Kasus Gangguan Mental di Yayasan Galuh
Kasus Gangguan Mental di Yayasan Galuh
Psi
2067290068
02 October 2023
Klien 1 Nama (Jenis Kelamin) L (Laki-laki)
sm
zop
Spe
rehi
ctru
a
m
Dis • Neg
Dis
ord
ord atif
er
er
295
299
.90
.00
(F2
(F8
0.9)
4.0)
PROGNOSIS
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Klien 2 Nama (Jenis Kelamin) A (Laki-laki)
ive
Dis • Schi
ord zop
er hre
Dep nia • Neg
ress 295 atif
ion .20
Typ (F2
e 0.9)
295
.70
(F2
5.1)
PROGNOSIS
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Klien 3
Stimulant Withdrawal Nama (Jenis Kelamin)
TTL/Usia
A (Laki-laki)
23 Desember 1993/28 Tahun
Amphetamine-Type Agama/Suku Bangsa Islam/Sunda
292.0 (F15.23)
DESKRIPSI PERMASALAHAN
Klien ditangkap pada tahun 2016, pada saat itu setelah pulang dari
tempatnya bekerja ia berkumpul bersama teman-teman band dan geng
motornya lalu mereka mengkonsumsi sabu. Ia pertama kali
mengkonsumsi narkoba yaitu pada saat dirinya sudah bekerja sebagai
buruh di Tangerang. Pada saat itu ia ditawari sabu oleh salah satu
temannya. Ia mengatakan mengkonsumsi sabu agar tidak mudah lelah
dan performanya meningkat dalam melakukan pekerjaannya sebagai
buruh. Semenjak saat itu, ia mulai mencoba kembali hingga akhirnya
menjadi pengguna narkotika.
DUGAAN SEMENTARA
Saat ini, klien sedang mencoba untuk berhenti menggunakan segala
zat narkoba kembali. Ia sudah tidak lagi menggunakan sabu. Klien
merasa ketika tidak menggunakan sabu, ia merasakan efek fisiologis
yaitu mudah lelah pada saat berakivitas dan merasa tubuhnya kurang
segar. Selain itu, ia juga mengalami kesulitan tidur, sering bermimpi
buruk dan emosinya menjadi kurang stabil seperti menjadi lebih
sensitif. Ia mengaku jika hal ini membuatnya sering curiga terhadap
orang lain dan membuatnya tidak mudah percaya. Dugaan sementara
klien mengalami Pelepasan Stimulan (Stimulant Withdrawal).
HASIL TES PSIKOLOGI & EVALUASI
KEPRIBADIAN
Verbal IQ (VIQ): 73, Performance IQ (PIQ): 86, Full IQ (FIQ): 78,
Original IQ (OIQ): 83 dan Mental Deterioration (MD): 3%. Kecerdasan
umumnya berada pada taraf borderline.
Klien terindikasi individu yang sederhana, soleh, bermoral, pendiam
dan tenang namun terkadang suka bersenang-senang dan antusias
atau menggelora. Ia juga cermat, tekun dan gigih dalam
merencanakan hidupnya.
DINAMIKA MASALAH
Dalam analisa kasus ini menggunakan pendekatan humanistik menurut
Rogers terkait dinamika perkembangan kepribadian yaitu kecenderungan
untuk mengembangkan diri, aktualisasi diri, dan mempertahankan diri,
semua itu merupakan kebutuhan dasar dalam sistem kepribadian individu.
Perkembangan fase fisiologis ditandai dengan adanya kebutuhan primer
(makan, minum, untuk mempertahankan kehidupan individu) meningkat
pada fase psikologis seiring dengan pertambahan usia individu (dalam
Ekadewi, 2006) . Pada kasus ini, A berusaha mengembangkan diri untuk
memenuhi kebutuhan akan makanan, tuntutan untuk bekerja dan
memenuhi kebutuhan primer lainnya dengan cara menggunakan sabu
agar dirinya dapat beraktivitas dengan optimal untuk memenuhi
kebutuhan fisiologisnya.
• Pel
epa
san
DIAGNOSIS & PROGNOSIS
Sti
mul • Sti
an
mul
Tip
ant • Posi
e
Use
Amf tif
Dis
eta
ord
min
er
292
.0
(F1
5.2
3)
PROGNOSIS
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Klien 4
Stimulant Use Disorder Nama (Jenis Kelamin)
TTL/Usia
M (Laki-laki)
7 September 1997/24 Tahun
Amphetamine Type Agama/Suku Bangsa Islam/Betawi
304.40 (F15.20)
DESKRIPSI PERMASALAHAN
M ditangkap di dalam kosannya di Tangerang, pada saat
penangkapan M sedang tertidur tiba-tiba ia mendengar suara pintu yang
didobrak dengan keras oleh polisi. M akhirnya dijatuhi hukuman penjara
6 tahun. M pertama kali mencoba narkoba yaitu gele, ia diajak oleh
temannya untuk mencoba tetapi ia hanya mencobanya sekali setelah itu
ia tidak pernah lagi menyentuh narkoba. M diajak oleh temannya untuk
berpesta dan pada pesta tersebut ia pertama kali mengkonsumsi sabu,
sejak akhir tahun 2017 M mulai aktif dan kecanduan mengkonsumsi
sabu, ia mengatakan bahwa dirinya membutuhkan refreshing dari
kegiatannya dan untuk mengalihkan pikirannya yang terganggu karena
pada saat itu ia telah menjadi pengangguran.
DUGAAN SEMENTARA
Saat ini M masih memakai narkoba jenis sabu. Saat sedang tidak
menggunakan sabu ia mengaku menjadi lebih malas dan kurang
bersemangat dalam beraktivitas, sering kesal terhadap temannya
dengan alasan yang sepele atau emosi kurang stabil, dan mudah lelah
jika mengerjakan suatu aktivitas. Oleh karena itu, agar tidak merasakan
gejala-gejala seperti yang dijelaskan sebelumnya, ia kembali
mengkonsumsi sabu. M menyatakan saat ia mengkonsumsi sabu dirinya
menjadi lebih aktif dan lebih “bergejolak”, ia juga menjadi pengedar
narkoba atau kurir untuk dapat memperoleh uang agar dapat membeli
sabu untuk dikonsumsi. Dugaan sementara klien mengalami Gangguan
Terkait Stimulan (Stimulant Use Disorder)
HASIL TES PSIKOLOGI & EVALUASI
KEPRIBADIAN
Verbal IQ (VIQ: 87, Performance IQ (PIQ): 87, Full IQ (FIQ): 86,
Original IQ (OIQ): 96 dan Mental Deterioration (MD): -100%.
Kecerdasan umumnya berada pada taraf low average.
Klien terindikasi menggunakan potensi kececerdasannya secara
optimal. M adalah seorang individu yang berhati-hati, tidak begitu
ramah, cenderung pendiam dan suka menyendiri. Ia juga seorang
yang kritis sehingga M lebih menyukai bekerja sendirian. M memiliki
adaptasi yang cukup baik dengan lingkungan sekitarnya walaupun ia
bersifat egosentris, sinis, dan suka mengkritik orang lain sehingga ia
berusaha memegang kontrol secara cermat dan tidak ingin diperintah
dalam sebuah situasi.
DINAMIKA MASALAH
Dalam analisa kasus ini menggunakan pendekatan behavior
menurut B. F. Skinner terkait kontrol diri bahwa individu sering kali
mampu mengendalikan sebagian dari perilakunya ketika suatu respons
mempunyai konsekuensi yang bertentangan—ketika respons tersebut
mengarah pada penguatan positif dan negatif (Skinner, 2014). Pada
kasus ini M gagal dalam mengendalikan dirinya ketika pertama kali M
menggunakan zat amfetamin, ia diajak oleh temannya dan ia pun
menerima ajakan temannya tersebut. Ketika ia memutuskan untuk
menerima tawaran, M tidak dapat mengontrol dirinya untuk menolak
dan pada akhirnya ia menjadi pengguna zat dengan intensitas tinggi
bahkan ketika tidak bersama teman-temannya.
• Sti
mul
ant
Use
DIAGNOSIS & PROGNOSIS
Dis
ord • sti
er
mul
Am
ant • Neg
phe
wit
tam atif
hdr
ine
awa
Typ
l
e
304
.40
(F1
5.2
0)
PROGNOSIS
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Klien 5
Gangguan Depresi Mayor- Nama (Jenis Kelamin)
TTL/Usia
D (Perempuan)
22 Desember 1973/48 Tahun
Episode Tunggal Agama/Suku Bangsa Islam/Betawi
296.22 (F32.1)
DESKRIPSI PERMASALAHAN
D merupakan warga binaan sosial di Panti Sosial Perlindungan Bhakti
Kasih Kemayoran Jakarta Utara. D sudah berada di Panti selama 2
bulan, Sebelum dipindahkan ke PSPBK, D sempat dibawa ke Panti Sosial
Bina Insan Kedoya Jakarta Barat. Selama 2 bulan berada di Panti Sosial
Perlindungan Bhakti Kasih Kemayoran D sering merasa rindu dengan
keluarganya yang berada di Ciledug dan sedih memikirkan bahwa
dirinya tidak dapat pulang kembali ke keluarganya yang mengakibatkan
dirinya sering mengalami kesulitan tidur. D juga berpikiran bahwa
keluarganya tidak peduli terhadap D karena tidak mencari
keberadaannya dan D merasa bahwa keluarganya tidak ingin menerima
dirinya kembali.
DUGAAN SEMENTARA
D sering merasa rindu dengan keluarganya yang berada di Ciledug
dan sering sedih memikirkan bahwa dirinya tidak dapat pulang kembali
ke keluarganya yang mengakibatkan dirinya sering mengalami kesulitan
untuk tidur. D juga berpikiran bahwa keluarganya tidak peduli terhadap
D karena tidak mencari keberadaannya dan D merasa bahwa
keluarganya tidak ingin menerima dirinya kembali. Selain itu D
mengatakan bahwa dirinya kesulitan untuk mengikuti kegiatan di panti
seperti menjahit, ia merasa kesulitan untuk mengikuti arahan dari
instruktur. Pendamping D di panti juga mengatakan pada bulan kedua,
ia kehilangan minatnya dalam mengikuti kegiatan memasak di dapur.
HASIL TES PSIKOLOGI & EVALUASI
KEPRIBADIAN
Verbal IQ (VIQ): 91, Performance IQ (PIQ): 111, Full IQ (FIQ): 100,
Original IQ (OIQ): 106 dan Mental Deterioration (MD): -5%.
Kecerdasan umumnya berada pada taraf average.
D memiliki sikap yang ramah namun juga berhati-hati dalam interaksi
sosialnya, ia juga sangat dipengaruhi oleh alam perasaan dalam aspek
kematangan emosionalnya sehingga emosinya kurang mantap dan
mudah meledak. D memiliki kontrol diri yang kurang sehingga
impulsif, histeris dan mudah frustasi.
DINAMIKA MASALAH
Pada kasus ini, D yang masa kanak-kanaknya disayangi oleh kedua
orangtuanya yang mengakibatkan klien membutuhkan sosok yang
dapat diandalkan dan ketika kehilangan suaminya ia merasakan
kesedihan sehingga ia menjadi putus asa dan kehilangan sosok yang
diandalkan. Kemudian ia tidak bisa memutuskan apa yang akan
dilakukannya dan berakhir menjadi pemulung. Selama berada di panti
ia juga merasakan putus asa, khawatir, dan takut dikarenakan
keluarganya yang tak kunjung menjemputnya di panti. D juga berpikiran
bahwa keluarganya tidak ingin menerima kehadirannya sehingga ia
sedih dan menjadi sulit tidur.
• Gan
ggu • Gan
an ggu
DIAGNOSIS & PROGNOSIS
Dep an
resi Pen
Ma yes
yor- uai • Neg
Epis an
atif
ode den
Tun gan
ggal Mo
296 od
.22 Dep
(F3 resi
2.1) PROGNOSIS
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Klien 6
Gangguan Depersonalisasi- Nama (Jenis Kelamin)
TTL/Usia
E (Perempuan)
18 Agustus 1990/32 Tahun
Derealisasi Agama/Suku Bangsa Kristen/Tionghoa
300.6 (F48.1)
DESKRIPSI PERMASALAHAN
E ditangkap oleh satpol PP di Taman Menteng kemudian dibawa ke
panti kedoya selama lima bulan kemudian ia sempat kabur karena
merasa tidak betah berada di panti tersebut dan mencoba untuk
menghampiri tempat tinggal temannya di Mangga Besar tetapi teman
yang ia cari sudah tidak berada disana. Kejadian yang sama seperti
sebelumnya, ia kembali menggelandang di Jakarta seolah-olah dirinya
tidak mampu mengontrol kemana ia akan pergi, ia hanya berjalan tanpa
tujuan dan kadang tidak mengetahui bahwa dirinya sudah berjalan dari
pagi hingga malam hari.
DUGAAN SEMENTARA
Pada akhirnya tahun 2021 ia berencana untuk tinggal dengan mantan
kekasihnya yang kedua dan anak-anaknya namun mantan kekasihnya
menolak E karena ia telah menikah dengan wanita lain. Kejadian ini membuat
E sedih dan terpukul, ia merasa tidak ada lagi orang yang peduli kepadanya
dan merasa ditelantarkan oleh semua orang. E merasa tidak memiliki kontrol
atas dirinya sendiri dan berjalan tanpa alas kaki dan tidak memiliki tujuan
yang jelas selama berhari-hari serta tidak merasakan lapar ataupun haus.
Saat E berjalan tanpa tujuan yang jelas ia mengatakan bahwa pandangannya
tidak jelas seperti berkabut dan keadaan disekitarnya menjadi remang-
remang. E tidak mengkonsumsi zat halusinogen atau obat-obatan lainnya
yang mampu menyebabkan halusinasi. Dugaan sementara klien mengalami
Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi.
HASIL TES PSIKOLOGI & EVALUASI
KEPRIBADIAN
Verbal IQ (VIQ): 86, Performance IQ (PIQ): 98, Full IQ (FIQ): 92,
Original IQ (OIQ): 73 dan Mental Deterioration (MD): -98%.
Kecerdasan umumnya berada pada taraf average.
E adalah pribadi yang pendiam, sederhana, serius, tenang dan tidak
bergelora. Ia cenderung mudah terombang-ambing dan kurang
bersemangat dalam mencapai tujuan-tujuannya. Namun, E cukup
percaya diri dan realistis dan efisien. ikap E dalam interaksi sosial
cenderung kaku, dingin, keras kepala, suka bersitegang, skeptik dan
menjauhkan diri dari orang lain.
DINAMIKA MASALAH
Dalam analisa kasus ini menggunakan pendekatan psikoanalisa
menurut Freud terkait represi yaitu upaya individu untuk
menghilangkan frustrasi, konflik batin, dan bentuk-bentuk kecemasan
lain yang ada dalam dirinya. Bagi para teoritikus psikodinamika,
gangguan disosiatif melibatkan penggunaan represi secara besar-
besaran, menyebabkan pemisahan impuls yang tidak dapat diterima
dan ingatan-ingatan menyakitkan dari kesadaran (Ross & Ness, 2010).
Dalam depersonalisasi-derealisasi, seseorang merasa bermimpi atau
bertindak seperti robot serta perubahan aneh dalam persepsi
lingkungan pada rentang waktu tertentu untuk menghindari gejolak
emosional yang terjadi dalam dirinya.
• Dep
ers
ona
DIAGNOSIS & PROGNOSIS
lizat
ion/ • Maj
Der or
eali dep
zati ress • Posi
on ive tif
Dis dis
ord ord
er er
300
.6
(F4
8.1)
PROGNOSIS
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Klien 7 Nama (Jenis Kelamin)
TTL/Usia
H (Perempuan)
31 Desember 1962/60 Tahun
Masalah Penyesuaian Sosial Agama/Suku Bangsa Islam/Betawi
un • Tida
perl k
u ada
bant kare
uan na • Posit
psiko tidak
if
logis ada
deng gang
an guan
mas klinis
alah .
peny
esua
ian
sosia
l.
PROGNOSIS
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Klien 8 Nama (Jenis Kelamin)
TTL/Usia
A (Laki-laki)
29 September 1957/65 Tahun
Masalah Penyesuaian Diri Agama/Suku Bangsa Islam/Sunda
un k
perl ada
u kare
bant na
uan tida • Posit
psik k if
ologi ada
s gang
deng guan
an klini
mas s.
alah
peny
esua
ian
PROGNOSIS
diri.
DIAGNOSA
DIAGNOSA
BANDING
Kasus Kelompok (9 & 10)
Penerapan Terapi Kelompok dengan Teknik Psikoedukasi untuk
Mengatasi Kecemasan pada Peserta Program Paket C di Sekolah Master
Depok
LATAR BELAKANG
Kelima klien adalah peserta kelompok belajar paket C di Sekolah Master
Indonesia. Sekolah Master merupakan sebuah sekolah gratis untuk anak-anak
jalanan, masyarakat tidak mampu, dan kelompok marginal yang berlokasi di area
terminal Depok. Tujuan didirikan Sekolah Master adalah untuk menyiapkan
masyarakat mandiri dan menyiapkan insan yang handal melalui keterampilan
tepat guna dan berhasil guna. Oleh karena itu, untuk mewujudkannya perlu
mempersiapkan individu yang memiliki evaluasi yang positif atas kemampuan
yang dimiliki, namun diketahui bahwa beberapa siswa sering bercerita kepada
pengajar tentang kehidupan pribadi, diketahui beberapa siswa memiliki
kecemasan terhadap beberapa hal seperti tentang masa depan, yang menurut
beberapa siswa cenderung pesimis dalam memandang masa depannya, entah
karena kondisi ekonomi dan pendidikan ataupun tentang keluarga mereka yang
kurang mendukung.
KERANGKA BERPIKIR
Peristiwa atau situasi khusus dapat mempercepat munculnya kecemasan dengan gejala
khawatir, sulit berkonsentrasi, suasana hati yang tidak mengenakkan, mudah merasa lelah,
sulit tidur, dan malas. Keadaan cemas menjadi ancaman terhadap integritas seseorang
karena menurunkan kapasitas untuk melakukan aktifitas sehari-hari dan mempengaruhi
fungsi sosial berupa gangguan hubungan interpersonal baik dirumah maupun di lingkungan
kerja dan pendidikan. Fenomena perilaku diatas sesuai dengan pendapat dari Dacey (2000)
yang mengatakan bahwa kecemasan siswa dapat dikenali melalui tinjauan pada tiga
komponen, yaitu komponen psikologis berupa kegelisahan, gugup, tegang, cemas, rasa tidak
aman, takut, cepat terkejut, komponen fisiologis berupa jantung berdebar, keringat dingin
pada telapak tangan, tekanan darah meninggi, dan sebagianya, komponen sosial berupa
perilaku yang ditunjukkan oleh individu dilingkungannya berupa tingkah laku dan gangguan
tidur. Selain itu, Menurut Kelly, bahwa kecemasan merupakan emosi yang mengekspresikan
rasa adanya ancaman atau bahaya tersembunyi. Karena kecemasan terjadi ketika
seseorang menyadari bahwa sistem konstruk mereka tidak berlaku bagi peristiwa yang
sedang dialami (Pervin, dkk., 2004).
INTERVENSI & HASIL
Rancangan intervensi dilakukan dengan terapi kelompok dengan
teknik psikoedukasi mengatasi perilaku: mudah merasa lelah,
khawatir, sulit konsentrasi, sulit tidur, dan malas. Intervensi ini
dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan.
Hasil intervensi disimpulkan perilakunya menjadi Bersemangat,
Tenang, Mudah berkonsentrasi, Dapat tidur, Rajin. Hasil ini didukung
oleh hasil post-test menggunakan skala Hamilton Anxiety Rating Scale
(HARS) dengan skor rata-rata 18 pada kategori kecemasan sedang
serta didukung dengan penurunan hasil pre-test dan post-test sebesar
33%.
SEKIAN & TERIMA KASIH...