Widya Risnawaty, M.
Psi
SCORING &
INTEPRETASI TAT
Review
Henry Murray (1943) – administrasi TAT
20
kartu (dalam 2 hari)
10 set kartu pertama : peristiwa sehari-hari
10 set kartu kedua: lebih terkesan bizzare, aneh
dan extraordinary.
Seolah-olah grouping kartu yang dilakukan mulai
dari kesan lamunan seseorang tentang
kehidupan duniawi yang umum/wajar – semakin
dalam ke arah unconscious (mimpi atau mimpi
buruk)
Administrasi 20 kartu membutuhkan waktu
yang banyak.
Clinician umumnya hanya memberikan beberapa
kartu sesuai dengan problem dari klien. Contoh:
Kasus Depresi gunakan kartu-kartu yang
memancing tema agresi dan bunuh diri (15M, 12M
sikap thd psikoterapis dan prognosis).
Homoseksual fears 9BM, 10, 17BM, 18BM
Saran Bellak – kartu yang spesifik untuk semua
problem 6GF, 7BM, 11, 12M
Idealnya diadministrasikan 10 -12 kartu
Urutan Kartu – berdasarkan penelitian awal
Laki-laki: 1, 2, 3BM, 4, 6BM, 7BM, 11, 12M, 13
MF
Perempuan: 1, 2, 3BM, 4, 6GF, 7GF, 9GF, 11,
13MF
2 kartu yang umumnya ditambahkan: 8BM, 10.
Urutan kartu – berdasarkan penelitian
terakhir
Laki-laki & perempuan: 1, 2, 3BM, 4, 6BM,
7GF, 8BM, 9GF, 10, 13MF.
Tujuan intepretasi (Bellak) : menemukan
pola umum dari cerita yang diperoleh.
Pola umum pengulangan dari
kemunculan:
- kebutuhan
- press
- mekanisme defence
- konflik
- kecemasan
10 variabel yang perlu diperhatikan dalam
scoring & intepretasi
Tema pokok
Tokoh utama
Need
Konsepsi tentang lingkungan
Sosok lain dlm cerita dilihat sebagai
Konflik yang signifikan
Hakikat kecemasan
Defence Mechanism u/ mengatasi konflik
dan ketakukan
Ketepatan super ego hukuman thdp
kesalahan
Integrasi ego
1. Tema Utama
Tujuan: Identifikasi intisari atau jiwa cerita (1
cerita
TAT dpt memiliki lebih dari 1 tema pokok).
Bellak memecah tema utama menjadi 5 tingkatan:
(1) Tema deskriptif
(2) Tema intepretif
(3) Tema diagnostik
(4) Tema simbolik
(5) Tema elaboratif
1. Tahap
Restate kalimat cerita dari subyek.
deskriptif
Meringkas cerita dg membuang spesifikasi
kejadian &
• beberapa kata yg tdk relevan memperjelas
alur.
Pedoman membuat tema deskriptif:
a. Tetap gunakan kata2 S yg dipakai dlm cerita
b. Alur dibuat dr sdt pandang tkh utama proyeksi diri S
c. Alur dibuat runtut (kronologis) awal – pada saat –
akhir cerita
d. Masukkan informasi yang relevan perilaku, need,
press, kecemasan, konflik, defence.
2. Tahap intepretif
Mengintepretasikan isi cerita mencari
makna yang terkandung dalam cerita.
Mencoba menarik tema yang sdh dirumuskan
dlm tahap tema deskriptif kepada konsep yang
lebih spesifik namun dapat diberlakukan secara
umum.
Untuk generalisasi dapat menggunakan prinsip
sebab akibat “jika seseorang … maka …”
3. Tahap Diagnostik
Menganalisis tema intepretif dengan cara
menemukan prinsip psikologis yang
terkandung dalam tema deskriptif dan
intepretif.
Sudah merupakan intepretasi klinis
Mulai mencari: need – press, konflik, kecemasan,
DM, fungsi super ego dan ego, dan fungsi-fungsi
psikologis lain.
4. Tahap Simbolik
Menggunakan acuan simbol-simbol dalam aliran
psikoanalisa.
Cth: unjung biola simbol phallic
5. Tahap Elaboratif
Mengelaborasi cerita menjadi suatu konsep
yang
lebih abstrak.
Free association kata-kata tertentu seperti:
“east indies”, “engineer” terasosiasikan
dengan kata-kata tertentu.
