0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
305 tayangan20 halaman

Islam Dan Toleransi

Dokumen tersebut membahas tentang toleransi dalam Islam dan masyarakat multikultural Indonesia. Secara ringkas: 1. Islam dan tradisi Nusantara mendorong sikap toleran dan menghargai keberagaman agama dan budaya. 2. Masyarakat Indonesia multikultural sejak dulu, membutuhkan toleransi untuk mencegah konflik antarsuku dan agama. 3. Alquran dan teladan Nabi Muhammad SAW mengajarkan sikap empati dan menghindari eksklus

Diunggah oleh

nita fabilla sari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
305 tayangan20 halaman

Islam Dan Toleransi

Dokumen tersebut membahas tentang toleransi dalam Islam dan masyarakat multikultural Indonesia. Secara ringkas: 1. Islam dan tradisi Nusantara mendorong sikap toleran dan menghargai keberagaman agama dan budaya. 2. Masyarakat Indonesia multikultural sejak dulu, membutuhkan toleransi untuk mencegah konflik antarsuku dan agama. 3. Alquran dan teladan Nabi Muhammad SAW mengajarkan sikap empati dan menghindari eksklus

Diunggah oleh

nita fabilla sari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Islam dan Toleransi

Putri Anissa (2017353985)


Mina Pyung (2017353949)

S-1 Akuntansi
PENGERTIAN TOLERANSI
• Pengertian toleransi
Kata toleransi sendiri berasal dari bahasa latin “tolerantia” yang berarti
kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran.
Dalam bahasa inggris “tolerance” berarti membiarkan, mengakui dan
menghormati keyakinan orang lain tanpa persetujuan.
Dan dalam bahasa arab istilah toleransi merujuk pada kata “tasamuh”
yaitu saling mengizinkan atau saling memudahkan.
Menurut bahasa, arti toleransi adalah menahan diri, bersikap sabar,
membiarkan orang berpendapat berbeda dan berhati lapang terhadap
orang-orang yang memiliki pendapat berbeda.
• Pengertian toleransi secara umum
Pengertian toleransi secara umum adalah suatu sikap saling
menghormati dan menghargai antar kelompok atau individu dalam
masyarakat atau dalam lingkup kehidupan lainnya.
Tanpa adanya sikap toleransi, maka masyarakat akan susah untuk
bersatu dan akan muncul berbagai masalah dan konflik sosial seperti
pertengkaran, permusuhan, hingga saling mematikan antar kelompok.
• Pengertian Toleransi Menurut Para Ahli
 Menurut W.J.S Purwadarminta
Toleransi adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta
membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan
maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri.
Menurut Micheal Wazler (1997)
Toleransi dapat diartikan sebagai keniscayaanya dalam ruang individu
dan ruang public karena salah satu tujuan toleransi adalah membangun
hidup damai (peaceful coexistence) diantara berbagai perbedaan latar
belakang sejarah, kebudayaan dan identitas.
 dll.
MANUSIA DAN REALITAS
KEMAJEMUKAN SOSIAL (SARA)
Realitas Indonesia sekarang ini memang sangat menyedihkan. Bermula
dari krisis di bidang ekonomi, kini telah merambah ke dalam bidang
sosial, politik, dan budaya.
Konflik-konflik sosial-pun marak terjadi. Pergolakan sosial itu telah
menimbulkan korban, baik di bidang materi, sosial, dan
mental/psikologis. Di berbagai tempat di Indonesia terjadi kerusuhan.
Masyarakat yang dahulunya hidup dalam ketenangan dan kedamaian
berubah menjadi masyarakat yang saling membenci, menyerang, dan
bahkan saling membunuh. Makna hidup bersama dalam masyarakat
yang plural menjadi terabaikan.
• Indonesia: Fenomena Baru Beridentitas Ganda
Dalam tinjauan sejarah, Indonesia baru ‘ada’ sejak diproklamirkannya
kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini bermakna, pertama,
bahwa sebelum tanggal ini Indonesia belum ‘ada’, yang ada hanya kerajaan.
Kedua, dengan peristiwa proklamasi, identitas keindonesiaan sebagai
bangsa menjadi identitas baru.
Tampak dengan jelas adanya pertentangan antara tiga kelompok ideologi
yang memiliki basis massa cukup besar yaitu nasionalis, komunis, dan
agama (Islam).
Dengan melihat kenyataan seperti itu kita melihat bahwa lahirnya bangsa
Indonesia semata-mata didasarkan pada keinginan bersama untuk merdeka
dan yang dapat mengikat keberagaman itu adalah persatuan.
• Persatuan Dalam Indonesia
Dalam sejarahnya Indonesia dibangun di atas mitos kesatuan dengan tekad
untuk menentukan nasibnya sendiri. Maka penjajahan atas hak ini harus
dilawan.
Gagasan ini (yang mula-mula hanya bertujuan untuk merdeka) digunakan oleh
Soekarno-setelah pernyataan kemerdekaan- untuk menggalang persatuan
Nasionalis, Islam, dan Komunis.
Pada masa kepemimpinan Soeharto, dengan mewarisi kondisi perekonomian
yang amburadul dari Soekarno, mulai mengarahkan Indonesia kepada
pembangunan.
Dalam hubungannya dengan pembangunan, maka pemerintah mengembangkan
strategi-strategi yang bersifat dualistis, misalnya pemerintah pusat dan daerah,
masyarakat sipil dan militer, dan lain-lain.
• Kemajemukan:Potensi Integrasi dan Potensi Konflik
Kemajemukan, kata dasarnya adalah majemuk merupakan istilah yang
pertama kali diutarakan oleh Furnivall untuk menggambarkan masyarakat
‘Indonesia’ pada jaman Hindia Belanda.
Masalah usaha mempersatukan penduduk yang beraneka warna tersebut
terdiri paling sedikit empat sub masalah. Keempat sub masalah itu adalah:
Masalah mempersatukan aneka warna suku bangsa 
Masalah hubungan antar umat beragama 
Masalah hubungan antara mayoritas dan minoritas 
Masalah integrasi budaya suku-suku bangsa yang ada di
Indonesia (Koentjaraningrat, 1984).
Usaha membina persatuan bangsa Indonesia yang majemuk menyangkut
suatu masalah lain yaitu pengembangan kebudayaan nasional Indonesia.
• Tuaian itu Ternyata Konflik
Sepanjang tahun 1998 sampai dengan saat ini telah terjadi berbagai konflik
sosial, baik antar golongan agama, antar suku, antar pemerintah pusat dan
daerah, hingga antar kelompok politik. Konflik sosial tersebut akan semakin
rumit jika terjadi konflik yang ‘dwi minoritas;’, yaitu terhimpitnya konflik
sosial suku dengan agama (kasus Ambon) dan konflik “tripple minorities’,
yaitu perhimpitan konflik sosial ras, suku, dan agama.
Perbedaan suku, agama, dan ras sebenarnya tidak perlu selalu mengakibatkan
konflik yang destruktif, justru kehidupan suatu ekosistem akan stabil jika
semakin beraneka ragam.
KEMAJEMUKAN/KERAGAMAN
ADALAH SUNATULLAH

