Lompat ke isi

Oseania

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Oseania
Proyeksi ortografis Oseania
Luas9.000.000 km2 (3.500.000 sq mi)
PopulasiIncrease neutral 44.491.724 (2021)[1][2]
Kepadatan penduduk494/km2 (1.280/sq mi)
GDP (nominal)$1.630 triliun (2018)
GDP per kapita$63,842 (2024)
Agama
  • 36.4% Tidak beragama
  • 1.3% Lainnya[3]
DemonimOceanian
Negara
Negara terkait (2)
Dependensi
BahasaBahasa di Oseania
Zona waktuUTC+9 (Papua bagian barat, Palau) sampai UTC–6 (Pulau Paskah)
(barat ke timur)
Kota terbesarDaftar Wilayah Metropolitan di Oseania
Kode UN M49009 – Oseania
001Dunia

Oseania (UK /ˌsiˈɑːniə, ˌʃi-, -ˈn-/, US /ˌʃiˈæniə, -ˈɑːn-/ simak) adalah istilah yang mengacu kepada suatu wilayah geografis atau geopolitis yang terdiri dari sejumlah kepulauan yang terletak di Samudra Pasifik dan sekitarnya. Oseania merupakan wilayah di Bumi dengan luas area daratan terkecil dan jumlah populasi terkecil kedua setelah Antartika.

Dalam artian sempit (berdasarkan penjelajah asal Prancis bernama Jules Dumont d'Urville pada tahun 1831), Oseania meliputi Polinesia (termasuk Selandia Baru), Melanesia (termasuk Papua Nugini) dan Mikronesia. Sedangkan dalam artian luas maka Oseania juga meliputi Australia dan Asia Tenggara Maritim serta Semenanjung Malaka yang biasa disebut dengan Malayonesia. Namun, terkadang Hong Kong, Semenanjung Korea, Jepang, Taiwan, Kepulauan Aleut, Pulau Sakhalin, semenanjung di timur laut Rusia, dan Semenanjung Alaska juga dianggap masuk dalam kelompok Oseania.

Sebagian besar wilayah Oseania terdiri dari negara-negara kepulauan yang kecil. Australia adalah satu-satunya negara sekaligus pulau dan masih diperdebatkan antara pulau dan benua, sedangkan Papua Nugini, Malaysia, dan Timor Leste adalah negara yang memiliki perbatasan darat dan laut, di mana keduanya berbatasan dengan Indonesia.

Negara-negara Oseania mempunyai kemerdekaan dalam ketentuan yang berbeda dari negara penjajah mereka, serta mendapat aturan konstitusional yang bervariasi sesuai dengan keadaan mereka. Australia misalnya, adalah negara yang tergabung dalam Persemakmuran Britania Raya, sehingga mengakui Raja Charles III sebagai Raja mereka, sementara Polinesia Prancis adalah sebuah pays d'outre-mer ("negara luar negeri") dari Prancis.

Secara ekologi, Oseania merupakan satu di antara delapan zona ekologi terestrial dunia. Zona ekologi Oseania meliputi Polinesia kecuali Selandia Baru, Papua Nugini, Kaledonia Baru, Fiji, Kepulauan Solomon, dan Vanuatu yang tergolong zona ekologi Australasia dan Asia Tenggara Maritim termasuk Semenanjung Malaya serta Mikronesia yang tergolong zona ekologi Asia. Namun, wilayah-wilayah tersebut juga sering ikut dimasukkan sehingga Oseania menjadi superbenua yang terdiri dari beberapa golongan ekologi dari 3 benua yaitu Asia, Amerika, dan Australia.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Istilah "Oseania" berasal dari bahasa Prancis "Océanie", yang diciptakan oleh geograf Denmark-Prancis Conrad Malte-Brun sekitar tahun 1812. [5] Ia memperkenalkan istilah ini untuk merujuk pada wilayah kepulauan yang luas di Samudra Pasifik, memisahkannya secara konseptual dari benua Asia dan daratan Australia. Penciptaan ini merupakan bagian dari upaya klasifikasi geografis yang lebih sistematis pada abad ke-19.[6]

Nama "Océanie" diambil dari kata Latin "oceanus", yang berakar pada bahasa Yunani Kuno Ōkeanós (Ὠκεανός). Dalam mitologi Yunani kuno, Ōkeanós merujuk pada samudra atau lautan tak bertepi yang dianggap mengelilingi dunia. Dengan demikian, etimologi nama tersebut secara langsung mencerminkan karakter maritim yang mendefinisikan wilayah ini.

