0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan16 halaman

Teknologi Antariksa Indonesia

Teknologi antariksa modern di Indonesia berkembang melalui upaya LAPAN dan kerja sama dengan negara lain. Namun, pengembangannya masih terhambat oleh keterbatasan dana dan SDM. LAPAN terus berupaya meningkatkan penguasaan teknologi antariksa di Indonesia.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan16 halaman

Teknologi Antariksa Indonesia

Teknologi antariksa modern di Indonesia berkembang melalui upaya LAPAN dan kerja sama dengan negara lain. Namun, pengembangannya masih terhambat oleh keterbatasan dana dan SDM. LAPAN terus berupaya meningkatkan penguasaan teknologi antariksa di Indonesia.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEKONOLOGI LUAR

ANGKASA PADA MASA


MODERN DI INDONESIA
Tekonologi LUAR ANGKASA PADA
MASA MODERN

Pada era modern persaingan teknologi luar angkasa tidak hanya di dominasi oleh Amerika
Serikat dan Uni soviet. Beberapa negara maju di dunia bekerja sama dalam membangun
stasiun luar angkasa internasional. Selain itu, teknologi roket pendorong yang digunakan
dalam menerbangkan pesawat ke luar angkasa tidak hanya dimiliki oleh Amerika Serikat.
Negara-negara seperti Russia,jepang,india dan tiongkok juga telah mengembangkan
teknologi pendorong.
Pada Agustus 2015 Pada september 2015
Amerika Serikat meluncurkan presiden Vladimir Putin
Amerika Serikat sebuah proyek luar angkasa mengerahkan para
ilmuwannya mempercepat
yang dinamakan OSIRIS-
REX . Proyek tersebut berupa pembangunan stasiun
pesawat luar angkasa yang antariksa di siberia, yaitu
akan mengambil contoh vostochny cosmodrome.
asteroid di luar angkasa. Percepetan pembangunan
NASA menganggap proyek stasiun tersebut bertujuan
tersebut penting karena mengurangi ketergantungan
sampel asteroid mengandung russia terhadap stasiun
banyak karbon yang akan antariksa yang dibangun pada
membantu memecahkan masa perang dingin, yaitu
misteri terciptnya tata surya. boikonur cosmodrome di
kazakhstan.

Russia
■ Pada 2019, Tiongkok tidak ingin tertinggal dari negara negara lainnya. Probe alias
pesawat luar angkasa milik badan antariksa tiongkok (CNSA) yang bernama chang’e-4
berhasil mendarat di bulan. Chang’e-4 mendarat di kawah von karman dan rover atau
robot dari probe tersebut akan bergerak ke wilayah kutub selatan bulan. Wilayah kutub
selatan bulan ini bernama Aitken Basin,yang juga merupakan wilayah tergelap bulan.
Chang’e-4 bertugas melakukan pengukuran radiasi dan level air satelit, pengujian
minerl, penelitian gelombang radio untuk membangun sistem komunikasi jarak jauh.
Proyek chang’e-4 merupakan proyek kedua setelah proyek yutu yang dilakukan pada
2013.
TEKNOLOGI ANTARIKSA MODERN DI INDONESIA

■ Indonesia pernah menjadi negara dengan kemampuan penggunaan teknologi


antariksa yang disegani; dengan reputasi sebagai negara ke-3 yang mampu
mengoperasikan satelit antariksanya sendiri. Capaian ini tidak hanya meningkatkan
citra positif Indonesia. Pada saat itu, Indonesia melakukan peluncuran satelit Palapa
A-1 (1976) yang mampu menyediakan kemampuan telekomunikasi antarpulau di
seluruh wilayah nusantara. Namun, sejak saat itu, penguasaan teknologi antariksa di
Indonesia belum meningkat secara signifikan. Berbagai hambatan terus dihadapi
oleh bangsa Indonesia sehingga penguasaan teknologi tinggi ini sulit berkembang.
Teknologi antariksa di Indonesia ini kurang berkembang di Indonesia karena berbiaya
dan berisiko tinggi, tantangan fisik Indonesia sebagai negara kepulauan serta
peluang yang hadir di tingkat internasional terkait pemanfaatan teknologi antariksa
merupakan momentum yang perlu dimanfaatkan dalam pembangunan Indonesia
Perkembangan Teknologi Luar Angkasa di Indonesia

Indonesia sendiri sebenarnya telah mengupayakan pengembangan teknologi


antariksa untuk beragam manfaat, meskipun belum optimal karena
keterbatasan dana dan kapasitas sumber daya manusia. Pemerintah Indonesia
juga terus berupaya mengembangkan teknologi luar angkasa melalui Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Pemerintah bekerja sama dengan
negara-negara maju seperti Jepang, Jerman dan Tiongkok dalam pengembangan
proyek teknologi luar angkasa. Lapan juga melakukan riset yang bertujuan
membangun stasiun luar angkasa milik Indonesia pada masa yang akan datang
LAPAN
■ Pada tanggal 31 Mei 1962, dibentuk Panitia Astronautika oleh Menteri Pertama RI, Ir.
Juanda (selaku Ketua Dewan Penerbangan RI) dan R.J. Salatun (selaku Sekretaris
Dewan Penerbangan RI).

■ Tanggal 22 September 1962, terbentuknya Proyek Roket Ilmiah dan Militer Awal
(PRIMA) afiliasi AURI dan ITB. Berhasil membuat dan meluncurkan dua roket seri
Kartika berikut telemetrinya.

■ Tanggal 27 November 1963, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)


dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 236 Tahun 1963 tentang LAPAN
Ketua/Kepala LAPAN dari masa ke masa :
> Komodor TNI AU Nurtanio Pringgodigdo (TNI AU) > Marsdya TNI AU Soebambang (TNI AU) > Raden Jacob salatun (TNI AU)

Periode 1963-1966. periode 1967-1971 periode 1971-1978

>Marsdya TNI AU dr. R. Sunaryo > Masdya TNI AU Iskandar > marsda TNI AU R.Ibnoe Soebroto

Periode 1978-1986 periode 1986-1987 periode 1987-1991


>Prof.Dr. Ir.Harsono wiryosumarto, M.S.Met E. >Prof. Dr. Harijono Djojodihardjo >Ir. Mahdi Kartasasmita, M. Sc, Ph. D .

periode 1991-1998 periode 1999-2000 periode 2001-2005

>Dr. Ir. Adi Sadewo Salatun > Drs Bambang S. Tedjakusumana, Dipl. Ing. >Prof. Dr. Thomas Djamaluddin
Periode 2006-2010 periode 2011-2014 periode 2014- sekarang
Sejarah Perkembangan Logo Lapan

■ Berdasarkan arsip yang dimiliki LAPAN, ditemukan


dokumen resmi yang memuat logo LAPAN. Dalam kop
surat bertanggal 30 Desember 1965 tersebut, terlihat logo
LAPAN terdiri dari empat unsur yaitu Roket, Sayap, Peta
Indonesia berada dalam lingkaran yang dikonotasikan
sebagai bumi. Berdasarkan artikel pada Majalah Interkom
Nomor 71-94/95, RJ Salatun Kepala LAPAN periode 1971-
1978, tidak ada keistimewaan tertentu yang mendasari
gagasan untuk menciptakan logo LAPAN pertama kali.
Hanya terpikirkan untuk menggunakan sayap sebagai
lambang penerbangan dan roket sebagai lambang antariksa
dalam logo LAPAN. Melalui tangan seorang seniman
terwujudlah sebuah logo.
■ Logo yang dipakai era 1974-2006 ini tidak
mengalami perubahan dari sisi unsur
pembentuknya (roket dan sayap). Namun
logo ini menghilangkan unsur peta dan
lingkaran, dengan sayap yang terlihat lebih
besar yang melambangkan perkembangan
organisasi LAPAN pada waktu itu. Secara
resmi logo kedua LAPAN ini tercantum
dalam Pedoman Administrasi Umum di
lingkungan LAPAN berdasarkan Keputusan
Kepala LAPAN Nomor:
LPN/070/SK/119/XII/1983
Logo yang dipakai sekitar tahun 2004-2005,
terlihat logo ini merupakan perpaduan
antara logo pertama dengan logo ketiga.
Tidak ada peraturan formal yang mengatur
tentang logo ini, namun diaplikasikan pada
baju kerja, plakat, hingga souvenir. Ini
merupakan varian logo tidak resmi namun
banyak digunakan.
Pemaknaan gambar Roket pada logo ini merupakan
pencerminan dari produk andalan LAPAN untuk rancang
bangun teknologi antariksa sebagai aplikasi kegiatan di
ruang angkasa (remote sensing, riset atmosfer dan matahari)
serta penelitian pengembangan teknologi kedirgantaraan
LAPAN secara keseluruhan. Gambar Roket tersebut
memiliki panjang sekitar 17 satuan ukuran yang
dimaksudkan untuk mengingatkan tanggal kemerdekaan
Indonesia diproklamasikan. Sayap Burung Garuda yang
mengapit Roket menandakan identitas yang mengandung
makna kegiatan LAPAN yang dinamis. Jumlah bulu pada
masing-masing sayap pun juga memiliki beberapa makna,
antara lain bulu pada tiga baris pertama berjumlah 27 helai
merujuk pada tanggal kelahiran LAPAN. Sementara bulu
pada sisi sayap paling luar berjumlah 11 helai menunjukkan
bulan ke sebelas (November) yaitu bulan kelahiran LAPAN.
Sedangkan keseluruhan bulu pada sayap sebanyak 63 helai
diartikan sebagai tahun kelahiran LAPAN. Dengan demikian
Sayap Burung Garuda didalamnya terkandung makna
tanggal, bulan dan tahun berdirinya LAPAN yaitu tanggal 27
November 1963. Tulisan “LAPAN” yang terletak dibawah
Roket dan Sayap Burung Garuda mengandung makna bahwa
LAPAN sebagai instansi yang menaungi segala kegiatan
penelitian dan pengembangan kedirgantaraan nasional.
■ Logo baru LAPAN divisualisasikan melalui empat
bidang universal yang diwakili bentuk eliptik, yang
mempresentasikan empat kompetensi utama
LAPAN, yaitu Teknologi Penerbangan dan
Antariksa, Penginderaan Jauh, Sains Antariksa dan
Atmosfer, serta Kajian Kebijakan Penerbangan dan
Antariksa. Warna biru langit yang dominan pada
logo menjadi ciri tradisional logo LAPAN
sebelumnya. Sedangkan warna kuning api
melambangkan gelora dan semangat membara
seluruh elemen LAPAN untuk mewujudkan cita-cita
penerbangan dan keantariksaan nasional yang luhur
dan jaya di angkasa.

Anda mungkin juga menyukai