PENGGUNAAN
HEWAN COBA
(Animal Handling)
DAN ETIKA ALIH
TEKNOLOGI
Melakukan penelitian menjadi tugas
bagi setiap akademisi yang memiliki
kesadaranakan perkembangan
keilmuan.
Memiliki jiwa peneliti pun adalah satu
hal wajib yang harus dimiliki.
Namun tentu, tak dapat dipungkiri
terkadang peneliti tak menyadari
adanya kode etik yang menjadi modal
pedoman, contohnya pada para peneliti
yang sering menggunakan hewan coba
dalam penelitiannya.
Kebutuhan penggunaan hewan coba
untuk mengungkap peristiwa-
peristiwa yang terjadi secara in vivo,
demikian juga hewan yang digunakan
dalam pengajaran, menjadi hal yang
perlu diperhatikan.
Di Indonesia, diperlukan norma yang
disepakati bersama yang digali tidak
saja dari keyakinan umat beragama
melainkan juga dari sistem nilai sosial
budaya yang hidup dalam
masyarakat.
Penelitian di bidang ilmu dasar
dan biomedika dalam
pelaksanaannya seringkali
menimbulkan berbagai masalah
etika.
Demikian juga penggunaan hewan
dalam pendidikan atau pengajaran
seperti praktikum dan demonstrasi
yang digunakan dalam ilmu dasar,
pertanian, perikanan, peternakan,
biomedik maupun di kedokteran
hewan, harus memenuhi
kaidah kesejahteraan hewan.
Penggunaan hewan coba haruslah
dimanfaatkan seefisien mungkin.
Ada kalanya penelitian yang dilakukan,
terutama di bidang kesehatan, tak bisa
langsung di uji cobakan, banyakfaktor
yang menghalanginya. Salah satu yang
bisa menjadi solusi adalah dengan
menggunakan hewan coba.
Suatu penelitian yang dilakukan pada
obyek hewan, meskipun dirancang dengan
cermat dan teliti, akan tetap memiliki
resiko terhadap hewan sebagai obyek
yang diteliti.
Eksploitasi hewan coba dalam
pelaksanaan penelitian telah
menimbulkan berbagai macam reaksi di
masyarakat khususnya kalangan peneliti
serta masyarakat penyayang binatang.
Hal ini dapat menimbulkan implikasi etik,
hukum dan sosial budaya.
HEWAN COBA / HEWAN
LAB
Definisi :
Hewan percobaan adalah setiap hewan
yang dipergunakan pada sebuah penelitian
biologis dan biomedis yang dipilih
berdasarkan syarat atau standar dasar yang
diperlukan dalam penelitian tersebut.
Peneliti yang akan memanfaatkan hewan
percobaan harus mengkaji kelayakan dan
alasan pemanfaatan hewan dengan
mempertimbangkan penderitaan yang akan
dialami oleh hewan percobaan dan manfaat
yang akan diperoleh.
LAB ANIMAL FOR
RESEARCH
ETIKA DALAM PENGGUNAAN
HEWAN COBA
Etika merupakan penilaian yang baik dan
buruk, benar dan salah.
Pertanyaan etis mendasar dalam
perawatan hewan laboratorium adalah
"Bagaimana kita
harus memperlakukan hewan di
laboratorium?”
PRINSIP DASAR PENGGUNAAN
HEWAN COBA UNTUK PENELITIAN
Penggunaan hewan untuk tujuan pengembangan
ilmu melalui proses pembelajaran (praktikum,
demonstrasi) dan penelitian masih menjadi issue
yang belum mendapatkan tanggapan secara
scientific.
harus dipikirkan langkah yang baik untuk
mengurangi penggunaan hewan dalam proses
pengajaran dan penelitian, misalnya melalui:
- menggunakan metode lain untuk menggantikan
hewan
- meminimalkan jumlah dan jenis hewan yang
dipakai
- meminimalkan dampak negatif yang
ditimbulkan
PRINSIP 3 R
Russell dan Burch (1959) pertama kali
menggulirkan ide tentang penggunaan hewan
dalam penelitian yang diharapkan mengikuti
kaidah 3 R (The “three Rs” principle), yang pada
hakikatnya berintikan bahwa:
1) penggunaan hewan coba selayaknya mendapat
perhatian dalam upaya mencari penggantinya
(replacement).
2) pengurangan jumlah penggunaanya sampai pada
batas jumlah yang masih bisa dianalisis secara
statistik (reduction).
