0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan102 halaman

Memahami Unsur dan Struktur Drama

Drama Panembahan Reso karya W.S. Rendra menceritakan kedatangan lima orang Aryo ke rumah Panembahan Reso untuk melaporkan hasil kunjungan mereka ke berbagai kadipaten atas perintah almarhum Raja Tua. Perbincangan antara Reso dan para Aryo menyinggung kesalahan penyebutan gelar oleh salah seorang Aryo.

Diunggah oleh

Syifa Kamila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan102 halaman

Memahami Unsur dan Struktur Drama

Drama Panembahan Reso karya W.S. Rendra menceritakan kedatangan lima orang Aryo ke rumah Panembahan Reso untuk melaporkan hasil kunjungan mereka ke berbagai kadipaten atas perintah almarhum Raja Tua. Perbincangan antara Reso dan para Aryo menyinggung kesalahan penyebutan gelar oleh salah seorang Aryo.

Diunggah oleh

Syifa Kamila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

4.

18 Mempertunjukkan salah satu


tokoh dalam drama yang dibaca
atau ditonton secara lisan
Indikator
1. Memahami struktur drama yang dibaca atau
ditonton.
2. Mengidentifikasi unsur-unsur drama.
3. Menelaah bagian penting dalam naskah drama
yang dibaca atau ditonton.
4. Menampilkan satu tokoh dalam drama.
Tujuan pembelajaran
1. Setelah mempelajari kompetensi dasar ini,
peserta didik diharapkan dapat memahami
struktur drama yang dibaca atau ditonton
dengan tepat.
2. Setelah mempelajari kompetensi dasar ini,
peserta didik diharapkan dapat
mengidentifikasi unsur drama dengan tepat.
3. Setelah selesai mempelajari kompetensi dasar
ini diharapkan peserta didik dapat menelaah
bagian penting dalam naskah drama yang dibaca
atau ditonton dengan tepat.
4. Setelah mempelajari kompetensi dasar ini
diharapkan peserta didik dapat menampilkan
salah satu tokoh dengan tepat.
3.18 Mengidentifikasi alur cerita,
babak demi babak, dan konflik
dalam drama yang dibaca atau
ditonton.
Materi ajar
Drama merupakan komposisi syair atau prosa yang
diharapkan dapat menggambarkan kehidupan
dan watak melalui tingkah laku ( akting) atau
dialog yang dipentaskan.
Drama merupakan cerita atau kisah, terutama
yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus
disusun untuk dipertunjukan teater.
Drama adalah kejadian yang menyedihkan.
Drama merupakan kisah kehidupan manusia
yang dikemukakan di pentas berdasarkan
naskah, menggunakan percakapan, gerak
laku, unsur-unsur pembantu ( dekor, kostum,
rias, lampu, musik), serta disaksikan oleh
penonton.
Bentuk drama
1. Berdasarkan bentuk sastra cakapannya.
a. Drama puisi --- drama yang sebagian
besar cakapannya
disusun dalam
bentuk puisi atau menggunakan
unsur puisi.
b. Drama prosa - drama yang cakapannya
disusun dalam bentuk
prosa.
2. Drama berdasarkan sajian isinya.
a. Tragedi ( drama duka) drama yang
menampilkan tokoh yang sedih
atau muram, yang terlibat dalam
situasi gawat karena sesuatu yang
tidak menguntungkan.
b. Komedi ( drama ria) yaitu drama ringan
yang bersifat menghibur, walaupun
selorohan, di dalamnya dapat
bersifat menyindir, dan yang
berakhir dengan bahagia.
c. Tragedikomedi ( drama dukaria) yaitu
drama yang sebenarnya
menggunakan alur dukacita
tetapi berakhir dengan
kebahagiaan.
3. Berdasarkan kuantitas cakapannya
a. Pantomim, yaitu drama tanpa kata-kata.
b. Minikata, yaitu drama yang menggunakan
sedikit sekali kata-kata.
c. Dialog-monolog, yaitu drama yang
menggunakan banyak kata-kata.
4. Berdasarkan besarnya pengaruh unsur seni
lainnya.
a. Opera, yaitu drama yang menonjolkan
seni suara atau musik.
b. Sendratari, yaitu drama yang menonjolkan
seni drama dan tari.
c. Tablo, yaitu drama tanpa gerak atau dialog.
5. Bentuk –bentuk lain.
a. Drama absurd, yaitu drama yang sengaja
mengabaikan atau melanggar konversi alur,
penokohan, dan tematik.
b. Drama baca, naskah drama yang hanya
cocok untuk dibaca, bukan dipentaskan.
c. Drama borjuis, yaitu drama yang bertema
tentang kehidupan kaum bangsawan
( muncul abad ke-18)
d. Drama domestik, drama yang menceritakan
kehidupan rakyat biasa.
e. Drama duka, yaitu drama yang khusus
menggambarkan kejahatan atau keruntuhan
tokoh utama.
f. Drama liturgis, yaitu drama yang
pementasannya digabungkan dengan upacara
kebaktian gereja ( di Abad Pertengahan).
g. Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri
atas satu babak, berpusat pada satu
tema dengan sejumlah kecil pemeran
gaya, latar, serta pengaluran yang
ringkas.

h. Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan


berkembang sesuai dengan festival
rakyat yang ada ( terutama di perdesaan).
Struktur drama atau alur.
Sebuah cerita drama harus bergerak dari suatu
permulaan, melalui suatu bagian tengah, menuju
suatu akhir.

