RAGAM BAHASA
BAHASA INDONESIA
menurut cara ragam lisan
berkomunikasi ragam tulis
ragam dialek
ragam terpelajar
Ragam Bahasa menurut ragam resmi
penutur
ragam takresmi
ragam ilmu
menurut pokok ragam hukum
persoalan
ragam bisnis
ragam sastra
dll.
Ragam bahasa ilmiah = ragam ilmiah
= ragam keilmuan
ragam bahasa yang dipandang layak dipakai
dalam topik pembicaraan tentang ilmu.
Ragam ilmiah digunakan untuk mengkomunikasikan
Hasil kegiatan ilmiah (penelitian, seminar, lokakarya,
diskusi, publikasi ilmiah, dan lain-lain), baik antara
sesama ilmuan dalam bidang ilmu tertentu atau dari
berbagai bidang ilmu maupun antara ilmuan dengan
masyarakat luas.
Ragam bahasa yang digunakan dalam jurnal
ilmiah:
ragam bahasa ilmiah
Jurnal ilmiah adalah salah satu jenis
publikasi ilmiah yang memuat karya ilmiah
yang disebut artikel ilmiah.
Artikel ilmiah adalah karya tulis lengkap yang
menyajikan tulisan tentang hasil kajian ilmiah,
baik yang baru saja maupun yang sudah
lampau dilakukan (Johannes, 1981: 34).
Kesalahan pemakaian bahasa
(ragam ilmu):
Pemilihan kata
Struktur kalimat
Struktur paragraf
Penerapan ejaan dan tanda baca
Hasil ringkasan
Ciri dan sifat jelas
ragam bahasa
ilmiah tepat
lugas
formal
Kejelasan dan ketepatan isi dapat diwujudkan dengan
menggunakan kata dan istilah yang jelas dan tepat, kalimat
yang tidak berbelit, dan struktur paragraf yang runtut.
Kelugasan dan keformalan gaya bahasa diwujudkan dengan
menggunakan kalimat pasif, kata yang tidak emotif, dan
tidak berbunga-bunga.
Kelugasan dan keformalan juga diwujudkan dengan:
Menghindari penggunaan kata ganti pertama,
seperti kata saya, kami, atau kita.
Jika terpaksa menyebutkan kegiatan yang dilakukan
oleh penulis sendiri, kata ganti yang dipakai bukan kami
atau saya, melainkan penulis.
Kata penulis atau peneliti seyogyanya digunakan
sesedikit mungkin.
cendikia
lugas dan jelas
gagasan sebagai
Ciri pangkal tolak
bahasa
ragam formal dan objektif
ilmiah ringkas dan padat
konsisten
penggunaan istilah teknis
Cendikia
Sifat cendikia ditunjukkan dengan:
penggunaan bahasa Indonesia yang mampu
mengungkapkan hasil berpikir logis secara
tepat.
keseksamaan penggunaan kata dengan
menerapkan diksi yang tepat.
Lugas dan jelas
Sifat lugas dan jelas diwujudkan melalui
penggunaan bahasa yang bermakna lugas dan
menghindari pengungkapan yang bermakna
kias.
Agar gagasan yang diungkapkan jelas, bahasa
yang digunakan juga harus jelas, kalimatnya
tidak berbelit-belit.
Orientasi gagasan
Hal ini berarti penonjolan diarahkan pada gagasan
atau hal-hal yang diungkapkan, tidak pada penulis.
Itulah sebabnya, pilihan bentuk kalimat yang digunakan
cenderung kalimat pasif. Kalimat aktif dengan penulis
sebagai pelaku perlu dihindari.
Dari uraian tadi penulis dapat menyimpulkan ….
(seharusnya Dari uraian tadi dapat disimpulkan ….)
Kita tahu bahwa pendidikan ….
(seharusnya Perlu diketahui bahwa pendidikan ….)
Formal & objektif
Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah haruslah berciri
formal. Ciri keformalan ini ditunjukkan dengan menggunakan
unsur-unsur bahasa (kosakata, bentukan kata, dan bentukan
kalimat) yang biasa digunakan dalam situasi formal atau resmi.
Ciri objektif ragam bahasa ilmiah dapat diwujudkan dengan
penggunaan kata dan struktur. Kata-kata yang menunjukkan ciri
subjektif dan emosional, seperti alangkah, kiranya, harus, wajib,
pasti, perlu dihindari penggunaannya.
Ringkas dan padat
Ciri ringkas ditunjukkan dengan tidak adanya unsur-
unsur bahasa yang tidak diperlukan (dilakukan secara
hemat).
Jika gagasan yang diungkapkan sudah memadai dengan
unsur-unsur bahasa yang terbatas tanpa pemborosan,
berarti ciri kepadatan sudah terpenuhi.
Karena itu, ciri padat dan ringkas merupakan dua ciri
yang tidak dapat dipisahkan.
Konsisten
Unsur-unsur bahasa, ejaan, tanda baca, dan
istilah digunakan secara konsisten.
Misalnya, kata untuk digunakan sebagai pengantar
keterangan tujuan, sedangkan kata bagi digunakan
sebagai pengantar objek berkepentingan.
Penggunaan istilah teknis
Ragam bahasa ilmiah digunakan dalam wacana teknis.
Wacana teknis itu digunakan dalam keilmuan tertentu.
Sesuai dengan penggunaan itu, bahasa ilmiah dilengkapi
oleh peristilahan teknis.
Wacana tertentu dilengkapi dengan istilah-istilah teknis
sesuai dengan bidang ilmu yang diungkapkan. Dalam
bidang keuangan, misalnya, dijumpai istilah-istilah
debitur, kreditur, suku bunga, moneter, dan lain-lain.
Penerapan Ragam Bahasa Ilmiah
Sifat kebakuan, sifat standar, dan sifat keformalan
tulisan ilmiah tercermin dalam
penggunaan kosakata
penyusunan kalimat
penyusunan paragraf
penerapan ejaan dan tanda baca
A. Pemilihan dan Pemakaian Kosakata
Semakin banyak kata yang dikuasai semakin banyak
pula gagasan atau ide yang dikuasai dan sanggup
diungkapkan.
Semakin banyak kosakata yang dikuasai dalam
bidangnya berarti semakin luas kemungkinan untuk
mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan
bidang ilmunya.
1. Kata-kata yang digunakan untuk menulis ilmiah
adalah kata-kata bahasa Indonesia baku.
Beberapa contoh kata yang baku dan tidak baku.
Baku Tidak Baku Baku Tidak Baku
analisis analisa subjek subyek
hipotesis hipotesa objek obyek
metode metoda praktik praktek
teknik tehnik kaidah kaedah
teoretis teoritis definisi difinisi
kuesioner kwesioner sistem sistim
Contoh kata baku dan takbaku
(lanjutan)
Baku Tidak Baku Baku Tidak Baku
hierarki hirarki jadwal jadual
Februari Pebruari November Nopember
legalisasi legalisir organisasi organisir
realisasi realisir inventarisasi inventarisir
lokalisasi lokalisir
2. Kata-kata yang digunakan harus memenuhi
syarat-syarat:
tepat
seksama
benar
lazim
Tepat
Kata-kata yang dipilih untuk mengemukakan suatu
pengertian harus mampu mengungkapkan
pengertian tersebut secara cermat.
Contoh:
Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kaltim menambah satu produk baru
dengan meluncurkan sertifikat deposito. (seharusnya menerbitkan)
Direktur Keuangan PT Gudang Garam mengakui bahwa laba semester I
tahun 2002 anjlok 33 persen menjadi Rp 65,9 milyar. (seharusnya turun)
Benar
Kata dan pembentukan kata dalam tulisan ilmiah
harus sesuai dengan kaidah gramatika.
Contoh
Bagaimanapun juga usaha pengelola BEJ untuk meramaikan pasar
dengan mengundang emiten-emiten baru seperti ini, patut diacungkan
jempol. (seharusnya diacungi)
Penulis terpaksa merubah rumus itu dan ternyata hasilnya …
(seharunya mengubah)
Seksama
Kata atau kelompok kata yang digunakan dalam
menulis ilmiah harus sesuai dengan maksud yang
hendak disampaikan.
Contoh
Para pedagang kaki lima tidak dikehendaki berjualan di sepanjang
trotoar. (seharusnya dilarang)
Para pendidik yang kadang-kadang atau bahkan sering kena getahnya
oleh ulah sebagian anak-anak mempunyai tugas yang tidak ringan.
(seharusnya terkena akibat dan berat)
Lazim
kata yang umum dikenal oleh pemakai bahasa
Indonesia karena kata-kata itu biasa dipakai dalam
komunikasi. Apabila digunakan istilah dalam bidang
tertentu, istilah tersebut hendaknya istilah yang standar
dalam bidang ilmu yang bersangkutan.
Contoh
hubungan diplomatik dan jalinan diplomatik
gaji dan upah
3. Pemakaian kata-kata atau istilah yang berasal dari bahasa
asing dalam menulis ilmiah dilakukan apabila kata-kata atau
istilah itu memang sangat diperlukan.
Apabila untuk menyatakan konsep-konsep dalam bahasa asing
telah dapat dilakukan dengan kata-kata atau istilah bahasa
Indonesia, pemakaian kata-kata atau istilah istilah dari bahasa
asing itu seharusnya dihindari.
garis diametral - garis yang sama
diasumsikan - diperkirakan
bersifat simbiose mutualistik - bersifat saling menguntungkan
secara struktural - secara kelembagaan
mewakili institusi - mewakili lembaganya
kerangka subordinasi - kerangka atasan-bawahan
4. Penulisan ilmiah menghindari pemakaian kata-kata yang
bermakna konotatif, yaitu kata-kata yang dipakai dengan
makna yang membangkitkan kesan emosi (perasaan).
Kata-kata digunakan dalam penulisan ilmiah dengan makna
denotatif, yakni makna lugas, makna yang membangkitkan
pengertian dan penalaran.
Contoh
Rintihan pengusaha kecil menggetarkan perasaan pemerintah sehingga
pemerintah mengulurkan tangan menolong mereka dari lilitan kesulitan.
Ekonomi Indonesia berkembang semarak dalam untaian waktu …. Oleh
karena itu, memberi cahaya keyakinan dalam kalbu bangsa Indonesia
untuk ….
5. Penulis umumnya, termasuk penulis karya ilmiah,
sering menggunakan kata penghubung secara tidak
tepat, terutama kata penghubung berpasangan.
Memang ada kata penghubung yang harus
digunakan secara berpasangan, tetapi ada juga
yang tidak. Pemakai kata sering terkecoh di sini:
yang seharusnya berpasangan, dibuat tidak
berpasangan; yang seharusnya tidak berpasangan,
dibuat berpasangan.
Kata penghubung yang sering disalahgunakan:
karena ... maka ... walaupun ... namun ...
berhubung ... maka ... biarpun ... akan tetapi …
karena ... sehingga … baik ... ataupun ...
jika. . . maka ... bukan ... tetapi ...
dengan ... maka ... tidak ... melainkan …
meskipun ... tetapi ... antara ... dengan …
seperti ... misalnya ... yaitu ... adalah ...
Kata penghubung berpasangan yang tepat penggunaannya adalah
baik ... maupun ...
bukan ... melainkan ...
tidak ... tetapi ...
sedangkan ... apalagi …
antara ... dan ...
B. Penyusunan Kalimat Efektif
Penyusunan kalimat dengan memperhatikan kaidah-
kaidah tata kalimat yang merealisasikan fungsi-fungsi itu
secara benar akan menghasilkan kalimat yang efektif.
Dengan kalimat yang efektif, penulis dapat menuangkan
gagasan atau pesan komunikasi secara jelas sehingga
mampu membuat pembaca mengerti dengan baik dan
tepat gagasan atau pesan komunikasi yang
dimaksudkannya.
Agar kalimat yang digunakan untuk menulis ilmiah
dapat disusun secara efektif, penulis perlu
memperhatikan hal-hal berikut ini.
Logis
1. Penulisan ilmiah harus menggunakan kalimat logis,
yaitu kalimat yang masuk akal, mudah dipahami,
tepat, dan tidak menimbulkan salah paham. Kalimat
yang logis ini dapat disusun dengan memperhatikan
hubungan yang tepat antara fungsi-fungsi
pendukung struktur kalimat.
Contoh kalimat tidak logis
Fluktuasi harga minyak bumi di pasaran
internasional mempengaruhi negara pemasukan
devisanya yang masih mengandalkan minyak bumi
sebagai sumber utama.
Bandingkan dengan:
Fluktuasi harga minyak bumi di pasaran
internasional mempengaruhi pemasukan devisa negara
yang masih mengandalkan minyak bumi sebagai sumber
utama.
Padu
Penulisan ilmiah harus menggunakan kalimat padu,
yaitu kalimat yang mempunyai koherensi yang baik
antara unsur-unsur fungsi struktur serta pemakaian
kata-kata tugas yang tepat.
Dalam pembangunan nasional kita meliputi bidang material
dan spiritual.
(Pembangunan nasional kita meliputi bidang material dan
spiritual.)
Kebijakan uang ketat perlu ditinjau kembali yang sudah
berjalan hampir dua tahun ini.
(Kebijakan uang ketat yang sudah berjalan hampir dua tahun
perlu ditinjau kembali.)
Tidak rancu
Penulisan ilmiah harus menghindari kalimat rancu,
yaitu kalimat yang mengandung tafsiran ganda.
Pembagian sisa hasil usaha dilaksanakan setiap tahun setelah
diadakan rapat anggota bagi anggota koperasi.
Kalimat tersebut rancu, bandingkan dengan:
Pembagian sisa hasil usaha bagi anggota koperasi
dilaksanakan setiap tahun setelah rapat anggota.
Hemat
Menggunakan kalimat yang hemat, yaitu kalimat yang
efisien dalam pemakaian kata-kata.
(Setiap kata diperlukan untuk menyampaikan gagasan;
tidak ada pemborosan kata).
Banyak pengusaha-pengusaha belum melunasi
pembayaran daripada pajak yang menjadi kewajiban mereka-
mereka.
Bandingkan dengan kalimat:
Banyak pengusaha yang belum melunasi pembayaran
pajak yang menjadi kewajiban mereka.
C. Penyusunan Paragraf
Tulisan ilmiah harus disusun dalam paragraf yang baik.
Ciri paragraf yang baik:
Kesatuan paragraf
Kelengkapan paragraf
Koherensi paragraf
1) Kesatuan Paragraf
Kesatuan paragraf adalah kesatuan isi yang dikandung
oleh paragraf. Kesatuan isi ini terlihat dari kesesuaian
isi kalimat-kalimat dalam paragraf dengan ide pokok
paragraf itu.
Setiap kalimat penjelas dalam suatu paragraf harus
secara langsung menjelaskan ide pokok paragraf.
2) Kelengkapan Paragraf
Paragraf dikatakan lengkap jika semua informasi yang
seharusnya dikemukakan telah dilengkapi.
Maksudnya, paragraf tersebut dikembangkan dengan baik
sehingga ide pokok yang dikemukakan menjadi lebih
dipahami.
Pengembangan paragraf menjadi suatu paragraf yang
lengkap dapat dilakukan dengan berbagai teknik deskriptif,
teknik naratif, teknik eksposisi, dan teknik argumentasi.
Teknik deskriptif
Pengembangan paragraf dengan teknik deskriptif
dilakukan dengan kalimat-kalimat penjelas yang
mengemukakan hal-hal yang dapat dilihat, didengar,
diraba, dirasa, dan dibau.
Dengam membaca kalimat-kalimat pengembangan secara
deskriptif ini, pembaca seakan-akan dapat merasakan,
melihat, dan mengalami hal yang dikemukakan dalam
paragraf itu.
Teknik naratif
Pengembangan paragraf dengan teknik naratif
dilakukan dengan menggunakan detil yang berisi
informasi yang dikembangkan berdasarkan urutan
kronologis kejadiannya.
Teknik eksposisi
Pengembangan paragraf dengan teknik eksposisi
dilakukan dengan kalimat-kalimat yang berisi penjelasan,
analisis, dan uraian tentang sesuatu hal.
Uraian itu memberikan
(1) gambaran suatu pernyataan umum tentang suatu hal,
(2) perbandingan atau pembedaan dua masalah,
(3) penjelasan suatu proses,
(4) definisi,
(5) hubungan-hubungan antara beberapa konsep, dan
(6) interpretasi suatu pemyataan atau menjelaskan suatu ide.
Teknik argumentasi
Pengembangan paragraf dengan teknik argumentasi
dilakukan dengan kalimat-kalimat yang berisi sesuatu yang
bersifat persuasif agar pembaca percaya dan menerima apa
yang dikemukakan oleh penulis.
Kalimat-kalimat itu berisi argumentasi dengan memberikan
(1) contoh-contoh, (2) analogi, (3) sebab-akibat, (4) akibat-
sebab, dan (5) pola-pola deduktif.
3) Koherensi Paragraf
Koherensi paragraf adalah hubungan timbal balik yang logis
dan teratur antarkalimat yang digunakan untuk menyusun suatu
paragraf.
Dengan adanya hubungan ini keseluruhan kalimat dalam
paragraf akan terasa padu sehingga dapat menunjang
kesatuan paragraf. Koherensi paragraf membantu pembaca
dalam memahami isi atau gagasan yang dikemukakan oleh
penulis.
Menggunakan penanda hubung
Koherensi paragraf dapat ditunjukkan secara
eksplisit dengan menggunakan penanda hubung
atau dapat pula secara implisit dengan logika isi
masing-masing kalimat serta konteks komunikasi.
Penanda hubung secara eksplisit bisa berupa (1)
pengulangan kata/frasa kunci, (2) paralelisasi struktur
kalimat, (3) kata ganti penunjuk, dan (4) penanda transisi.
Menggunakan paralelisasi struktur
Koherensi dengan paralelisasi struktur kalimat
dilakukan dengan menggunakan kalimat-kalimat
yang sama pola strukturnya.
Koherensi dengan menggunakan kata ganti dan kata
penunjuk.
Koherensi dengan menggunakan penanda transisi
dilakukan dengan frasa transisi. Penggunaan frasa
transisi itu sangat penting dalam penulisan iimiah.
D. Ejaan dan Tanda Baca
Penulisan karya ilmiah dalam bahasa Indonesia mestilah
mengikuti aturan-aturan pemakaian ejaan dan tanda baca
bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan dalam buku
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan.
Setiap penulis harus menguasai kaidah-kaidah ejaan dan
tanda baca tersebut.
Ruang lingkup ejaan dan tanda baca:
1. Pemakaian huruf: huruf abjad, vokal, konsonan, diftong,
gabungan konsonan, dan pemenggalan kata.
2. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring: huruf kapital dan
huruf besar, huruf miring.
3. Penulisan kata: kata dasar; kata turunan; bentuk ulang;
gabungan kata, kata ganti ku, kau, mu, nya; kata depan di, ke, dari; kata
sandang; partikel; singkatan dan akronim; angka dan lambang bilangan.
4. Penulisan unsur serapan.
5. Pemakaian tanda baca, meliputi: tanda titik (.), tanda titik koma (;),
tanda titik dua (:), tanda hubung (-), tanda pisah (-), tanda elipsis (...),
tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda kurung ( ), tanda kurung siku [ ],
tanda petik ("..."), tanda petik tunggal ('...’), tanda garis miring (/), dan
tanda penyingkat atau apostrof (‘).
IV. Penutup
Ragam bahasa Indonesia yang digunakan untuk mengkomunikasi-
kan hasil kegiatan ilmiah adalah ragam bahasa ilmiah atau ragam
ilmiah. Ragam bahasa ini pulalah yang digunakan untuk menulis
artikel ilmiah sebagai salah satu bentuk kegiatan ilmiah untuk dimuat
dalam majalah atau jurnal ilmiah.
Ragam bahasa ilmiah memiliki ciri-ciri cendikia, lugas dan jelas,
gagasan sebagai pangkal tolak, formal dan objektif, ringkas dan
padat, konsisten, dan penggunaan istilah teknis.
Ciri dan sifat ragam bahasa ilmiah yang demikian itu tampak pada
penggunaan unsur-unsur bahasa dalam karya ilmiah berupa
penggunaan kosa-kata, penyusunan kalimat, penyusunan paragraf,
hingga penerapan ejaan dan tanda bacanya.
Sumber: Dendy Sugono, Berbahasa Indonesia dengan Benar,
PT Priasta, Jakarta 1989, hlm. 10.