Penggunaan istilah tersebut dalam literatur geografi awal mencakup pembagian Oseania menjadi tiga kawasan utama: Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia. Klasifikasi Malte-Brun ini bertujuan untuk mengelompokkan berbagai kepulauan dan budaya Pasifik ke dalam satu entitas dunia yang koheren, yang kemudian dikenal sebagai bagian kelima dunia setelah Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.[6]

Adrien-Hubert Brué, seorang kartografer Prancis, memainkan peran kunci dalam mempopulerkan istilah ini melalui peta dindingnya tahun 1814 berjudul "Oceanie ou cinquieme partie du Monde". Brué, yang pernah berlayar dalam Ekspedisi Baudin, menyederhanakan ekspresi "Terres océaniques" yang sebelumnya digunakan Malte-Brun menjadi bentuk yang lebih ringkas, yakni "Océanie".[6]

Kontribusi Brué dalam kartografi ini membuat istilah "Océanie" menjadi standar dan diadopsi secara luas dalam atlas serta literatur geografi Eropa abad ke-19. Meskipun Conrad Malte-Brun diakui sebagai pencetus konsep awalnya, publikasi peta Brué-lah yang secara efektif mengkonsolidasikan dan menyebarkan penggunaan nama tersebut untuk wilayah Pasifik, menegaskannya sebagai sebutan baku dalam terminologi geografis global.


Panorama
Peta Oseania dengan format panorama (geser ke kiri)

Oseania didominasi oleh Samudra Pasifik, yang menjadi penghubung sekaligus pemisah bagi ribuan pulaunya. Secara astronomis, wilayah ini membentang dari Kepulauan Bonin di isubtropis utara hingga Pulau Macquarie di perairan sub-antartika, dan dari Pulau Papua di barat hingga Pulau Paskah di timur. Secara geografis, Oseania umumnya dibagi menjadi empat kawasan utama: Australia (benua), Melanesia (termasuk Papua Nugini dan Fiji), Mikronesia (pulau-pulau kecil di utara), dan Polinesia (kawasan pulau yang luas di timur dan tengah Pasifik).[7] Topografinya amat beragam, mencakup dataran tua dan gurun di Australia Barat, pegunungan lipatan muda seperti Pegunungan Alpen Selatan di Selandia Baru, dataran tinggi vulkanik di Papua, serta ribuan atoll karang dan pulau vulkanik tinggi di Pasifik tengah. Titik tertinggi adalah Puncak Jaya (4.884 mdpl) di Papua, sementara titik terendah berada di Danau Eyre (-15 mdpl) di Australia.

Iklim di Oseania bervariasi dari tropis khatulistiwa di sebagian besar kepulauan Pasifik hingga iklim gurun] di pedalaman Australia dan iklim sedang di Selandia Baru dan Australia tenggara. Pola iklim sangat dipengaruhi oleh sistem angin pasat timur, osilasi El Niño-Selatan (ENSO), dan pergerakan Sabuk Hujan Tropis. ENSO menyebabkan fluktuasi ekstrem, di mana fase El Niño membawa kekeringan ke Pasifik barat (seperti Australia dan Papua) dan hujan lebat ke Pasifik tengah, sedangkan fase La Niña menghasilkan pola sebaliknya. Kawasan ini juga merupakan wilayah aktif siklon tropis (disebut topan atau badai), yang biasanya terbentuk di Pasifik barat daya dan barat daya Samudra Hindia. Perubahan iklim menjadi ancaman serius, dengan peningkatan suhu permukaan laut, pengasaman laut, dan kenaikan muka air laut yang secara eksistensial mengancam negara kepulauan rendah.

Oseania terletak di kawasan tektonik kompleks. Australia, bagian dari Lempeng Indo-Australia, memiliki kerak benua tua yang kaya akan mineral seperti bijih besi, batu bara, emas, tembaga, dan lithium. Di sisi lain, sebagian besar kepulauan Pasifik terletak di Cincin Api Pasifik, zona subduksi aktif dengan vulkanisme dan seismisitas tinggi, yang menghasilkan deposit mineral seperti tembaga, emas, dan nikel (misalnya di Papua Nugini dan Kepulauan Solomon). Aktivitas vulkanik dan gempa bumi yang signifikan di busur seperti Selandia Baru, Vanuatu, dan Kepulauan Tonga. Selain sumber daya konvensional, kekayaan mineral dasar laut (seperti nodul mangan dan kerak kobalt) serta sumber daya kelautan dan perikanan menjadi aset penting. Isu kontemporer meliputi eksplorasi berkelanjutan atas sumber daya ini, degradasi lingkungan akibat penambangan, serta kerentanan ekstrem kawasan ini terhadap bencana geologis dan dampak perubahan iklim.[8]

Gambaran kota Levuka pada tahun 1842 di Fiji.

Oseania, sebagai sebuah konsep geografis dan kultural, mulai terbentuk dalam kesadaran dunia melalui eksplorasi Eropa. Kawasan ini pada dasarnya merujuk pada kepulauan yang tersebar di Samudra Pasifik, yang dihuni oleh manusia dalam gelombang migrasi besar ribuan tahun lalu. Penghuni pertama adalah leluhur masyarakat Melanesia dan Papua, yang mencapai Papua Nugini dan Australia sekitar 50.000-40.000 tahun silam. Diikuti kemudian oleh penjelajah laut ulung dari rumpun Austronesia yang, sekitar 3000-1000 SM, berlayar menggunakan teknologi perahu bercadik dan menyebar hingga ke Polinesia, Mikronesia, serta Aotearoa (Selandia Baru), membentuk identitas khas masing-masing pulau. Kontak dengan dunia luar secara masif dimulai sejak kedatangan penjelajah Spanyol dan Portugis pada abad ke-16, lalu diikuti oleh Belanda (Abel Tasman) dan terutama penjelajahan Kapten James Cook dari Inggris pada abad ke-18 yang memetakan banyak wilayah secara detail.[6]

Abad ke-19 menjadi periode transformasi dramatis dengan kolonialisme besar-besaran dan perubahan demografi. Kekuatan Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat saling berebut pengaruh, mengklaim pulau-pulau sebagai koloni untuk sumber daya dan pangkalan strategis. Australia dan Selandia Baru menjadi koloni pemukiman Inggris yang mengubah lanskap demografi melalui kedatangan massal imigran Eropa, sering kali dengan konsekuensi tragis bagi masyarakat Pribumi melalui perampasan tanah, penyakit, dan konflik. Di kepulauan Pasifik lainnya, masa ini juga diwarnai oleh kedatangan misionaris, perdagangan komoditas seperti kopra, serta praktik buruk "blackbirding" (pencarian pekerja paksa) untuk perkebunan di Australia dan Fiji.[9][10] Perbatasan politik modern Oseania mulai terbentuk dalam periode ini.

Pasca Perang Dunia II, gelombang dekolonisasi dan gerakan kemerdekaan menguat, membentuk peta politik Oseania seperti sekarang. Pertempuran besar di teater Pasifik selama perang menyadarkan masyarakat lokal sekaligus mempercepat tuntutan pemerintahan sendiri. Banyak negara seperti Fiji (1970), Papua Nugini (1975), Vanuatu (1980), dan sejumlah kepulauan di Mikronesia serta Polinesia merdeka secara bertahap sejak 1960-an. Australia dan Selandia Baru semakin melepaskan ikatan kolonial formal, mengembangkan identitas nasional yang lebih mandiri sambil berjuang merekonsiliasi hubungan dengan masyarakat Pribumi.

Lempeng Australia menyelimuti Oseania

Geologis oseania menampilkan hampir semua proses pembentukan dan transformasi kerak bumi. Kawasan ini ditandai oleh interaksi antara massa benua kuno yang stabil dan hamparan samudra yang dikelilingi oleh zona tumbukan lempeng tektonik aktif. Keberadaan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di sebagian besar batas timur dan utara menjadi penanda utama, menjadikan oseania sebagai episentrum global untuk vulkanisme, seismisitas, dan pembentukan pegunungan muda. Interior benua Australia mencirikan stabilitas tektonik yang relatif tenang, berkontradiksi tajam dengan aktivitas tektonik dinamis di kepulauan Pasifik barat. Kontras ini tercermin secara kronologis panjang dalam Busur Orogenik Melanesia Barat (West Melanesian Orogenic Belt), sabuk orogenik yang membentang ribuan kilometer dari timur Indonesia hingga Fiji. Sabuk ini merekam sejarah kompleks tumbukan lempeng dan proses subduksi selama puluhan juta tahun, membentuk pola geologi unik di wilayah tersebut.[11]

Geologi Oseania didominasi oleh proses subduksi, di mana Lempeng Pasifik menunjam ke bawah berbagai lempeng mikro. Fenomena ini menghasilkan busur kepulauan vulkanik, parit samudra dalam (trench), serta memicu gempa bumi kuat dan tsunami. Selain itu, vulkanisme intra-lempeng akibat titik panas (hotspot) membentuk kepulauan di Pasifik Tengah dan Timur, seperti Hawaii dan Tahiti, yang dicirikan oleh gunung api perisai basaltik.Proses kolisi kontinental antara tepi utara Benua Australia dan busur kepulauan Melanesia telah membentuk pegunungan tinggi serta endapan mineral kelas dunia. Kolisi ini merupakan bagian integral dari evolusi Busur Orogenik Melanesia Barat yang kompleks, yang juga melibatkan fragmen kerak samudra purba berupa ofiolit serta batuan metamorf berderajat tinggi.[11]

Geologi Oseania menyediakan kekayaan sumber daya mineral logam kelas dunia seperti tembaga, emas, nikel, dan bijih besi, yang terkonsentrasi pada zona tumbukan tektonik serta batuan tua sepanjang Busur Orogenik Melanesia Barat, disertai cadangan energi fosil signifikan di cekungan sedimentasi Australia. Namun, dinamika tektonik aktif yang sama—termasuk subduksi busur kepulauan vulkanik dan kolisi kontinental—menimbulkan kerentanan tinggi terhadap bencana geologis seperti erupsi gunung api, gempa tektonik kuat, tsunami, serta longsor dan likuifaksi, yang menjadi penentu zonasi bahaya dan membentuk pola adaptasi sosial-budaya penduduk kawasan kepulauan.[12]

Wilayah geologi Pasifik Tengah dan Timur Oseania dicirikan oleh litosfer samudra basaltik Lempeng Pasifik, di mana aktivitas tektonik utama berupa vulkanisme intralempeng akibat titik panas, manifestasi naiknya kolom mantel yang relatif tetap menembus lempeng bergerak menghasilkan rantai gunung api linear seperti Hawaii-Emperor dan Tuamotu, dengan usia pulau progresif sesuai arah pergerakan lempeng. Evolusi morfologi pulau mengikuti siklus prediktif: pembentukan gunung api perisai basaltik aktif, erosi dan subsidensi kerak samudera yang mendingin, hingga pembentukan atol karang atau gunung laut tererosi; pola ini menyediakan data kunci untuk kuantifikasi kecepatan dan arah pergerakan lempeng tektonik. [13]

Ekosistem

[sunting | sunting sumber]
Burung Cenderawasih raggiana merupakan lambang burung yang berada di bendera Papua Nugini

Ekosistem oseania merupakan wilayah yang dicirikan oleh tingkat endemisme biota yang sangat tinggi dan kompleksitas relung ekologi yang khas, terutama akibat sejarah geologi dan isolasi spasial jangka panjang. Sebagai sebuah kesatuan, wilayah ini meliputi beberapa formasi ekosistem utama yang saling berbeda namun terbentuk dari proses isolasi yang sama yaitu ekosistem benua kering Australia, ekosistem hutan hujan tropika Paparan Sahul, dan ekosistem kepulauan vulkanik dan atol di Pasifik. Faktor penentu utamanya adalah pemisahan lempeng tektonik Gondwana dan keterbatasan kemampuan dispersi organisme melintasi bentangan samudra yang luas, sehingga memunculkan flora dan fauna yang merupakan hasil evolusi konvergen dan adaptif radiasi. Keunikan ini menjadikan Oseania sebagai wilayah dengan signifikansi ilmiah yang luar biasa dalam studi ekologi pulau, dinamika ekosistem terisolasi, dan prioritas konservasi global.[14]

Karakteristik utama flora Oseania adalah adaptasi ekstremnya dalam menghadapi variasi kondisi tanah (edafik) dan iklim yang tajam di wilayah tersebut. Wilayah Australia didominasi oleh formasi vegetasi sclerophyll, yang dicirikan oleh daun keras dan tahan kekeringan, dengan genera Eucalyptus dan Acacia sebagai komponen penyusun utama yang mengalami diversifikasi adaptif secara masif. Berbeda secara ekstrem, Papua Nugini dan pulau-pulau besar Melanesia didominasi oleh hutan hujan tropis dataran rendah dan pegunungan (ekosistem montane) dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang sangat tinggi, termasuk genus endemik seperti Dacrycarpus dan Nothofagus selatan. Formasi vegetasi khas lainnya meliputi padang rumput hummock (spinifex, genus Triodia) yang sangat terspesialisasi di wilayah arid Australia tengah, serta komunitas reliktual seperti hutan cemara Agathis australis (Kauri) dan hutan pantai Metrosideros excelsa(Pohutukawa) di Selandia Baru. Kepulauan Pasifik yang terpencil, seperti Hawaii dan Polinesia Prancis, menjadi pusat radiasi adaptif untuk famili seperti Campanulaceae (lobelia) dan menampilkan tingkat endemisme spesifik pulau yang sangat tinggi. Penyebab utama keunikan ini adalah isolasi geografis yang berlangsung sejak periode kapur, dikombinasikan dengan peristiwa penyebaran jarak jauh (long-distance dispersal) dan tekanan seleksi lingkungan yang kuat, menciptakan flora yang sangat terspesialisasi dan rentan terhadap gangguan antropogenik.

Di Oseania, kedua kelompok mamalia purba seperti marsupialia (hewan berkantong) dan monotremata (hewan bertelur) mengalami radiasi adaptif ekstensif setelah terdesak oleh mamalia plasental di daratan lain, menghasilkan diversifikasi morfologis dan ekologis yang signifikan. Contohnya, famili Macropodidae (kangguru) telah mengisi beragam relung ekologis, mulai dari arboreal (kangguru pohon dari genus Dendrolagus) hingga cursorial (kangguru merah, Osphranter rufus). Keberadaan monotremata seperti platipus (Ornithorhynchus anatinus) dan ekidna (famili Tachyglossidae) menambah dimensi taksonomi yang unik, mewakili garis keturunan mamalia yang sangat purba.

Avifauna oseania berperan sebagai pusat endemisme dan diversifikasi burung yang luar biasa. Pulau Nugini (Papua) diakui sebagai hotspot keanekaragaman hayati burung global, dengan lebih dari 800 spesies,[15] termasuk famili Paradisaeidae (cenderawasih) yang menunjukkan dimorfisme seksual ekstrem dan perilaku kawin yang kompleks.[16] Sementara itu, Selandia Baru menghasilkan asemblage avifauna yang didominasi spesies flightless, seperti kiwi (Apterygidae), takahē (Porphyrio hochstetteri), dan kakapo (Strigops habroptila). Fenomena ini merupakan hasil dari evolusi dalam kondisi ketiadaan mamalia predator asli, sebuah keadaan yang justru meningkatkan kerentanan ekologis mereka terhadap introduksi spesies asing.[17]

Kerentanan ekosistem pulau terisolasi, khususnya di kawasan Pasifik, berakar pada evolusi mereka yang berlangsung tanpa kehadiran mamalia darat besar sebagai pemangsa atau pesaing. Isolasi panjang ini menciptakan komunitas biota yang sangat terspesialisasi dan naif secara ekologis. Kedatangan manusia, beserta fauna pendampingnya seperti rodentia (tikus), felis (kucing), mustelid (musang), dan berbagai mamalia herbivora introduksi telah memicu peristiwa kepunahan dan penurunan populasi yang masif. Gelombang gangguan antropogenik ini menempatkan Oseania sebagai salah satu episentrum krisis kepunahan global kontemporer.[14]

Restorasi ekosistem unik di Oseania memerlukan strategi yang berfokus pada akar masalah, bukan sekadar gejala. Karena krisis kepunahan di sini dipicu utamanya oleh masuknya spesies asing seperti tikus, kucing, dan tanaman invasif, upaya konservasi harus dipusatkan pada pemberantasan spesies asing ini sebagai langkah kunci. Pendekatan yang paling tepat adalah dengan memulihkan seluruh ekosistem pulau sebagai satu kesatuan. Artinya, hutan, satwa, dan proses alamiah di dalamnya harus dijaga secara menyeluruh. Tujuannya adalah menciptakan kembali kondisi alamiah pulau sebelum kedatangan manusia dan spesies pendatang, sehingga keanekaragaman hayati asli Oseania dapat berkembang lagi sesuai jalur evolusinya yang unik.[14]

Kamisese Mara merupakan presiden pertama Fiji

Politik di kawasan Oceania, yang membentang dari Australia dan Selandia Baru yang luas hingga negara kepulauan kecil Pasifik, adalah mozaik kompleks yang dibentuk oleh riwayat kolonial. Sebagian besar wilayah ini pernah menjadi jajahan Inggris, Prancis, Jerman, atau Amerika Serikat, meninggalkan jejak sistem pemerintahan, hukum, dan administrasi yang beragam. Australia dan Selandia Baru mengembangkan demokrasi parlementer yang stabil dengan model Westminster, sementara banyak negara Pasifik, seperti Fiji, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon, mewarisi sistem serupa namun harus menyesuaikannya dengan realitas masyarakat tradisional yang kuat, di mana kepemimpinan suku dan koneksi sosial seperti wantok, sering kali berpadu, atau bahkan bersaing, dengan politik modern.

Keragaman sistem politik di kawasan ini sangat mencolok. Monarki konstitusional, seperti Tonga yang memiliki sejarah kerajaan panjang, berdampingan dengan republik seperti Fiji, yang pernah mengalami gejolak kudeta militer atau perjuangan kemerdekaan. Di ujung spektrum lain, ada Tuvalu dan Nauru yang berdaulat sebagai negara terkecil di dunia dengan model parlemen unik yang menghadapi tantangan kepemerintahan yang spesifik. Sementara itu, wilayah seperti Polinesia Prancis dan Kaledonia Baru tetap menjadi bagian dari Prancis, dengan politik lokalnya yang dinamis dan isu-isu referendum kemerdekaan, sebagaimana yang baru-baru ini kerusuhandi Kaledonia Baru.[18][19]

Di era kontemporer, politik Oceania semakin diwarnai oleh isu-isu genting yang melampaui batas nasional. Perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut adalah ancaman eksistensial bagi banyak negara atol rendah, menjadikan diplomasi iklim sebagai prioritas utama kebijakan luar negeri mereka. Isu ini juga mempengaruhi aliansi dan ketergantungan, menarik perhatian dan persaingan pengaruh dari kekuatan global seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia. "Perang dingin" di kawasan Pasifik ini memunculkan dinamika baru, di mana negara-negara kecil seperti Kepulauan Solomon yang memiliki hubungan dengan Tiongkok[20][21] atau hubungan China dan Kiribati[22][23] terkadang menjadi penentu strategis dalam diplomasi besar, menggeser fokus politik regional dari sekadar isu pembangunan.

Di sisi domestik, tantangan politik utama banyak negara Pasifik meliputi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam (seperti perikanan dan mineral), transparansi pemerintahan, dan menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat yang sangat majemuk. Papua Nugini, misalnya, menghadapi kompleksitas mengintegrasikan ratusan kelompok bahasa dalam satu kesatuan bangsa, sementara Fiji berusaha merajut hubungan antar-etnis pasca-konflik. Respons terhadap tantangan ini sangat bervariasi, menunjukkan bahwa meski ada warisan kolonial yang serupa, jalan politik yang ditempuh masing-masing bangsa telah sangat berbeda.

Landskap politik kawasan ini terus bergerak dengan semakin kuatnya suara kolektif melalui forum regional seperti Forum Kepulauan Pasifik. Saat ini organisasi ini beranggotakan 18 negara.[24], yang menjadi panggung negosiasi dan penyelesaian sengketa internal, seperti kasus Fiji di masa lalu, serta menyuarakan kepentingan bersama di dunia internasional. Interaksi yang unik antara pemimpin tradisional, elite modern, aktivis iklim, dan diplomasi internasional menciptakan percakapan politik yang khas Oceania, di mana pertemuan keputusan mungkin dibuat di bawah balai pertemuan tradisional (marae atau maneaba) sama pentingnya dengan yang dibuat di parlemen nasional atau konferensi global.

PDB (nominal) Oseania 2024[25]

  Australia (85.6%)
  New Zealand (12.3%)
  Papua New Guinea (1.5%)
  Lainnya (0.6%)

Ekonomi Oseania didominasi Australia sebagai pusat pertumbuhan, dengan PDB melebihi 1,6 triliun USD pada 2025 atau sekitar 80% total wilayah, didorong SDA utama seperti bijih besi, batubara, emas, dan LNG yang diekspor ke Asia.[26] Selandia Baru unggul di sektor pertanian (susu, daging) dan pariwisata, sementara pulau Pasifik seperti Fiji, Papua Nugini, serta Solomon bergantung pada perikanan tuna, emas, dan kayu serta bantuan internasional.

Selain sektor jasa yang mendominasi, struktur industri Oseania juga ditopang oleh sektor primer dan pengolahannya, dengan pola yang berbeda di setiap subkawasan. Di Australia, sektor pertambangan masih menjadi penopang ekspor, menyumbang sekitar 40% dari total nilai ekspor negara tersebut.[26] Selandia Baru mengandalkan industri pengolahan makanan (seperti susu dan daging) sebagai tulang punggung manufakturnya, sementara negara-negara kepulauan Pasifik bergantung pada industri pengolahan ikan dan sumber daya laut.[27]

Secara keseluruhan di Oseania perdagangan antar-sesama negara di kawasan ini masih sangat minim, hanya sekitar 5-7% dari total aktivitas perdagangan mereka. Angka yang kecil ini pun hampir sepenuhnya dikuasai oleh dua negara besar, Australia dan Selandia Baru. Keduanya, berkat perjanjian Closer Economic Relations (ANZCER), menyumbang sekitar 90% dari perdagangan internal Oseania. Sementara itu, sebagian besar negara anggota, yaitu negara-negara kepulauan di Pasifik, memiliki pola perdagangan yang berbeda, lebih banyak berdagang dengan negara-negara di luar Oseania. Australia menjadi pasar utama bagi mereka (sekitar 60%), diikuti oleh China (sekitar 20%). Kondisi ini menunjukkan bahwa kerjasama ekonomi regional Oseania masih belum sepenuhnya merangkul semua anggotanya, dan negara-negara pulau kecil masih sangat bergantung pada mitra dagang besar di luar lingkup regional mereka sendiri.[27]