Ketiga bagian diapit oleh dua bagian penting


yaitu prolog dan epilog.
Prolog adalah kata-kata pembuka, pengantar,
ataupun latar belakang cerita, yang
biasanya disampaikan oleh dalang atau
tokoh tertentu.

Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi


simpulan ataupun amanat tentang isi
keseluruhan dialog.
Selain prolog dan epilog dalam drama
terdapat dialog.
Dialog dalam drama meliputi:
a. orientasi
b. komplikasi
c. resolusi / denouement.
1.Orientasi sesuatu cerita menentukan aksi dalam
waktu dan tempat;
a. memperkenalkan tokoh.
b. menyatakan situasi sesuatu cerita.
c. mengajukan konflik yang akan dikembangkan
dalam bagian utama cerita.
2. Komplikasi atau bagian tengah cerita,
mengembangkan konflik. Sang
pahlawan atau pelaku utama
menemukan rintangan-
rintangan antara dia dan tujuannya,
dia mengalami aneka
kesalahpahaman dalam perjuangan
untuk menanggulangi
rintangan-rintangan itu.
3. Resolusi
atau denouement hendaknya
muncul secara logis dari apa yang telah
mendahuluinya di dalam komplikasi.

Titik batas yang memisahkan


komplikasi dan resolusi biasanya
disebut klimaks ( turning point).
Pada klimaks itulah terjadi perubahan penting
mengenai nasib sang tokoh.
Kepuasan para penonton terhadap suatu cerita
tergantung pada sesuai-tidaknya perubahan itu
dengan yang mereka harapkan.
Struktur Drama

Prolog Dialog Epilog

Orientasi Konflik Resolusi


Unsur-Unsur Drama
1. Latar adalah keterangan mengenai tempat,
waktu, dan suasana di dalam naskah drama.
a. latar tempat, yaitu penggambaran tempat
kejadian di dalam naskah
drama, seperti di rumah, medan
perang, di meja makan.
b. Latar waktu, yaitu penggambaran waktu
kejadian di dalam naskah
drama, misal pagi, siang, sore.
c. Latar suasana / budaya, yaitu penggambaran
suasana ataupun budaya yang
melatarbelakangi terjadinya
adegan atau peristiwa dalam
drama.
Contoh: dalam budaya Jawa, dalam kehidupan
masyarakat Betawi, Melayu,
Sunda.
2. Penokohan.
a. Tokoh gagal atau tokoh badut/ the foil tokoh
mempunyai pendirian
yang bertentangan dengan
tokoh lain. Kehadiran
tokoh ini berfungsi untuk
menegaskan tokoh
lain.
b. Tokoh idaman / the type character.
berperan sebagai pahlawan
dengan karakter yang gagah,
berkeadilan, terpuji.
c. Tokoh statis / the static character.
memiliki peran yang tetap sama,
tanpa perubahan, mulai dari awal
hingga akhir.
d. Tokoh yang berkembang.
Misalnya: seorang tokoh berubah dari
setia ke karakter
berkhianat, dari yang bernasib
sengsara menjadi kaya raya,
dari yang semula adalah seorang
koruptor menjadi orang yang
baik.
3. Dialog
Dalam drama, percakapan atau dialog haruslah
memenuhi dua tuntutan:
a. Dialog harus menunjang gerak laku tokohnya.
Dialog haruslah dipergunakan untuk
mencerminkan apa yang telah terjadi sebelum
cerita itu, apa yang sedang terjadi di luar
panggung selama cerita itu berlangsung,
harus dapat menggungkapkan pikiran- pikiran
serta perasaan para tokoh yang turut
berperan di atas pentas.
b. Dialog yang diucapkan di atas pentas lebih
tajam dan tertib daripada ujaran sehari- hari.
Tidak ada kata yang terbuang begitu saja;
para tokoh harus berbicara jelas dan
tepat sasaran. Dialog disampaikan secara
wajar dan alamiah.
4. Tema adalah gagasan yang menjalin struktur isi
drama.
Tema dalam drama menyangkut segala
persoalan, baik itu berupa masalah
kemanusian, kekuasaan, kasih sayang,
kecemburuan.
Untuk mengetahui tema drama, kita perlu
mengapresiasi menyeluruh terhadap berbagai
unsur karangan itu.
Tema jarang dinyatakan secara tersirat. Untuk
dapat merumuskan tema, kita harus
memahami drama secara keseluruhan.
5. Pesan atau amanat merupakan ajaran moral
didaktis yang disampaikan drama itu kepada
pembaca/ penonton.

