100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
136 tayangan23 halaman

Proses dan Jenis Putusan Pengadilan

Dokumen tersebut membahas tentang putusan pengadilan dalam hukum acara pidana Indonesia. Terdapat tiga jenis putusan yaitu putusan pendahuluan, sela, dan akhir. Putusan akhir dapat berupa putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum, atau pemidanaan. Putusan harus memenuhi syarat-syarat tertentu dan mengandung unsur-unsur penting seperti identitas terdakwa dan dasar hukum yang digun

Diunggah oleh

Muhammad Farid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
136 tayangan23 halaman

Proses dan Jenis Putusan Pengadilan

Dokumen tersebut membahas tentang putusan pengadilan dalam hukum acara pidana Indonesia. Terdapat tiga jenis putusan yaitu putusan pendahuluan, sela, dan akhir. Putusan akhir dapat berupa putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum, atau pemidanaan. Putusan harus memenuhi syarat-syarat tertentu dan mengandung unsur-unsur penting seperti identitas terdakwa dan dasar hukum yang digun

Diunggah oleh

Muhammad Farid
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUKUM ACARA PIDANA

By: Yoserwan,
Fakultas Hukum Universitas Andalas
PUTUSAN PENGADILAN (VONNIS)
I. Pengantar
Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, perkara
selesai, penuntut umum mengajukan tuntutan pidana.
Setelah itu terdakwa dan atau Penasehat Hukumnya
mengajukan pembelaan (Pledooi)
Pembelaan dapat dijawab oleh penuntut umum
(replik)
Terdakwa/PH dapat mengajukan duplik (Terdakwa /PH
mendapat giliran terakhir
Jika semua proses sudah dilakukan, hakim ketua
sidang menyatakan bahwa Pemeriksaan Dinyatakan
Ditutup. Dengan ketentuan dapat dibuka sekali lahi
baik atas kewenangan hakim ketua sidang karena
jabatannnya atau atas permintaan PU, terdakwa /
PH
Setelah itu hakim mengadakan musyawarah untuk
mengambil putusan. Musyawarah harus didasarkan
surat dakwaan dan segala sesuatu dalam
pemeriksaan persidangan.
Musyawarah dilakukan dengan hakim ketua mangajukan
pertanyaan dimulai dari hakim yang termuda samapai
kepada hakim yang tertua, sedangkan yang terakhir
mengemukakan pendapatnya adalah hakim ketua.
Pendapat hakim harus diserai pertimbangan beserta
alasannya.
Putusan dalam musyawarah pada dasarnya hasil mufakat
bulat. Jika mufakat tidak tercapai, berlaku:
Putusan diambil dengan suara terbayak, jika putusan juga
tidak dapat diperoleh, putusan adalah pendapat hakim
yang menguntungkan terdakwa.
II.Pengertian, Jenis dan bentuk Putusan Pengadilan
Secara umum, putusan (Vonnis) adalah kesimpuan
hakim terhadap suatu perkara yang diperiksanya.
Putusan pengadilan dapat dibedakan atas:
a. Putusan Pendahuluan (voor vonnis)
b. Putusan Sela (tussen vonnis)
c. Putusan akhir (Eind vonnis)
A. Putusan Pendahuluan
Putusan ini dibuat dan diberikan oleh hakim sebelum pemeirksaan
suatu perkara selesai. Putusan ini biasanya digunakan untuk
persiapan pemeriksaan perkara selanjutnya. Putusan ini disebut juga
Penetapan. Misalnya oenetapan penggabunagn perkara
B. Putusan Sela
Putusan sela biasanya diberikan sewaktu pemeriksaan masih
berlangsung. Misalnnya, putusan terhadap eksepsi. Putusan ini
ddapat berupa:
a. Penetapan tidak berwenang mengadili
b. Putusan yang mnyatakan dakwaan tidak dapat diterima
c. Putusan yang menyatakan dakwaan batal demi hukum
a. Penetapan tidak berwenang mengadili:
Bilamana haki menerima eksepsi pengadilan tidak berwenang
mengadili, maka hakil menegluarkan penetapan dan
menyerahkan surat pelimpahan perkara kepada pengadilan
