskite". Comptes rendus hebdomadaires des séances de l'Académie des Sciences (dalam bahasa Prancis). 87: 632.
  79. de Laeter, John Robert; Böhlke, John Karl; De Bièvre, Paul; Hidaka, Hiroshi; Peiser, H. Steffen; Rosman, Kevin J. R.; Taylor, Philip D. P. (2003). "Atomic weights of the elements. Review 2000 (IUPAC Technical Report)". Pure and Applied Chemistry. 75 (6): 683–800. doi:10.1351/pac200375060683.
  80. Delafontaine, Marc (1881). "Sur le décipium et le samarium". Comptes rendus hebdomadaires des séances de l'Académie des Sciences (dalam bahasa Prancis). 93: 63.
  81. 1 2 3 Samarium: History & Etymology. Elements.vanderkrogt.net. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  82. Weeks, Mary Elvira (1956). The discovery of the elements (Edisi 6). Easton, PA: Journal of Chemical Education.
  83. Weeks, Mary Elvira (1932). "The discovery of the elements. XIII. Some elements predicted by Mendeleeff". Journal of Chemical Education. 9 (9): 1605–1619. Bibcode:1932JChEd...9.1605W. doi:10.1021/ed009p1605.
  84. Samarskite, Ensiklopedia Besar Soviet (dalam bahasa Rusia).
  85. Boisbaudran, Lecoq de (1879). "Recherches sur le samarium, radical d'une terre nouvelle extraite de la samarskite". Comptes rendus hebdomadaires des séances de l'Académie des sciences. 89: 212–214.
  86. Shipley, Joseph Twadell. The Origins of English Words: A Discursive Dictionary of Indo-European Roots, JHU Press, 2001, hlm.90. ISBN 0-8018-6784-3
  87. 1 2 "Chemistry in Its Element - Samarium". Diarsipkan dari asli tanggal 4 Maret 2016.
  88. Coplen, T. B.; Peiser, H. S. (1998). "History of the recommended atomic-weight values from 1882 to 1997: A comparison of differences from current values to the estimated uncertainties of earlier values (Technical Report)". Pure and Applied Chemistry. 70: 237. doi:10.1351/pac199870010237. S2CID 96729044.
  89. Ghaemi, Arezoo; Tavakkoli, Haman; Rajabi, Negar (1 Juni 2015). "Solvent influence upon complex formation between 4,13-didecyl-1,7,10,16-tetraoxa-4,13-diazacyclooctadecane with samarium(III) metal cation in binary mixed non-aqueous solvents". Russian Journal of Applied Chemistry (dalam bahasa Inggris). 88 (6): 977–984. doi:10.1134/S1070427215060130. ISSN 1608-3296. S2CID 97051960.
  90. 1 2 What are their prices?, Lynas corp.
  91. ABUNDANCE OF ELEMENTS IN THE EARTH'S CRUST AND IN THE SEA, CRC Handbook of Chemistry and Physics, Edisi 97 (2016–2017), hlm. 14-17
  92. Emsley, John (25 Agustus 2011). Nature's Building Blocks: An A-Z Guide to the Elements (dalam bahasa Inggris). OUP Oxford. ISBN 978-0-19-960563-7.
  93. 1 2 3 4 5 Human Health Fact Sheet on Samarium Diarsipkan 7 April 2012 di Wayback Machine. Laboratorium Nasional Los Alamos.
  94. "Rare Earths" (PDF). United States Geological Survey. Januari 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 11 Januari 2019. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  95. Masau, M.; Cerny, P.; Cooper, M. A.; Chapman, R.; Grice, J. D. (1 Desember 2002). "MONAZITE-(Sm), A NEW MEMBER OF THE MONAZITE GROUP FROM THE ANNIE CLAIM #3 GRANITIC PEGMATITE, SOUTHEASTERN MANITOBA". The Canadian Mineralogist (dalam bahasa Inggris). 40 (6): 1649–1655. Bibcode:2002CaMin..40.1649M. doi:10.2113/gscanmin.40.6.1649. ISSN 0008-4476.