Amanat tersimpan rapi dan disembunyikan


pengarangnya dalam keseluruhan isi drama.
Tempat , Tokoh idaman,
Latar Penokohan gagal, statis,
waktu,
suasana berkembang

Unsur Drama

Tema/ amanat
Dialog

-Menunjang gerak
laku.
Gagasan umum, - Tajam dan terbit
ajaran moral
Panembahan Reso
karya W.S. Rendra
Di rumah Panembahan Reso. Pagi hari. Ada Aryo
Lembu, Aryo Jambu, Aryo Bambu, Aryo Sumbu,
Aryo Sekti, Ratu Dara, dan Panembahan Reso.
Sekti
Panembahan Reso, jadi saya datang kemari untuk
mengantar teman-teman Aryo, yang dulu diutus oleh
almarhum Sri Baginda Raja Tua untuk keliling
kadipaten- kadipaten, menghadap kepada Anda
Reso
Selamat datang, para Aryo. Kedatangan Anda di ibu
kota sangat kami nantikan. Terutama oleh Sri
Baginda Maharaja.
Lembu
Sebelum menghadap Sri Baginda Raja.
Sekti 
Maaf, Maharaja, bukan Raja.

 
Lembu
Ah, ya! Ampun seribu ampun! Sebelum kami
menghadap Sri Baginda Maharaja, kami lebih dahulu
menghadap Anda dan juga Sri Ratu Dara?
Sekti
Ya, betul! Sri Ratu Dara!
Lembu
Oh! Kami lebih dahulu menghadap Anda dan Sri Ratu
Dara, untuk lebih meyakinkan diri bahwa kami tidak
akan membuat kesalahan yang sama sekali tidak kami
maksudkan.
Bambu
Selama kami pergi bertugas, telah banyak terjadi
perubahan dengan menurut cara yang sah. Kami akan
menyesuaikan diri dengan perubahan ini.
Jambu
Pendeknya, kami mengakui kedaulatan Sri Baginda
Maharaja Gajah Jenar dan tunduk kepada semua
keputusan yang telah disabdakan oleh Sri Baginda
Sumbu
Kami telah menjalankan tugas yang justru kami anggap
penting untuk mempertahankan keutuhan kerajaan.
Sekarang kami tetap patuh dan bersedia untuk
membela keutuhan kerajaan di bawah naungan Sri
Baginda Maharaja Gajah Jenar
Reso
Bagus! Bagus! Dengan cepat saya bisa mengumpulkan
bahwa Anda berempat abdi Raja yang tahu diri dan
tahu akan kewajiban. Bagus. Bagus. Sri Baginda pasti
akan ikhlas menerima bakti Anda semua.
Jambu
Syukurlah kalau begitu. Kami juga sangat berterima
kasih kepada Sri Baginda karena beliau telah
memberikan perhatian besar kepada para istri kami.
Bagaimanakah keadaan mereka? Saya sendiri sudah
merasa sangat kangen dengan istri saya, setelah
sekian lama dipisahkan oleh tugas demi kerajaan.
Reso
Jangan khawatir. Keadaan mereka sangat mewah dan
sejahtera. Mereka dibawa ke istana demi keamanan
mereka sendiri. Jangan sampai mereka menjadi
korban dari pancaroba perubahan. Nanti setelah
Anda menghadap Maharaja, pasti istri Anda akan
diantar ke rumah kembali. Sri Ratu Dara dan Sri Ratu
Kenari selalu bermain- main dengan mereka. 
Dara
Kami sering bermain bersama sampai agak larut
malam. Kami saling bercerita tentang pengalaman
hidup masing-masing.
Jambu
Sungguh kami sangat berutang budi untuk kebaikan
hati semacam itu.
Reso
Jadi, kerajaan dalam keadaan kurang lebih utuh!
Lembu
Begitulah. Kecuali keadaan di Tegalwurung! Panji
Tumbal berhasil ditawan oleh Pangeran Kembar.
Pangeran Bindi menduduki seluruh Kadipaten
Tegalwurung dan menyatakan menentang kedaulatan
Maharaja kita, Serta menobatkan dirinya sendiri
menjadi Raja. Pangeran Kembar mendukungnya.
Reso
Hm! Ini bukan persoalan remeh.
Dara
Ia bukan putra tertua dari almarhum Sri Baginda Raja
yang dulu.
Reso
Atas dasar kekuatan! Setiap orang yang merasa
dirinya kuat boleh saja menobatkan dirinya
menjadi Raja. Seperti juga Raja yang dulu
mendirikan kerajaan ini. Tinggal soalnya apakah
ia akan bisa membuktikan bahwa dirinya benar-
benar yang terkuat di seluruh negara. Bisa tidak
ia menundukkan semua tandingan yang ada.
Dara
Jadi, ia menantang kekuasaan Maharaja kita!
Reso
Sanggupkah maharaja kita menyingkirkan dia atau
sanggupkah dia menyingkirkan maharaja kita? Itu
saja persoalannya.
Bambu
Dengan dukungan Anda sebagai pemangku, maharaja
kita pasti akan bisa menumpas tandingannya, di
Tegalwurung!
Jambu
Besar kepercayaan kami kepada Anda untuk bisa
mengatasi keadaan ini, Panembahan.
Lembu
Dari sejak masih tinggal di istana, Pangeran Bindi sangat
mengerikan tingkah lakunya. Tanpa ragu-ragu saya akan
membantu Anda untuk membela maharaja kita.
Reso
Aryo Sumbu, apakah Anda juga mempunyai
kemantapan seperti itu?
Sumbu
(Jelas dan tegas) Ya, Panembahan!
 
Reso
Setelah Anda semua beristirahat beberapa hari,
bantulah Sri Baginda untuk memerangi para
pemberontak. Anda semua mempunyai pengalaman
yang luas di dalam pertempuran.
Lembu
Di bawah pimpinan Anda kami semua patuh dan
setia.
Reso
Silakan pulang dulu dan nanti sore menghadap
Maharaja di Istana. (Keempat Aryo mohon diri lalu
keluar.)
Sekti
Pengaruh Anda terhadap para Aryo, para Panji, dan
para Senapati sungguh sangat besar. Memang hanya
Anda yang bisa menyelamatkan kerajaan dari
bencana- perpecahan. Sekarang saya pamit dulu,
Panembahan. Di rumah saya ada tamu yang
menginap. Setelah minum kopi sore hari dengan
tamu itu, saya akan menghadap maharaja ke istana.
Reso
Apakah kamu itu akan tinggal lama di rumah Anda?
Sekti
Seperti biasanya, agak lama juga. Salam, Ratu Dara.
Salam, Panembahan (pergi).
Dara
Anakku seorang diri tak akan bisa mempertahankan
takhtanya.
Reso
Itulah sebabnya kita harus membantu Baginda.
Dara
Maharaja boneka itu mulai memuakkan saya.
Reso
Tidak baik berkata begitu sementara Baginda ialah
darah dagingmu sendiri.
Dara
Panembahan suamiku, ternyata Anda begitu kuat dan
kuasa, kenapa Anda tidak ingin menjadi raja?
Reso
Hahahaha! Apa kurang enaknya menjadi orangtua
dan pemangku.
(Sumber: Horison Sastra Indonesia 4, Kitab Drama, 2002)
4.18Mempertunjukkan salah satu
tokoh dalam drama yang
dibaca atau yang ditonton secara
lisan.
1.Menelaah bagian penting
dalam naskah drama yang
dibaca
Untuk menulis naskah drama, sekurang-kurangnya
kita menggunakan tiga sumber:

dongeng

Karya yang
cerpen
sudah ada

novel
Bukan Permen tapi Coklat

Handycam itu masih tetap tergeletak di atas meja.


Menemaniku yang berimajinasi memikirkan film
untuk mereka. Inilah pekerjaanku menjadi guru di
sanggar sembari menjadi Pembina ekstrakulikuler
teater di sebuah SMA.  “Kringgg…..” terdengar ada
panggilan masuk dari HPku. “Halo, selamat siang Cak
ini saya ketua ekstra teater bagaimana hari ini bisa
latih kami untuk persiapan festival tidak?.” “Ehm,
bisa-bisa saya ke sana 15 menit lagi ya!” jawabku
dengan tegas.
Jujur, sebenarnya aku bingung dengan situasi
sekarang ini, aku ada diantara dua pilihan, pasalnya
beberapa kali aku ditawari sebuah pekerjaan oleh
temanku untuk ke Jakarta dan itu pasti akan merubah
nasib peruntunganku tapi jika aku menerima tawaran
itu lalu bagaimana dengan mereka? Para serdadu cilik
yang akan berlomba diajang festival setingkat
kabupaten. Sungguh membuatku terkadang malas
untuk melatih anak-anak teater itu.
Sesampainya di sekolah aku berbincang-bincang
dengan seorang muridku katanya festival itu akan
digelar satu minggu lagi. Huh, selalu seperti itu tak
ada perubahan, “Kenapa baru bilang sekarang?”
muridku hanya terdiam tak membalas pertanyaanku.
Malamnya aku mulai menggarap berkas-berkas
festival terutama efek-efek suara, yah... seakan
berlomba dengan waktu, tak tidur meski jam
menunjukkan pukul 12 malam. Itu demi anak-anak
yang menaruh harapan padaku
Latihan hari ke lima ini sungguh membuatku
naik darah, tak ada kemajuan yang begitu nampak
dari mereka, maksudku perubahan dalam
kedisiplinan, kesetiakawanan dan kedewasaan.
Pegang ponsel sana-sini, ngerumpi gak jelas ala
burung kenari, tidak ada kesungguhan dalam latihan.
Hingga suatu ketika aku berkata, “Kalian gak mau kan
saya panggil anak TK? Saya gak mau marah-marah,
buang-buang energi!.” Mereka lalu terpusat padaku.
Tapi tak lama kemudian mulai lagi, sekarang
bertambah lagi anak yang berulah dengan berlagak
seperti seles-seles yang menawarkan barang
dagangannya dengan begitu centil
Tanggal 23 Februari 2013, inilah saat yang ditunggu-
tunggu oleh anggota teater kami. Pukul empat sore
aku bergegas menuju sekolah untuk mengantarkan
murid-muridku bersiap melaksanakan lomba. Tapi
lagi-lagi keadaannya tak sesuai yang harapan sebagian
dari mereka masih luntang-lantung menunggu giliran
make-up. Inilah hasilnya, kami dapat urutan terakhir
dan panitia mencemooh bahwa kami kurang
professional. Untunglah dewi fortuna masih berpihak
pada kami, masuk babak final dan tandanya aku tak
tidur lagi semalam suntuk. Esoknya kami bertanding
kembali untuk menentukan sang juara.
Awalnya mereka menari sesuai dengan alunan musik
tapi seketika semua semrawut, temponya tidak sesuai
yang aku rasakan saat ini adalah malas, sumpek, ingin
rasanya untuk segera pulang lebih lagi para juri
mengkritik pedas “Saya melihat penampilan ini jenuh,
jangan terlalu memaksakanlah!”, katanya. Sungguh
aku tak puas dan langsung bergegas pulang tanpa
pamit pada anak-anak
Ketika aku membuka akun facebookku dan ada foto
anak-anak saat di atas panggung kemarin.
“Cantiknya… sayang tidak dapat coklat”, itulah
 komentarku. Dua hari telah berlalu ini adalah hari di
mana evaluasi dilakukan. Tanpa banyak kata aku
langsung menyanggah mereka, “Kalian itu ibaratnya
ingin mendapatkan coklat tapi bukan coklat yang
didapat melainkan hanya diberi sebungkus permen
kecil.” Anak-anak itu hanya menunduk dan
merenungi kata-kata yang aku ucapkan. Aku lantas
menyambungnya lagi, “Kekeluargaan kalian itu
kurang, entah model kesetiakawanan apa yang kalian
terapkan saat ini.”
Tetesan air mata jatuh dari salah seorang muridku,
mungkin ia menyesal dan memang penyesalan itu
datangnya belakangan. Hari ini aku juga sekaligus
pamit pada mereka, aku akan pergi ke Jogjakarta
selama dua minggu. Ada tugas yang harus aku
selesaikan selain itu mungkin ini adalah cara
ungkapan menghilangkan rasa kekecewaanku pada
mereka. Aku harap mereka bisa lebih menghargai
orang lain, dapat melahirkan karya-karya yang indah
dan tentu saja bukan permen lagi yang mereka dapat
melainkan coklat.
Daftar
pengalaman

Pilih
pengalaman
Bahan menulis Kembangkan
drama topik dalam
dialog
Catat
nama
tokoh

Catat
topik
Menampilkan Seorang Tokoh dalam Drama yang
Dibaca atau yang Ditonton.
Pementasan drama berawal dari suatu naskah /
skenario.
Dialog dan tata laku yang dipentaskan oleh para
pemainnya, sesuai dengan cerita yang disusun
sebelumnya oleh penulis naskah.
Ide penyusunan naskah berdasarkan pemikiran sang
penulis.
Ide dapat pula berasal dari cerpen, novel, karya lain.
Cinta, tragedi
kemanusiaan,konflik
tema
sosial

Imajinasi, fakta
Langkah
menulis
naskah drama
bahan Dongeng, cerpen,
novel,pengalaman
nyata

Prolog,mono Orientasi,k
log,epilog omplikasi,
Struktur/
resolusi
kerangka
Protagonis,
Tokoh antagonis

Tiga elemen Dialog /


Wawancang percakapan
dialog

Petunjuk
perilaku.
Kramagung Tanda
kurung
Bacalah teks drama di
bawah ini!
Mahkamah
Karya: Asrul Sani
Dalam ruangan ini tidak ada perbedaan
antara malam dan siang. Biarpun di
kamar tidur Bahri hari sudah malam,
kualitas cahaya dalam ruang
mahkamah tetap sama. Murni datang
diantarkan seorang petugas pengadilan.
la berhenti sebentar untuk memandang
wajah suaminya.
Pembela
Nyonya Murni, silakan duduk. (Bahri melihat Murni.
la berdiri.) Murni....Sayang!

Mendengar kata sayang itu Murni memalingkan


muka lalu duduk tertunduk. Pembela mendekati
Munti lalu berkata.
Pembela
Nyonya ada sedikit pengakuan yang ingin didengarkan
oleh Majelis Hakim yang mulia. Kami mengetahui,
bahwa dulu nyonya adalah kekasih Kapten Anwar.
Tapi orang yang mencintai Nyonya bukan dia satu-
satunya. Ada lagi, yang lain, yaitu Mayor Bahri, suami
Nyonya yang sekarang juga mencintai Nyonya.
Kemudian, kapten Anwar dijatuhi hukuman mati oleh
pengadilan medan perang. Yang menjadi ketua
pengadilan itu adalah Mayor Bahri, suami Nyonya.
Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Harap
nyonya jawab dengan jujur dan tujukan pada Majelis
Hakim .....
(Murni mengangguk.)
Pembela
Sudah berapa tahun Nyonya berumah tangga dengan saudara Bahri?
Murni
Lebih dari tiga puluh tahun
Pembela
Waktu yang cukup panjang untuk mengenali pribadi
seseorang.Berdasarkan pengetahuan Nyonya, apakah mungkin
saudara Bahri menjatuhkan hukuman pada sahabat karibnya
Anwar dengan maksud membunuhnya supaya dapat mengawini
Nyonya? Tolong Nyonya jawab dengan sejujur-jujurnya. Cobalah
Nyonya renungkan.