negeri yang berwenang.
b. Putusan Dakwaan tidak dapat diterima
UU tidak menentukan kapan hakim memberikan putusan ini.
Biasanya diberikan bila dakwaan mengandung cacat
formal/kekeliruan beracara. Misalnya, dakwa keliru atau tidak
cermat, kesalahan identitas terdakwa, kesalahan sitematika
dakwan subsidiaritas , bukan tindak pidana, kadaluarsa, nebis in
idem.
c. Putusan dakwaan batal demi hukum:
Bila dakwaan tidak memebuhi syarat materil dan
atau formilnya seperti yang seperti yang
ditentukan dalam pasal 143 KUHAP.
Dalam praktek juga karna dakwaan kabur, tidak
merumuskan unsur delik.
Namun ada kalanya putusan mengenai eksepsi ini
diberikan oleh hakim setelah pemeriksaan
selesai, jadi bersamaan dengan putusan akhir.
C. Putusan Akhir
Putusan akhir diberikan setelah hakim selesai
memeriksan perkara. Putusan ini berkaitan dengan
pokok perkara yang diperiksa.
Putusan akhir sejalan dengan surat dakwaan an
tuntutan penuntut umum. Hakim memeriksan dan
memutus perkara berdasarkan surat dakwaan dan
tuntutan dari penuntut umum. Putusan hakim tidak
boleh keluar dari surat dakwaan jaksa, tapi pusan bisa
saja berbeda dengan tuntutan penutut umum
III. Bentuk-Bentuk Putusan Akhir:
Sejalan dengan tuntutan PU, putusan hakim
dapat dibedakan atas:
a. Putusan bebas (vrijspraak)
b. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum
(onslag van alle rechtvervolging)
c. Putusan pemidanaan (bestraffing)
1. Putusan bebas
Putusan bebas artinya terdakwa tidak dipidana seperti yang
didakwakan atau dituntut oleh jaksa. Putusan bebas
diberikan bila dari pemeriksaan di persidangan hakim
berkesimpulan bahwa kesalahan yang didakwakan tidak
terbukti secara sah dan menyakinkan. (Psl.191 KUHAP)
Hal itu berarti bahwa kesalahan terdakwa tidak memenuhi
unsur pembuktian yang ditetapkan dalam pasal 183 KUHAP:
a. Minimal dua alat bukti
b. Terdapat keyakinan hakim bahwa terdakwalah
pelakunya.
Disamping berkaitan dengan pembuktian juga terdapat
dasar putusan bebas yakni bila terdapat hal-hal yang
menghapusaskan kesalahan yakni:
a. Kesalahan terdakwa yang didakwakan tidak terbukti.
Sakit jiwa (Pasal 44 KUHP)
b. Di bawah umur (UU Pengadilan Anak)
c. Daya paksa (overmacht) Pasal 48 KUHP.
d. Pembelaan darurat (noodweer) pasal 49 KUHP
e. Melaksanakan uu (Pasal 50 KUHP)
Bila hakim menjatuhkan putuan bebas, maka kalau
terdakwa ditahan, maka putusan diikuti dengan
perintah pembebasan terdakwa seketika.
Perintah itu segera dilaksanakan penuntut umum
setelah putusan diucapkan.
Penuntut umum membuat laporan mengenai
pelaksanaan perintah pembebasan dan
disampaikan kepada ketua PN yang bersangkutan
paling lambat tiga kali duapuluhempat jam.
2. Putusan lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van
alle rechtvervolging)
Menurut Pasal 191 ayat (2) jika pengadilan berpendapat
bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa
terbukti, tetapi perbuatan itu bukan merupakan tidak
pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala
tuntutan hukum.
Hal itu berarti bahwa perbuatan itu sebenarnya tidak
bisa dituntut, konsekwensinya terdakwa juga tidak
bisa dipidana dan kalau dia ditahan harus dibebaskan.
Perbuatan tersebut terbukti, berarti terdapat
cukup alat bukti dan hakim yakin terdakwa
adalah pelaku perbuatan itu, hanya saja
perbuatan itu bukan merupakan tindak
pidana, astinya tidak ada aturan hukum pidana
yang dilanggar. Misalnya perbuatan itu
pinjam-meminjam bukan penggelapan. 2.
Putusan lepas dari segala tuntutan hukum
Menurut Pasal 191 ayat (2) jika pengadilan
berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan
kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu
bukan merupakan tidak pidana, maka terdakwa
diputus lepas dari segala tuntutan hukum.
Hal itu berarti bahwa perbuatan itu sebenarnya
tidak bisa dituntut, konsekwensinya terdakwa
juga tidak bisa dipidana dan kalau dia ditahan
dan harus dibebaskan.
3. Putusan Pemidanaan
Menurut pasal 193 jika pengadilan berpendapat bahwa
terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang
didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan
pidana. Hal itu berarti terdapat alat bukti yang meyakinkan
bahwa terdakwa melakukan tindak pidana yang
didakwakan kepadanya.
Bila hakim menjatuhkan putusan pemidanaan, maka kalau
terdakwa tidak ditahan, hakim memerintahkan kepada
terdakwa untuk ditahan dan bila ditahan memerintahkan
penahanan lanjutan.
IV. Kosekwensi putusan hakim
1. Bila terdakwa divonis bebas dan lepas, terdakwa yang
dalam tahanan haru dibebaskan
2. Bila putusan pemidanaan, kalau terpidana tidak ditahan
hakim dapat memerintahkan untuk ditahan atau kalau
ditahan perintah penahanan lanjutian
3. Hakin menetakan segala barang bukti yang disita
diserhakan kpada pihak yang paling berhak menerimanya,
atau dirampas untuk negara atau dimusnahkan.
4. Setelah membacakan putusan hakim memberitahukan hak-
hak terdakwa.
V. Syarat sah Putusan hakim
Pasl 195: Putusan hakim hanya sah dan mempunyai
kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang
yang terbuka untuk umum
Pasal 196: Pengadil memutus perkara dengan
kehadiran terdakwa kecuali uu mementukan lain
Kalau terdapat lebih dari satu terdakwa, putusan
dapat diberikan dengan kehadiran salah satu
terdakwa.
VI. Hak hak terdakwa terhadap putusan:
Sesudah putusan diucapkan hakim wajib meberitahukan hak
terdakwa:
1. menerima/menolak putusa
2. Mempelajari putusan sebelum menerim/menolak dalam tenggang
waktu yang ditentukan undang-undang
3. Hak minta penagguhan plaksanaan putusan untuk mengajukan
grasi dalam hal menerima putusan
4. Hak minta diperika dalam perkara banding dalam hal menolak
putusan
5. Hak mencabut upaya banding dalam tenggang waktu yang
ditentukan uu
VII. Isi surat Putusan
1. Putusan Pemidanaan (Psl 197):
a. Kepala putusan memuat Pro Yustisia: “DEMI KEADILAN
BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”
b. Memuat identitas terdakwa: nama lengkap, tempat tgl lahir, umur,
jenis kelamin, kebangsaan, tempat tgl, agama dan pekerjaan;
c. Dakwaan
d. Pertimbangan ringkas berdasarkan fakta dan keadaan serta alat
bukti dari pemeriksaan di persidangan
e. Tuntuttan pidna
f. Pasal yang menjadi dasar pemidanaan dan putusan
g. Hari, tanggal diadakan musyawarah hakim
h. Peryataan kesalahan terdakwa, telah terpenuhinya unsur tindak
pidana dalam kualifikasi pidana, pemidanaan/tindakan
i. Penetapan biaya perkaya dengan jumlah yang pasti.
j. Jika terdapat surat otentik yang dianggap palsu (ketetangan
kenyataan palsu)
k. Perintah supaya terdakwa ditahan, atau tetap dalam tahanan atau
dibebaskan.
l. Hari, tanggal putusan. Nama penuntut umum, hakim dan penitera.
Tidak terpenuhi syarat a, b, c, d, e, f, h, j, k dan l, mengakibatkan
putusan bataal demi hukum.
2. Putusan bukan pemidanaan.
a. semua syarat dalam pasal 197 ayat (1) kecuali
huruf e, f, dan h.
b. Pernyataan bahwa terdakwa diputus bebas atau
lepas dari segala tuntutan hukum dengan
menyebutkan alasan dan dasar hukum
c. Perintah supaya terdakwa dibebaskan jika ditahan
Surat putusan ditandatangani hakim dan panitera
setelah putusan itu diucapkan

Anda mungkin juga menyukai