2. Tokoh Utama
Adalah orang yang paling banyak diceritakan, yg pikiran
& perasaan subyektifnya paling banyak diungkapkan
dijadikan acuan identifikasi oleh S.
Jika tokoh utama tidak diketahui pasti, dpt dipakai
cara:
a.adequasi tokoh mampu mengatasi masalah atau
kesulitan dengan cara yang dapat diterima.
b.Gambaran diri tokoh cari tokoh yg memiliki
gambaran diri yang relatif lengkap (identifikasi
diri, kemampuan, sifat-sifat)
c. Kesesuaian antara tokoh dg karakteristik subyek
3. Kebutuhan
Behavioral need – Fantasy Need
a.Behv.need : kebutuhan yang disadari dan
sudah ditampakkan dlm perilaku nyata. Ct.
Kebthn agresi tampil dlm prlk
menyerang, menyakiti.
b.Fantasy need : kebutuhan yang masih berupa
fantasi atau angan-angan. Ct. Kebthn agresi
muncul keinginan untuk menjatuhkan orang lain,
tapi hanya sebatas keinginan & blm ditampilkan
dlm perilaku.
Overt need – latent need
a.
• Overt need kebutuhan yang diekspresikan
b.
• dalam kenyataan
• Latent need kebutuhan yang masih terpendam
atau hanya dimunculkan dalam tingkat fantasi.
Kombinasi need (Stanford, 1943):
- Fantasy need - Behavioral need
Kebthn yg dihambat kemunculannya & tdk
dpt diekspresikan keluar karena faktor
budaya.
ct. n.agresi, n.sex (sexual activiy), n.aqusition
(pencapaian gensi, materi), n.otonomi, n.harm
avoidance.
- Fantasy need - Behavioral need
Rendah dlm fantasi tp krn adanya tuntutan dari realita
maka tampil dalam perilaku
ct. n.for order, n.for learning.
- Fantasy need - Behavioral need
Kebthn yg diperbolehkan & justru dirangsang oleh
lingkungan.
Ct. n.achievement, n.aff, n. dominance
Dynamic Inference
Dinamika kesimpulan interaksi antara need-
press dan fungsi-fungsi psikologis.
Perlu dilakukan secara berhati-hati harus cukup
bukti (data muncul dalam cerita subyek).
Figure, Objects or Circumstances introduced
Figur, objek atau kondisi lingkungan yang
dimasukkan dalam cerita mengindikasikan need,
press dan fungsi psikologis lain.
Ct. pistol dlm gambar 3BM need
agresi. Makanan oral need.
Figure, Objects or Circumstances
omitted
Figur, objek atau kondisi lingkungan yang
dihilangkankan dalam cerita mengindikasikan
adanya represi terhadap need, press dan
fungsi psikologis lain.
Ct. kartu 18 GF – perempuan mencekik leher
jika figur ini diabaikan indikasi adanya represi
need agresi.
4. Conception of the environment (world)
Cara pandang terhadap lingkungan atau
dunianya.
Kompleks gabungan antara self-
perception dan apperception, memori
pengalaman masa lalu.
Ct. bersahabat, menyenangkan,
berbahaya, tidak adil, banyak mendapat
pertolongan, bermusuhan dll.
5. Figure Seen as …
Parental figure superior
Ct. orangtua, atasan, kakak
Contemporary figure sebaya
Teman kerja, teman sebaya.
Junior figure inferior
Adik, orang yang lebih muda,
bawahan
6. Significant Conflict
Mengetahui konflik apa yang terjadi
Dengan mengetahui konfliknya – akan
menemukan defense yang digunakan
untuk mengatasi atau melawan.
Konflik yang terjadi :
Superego Vs id/drive need vs. press
Id/drive vs. Id/drive need vs. need
7. Nature of anxieties
Terdapat beberapa referensi bentuk
kecemasan dalam short form Bellak
check list
Secara implisit dapat pula ditemukan
defense
mechanism.
8. Defence Mechanism
Definisi
Freud (dlm Morgan & King, 1986) mengatakan
bahwa DM digunakan individu untuk mengurangi
kecemasan dan perasaan bersalah, melindungi
diri individu dari perasaan sadar akan pikiran atau
perasaan yang tidak dapat diatasi.
DM hanya mengizinkan pikiran atau perasaan
tidak sadar yang diekspresikan secara tidak
langsung dlm bentuk yang samar.
Sepanjang kehidupan mns, individu menggunakan
DM yang bervariasi.
DM menjadi patologis jika digunakan secara terus
menerus dan menghasilkan perilaku yang
maladaptif yg akhirnya mengancam kesehatan
fisik atau mental individu.
Bentuk-bentuk DM
:
1. DENIAL, yaitu individu dgn tegas menolak perasaan
atau pikiran yang menyebabkan kecemasan atau
perasaan bersalah.
2. DISPLACEMENT, yaitu mengarahkan impuls atau
dorongan ke orang / target yang berbeda, bukan
ke orang/target yang menyebabkan terjadinya
impuls atau dorongan tersebut.
3. INTELLECTUALIZATION, yaitu menghindari emosi-
emosi yang tidak dapat diterima dengan
mengalihkannya ke hal-hal yang sifatnya intelektual
(lebih pada hal-hal yang dapat diterima oleh logika)
4. PROJECTION, yaitu menempatkan dorongan impuls
dalam diri ke orang lain atau menyalahkan orang lain
untuk mengatasi internal konflik.
5. RATIONALIZATION, yaitu memberikan alasan-
alasan rasional atau logik untuk menentang situasi
yang sebenarnya. Memberikan berbagai alasan
untuk membenarkan suatu situasi.
6. REACTION FORMATION, yaitu mengubah
perasaan yang sesungguhnya ke perasaan yang
berlawanan untuk menghindari perasaan
cemas/takut.
7. REGRESION, yaitu individu kembali ke fase awal
dari tahap perkembangan, bersifat immature atau
primitif.
8. REPRESSION, yaitu merupakan salah satu bentuk
yang sering digunakan orang untuk menghilangkan
kecemasan yang disebabkan oleh suatu konflik.
Bentuk pertahanan ini adalah dengan menekan
segala kecemasan ke alam bawah sadar.
9. SUBLIMASI, yaitu merupakan level tertinggi
(mengacu pd Freud) dari bentuk pertahanan
ego. Merupakan usaha-usaha untuk
mengalihkan perasaan yang tidak diterima ke
dalam bentuk yang dapat diterima oleh
masyarakat.
10. SUPPRESSION, yaitu menyembunyikan segala
kecemasan ke dalam alam bawah sadar.
Kategorisasi dlm
DM
1. Level 1 – bersifat Patologis, individu yg
m’gunakan ini seringkali terlihat gila atau tidak
waras. Bentuk DM yang sifatnya psikotik. Ct.
Denial, Delusion Projection.
2. Level 2 – besifat immature, umumnya digunakan
oleh remaja. Bentuk ini selalu membawa masalah
yang serius dlm kemampuan individu untuk
beradaptasi dengan lingkungan. Ct. Projection
3. Level 3 – bersifat neurotic, umumnya terjadi pada
setiap individu, tetapi tdk cukup untuk mengatasi
realitas, krn bentuk DM ini membawa masalah
dlm hubungan, pekerjaan & kehidupan.
Keuntungan yg diperoleh: sifatnya jangka pendek,
pada akhirnya akan membawa masalah pd
pekerjaan dan hubungan dg orang lain. Ct.
Intellectualization, repression, reaction
formation, dissociation
4. Level 4 – bersifat mature, digunakan oleh
individu dewasa yg sehat. Individu ini
mengoptimalkan kemampuannya untuk suatu
hubungan yang normal, menikmati pekerjaan
dan menggunakan waktu-waktu yang
menyenangkan dalam hidup. DM pd level ini
memberikan perasaan yang menyenangkan.
Individu terbantu untuk menyatukan semua
konflik dalam pikiran atau perasaan, tetapi tetap
dapat tampil secara efektif. Ct. Sublimation,
suppression.
9. Adequacy of superego as manifested by
“punishment” for “crime”
Seberapa adekuat super ego berperan
dapat dilihat dari bentuk hukuman terhadap
kejahatan.
Jika hukuman terlalu berat dibandingkan
tindakan salah yang dilakukan
indikasi superego terlalu keras – kurang
adekuat.
Demikian juga sebaliknya.
10. Integration of the Ego
Untuk mengetahui seberapa jauh fungsi
ego
subyek masih berperan.
Apakah ego masih dapat menyelaraskan
antara dorongan dengan realita
Diindikasikan dari kualitas problem
solving yang dihasilkan oleh tokoh utama
konstruktif ataukah destruktif ?
adekuat ataukah tidak adekuat?