0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
300 tayangan26 halaman

Kehendak Untuk Berkuasa Dan Manusia Unggul

Dokumen tersebut merangkum pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche mengenai kehendak untuk berkuasa dan manusia unggul. Nietzsche mengkritik moralitas lama dan memperkenalkan konsep manusia unggul yang didasarkan pada kekuatan dan keunggulan alamiah. Ia menolak altruisme dan mengangkat kebanggaan diri sebagai moralitas baru.

Diunggah oleh

Devi Trianur
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
300 tayangan26 halaman

Kehendak Untuk Berkuasa Dan Manusia Unggul

Dokumen tersebut merangkum pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche mengenai kehendak untuk berkuasa dan manusia unggul. Nietzsche mengkritik moralitas lama dan memperkenalkan konsep manusia unggul yang didasarkan pada kekuatan dan keunggulan alamiah. Ia menolak altruisme dan mengangkat kebanggaan diri sebagai moralitas baru.

Diunggah oleh

Devi Trianur
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kehendak untuk Berkuasa

dan Manusia Unggul


Filsafat Friedrich Nietzsche
• Nietzsche sering mencemoh para evolusionis Inggris dan para
nasionalis Jerman.
• Menurut pemikiran-pemikiran filsafatnyua ia adalah anak dari Darwin
dan saudara laki-laki dari Bismarck
• Nietzsche mengembangkan filsafatnya yaitu etika berdasarkan Teori
Evolusi.
• Baginya kalua hidup adalah perjuangan untuk bereksistensi.
• Organisme yang paling pantas untuk hiduplah yang berhak untuk
terus melangsungkan kehidupannya.
• Kekuatan adalah kebajikan yang utama dan kelemahan adalah
keburukan yang memalukan.
• Hidup adalah medan laga tempat seluruh makhluk bertarung agar
bisa terus melangsungkan kehidupan.
• Dalam kekuatan tidak dibutuhkan kebaikan melainkan kekuatan
• Tidak dibutuhkan kerendahan hati, melainkan kebangaan diri, bukan
Altruisme melainkan kecerdasan.
Hidup Nietzsche
• Ayahnya adalah seorang pendeta terkemuka
• Garis Panjang kependetaan membentang pada keluarga ayahnya.
• Ibunya adalah seorang penganut Kristen yang taat
• Pola hidupnya lebih teratur daripada Immanuel Kant
• Kematian ayahnya yang masih relative muda, membuat pola asuh
ibunya lebih dominan.
• Ia dididik dalam atmosfer yang penuh kehaluan dan kelembutan
seorang wanita.
• Ia membenci anak-anak nakal seperti tetangganya
• Ia dipanggil “pendeta cilik”
• Dan beberapa menggambarkannya sebagai seorang Jesus yang hidup
kesepian di Biara.
• Hobinya adalah menyendiri dan membaca Bible
• Dalam dirinya terdapat semangat, kehormatan, dan kebangaan
• Pada usia 18, ia kehilangan kepercayaan kepada Tuhan dan
menghabiskan waktunya untuk mencari Tuhan yang baru
• Ia menemukan Tuhan yang baru dalam dalam Manusia Unggul
• Tahun 1865 ia menemukan karya Schopenhauer “Dunia sebagai
Kehendak” dan menemukan di dalam “Sebuah cermin yang
memantulkan dunia, kehidupan, dan hakikat diri sendiri.”
• Pada usia ke 23, ia bergabung dengan Angkatan bersenjata untuk berperang.
Akan tetapi akibat jatuh dari kuda dan membuat dia terluka dan tidak pernah
sembuh; ia harus meninggalkan kesatuannya.
• Dari kehidupan militer yang keras ia lalu beralih ke kehidupan yang
berlawanan; kehidupan akademis sebagai seorang ahli bahasa (filolog), bukan
menjadi Angkatan perang malah menjadi Dr Filsafat.
• Pada usia ke 25 ia dipilih menjadi pimpinan Filologi klasik di Universitas Basle