  96. Repina, S. A.; Popova, V. I.; Churin, E. I.; Belogub, E. V.; Khiller, V. V. (December 2011). "Florencite-(Sm)—(Sm,Nd)Al3(PO4)2(OH)6: a new mineral species of the alunite–jarosite group from the subpolar Urals". Geology of Ore Deposits (dalam bahasa Inggris). 53 (7): 564–574. Bibcode:2011GeoOD..53..564R. doi:10.1134/S1075701511070191. ISSN 1075-7015. S2CID 97229772.
  97. "Monazite-(Sm): Monazite-(Sm) mineral information and data". Mindat.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  98. "Florencite-(Sm): Florencite-(Sm) mineral information and data". Mindat.org. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  99. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bradsher, Keith (9 Juni 2025). "China's Chokehold on This Obscure Mineral Threatens the West's Militaries". Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  100. Marchio, Cathy (16 April 2024). "Two Grades of Samarium Cobalt Magnets: SmCo5 & Sm2Co17". Stanford Magnets. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  101. Hajra, S.; Maji, B.; Bar, S. (2007). "Samarium Triflate-Catalyzed Halogen-Promoted Friedel-Crafts Alkylation with Alkenes". Org. Lett. 9 (15): 2783–2786. doi:10.1021/ol070813t. PMID 17585769.
  102. Cotton, F. Albert; Wilkinson, Geoffrey; Murillo, Carlos A.; Bochmann, Manfred (2007). Advanced inorganic chemistry (Edisi 6). New Delhi, India: Wiley. hlm. 1128. ISBN 978-81-265-1338-3.
  103. Thermal neutron capture cross sections and resonance integrals – Fission product nuclear data. ipen.br
  104. Bud, Robert and Gummett, Philip Cold War, Hot Science: Applied Research in Britain's Defence Laboratories, 1945–1990, NMSI Trading Ltd, 2002 ISBN 1-900747-47-2 hlm. 268
  105. Sorokin, P. P. (1979). "Contributions of IBM to Laser Science—1960 to the Present". IBM Journal of Research and Development. 23 (5): 476. Bibcode:1979IBMJ...23..476S. doi:10.1147/rd.235.0476.
  106. Zhang, J. (1997). "A Saturated X-ray Laser Beam at 7 Nanometers". Science. 276 (5315): 1097. doi:10.1126/science.276.5315.1097.
  107. Riesen, Hans; Kaczmarek, Wieslaw (2 Agustus 2007). "Efficient X-ray Generation of Sm2+ in Nanocrystalline BaFCl/Sm3+: a Photoluminescent X-ray Storage Phosphor". Inorganic Chemistry. 46 (18): 7235–7. doi:10.1021/ic062455g. PMID 17672448.
  108. Liu, Zhiqiang; Stevens-Kalceff, Marion; Riesen, Hans (16 Maret 2012). "Photoluminescence and Cathodoluminescence Properties of Nanocrystalline BaFCl:Sm3+ X-ray Storage Phosphor". Journal of Physical Chemistry C. 116 (14): 8322–8331. doi:10.1021/jp301338b.
  109. Wang, Xianglei; Liu, Zhiqiang; Stevens-Kalceff, Marion; Riesen, Hans (12 Agustus 2014). "Mechanochemical Preparation of Nanocrystalline BaFCl Doped with Samarium in the 2+ Oxidation State". Inorganic Chemistry. 53 (17): 8839–8841. doi:10.1021/ic500712b. hdl:1959.4/unsworks_34984. PMID 25113662.
  110. "Dosimetry&Imaging Pty Ltd". Diarsipkan dari asli tanggal 26 September 2017. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  111. 20100073997, Elmegreen, Bruce G.; Lia Krusin-Elbaum & Xiao Hu Liu et al., "Piezo-Driven Non-Volatile Memory Cell with Hysteretic Resistance", dikeluarkan tanggal 25 Maret 2010.
  112. "About us". tenzo-sms.ru. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  113. Kaminskii, V. V.; Solov'ev, S. M.; Golubkov, A. V. (2002). "Electromotive Force Generation in Homogeneously Heated Semiconducting Samarium Monosulfide". Technical Physics Letters. 28 (3): 229. Bibcode:2002TePhL..28..229K. doi:10.1134/1.1467284. S2CID 122463906. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Maret 2012.