Fakta keragaman agama tidak dengan sendirinya menyadarkan para pemeluk


agama-agama untuk menyikapi keimanan komunitas agama lain secara
positif. Sebaliknya, belakangan sikap keberagamaan yang eksklusif tampak
semakin menguat. Eksklusivisme agama di sini dipahami sebagai pandangan
yang menganggap agamanya sebagai satu-satunya jalan kebenaran.
Keragaman agama adalah sunnatullah. Namun, sebagian orang, disadari atau
tidak, menyangkal sunnatullah tersebut dengan menganggap dunia akan lebih
baik dan aman tanpa keberadaan orang-orang yang punya keyakinan berbeda.
Jika kita hidup dalam sebuah komunitas di mana semuanya menganut keyakinan
yang sama, pandangan keagamaan eksklusivis tidak bermasalah. Tapi, dalam
masyarakat yang plural, eksklusivisme agama berbahaya bagi keselamatan
kehidupan orang lain. Dengan demikian, kenyataan keragaman sebagai kehendak
Ilahi (sunnatullah) menuntut kita meninggalkan keberagamaan yang eksklusivis.
Pelanggaran sunnatullah yang paling nyata ialah upaya sebagian kalangan untuk
menunggalkan keragaman dan mengingkari perbedaan.
Bagaimana mungkin kita bisa menjalin kehidupan harmonis antar-
komunitas yang berbeda agama jika masing-masing saling tidak tahu
dan tidak peduli tentang keyakinan dan praktik pihak lain.
Sikap empati akan muncul jika kita mengetahui secara akurat. Minimal
kita perlu belajar agama lain dalam suasana yang netral untuk
memahami apa yang diyakini orang lain, bukan dengan semangat untuk
mendiskreditkan keyakinan agama lain.
Ringkasnya, sebagai penduduk global (global citizens) di dunia yang
saling terkoneksi, kita punya tanggung jawab etis untuk saling belajar
satu sama lain dan mengembangkan sikap empati terhadap pandangan
dan keyakinan yang berbeda.
PRINSIP TOLERANSI DALAM ISLAM : QS. AL-
KAFIRUN:1-6, QS. AL-HAJJ:39-41, QS. AL-
MUMTAHANAH:7-9
• QS. AL-KAFIRUN : 1-6
Menjelaskan tentang pertolongan Allah pasti datang dan Islam akan memperoleh
kemenangan.
Surah ini turun ketika kaum Quraisy Mekkah dengan segala upaya mencari cara
untuk menghentikan ancaman Islam terhadap kepercayaan nenek moyang mereka.
Pada salah satu upaya tersebut mereka berusaha mengajukan semacam proposal
kompromi kepada Rasulullah SAW sebuah tawaran: jika Rasulullah mau memuja
Tuhan mereka, maka merekapun akan memuja Tuhan sebagaimana konsep Islam.
Jadi pokok isi surat Al Kafirun ini adalah tidak dibolehkannya kompromi dalam
bentuk mencampur-adukkan ajaran agama.
• QS. AL-HAJJ : 39-41
Ayat 39-41 menjelaskan salah satu cara Allah menolong kaum mukmin
ialah dengan mensyariatkannya berperang. Allah menetapkan alasan
berperang ialah jika kaum Muslimin diperangi dan diusir dari negeri
mereka karena mereka mengakui hanya Allah Tuhan yang berhak
disembah, bukan alasan kepentingan dunia. Tujuan lain dari syari’at
Allah terkait perang ialah untuk meredam keganasan manusia agar
biara-biara, gereja-gereja, mushalla-mushalla dan masjid-masjid tidak
dihancurkan. Allah pasti menolong orang-orang yang menolong agama-
Nya (Islam), karena Dia Mahakuat dan Mahaperkasa.
• QS. AL-MUMTAHANAH:7-9
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan
orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Mahakuasa dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari
kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berlaku adil.
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai
kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan
mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu.
