LUKA BAKAR
(Combustio)
OLEH
EDI ROSADI
KLASIFIKASI
Berdasarkan dalamnya luka bakar
Luka bakar derajat I :
Hanya mengenai lapisan permukaan kulit atau
epidermis saja
Luka bakar derajat II :
Mengenai sebagian tebal kulit yaitu epidermis
dan korium
Luka bakar derajat III :
Mengenai seluruh tebal kulit, kadang-kadang
mengenai pula jaringan lemak, otot atau
tulang
DEFINISI
Luka bakar adalah luka pada kulit yang disebabkan oleh
panas baik dari aliran listrik, api, air panas, zat-zat radio
aktif, zat kimia dll.
Konsekuensi luka bakar
Kehilangan panas, cairan dan bahan-
bahan yang terlarut di dalam cairan.
Meningkatnya kemugkinan
mikroorganisme untuk memasuki jaringan
adipos.
Perubahan metabolik yang terjadi pada
penderita luka bakar
1. Kehilangan volume plasma yg harus digantikan oleh
cairan dan elektrolit
2. Ketidakseimbangan homeostatis
3. Perubahan-perubahan hormonal :
Meningkatnya produksi katekolamine yang
berpengaruh terhadap sistem syaraf dan sistem
cardiovaskuler, metabolik rate, suhu tubuh dan
jaringan lunak
Meningkatnya produksi glukokortikoid yg akan
berpengaruh terhadap perubahan metabolisme
Karbohidrat dan protein
Meningkatnya glukagon yg mengakibatkan
4. Perubahan biokimia :
Meningkatnya glukoneogenesis, proteolisis &
ureagenesis
Menurunnya lipolisis & penggunaan keton bodi
5. Perubahan imunologi :
Terjadinya infeksi yg merupakan penyebab kematian
dan kesakitan
Hilangnya jaringan kulit sebagai pelindung infeksi dan
kehilangan zat-zat gizi
Infeksi akan menyebabkan kemungkinan malnutrisi
6. Perubahan kebutuhan gizi :
Meningkatkannya penggunaan simpanan tubuh karena
adanya hipermetabolik, hiperkatabolik, meningkatnya
kebutuhan zat gizi, terutama protein, Vit A,Vit C, Zn.
Meningkatnya kehilangan zat gizi melalui urin
INTERVENSI GIZI
Tujuan :
Memenuhi kebutuhan asupan zat gizi
Mempertahankan status gizi optimal
Membantu dan mempertahankan sisa fungsi
ginjal
Terjadi peningkatan pengetahuan dan
kepatuhan diet
PRESKRIPSI DIET
Tujuan Diet
Mengusahakan dan mempercepat penyembuhan
jaringan yg rusak
Mencegah terjadinya keseimbangan yg negatif
Memperkecil terjadinya hiperglikemia dan
hipergliseridemia
Mencegah terjadinya gejala-gejala kekurangan zat
gizi mikro
Syarat Diet
Memberikan makanan dalam bentuk cair sedini
mungkin atau Nutrisi Enteral Dini (NED).
Kebutuhan energi dihitung sesuai dengan
pertimbangan kedalaman dan luas luka bakar.
Kebutuhan Energi Sehari
Berdasarkan % Luka Bakar
Luka bakar (%) Kebutuhan Energi (kkal)
< 10 1,2 x AMB
11 – 20 1,3 X AMB
21 – 30 1,5 X AMB
31 – 50 1,8 X AMB
> 50 2,0 X AMB
Menurut Asosiasi Dietetik Australia
Sumber : Handbook No.6 principle of Nutritional Management of
Disorders. JADA, 1990
Kebutuhan Lemak
Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energi
total.
Pemberian lemak yg tinggi menyebabkan penundaan
respon kekebalan sehingga pasien lebih mudah terkena
infeksi.
Pemberian lemak MCT secara teoritis lebih mudah
teroksidasi sehingga dpt meningkatkan sintesis protein
oleh hati, mengurangi katabolisme protein dan
memenuhi kebutuhan energi.
Kebutuhan KH
Karbohidrat sedang, yaitu 50-60% dari kebutuhan
energi total.
Bila pasien mengalami trauma jalan nafas (inhalasi),
KH diberikan 45-55% dari kebutuhan energi total.
Namun pemberian KH perlu dibatasi maksimum 7
mg/kg/menit selebihnya glukosa tidak dioksidasi
melainkan diubah menjadi lemak.
CAIRAN DAN ELEKTROLIT
Terjadinya kehilangan volume sirkulasi akibat hilangnya volume
plasma ke rongga interstitial dan jaringan cedera luka bakar, yang
dapat menyebabkan burn edema dan merupakan penyebab utama
burn shock.
24 - 48 jam pertama setelah cedera luka bakar, manajemen luka
bakar ditujukan untuk penggantian cairan dan elektrolit.
Setengah dari volume cairan yang dibutuhkan selama 24 jam
diberikan pada 8 jam pertama.
Kebutuhan cairan dihitung berdasarkan usia, berat badan, dan luas
luka bakar.
Kehilangan cairan per hari diperkirakan :
2,0 – 3,1 ml / kg BB x 24 jam x (% luka
bakar)
Macam Diet dan
Indikasi Pemberian
1. Diet Luka Bakar I
Diberikan pada pasien luka bakar berupa cairanAGGS
(Air Gula Garam Soda) dan makanan cair penuh
Komposisi AGGS :
Air (200 ml)
Gula/sirup (25g/30ml)
Garam dapur (2g/2 bks)
Soda kue ( 1 g/1bks)
2. Diet luka bakar II
Merupakan perpindahan dari diet luka
bakar I, yaitu diberikan segera setelah
pasien mampu menerima cairan AGGS
dan makanan cair penuh dengan nilai
energi 1 kkal/ml serta sirkulasi cairan
tubuh normal.
Bentuk makanan disesuaikan dengan
kemampuan pasien, dapat berbentuk
cair, lunak, saring, lumat, lunak atau
Bahan Makanan Yang Dianjurkan
Semua bahan makanan sumber energi dan protein seperti
susu, telur, daging, ayam, keju, gula pasir dan keju.
Hindari bahan makanan hiperalergik seperti udang.