 
Murni
Saya tidak perlu merenungkannya. Saya kenal sifat
suami saya. Suami saya seorang pejuang, seorang
prajurit yang setia. Tidak, dia bukan pembunuh.
Pembela
Tolong sampaikan dengan lebih jelas pada Majelis
Hakim.
Murni
Suami saya tidak membunuh Anwar karena ingin
kawin dengan saya
Pembela
Terima kasih, Nyonya. Untuk sementara sekian dulu
yang mulia.
Hakim Ketua
Saudara Penuntut Umum, giliran Saudara.
Penuntut Umum
Nyonya Murni, apakah Nyonya seorang yang dapat
dipercaya? Ataukah Nyonya berkata begitu hanya
sekadar mimpi memamerkan kesetiaan pada suami
yang sebetulnya sama sekali tidak Nyonya miliki
Pembela
Yang Mulia, saya keberatan terhadap ucapan saudara
Penuntut Umum. Di sini yang diadili adalah saudara
Bahri bukan Nyonya Murni.
Penuntut Umum
Maaf, yang Mulia. Saudara Pembela terlalu terburu
nafsu. Saya belum selesai bicara. Saya tidak mengadili.
Saya hanya membuat suatu simpulan.
Hakim Ketua
Teruskan saudara Penuntut Umum.
Penuntut Umum
Setelah saudara meninggal, berapa lama kemudian
nyonya menikah dengan saudara Bahri? (Murni diam
sebentar)
Penuntut Umum
(mendesak) Ayolah, Nyonya Murni. Menurut
keterangan yang kami peroleh Nyonya sangat cinta
pada saudara Anwar. Apa betul?
Murni (mengangguk)
Penuntut Umum
Begitu cinta padanya, hingga lamaran saudara Bahri
yang pangkatnya lebih tinggi dari saudara Anwar,
Nyonya tolak. Saya tidak tahu pasti, biarpun
kepastian ini tidak penting, dalam bermesraan
dengan saudara Anwar tidak akan begitu aneh jika
Nyonya dan saudara Anwar bersimpati untuk sehidup
semati-itu biasa. Memang begitu biasanya anak-anak
muda yang sedang bercinta. Lalu dia meninggal.
Berapa bulan kemudian Nyonya menikah dengan
saudara Bahri?
Murni
(hampir-hampir tidak terdengar) Dua bulan ......
Penuntut Umum
Keras sedikit
Murni
Dua bulan.
Penuntut Umum
(dengan sinis) Dua bulan? Hebat sekali kesetiaan
Nyonya kepada saudara Anwar. Belum lagi jasadnya
membusuk dalam kubur, Nyonya sudah berpaling
dengan lelaki lain, saingannya. Perempuan apa
Nyonya sebetulnya? Perempuan pengobral cinta yang
pindah dengan mudah dari lelaki yang satu ke lelaki
yang lain? Penjual mulut manis, pendusta,
pembohong?
Pembela
Saya keberatan atas pertanyaan-pertanyaan saudara
Penuntut Umum.
Penuntut Umum
Yang saya kemukakan bukan simpulan. Kalau boleh
bertanya pada saudara Pembela terhormat, simpulan
apa yang akan ia ambil dari kenyataan- kenyataan ini?
Pembela
(langsung menjawab) Cara saudara mengajukan
pertanyaan memojokkan nyonya Murni.
Penuntut Umum
Saya tidak memojokkan siapa-siapa. Itu adalah
prasangka saudara. Di sini ......
(Hakim mengetuk-ngetukkan palunya melihat
Pembela dan Penuntut Umum bertengkar.)
Hakim Ketua
Saudara-saudara bicara melalui Hakim. (Keduanya
diam.)
Pembela
Maaf yang Mulia.
Hakim Ketua
Saudara Penuntut Umum teruskan.
Penuntut Umum
Untuk sementara sekian dulu yang Mulia.
Hakim Ketua
Saudara Pembela, silakan.
Pembela
Nyonya Murni (menyeka air matanya), kata nyonya,
nyonya kawin dua bulan setelah kekasih nyonya
meninggal. Memang nyonya, masyarakat umum akan
bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang gadis
yang begitu mencintai seorang laki-laki, tiba-tiba
kawin dalam waktu begitu singkat dengan lelaki lain.
Masyarakat cenderung untuk menghukum, tapi
nyonya berhak untuk membela diri. Nyonya tentu
punya alasan.Apa bisa nyonya Jelaskan?
Murni
Setelah Anwar meninggal, saya hancur luluh. Dunia
ini serasa kiamat: Saya hampir-hampir sesat. Saya
memutuskan untuk bunuh diri. Tapi Tuhan
melindungi saya. Bermalam-malam saya berjuang
melawan keinginan saya itu. Saya berhasil mengambil
keputusan. Saya akan hidup terus, saya harus bisa
melupakan. Tapi saya perempuan, sendiri
memerlukan perlindungan. Tidak ada gunanya
memerlukan perlindungan seseorang yang sudah
tidak ada. Satu-satunya orang yang mencintai saya,
kecuali Anwar, adalah Bahri. Lalu saya membulatkan
hati. Siapa tahu saya dapat belajar mencintai dia.
Karena ia lelaki yang baik, setia. la juga mencintai
Anwar. Tidak pernah satu
katapun keluar dari mulutnya hal-hal yang
memburukkan Anwar. Setelah kami menikah, setiap
tahun ia membawa saya ziarah ke makam Anwar.
Mula-mula saya mengira mencintai dua orang lelaki.
Tapi kenyataannya, saya mencintai seorang Bahri.
Pembela
Lalu di mana tempat Anwar.
Murni
Kami berdua mencintai Anwar sebagai kenangan.
Pembela
Terima kasih.
Hakim Ketua
Masih ada saudara Penuntut Umum?
Penuntut Umum
Ya, yang Mulia. Nyonya Murni. Apa saudara Bahri
membahagiakan Nyonya?
Murni
Ia berusaha sekuatnya membahagiakan saya dan saya
memang bahagia.
Penuntut Umum
Nyonya dusta.
Penuntut Umum
Bagaimana tidak?! Baru tadi pagi Nyonya mengeluh
pada suami Nyonya. Nyonya menuntut saat-saat yang
dapat dijadikan kenangan, karena suami Nyonya
tidak memberikan waktu yang menjadi hak Nyonya.
Karena suami Nyonya adalah seorang yang tidak
kenal cinta sejati yang mengawini Nyonya karena
nafsu semata.
Murni
Oh, tuan mendengarkan sesuatu yang tidak
diperuntukkan bagi telinga.
Penuntut Umum
Itu tidak menjadi soal. Di sini tidak ada rahasia
Murni
Bukan karena percakapan itu percakapan rahasia,
tapi karena tuan tidak akan pernah mengerti bahasa
yang kami pergunakan. Karena bahasa yang berlaku
antara suami istri adalah bahasa khusus, yang hanya
dapat dimengerti oleh mereka berdua. Mungkin kata-
katanya sama dengan yang tuan dengar di pasar atau
baca di koran, tapi setiap kata dibebani rasa yang
tumbuh dari suka duka kehidupan kemesraan mereka
berdua
Penuntut Umum
Kalau begitu tidak masuk akal sekali, usaha manusia
mendirikan pengadilan untuk menetapkan suatu
perceraian.
Murni
Perceraian terjadi, jika bahasa itu sudah mati dan
digantikan oleh bahasa pasar dan bahasa koran yang
jadi milik orang banyak
Penuntut Umum
Baik, saya tidak akan memasuki persoalan itu lebih
jauh. (kepada Hakim) Yang mulia, yang ingin saya
buktikan ialah bahwa saudara Bahri adalah seseorang
yang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Nyonya!
Waktu saudara Bahri melamar Nyonya dan Nyonya
menolak lamarannya apa kata-kata yang diucapkan
oleh saudara Bahri? (Murni diam sebentar, lalu
berkata.)
Murni
Saya mengerti kekecewaannya. Apa yang dia ucapkan
tidak penting.
Penuntut Umum
Penting atau tidak penting adalah urusan Majelis
Hakim. Apa katanya?
Murni
Saya sudah lupa.
Penuntut Umum
Ayolah Nyonya, Nyonya tidak lupa ....
(Murni memaling ke arah suaminya. Bahri berkata
pada Hakim.)
Bahri
Yang Mulia, apa boleh saya mengatakan sesuatu pada
istri saya?
Hakim
Silakan.
Bahri
Katakan yang sebenarnya, Murni. Hanya kebenaran
yang bisa menyelamatkan saya. (Murni menunduk lalu
berkata.)
 
Murni
Ia berkata, sekarang soalnya jelas sudah. Apa yang
menjadi niat waktu tertuduh menjatuhkan hukuman
mati sudah jelas. la ingin membunuh saksi yang
merupakan saingan baginya.
(Hakim kelihatan berbisik.)
Pembela
Bapak Hakim yang mulia, apakah boleh saya
mengajukan sebuah barang bukti?
Hakim Ketua
Saya kira tidak perlu lagi.
Pembela
Yang Mulia, apa pun keputusan yang akan dijatuhkan
oleh yang mulia-satu hal harus pasti. Keputusan itu
harus berdasarkan kebenaran tersebut -dunia sudah
terlalu sarat dengan segala macam prasangka.
Hakim
Baik, silakan. (Pembela membuka mapnya dan
mengeluarkan sepucuk surat.)
Pembela
Surat ini ditulis pada malam setelah tertuduh
menyampaikan lamarannya pada saudara Murni.
Surat ini kemudian dikirimkan pada Murni dengan
bantuan seorang prajurit. Tapi prajurit itu terbunuh
dan surat ini tidak sampai ke tangan Murni. Surat itu
ada pada saya. Saya minta supaya Yang Mulia sudi
membacakannya.
(Ia menyerahkan surat itu pada Hakim Ketua. Hakim
membuka sampulnya dan mulai membaca.)
Hakim Ketua
Adinda Murni yang tercinta,
Biarpun cinta kakanda telah adinda tolak, semoga
adinda masih bersedia membaca surat ini dan
mempertimbangkan permohonan kakanda. Kakanda
minta maaf atas ucapan yang kakanda lontarkan di
hadapan adinda. Kakanda begitu kecewa dan sedih,
hingga kakanda kehilangan kendali atas diri kakanda.
Lalu kakanda berkata: “Kalau begitu tidak ada jalan
lain. Salah satu di antara kami, saya atau Anwar harus
mati.”
Kakanda menyesal sedalam-dalamnya atas ucapan
itu.Kakanda malu. Kakanda kini ingin bicara dari
lubuk hati kakanda. Adinda bebas menentukan
pilihan. Jika adinda memutuskan untuk memilih
Anwar, maka kakanda akan mengucapkan syukur dan
berdoa pada Tuhan supaya kalian bahagia. Anwar
adalah sahabat kakanda.Kalau dia bahagia maka
kakanda juga bahagia.
Pembela
Terima kasih yang mulia. Saya tidak akan
mengajukan pertanyaan lagi.
Hakim Ketua
Saudara Penuntut Umum masih ingin mengajukan
pertanyaan pada saksi?
Penuntut Umum
Tidak yang mulia.
Hakim Ketua
Apa ada yang saudara ingin sampaikan pada Majelis
Hakim?
Penuntut Umum
Ada sedikit yang mulia. Sebuah perbuatan ditentukan
oleh niat pelakunya. Dari pemeriksaan yang
dilakukan sudah cukup jelas niat apa yang
tersembunyi di balik hukuman yang dijatuhkan oleh
tertuduh. Biarpun saudara Bahri mengatakan bahwa
semuanya ia lakukan demi Tuhan, demi bangsa dan
negara, niatnya yang sebenarnya adalah untuk
menyingkirkan saingannya. Dengan demikian, dia
bukan orang yang melakukan tugas tapi ia harus
dinyatakan seorang pembunuh. Terima kasih.
Hakim Ketua
Saudara Pembela, saudara saya persilakan untuk
menyampaikan pembelaan saudara yang terakhir pada
Majelis Hakim.
Pembela
Majelis hakim yang mulia.Kini sampailah saya pada
akhir tugas saya, yaitu
membantudengansekuattenagamenegakkankebenaran
danmengembalikan hak kepada yang berhak.
Perbuatan seseorang dinilai menurut niat pelakunya.
Tapi siapakah yang dapat mengetahui niat seseorang.
Dan jika toh dapat kita ketahui, maka kita akan
menilainya menurut keterbatasan pribadi kita juga.
Oleh karena itu, Majelis Hakim yang mulia, satu-
satunya yang dapat menghakimi adalah pelaku itu
sendiri. Tapi itu hanya akan terjadi, jika hati sanubari
orang tersebut masih berfungsi sebagaimana
mestinya, jika suara hatinya masih bisa membedakan
yang benar dan yang salah. Yang terbukti dalam
mahkamah ini tidak apa-apa, kecuali bahwa saudara
Saiful Bahri yang sekarang ini dihadapkan sebagai
tertuduh, adalah seorang yang jujur, rendah hati,
percaya pada Tuhan dan seorang yang memiliki
tanggung jawab sepenuhnya atas semua
perbuatannya. Oleh karena itulah pada tempatnya,
jika keputusan pengadilan ini dikembalikan pada hati
sanubarinya sendiri. Saya yakin Majelis Hakim yang
mulia akan mempertimbangkan ini. Terima kasih!
Hakim Ketua
Majelis hakim akan mengundurkan diri untuk
bermusyawarah dan mengambil keputusan. Dengan
ini sidang saya undur beberapa saat.(Para hakim
berdiri lalu meninggalkan ruangan sidang, sementara
semua yang hadir berdiri.)

 (Sumber: Manuskrip PDS HB. Jassin, 1984, 32-39)


Setelah membaca naskah drama di atas, ikutilah
instruksi di bawah ini!
1. Catatlah nama-mana tokoh yang terdapat pada
naskah di atas berjudul “Mahkamah”!
2. Pilihlah salah satu tokoh dalam naskah drama
tersebut!
3. Demonstrasikanlah di depan kelas!
Setelah mencatat semua tokoh,
demonstrasikanlah salah satu tokoh tersebut di
depan kelas.
Tokoh-tokoh:
Nyonya Murni
Bahri
Pembela
Hakim Ketua
Penuntut Umum
Kapten Anwar
Majelis Hakim
 

Anda mungkin juga menyukai