Peta ekonomi Oseania diwarnai oleh dua realitas yang bertolak belakang. Di pihak Australia, kemakmuran ditopang oleh dominasi sektor jasa modern. Kota-kota seperti Sydney dan Melbourne, dengan industri keuangan, teknologi, dan pendidikannya yang tangguh, menjadi motor ekonomi yang menghasilkan 70% dari total PDB negara tersebut. Fondasi yang kuat ini memungkinkan Australia mempertahankan inflasi relatif rendah di level 2-3%.[26]

Demografi

[sunting | sunting sumber]
Peta Migrasi Penduduk Oseania

Oseania merupakan wilayah kepulauan di Samudera Pasifik yang mencakup Australia, Selandia Baru, serta ribuan pulau seperti Papua Nugini dan Fiji, memiliki populasi sekitar 45 juta jiwa pada 2025, dengan Australia menyumbang 59% dan Papua Nugini 23%.[28] Komposisi gender relatif seimbang, yakni pria 50,08% dan wanita 49,92%, didukung tingkat pertumbuhan tahunan 1,122% melalui kelahiran harian rata-rata 663 orang.[28] Dinamika ini mencerminkan pengaruh urbanisasi tinggi di negara maju terhadap pola demografi keseluruhan.[29]

Distribusi penduduk Oseania sangat tidak merata, di mana Australia dan Selandia Baru menampung lebih dari 70% total populasi, sementara negara Mikronesia, Polinesia, dan Melanesia seperti Kiribati atau Tuvalu hanya kurang dari 1% masing-masing.[28] Papua Nugini mencatat pertumbuhan tercepat dengan 10,8 juta penduduk, diikuti Fiji (934 ribu) dan Kepulauan Solomon (843 ribu).[28] Isolasi geografis pulau-pulau kecil menyebabkan kepadatan rendah di wilayah timur, berbanding terbalik dengan konsentrasi urban di Australia.

Keragaman etnis Oseania mencakup kelompok Melanesia di Papua Nugini dan Solomon, Polinesia di Samoa serta Tonga, Mikronesia di Kiribati dan Palau, ditambah keturunan Eropa serta pendatang Asia di Australia dan Selandia Baru. Lebih dari 1.200 bahasa Austronesia dan Papua digunakan, dengan bahasa Inggris sebagai lingua franca di negara maju serta Tok Pisin di Papua Nugini. Pola migrasi menonjol berupa arus keluar dari pulau kecil ke Australia akibat pekerjaan dan perubahan iklim, serta imigrasi Asia yang mencapai 30% populasi baru Australia.[28]

Urbanisasi di Oseania kontras mencolok, dengan 90% penduduk Australia dan Selandia Baru berkumpul di kota seperti Sydney dan Auckland, berbeda dengan Papua Nugini yang hanya 13% urban.[28] Population geografi menunjukkan 70% populasi terkonsentrasi di Australia dengan kepadatan keseluruhan 3 jiwa/km², sementara Nauru capai 500 jiwa/km² meski populasi minim.[28] Faktor isolasi dan bencana alam mendorong pola ini menuju pesisir urban.[29]

Integrasi etnis, bahasa, serta migrasi memengaruhi dinamika urbanisasi, terlihat dari enklave budaya komunitas Pasifik di kota-kota Australia yang mempertahankan bahasa asal. Tren population geografi mencatat peningkatan urban di Melanesia karena peluang ekonomi, meskipun kemiskinan pedesaan terus menjadi tantangan. Jumlah warga yang berasal dari Kepulauan Pasifik di Selandia Baru terus bertambah, membuat populasi negara tersebut semakin beragam.[29]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "World Population Prospects 2022". Divisi Populasi Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diakses tanggal 17 Juli 2022.
  2. "World Population Prospects 2022: Demographic indicators by region, subregion and country, annually for 1950-2100" (XSLX) ("Total Populasi, per 1 Juli (ribuan)"). Divisi Populasi Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa. Diakses tanggal 17 Juli 2022.
  3. "Oceania: Population, Characteristics, Economy And Religions". CRGSoft. 17 January 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 3 October 2022. Diakses tanggal 3 October 2022.
  4. The Galapagos Islands are physiographically in South America but it has been physiopolitically associated with Oceania
  5. "Origin and history of Oceania". Online Etymology Dictionary (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 15 Januari 2026.
  6. 1 2 3 4 Douglas, Bronwen. "Sailors, Savants, Naming: France and the Knowing of Oceania, 1756–1840" (PDF). School of Archaeology and Anthropology, ANU College of Arts & Social Sciences. Universitas Nasional Australia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 15 Januari 2026.
  7. W. Casteel, Richard; Passeron, Jean-Claude (2011). Maritime Adaptations of the Pacific. Walter de Gruyter. ISBN 978-3110879902. Diakses tanggal 24 September 2022.
  8. Pope, Mick (Maret 2014). "Climate Change in Oceania". Lausanne Movement. Diakses tanggal 16 Januari 2026. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
  9. "Definition of BLACKBIRDS". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). 2025-04-04. Diakses tanggal 2025-04-07.
  10. "Blackbirding | Pacific Islands, Indigenous Peoples, Colonialism | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-04-07.
  11. 1 2 JOHN RAFFERTY, ASSOCIATE EDITOR, EARTH SCIENCES, ed. (2011), PLATE TECTONICS, VOLCANOES, AND EARTHQUAKES (dalam bahasa Inggris), Britannica Educational Publishing, ISBN 978-1-61530-187-4 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)
  12. Alcanadre Tanjung, Rio (2019 November 22). "Evolusi Cekungan pada Periode Holosen Kaitannya dengan Fluktuasi Muka Air Laut, Tektonik dan Perubahan Iklim di Nabire dan Sekitarnya, Papua". 20 (4). Pusat Survei Geologi: 237. ; ; ; ;
  13. Rochayati, Nurin (June 2025). "Interaksi Tiga Lempeng di Kawasan Indonesia Timur" (PDF). 2Pendidikan Geografi, Universitas Muhammadiyah Mataram, Indonesia. Diakses tanggal 20 Januari 2026.
  14. 1 2 3 Jupiter, Stacy; Mangubhai, Sangeeta; T Kingsford, Richard (2014). "Conservation of Biodiversity in the Pacific Islands of Oceania: Challenges and Opportunities" (PDF). CONNECTSCI (dalam bahasa Inggris). CSIRO Publishing. doi:10.1071/PC140206. ISSN 2204-4604. Diakses tanggal 21 Januari 2026. ;
  15. Lepage, Denis. "Checklist of Birds of Papua New Guinea". Bird Checklists of the World. Avibase. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
  16. Knud A Jønsson; Les Christidis (2009). "An unexpectedly long history of sexual selection in birds-of-paradise". springernature (dalam bahasa Inggris). 9: 235. doi:10.1186/1471-2148-9-235. ; ; ; Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  17. Goldrick, Chrissie. "The weird, flightless birds of New Zealand". Australian Geographic. Diakses tanggal 22 Januari 2026.
  18. Thompson, Yann; Parrot, Clément (2024-05-24). "Emeutes en Nouvelle-Calédonie : un homme de 48 ans a été tué par un policier "pris à partie" par "une quinzaine d'individus", annonce le parquet". France Info (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 May 2024. Diakses tanggal 24 May 2024.
  19. Gardien, Pierrick (24 May 2024). "Nouvelle-Calédonie : le Conseil d'État refuse de suspendre le blocage de TikTok". Village de la Justice (dalam bahasa Prancis). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 May 2024. Diakses tanggal 24 May 2024.
  20. "大使致辞" [Ambassador's speech]. Embassy of the People's Republic of China in Solomon Islands (dalam bahasa Tionghoa). 11 December 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 January 2024. Diakses tanggal 15 January 2024.
  21. admi, ids (13 December 2023). "New Chinese ambassador pledges to promote relations". In-depth Solomons (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 December 2023. Diakses tanggal 27 January 2024.
  22. "The Pacific Proxy: China vs Taiwan" Diarsipkan 2007-11-04 di Wayback Machine., Graeme Dobell, ABC Radio Australia, February 7, 2007
  23. Young, Audrey (October 19, 2007). "Chequebooks brought out at Pacific forum". The New Zealand Herald.
  24. "The Pacific Islands Forum – Forum Sec" (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2021-12-18. Diakses tanggal 2020-08-20.
  25. "World Economic Outlook Database, April 2025". International Monetary Fund. Diakses tanggal 15 May 2025.
  26. 1 2 3 "AUSTRALIA-INDIKATOR EKONOMI". Diakses tanggal 21 Januari 2026.
  27. 1 2 Resilience and growth in the small states of the Pacific (dalam bahasa Inggris). ISBN 978-1-51350-752-1. Diakses tanggal 21 Januari 2026.
  28. 1 2 3 4 5 6 7 "Populasi Oseania 2025". Population Today. Diakses tanggal 20 Januari 2026.
  29. 1 2 3 Gabriel Luke Kiddle, Maibritt Pedersen Zari, Paul Blaschke, Victoria Chanse and Rebecca Kiddle (16). "An Oceania Urban Design Agenda Linking Ecosystem Services, Nature-Based Solutions, Traditional Ecological Knowledge and Wellbeing". MDPI (dalam bahasa Inggris). doi:10.3390/su132212660. Diakses tanggal 20 Januari 2026. ; ; Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]