0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan14 halaman

Toleransi dalam Moderasi Beragama Islam

Diunggah oleh

Muhammad Alfiyan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan14 halaman

Toleransi dalam Moderasi Beragama Islam

Diunggah oleh

Muhammad Alfiyan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penerapan Nilai Toleransi Dalam

Moderasi Beragama

Oleh : …..
Latar Belakang
Nilai Toleransi Toleransi wajib dimaknai secara tepat, karena toleransi
beragama yang penerapannya keliru akan menodai agama itu sendiri.
Islam memiliki cakupan ajaran yang utuh. Agama sudah sempurna
mengatur hubungan antar muslim dan nonmuslim, batas gender dan
lainnya. Sebagai bentuk kesempurnaan mengatur hubungan, maka Islam
sudah tentu memberikan sikap dan menekan toleransi moderasi
beragama mengenai cara pandang kepada agama lain.
Kesalahan memahami makna toleransi juga berakibat pada talbisul haq bil
bathil atau mencampur adukkan yang hak dan yang bathil. Sikap ini
sangat dilarang bagi seorang muslim, sebagai contoh nikah beda agama.
Oleh karenanya supaya tak keliru, tulisan ini akan mengarahkan
pembacanya agar memaknai dan menerapkan toleransi sesuai porsinya
dalam moderasi beragama.
Definisi Toleransi
Toleransi dalam Bahasa Latin: tolerare itu artinya membiarkan pihak lain
yang berlainan pandangan atau sikap tanpa dihalang-halangi. Kamus
Besar Bahasa Indonesia menerangkan bahwa toleransi sebagai sikap
menghargai dan mentolerir terhadap orang lain yang memiliki pendirian diri
masing-masing.
Dalam hal ini, toleransi bermakna membebaskan atau memberikan
keluasan terhadap pihak yang memiliki pendapat, sikap, atau keyakinan
yang berbeda dengan prinsip diri pribadi. Kata toleransi dalam agama
Islam sepadan dengan istilah tasamuh. Ada dua macam konotasi dalam
akar kata tasamuh, yaitu Jud wa karam wal tasahul berarti kemurahan hati
dan kemudahan
Dasar Kewajiban Toleransi Dalam Islam

Islam termasuk agama yang sangat perhatian terhadap tata etika


pergaulan sosial, termasuk hubungan antarpemeluk agama. Islam amat
menekankan, toleransi, perdamaian dan sebisa mungkin menghindari
permusuhan, apalagi ketika hal itu sampai menimbulkan pertumpahan
darah. Perbuatan toleransi disertai adil mesti ditegakkan kepada siapa
saja, tak terkecuali kepada orang-orang yang berbeda golongan dan
keyakinan. Sebagaimana Allah berfirman:
‫َلا َي ْن ٰهى ُك ُم ال ّٰل ُه َع ِن ا َّل ِذ ْي َن َل ْم ُي َقا ِت ُل ْو ُك ْم ِفى ال ِّد ْي ِن َو َل ْم ُي ْخ ِر ُج ْو ُك ْم ِّم ْن ِد َيا ِر ُك ْم َا ْن َت َب ُّر ْو ُه ْم َو ُت ْق ِس ُط ْٓوا ِا َل ْي ِه ْۗم ِا َّن ال ّٰل َه ُي ِح ُّب ا ْل ُم ْق ِس ِط ْي َن‬
Artinya: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil
terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan
tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berlaku adil” (QS Al-Mumtahanah: 8).
Sejarah Kewajiban Toleransi Dalam Islam