3) perbaikan penanganan terhadap hewan yang
digunakan untuk mengurangi dampak yang dapat
menimbulkan rasa nyeri dan membuat stress
(refinement).
Dokumen internasional mengenai etik penelitian yang
telah banyak digunakan di banyak negara dalam
menyelenggarakan dan mengatur kegiatan penelitian
antara lain :
1. Guide for The Care and Use Laboratory Animals
2. Helsinki Declaration, World Medical Association
Declaration of Helsinki. Ethical Principles for Medical
Research Involving Human Subjects.
3. World Health Organization Operational
Guidelines for ethical committees that review
biomedical research.
4. Universal Declaration for The Welfare of
Animals.
5. International Guidelines for Biomedical
Research Involving Human Subjects.
6. Guidelines of the care and use of Animals of
Scientific purposes, National Advisory Committee
Laboratory Animal Research.
7. Guide for The Care and Use of Agricultural
Animals in Research and Teaching. Federation of
Dokumen internasional mengenai etik penelitian yang
telah banyak digunakan di banyak negara dalam
menyelenggarakan dan mengatur kegiatan penelitian
antara lain :
1. Guide for The Care and Use Laboratory
Animals
2. Helsinki Declaration, World Medical Association Declaration of
Helsinki. Ethical Principles for Medical Research Involving Human
Subjects.
3. World Health Organization Operational Guidelines for
ethical committees that review biomedical research.
4. Universal Declaration for The Welfare of
Animals.
5. International Guidelines for Biomedical Research Involving
Human Subjects.
6. Guidelines of the care and use of Animals of Scientific
purposes, National Advisory Committee Laboratory Animal
Research.
7. Guidelines of the care and use of Animals of Scientific
purposes, National Advisory Committee Laboratory Animal
8. Research.
Institutional Animal Care and Use Committee Guidebook
Isi dokumen -dokumen tersebut pada dasarnya berisi hal-
hal sebagai berikut:
Hanya hewan yang diperoleh secara legal yang boleh
digunakan sebagai hewan coba .
Hewan coba di dalam laboratorium harus diperhatikan
kenyamanan fisiknya, diperlakukan dengan baik termasuk
pemberian makanan yang memadai .
Anesthesi/pembiusan yang memadai harus dilakukan
untuk menghilangkan rasa nyeri selama tindakan operatif.
Bila penelitian diperlukan lagi setelah lepas anesthesi, harus
digunakan cara yang baik untuk mengurangi rasa sakit
menjadi
sekecil
Perawatan mungkin.
pasca operasi terhadap hewan coba hendaknya
sedemikian rupa sehingga mengurangi rasa tidak nyaman
dan rasa nyeri.
Bila hewan coba tersebut digunakan pembelajaran,
tindakan tersebut harus dilakukan di bawah supervisi
langsung oleh komisi pembimbing atau oleh dokter hewan
yang berpengalaman.
Peraturan untuk pemeliharaan hewan berlaku juga
terhadap hewan coba untuk penelitian.
CLINICAL CARE &
MANAGEMENT
Hewan yang sehat dan terawat dengan
baik merupakan prasyarat untuk
kualitas hewan coba yang akan
digunakan dalam penelitian.
Clinical care dan manajemen meliputi :
- Medical management
- Emergency care
- Record keeping
MEDICAL MANAGEMENT
Harus ada metode yang tepat waktu dan
akurat untuk mengkomunikasikan apapun
kelainan atau masalah tentang kesehatan
hewan, perilaku, dan kesejahteraan oleh
dokter hewan yang menangani lab animal
medical management.
Penilaian objektif hewan harus dilakukan
oleh dokter hewan untuk menentukan
tindakan yang tepat.
SOP dapat dikembangkan untuk kondisi
kesehatan untuk mempercepat
pengobatan.
EMERGEMCY CARE
Harus ada tata cara (prosedur) untuk
menyediakan perawatan hewan darurat baik
selama dan di luar jam yang dijadwalkan
secara rutin.
Prosedur tersebut merupakan sistem
pelaporan yang tepat oleh perawat hewan dan
staf penelitian mengenai cedera hewan,
penyakit, atau kematian.
Seorang dokter hewan yang menangani lab
animal medical management harus tersedia
untuk secepatnya menilai kondisi hewan,
melakukan treatment pada hewan, menyelidiki
kematian tak terduga, atau memberikan
keputusan tentang euthanasia.
ANESTHESIA AND ANALGESIA
OF LABORATORY ANIMALS
Penggunaan hewan dalam penelitian
harus meminimalkan rasa sakit dan
penderitaan sejauh mungkin.
Hewan yang menjalani prosedur
penelitian berpotensi mengalami rasa
sakit, oleh karena itu harus diberikan
anestesi dan analgesia yang memadai.
Untuk penggunaan agen anestesi harus
dikonsultasikan mengenai agen yang
tepat dan dosis untuk spesies yang
digunakan dan prosedur yang dilakukan.
ANASTHESI
Anasthesi berasal dari bahasa Yunani
an-"tidak, tanpa" dan aesthētos, "persepsi,
kemampuan untuk merasa").
Anasthesi yang secara umum berarti suatu
tindakan menghilangkan rasa sakit seperti
reversibel amnesia, analgesia, kehilangan
kesadaran, hilangnya refleks otot rangka
dan penurunan respons stres serta
penurunan sistem pernafasan dan sirkulasi
Kardiovaskuler.
Anasthesia umum bisa diaplikasikan secara
injeksi, inhalasi atau kombinasi keduanya.
ANESTHESI
anestesi Inhalant :
Isoflurane, Dietil eter,
Halothan,
Methoxyflurane,
Enflurane,
Sevoflurane,
Desflurane, Nitrose
Oxide.
Pemberian anestesi inhalasi direkomendasikan
untuk semua non-akuatik spesies. Kelemahan
dari inhalansia anestesi adalah kurangnya sisa
efek analgesia setelah vaporizer telah matikan.
ANESTHESI
Anestesi Injeksi (yaitu, kombinasi
ketamin, pentobarbital) – Anestesi
injeksi yang tepat dapat digunakan
untuk banyak prosedur. Ada banyak
variasi dalam kedalaman dan durasi
anestesi antara strain tikus dan individu
hewan.
ANESTHESI
Anestesi Immersion (buffer MS-222) -
anestesi Immersion digunakan untuk
spesies akuatik, seperti amfibi dan ikan.
Solusio yang memiliki konsentrasi dan
kekuatan berbeda-beda sangat tepat
untuk induksi dan maintenance anestesi.
anestesi lokal (lidokain, bupivicaine) -
lokal anestesi biasanya disuntikkan di
lokasi sayatan dan mungkin tepat untuk
dipertimbangkan sebagai pendukung
untuk inhalansia atau anestesi injeksi.
ANALGESIC
Opioid (buprenorfin, gol. morfin) - Opioid
analgesik sangat efektif untuk sakit pada
tindakan operasi atau post operasi dan
dapat sebagai penenang tetapi mungkin
memiliki efek pada fungsi kardiovaskular.
Anti-inflamasi non-steroid (misalnya,
meloxicam, karprofen, ketoprofen) daya
tahan analgesik anti-inflamasi non-steroid
(NSAID) dapat memiliki jangka waktu
yang lebih lama dari opioid.
ADDITIONAL SUPPORTIVE
CARE
metode non obat-obatan untuk
meningkatkan pemberian agen
anestesi dan analgesik harus
digunakan, antara lain:
- Menjaga kondisi suhu hewan
selama dan setelah prosedur
anestesi.
Pemberian cairan tubuh (infus)
Menjaga kondisi pemulihan hewan
di tempat yang steril dan tenang.
Memberikan vitamin dan suplemen
MONITORING
Monitoring (pemantauan) selama operasi
maupun pasca operasi sangat penting.
Perlu dilakukan pemantauan anestesi termasuk
respon terhadap rangsangan, karakter
respirasi, membran mukosa, detak jantung,
suhu tubuh dan sebagainya.
Tujuan utama pemantauan anestesi adalah
untuk
diagnosa adanya permasalahan, perkiraan
kemungkinan terjadinya kegawatan dan
evaluasi hasil suatu tindakan, termasuk
efektivitas serta adanya efek tambahan.
Pemantauan harus dilakukan sampai terjadi
proses penyembuhan secara komplit.
ETIKA ALIH TEKNOLOGI
penggunaan hewan coba selayaknya
mendapat perhatian dalam upaya
mencari penggantinya (replacement)
Penggunaan teknologi lain sebagai
pengganti hewan coba dapat dilakukan
dengan :
- kultur sel (Stem cells) untuk penelitian
secara invitro
- kultur jaringan
- software computer (In Silico)