TELADAN RASULULLAH DAN PARA
SAHABAT DALAM TOLERANSI
• Keteladanan SA’ID
Abdurrahman bin Sabith al-Jumahi menuturkan, “Apabila Sa’id mendapatkan bagian
harta dari Baitul Mal, maka ia belanjakan bahan makanan untuk keluarganya, dan
sisanya disedekahkan. Sampai-sampai istrinya bertanya, kemana uang lebihnya yang
telah diberikan kepadamu?” Sa’id menjawab, “Telah aku pinjamkan.”
Orang-orang pernah mendatangi Sa’id dan menegurnya, “Sesungguhnya keluargamu itu
mempunyai hak, begitu pula kerabatmu, mereka semua mempunyai hak”. Atas teguran
ini Sa’id menjawab, “Aku tidak pernah menuntut dan mencari kerelaan seseorang di
dunia, melainkan untuk mendapatkan bidadari yang tidak pernah tersentuh mata
manusia, yang jika ia turun ke bumi, maka sinarnya akan membakar bumi dan matahari.
Namun aku juga tidak mau meninggalkan kewajiban terhadap keluargaku….”
• Kesabaran Rasulullah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memancangkan pondasi-pondasi
keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan
mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan
kebaikan.
Kesabaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan dakwah
layak menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Kita wajib berjalan di
atas manhaj (metode) beliau di dalam berdakwah semata-mata karena Allah
tanpa membela kepentingan pribadi.
Pada hari ini, sering kita lihat sebagian orang yang bersikap terburu-buru dalam
berdakwah. Berharap dapat segera memetik hasil. Hanya membela kepentingan
pribadi yang justru hal itu merusak dakwah dan mengotori keikhlasan.
• Kisah Perjuangan Bilal R.A
Bilal Al-habsyi adalah sahabat yang masyhur. Ia adalah muadzin tetap
masjid Nabawi. Pada mulanya, ia adalah budak milik seorang kafir.
Kemudian ia memeluk Islam yang menyebabkan ia banyak menerima
berbagai siksaan.
Tuannya berharap ia akan meniggalkan Islam atau mati perlahan-lahan
dengan cara itu. Orang-orang yang menyiksa Bilal silih berganti,
kadang-kadang Abu Jahal atau Umayya bin Khalaf, bahkan orang lain
pun ikut menyiksanya.
Ketika Abu Bakar ra melihat hal itu, beliau menebusnya dan langsung
memerdekakannya. Begitu besarnya cinta Bilal ra pada Allah SWT yang
rela disiksa demi mempertahankan ke-Islamannya.
• Keteladanan Rasulullah SAW
Kisah tentang seorang pengemis buta yang sering di suapi oleh Rasulullah.
Pengemis buta ini selalu mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang gila,
penyihir. Setiap Rasululah datang membawa makanan dan menyuapi tanpa
berkata sepatah katapun. Setelah beliau wafat maka tidak ada lagi orang yang
membawakan. Suatu hari, Abu Bakar ra. berkunjung ke anaknya Aisyah rha. dan
bertanya, “Wahai anakku, adakah sunnah dari Rasulullah yang belum aku
kerjakan.”
Keesokan harinya Abu Bakar ra. pergi ke pasar dan mendatangi pengemis itu
untuk memberikannya makan. Pengemis itu berkata, ” Orang yang selalu
memberikanku makan selalu menyuapiku, tapi sebelumnya makanan ia haluskan
dengan mulutnya dan memberikannya dengan mulutnya. Apabila ia datang
padaku, tangan ini tidak susah menggenggam dan mulut ini tidak susah
mengunyah.”
Mendengar hal itu Abu Bakar menangis dan berkata, “Aku memang bukan orang
yang selalu menyuapimu, Beliau adalah Muhammad SAW.” Mendengar hal itu
pengemis itu kaget dan menangis. pengemis itu berkata,”Benarkah demikian?
Setiap Beliau datang padaku, aku selalu menghina,menghujat dan memfitnahnya,
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai