Modul 2
Manajemen Berbasis Sekolah Sebagai
Proses Pemberdayaan (
Pokjar VENY SAFARIA
Masa registrasi (2022.1)
Nama Kelompok 1
1. Shelly Agustini
2. Syahrizal
3. Rara Amiyati
.' 4. Widi Sulistia
-
Tujuan-Tujuan Pembelajatan MBS, sebagai berikut :
1. Menjelaskan penerapan MBS sebagai proses pemberdayaan sekolah
2. Menjelaskan penerapan MBS sebagai proses pemberdayaan dan penguatan pendidikan karakter
3. Memberikan contoh MBS sebagai proses pemberdayaan sekolah
4. memberikan contoh MBS sebagai proses pemberdayaan dan penguatan pendidikan karekter
5. Menjelaskan pengembangan MBS secara luas
6. Menjelaskan pengembangan sistem nilai kehidupan
Kegiatan Belajar 1
MBS Sebagai Proses Pemberdayaan Sekolah
.. .
• Manajemen berbasis sekolah merupakan konsep pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan
� kemandirian sekolah.
Kindervatter (1979) memberikan pembatasan pemberdayaan sebagai peningkatan pemahaman manusia untuk
. meningkatkan kedudukannya di masyarakat.
Peningkatan kedudukan itu meliputi kondisi-kondisi sebagai berikut:
1. Akses
2. Daya pengungkit
3. Pilihan-pilihan
4. Status
5. Kemampuan refleksi kritis
6. Legitimasi
7. Disiplin
8. Persepsi kreatif
Dalam dunia pendidikan pemberdayaan ditunjukkan kepada peserta didik, guru, kepada sekolah, dan tenaga
kependidikan.
MBS Sebagai Proses Pemberdayaan Sekolah dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja sekolah agar dapat
mencapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien. MBS Sebagai Proses Pemberdayaan Sekolah merupakan cara
untuk membangkitkan kemauan dan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan mengontrol diri dan
lingkungannya untuk dimanfaatkan bagi kepentingan peningkatan kesejahteraan seluruh warga sekolah.
Untuk dapat memahami dan menerapkan MBS sebagai proses pemberdayaan sekolah terdapat beberapa hal yang perlu
mendapat perhatian, seperti dijelaskan berikut ini.
1. Pemberdayaan berhubungan dengan upaya peningkatan kemampuan masyarakat untuk memegang kontrol (atas diri
dan lingkungannya).
2. Adanya kesamaan dan kesepadanan kedudukan dalam hubungan kerja.
3. Menggunakan pendekatan partisipatif.
4. Pendidikan untuk keadilan.
Keempat hal tersebut merupakan ciri proses pemberdayaan, yang meliputi (a) community organization; (b) self-
management and collaboration; (c) participatory approaches, dan (d) education for justice. Ciri-ciri inilah yang
merupakan tahapan dasar dalam MBS. Berikut rincian ungkapan karakteristik pemberdayaan Kindervatter (1979) yang
disebutnya dalam bahasa orang awam (commonalities).
1. Penyusunan kelompok kecil; pemberdayaan menekankan aktivitas dalam kelompok kecil yang mandiri.
2. Pengalihan tanggung jawab; dalam manajemen berbasis sekolah terjadi pengalihan dari pemerintah kepada
sekolah untuk memberdayakan diri dan lingkungannya.
3. Pimpinan oleh para partisipan; dengan latihan mengontrol atau mengambil keputusan dalam tingkat yang
tinggi
(akan) mendorong semua aspek aktivitas organisasi.
4. Guru sebagai fasilitator; guru sebagai fasilitator merupakan pembimbing proses, orang sumber,
orang yang menunjukkan dan mengenalkan kepada peserta didik tentang masalah-masalah yang dihadapi.
5. Proses bersifat demokratis dan hubungan kerja yang luwes; Segala sesuatu dalam manajemen berbasis
sekolah dirundingkan bersama dalam kedudukan yang sederajat dan diputuskan melalui pemungutan suara atau
musyawarah (konsensus).
6. Merupakan integrasi antara refleksi dan aksi; pengalaman dan masalah-masalah yang dimiliki para
partisipan akan menghasilkan fokus.
7. Metode yang mendorong kepercayaan diri; metode yang digunakan bersifat meningkatkan keterlibatan
aktif, dialog, dan aktivitas kelompok secara mandiri.
8. Meningkatkan derajat kemandirian sosial, ekonomi, dan politik, sebagai hasil proses pemberdayaan
Untuk itu Stewart (1998) mempersyaratkan kecakapan khusus untuk memberdayakan sekolah
yaitu;
[Link] mampu (enabling), yang berarti memastikan bahwa warga sekolah mempunyai
segala sumber daya yang mereka perlukan untuk dapat memberdayakan secara penuh.
[Link] (facilitating), merupakan kecakapan yang paling mendasar yang diperlukan
seseorang manager yang memberdayakan,hal ini juga sejalan dengan salah satu fungsi
kepala sekolah sebagai [Link];memberikan kemudahan kepada peserta didik
dalam suatu pelajaran dengan menyediakan aneka ragam sumber belajar.
[Link] (consulting), merupakan suatu kegiatan untuk bertukar fikiran atau
meminta pertimbangan kepada pihak-pihak yang diberdayakan dan tidak saja berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari melainkan juga menyangkut masalah strategis.
[Link] sama (collaborating), dengan adanya kerja sama kita bisa membuktikan tidak hanya
seberapa besar kecakapan kepala sekolah sebagai manager dalam
pemberdayaan ,melainkan juga seberapa kuat kemampuan melaksanakannya secara penuh.
[Link] (mentoring), merupakan tahab kegiatan pemberdayaan dan sekaligus
merupakan teknik [Link] juga merupakan suatau tindakan sebagai
teladan dan pelatih bagi orang yang diberdayakan.
[Link] (supporting), kepala sekolah berperan sebagai manajer,oleh karena itu
kepala sekolah harus mengetahui perlunya membantu guru dan mendukung mereka dan
untuk itu diperlukan juga upaya kepala sekolah untuk memimpin dari belakang yang
mengarahkan kepada kemandirian guru.
Kontroversi mengenai manajemen sekolah semakin terasa ketika kita memasuki era pembangunan.
Menurut
Tillar tahun 1992 terdapat dua pola pemikiran atau asumsi yang mendominasi kontroversi ini.
[Link] teknik pedagogis.
Mutu pendidikan akan dapat ditingkatkan apabila ditangani secara efisien.
[Link] politik pemerintahan
Pendidikan menjadi salah satu masalah pembagian wewenang kekuasaan antara pemerintah
pusat dan pemerintah daerah.
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu
pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Bahkan Johar 2003 mengevaluasi
fenomena pendidikan di Indonesia sangat menonjol yaitu:
1. Pendidikan kita telah kehilangan objektivitasnya
2. Pendidikan kita tidak mendewasakan peserta didik
3. Pendidikan kita tidak menumbuhkan pola berpikir
4. Pendidikan kita tidak menghasilkan manusia terdidik
5. Pendidikan kita dirasa membelenggu
6. Pendidikan kita belum mampu membangun individu
belajar
7. dirasa linier indoktrinatif
8. Pendidikan kita belum mampu menghasilkan kemandirian dan
.9. ...
,
.....�
Pendidikan kita belum mampu memberdayakan dan membudayakan peserta didik
.
..
•.
Sebenarnya apa yang salah dalam penyelenggaraan pendidikan kita?
Faktor pertam , Selama ini dalam menerapkan pendekatan education production foundation terlalu
memusatkan
pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal proses pendidikan
sangat menentukan output pendidikan.
Faktor kedua , penyelenggaraan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan
birokrasi. Dengan demikian sekolah kehilangan kemandirian motivasi dan inisiatif untuk mengembangkan
dan memajukan lembaganya termasuk peningkatan mutu pendidikan sebagai salah satu tujuan pendidikan
nasional.
Faktor ketiga, peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama
ini
sangat minim.
Berdasarkan dengan mutu pendidikan , Indonesia menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan mutu
pendidikan ; selain keterbatasan anggaran ,berbagai sumberdaya pendidikan masih sangat terbatas untuk
dapat menjadi standar mutu yang memadai . Bahkan Indonesia belum dapat-dapat mencapai mutu pendidikan
yang bersaing di era global
Kegiatan Belajar 2
MBS sebagai Proses Pemberdayaan dan Penguatan Pendidikan Karakter
A. HAKIKAT PENGUATAN PENDIDIKAN DAN KARAKTER DALAM MBS
memulai revitalisasi dan menekankan karakter di berbagai lembaga pendidikan, baik informasi formal, maupun
nonformal : diharapkan bangsa Indonesia bisa menjawab berbagai tantangan dan permasalahan yang semakin rumit
dan kompleks. Berbagai tantangan dan permasalahan yang datang silih berganti dalam era globalisasi tidak mungkin
dihindari, karena meskipun kita menutup pintu, pengaruh globalisasi akan masuk lewat jendela atau merajut melalui
berbagai cara. Dalam hal ini Pendidikan Kewarganegaraan dan pendidikan agama menjadi penting untuk tetap
menumbuhkan kembang tanggung jawab bersama di dalam kehidupan suatu masyarakat (baik secara lokal, nasional,
regional, global). Sesuai pasal 51 ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
MBS mengcangkup Madrasah sebagai bentuk satuan pendidikan yang sejajar status dan perannya sehingga
pembahasan lebih lanjut dalam konteks Indonesia akan disebut manajemen berbasis sekolah atau madrasah atau
.
N PS/M. Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak
•
.. h....a.... n,-y- a berkaitan dengan masalah benar – salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan atau habit tentang hal-hal
1
•••yang tidak baik dalam kehidupan, sehingga anak atau peserta didik memiliki kesadaran, dan pemahaman yang
tinggi,
serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kewajiban dalam kehidupan sehari-hari.
Wyn (1991) mengemukakan bahwa karakter berasal dari Bahasa Yunani yang
berartio” to Mark” (menandai) dan memfokuskan pada Bagaimana penerapan nilai-
nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Sejalan dengan
pendapat tersebut Dirjen Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Republik
Indonesia 2010 bahwa karakter dapat diartikan sebagai totalitas ciri-ciri pribadi yang
melekat dan dapat diidentifikasi dalam perilaku individu yang bersifat unik, dalam
arti secara khusus ciri- ciri ini membedakan antara satu individu dengan yang lain.
Dalam pendidikan karakter diperlukan tiga aspek perasaan atau emosi, yang oleh
Lickona (1992) disebut “Desiring the good” atau keinginan untuk melakukan
kebajikan. Dalam hal ini ditegaskan bahwa Pendidikan karakter yang baik harus
melibatkan bukan saja aspek “know the good”, tetapi juga “desiring the good” atau
“loving the good” dan “acting the good” : sehingga manusia tidak berperilaku seperti
robot yang diindoktrinasi atau paham tertentu. ketiga komponen tersebut perlu
diperhatikan dalam pendidikan karakter, agar peserta didik menyadari, memahami,
merasakan dan dapat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari ini nilai-nilai
kebajikan itu secara utuh dan menyeluruh (kaffah).
- '..-
•
•
Melengkapi uraian diatas Megawangi mengemukakan 9 pilar karakter mulia yang selayaknya dijadikan
.. acuan dalam pendidikan karakter, baik di sekolah maupun di luar sekolah, sebagai berikut.
1. Cinta Allah dan kebenaran
2. Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri
3. Amanah hormat dan santun
4. Kasih sayang, peduli, dan kerjasama
5. Percaya diri, kreatif, dan pantang
6. menyerah Adil dan berjiwa kepemimpinan
7. Baik dan rendah hati
8. Toleransi dan cinta damai
Melengkapi uraian diatas Megawangi mengemukakan 9 pilar karakter mulia yang selayaknya
dijadikan
acuan
1. dalamAllah
Cinta pendidikan karakter, baik di sekolah maupun di luar sekolah, sebagai berikut.
dan kebenaran
2. Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri
3. Amanah hormat dan santun
4. Kasih sayang, peduli, dan kerjasama
5. Percaya diri, kreatif, dan pantang
6. menyerah Adil dan berjiwa kepemimpinan
7. Baik dan rendah hati
8. Toleransi dan cinta damai
• [Link] KARAKTER
BANGSA
0
Di indinesia, pendidikan karakter bangsa telah berdiri lama, jauh sebelum indonesia merdeka. Ki Hajar
Dewantara sebagai pahlawan Pendidikan Nasional memiliki tentang Pendidikan karakter sebagai azas Taman
Siswa 1922.
Sekolah Taman Siswa memiliki tujuh prinsip sebagai berikut:
1. Hak seseoran untuk mengatur diri sendiri dengan tujuan tertibnya persatuan dalam kehidupan umum.
2. Pengajaran berarti mendidik anak agar merdeka batinya, pikirannya, dan tenaganya.
3. Pendidikan harus selaras dengan kehidupan.
4. Kultur pendidikan yang selaras dengan kodrat harus dapat memberi kedamaian hidup.
5. Harus bekerja menurut kekuatan sendiri.
.
6. Perlu hidup dengan berdiri sendiri.
-
7. Dengan tidak t• erik a•_t , lahir batin dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta didik.
..
'
• •-\
• • suatu sintem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi
Pendidikan karakter
) •
merupakan
- -.
-
komponen: kesa•daran, pemahaman,•kepedulian, dan komitmen yang tinggi. Dalam pendidikan karakter di
' •
' .. •
sekolah/madrasa h, semu•a komponen ( stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen komponen yang ada
di dalam system pe•mdid•ikan itu sendiri.
-
C. TUJUAN PENDIDIKAN KARAKTER.
_,
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah .
pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai
dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan
D. IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
Pada umumnya pendidikan karakter menekankan pada keteladanan, penciptaan lingkungan,
dan pembiasaan: melalui tugas keilmuan dan kegiatan kondusif. Dengan demikian apa yang dilihan,
didengar,dirasakan dan dikerjakan oleh peserta didik dapat membentuk karakter mereka. Selain itu
menciptakan iklim dan budaya serta lingkungan yang kondusif juga sangat penting dalam
pembentuka karakter peserta didik.
Keberhasialn pendidikan karakter dapat diketahui dari berbagai perilaku sehari-hari yang tampak
dalam
setiap aktivitas masyarakat seperti:kesadaran, kejujuran, keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian,
kepedulian, kebebasan dalam bertindak, kecermatan, ketelitian, dan komitmen
Kegiatan Belajar 3
Pengembangan Sistem Nilai Kehidupan dan MBS
A. PENGEMBANGAN SISTEM NILAI KEHIDUPAN
Pengembangan sistem nilai kehidupan dan karakter bangsa kini sedang menjadi sorotan tajam masyarakat.
Masalah yang muncul di masyarakat melatar belakangi perlunya pengembangan sistem kehidipan, agar menjadi
fondasi masyarakat dan bangsa dalam berbagai lapisan. Alternatif lain yang banyak dikemukskan untuk
mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan nilai dan karakter diatas adalah pendidikan. Pendidikan
dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang
lebih baik.
Dalam hal inilah pendidikan pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama menjadi penting untuk
menumbuhkembangkan tànggung jawàb bersama didalam kehidupan suatu masyarakat ( baik secara
lokal, nasional, regional, dan global.
Manajemen Berbasis Sekolah dengan dukungan masyarakat berupaya memperkuat jati diri peserta didik
dengan nilai- nilai budaya setempat, mensinergikanya dengan nilai- nilai kehidupan serta nilai- nilai
agama yang dianut. Dimasa depan sekolah- sekolah diharapkan memiliki inisiatif, kreatif, bahkan
inovatif, serta menerapkan pendekatan yang konstektual dan mandiri dalam menjabarkan dan
mengembangkan nilai- nilai kehidupan. Dalam upaya mewujudkan hal itumaka sekolah harus diberi
kewenangan yang lebih luas untuk mengambil keputusan pendagogis- intruksional yang didukung oleh
madyarakat dan orang tua peserta didik. Landasan hukum atau kebijakan disebarluaskannya MBS adalah
UU No.22/1999 tentang pemerintah daerah, PP No.25/2000 tentang kewenangan pemerintah dan
kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom, dan UU No.25/2000 tentang Propenas, UU No.20/2003
B. PENGEMBANGAN MBS SECARA LUAS
MBS di Indonesia cukup mendapat respon yang positif, meskipun dalam implementasinya masih sangat
beragam. Implementasi MBS di Indonesia tidak lepas dari kondisi objektifyang mendukung pada saat ( timing )
yang tepat. Elemen- elemen yang mendukung tersebut antara lain; iklim perubahan pemerintah yang
menghendaki transparansi, demokratisasi, akuntabilitas, desentralisasi, dan pemberdayaan potensi masyarakat.
Sementara kalangan birokrat pendidikan yang berpikir jernih melihat peluang ini sebagai harapan baru untuk
melakukan efisiensi manajemen pendidikan dan sekaligus meningkatkan mutu. Hal ini karena sekolah dengan
perluasan kewenangannya melalui MBSdidorong kompetitif dalam berbagai hal termasuk mutu dengan
melibatkan peran serta masyarakat sebagai stakeholder utama dalam pempertanggungjawabkan hasil
pendidikan. Model MBS di indonesia dikembangkan dengan pendekatan fleksibel dan menyesuaikan diri
dengan konteks Indinesia serta dirintis dengan nama Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS).
TERIMAKASIH