Group 1
1. Kania Allysa Malik
2. Moh. Yanuwar Sari
3. Raden Roro Evelyn Almira Buana
4. Sakiah Lestari
5. Shakilla Noor Kamillah
6. Tahsya Hermawati wibowo
Dampak Perang Dingin
(Dalam politik dan ekonomi di global maupun di indonesia)
Pengaruh Perang Dingin Terhadap Kehidupan Politik Global
Pengaruh perang dingin terhadap kehidupan politik terlihat dari adanya sistem
aliansi atau pembentukan sekutu dalam penyebaran ideologi ideologi perang
dingin. Amerika Serikat berusaha menjadikan negara-negara yang sedang
berkembang menjadi negara demokrasi agar hak asasi manusia dapat dijamin.
Bagi negara-negara yang sebelumnya kalah seperti Jerman dan Jepang
berkembang pula kapitalisme selain [Link] Serikat berusaha
menjadikan negara-negara yang sedang berkembang menjadi negara demokrasi
agar hak asasi manusia dapat dijamin. Bagi negara-negara yang sebelumnya
kalah seperti Jerman dan Jepang berkembang pula kapitalisme selain demokrasi.
Negara-negara tersebut dapat sehaluan dengan AS dan merupakan negara
pengaruhnya.
TEMBOK BERLIN
Uni Soviet dengan paham sosialis-kominunis mendengungkan pembangunan
negara dengan Rencana Lima Tahun. Cara tersebut dilakukan dengan ditaktor
bukan liberal. Bagi negara satelit (dibawah pengaruh) Uni Soviet yang melakukan
penyimpangan akan ditindak keras oleh US seperti contohnya Polandia dan
Hongaria. Demi kepentingan politik, ekonomi, dan militer kedua negara adikuasa
tersebut menjalankan politik pecah belah sehingga beberapa negara menjadi
terpecah seperti Korea, Vietnam, dan [Link] dalam bidang politik dapat
juga kita lihat dari dibangunnya tembok berlin di Jerman sebagai batas antara
Jerman Barat dan Jerman Timur. Dalam perang dunia kedua negara ini memang
sudah terbagi menjadi 2, yaitu Jerman Barat yang beribukota di Bonn dan Jerman
Timur yang beribukota di Berlin.
Negara ini mengalami perpecahan karena adanya 2 paham yang berbeda
berlaku di negara ini, yaitu liberal yang dianut jerman barat dan Komunis yang
dianut jerman timur. Dalam perjalanan pemerintahannya, Jerman barat
mengalami perkembangan yang jauh lebih pesat daripada Jerman timur. Oleh
sebab itu, banyak orang Jerman timur yang memutuskan untuk hijrah ke Jerman
barat. Namun karena saat itu terjadi perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet,
Uni soviet merasa tersinggung dengan adanya orang-orang pindah ke Jerman
Barat. Kerena itu Uni soviet mendanai dan mendukung untuk membangun sebuah
tembok yang berada di kota berlin yang menyebabkan terbelahnya kota itu.
Selain itu di tembok ini, uni soviet juga menyiagakan tentaranya agar menembaki
orang-orang yang masih berani untuk menyebrang. Kemudian tembok ini sangat
dikenal orang sebagai simbol bagi perang dingin.
Pengaruh Perang Dingin Terhadap Kehidupan Ekonomi Global
AS sebagai negara kreditor terbesar memberikan pinjaman atau bantuan
ekonomi kepada negara-negara yang sedang berkembang berupa Marshall Plan.
AS juga memberikan bantuan ”Grants in Aid” yaitu bantuan ekonomi dengan
kewajiban mengembalikan berupa dollar atau dengan membeli barang-barang
Amerika Serikat. Bagi negara-negara di Asia Presiden Truman mengeluarkan “The
Four Points Program for the Economic Development in Asia” berupa teknik dalam
wujud perlengkapan-perlengkapan ekonomis atau bantuan kredit yang berasal
dari sektor swasta di Amerika Serikat yang disalurkan oleh pemerintah kepada
negara-negara yang sedang berkembang.
Poster Marshall Plan
Dengan adanya perang dingin ini maka berbagai bentuk kerjasama yang
saling menguntungkan antara Eropa Timur dan Eropa Barat tidak dapat terjalin.
Kegiatan tersebut terhambat karena negara-negara Eropa merasa kawatir jika
suatu saat wilayahnya akan dijadikan sasaran adu kekuatan oleh kedua negara
adikuasa tersebut. Dampaknya perekonomian antara blok barat (negara-negara
Eropa Barat) dan blok timur (negara-negara Eropa Timur) tidak seimbang dimana
negara-negara blok barat jauh lebih maju daripada blok timur.
Ternyata perang dingin juga membawa dampak positif pada perekonomian
dunia. Baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini ditandai dengan
munculnya negara super power. Dengan adanya negara super power, maka
perekonomian dunia banyak dikuasai oleh para pemegang modal. Mereka saling
berlomba untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara
menginvestasikan modal mereka ke negara-negara berkembang yang upah
buruhnya masih relatif rendah. Sehingga keuntungan mereka juga melambung
tinggi. Namun siapa sangka bahwa hal diatas juga berdampak baik bagi negara
yang ditempati untuk membuka usaha para pemilik modal.
Pertumbuhan ekonomi di negara itu juga akan tumbuh pesat. Jadi keduanya
diuntungkan dalam usaha ekonomi ini. Pada saat itu negara pemilik modal yang
berlomba-lomba untuk menguasai dunia perekonomian, secara tidak langsung
juga membawa unsur politik didalamnya. Sehingga pemilik modal besar
mendapatkan keuntungan besar, sementara negara yang modalnya terbatas
keuntungannya juga kecil. Karena itu munculah istilah globalisasi ekonomi di
masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukanlah beberapa tindakan
seperti misalnya menyatukan mata uang. Contoh yang sangat terlihat adalah
negara-negara di kawasan eropa yang menyatukan mata uang mereka menjadi
euro.
Pengaruh Perang Dingin Terhadap Kehidupan
Politik Indonesia
Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet mempengaruhi
kehidupan politik Indonesia. Dalam usahanya memperoleh pengaruh di
Indonesia. Amerika Serikat melibatkan diri dalam Perjanjian Renville dan menjadi
pihak penengah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Amerika Serikat menyediakan fasilitas dalam perundingan Renville di atas kapal
Angkatan Laut Amerika, yaitu "USS Renville". Uni Soviet juga ikut menanamkan
pengaruhnya di Indonesia. Uni Soviet selalu berada di belakang usaha-usaha
pemberontakan yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis.
Peristiwa pemberontakan PKI di Madiun pada 1948 yang dipimpin Muso
merupakan wujud nyata usaha penyebarluasan komunisme di Indonesia.
Pada tahun 1955, Indonesia berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika
di Bandung. Keberhasilan Indonesia ini telah menaikkan pamor Indonesia di
kancah internasional. Oleh karena itu, Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Tiongkok
mengundang Presiden Soekarno untuk melakukan kunjungan kenegaraan. Selama
kunjungan kenegaraan tersebut, Presiden Soekarno banyak belajar tentang situasi
politik di Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Tiongkok. Pengalaman tersebut
mempengaruhi pola pikir Soekarno. Selama di Peking, Tiongkok, Presiden Soekarno
memperoleh kesan mendalam tentang kemajuan yang dialami Tiongkok. Di
bawah pemerintahan komunis, masyarakat Tiongkok menjadi teratur dan
terkendali, serta perekonomiannya bergerak ke arah swasembada.
Presiden Soekarno berpandangan bahwa pola politik yang tepat untuk
Indonesia adalah mengikuti pola politik Tiongkok. Kondisi politik Indonesia yang
tidak stabil selama Demokrasi Liberal membuat Preseiden Soekarno mengeluarkan
Dektret Presiden 5 Juli 1959 yang menandakan munculnya Demokrasi Terpimpin.
Pada masa Demokrasi Terpimpin, keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI)
semakin berkembang dalam masyarakat Indonesia. Walaupun Presiden Soekarno
lebih condong pada blok Timur yang berpaham komunis, Presiden Soekarno lebih
memilih menjadi anggota Gerakan Non-Blok (GNB) yang bersifat netral terhadap
sistem politik blok Barat dan blok Timur.
Dalam usaha merebut Irian Barat dari Belanda. Indonesia mencari bantuan
senjata ke luar negeri. Indonesia mencoba meminta bantuan Amerika Serikat,
tetapi gagal. Akhirnya, pada bulan Desember 1960 Jenderal A.H. Nasution pergi ke
Moskow, Uni Soviet. Jenderal A.H. Nasution berhasil mengadakan perjanjian jual
beli senjata dengan pemerintahan Uni Soviet senilai 2,5 miliar dolar Amerika
dengan persyaratan pembayaran jangka panjang.
Pada dasarnya, Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian
barat kepada Indonesia. Akan tetapi, karena ingin menjadikan Indonesia sebagai
daerah pengaruhnya, Amerika Serikat pun mendukung masuknya Irian Barat
dalam wilayah Indonesia. Presiden Jhon F. Kennedy mendukung upaya
pemerintah Indonesia untuk memperoleh wilayah Irian Barat. Amerika Serikat
khawatir Indonesia akan meminta bantuan Uni Soviet jika tidak mendapat
dukungan dari Amerika Serikat.
Pengaruh Perang Dingin Terhadap Kehidupan
Ekonomi Indonesia
Setelah Perang Dunia II, kondisi perekonomian dunia mengalami kehancuran.
Amerika Serikat sebagai negara kreditur memperoleh kesempatan
menyebarluaskan pengaruhnya. Presiden Truman mengeluarkan The Point Four
Programme for the Economic Development in Asia. Program ini berupa bantuan
teknik dalam wujud perlengkapan-perlengkapan ekonomi atau kredit yang
berasal dari sektor swasta Amerika Serikat yang disalurkan kepada negara-negara
baru dan berkembang, termasuk Indonesia.
Pengaruh Perang Dingin di Indonesia terlihat dalam penerapan sisten ekonomi
Indonesia yang berubah-ubah. Pada masa awal kemerdekaan, perekonomian
Indonesia sangat kacau. Indonesia berupaya melakukan perubahan dari sistem
ekonomi kolonial ke ekonomi nasional. Selanjutnya, pada masa Demokrasi Liberal,
Indonesia menerapkan sistem ekonomi liberal. Akan tetapi, sistem ini mengalami
kegagalan yang disebabkan munculnya sikap antikolonialisme dan
antiimperialisme.
Pada periode 1959-1965 pemerintah Indonesia menggunakan sosialisme
sebagai landasan kinerja pemerintah, dan dasar kehidupan ekonomi dan politik
Indonesia. Pemberlakuan sistem ini dipengaruhi oleh kedekatan Presiden Soekarno
dengan Tiongkok.
Sementara itu, Uni Soviet selalu berada di belakang kelompok PKI (komunis).
Pada era Demokrasi Terpimpin, PKI berhasil menjalin hubungan baik dengan
pemerintah dan menjadi partai besar pada saat itu. Kejayaan PKI berakhir setelah
terjadi peristiwa G 30 S/PKI. Setelah itu, pada masa orde baru kebijakan ekonomi
Indonesia dipengaruhi oleh Barat, terutama Amerika Serikat.