ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN KOPING
INDIVIDU TIDAK EFEKTIF
KELOMPOK 5
PUTRI LAMAN
MEGA LUISA ITO
INTAN MEMBUBU
MARIA UTAMI
DEFINISI
Koping individu tidak efektif adalah
ketidakmampuan untuk membentuk perilaku
yang benar dari stressor, pemilihan respon
yang tidak adekuat atau ketidakmampuan
dalam menggunakan sumber yang tersedia.
(Nanda,2005).
ETIOLOGI
Menurut NANDA (2011) koping individu tidak efektif dapat
disebabkan karena adanya :
Gangguan dalam pola penilaian ancaman.
Gangguan dalam pola melepaskan tekanan/ketegangan.
Perbedaan gender dalam strategi koping.
Derajat ancaman yang tinggi.
Ketidakmampuan untuk mengubah energi yang adaptif.
Tingkat persepsi kontrol yang tidak adekuat.
Kesempatan yang tidak adekuat untuk menyiagakan diri terhadap
stressor.
Sumber yang tersedia tidak adekuat.
Dukungan sosial yang tidak adekuat yang diciptakan oleh
karakteristik hubungan.
Tingkat percaya diri yang tidak adekuat dalam kemampuan
mengatasi masal.
RENTANG RESPON
Rentang respon mekanisme koping dapat digambarkan sebagai
berikut :
Adaptif Maladaptif
Adaptif jika memebuhi kriteria sebagai berikut :
Dapat menceritakan secara verbal tentang perasaannya
Mengembangkan tujuan realistis
Dapat mengidentifikasi sumber koping
Dapat menimbulkan mekanisme koping yang efektif
Mengidentifikasi alternatif strategi
Memilih strategi yang tepat
Menerima dukungan
LAJNUTAN
Maladaptif jika memenuhi kriteria sebagai berikut :
Merasa tidak mampu untuk menyelesaikan masalah
secara efektif
Tidak mampu menyelesaikan masalah secara efektif
Perasaan lemas, takut, marah, irritable, tegang,
gangguan fisiologis adanya stress kehidupan
Tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar
TANDA DAN GEJALA
Data Subyektif
Mengungkapkan dengan kata-kata bahwa tidak
mempunyai kemampuan mengendalikan atau
mempengaruhi situasi.
Mengungkapkan tidak dapat menghasilkan sesuatu.
Mengungkapkan ketidakpuasan dan frustasi
terhadap ketidakmampuan untuk melakukan tugas
atau aktivitas sebelumnya.
Mengungkapkan keragu-raguan terhadap
penampilan peran.
Mengatakan ketidakmampuan perawatan diri.
LANJUTAN
Data Obyektif
Ketidakmampuan untuk mencari informasi tentang perawatan.
Tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat
diberikan kesempatan.
Enggan mengungkapkan perasaan sebenarnya.
Ketergantungan terhadap orang lain yang dapat
mengakibatkan iritabilitas, ketidaksukaan, marah, dan
bersalah.
Gagal mempertahankan ide atau pendapat yang berkaitan
dengan orang lain ketika mendapat perlawanan.
Apatis dan pasif.
Ekspresi muka murung.
Bicara lambat.
PROSES TERJADINYA MASALAH
Faktor predisposisi dan Faktor presipitasi
Meliputi ;
a. Biologis
b. Psikologis
c. Sosial budaya
SUMBER KOPING
Personal Ability
Sosial Support
Material Asset
Positive Belief
MEKANISME KOPING
Koping Jangka Pendek
Koping Jangka panjang
PENGKAJIAN
Pengkajian adalah dasar utama dari proses
keperawatan. Tahapan pengkajian terdiri dari
pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau
masalah klien. Data yang dikumpulkan melalui data
biologis, psikologis, social dan sepiritual.
Diagnosis Keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul meliputi :
Gangguan konsep diri : harga diri rendah
Isolasi sosial : menarik diri
Perubahan persepsi sensori: halusinasi
Koping individu tidak efektif
INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa SLKI SIKI
1 (D.0121)Isolasi sosial : L.13116)Setelah dilakukan tindakan (I.05186)Terapi Aktivitas
menarik diri keperawatan diharapkan isolasi Tindakan
sosial : menarik diri meningkat Observasi :
dengan kriteria hasil : -Identifikasi defisit tingkat aktivitas.
-Minat terhadap aktivitas meningkat -Identifikasi kemampuan berpartisipasi dalam aktivitas
(5) tertentu.
-Verbalisasi isolasi menurun (5) -Monitor respons emosional, fisik, sosial, dan spiritual
-Verbalisasi ketidakamanan terhadap aktivitas.
ditempat umum menurun (5)
-Perilaku sesuai dengan harapan Terapeutik :
ddengan orang lain membaik (5) -Fasilitasi memilih aktivitas dan tetapkan tujuan
-Perilaku tujuan membaik (5) aktivitas yang konsisten sesuai kemampuan fisik,
-Afek murung/sedih menurun (5) psikologis, dan sosial.
-Perilaku bermusuhan menurun (5) -Fasilitasi pasien dan keluarga dalam menyesuaikan
lingkungan untuk mengakomodasi aktivitas yang
dipilih.
-Libatkan dalam permainan kelompok yang tidak
kompetitif, terstruktur, dan aktif.
-Libatkan keluarga dalam aktivitas, jika perlu.
-Jadwalkan aktivitas dalam rutinitas sehari-hari.
Edukasi :
-Jelaskan metode aktivitas fisik sehari-hari, jika perlu.
-Ajarkan cara melakukan aktivitas yang dipilih.
-Anjurkan keluarga untuk memberi penguatan positif
atas partisipasi dalam aktivitas.
Kolaborasi :
-Kolaborasi dengan terapis okupasi dalam
merencanakan dan memonitor program aktivitas, jika
perlu.
2 (D.0085) Perubahan persepsi (L.09083)Setelah dilakukan tindakan (I.09288)Manajemen Halusinasi
sensori: halusinasi keperawatan diharapkan perubahan Tindakan
persepsi sensori membaik dengan Observasi :
kriteria hasil : -Monitor perilaku yang mengindikasi
-Verbalisasi mendengar bisikan halusinasi.
meningkat (5) -Monitor dan sesuaikan tingkat
-Respon sesuai stimulus membaik (5) aktivitas dan stimulasi lingkunan.
-Monitor isi halusinasi (mis.
kekerasan atau membahayakan diri).
Terapeutik :
-Pertahankan lingkungan yang aman.
-Lakukan tindakan keselamatan
ketika tidak dapat mengontrol
perilaku (mis. limit setting,
pembatasan wilayah, pengekangan
fisik).
-Diskusikan perasaan dan respons
terhadap halusinasi.
-Hindari perdebatan tentang validitas
halusinasi.
Edukasi :
-Anjurkan memonitor sebdiri situasi
terjadinya halusinasi.
-Anjurkan bicara pada orang yang
percaya untuk member dukungan
dan umpan balik korektif terhadap
halusinasi.
-Anjurkan melakukan distraksi (mis.
mendengarkan musik, melakukan
aktivitas dan teknik relaksasi).
-Ajarkan pasien dan keluarga cara
mengontrol halusinasi.
Kolaborasi :
-Kolaborasi pemberian obat
antipsikotik dan antiansietas, jika
perlu.
3 (D.0096) (L.09086)Setelah dilakukan tindakan (I.09265)Dukungan Pengambilan Keputusan
Koping tidak efektif keperawatan diharapkan koping Tindakan
individu tidak efektif membaik Observasi :
dengan kriteria hasil : -Identifikasi persepsi mengenal masalah dan
-Verbalisasi kemampuan mengatasi informasi yang memicu konflik.
masalah meningkat (5) Terapeutik :
-Perilaku asertif meningkat (5) -Fasilitasi mengklarifikasi nilai dan harapan
-Partisipasi sosial meningkat (5) yang membantu membuat pilihan.
-Tanggungjawab diri meningkat (5) -Diskusikan kelebihan dan kekurangan dari
-Kemampuan mebina hubungan setiap solusi.
meningkat (5) -Fasilitasi melihat situasi secara realistik.
-Perilaku permusuhan menurun (5) -Motivasi mengungkapkan tujuan perawatan
yang diharapkan.
-Fasilitasi pengambilan keputusan secara
kolaboratif.
-Hormati hak pasien untuk menerima atau
menolak informasi.
-Fasilitasi hubungan antar pasien, keluarga, dan
tenaga kesehatan.
Edukasi :
-Informasikan alternative solusi secara jelas.
-Berikan informasi yang diminta klien.
Kolaborasi :
-Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam
menfasilitasi pengambilan keputusan.
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan
dari rencana keperawatan yang telah disusun pada
tahapan perencanaan. Jenis tindakan pada
implementasi ini terdiri dari tindakan mandiri,
saling ketergantungan/kolaborasi dan tindakan
rujukan/ketergantungan. Implementasi tindakan
keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan
keperawatan.
EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi merupakan tahap akhir yang bertujuan
untuk menilai apakah tindakan keperawatan yang
telah dilakukan tercapai atau tidak untuk mengatasi
suatu masalah. (Meirisa, 2013). Pada tahap evaluasi,
perawat dapat mengetahui seberapa jauh diagnosa
keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan
telah tercapai.
TERIMAKASIH