• Ia benci bekerja yang tidak heroic dalam arti pekerjaan yang menghabiskan
waktu di belakang meja. Dan ia ingin memasuki profesi yang aktif dan praktis
seperti dokter, tapi pada saat yang bersamaan ia tertarik pada music
• Pada tahun 1869 Nietzsche di undang berkunjunh ke Tribschen merayakan
Natal di sana.
• Ia adalah seorang yang antusias dengan music.
Nietzsche dan Wagner
• Awal tahun 1872 Nietzsche mempublikasikan buku pertamanya “The
birth of Tragedy out of the Spirit of Music”
• Ia berbicara tentang dua dewa yang dipuja olehorang-orang Yunani
Kuno:
1. Dyonysius, yakni dewa anggur dan pesta, dewa kehidupan, dewa
inspirasi, emosi, dan naluri, dewa petualangan dan penderitaan,
dewa music, tarian dan drama.
2. Apollo, yakni dewa kedamaian, waktu senggang, dan harmoni,
dewa emosi estetik dan konmtemplasi intelektual, dewa
keteraturan logis dan ketenagan filsofis, dewa lukisan, patung, dan
puisi epic.
• Ciri yang paling mencolok dari drama Yunani Kuno adalah penaklukan
Dyonysius terhadap pesimisme melalui seni.
• Bangsa Yunani adalah bangsa yang mengetahui secara tepat tragika
serta sengatan-sengatan kehidupan yang sesungguhnya, dan mereka
mengungkapkannya dalam bentuk karya seni yang agung.
• Socrates “sejenis manusia teoritis” adalah “urat yang lepas dari tubuh
Yunani Kuno yang sebenarnya” Dengannya filsafa kritis menggantikan
puisi filsafati pra-Socrates; ilmu menggantikan kesenian; intelek
menggantikan naluri; dialektika menggantikan permainan.
• Socrates dan Plato, menjadi pendapat yang keliru bahwa kecerdasan
adalah satu-satunya kebijaksanaan, dan dalam Aristoteles menjadi
ajaran yang kehilangan energi.
• Pada musa muda seorang manusia menghasilkan mitologi dan puisi;
pada masa dekadensinya menghasilkan filsafat dan logika.
• Pada masa mudanya, Yunani menghasilkan Homer dan Eschylus; pada
masa kehancurannya memberi kita Eurypides
• Ahli logika yang menyingkirkan ahli drama, rasionalis yang
menghancurkan mite dan symbol, sentimentalis yang menghancurkan
optimism tragis zaman maskulin.
• Dengan demikian, hancur sudah abad keemas an para pahlawan
perang, abad kesenian Dyonysius.
• Akan tetapi, mungkinkah abad Dyonysus bisa Kembali? Bukankah Kant
pernah menghancurkan rasio teoretis dan manusia teoretis? Dan
bukankah Schopenhauer mengajarkan kepada kita kedalaman naluri
dan tragedy berpikir? Bukankah Richard Wagner merupakan Eschylus
yang lain, yang menyelamatkan mitos-mitos dan symbol-symbol, dan
menyatukan lagi music dan drama ke dalam ekstase Dyonysus?
• Pada tahun 1872 Nietzsche Kembali ke Basle, dengan tubuh yang lemah,
namun dengan semangat yang menyala penuh ambisi, dan dengan
kebencian terhadap pekerjaan memberi kuliah yang membosankan.
• Dalam “The Thoughts out of Season”, ia menyerang universitas layaknya
prajurit menyerang musuh yang hendak ditumpasnya.
• “Pengalaman mengajarkan pada kita bahwa sudah teramat banyak para
filsuf dari berbagai universitas negeri menjadi alat ampuh pemerintah
untuk mendukung kekeliruan dan kebohongan…”
• Terdapat dua gagasan yang maha penting: bahwa moralitas, di samping
teologi, harus direkonstruksi berdasarkan pada teori evolusi; dan bahwa
fungsi kehidupan “bukanlah untuk memperbaiki mayoritas, yang
merupakan sekumpulan individu-individu yang tidak layak” melainkan
untuk “menciptakan jenius” untuk mengembangkan dan meningkatkan
kepribadian-kepribadian yang superior.
• Yang paling “bersemangat” dan “menggigit” dari essay-essay tersebut
adalah yang berjudul “Richard Wagner di Bayreuth”
• Ia memuji Wagner sebagai manusia yang tidak pernah mengenal arti
ketakutan dan ia adalah orang pertama yang memadukan segenap kesenian
ke dalam satu sintesa estetik yang besar.
• Pernah Nietzsche memberi komentar tentang sebuah pergelaran besar
Wagner, yang berlangsung beberapa malam secara berturut-turut, pada
tahun 1876; komentarnya itu teramat menghinakan Wagner.
• Ia pun tidak pernah bisa memaafkan Wagner, yang melihat di dalam
Kristianitas nilai dan keindahan moral yang jauh lebih besar ketimbang
kekurangan-kekurangan teologisnya.
• Wagner menyanjung setiap naluri Budhisme yang nihilistik, dan kemudian
menyamarkannya di dalam musiknya; ia memuja setiap bentuk Kristianitas
dan setiap bentuk serta ekspresi religious dari dekadensi.
• Nietzsche ternyata lebih “Apollonian” daripada perkiraannya, ia
adalah pecinta sesuatu yang halus, lembut, rumit, dan bukan pecinta
keberanian Dyonysius yang liar, ataupun kelembutan anggur,
nyanyian, dan cinta.
• Nietszche takut bahwa kesenian akan tidak mengajarkan manusia
untuk menjadi keras dan berani
• Ia khawatir manusia menjadi lemah dan lembut seperti “semua orang
yang memperhatikkan Kristianitas.”
Nyanyian Zarathustra
Dan sekarang dari seni ia beralih ke ilmu yang udara Apolloniannya
menjernihkan jiwanya yang membara akibat panasnya Dyonysius dan
gaduhnya Tribschen dan Bayreuth, dan filsafat yang menawarkan
tempat bernaung yang tidak bisa ditembus oleh segala bentuk tirani
yang memuakkan.
• Setelah diselingi oleh masa sakit yang amat parah, yang membuat ia
mengira akan segera meninggal.
• “The Dawn of Day (1881) dan The Joyful Wisdom (1882),
merefleksikan orang yang baru sembuh dari sakit berat, di sini nada
suaranya lebih halus dan lidahnya lebih lembut daripadadi dalam
buku-buku sebelumnya.
• Kini ia menjalani hari-hari yang relative tenang dan menghabiskan
masa pensiunnya.
• Hari-hari tenang yang ia jalani tidak berlangsung lama dan merasakan
bahwa dia tidak mendapatkan keheningan yang cukup.
• Ia sekarang menemukan seorang guru baru (Zoro Aster), satu dewa
baru (Manusia Unggul), dan sebuah agama baru (Kebangkitan yang
Abadi), dan juga bernyanyi sekarang (Filsafat ditingkatkan dalam
bentuk puisi dengan semangat inspirasinya).
• Zarathustra, yang berusia tiga puluh tahun, turun dari gunung
tempatnya bertapa, untuk mengajarkan semua ajarannya kepada
khalayak ramai, seperti prototipe Persianya, Zoroaster.
• Namun, orang-orang berpaling darinya untuk melihat seseorang yang
sedang berjalan di atas seutas tali, orang itu terjatuh dan mati.
• Dan ingatlah untuk jangan percaya.
• Zarathustra, yang baru turun dari gunung bertemu dengan seorang
pertapa tua yang mengajaknya bicara tentang Tuhan.
• Iapun dalam hatinya berkata Apakah mungkin? Tuhan sudah mati,
semua Tuhan sudah mati.
• Masalahnya sekarang adalah, Kalau semua Tuhan sudah mati
sehingga tidak ada satupun yang tersisa, bagaimana manusia
menanggung dirinya, penderitaannya, dan hidupnya sendiri?
• Kemudian ia mengumumkan nama Tuhan yang baru, yakni Manusia
Unggul (Superman), dengan segala tabiat yang harus ada padanya.
Moralitas
Nagi Nietzsche, Zarathustra adalah kitab suci dan semua bukunya yang
ditulis kemudian, dipandang sebagai komentar-komentarnya.
• Nietzsche menulis beberapa naskah yang kemudian dikumpulkan
dalam dua buah judul, yaitu: Beyond Good and Evil (1886) dan The
Genealogy of Moral (1887).
• Dalam buku-bukunya itu, ia bermaksud untuk mengahncurkan
moralitas lama dan mempersiapkan jalan untuk moralitas Manusia
Unggul.
• Ada dua penilaian tentang tingkah laku manusia: Herren moral dan
Heerden moral, moral tuan dan moral budak.
• Yang pertama adalah standar yang diterima pada zaman Antik,
khususnya di antara orang-orang Romawi
• Bagi orang-orang romawi biasa pun, kebajikan adalah virtus, yakni
kejantanan, keberanian, kerja keras.
• Akan tetapi dari Asia, khususnya dari bangsa Yahudi, datanglah
standar lain seperti penaklukan melahirkan kerendahan hati,
ketidakberdayaan melahirkan altruism yang merupakan upaya untuk
meminta pertolongan.
• Penilaian semacam itu puncaknya ada pada agama Kristen, karena ia
mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kebijaksanaan yang
sama, dan mempunyai hak yang sama.
• Di luar agama, muncullah demokrasi, utilitarianisme, sosialisme.
• Di balik semua “moralitas” adalah kehendak rahasia untuk berkuasa.
• Cinta itu sendiri hanyalah keinginan untuk memiliki; masa birahi adalah
pertempuran, dan persetubuhan adalah penguasaan.
• Akan tetapi, dalam melakukan hal itu, mereka sebenarnya hendak
memiliki orang lain itu.
• L’amour est de tous les sentiments le plus egoiste, et par consequent,
lorsqu’il est blesse, le moins genereux (Cinta adalah segenap perasaan
yang sangat egoistik, dan konsekuensinya, kalau sedang berselisih, ia tidak
bermurah hati)
• Rasio dan moralitas tidak berdaya melawan nafsu untuk berkuasa
• Rasio dan moralitas hanyalah senjata yang digenggam nafsu dan menjadi
barang mainannya.
• Etika yang sejati bersifat biologis, kita harus menilai segala sesuatu
berdasarkan pada maknanya untuk hidup.
Manusia Unggul
Sebagaimana moralitas tidak terletak pada kebaikan, demikian juga tujuan
dari kerja keras manusia bukanlah demi peningkatan kualitas hidup umat
manusia, melainkan demi perkembangan individu-individu unggul yang lebih
baik dan lebih kuat.
• Manusia Unggul tidak dilahirkan oleh alam Proses biologis sering tidak adil
terhadap individu-individu yang luar biasa
• Alam sangat kejam pada produknya yang paling baik
• Alam lebih mencintai dan melindungi manusia yang rata-rata dan sedang-
sedang saja
• Di dalam alam terdapat penyimpangan yang terus menerus pada “jenis-
jenis” manusia.
• Oleh sebab itu, Manusia unggul dapat bertahan hidup hanya melalui seleksi
manusia, perbaikan kecerdasan, dan Pendidikan yang meningkatkan derajat.
• Amatlah absurd kalua membiarkan individu-individu yang lebih tinggi
derajatnya melakukan perkawinan karena cinta. Misalnya seperti para
pahlawan dengan gadis-gadis pelayan, para jenius dengan tukang jahit
perempuan.
• Calon Manusia Unggul yang baru lahir membutuhkan peningkatan
kecerdasan. Setelah itu, diperlukan Pendidikan yang keras, di mana
kesempurnaan merupakan materi utamanya.
• Energi, intelek, dan kehormatan atau kebanggaan diri, ini semua
membuat Manusia Unggul.
Dekadensi
Jalan menuju Manusia Unggul adalah melalui aristokrasi. Demokrasi
harus dilenyapkan sebelum terlambat. Langkah pertama adalah
menghancurkan Kristianitas. Kemenangan Kristus adalah permulaan
demokrasi.
• Setelah Eropa ditaklukan oleh Kristianitas, Aristokrasi kuno berakhir
dan dibanjirilah Eropa dengan para Bangsawan perang Jerman yang
membawa pembaharuan tentang kebajikan maskulin, dan
menanamkan akar-akar aristokrasi modern.
• Akan tetapi “wadah” yang menyediakan dan menyimpan para
pemimpin besar tersebut telah dirusak, pertama oleh sanjungan
katolik, kedua oleh cita-cita puritan dan masyarakat kebanyakan
tentang reformasi, dan ketiga oleh perkawinan campuran.
• Maka dekadensi terjadi di mana-mana
• Prostestanisme dan bir telah membuat tumpul kecerdikan bangsa
Jerman
• Di tambah lagi sekarang oleh opera Wagner.
Aristokrasi
Demokrasi adalah penyimpangan, Demokrasi adalah izin yang diberikan
pada setiap bagian dari organisme untuk melakukan apa saja yang
disukainya. Ia berarti dihapuskan koherensi dan interdependensi, keagungan
dari kemerdekaan dan kekacauan. Demokrasi demikian berarti
ketidakmungkinan lahirnya Manusia Unggul dan bangsa-bangsa besar.
• Feminisme adalah akibat langsung dari demokrasi dan Kristianitas.
• Emansipasi atau kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki adalah
tidak mungkin karena perang antara perempuan dan laki-laki tidak akan
pernah ada akhirnya.
• Bagian dari ketegangan dan masalah dalam perkawinan disebabkan oleh
ketidakseimbangan yang melekat dalam semua perkawinan
• Perkembangan dan pemenuhan pada perempuan, tetapi penyempitan dan
pendangkalan pada laki-laki.
• Bersama feminism datanglah sosialisme dan anarkisme
• Semua itu tidak lain adalah sampah demokrasi
• Kalau kekuasaan politik dikatakan adil, mengapa kekuasaan ekonomi
berat sebelah dan selalu timpang? Mengapa mesti ada banyak
pemimpin di mana-mana?
• Alam benci pada kesamaan karena alam menyukai perbedaan, kelas-
kelas, spesies-spesies.
• Dalam banyak kasus, budak bisa lebih agung daripada para tuannya,
yakni para borjuis.
• Adalah tanda dari inferioritas kebudayaan abad kesembilan belas
bahwa manusia-uang (pengusaha) menjadi sasaran pemujaan dan
kecemburuan.
• Persoalan politik yang sebenarnya adalah bagaimana menghindari
pengusaha menjadi pemimpin, menjadi orang yang mengatur.
Kritik
Filsafat Nietzsche adalah syair yang indah, dan barangkali memang
lebih tepat disebut syair ketimbang filsafat. Kendati kita mengetahui
bahwa terdapat absurditas dalam puisinya, dan bahwa ia beranjak
terlalu jauh untuk meyakinkan dan membenarkan dirinya sendiri, tapi
kita pun melihat penderitaan pada setiap jengkal jiwanya, dan kita
patut mengasihi orang yang menderita karena mempertanyakan
dirinya.
• Mari kita Kembali ke jalan yang telah ditempuh Nietzsche dan
mengajukan keberatan-keberatan terhadapnya. Pada tahun-tahun
setelah penulisannya, ia cukup bijaksana untuk melihat absurditas
yang ia tulis dalam permulaan The Birth of Tragedy.
• Mengenai system etik dari Beyond Good and Evil and The Geneology
of Morals, amatlah menarik untuk dikomentari.
• Sendirian karena penyakit dan nervous, dan dipaksa berperang
melawan kelemahan dan mediokritas manusia, Nietzsche terdorong
untuk mengatakan bahwa segenap kebajikan yang agung adalah
kebajikan dari manusia-manusia yang sendirian.
• Mungkin pandangannya tentang politik lebih bergema daripada
tentang moral.
• Sangatlah tidak benar bahwa periode terpenting dari kebudayaan
muncul ketika aristokrasi yang turun-temurun memegang kekuasaan.
• Setelah kritik-kritik tersebut lalu apa yang tersisa? Cukuplah membuat
kritik yang tidak nyaman.

Anda mungkin juga menyukai