  114. Bowen, Robert and Attendorn, H -G Isotopes in the Earth Sciences, Springer, 1988, ISBN 0-412-53710-9, hlm. 270 ff
  115. Baur, F.; Katelnikovas, A.; Sazirnakovas, S.; Jüstel, T. (2014). "Synthesis and Optical Properties of Li3Ba2La3(MoO4)8:Sm3+". Zeitschrift für Naturforschung B. 69 (2): 183–192. doi:10.5560/ZNB.2014-3279. S2CID 197099937.
  116. Caton, Ronald G.; Pedersen, Todd R.; Groves, Keith M.; Hines, Jack; Cannon, Paul S.; Jackson-Booth, Natasha; Parris, Richard T.; Holmes, Jeffrey M.; Su, Yi-Jiun; Mishin, Evgeny V.; Roddy, Patrick A.; Viggiano, Albert A.; Shuman, Nicholas S.; Ard, Shaun G.; Bernhardt, Paul A.; Siefring, Carl L.; Retterer, John; Kudeki, Erhan; Reyes, Pablo M. (Mei 2017). "Artificial ionospheric modification: The Metal Oxide Space Cloud experiment" (PDF). Radio Science. 52 (5): 539–558. Bibcode:2017RaSc...52..539C. doi:10.1002/2016rs005988. S2CID 55195732.
  117. Zell, Holly (7 Juni 2012). "First of Four Sounding Rockets Launched from the Marshall Islands". NASA (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 11 Oktober 2021. Diakses tanggal 22 Agustus 2026.
  118. Li, G.; Xiang, Z.; Yu, F.; Asaba, T.; Lawson, B.; Cai, P.; Tinsman, C.; Berkley, A.; Wolgast, S.; Eo, Y. S.; Kim, Dae-Jeong; Kurdak, C.; Allen, J. W.; Sun, K.; Chen, X. H. (5 Desember 2014). "Two-dimensional Fermi surfaces in Kondo insulator SmB 6". Science (dalam bahasa Inggris). 346 (6214): 1208–1212. arXiv:1306.5221. Bibcode:2014Sci...346.1208L. doi:10.1126/science.1250366. ISSN 0036-8075. PMID 25477456. S2CID 119191689.
  119. Botimer, J.; Kim, D. J.; Thomas, S.; Grant, T.; Fisk, Z.; Jing Xia (2013). "Robust Surface Hall Effect and Nonlocal Transport in SmB6: Indication for an Ideal Topological Insulator". Scientific Reports. 3 (3150): 3150. arXiv:1211.6769. Bibcode:2013NatSR...3.3150K. doi:10.1038/srep03150. PMC 3818682. PMID 24193196.
  120. Zhang, Xiaohang; Butch, N. P.; Syers, P.; Ziemak, S.; Greene, Richard L.; Paglione, Johnpierre (2013). "Hybridization, Correlation, and In-Gap States in the Kondo Insulator SmB6". Physical Review X. 3 (1) 011011. arXiv:1211.5532. Bibcode:2013PhRvX...3a1011Z. doi:10.1103/PhysRevX.3.011011. S2CID 53638956.
  121. Wolgast, Steven; Kurdak, Cagliyan; Sun, Kai; et al. (2012). "Low-temperature surface conduction in the Kondo insulator SmB6". Physical Review B. 88 (18) 180405. arXiv:1211.5104. Bibcode:2013PhRvB..88r0405W. doi:10.1103/PhysRevB.88.180405. S2CID 119242604.
  122. Sigma-Aldrich Co., Samarium 263184.
  123. Bayouth, J. E.; Macey, D. J.; Kasi, L. P.; Fossella, F. V. (1994). "Dosimetry and toxicity of samarium-153-EDTMP administered for bone pain due to skeletal metastases". Journal of Nuclear Medicine. 35 (1): 63–69. PMID 7505819.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]
  • Greenwood, Norman N.; Earnshaw, Alan (1997). Chemistry of the Elements (Edisi 2). Butterworth–Heinemann. ISBN 978-0-08-037941-8.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]