Imam Syamsuddin al-Qurthubi (w. 671) mengutip beberapa pendapat ulama


perihal sejarah diturunkannya ayat di atas. Dalam kitabnya disebutkan,
suatu saat Qatilah hendak mendatangi anak putrinya, Sayyidah Asma’ binti
Abu Bakar, untuk memberikan anting dan barang-barang lainnya. Ketika itu
Qatilah adalah mantan istri Sayyidina Abu Bakar—ia ditalak sejak masa
jahiliyah.
Setelah bertemu, Asma’ yang saat itu sudah memeluk agama Islam—
sementara ibunya tidak— menolak dengan tegas pemberian itu, bahkan ia
menyuruh sang ibu keluar meninggalkan rumahnya, dengan alasan “tidak
diperbolehkannya menjalin kerukunan dan pergaulan” dengan pemeluk
agama lain. Dengan perasaan kecewa, Qatilah mendatangi Rasulullah saw
untuk mengadukan kejadian yang dialaminya. Setelah semuanya
disampaikan kepadanya, turunlah ayat di slide sebelumnya.
Dengan toleransi umat Islam diharapkan dapat berpikir dan
bersikap tidak melakukan diskriminasi atas dasar perbedaan
suku bangsa, harta kekayaan, status sosial, dan atribut-atribut
keduniaan lainnya.

Itulah sebabnya Islam mencabut akar-akar fanatisme jahiliyah


yang saling berbangga diri dengan agama (keyakinan),
keturunan, dan ras.

Melalui prinsip-prinsip tersebut kaum muslim selalu mengambil


posisi sikap akomodatif, toleran dan menghindari sikap ekstrem
dalam berhadapan dengan spektrum budaya apa pun.
Wujud toleransi makin dikukuhkan dengan tidak ada kebijakan yang
memaksa untuk menganut agama Islam. Nabi Muhammad SAW. beserta
para alim ulama bukanlah pemaksa, melainkan pemberi kabar gembira.
Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqoroh ayat 256 yang berbunyi:
.”

‫َل ٓا ِا ْك َرا َه ِفى ال ِّد ْي ِۗن َق ْد َّت َب َّي َن ال ُّر ْش ُد ِم َن ا ْل َغ ِّي ۚ َف َم ْن َّي ْك ُف ْر ِبال َّطا ُغ ْو ِت َو ُي ْؤ ِم ْۢن ِبال ّٰل ِه َف َق ِد ا ْس َت ْم َس َك ِبا ْل ُع ْر َو ِة ا ْل ُو ْث ٰقى َلا ا ْن ِف َصا َم َل َها ۗ َوال ّٰل ُه َس ِم ْي ٌع‬
‫َع ِل ْي ٌم‬

Artinya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam),


sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan
jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada
Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat
kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”
Macam-Macam Toleransi
1) Toleransi antara sesama muslim Ajaran Islam memiliki misi rahmatan lil ‘alamin, sehingga di
dalamnya mengajarkan tentang sikap tenggang rasa, kebebasan untuk berpikir, berpendapat,
serta menebarkan kasih sayang kepada sesama manusia.
2) Toleransi antar umat beragama (non-Muslim) Toleransi antar umat beragama merupakan
suatu sikap individu sebagai umat beragama yang memiliki keyakinan untuk menghargai serta
menghormati individu yang berlainan agama. Adapun bentuk dari toleransi antar umat
beragama diantaranya:
a. Menerima setiap hak yang dimiliki orang lain
b. Menghargai setiap keyakinan orang lain, sehingga tidak ada kebenaran bagi segala bentuk
kekerasan yang berhubungan dengan keyakinan;
c. Agree in disagreement artinya setuju di dalam perbedaan prinsip.
d. Menunjukan sikap saling mengerti, tidak membenci, tidak menjelekkan, serta menghargai
satu sama lain;
e. Sadar dan jujur akan sikap toleransi;
f. Memiliki jiwa falsafah pancasila sebagai dasar ideologi bangsa.
Kebinekaan Indonesia Dalam Bingkai Toleransi
Indonesia sebagai negara yang bineka dan majemuk dari segi
suku bangsa, budaya, dan agama memerlukan strategi untuk
menciptakan dan memelihara suasana kebebasan beragama
dan kerukunan umat beragama.
Demikian tersebut amat penting dilakukan agar terwujud
masyarakat Indonesia yang sejahtera, aman, damai, bersatu
dan tenteram. Untuk mewujudkan kedeamaian, keamanan dan
kesatuan tersebut, perlu adanya suatu strategi yang tepat.
Strategi tersebut adalah Moderasi beragama, salah satunya
lewat nilai toleransinya. Toleransi dalam kerukunan beragama
haruslah dilakukan, karena dengan demikian akan terciptalah
kerukunan umat antar agama atau keyakinan.
3 Sebab Diperlukannya Nilai Toleransi Dalam Moderasi Beragama Di
Indonesia:

1) Toleransi di Indonesia sangatlah diperlukan sebagai strategi


kebudayaan dalam merawat keindonesiaan. Indonesia sebagai negara
multikultural, para pendiri bangsa sejak awal sudah berhasil mewariskan
satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa, bernegara dan beragama,
yaitu Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang secara
fakta telah berhasil menyatukan seluruh kelompok agama, etnis, bahasa
bahkan budaya di Indonesia.
Indonesia memang bukanlah negara agama, namun dalam kehidupan
sehari-hari agama menjadi tuntunan dan tidak bisa dipisahkan. Nilai-nilai
agama dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal bahkan beberapa
hukum agama dikembangkan oleh negara dalam Undang-undang Dasar
dan Peraturan Pemerintah.
3) Seiring perkembangan zaman setelah ribuan tahun agama lahir, manusia
semakin bertambah dan beragam, bersuku-suku, beraneka warna kulit,
berbangsa-bangsa dan terus berkembang. Keilmuan juga terus
berkembang mengikuti perkembangan zaman untuk menjawab problem
kemanusiaan.
Teks-teks agamapun menjadi multitafsir, kebenaran menjadi relatif, bahkan
sebagian pemeluk agama tidak lagi berpegang teguh pada hakikat ajaran
agamanya, sehingga menjadi fanatisme terhadap kebenaran versi yang
disukainya. Oleh karena itu, terjadilah konflik yang tidak bisa dielakkan.
Kompleksitas masalah kehidupan manusia serta agama ini terjadi tidak
hanya pasa satu daerah / negara, bahkan berbagai dibelahan dunia
lainnya. Maka untuk mencari solusi terbaik dalam menghadapi problem ini,
moderasi beragama menjadi solusinya dan penting untuk diterapkan
sehingga tidak ada lagi konflik yang berlatar agama terjadi dan terjagalah
eksistensi kemanusiaan.
2) Hadirnya agama dalam kehidupan manusia adalah untuk
menjaga martabat manusia sebagai mahkluk yang mulia serta
menjaga untuk menghilangkan nyawanya. Itulah sebabnya, setiap
agama itu membawa misi perdamaian dan keselamatan.
Agama mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek
kehidupan, sehingga menjaga nyawa seorang manusia menjadi
prioritas, karena menghilangkan satu nyawa sama artinya dengan
menghilangkan nyawa semua umat manusia.
Oleh karena itulah dengan adanya toleransi ini hendaknya menjadi
cara untuk mengembalikan praktik bergama agar sesuai dengan
esensinya serta agama benar-benar menjadi ruh dalam kehidupan
sehingga harkat dan martabat manusia akan terjaga.
Kesimpulan
Kondisi keagamaan di Indonesia yang sangat beragam. Oleh sebabnya membutuhkan visi
dan solusi yang dapat menciptakan kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan
kehidupan keagamaan, yakni dengan menerapkan nilai toleransi dalam moderasi beragama
untuk saling menghargai keragaman tafsir, serta tidak terjebak pada intolarisme, radikalisme
dan ekstremisme.
Semangat moderasi beragama merupakan strategi untuk mencari titik temu dan jalan damai
dua kutub ekstrem dalam beragama. Di satu sisi, ada beberapa pemeluk agama yang
ekstrem sehingga meyakini secara mutlak kebenaran satu tafsir teks agama dan
menganggap penafsir lain sesat. Komunitas ini biasa dinamakan dengan kelompok ultra-
konservatif.
Di sisi lain, ada juga umat beragama yang esktrem mendewakan akal hingga mengabaikan
kesucian agama, atau mengorbankan kepercayaan dasar ajaran agamanya demi toleransi
yang tidak pada tempatnya kepada pemeluk agama lain. Mereka biasa disebut ekstrem
liberal.
Keduanya perlu dimoderasi. Kebinekaan di Indonesia adalah suatu keniscayaan yang tidak
bisa dihilangkan, karena itu merupakan fakta sejarah. Untuk itulah toleransi dalam moderasi
beragama itu hadir sebagai perekat persamaan bukan mempertajam perbedaan.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai